Pages

Friday, April 29, 2016

WASIAT KEPADA SEMUA NABI DAN RASUL
" tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya ".
( As Syura /42 : 13 )

Ukhuwah , persaudaraan , satu suara, saling tolong menolong , saling dukung mendukung, saling Bantu membantu, dengan mengutamakan kepentingan bersama, kepentingan umat, daripada kepentingan ambisi pribadi, daripada ambisi kelompok, daripada ambisi partai, dan golongan merupakan syarat utama kemenangan umat Islam. Selama umat Islam masih sibuk mengurus partai, kelompok, masing-masing, maka umat islam tidak akan mencapai kemenangan. Ini merupakan peraturan hidup ( sunatullah ) dimanapun umat itu berada. Jika umat Islam bersatu, dan tidak berpecah maka umat islam akan menang, tetapi jika umat Islam bersaing sesame umat islam dalam kelompok dan partai masing-masing, maka umat islam akan hancur dan kalah. Siapa saja yang bersatu maka dia akan memang, dan siapa yang berpecah dalam kelompok dan saling bertengkar, maka dia akan kalah. Itulah sebabnya Allah memperingatkan umat islam agar bersatu, berukhuwah, walaupun berbeda kelompok, dan partai. Al Quran membolehkan umat manusia berkelompok, sebagaimana dinyatakan : Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal " ( QS. AlHujurat/49 : 13 ).

Al Quran menyatakan bahwa berkelompok, berbangsa, berkaum, berpartai memang dibolehkan, tetapi tujuan utama dari berkelompok bukan untuk saling bertengkar, tetapi untuk saling bekerjasama, saling mengenal potensi kelompok, sehingga banyak partai, banyak kelompok dapat menjadi kekuatan umat, bukan menjadi penyebab hancurnya kekuatan umat. Oleh sebab itu jika ada dua kelompok yang saling bertengkar, apalagi lebih dari dua, maka damaikanlah mereka, sebab pertengkaran itu akan mengakibatkan kehancuran dan kekalahan. " Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara, karena itu lakukanlah ishlah diantara dua saudara yang berselisih dan berpecah dan takalah kepada Allah " ( QS. Hujurat/49 : 10 ). Ayat ini menyatakan jika ada dua saudara saja, apa lagi dua kelompok , atau dua kabilah, atau dua partai yang saling berselisih, maka segeralah berdamai. Berdamai dalam arti mari bersatu, cari titik kesamaan, hilangkan perbedaan, hilangkan ambisi pribadi, ambisi kelompok dan partai, dan lakukan langkah-langkah yang dapat menyatukan program, melihat kepada kepentingan umat dan kepentingan agama, dengan cara bertaqwalah kepada Allah. Taqwa dalam arti hilangkan egoisme kelompok, dan utamakan kepentingan umat.

Siapa saja yang akan menang pasti mereka bersatu, baik itu orang lkafir, orang atheis, baik itu preman, atau siapa saja, sebab itu merupakan sunatullah. Irtulah sebabnya dalam Al Quran kita diingatkan bahwa dalam menghadapi umat islam, orang kafir itu akan bersatu, baik itu yahudi, nasrani, atau apapun agamanya . " Sesungguhnya orang kafir itu sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan sama seperti apa yang telah Allah perintahkan ( yaitu bersatu, saling Bantu membantu, dan tidak berpecah ), maka pasti akan terjadi kekacauan dan kerusakan yang besar " ( QS. Al Anfal/8 : 73 ). Ayat diatas mennyuruh kita memperhatikan bahwa orang kafir itu akan bersatu padu dalam menyerang dan mengalahkan orang Islam, maka Allah memperingatkan kita jika umat islam tidak bersatu, maka umat islam akan kalah , sebab tidak ada cara untuk menang hanya dengan bersatupadu. Cukuplah contoh pemilihan kepala daerah (pilkada) di provinsi Kalimantan Timur baru-baru ini. Penduduknya tujuh puluh persen adalah umat Islam, tetapi karena umat Islam mempunyai tiga calon, sedangkan orang kafir mempunyai satu calon, maka kemenngan secara sunatullah akan berpihak kepada mereka, sehingga mereka menang walaupun mereka adalah kelompok minoritas. Renungkanlah wahai umat islam, bahwa pada saat sekarang ini di seluruh indonesia sudah sepuluh provinsi dipimpin oleh umat yang lain.

Peristiwa kekalahan umat islam karena setiap kelompok mengajukan calon masing-masing, setiap partai tidak sepakat dengan partai islam yang lain, itu merupakan sunatullah, sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran : " Dan janganlah kamu bertikai, sebab hal itu akan membuat kamu gagal dan hilang kekuatan, dan sabarlah kamu sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar " ( QS. Al Anfal : 46 ). Al Quran memperingatkan kepada umat Islam agar jangan berpecah, bertikai, berselisih dalam segala hal, walaupun islam membolehkan adanya kelompok, tetapi mengharamkan perpecahan dan pertikaian. Sebab pertikaian dan perpecahan akan menghancurkan kekuatan, sehingga umat islam akan gagal. Oleh sebab itu kepada kelompok yang berselisih, kepada partai segeralah bersabar. Bersabar bukan diam, bersabar adalah carilah calon yang layak untuk memimpin, dan mundurlah jika sudah ada yang calon yang lebih layak untuk memimpin. Istikharah ( minta petunjuk ) kepada Allah siapakah pemimpin yang layak untuk memimpin, dan jika telah dapat sartu calon yang disepakati olegh semua kelompok, dan didapat dari hasil shalat istikharah , maka calon yang lain segera mengundurkan diri, dan semua kelompok wajib berusaha untuk memenangkan satu calon umat. Jika ini dilakukan insya Allah umat islam akan menang, sebab itu merupakaj sunatullah dan janji Allah. Tetapi jika umat Islam memiliki banyak calon dari berbagai macam partai, sedangkan umat lain memiliki satu calon, maka umat lain akan memang, walaupun umat islam tiap hari berdoa kepada Allah, maka dia akan kelah sebab sunatullah kemenangan tidak dijalankan. Bagaimana Allah akan memenangkan umat islam jika umat islam tidak mengikuti perintah Allah dalam mencapai kemenangan.

Perpecahan, pertikaian, tidak bersatu, dan sibuk untuk memenangkan ambisi pribadi dan partai akan menyebabkan kegagalan dan kekalahan sudah banyak terbukti dalam sejarah. Pada zaman rasulullah, walaupun nabi berperang bersama sahabat dalam perang uhud, tetapi disebabkan karena ada sekelompok sahabat yang tidak mengikuti peraturan Rasul, mereka mengedepankan keinginan pribadi dan kelompok daripada kepentingan umat, sehingga kelompok yang mengawal bukit uhud, turun untuk memperebutkan ghanimah perang , dan meninggalkan puncak bukit, maka umat islam dilanda kekalahan. Mengapa mereka kalah, sedangkan disana ada Rasulullah, ada sahabat yang imannya kuat, tetapi mengapa musiuh dapat mengalahkan umat islam ? Karena unat Islam berpecah belah, karena kelompok penjaga bukit uhud yang diamanahkan untuk menjaga bukit, padahal sepatutnya mereka tidak boleh turun apappun yang terjadi di bawah, sebab jika mereka turun dari bukit, maka musuh akan naik ke atas bukit dan menyerang umat Islam dati atas bukit. Itulah sebabnya umat islam harus belajar dari kekalahan perang Uhud, agar umat Islam tidak lagi berpecah dalam menghadapi serangan. Itulah sebabnya dalam Al Quran, Allah telah memberikan wasiat kepada seluruh nabi-nabi dari nabi Nuh sampai nabi Isa agar tetap bersatu, jangan berpecah, sebab perpecahan dan pertikaian merupakan jalan menuju kekalahan. " Kami telah mensyariatkan bagi kamu semua ( umat Islam) tentang agama sebagaimana yang telah diwasiatkan kepada Nuh, dan apa yang telah diwahyukan kepada kamu (muhammad ), dan juga sama seperti apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : " tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya ". ( As Syura /42 : 13 ). Ayat ini menyatakan bahwa tegaknya satu agama bukan karena kebenaran agama tersebut, tetapi tegaknya suatu agama, ditentukan oleh tidak pecahnya suatu umat. Tetapi sayang banyak diantara umat yang mengetahui hal ini tetap berpecah juga sebabmereka mendahulukan emosi, dan hasad, atau dengki, sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran : " Dan mereka tidaklah berpecah walaupun sudah datang pengetahuan melainkan karena kedengkian antara mereka " ( As Syuara /42 : 14 ). Mereka sebenarnya mengetahui bahwa jika berpecah, maka akan kalah, tetapi mereka dengki dan hasad sehingga mereka tidak mau melihat kelompok lain menguasai , kelompok lain boleh menang, maka lebih baik sama-sama bertanbding, daripada memberikan peluang kepada yang lain. Inilah yang dimaksdukan oleh ayat bahwa sebenarnya telah datang kepada mereka pengetahuan, tetapi karena perasaan dengki dan hasad maka mereka tidak mau bersatu dan berkerja bersama-sama mengedepankan kepentingan umat, kepentingan agama daripada kepentingan diri dan kelompok. Semoga kelompok islam, partai islam, tidak terkenan penyakit dengki dan hasad kelompok , tetapi dapat mengaplikasikan taqwa dalam melihat pilkada sebagai bagian daripada kepentingan umat, sebagaimana yang telah diwasiatkan Allah kepada para nabi dan rasul. Fa'tabiru ya ulil albab.



ADAB BERKELOMPOK
“ Hai orang yang beriman jangan kamu megolok-olokkan kaum yang lain “
( QS. Al Hujurat : 11 )

Pada saat sekarang ini kita lihat dalam tubuh umat Islam banyak kelompok, dalam pilkada banyak team sukses, sepatutnya banyaknya kelompok atau pendukung tidaklah menjadi penyebab perpecahamn dan sesame kelompok tidaklah boleh menghina, menjatuhka dan mengejek. Sejarah mencatat bahwa dalam kalangan sahabat nabi ada beberapa kelompok seperti kelompok Muhajirin yaitu sahabat yang berasal dari kota Makkah berhijrah ke Madinah, Kelompok Anshat yaitu kelompok sahabat penduduk asal Madinah yang menolong nabi Muhammad, dan kelompok Bani hashim, yaitu kelompok yang berasal dari keluarga dan keturunan yang sama dengan Rasulullah. Adanya kelompok dan “ group feeling “ seseorang dengan suatu kelompok tak dapat dinafikan sebab itu merupakan sifat manusia, tetapi menjaga perasaan berkelompok sehingga tidak menjadi fanatik dan merupakan benih daripada kesombongan, merasa paling hebat yang harus dihindari, sebab itu merupakan penyakit yang akan merusak dan menghancurkan kekuatan jamaah umat.

Pada suatu hari, menurut riwayat daripada Thabrani yang diceritakan oleh Kaab bin Ajrah berkata bahwa : “ Pada suatu hari kami para sahabat dukuk-duduk di hadapan rasulullah di dalam masjid. Waktu itu kami terdiri dari beberapa kelompok ada yang dari Muhajirin, ada yang dari Anshar dan juga ada yang dari Bani Hasyim. Para sahabat sedang bertengkat mengenai siapakah diantara kami atau golongan manakah yang lebih utama dan lebih dikasihi oleh Rasululah. Kaum Anshar berkata : “ Kami lebih utama di sisi Rasulullah . Kami beriman dengan beliau, mengikuti beliau dan berjuang bersama sama dengan beliau, dan kami adalah para pejuang yang selalu siap dan sedia berperang menghadapi musuh-musuh beliau. Oleh karena itu maka kami adalah kelompok yang paling utama dan dikasihi oleh beliau.”.Sahabat-sahabt dari kelompok Muhajirin berkata : “ Kami telah berhijrah bersama-sama dengan Rasulullah. Kami telah meninggalkan ahli keluarga kami, harta benda kami dan kami telah berada di semua tempat dimana kamu semua berada dan kami telah menyertai semua peperangan yang telah kamu ikuti. Oleh sebab itu , maka kami adalah lebih utama di sisi rasulullah saw “.

Sahabat-sahabat dari kelompok Bani Hashim berkata : “ Kami adalah ahli keluarga Muhammad saw . Kami telah berada di semua tempat dimana kamu semua berada, dan kami telah menyertai semua peperangan yang kamu semua ikuti, maka oleh sebab itu kami adalah kelompok yang lebih utama dan dikasisi oleh Rasulullah saw “. Dari pernyataan tiga kelompok tersebut terlihat mereka semua merasa paling hebat dengan mengemukakan argumentasi masing-masing. Kaum Anshar merasa lebih hebat karena menolong rasulullah, kaum Muhajirin merasa hebat karena ikut berhijrah, sedangkan kaum Bani Hasyim merasa hebat karena merupakan keluarga nabi . Semua merasa hebat dengan kelebihan yang dimilikinya. Tak lama kemudian Rasulullah muncul dan berkata : “ Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu telah berkata mengenai sesuatu “. Untuk lebih jelas lagi, kami memberitahukan apa yang kami katakan tadi kepada Rasulullah. Mendengar ucapan dari orang Anshar , maka Nabi menjawab : “ Kamu telah berkata benar, dan tidak ada orang yang dapat membantah kata-katamu tersebut “.
Setelah itu kelompok Muhajirin menceritakan kembali apa yang telah mereka katakana. Mendengar itu, nabi berkata : “ Kamu juga telah berkata benar, dan tidak ada orang yang akan membantah kata-katamu itu. Kelompok ketiga, bani hashim kemudian menceritakan tentang kelebihan mereka. Nabi mendengar apa yang mereka katakan dan berkomentar : “ Kamu juga benar dan tidak ada orang yang dapat membantah kelebihanmu itu “. Sekarang , kata rasulullah, aku akan memberitahukanmu apa pendapatku terhadap kamu semua. Sahabat menjawab : Boleh ya Rasululah. Nabi berkata : Adapun sesungguhnya kamu wahai orang Anshar, kamu semua adalah saudara-saudaraku “. Mendengar pengakuan Rasul terhadap mereka sebagai saudara Rasul dan itu merupakan sebuah penghormatan bagi mereka, maka kelompok Anshar berkata : “ Allah Maha Besar, demi Tuhan Ka’bah, kami telah memenangi kamu semua “.

Kemudian Nabi berkata kepada kelompok Muhajirin : Adapun kamu wahai kelompok Muhajirin, maka aku adalah dari kalangan kamu semua “. Mendengar pernyataan Rasulullah tersebut maka kelompok Muhajirin merasa gembira dan berteriak : “ Allah Maha Besar , demi Tuhan Ka’bah, kami telah memenagi kamu semua “. Akhirnya Rasululah berkata kepada kelompok Bani Hasyim : “ Adapun kamu semua adalah kalangan aku dan aku bertanggung jawab ke atas kamu “. Mendengar pernyataan Rasul dan penghormatan kepada mereka, maka Bani Hashim langsung berteriak : Allah Maha Besar, dan demi Tuhan Ka’bah, kami telah memenangi kamu semua “.

Dari kisah diatas dapat dilihat bahwa adanya kelompok dalam suatu umat tidak dapat dinafikan, tetapi yang perlu dijaga jangan sampai ada kelompok merasa lebih hebat sehingga dapat membenihkan pertengkaran, perpecahan. Oleh sebab itu, setiap orang harus mengakui kelebihan kelompok masing-masing, sebagaimana terlihat dari pernyataan Rasulullah , dimana Rasul mengakui keutamaan kelompk Anshar, beliau juga mengakui keutamaan kelompok Muhajirin, dan juga kelompok Bani Hashim. Semua kelompok mempunyai kelebihan dari kelompok yang lain. Kelebihan itu yang diakui oleh rasulullah, dan juga harus diakui oleh kelompok yang lain, walau sekecil apapun kelebihan tersebut. Olejh sebab itu dalam sebuah hadis Reasul bersabda : “ Janganlah kamu menghina suatu kebaikan waklau sekecil apapun “. Mengapa demikian..? Sebab tidak mengakui kelebihan kelompok yang lain, atau menghina kebaikan dari yang lain walaupun kecil dapat menjadi benih pertengkaran dan perpecahan.

Perasaan merasa hebat sendiri dan menghina yang lain adalah benih daripada pertengkaran yang harus dihindari. Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Thabrani disebutkan bahwa : "Tinggalkanlah pertengkaran sebab dengan pertengkaran itu tidak akan ada hikmahnya dan tidak akan aman daripada fitnah ( bencana bagi umat ) “. Islam menganjurkan umatnya untuk meninggalkan setiap pertengkaran walaupun seseorang yang bertengkar itu berada dalam pendapat yang benar, tetapi bersikap diam dan mengalah lebih baik daripada terjadinya suatu pertengkaran. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah disebutkan : “ Barangsiapa meninggalkan pertengkaran dan dia dalam pihak yang benar, niscaya akan dibangunkan bagi dirinya sebuah rumah di dalam syurga yang tertinggi; dan barangsiapa yang meninggalkan pertengkaran dan dia dalam pihak yang salah, maka juga akan didirikan baginya suatu rumah di tengah-tengah syurga “.

Dari hadis diantas dapat dilihat bahwa meninggalkan pertengkaran walaupun kita dalam pihak yang benar lebih utama dan mendapat ganjaran rumah di surga yang tertinggi; demikian juga meninggalkan pertengkaran walaupun kita dalam pihak yang salah juga mendapatkan pahala, karena keutamaan meninggalkan sikap bertengkat dan merasa hebat. Oleh sebab itu Bilal bin Saaad berkata : “ Apabila engkau melihat seseorang yang bersikap keras kepala, suka bertengkar dan membanggakan pendapatnya, maka sudah sempurnalah kerugiannya “.

Dalam diri umat islam hari ini banyak kelompok-kelompok. Ada kelompok mazhab fikih seperti mazhab Syafii, Hanbali, Maliki, Hanafi, Wahabi, Dhahiri, dan lain sebagainya; juga ada kelompok organisasi sosial seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Al Washliyah dan lain sebagainya, ada lagi kelompok partai politik seperti PPP, PBB, PKS, PBR, dan lain sebagainya; juga ada kelompok harakah dan gerakan seperti gerakan Ikhwanul Muslimin, gerakan Hizbut Tahrir, gerakan Salafi, gerakan Mujahidin dan lain sebagainya. Setiap kelompok pasti mempunyai kelebihan dan keistimewaan dari kelompok yang lain. Oleh sebab itu yang perlu menjadi perhatian kita jangan sampai antar kelompok akan merasa hebat dari kelompok yang lain, membangga-banggakan diri dan jasa, dengan mengecilkan jasa kelompok yang lain; tetapi sebaiknya setiap kelompok mengakui kelebihan kelompok yang lain. Apalagi jika kekurangan dan kelemahan kelompok yang menjadi pembicaraan, maka pasti akan memicu kemarahan dan pertengkaran. Semoga kita dapat belajar dari sejarah bagaimana Rasulullah menggalang silaturahmi dan menghormati setiap kelompok sahabat, sehingga walaupun berbeda kelompok, kita masih mempunyai adab , akhlak yang harus sama-sama kita jaga dalam berlomba untuk kebaikan Waalhu A'lam.


KEABSAHAN KEKHALIFAHAN ABU BAKAR


Perbedaan yangutama antara keyakinan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah ( sunni ) dengan kelompok Syiah adalah masalah Imam. Bagi Syiah Imam itu tidak berdosa ( maksum ) dan merupakan pewaris risalah agama, yang berhak menggantikan nabi Muhammad setelah beliau meninggal dunia. Menurut Syiah Imamiyah ( syiah yang berkembang pada saat ini ), setelah nabi Muhammad meninggal dunia, maka risalah agama, dan pemerintahan dipegang oleh keluarga nabi yang dua belas dari (1)Ali bin Abi Thalib, (2) Hasan bin Ali- (3) Husen bin Ali (4)Ali Zainal Abidin bin Husen (5) Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin (6) Ja’far Shadiq bin Muhamad Baqir (7) Musa al Kazim bin Ja’far Shadiq, (8) Hasan Ridha bin Musa Kadzim (9) Muhammad Jawab bin Hasan Ridha (10) Ali al Hadi bin Muhammad Jawad (11) Hasan al Askari bin Ali alHadi (12 ) Muhammad Mahdi alMuztadzar ( hilang pada tahun 260 Masehi dan diyakini akan muncul kembali pada akhir zaman nanti ). Inilah nama-nama yang berhak menjadi Imam menurut Syiah Imamiyah atau disebut juga dengan syiah Istna Asyariya (syiah dua belas ) hsebab meyakini dua belas imam. Oleh sebab itu mereka menganggap Khalifah Abubakar as Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab adalah dzalim, karena telah merampas kekuasaan setelah meninggal nabi Muhammad saw. Padahal dalam kitab sejarah al Bidayah wan Nihayah saja tertulis bahwa Sayidina Ali bin Abi Thalib mengakui kekkhalifahan Abubakar shiddiq.

Dalam riwayat yang disampaikan oleh Said al Khudri menyatakan bahwa : “Setelah Rasulullah saw wafat, kaum muslimin berhimpun di rumah Sa’ad ibnu Ubaidah. Juru bicara kaum Anshar berkata : Bukankah kamu mengetahui semua bahwa orang anshar adalah penolong Rasulullah. Oleh karena itu, kamu juga adalah penolong khalifah (pengganti ) Rasululah. Sebagaimana kamu pernah menjadi penolong Rasulullah. “. Umar bin Khatab berdiri dan berkata : Benar apa yang dikatakan oleh wakil kamu tadi, setelah itu Umar bin Khatab memegang tangan Abubakar dan berkata : Inilah yang paling layak dipilih sebagai penganti (khalifah ), maka berbai’atlah kepadanya. “. Umar merupakan orang yang pertama berbaiat (janji setia), kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir baik dari kaum muhajirin dan Anshar. Abubakar segera naik ke mimbar dan melihat kepada semua yang hadir, maka dia merasa bahwa Zubair tidak terlihat. Maka beliau menyuruh memanggil Zubair datang dan berfkata kepadanya: Wahai anak paman Rasulullah apakah engkau hendak mengingkari keputusan kaum muslimin ? Zubair menjawab : Tidak demikian wahai Khalifah, dia terus berdiri dan berbaiat”. Abubakar melihat lagi kesekeliling dan tidak terlihat Ali bin Abi Thalib, maka Ali segera dipanggil datang., dan tak lama Ali bin Abu Thalib datang dan berbaiat dengan Abubakar. Kemudian Abubakar berkata : “ Demi Allah aku tidak pernah cenderung dan berminat kepada soal kekuasaan baik siang maupun malam “. Aku tidak pernah memohon (mendambakan ) kekuasaan kepada Allah sama ada dengan diam-diam atau terang-terangan.Mendengar ucapan itu kaum muslimin semua setuju. Malahan Ali bin Abu Thalib dan zubair yang terlambat datang berkata : “ Kami minta maaf karena kami tidak dapat menghadiri majelis yang penting ini. Keterlambatan kami bukan kami sengaja. Kami berpendapat bahwa Abu Bakar merupakan orang yang paling layak untuk memegang tampuk pemerintahan ini. Hal ini disebabkan beberapa perkara yaitu beliau pernah menjadi teman Rasulullah saw semasa mereka berdua bersembunyi di dalam Gua Tsur (sewaktu dlaam perjalanan hijrah dari makkah ke madinah ). Kami sangat mengetahui tentang kebaikan kemuliaan dirinyan dan keluhuran budinya. Rasulullah saw juga pernah menjadikan dia sebagai pengganti imam shalat berjamaah sewaktu Rasulullah padahal rasulullah pada waktu itu masih hidup “.

Ada juga riwayat lain yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib berbaiat kepada Abu bakar setelah enam bulan kemudian. Padahal sejarah telah mencatat bahwa Ali telah berbaiat kepada Abubakar bersamaan dengan baiat kaum muslimin, hanya saja Ali datang terlambat. Jika ada riwayat yang menyatakan bahwa Ali berbaiat kepada Abu bakar setelah enam bulan kemudian, itu adalah untuk menghilangkan keraguan umat, disebabkan adanya [perselisihan antara Abubakar dengan Fatimah putrid Rasulullah. Setelah Rasul meninggal, Fatimah datang kepada Abubakar untuk meminta bagian daripada harta warisan Rasulullah. Khalifah Abubakar sebagai pemimpin, menyatakan bahwa dia dan seluruh sahabat mendengatr ada hadis nabi yang menyatakan bahwa keluarga Raululah tidak dapat menerima warisan. Abubakar berkata :bahwa Rasulullah perbah bersabda : “ Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Segala yang kami tinggalkan diperuntukkan sebagai sedekah “. Kemudian Abubakar berkata : Saya akan menaggung siapa saja dahulu yang ditanggung oleh Rasulullah (maksudnya biaya kehidupan nabi akan ditanggung oleh khalifah ) Maka jika aku memberikan warisan, aku khawatir nanti termasuk orang yang sesat, sebab telah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah”. Oleh sebab itu Abubakar tidak memberikan warisan tersebut kepada keluarga Rasulullah, tetapi dimasukkan ke dalam Baitul Mal. Pernyataan Abubakar tersebut membuat Fatimah agak bersedih, tetapi kejadian ini menunjukkan bagaimana ujian bagi seorang khalifah dalam menegakkan keadilan, walaupun kepada keluarga Rasulullah, sebab Khalifah Abubakar akan memutuskan hukum sesuai dengan amanah dari Rasulullah.

Kejadian tersebut memicu isu di masyarakat bahwa keluarga Ali dan Fatimah tidak setuju dengan pemerintahan Abubakar, padahal seebnarnya tidak terjadi apa yang disangkakan. Malahan pada waktu Fatimah sakit, maka Abubakar datang melawat Fatimah dan berkata : “ Demi Allah, aku tidak meningalkan rumah, harta serta kaum keluargaku semata-mata untuk mencapai keredhaan Allah, keredhaan RasulNya dan keredhaan ahli keluarga Rasulullah saw “. Setelah mendengar itu Fatimah memaafkan Abubakar dan merasa gembira dengan kedatangannya. Hal ini diriwayatkan oleh Baihaqi. Malahan sejarah mencatat bahwa Fatimah mewasiatkan agar setelah kematiannya nanti, maka dia ingin agar yang memandikan mayatnya adalah Asma binti Uways, (istri khalifah Abubakar ).
Riwayat mengatakan bahwa Ali Bin Abi Thalib setelah kepergian Fatimah, kembali berbaiat kepada Khalifah Abubakar. Hal ini dilakukan untuk menghapuskan sangkaan dan isu di tengah masyarakat yang disebabkan persoalan harta warisan keluarga nabi tersebut. Dengan kedatangan Abubakar ke rumah Fatimah, dan istri Abubakar memandikan mayat Fatimah, serta baiat Ali bin Abi Thalib yang kedua kalinya merupakan bukti bahwa Sayidina Ali bin Abi Thalib mengakui kekhalifahan Abubakar dan bukan merupakan taqiyah sebagaimana yang disebutkan oleh orang syiah Imamiyah.

Dari catatan sejarah diatas dapat dilihat bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib sejak dari awal sudah setuju dengan pemerintahan Abubakar Shiddiq, sebab memang semua sahabat telah sepakah bahwa kepribadian, akhlak dan jasa Abubakar dalam Islam lebih utama daripada sahabat-sahabat yang lain, terlebih lagi umur Abubakar merupakan lebih tua dari umur sahabat-sahabat nabi yang lain, sebab Abubakar dan rasulullah hanya berselisih umur dalam 2 tahun saja. Hanya saja, setelah beberapa tahun kemudian sebab timbulnya peperangan antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib, sehingga muncul kelompok penyokong Ali ( syiah Ali ) dan penyokong Muawiyah. Syiah makna asal dalam bahasa arab adalah penyokong. Pada awalnya pengikut Ali hanya menyokong Ali dalam politik dan pembelaan, tetapi lama-kelamaan sokongan terhadap Ali bin Abi Thalib berubah menjadi pemahaman agama dan ajaran yang mendakwa Ali bin Abi Thalib yang patut menjadi imam dan khalifah, sedangkan ketiga khalifah yang lain adalah dianggap sebagai orang yang merampas kekuasaan tersebut. Pemahaman ini adalah pemahaman yang datang dalam kuruin masa akhir dan didakwa dibuat oleh oknum yahudi yang masuk Islam dengan nama Abdullah bin Saba’.

 Dari saat ini kita lihat adanya perbedaan antara pengikut Syiah (pengikut ) Ali bin Abi Thalib yang sebenarnya tetap dalam keyakinan yang sama dengan Ahlussunnah waljamah dan semua sahabat yang lain, dan keyakinan kelompok Syiah yang telah direkayasa menjadi ajaran yang fanatic kepada Ali dan membenci sahabat yang lain. Tapi disayangkan banyak umat islam menyangka bahwa keyakinan dan pahaman Islam Syiah(pengikut ) Ali bin Abi Thalib adalah sama seperti keyakinan kelompok Syiah Imamiyah sekarang ini, sehingga banyak yang mengatakan Syiah itu sama dengan kita, padahal kenyataannya ajaran mereka berbeda dengan akidah dan ajaran Ahlussunnah waljamaah, yang berasal dari Rasulullah, Sahabat , tabiin, Salafussaleh, dan sampai sekarang kepada kita semua. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

ANTARA AMAL JARIYAH DAN TARIF

“ Dan janganlah kamu memberikan sesuatu untuk mendapatkan balasan yang lebih banyak ”
( QS. Muzammil : )
Ibnu Abbas menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda : “ Ulama umat ini terbagi dua. Bahagian pertama adalah ulama yang dianugerahkan Allah ilmu pengetahuan lalu diberikannya kepada orang lain dengan tidak mengharapkan apa-apa dan tidak diperjualbelikan. Ulama seperti ini akan didoakan oleh burung di udara, ikan dalam air, hewan diatas bumi, dan para malaikat yang menuliskan amal manusia. Dia dibawa ke hadapan Allah pada hari kimat nanti sebagai tuan yang mulia, sehingga menjadi teman bagi para rasul Tuhan. Bahagian kedua adalah ulama yang dianugerahi Allah akan ilmu pengetahuan dan kikir untuk memberikannya kepada hamba Allah yang lain, mengharapkan sesuatu dan memperjualbelikan ilmu tersebut. Ulama seperti ini akan datang nanti pada hari kiamat dengan mulut yang dikekang dengan kekangan api neraka. Dihadapkan kepada orang ramai, tampil seorang penyeru berkata : “ Inilah si fulan, anak dari si fulan, dianugerahkan ilmu pengetahuan di dunia tetapi dia kikir untuk memberikan ilmunya kepada orang lain, dia mengharapkan sesuatu dari ilmunya dan memperjual-belikan ilmunya, maka ilama tadi akan diazab sampai selesai perhitungan amalan manusia yang lain ( Hadis riwayat Thabrani ).
Dari hadis siatas dapat dilihat bahwa ulama dalam menyampaikan ilmu kepada masyarakat akan tebagi dua, pertama ulama yang mengajarkan ilmunya sebagai meneruskan apa yang diketahuinya kepada orang yang tidak diketahui dengan niat untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi, sebagai tanda bersyukur atas ilmu yang didapat sehingga merasa berkewajiban untuk menyampaikannya kepada orang yang tidak mengetahu. Kedua adalah ulama atau orang yang berilmu baik dalam agama atau bidang lain yang sangat kikir dengan ilmu sehingga jika dia menyampaikan ilmu tersebut harus mendapatkan imbalan dunia dan lain sebagainya. Ulama, pakar, saintis, yang mempunyai tanggungjawab kemanusiaan dengan memberikan ilmunya kepada masyarakat merupakan titik kelangsungan suatu peradaban Islam, sebab peradaban dibina atas kelangsungan ilmu dalam masyarakat. Tetapi ulama yang seallu memperhitungkan informasi dengan imbalan materi akan menghambat kelangsungan peradaban dalam masyarakat, sebab ilmu yang dimilikinga merupakan komoditi yang diperjual belikan.
Untuk kelangsungan peradaban manusia itu maka Rasulullah bersabda : “ Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputusnya amal baginya kecuali tiga : Sedekah Jariyah ( sedekah seperti wakaf yang terus dipakai manfaatnya sehingga pahalanya mengalir terus sepanjang pemakaian ), ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh “. Ilmu yang bermanfaat menjadi sumber pahala bagi si pemberi sebab ilmu tersebut akan terus berkembang sampai akhir zaman. Dengan ilmu yang terus berkembang tersebut akan menghasilkan masyarakat yang berilmu sebagai asas suatu peradaban. Tetapi jika ilmu itu diperjual belikan maka peradaban akan bergerak lambat.
Oleh sebab itu Ibnu Mas’ud berkata : ‘ Akan datang kepada manusia suatu masa, yang terbalik sehingga kemanisan hati menjadi asin, dimana pada hari itu orang yang berilmu dan mencari ilmu tidak dapat mengambil manfaat dari ilmunya. Hati orang yang berilmu itu laksana tanah yang kosong dan bergaram, jika hujan lebat turun di atas tanah tersebut, air hujan tersebut tidak dapat menghilangkan asin garam tanah tersebut. Hati mereka itu sangat condong kepada kehidupan dunia, dan mengutamakan dunia daripada akhirat. Pada saat itulah dicabut Allah sumber-sumber hikmah dan dipadamkannya lampu petunjuk dari hati mereka. Mereka takut kepada Allah dengan lisannya, tetapi kedzaliman terdapat pada amal perbuatannya. Lidah mereka subur tetapi hati mereka tandus. Hal ini terjadi karena para guru mengajar bukan karena Allah dan murid juga belajar bukan karena Allah “.
Inilah kondisi masyarakat hari ini. Masyarakat belajar ilmu dengan kewajiban belajar dan lain sebagainya, pendidikan dasar sampai perguruan tinggi bertaburan di seluruh penjuru tempat. Ijazah, gelar , titel telah diperjual belikan, tetapi kedzaliman tetap dimana mana. Jika kita meneliti kalimat Ibnu Mas’ud diatas dapat dilihat sebab keberkatan ilmu tidak di dapat dalam masyarakat disebabkan niat ilmu dan pendidikan bukan lagi karena Allah tetapi sudah bergeser menjadi komoditi bisnis, baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan yang lain.
Kaab bin Akhbar berkata : “ Pada akhir zaman nanti orang yang berilmu menyuruh manusia zuhud dari dunia tetapi mereka sendiri tidak zuhud. Menyuruh manusia takut kepada Tuhan tetapi mereka sendiri tidak takut. Malarang manusia untuk menjumpai penguasa negeri, sedangkan mereka sendiri datang kepada penguasa negeri. Mereka telah memilih dunia daripada akhirat, mereka makan dari hasil usaha lidah mereka sendiri. Mereka hanya mendekati orang yang kaya, dan tidak peduli dengan orang yang miskin. Mereka cemburu kepada ilmu pengetahuan seperti cemburunya wanita kepada kaum lelaki. Orang yang berilmu seperti ini adalah orang yang keras hatinya, dan mereka itulah musuh-musuh Allah”.
Ternyata niat belajar dan mengajar mempunyai dampak positif dan negatif dalam masyarakat, sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik berkata : “ Menuntut ilmu itu baik dan mengembangkannya akan baik apabila niat itu betul “. Abu Darda menyatakan bahwa diwahyukan Allah kepada sebagian nabi-nabi bahwa : “ Katakanlah kepada mereka yang menuntut ilmu bukan untuk agama, belajar bukan untuk beramal, dan mencari dunia dengan amal perbuatannya :” Bahwa mereka telah memebri pakaian kulit kambing qibas kepada manusia. Hati mereka seperti hati serigala. Lidah mereka tidak lebih manis daripada madu. Hati mereka lebih pahit daripada buah paria. NamaKu ( Nama Allah ) dipermaikan. Sesunguhnya Allah akan membukakan fitnah (bencana bagi agama )  mereka yang akan menjadikan orang yang benar terkejut dan meninggalkan mereka dengan penuh keheranan “.
Sayidina Ali bin Abu Thalib berkata : “ Ada dua orang yang mendatangkan bala bencana kepada kita, yaitu orang yang berilmu tetapi tidak menjaga kehormatan ilmunya dan orang yang bodoh yang kuat ibadahnya. Orang yang bodoh itu menipu manusia dengan peribadatannya dan orang yang berilmu itu menipu manusia dengan kelengahannya “. Ilmu, ibadah, hanya bersifat formalitas sehingga Ibnu Sammak berkata : “ Berapa banyak orang yang memberikan peringatan kepada orang lain untuk mengingat Allah sedangkan mereka lupa kepada Allah. Berapa banyak orang yang memberi peringatan supaya takut kepada Allah tetapi mereka menentang perintah Allah. Berapa banyak orang yang mengajak orang lain untuk mendekatkan diri kepada Allah tetapi mereka sendiri jauh daripada Allah. Berapa banyak orang yang menyerukan agar mendekat kepada Allah tetapi mereka sendiri lari daripada Allah. Berapa banyak orang yang membaca kitab Allah padahal ayat-ayat Allah terhapus dari hatinya “. Oleh sebab itu Rasulullah mengingatkan umatnya bahwa : “ Orang yang binasa daripada umatku adalah orang yang berilmu yang dzalim dan orang yang bodoh. Kejahatan yang paling jahat adalah kejahatan orang yang berilmu dan kebaikan yangpaling baik adalah kebaikan orang yang berilmu “. ( Hadis mursal dari Darimi )
Dari beberapa keterangan diatas dapat dilihat bahwa niat seorang ulama dalam mengajarkan ilmunya, niat seorang penguasa dalam mengatur negara, niat seorang peniaga dalam berniagaannya, harus dapat dilakukan dengan ikhlas, sehingga menghasilkan dampak positif bagi masyarakat, tetapi jika mengajar, memerintah, berniaga, dan segala sesuatu dilakukan dengan niat dunia seperti niat dan tujuannya dalam beramal itu hanya untuk mencari uang, mencari kedudukan, mencari pangkat, mencari populeritas, maka akan berdampak negatif dalam masyarakat.  
Baru-baru ini timbul polemik apakah boleh seorang penceramah memasang tarif sebagaimana penceramah, konsultan, dan lain sebagainya sebagaimana pemberi layanan jasa lainnya. Tarif merupakan transaksi bisnis dan jual beli, sehingga dengan memasang tarif ilmu berubah dari aset amal jariyah atau menjadi aset bisnis. Tanpa sadar kadang-kadang penentuan tarif dapat merubah niat dalam memberikan ilmu, walaupun kadangkala tarif dilakukan agar orang menghargai ilmu yang disampaikan. Oleh sebab itu ulama Islam zaman dahulu dijamin kehidupannya oleh masyarakat khususnya Baitul Maal, sehingga untuk menjaga niat mengajar bagi ulama sehingga tidak menjadi komoditi bisnis, maka semua ulama zaman silam mendapat bantuan dari Baitul Maal, malahan seorang ulama yang menulis buku, maka bukunya ditimbang dan ulama itu diberikan emas seberat timbangan buku tersebut. Malahan pada masa kejayaan Islam di masa Salahuddin al Ayubi bukan hanya ulama , atau istadz yang diberi bantuan oleh Baitul Maal, malahan orang yang datang ke masjid, masjid taklim, pelajar, pembaca di perpustakaan mereka semua mendapat bantuan keuangan dari Baitul Maal. Pada saat ini, Baitul Maal perhatian kepada fakir miskin lebih daripada ilmu dan keadaan ulama, sehingga muncul polemik diatas. Sudah saatnya masyarakat memperikan perhatian kepada ulama, pelajar , mahasiswa dan segala yang berkaitan dengan ilmu sehingga terjaga niat ilmu tetap terjaga sebagai mata-rantai peradaban Islam dan kunci kebaikan masyarakat dimasa mendatang.  Fatabiru Ya Ulil albab. 

Thursday, April 28, 2016

AL Hikam 120


AL HIKAM 120

مَتَى جَعَلَكَ فِى الظَّاهِرِ مُمْتَثِلاً لأَمْرِهِ وَرَزَقَكَ فِى الْبَاطِنِ الاسْتِسْلاَمَ لِقَهْرِهِ فَقَدْ أَعْظَمَ الْمِنَّةَ عَلَيْكَ

Terjemahan : Apabila Allah telah menjadkan engkau pada zahirnya menurut perintahNya dan dalam hatimu menyerah bulat kepadaNya, berarti Tuhan telah memberi sebesar-besar nikmat kepadamu (  Ibnu Athailah Sakandary /AL Hikam 120 )

Penjelasan : 

Tujuan manusia hidup adalah penghambaan  kepada Allah, sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci al Quran : “ Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKU “( QS. Dzariyat/51 : 56 ).

Penyembahan yang sempurna adalah penyembahan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, penyerahan diri kepadaNya : “ Tidaklah aku ( Muhammad ) diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan agama “ ( QS. Al Bayyinah/98 : 5)

Penyerahan diri kepada Allah secara zahir adalah dengan menjalankan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya : “ Apakah mereka mencari selain agama Allah padahal seluruh langit dan bumi telah menyerahkan dirinya kepada Allah “ ( QS. Ali Imran :83 ).

Dalam ayat yang lain dinyatakan juga bahwa “ Sesungguhnya agama yang diridhai Allah adalah agama Islam “ ( QS. Ali Imran/19) “ Dan siapa yang mencari selain agama Islam, maka Allah tidak akan menerimanya “ ( QS. Ali Imran : 85 )”. Maka siapa yang dikehendaki Allah untuk diberi  petunjuk maka Allah akan melapangkan dadanya dalam menjalankan   Islam “ ( QS. Al An’am/6 : 125).

Menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya, itulah ibadah secara zahir, sedangkan keikhlasan menyerahkan diri dengan ridha dalam menerima segala ketentuanNya, itu merupakan ibadah secara batin, serta mendapat kedua-duanya dalam kehidupan itu merupakan kenikmatan hidup yang terbesar.  Ramadhan al Bouty berkata bahwa sifat ubudiyah ( penghambaan ) kepada Allah akan sempurna dengan dua perkara (1) melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan laranganNya (2) penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dalam segala segala keadaan. Itulah sebabnya Rasulullah mengajarkan umatnya agar membaca kalimat zikir : Aku Ridha  menjadikan Allah sebagai Tuhanku, Aku ridha  menajdikan Islam sebagai agamaku dan Aku ridha akan  Muhammad sebagai Nabi dan Rasul “.

Melakukan amal ibadah dengan penyerahan diri, dan hati yang ikhlas hanya mengharapkan keridhaanNya itulah kenikmatan hidup yang diberikan kepada hambaNya. Sedangkan ada sebagian manusia  yang beribadah kepadaNya bukan untuk mencari keredhaanNya, tetapi untuk mendapatkan tujuan dan kesenangan tertentu. “ Dan diantara  manusia ada yang menyembah Allah hanya ditepi, maka jika dia memperoleh kebajikan, dia puas dan tenang,  tetapi jika dia ditimpa kesusahan, maka dia balik ke belakang. Dia mendapatkan kerugian dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata “ ( QS. al Hajj/ 22 : 11 ).

Ibnu Ajibah dalam menerangkan kalimat alhikam ini menyatakan : “ Pelaksanaan ibadah zahir dan batin ini merupakan sebesar-besar pemberian dan nikmat sebab jika seseorang itu dapat melaksanakan perintahNya dan meningalkan larannganNya, dengan penghambaan, keridhaan, penyerahan diri, dan keikhlasan hati dalam menjalankan kehidupan sesua dengan petunjukNya berarti orang tersebut telah makrifat ( mengenal ) Allah dengan sebenar-benar makrifat, sebab melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya itu menunjukkan pada kesempurnaan dalam menjalankan syariat, dan penyerahan diri kepadaNya di dalam batin itu merupakan kesempurnaan tharikat ( jalan menuju kepadaNya ), dan menyatukan keduanya dalam kehidupan itu merupakan hakikat kehidupan, dan itulah puncak kesempurnaan. Oleh sebab itu jika Allah telah menghiasi  zahir dengan ketaatan atas perintahNya, dan menghiasi batin engkau dengan mengenal ( makrifat ) segala ketentuanNya yang dinampakkan dengan  penyerahan diri kepada segala ketentuan dan takdirNya, dan keridhaan dalam menjalankan perintahNya dengan penuh keikhlasan, itu merupakan nikmat terbesar dalam kehidupan yang harus disyukuri sehingga keadaan tersebut dapat membuat dirimu melihat kebesaran Tuhan dengan penuh kecintaan dan kerinduan.

Sebesar-besar nikmat karunia Tuhan kepada hambanya ialah jika Allah memberikan taufik dan hidayah kepada hambaNya untuk melakukan segala perintah kemudian ditambah dengan kekuatan menyerahkan diri, tawakal kepadaNya di dalam batinnya. Dengan kedua nikmat zahir dan batin tersebut maka seseorang itu telah mencapai keperluan hidup di dunia dan di akhirat, sebab manusia itu hanya diperintahkan supaya beribadah dengan tulus ikhlas menuju kepada Allah, sedangkan segala keperluan hidupnya yang lain akan dicukupkan oleh Allah, sebagaimana dinyatakan Wahab bin Munabbih : “ Aku telah membaca dalam sebagian kitab-kitab suci terdahulu dimana Allah berfirman : “ Hai hambaKu, patuhlah kepadaKu pada apa yang Aku perintahkan kepadamu, dan jangan engkau mengajar Aku dengan segala keperluanmu. Aku memuliakan siapa yang memuliakanKu, dan Aku menghinakan siapa yang merendahkan perintahKu kepadanya, dan Aku tidak melihat kepada hak seorang hamba sehinga hamba itu melihat kepada hakKu. “.

Wallahu A'lam bissawab.





ALHIKAM 119

AL HIKAM 119

 لاَ تُطَالِبْ رَبَّكَ بِتَأَخُّرِ مَطْلَبِكَ ، وَلَكِنْ طَالِبْ نَفْسَكَ بِتَأَخُّرِ أَدَبِكَ

Terjemahan : “ Jangan menuntut Tuhan karena terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada Tuhan, tetapi hendaklah engkau betulkan dirimu, tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajipan-kewajipanmu terhadap Tuhanmu “ ( AL HIKAM 119 )

Penjelasan :

Ibadah dan Doa

Dalam surah al fatihah , Allah berfirman : “ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan “ ( Surah al Fatihah/1 : 5 ) Dari pemahaman ayat ini, sebagian ulama menyatakan bahwa sebaiknya doa dimulai dengan ibadah seperti membaca ayat-ayat al Quran, zikir, shalawat , sedekah, berbuat kebajikan dan lain sebagainya.

Doa dan Percaya

Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah] Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ( Surah al Baqarah/2 : 186 )

Rasulullah bersabda: Jika seseorag dari kamu berdoa maka janganlah kamu mengucapkan Ya Allah, ampunkanlah dosaku kalau Engkau Berkehendak, Ya Allah, kasihanilah aku jika Engkau berkehendak, untuk menetapkan permintaan itu, sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksakan sesuatu kepada Allah Taala “( riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ).
Rasululah bersabda : “ Berdoalah kepada Allah dan kamu yakin akan diterima, dan ketahuilah bahwa Allah Taala tidak akan menerima doa dari hati yang lalai “ ( riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah )

Doa, kebaikan dan khusyu

Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.  Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. ( Surah al Anbiya : 90)

Rendah diri dan tanpa kesombongan diri

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku  akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". ( Surah Ghafir/40 : 60 )“ Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan penuh kerendahan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas  (Surah al A’raf/7 : 55)

Doa dan membaca bacaan zikir

Salmah bin Akwa berkata : Belum pernah aku mendengar Rasulullah memulai doanya, selan dimulanya dengan membacakan :        سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَلِىِّ الأَعْلَى الوَهَّابِ
 Subhana Rabbiyal Aliyyil A’la Wahhab , artinya  Mahsuci Tuhanku, Dzat Yang Tinggi, Dzat Yang Tertinggi, Dzat Yang Maha Memberi

Doa dan bacaan shalawat

Abu Sulaiman Darani berkata : Barangsiapa bermaksud berdoa kepada Allah untuk suatu keperluan, maka hendaklah dimulanya dengan membaca shalawat kepada Nabi, kemudian meminta keperluannya, kemudian ditutp dengan membaca shalawat kepada Nabi, sesungguhnya Allah akan menerima dua shalawat dan Dia Maha Pemurah daripada meninggalkan (tidak menerima) doa diantara dua shalawat tersebut. 

Doa dan kebajikan

Abu Dzar berkata : “ Cukupkanlah doa itu dengan perbuatan kebajikan, sebagaimana dicukupkan makanan itu dengan garam “.

Doa dan kesabaran

Rasulullah bersabda : “ Mintalah kepada Allah dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Taala itu sangat suka jika diminta, dan termasuk daripada ibadah adalah menantikan kelapangan dari doa tersebut “ ( Hadis riwayat Thabrani, dari Ibnu Mas’ud ).

Rasulullah bersabda : Doa kamu akan diterima selama tidak minta disegerakan, dimana ia mengatakan : Aku telah berdoa, maka doaku tidak diterima, maka apabila kamu berdoa, maka mintalah yang banyak kepada Allah, karena engkau berdoa kepada Allah Yang Maha Pemurah “ ( riwayat Bukhari dan Muslim ).

Jawaban Doa

Rasululah bersabda : “ Sesungguhnya seorang hamba itu, jika berdoa maka jawabannya tidak akan terlepas daripada tiga hal, adakalanya dosa itu diampunkan dengan doa tersebut, adakalanya permintaan itu disegerakan dan adakalanya disimpankan baginya kebajikan di masa mendatang “.


Rasulullah bersabda : “ apabila kamu berdoa dan meminta dikabulkan, maka hendaklahmembaca  الحَمْدْ لِلِّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّلِحَاتُ Segala puji bagi Allah dimana dengan segalanikmatnya sempurnalah semua kebaikan, Dan sesiapa yang terlambat membacanya, maka bacalah الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ    Segala puji bagi Allah atas segala keadaan  ( Hadis riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah ) 

Sofyan bin Uyainah berkata : Tidaklah seseorang itu dilarang dari berdoa, walau bagaimana keadaan dirinya, sesungguhnya Allah menerima doa makhluk yang terjahat, Iblis yang telah dikutuk Allah, karena Iblis berkata : Wahai Tuhanku, beri tangguh aku sampai hari kebangkitan , maka Allah menjawab : “ Sesungguhnya engkau termasuk orang yang diberi tangguh “ ( Surah al Hijr : 36-37).

Wallahu A'lam.

AL HIKAM 118

AL HIKAM 118

•         سُبْحَانَ مَنْ سَتَرَ سِرَّ الْخُصُوصِيَّةِ بِظُهُورِ الْبَشَرِيَّةِ ،
                        وَظَهَرَ بِعَظَمَةِ الرُّبُوبِيَّةِ فِى إِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ
Maha Suci Allah yang telah menutupi rahasia-rahasia keistimewaan seorang hamba (khususiyah ) dengan terlihatnya sifat-fifat kemanusiaan. Dan Maha Suci Allah yang telh memperlihatkan kepada hambaNya kebesaran Rububiyah dalam nampaknya penghambaan manusia kepadaNya.

Maksud daripada pernyataan diatas adalah kadang kala ada seseorang yang memiliki  keistimewaan ( wali Allah ) dengan memiliki  ilmu pengetahuan, makrifat, dan pemahaman terhadap kebesaran Allah yang diberikan Allah kepadanya, tetapi manusia sekitarnya tidak mengetahui keistimewaan tersebut sebab secara lahir orang tersebut sama seperti manusia awam biasa baik dalam perbuatan maupun dalam amal ibadah.

Siapakah wali Allah ?
Dalam kitab suci al Quran dinyatakan : “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka itu orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan  di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Hal yang demikian itu adalah kemenangan yang besar “. (Surah Yunus : 62-64)
Dalam hadis dinyatakan :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُع
Rasulullah bersabda , Allah berfirman : Siapa yang memusuhi waliKu maka aku akan berperang dengannya. HambaKu mendekatkan diri  kepadaKu yang dengan sesuatu yang wajib, dan senantiasa dia mendekatkan diri dengan sesuatu yang sunat sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya untuk memegang, kakinya untuk berjalan, dan jika dia meminta kepadaKu, niscaya Aku memberinya dan jika dia berlindung kepadaKu, Aku akan melindunginya ( Riwayat Bukhari/6502 )
Dalam al Quran dinyatakan bahwa Rasul itu adalah ,manusia biasa, melakukan apa yang manusia lakukan, demikian juga para wali-wali Allah, “ Dan Kami tidak mengutus rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan mereka sungguh makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat “(Surah al Furqan : 20) 

Dari Anas bin Malik berkata bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda : “ Ada orang yang rambutnya kusut, badannya berdebu, mempunyai pakaian yang buruk, jika dia bersumpah kepada Allah niscaya Allah menganugerahkan kebaikan kepadanya “. Hadis riwayat Muslim.


Rasulullah bersabda bahwa Allah telah berfirman : “ Sesungguhnya waliKu yang paling aku suka adalah hamba yang mukmin, sedikit harta, mempunyai kesenangan dengan shalat, membaikkan ibadah kepada Tuhannya, dan mentaatinya pada waktu tersembunyi. Dia tertutup pada manusia, tidak ditunjukkan kepadanya anak jari, kemudian dia bersabar atas yang demikian. ( riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah )

Rasulullah bersabda : “ Apakah tidak aku tunjukkan kepadamu siapakah iantara penduduk surga ? Iaitu orang yang lemah dan dipandang lemah, jikalau ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah mencurahkan kebaikan kepadanya. Dan penduduk neraka iaitu orang yang sombong dan terpandang sombong, dan angkuh dalam gerak-geriknya “ ( riwayat Bukhari dan Muslim ).

Rasulullah bersabda : “ Sedikit dari riya itu adalah sebagian dari syirik. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang yang taqwa dan menyembunyikan amal perbuatannya. Mereka jikalau tidak datang, orang tidak mencarinya. Jika hadir, orang tidak mengenalnya. Hati mereka itu lampu petunjuk. Mereka terlepas dari setiap bumi yang gelap (Thabrani )

Rasulullah bersabda : “ Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah riya dan nafsu syahwat yang tersembunyi, dimana dia lebih tersembunyi daripada merangkaknya semut hitam atas batu besar yang hitam di dalam malam yang gelap “ ( hadis sahih, riwayat Ibnu Majah dan Hakim )

Rasulullah bersabda : “ Tidaklah dua ekor serigala yan buas yang dilepaskan dalam kandang kambing, lebih cepat membat bencana kepada agama daripada kecintaan seseorang terhadap kemuliaan ( ingin dikenal ) dan kecintan terhadap harta “ ( Riwayat Tirmidzi ).

Fudhail bin Iyadh berkata : “ Jika engkau sanggup untuk tidak dikenal, maka lakukanlah : Tidaklah atas engkau untuk dikenal, tidklah atas engkau untuk dipuji, dan tidaklah engkau itu tercela jika engkau itu terpuji di sisi Allah subhana wa taala “.

Rasulullah bersabda : “ Cukuplah seseorang itu daripada kejahatan, bahwa manusia menunjuk kepadanya dengan anak jari tentang agama dan dunianya, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah “ ( riwayat Baihaqi dari Anas bin Malik ).


Wallahu A’lam.




AL HIKAM 116

AL HIKAM 116


مَنْ ظَنَّ انْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذَلِكَ لِقُصُورِ نَظَرِهِ

Siapa yang mengira terlepasnya hikmat karunia Allah daripada bala ujian yang ditaqdirkan oleh 
Allah, maka yang demikian itu disebabkan karena pendeknya pandangan imannya


Penjelasan :

Setiap yang dijadikan dan ditakdirkan itu mempunya maksud dan tujuan sebagaimana dinyatakan dua kali dalam kitab suci al Quran dengan ayat yang sama : Dan (ingatlah) tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main. (QS. Al Anbiya/21 : 16 / QS. ad Dukhan/44 : 38 )

Oleh sebab itu Rasulullah saw melarang umatnya untuk mencaci maki  taqdir musibah dan kejadian yang telah terjadi, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang  : “ Janganlah kamu menuduh Allah dengan suatu tuduhan yang tidak baik pada setiap kejadian yang sudah ditaqdirkanNya “.
Seorang mukmin harus meyakini bahwa didalam setiap musibah yang telah ditakdirkan itu pasti ada kebaikan, sebagaimana sabda Rasululah : “ Siapa yang dikehendaki Allah untuknya kebaikan maka orang tersebut akan diuji dengan musibah dan bala “ . Abu Hurairah dan Abu Said r.a. menceritakan bahwa Rasulullah bersabda : “ Tiada sesuatu yang mengenai seorang mukmin berupa penderitaan atau kelelahan, atau kerisauan hati dan pikiran melainkan itu semua akan menjadi penebus dosa bagi orang tersebut” ( riwayat Bukhari dan Muslim ).

 Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah bersabda :” Tiada seorang muslim yang terkena musibah dan bala bencana atau penyakit atau sesuatu yang lebih ringan daripada itu melainkan Allah akan menggugurkan dosanya bagaikan daun yang gugur “ . Oleh sebab itu dalam setiap musibah terdapat hikmah kebaikan dan rahmat Allah, dan jika seseorang tidak dapat melihat kebaikan dan rahmat dalam suatu musibah, maka itu disebabkan dangkalnya pandangan orang tersebut atas musibah yang telah ditetapkan Allah kepadanya.
Iman itu mempunyai dua sendi, yaitu yakin dan sabar, sebagaimana dinyatakan oleh sahabat nabi, Syahar bin Hausyab bahwa : “ Sesuatu yang paling sedikit yang diberikan kepada kamu adalah yakin dan sabar “. Artinya di dalam melihat sesuatu kejadian kita meyakini bahwa iu semua datang dari Allah dengan penuh kebaikan dan ahmatNya, oleh sebab itu kita harus menghadapinya dengan penuh kesabaran, sebab di dalam kejadian musibah dan bencana tersebut kita akan mendapatkan pahala, mendapatkan ampunan dosa, dan kenaikan pangkat dan kedudukan di depan Allah subhana wa ta’ala. Jika kita meyakini bahwa musibah itu mendatangkan kebaikan maka kita akan bersyukur dengan bencana dan musibah tersebut. Oleh sebab itu sahabat nabi Ibnu Mas’ud berkata : “ Iman itu memiliki dua sisi, sabar dan syukur “. Diantara doa yang diajarkan nabi kepada kita adalah meminta keyakinan dan kesabaran : “ as’aluka minal yakini ma tuhawwinu alayya bihi min masaibad dunya , Aku bermohon kepada Engkau Ya Allah suatu keyakinan yang dapat memudahkan aku untuk menghadapi musibah-musibah dunia “ ( riwayat Tirmidzi ).

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata dalam pidatonya : “ Apa yang dianugerahkan Allah kepada seorang hamba daripada nkmat, lalu dicabutnya nikmat tersebut dan digantikannya dengan sabar maka apa yang digantikan Allah tersebut (sabar ) lebih utama daripada nikmat yang dicabutNya “ kemudian dia membaca ayat : “ Sesungguhnya bagi orang yang sabar itu akan disempurnakan Allah ganjaran pahala atas kesabaran tersebut dengan balasan  pahala yang tiada terhingga “ ( QS.az Zumar : 10 ).

Diriwayatkan ada diantara orang-orang salaf ( terdahulu ) berjalan dengan membawa duit yang diletakkan di kantong bajunya. Di tengah jalan, uang tersbeut dicuri oleh seseorang, maka dia berkata : “ Semoga Allah memberikan keberkatan kepada orang yang mengambil uang tersebut, dan semoga orang itu lebih memerlukan uang itu daripada dirinya “. Demikian juga, seorang wanita, istri dari Fatah bin Syukruf al Mosuli jatuh terpeleset, sehingga tercabut kuku kakinya, kemudian dia tertawa dan bergembira. Sewaktu ditanyakan kepadanya mengapa dia bergembira dengan kejadian tersebut, dan tidak merasa sakit, maka dia menjawab : “ Sesungguhnya kelezatan pahala yang terdapat pada musibah ini menghilangkan rasa sakitnya “.

Rumaisha, Ummu Salim menceritakan : Anakku yang laki-laki meninggal dunia, sedang suamiku sedang keluar. Aku bangun berdiri dan menutup muka anakku dan kuletakkan di sudut rumah. Tak lama kemudian datanglah suamiku Abu Talhah, dan aku segera  menyiapkan makanan buka puasa untuknya. Sedang makan, suamiku bertanya : Bagaimana anak kita ? Aku menjawab : “Alhamdulillah, dia dalam keadaan baik ”. Kulihat suamiku senang dengan jawaban tersebut, kemudian aku bertanya : “ Tidakkah engkau heran dengan tetangga kita “, dan dia bertanya : “ Ada apa dengan mereka ? “. Aku menjawab : “ Mereka dipinjamkan dengan suatu pinjaman, tetapi tatkala pinjaman itu diminta kembali, ereka bersusah hati “. Suamiku menjawab : “ Itu adalah akhlak yang buruk “. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan : “ Anak lelaki kita itu adalah pinjaman Allah kepada kita, dan sekarang Allah telah mengambilnya dan kembali kepadanya “. Suamiku segera memuji Allah dan bersikap redha dengan keadaan tersebut. Keseokan harinya suamiku menjumpai Rasulullah dan menceritakan keadaan itu, maka Rasul berdoa : “ Allahuma barik lahuma fi lailatihima…Ya Allah berikanlah berkah kepada keduanya dengan sikap mereka berdua pada malam tersebut “. Anas yang menceritakan kisah ini selanjutnya menyatakan : “ Kemudian, aku melihat kedua suami istri tersebut memiliki tujuh orang anak. Semua anak tersebut  pandai membaca al Quran “. Sahabat Jabir jga menceritakan bahwa dia pernah mendengar Rasulullah bersabda : “ Aku bermimpi masuk surga, dan dalam mimpiku tersebut aku bertemu dengan istri Abu Talhah “ ( hadis riwayat Thabrani ).

Pada suatu hari, Rasulullah ditanya: “ Apakah iman ? “,  Rasulullah bersabda : “ Iman itu adalah bersikap sabar dan suka memaafkan “.  Ali bin Abi Thalib  berkata : “Iman itu dibangun atas empat tiang, yakin, sabar, jihad, dan adil”. Kemudian Ali melanjutkan : “ sabar itu dari iman adalah sebagaimana kedudukan kepala dari badan. Tiada badan yang tidak memiliki kepala, dan tiada iman bagi orang yang tidak memiliki kesabaran “. Oleh sebab itu dalam suatu hadis, Rasulullah bersabda : “ Lakukan ibadah kepada Allah dengan penuh keridhaan. Jika kamu tidak sanggup untuk ridha, maka sabarlah kamu atas apa yang kamu tidak suka “ ( Tirmidzi ).

Seorang lelaki menjumpai ulama Sahal Tustary berkata : “ Seseorang telah ke dalam rumah dan mencuri hartaku “. Sahal menjawab : “ Bersyukurlah kepada Allah, sebab yang hilang itu hanya hartamu. Jikalau syetan yang datang dan masuk ke dalam hatimu, dan merusak tauhidmu, apakah yang dapat engkau perbuat..? “. 

Khalifah Umar bin Khattab berkata : “ Tidaklah aku mendapat bencana melainkan ada padanya empat nikmat : (1) Bencana itu bukan bencana yang merusak agamaku, (2) Tiada terjadi bencana yang lebih besar daripadanya (3) Dengan bencana , aku mendapatkan sikap redha kepada takdirNya (4) Dengan bencana, aku bersabar dan mendapatkan pahala dari bencana tersebut.


Wallahu A’lam bis sawaab.

AL HIKAM 115

AL HIKAM 115

 لِيُخَفِّفْ أَلَمَ الْبَلاَءِ عَلَيْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِى لَكَ فَالَّذِى وَاجَهَتْكَ مِنْهُ الأَقْدَارُ هُوَ الَّذِى عَوَّدَكَ حُسْنَ الاَخْتِيَارِ 
Terjemahan :
Seharusnya terasa ringan kepedihan bala yang menimpa kepadamu, kerana engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji padamu, maka Tuhan yang menimpakan kepadamu takdirNya itu. Dia pula yang telah memberi kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu ( Ibnu Athaillah )

Penjelasan :

 1. Hidup adalah ujian 

Segala sesuatu dalam kehidupan ini, baik dan buruk adalah merupakan ujian daripada Allah untuk melihat bagaimana sikap kita sebagai hamba kepada Tuhannya. Dalam al Quran dinyatakan : “ Kami jadikan kebaikan dan keburukan itu suatu ujian bagi kamu “ ( QS. Al Anbiya/21 : 35 )  “ Dan Kami jadikan sebagian kamu dengan sebagian yang lain itu merupakan ujian, apakah kamu dapat bersabar “ ( QS. Furqan/25 : 20 ). “ Sesungguhnya harta kekayaan dan anak-anak yang kamu miliki itu semua merupakan ujian bagi kamu, dan apa yang ada pada sisi Allah itu pahala yang besar “ ( QS. At Taghabun/64 : 15 ).

 2. Kebaikan juga terdapat dalam sesuatu yang tidak engkau suka. 

“ Dan kadangkala pada sesuatu yang kamu benci itu ada kebaikan bagi kamu, dan pada sesuatu yang kamu suka itu ada keburukan bagi kamu, dan Allah Maha Mengetahui, dan kamu tidak mengetahui “ ( QS. al Baqarah : 216 ) “ Kadangkala pada apa yang kamu benci itu, Allah jadikan kebaikan yang banyak “ ( QS. an Nisa : 19 ) 

 3. Tidak semua kenikmatan itu terdapat kebaikan.

Jika seseorang mendapat nikmat yang banyak, dapat berakibat kepada sikap yang melampau sebagaimana dinyatakan dalam al Quran :  “ Dan jika Allah lapangkan rezeki bagi hambaNya di muka bumi, maka mereka akan bersikap melampau “ ( QS. as Syura : 37 )

Nikmat yang banyak juga dapat menjadkan seseorang itu lupa akan erngatan Tuhan.  “ Pada waktu mereka lupa atas apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami akan bukakan bagi mereka semua pintu-pintu segala sesuatu, dan apabila ereka bergembira dengan apa yang datang kepada mereka, Kami akan ambil apa yang telah Kami berikan tersebut, dan mereka akan gagal sepenuhnya “ ( QS. Al An’am : 44 ) 

Oleh sebab itu dalam kesabaran menunggu jawaban atas permintaan dan dosa atas  itu terdapat kebakan, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Orang yang sabar itu akan mendapat keselamatan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk “ ( Qs. al Baqarah : 157 ) . Rasulullah bersabda : “ Di dalam kesabaran atas apa yang kamu tidak suka itu terdapat kebaikan yang banyak “ ( riwayat Tirmidzi ) 

 4. Tanda Iman : Syukur, sabar dan ridha 

Ibnu Abbas menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah bertanya kepada sahabat : Apakah kamu termasuk orang yang beriman ? Sahabat terdiam, dan Umar bin Khtaatb menjawab : Ya, Rasulullah, kami orang yang beriman. Rasululah kembali bertanya : Apakah tanda iman kamu ? Sahabat menjawab : Kami bersyukur dengan nikmat, sabar dengan musibah, dan ridha dengan segala ketetapan Allah “. Rasulullah bersabda : Demi Tuhan yang memiliki Ka’bah, jika demikian, kamu adalah orang yang beriman “ ( riwayat Thabrani ). 

 5. Kebaikan di balik kesabaran.

Sabar itu memilki nilai pahala,  “ Sesungguhnya orang yang sabar itu akan mendapatkan balasan dengan pahala yang tidak terhitung “ ( QS. az Zumar : 10 ) “

Dalam kisah dinyatakan,  seseorang lelaki berkata kepada Rasulullah : Ya rasulullah beri aku wasiat, maka Nabi bersabda : “ Janganlah kamu menuduh atas segala yang telah Allah tetapkan “, kemduian Rasul meneruskan : “ Ada perkara yang menakjubkan bagi kehidupan seorang yang beriman keppada Allah : Jika ditakdirkan mendapat kesenangan, dia ridha dan itu adalah kebaikan bagi dirinya, dan jika ditakdirkan baginya suatu keburukan, maka dia juga ridha dan itu juga merupakan kebaikan bagi dirinya ( riwayat Muslim )

 6. Kedudukantinggi dicapai  dengan sabar.

 “ Sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah yang mana kedudukan itu tidak akan tercapai dengan amal biasa, sehingga dia diuji dengan bala dan musibah pada badannya dan dengan itu dia mendapatkan kedudukan mulia “ ( riwayat Abu Daud ).

 7. Ampunan dosa di balik musibah. 

Sewaktu turun ayat 123 dari surat an Nisa : “ Sesiapa yang mendapat keburukan, maka dia mendapatkan pahala “, maka Abu bakar bertanya : Apakah maksud ayat ini ? Rasulullah menjawab : “ Allah memberikan ampunan kepada engkau wahai Abu bakar, bukankah engkau pernah sakit..? Bukankah engkau pernah dianiaya, bukankah engkau pernah sedih ? Itu semua akan mendapat balasan pahala daripada Allah “ ( riwayat Tirmidzi ) .

Wallaahu A’lam.

Wednesday, January 7, 2015

TADABBUR SURAH ALKAFIRUUN


Terjemahan : 

Katakan : Hai orang kafir !(1)  Saya tidak menyembah apa yang kamu sembah (2) Dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang kami sembah (3) Dan saya tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah (4) Dan kamu juga tidak pernah menyembah apa yang aku sembah (5) Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku ( 6 ).

Sebab turun ayat :

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Mina, bahwa ada beberapa orang tokoh myusrikin Makkah, Walid bin Mughirah , Aswad bin Muthalib dan Umayah bin Khalaf menjumpai nabi Muhammad dan berkata : Hai Muhammad bagaimana jika engkau menyembah apa yang kami sembah dan nanti kami menyembah apa yang engkau sembah dan engkau bergabung dengan kami dalam segala urusan, dan kami juga akan ikut kamu dalam segala urusan, dan nanti jika apa yang ada pada kami lebih baik dariapa yang ada pada kamu, maka kamu telah mendapat sesuatu, dan jika nanti apa yang kamu punya lebih baik dari apa yang kami punya maka kami telah mendapat keuntungan “, maka Allah segera menurunkan surah al Hakirun kepada Nabi, sebagai petunjuk dalam bersikap terhadap usulan mereka. Sedang menurut Ibnu Abbas Surah ini turun disebabkan orang kafir Qurasiy menawarkan kepada nabi muhammad harta kekayaan, sehingga menjadi orang yang terkaya di Makkah, dan akan dicarikan perempuan yang paling cantik, dengan syarat agar nabi menghentikan untuk mengatakan yang tidak baik terhadap tuhan mereka (berhala), dan jika tidak mau juga mereka menawarkan kepda nabi, jalan kompromi yaitu bagaimana jika satu tahun mereka (orang kafir Makkah) menyembah Allah dan pada tahun selanjutnya berganti dimana Muhammad dapat menyembah tuhan mereka. Sebab adanya tawaran dari kaum kafir Makkah ini, maka Allah menurunkan surah al kafirun, sebagai petunjuk bersikp dengan tawaran orang kafir tersebut. (Imam Suyuthi, Durrur Manstur fi tafsir Ma;tsur, jilid 6, hal.692).

Tadabbur ayat :

 Jika kita kaji ayat yang pertama berarti : “ Katakanlah Hai orang kafir “, maka ayat pertama ini menyuruh nabi Muhammad berani bersikap dan berani berkata untuk menolak tawaran tersebut. Beda jika ayat tersebut berbunyi : “ Hai Muhammad : engkau tidak boleh menyembah apa yang mereka sembah “, sebab ayat ini hanya memberikan keyakinan ke dalam hati, bukan ayat untuk memerintahkan bersikap. Tetapi kalimat “ Hai orang kafir “, ini lebih tegas sebab menyuruh Nabi untuk berani bersikap tegas. Inilah sikap orang beriman dalam merespon gangguan akidah yang datang dari agama di luar Islam. Ini bukan masalah toleransi, tetapi masalah sikap menghormati keyakinan, sehingga agama lain tidak boleh ikut campur untuk mengatur keyakinan agama Islam. Ibnu Katsir menyatakan bahwakata-kata : “ orang kafir “ dalam ayat ini berlaku untuk semua orang kafir di seluruh muka bumi, tidak terbatas kepada orang kafir Makkah. ( Ibnu Katsir, Tafsir Quran al’Adzim, jilid4,hal.631) 

 Ayat kedua : “ Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah “. Inilah sikap seorang mukmin yang harus dipahami dan dihormati oleh orang yang berlainan agama, bahwa dalam keyakinan tak dapat ditukar-tuar, diganti-ganti dengan alas an apapun juga. “Tidak menyembah”, maksudnya tidak meenyembah tuhan mereka, tidak beribadah dengan cara ibadah mereka, tidak memakai atribut yang merupakan identiras agama mereka, tidak ikut perayaan hari besar meraka, sebab setiap agama mempunyai tuhan yang disembah, tatacara ibadah, identitas dan atribut yang dipakai pada hari kebesaran agama masing-masing, oleh sebab itu mari setiap penganut agama menghormati setiap agama lain, jangan memaksa agama lain untuk ikut dalam acara mereka. Imam Fakhrudin Razi dalam tafsirnya menyakatan bahwa makna “ Tidak menyembah apa yang mereka sembah “ berarti mengingkari dengan hati, lisan dan perbuatan/tindakan segala tatacara ibadah mereka.

 Ayat ketiga “ dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang kami sembah “. Jika seorang muslim tidak akan ikut acara-acara agama lain atau simbol-simbol dan atribut agama lain,maka penganut agama lain juga tidak perlu ikut-ikut acara agama Islam, atau memakai atribut, dan identitas agama Islam, sebab dapat membuat kekacauan dalam masyarakat. Bukanlah sikap toleransi dengan mengikut acara agama lain, sebab itu menghilangkan identitas dan ciri khas agama, maka dengan melarang pengikut agama lain untuk mengikuti ibadah, identitas agama lain, itulah makna toleransi beragama, sebab dengan sikap ekslusif itu agam masing-masing akan terjaga dan menjadi terhormat, malahan jika umat suatu agama ikut-ikut tatacara penyembahan agama lain, itu merupakan sikap pelecehan terhadap suatu agama. 

 Ayat keempat dan kelima: “ Dan kamu tidak pernah menyembah apa yang aku sembah , dan aku tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah “. Jika pada ayat kedua dan ketiga kata-kata menyembah dalam kata kerja sekarang dan akan datang ( fi’il mudhari’), sedangkan pada ayat empat dan lima, kata menyembah dalam kata kerja terdahulu ( fi’il madhi ), sehingga makna ayat dua dan tiga “ kami tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kami tidak mengharapkan agar kamu menyembah apa yang kami sembah “, sedang pada ayat empat dan lima bermakna “kami tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu juga tidak pernah menyembah apa yang telah kami sembah “. Seakan-akan dikatakan , jika selama ini kami tidak menyembah apa yang kamu sembah, mengapa sekarang kamu mememinta agar kami menyembah apa yang kamu sembah. Berati dalam ayat ini tersirat bahwa permintaan tersebut bukanlah permintaan yang jujur, tetapi suatu strategi orang kafir untuk menipu atau mengelabui orang islam dalam tatacara ibadah, sebab jika orang kafir kan menyembah apa yang kami sembah, maka nanti kamu meminta agar kami menyembah apa yang kamu sembah. 

Dalam ayat ini tersirat pesan agar umat Islam berhati-hati dengan strategi orang kafir dalam merusak akidah dengan percampuran tatacara ibadah atau ikut-ikutan perayaan dan atribut beribadatan. Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini bekata bahwa “ aku tidak menyembah apa yang kamu sembah “, maksudnya bahwa aku tidak melakukan tatacara ibadah agama kamu, tidak melakukannya dan juga tidak pernah ikut-ikutan untuk melakukannya, sebab aku hanya menyambah Allah dengan tatacara yang disukaiNya dan tatacara yang diridhaiNya. Ibnu Katsir melanjukna bahwa dalam ayat “ dan kamu tidak pernah pernah menyembah apa yang aku sembah “, maksudnya kamu (orang kafir) tidak mengikuti perintah Alah dan hukum syariatNya dalam tatacara ibadah, sebab tatacara ibadah orang kafir itu merupakan kreasi mereka sendiri.

 Ayat ke-enam “ Bagi kamu agama kamu bagi kami agama kami “. Ini merupakan ayat untuk mengajarkan umat islam agar menghormati agama lain, dan agama lain juga harus menghormati agama Islam. Jika ayat diatas berbicara sikap keyakinan umat Islam terhadap ajakan orang mencampur adukkan tatacara ibadah atau atribut peribadatan, dimana umat islam harus tegas menolak ajakan tersebut, maka ayat terakhir ini, menyatakan tentang adab sesama umat beragama untuk saling menghormati keyakinan, tatacara ibadah, dan atribut peribadatan masing-masing, sehingga perbedaan keyakinan, perbedaan tatacara ibadah, perbedaan atribut peribadatan tidak merupakan penyebab peperangan, perkelhian, kekacauan sesama umat beragama.

 Ibnu Abbas menyatakan bahwa dengan pernyataan “ bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku “, itu eakan-akan nabi berkata : Sesungguhnya aku dibangkitkan kepada kamu untuk mengajak kamu kepada kebnaran dan keselamatan, dan jika kamu tidak menerima ajakanku, maka jangan ikut aku, dan tinggalkan aku dan jangan engkau ajak aku kepada syirik”. Inilah sikap seorang muslim, tegas dalam akidah dan prinsip keyakinan, sehingga tidak perlu mengikuti tatacara ibadah agama lain, sebab kita berbeda dengan mereka; tetapi ketegasan itu harus diikuti dengan akhlak yang mulia, bukan dengan pertengkaran dan peperangan, tetapi dengan sikap menghargai perbedaan. 

Sejarah membuktikan bahwa perbedaan keyakinan pada masa lalu tidak menimbulkan perkelahian, maka hal tersebut dapat diwujudkan pada masa akan datang tanpa memaksa kelompok lain untuk mengakui kebenaran agama lain, atau mengikuti tatacara ibadah, atau mengikui perayaan hari besar agama yang lain. Zaid bin Harisah berkata : Hai Rasul ajarkan aku sesuatu yang harus aku baca sebelum tidurku , maka nabi menjawab : Apabila engkau akan tidur bacalah Qs.Alkafirun, karena sesungguhnya itu dapat melepaskan kamu daripada syirik “.(rwayat Ahmad dan Thabrani ). 

Nabi menganjurkan umatnya agar membaca Surah al Kafirun dengan maksud agar umat Islam tidak akan terperangkap dalam segala upaya orang kafir yan akan mengajak atau memaksa umat islam untuk megikuti budaya, cara hidup, pemakaian atribut dalam perayaan, ibadah dan lain sebagainya. Itulah sebabnya nilai surah alKafirun ini sama dengan sepertiga AlQuran, sebab pemahaman surah ini dapat menguatkan akidah umat dan bersikap terhadap ajakan orang kafir. Kehidupan harmonis dalam masyarakat hanya dapat terjadi setiap agama menghormati keyakinan agama lain yang dibuktikan dengan menghormati tatacara ibadah, atribut dalam perayaan agama, inilah toleransi agama, bukan dengan cara mengikuti atau ikut merayakan hari besar agama lain dengan ikut-ikutan simbol dan atribut mereka. Fa’tabiru ya Ulil albab.