Pages

Saturday, November 11, 2017


FATWA, RESOLUSI DAN HARI PAHLAWAN

Hari Pahlawan ditetapkan pemerintah pada setiap tanggal 10 November. Penetapan ini sebagai suatu cara yang dilakukan agar bangsa Indonesia tidak melupakan peristiwa bersejarah perang yang pernah terjadi antara Bangsa Indonesia dengan pihak penjajah. Jika kita meneliti sejarah, maka akan terlihat bahwa  peristiwa perjuangan dan kepahlawanan bangsa Indonesia yang dipimpin oleh Bung Tomo di kota Surabaya tersebut tidak bisa dipisahkan dari peran fatwa jihad yang dikeluarkan oleh ulama kharismatik, Kiyai Haji Hasyim Asy’ari dan Resolusi Jihad Nahdathul Ulama sehingga dengan adanya fatwa dan resolusi tersebut  maka seluruh umat Islam  bergerak berjuang sekuat tenaga untuk mengusir bangsa penjajah, baik dari tentera Belanda, Inggeris, yang mencoba kembali masuk ke Indonesia setelah bangsa Indonesia memperoklamirkan kemerdekaannya.

Dengan alasan untuk melucuti tentera Jepang yang kalah perang melawan sekutu, maka pasukan tentara Inggris mendarat di Jakarta pada pertengahan September 1945 dengan nama Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Kedatangan pasukan Inggeis tidak dapat dibendung dan pemerintahan bangsa Indonesia  yang berpusat di Jakarta mengharapkan  penyelesaian dilakukan secara diplomatik sambil menata birokrasi negara yang baru merdeka. Pemerintah baru mendorong agar terbentuknya partai-partai politik dan Tentara Keamanan Rakyat, tetapi harapan pemerintah tidak digubris oleh tentera sekutu, sehingga dalam waktu yang singkat, tentera  Inggris telah menduduki beberapa daerah seperti Medan, Padang, Palembang, Bandung, dan Semarang lewat pertempuran yang dilakukan. Pendudukan ini juga mendapat bantuan langsung dari Jepang yang kalah perang, sebagai konsekuensi dari alih kuasa dari pemerintah Jepang kepada tentera sekutu. Demikian juga sebagian kota-kota besar di kawasan timur Indonesia telah diduduki oleh tentera Australia yang bergabung dalam pasukan sekutu. Pasukan Inggris  masuk kota Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945, dengan menurunkan tentara  sekitar 6.000 orang yang terdiri dari serdadu jajahan India. Didalam pasukan sekutu tersebut, turut membonceng pasukan Belanda yang masih bersemangat ingin kembali menguasai Indonesia.

Melihat situasi dan keadaan  negara dalam keadaan demikian genting, maka pada tanggal 17 September 1945, seorang ulama yang disegani oleh seluruh rakyat,  Kiyai Haji Hasyim Asy’ari secara pribadi  mengeluarkan fatwa jihad yang intinya sama dengan Resolusi Jihad. Naskah Fatwa Jihad Kiyai Haji  Hasyim Asy’ari yang dikeluarkan 17 September 1945 tersebut berisikan tiga poin utama yaitu 
(1) Hukum memerangi orang kafir yang merintangi kepada kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardu ‘ain bagi tiap-tiap orang Islam yang mungkin ( yang memiliki mampu) meskipun orang fakir. 
(2) Hukum orang yang meninggal dalam peperangan melawan NICA serta komplot-komplotnja, adalah mati syahid.
 (3) Hukum orang yang memecahkan persatuan kita sekarang ini wadjib dibunuh.

Selanjutnya, pada tanggal 21-22 Oktober 1945, wakil-wakil dari cabang Nahdathul Ulama  dari seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya untuk menghadiri Rapat Besar Nahdathul Ulama  yang dipimpin langsung oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadlratussyekh Kiyai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari, dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Resolusi Jihad. Naskah Resolusi Jihad tersebut adalah sebagai berikut :

Resoloesi wakil-wakil daerah Nahdlatoel Oelama Seloeroeh Djawa-Madoera

Bismillahirrochmanir Rochim
Resoloesi :
Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsoel2) Perhimpoenan Nahdlatoel Oelama seloeroeh Djawa-Madoera pada tanggal 21-22 October 1945 di Soerabaja.

Mendengar :
Bahwa di tiap-tiap Daerah di seloeroeh Djawa-Madoera ternjata betapa besarnja hasrat Oemmat Islam dan ‘Alim Oelama di tempatnja masing-masing oentoek mempertahankan dan menegakkan AGAMA, dan KEDAOELATAN NEGARA REPOEBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang :
 (a). Bahwa oentoek mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hoekoem Agama Islam, termasoek sebagai satoe kewadjiban bagi tiap2 orang Islam. (b). Bahwa di Indonesia ini warga negaranja adalah sebagian besar terdiri dari Oemmat Islam.

Mengingat:
 (1)Bahwa oleh fihak Belanda (NICA) dan Djepang jang datang dan berada di sini telah banjak sekali didjalankan kedjahatan dan kekedjaman jang menganggoe ketentraman oemoem.
(2) Bahwa semoea jang dilakoekan oleh mereka itu dengan maksoed melanggar kedaoelatan Negara Repoeblik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali mendjadjah di sini maka beberapa tempat telah terdjadi pertempoeran jang mengorbankan beberapa banjak djiwa manoesia.
(3) Bahwa pertempoeran2 itu sebagian besar telah dilakoekan oleh Oemmat Islam jang merasa wadjib menoeroet hoekoem Agamanja oentoek mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanja.
(4) Bahwa di dalam menghadapai sekalian kedjadian2 itoe perloe mendapat perintah dan toentoenan jang njata dari Pemerintah Repoeblik Indonesia jang sesoeai dengan kedjadian terseboet.

Memoetoeskan :
 (1) Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia soepaja menentoekan soeatoe sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap oesaha2 jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia teroetama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.
 (2) Seoapaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat “sabilillah” oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Soerabaja, 22 Oktober 1945
Tertanda : NAHDLATOEL OELAMA

Fatwa Kiyai Haji Hasyim Asy’ari dan Resolusi Jihad tersebut membangkitkan semangat bangsa Indonesia dalam peperangan mempertahankan tanah air yang sedang dijajah oleh pihak sekutu, terutama memberikan inspirasi dan semangat kepahlawanan kepada Bung Tomo dalam menggerakkan masyarakat Surabaya dalam mengusir pasukan penjajah yang kembali datang setelah bangsa Indonesia memperoklamirkan kemerdekaannya. Hal ini terbukti dengn teriakan Takbir yang berapi-api dalam pidato Bung Tomo kepada para pejuang bangsa.

" Bismillahhirrahmanirrahim.
Merdeka, Merdeka, Merdeka. 

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara saudara penduduk kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara inggris telah menyebarkan pamplet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan agar menyerahkan senjata senjata yang telah kita rebut dari tangan  tentara Jepang. Mereka telah minta supaya kita datang kepada mereka itu dengan mengangkat tangan, Mereka telah meminta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa berndera merah putih tanda bahwa kita telah menyerah.

Saudara-saudara,
 Di dalam pertempuran pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya baik pemuda pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda pemuda yang berasal pulau Bali, pemuda pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh sumatera, pemuda Aceh, pemuda tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada ini di dalam pasukan pasukan, mereka masing-masing dengan pasukan pasukan rakyat yang di bentuk di kampung-kampung telah menunjukkan satu kekuatan sehinggga mereka itu terjepit di mana-mana

Hanya karena taktik yang licik dari pada mereka itu, saudara-saudara dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran, tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya .

Saudara-saudara, 
kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara inggris itu dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, dengarkanlah tentara inggris. Ini jawaban kita, Ini jawaban rakyat Surabaya, Ini jawaban pemuda Indonesia kapada kamu sekalian

“ Hai tentara Inggris! Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera merah putih untuk takluk kepadamu. Kau menyuruh kita mengangkat tangan kepada mu. Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu. Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada, tetapi inilah jawaban kita: “ Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga”.

Saudara saudara rakyat Surabaya, 
,Siaplah! Keadaan genting! Tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak. Baru kalau kita ditembak maka kita akan ganti menyerang mereka itu. Kita tunjukkan bahwa kita ini benar –benar orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.  Semboyan kita “Tetap merdeka atau mati”.Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara,  Tuhan akan melindungi kita sekalian.
 Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allahu Akbar!
 Merdeka.!

Demikianlah Pidato Bung Tomo yang berapi-api itu dibacakan  dan didengar oleh seluruh rakyat Indonesia, sehingga pidato tersebut menggerakkan semangat perjuangan bangsa dalam melawan tentara penjajah. Oleh sebab itu esuatu yang tak dapat terbantahkan, bahwa keberanian Bung Tomo untuk meneriakkan takbir perjuangan melawan kekuatan penjajah dalam pidato tersebut merupakan tanda adanya pengaruh dari Fatwa dan Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh para ulama terdahulu. Jika sekarang kita telah merdeka, dan sedang memperingati Hari Pahlawan, maka sepatutnya kita menghargai para ulama, sebab peran dan jasa mereka merupakan tinta emas dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Fa’tabiruu Ya Ulil albab.

Tuesday, May 30, 2017

MAKNA RAMADHAN  

Ramadhan dalam bahasa arab berasal dari kata-kata “ ra-ma-dha” yang bermakna keadaan cuaca panas yang dapat membakar sesuatu. Hal ini terbukti dengan pertanyaan istri Rasulullah, Aisyah  kepada rasulullah : Ya Rasulullah, mengapa bulan diwajibkan berpuasa itu dinamakan dengan nama ramadhan ? Rasulullah sallahu alaihi wasallam  menjawab : Dinamakan bulan puasa itu dengan nama bulan Ramadhan sebab pada dengan puasa pada bulan Ramadhan itu, Allah Taala akan membakar dosa-dosa yang dilakukan oleh orang yang beriman, dan Allah pada bulan tersebut akan memberikan ampunan kepada mereka ( Isfahani/Tafsir Durarur Mansur, jilid 1, hal.335 ). Oleh sebab itu bulan ramadhan adalah bulan pembakaran atas segala sesuatu yang tidak baik, seperti pembakaran dosa, toksid badan dan lain sebagainya. Sahabat Nabi bernama Ibnu Umar juga menyatakan : Dinamakan ramadhan sebab dosa-dosa akan terbakar dalam bulan tersebut “.

Pembakaran juga dapat berarti proses pembersihan, sebagaimana besi dibakar untuk dibersihkan daripada karat dan lain sebagainya. Hal ini  dikuatkan dengan  hadis Rasululah menyatakan bahwa : “ Bagi setiap sesuatu itu ada zakatnya (zakat dalam maksud pembersihan ), dan zakatnya badan itu adalah puasa “ ( hadis riwayat Ibnu Majah ). Dalam hadis yang lain juga disebutkan : “ Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat “ ( hadis riwayat Ahmad ). Dalam hadis berikutnya juga disebutkan bahwa “ Puasa itu adalah benteng “ ( hadis riwayat Baihaqi  ) Benteng dapat berarti proteksi dan pertahanan. Dari ketiga hadis diatas, penulis melihat inilah konsep puasa bagi kehidupan, yaitu suatu sistem yang dapat membersihkan , memproteksi, dan menyehatkan kehidupan manusia . Itulah sebabnya penulis menyatakan ramadhan adalah bengkel kehidupan, untuk membersihkan kekotoran ang terdapat dalam diri manusia, sekaligus sebuah proses untuk  memperbaiki dan menyehatkan manusia, serta proses untuk  memberikan ketahanan (proteksi ) diri manusia dalam menjalani dan menghadapi kehidupan.

Sistem Perawatan, pembersihan diri, proteksi dalam segala sesuatu yang dipakai, itu merupakan suatu kelaziman (sunatullah ). Sebagai contoh,  kalau kita membeli sebuah kenderaan, maka dalam buku panduan kenderaan pasti tertulis bahwa kenderaan tersebut dalam masa tertentu harus masuk bengkel untuk dilihat segala sesuatu yang berkaitan dengan kenderaan tersebut, apakah air baterenya perlu diisi lagi, olinya diganti, mesinnya di tune-up, bannya apakah perlu diganti, remnya , dan lain sebagainya, dan itu semua adalah bagian dari system pemeliharaan kenderaan sehingga kenderaan dapat berjalan dengan baik sepanjang masa. Jika hal itu diperlukan bagi sebuah kenderaan, demikian juga bagi kehidupan manusia, dan semua makhluk yang hidup. Hidup adalah bergerak, dan setiap yang bergerak diperlukan suatu system pemeliharaan sehingga kehidupan akan tetap berjalan dengan baik. Berarti dalam suatu kehidupan diperlukan sistem perawatan dan pemeliharaan, dan untuk bengkel kehidupan manusia dalam satu tahun itulah diperlukan bengkel ramadhan, untuk memperbaiki dan membersihkan dan menyehtkan seluruh jiwa dan badan manusia,yang terdiri dari  roh, akal,  hati, nafsu/emosi, dan jasad manusia, sehingga manusia itu dapat kembali suci dan bersih serta sehat sebagaimana sewaktu pertama kali lahir kemuka bumi, dalam keadaan fitrah yang suci. Ramadhan adalah bulan untuk memproses  semua unsur yang ada diri manusia baik roh, akal, hati, jasad dan nafsu, agar semua komponen diri itu kembali suci, shat dan kuat, Proses itu dapat dilakukan dengan menghaati dan memahami proses bulan ramadhan yang terdiri dari shalat taraweh, tadarus al Quran, Sahur di tengah malam, Imsak, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, dan iftar dengan makanan yang halal, baik, bergizi dan sehat di saat berbuka puasa.

Penyucian  ruh dngan shalat taraweh

Jika kita memasuki bulan ramadhan, maka yang pertama kita lakukan adalah shalat taraweh. Shalat taraweh jika kita umpamakan dengan kenderaan adalah untuk mengisi air bateri agar batere tetap kuat dan dalam kondisi yang baik. Manusia mempunyai jiwa dan ruh. Jiwa dan ruh manusia adalah bagaikan sebuah batere. Jika batere perlu diisi ulang, sehingga kuat untuk menjalankan tugasnya sebagai bahan penggerak, demikian juga dengan jiwa dan ruh manusia. Pengisian ruh adalah dengan salat, itulah sebabnya rasulullah jika akan salat berkata kepada Bilal bin rabah, “ Yaa Bilaal, arihna bissalah…Wahai Bilal tenangkan jiwa kami dengan shalat “. Dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda : “ Qurrata Aini fissalah..Penejuk hatiku, adalah dalam shalat “. Shalat adalah sesuatu yang dapat menghibur diri dan jiwa. Berarti shalat adalah pengisian jiwa dan ruh agar tetap kuat.

Ramadhan bermula dengan malam hari, dan kegiatan pertama ang dilakukan di malam hari dalam bulan ramadhan adalah melaksanakan shalat taraweh. Shalat Taraweh secara bahasa adalah shalat yang dapat memberikan ketenangan dalam hati, sebab Taraweh adalah jamak dari kata-kata “ tarwih “ yang bermakna sesuatu yang dapat memberikan ketenangan. Oleh sebab itu maka perbuatan yang diakuakn di awal ramadhan di malam ramadhan pertama adalah shalat taraweh  yang bertujuan untuk meperbaiki, menyucikan dan menguatkan  ruh dan jiwa manusia.  Dengan melakukan shalat taraweh baik itu delapan atau dua puluh rakaat, maka ruh dan jiwa kita akan kuat, sehat dan suci, dan hal ini dapat terjadi jika kita dapat menikmati shalat dan menjadikan shalat sebagai penghibur hati dan jiwa..

Kita tidak perlu bertengkar tentang bilangan rakaat, karena dalam ibadah shalat biasanya ada bilangan minimal danm maksimal. Jika dalam shalat duha minimal dua rakaat, maksimal delapan rakaat, dalam shalat witir minimal satu rakaat dan maksimal sebelas rakaat, tergantung kepada kemampuan dan keinginan kita untuk melaksanakannya, demikian juga dengan shalat taraweh, minimal delapan rakaat dan boleh juga duapuluh rakaat. Malahan dalam sejarah Islam tercatat bahwa masyarakat Madinah pernah melakukan shalat taraweh dengan tiga puluh enam rakaat, dan umat islam dalam masa kepemimpinan Umar Abdul Aziz melaksanakan shalat taraweh dengan empat puluh empat rakaat. Mereka melakukan shalat tersebut dengan penuh kenikmatan, sebab bilangan rakaat itu dapat menambah kenikmatan mereka dsebab ruh itu akan kuat jika selalu berdialog dan berjumpa dengan Tuhan, sang pencipta.

Jika kita misalkan shalat taraweh sebagai penguatan ruh dan jiwa , sama seperti air bateri yang diisi ke bateri untukmenguatkan bateri itu kemlabli. Jika air bateri ada batas minimal dan batas maksimal dalam pengisiannya, demikian juga bilangan shalat taraweh ada batas minimal sehingga dapat dikatakan bahwa bilangan delapan rakaat adalah batas minimal shalat taraweh untuk dapat menguatakna jiwa dan ruh yang terdapat dalam diri manusia. Oleh sebab itu yang sepatutnya menjadi perhatian kita bukanlah bilangan, tetapi kualitas shalat taraweh yang dilakukan, apakah shalat tersebut sudah dapat menguatkan hubungan ruh dan jiwa kita kepada Allah taala.

Penyucian akal dengan Tadarus AlQuran

Kegiatan kedua dalam bulan ramadhan adalah tadarus al Quran, sebab sejarah mencatat bahwa nabi Muhammad melakukan tadarus al quran bersama malaikat jibril spade setiap malam sepanjang bulan ramadhan. Tadarus berasal dari kata-kata bahasa arab  “da-ra-sa” ang bermakna mempelajari sesuatu secara bersama-sama. Tadarus al Quran bermakna suatu kegiatan untuk membca dan mempelajari al Quran secara bersama-sama. Tadarus al Quran di malam ramadhan dilakukan sampai khatam sehingga dengan tadarus tersebut timbul kecintaan kepada membaca dan mempelajari al Quran yang merupakan petunjuk untuk kebahagiaan hidup. Dengan membaca ayat-ayat al Quran berarti kita sedang membaca kembali petunjuk Tuhan dalam kehidupan sehingga petunjuk tersebut dapat kita pahami dengan baik sehingga pikiran ang tidak sesuai dengan petunjuk yang ada dalam pikiran mansuia dapat terhapus dan digantikan dengan pikiran yang bersumber dari ayat-ayat al Quran.

Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa kegiatan Tadarus al Quran dimaksudkan untuk memperbaiki pikiran  manusia. Manusia menjalani kegiatan hidup dengan memakai akal dan pikiran  Kadang dala dengan masuknya informasi media ke dalam pikiran manusia, sehingga dapat membuat pikiran memutuskan sesuatu perkara yang tidak sesua dengan pedoman al Quran, Oleh sebabitu diperlukan suatu kegiatan ang dapat menucikan kembali pikiran yang tidakbaik seperti pikiran yang condong kepada dunia sehingga melupakan ajaran Tuhan dan lain sebagainya. Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda : " Sesungguhnya hati manusia itu dapat berkarat bagaikan besi yang berkarat  ". Sahabat bertanya : Ya rasulullah, jika demikian apakah caranya untuk membersihkan karat hati tersebut ? ". rasulullah saw menjawab : " Karat hati itu hanya dapat dibersihkan dengan bacaan al Quran dan mengingat kematian ". ( hadis riwayat baihaqi ).

Sebagaimana dalam shalat sunat taraweh ada batas minimal, demikian juga dalam membaca Al Quran, maka untuk membersihkan hati diperlukan bacaan al Quran walaupun dilakukan dengan membaca tanpa mengetahui makna. Kegiatan membaca ayat al Quran ini disebut dengan Tilawah. Bacaan Tilawah ditingkatkan kepada membaca dengan mencari makna, yang disebut dengan Qira’ah. Bacaan qira’ah ditingkatkan lagi menjadi bacaan yang dapat memahami makna dan menghayati makna sehingga dapat dijalankan dalam kehiduan sehari-hari. Inilah yang disebut dengan kegatan “ tadabbur “. Tadarus al Quran adalah membaca, dan mempelajari ayat-ayat yang terkandung dalam al Quran. Jika dengan membaca saja sudah dapat membersihkan karatnya hati, maka dengan tadarus atau tadabur al quran kita dapat memasukkan informasi, pesan dari ayat-ayat al Quran ke dalam otak kanan kita, sebagaimana kita mempelajari suatu ilmu pengetahuan.. Berari tujuan  tadarus al Quran adalah memasukkan kembali pedoman hidup, informasi al quran ke dalam memori otak kita, sehingga dengan tadarus berarti membuang informasi yang salah tentang kehidupan seperti cara berpikir kapitalis, sekular, dan lain sebagainya, menjadi cara berpikir al quran. Jika dalam berpikir sekular kita melihat bahwa dunia ini adalah kesenangan, maka berpikir al Quran kita akan melihat bahwa dunia ini adalah ujian, dan meyakinikehidupan yang utama adalah kehidupan akhirat nanti.  Dengan tadarus berarti kita sedang memproses diri kita memiliki pikiran yang Qurani, berpikir sesuai dengan petunjuk al Quran.

Penyucian  Hati dengan Sahur

Setelah tadarus, maka kegatan selanjutnya dalam  ramadhan adalah sahur. Sahur secara bahasa dari kata-kata “ sa-ha-ra” yang bermakna berjaga diwaktu malam. Makan sahur adalah proses penjagaan diri daripada keadaan lapar pada esok hari. Manusia berjaga di waktu malam juga diharapkan untuk melakukan shalat tahajud, bermunajat kepada Allah, dan memohon ampun kepadaNya, sebab dalam sebuah hadis : " Tuhan akan turun setiap malam ke langit pertama di sepertiga malam terakhir dan berfirman : Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku akan menjawabnya, Siapa yang meminta kepadaKu, Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu, Aku akan memberi ampunan kepadanya " ( riwayat Bukhari ). Dalam al Quran juga dinyatakan bahwa diantara sifat orang beriman adalah “melakukan istighfar di waktu sahur “ (QS. Ali Iman : 17 / QS. Ad Dzariyat : 18 ) . Dengan demikian dapat dikattakan bahwa dalam waktu sahur tersebut seorang muslim dapat melakukan shalat tahajud, dzikr dan istighfar serta berdoa dan munajat yang kita panjatkan kepada Allah, seba waktu sahur adalah waktu yang sangat baik untuk mengingat dan bermunajat kepadaNya. Dzikir. Istighfar dan menujat itu dapat memberikan ketenangan dan kekuatan hati manusia sebagaimana dalam al Quran dinyatakan : “ Ketahuilah bahwa zikir keopada Allah itu dapat memberikan ketenangan kepaa hati” (QS. Ra’ad:28).  Di waktu sahur, dengan tahajud  dan munajat, seakan-akan manusia melaporkan rencana kerjayang akan dilakukan pada esok hari, maka mansuia perlu meminta persetujuanNya, rahmatNya, pertolongan dan perlindungan Allah. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa kegiatan di waktu sahur sahur adalah suatu kegiatan yang dilakuan untuk menguatkan hati dan keyakinan kepada Allah, serta proses penjagaan diri dalam menghadapi cabaran dan tantangan hidup di esok hari, sebagaimana makan sahur merupakan proses menguatkan jasad untuk menjalankan kewajiban bekerja di esok hari.

Menyucikan nafsu dengan  imsak

Setelah sahur , kita akan memasuki proses berpuasa dengan menahan diri daripada segala yang membatalkan puasa, dan menahan diri daripada keinginan dan nafsu, sejak terbit ajar di pagi hari sampai terbenam matahari di sebeah barat. Proes menahan diri dari segala ang membatalkan puasa dan dari segala yang mebatalkan pahala puasa ini disebut dengan Imsak, sebab imsak berasal dari kata-kata “ am-sa-ka” yang mernakna memegang dan menahan dari sesuatu. Imsak berarti proses menahan nafsu dalam melakukan perbuatan ang tidak baik, tetapi disisi lain dengan imsak berarti kita akan melakukan segala kebaikan dengan semaksimal mungkin sebab segala kegiatan yang positip yang dilakukan di bulan ramadhan akan mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda dibandingkan dengan bulan yang lain.

Ulama membagi puasa kepada tiga kelompok, puasa orang awam, puasa orang husus dan puasa orang yang lebih khusus, atau dapat dikatakan bahwa imsak terbagi tiga, imsak kelas ekonomi, imsak kelas eksekutif dan imsak kelas super eksekutif. Imsak kelas ekonomi, adalah menahan diri daripada makan dan minum dan yang membatalkan puasa. Imsak kelas eksekutif adalah bukan sahaja menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan pandangan, penglihatan, perkatan, tangan dan kaki dari segala tindakan tercela. Imsak kelas super eksekutif adalah menahan diri dari makan dan minum, dari perbuatan terscela dan juga menahan fokus perhatian dari segala sesuatu yang dapat melupakan Tuhan, sehinnga fokus segala perbuatan dan kehidupan adalah zkrullah, ibadah kepada Allah.

Proses imsak dengan menahan diri dari segala keinginan nafsu makan dan minum, dan nafsu syahwat, disamping juga menahan diri dari segala sifat yang tidak baik,merupakan benteng kehidupan, sebagaimana dinyatakan dalam hadis bahwa “ puasa itu adalah benteng “. Manusia imsak adalah manusia yang dapat menahan dan mengawal serta mengontrol dirinya dari segala nafsu yang negatif tetapi pada saat yang sama segala nafsu yang baik seperti nafsu bekerja, nafsuu beribadah, nafsu berjihad akan ditingkatkan selama bulan ramadhan. Sejarah membuktikan bahwa nabi dan masyarakat terdahulu menjadikan ramadhan adalah bulan berprestasi. Ini terbukti bahwa segala pekerjaan besar seperti perang Badar, fathu Makkah, dan lain sebagainya dilakukan dalamb ulan ramadhan. Imsak berati proses untuk menyucikan nafsu sehingga tidak melakukan perkara yang burk, dan juga proses menguatkan nafsu positip untuk berbuat baik, sehinga hari-hari tersebut menjadi hari yang suci dan penuh prestasi. Inilah tujuan imsak di buan ramadhan, proses penyucian, dan menguatkan nafsu dalam menjalani kehidupan.

Menyucikan dan Menguatkan badan dengan Iftar

Iftar berasal dari kata-kata “ fa-ta-ra”, yang bermakna kembalikepada fitrah. Iftar juga bermakna makan sesuatu. Oleh sebab itu iftar dalam bulan puasa dimaksudkan adalah makan sesuatu yang baik  waktu setelah terbenam matahari. Dengan iftar kita memakan sesuatu untuk menyehatkan badan dan jasad. Puasa di siang hari itu dapat membuang penakit dari dalam badan.Hal ini terbukti dari kajian seorang pakar kesehatan dari Amerika dalam buku " The Miracle of Fasting " yang berkata bahwa puasa tiga puluh hari dalam setahun itu dapat menghilangkan toksid yang terdapat di dalam tubuh manusia. Demikian juga dalam sebuah hadis disebutkan "  , berpuasalah kamu maka kamu akan sehat " ( Hadis Riwayat Thabrani ) berati dengan puasa kita sedang memperbaiki kesehatan badan kita sehingga kita dapat berjalan dengan baik pada kehidupan mendatang. Dengan imsak, puasa di siang hari itu, berarti manusia sedang membersihkan badannya dari penyakit, dan denan iftar berarti memasukkan ke dalm badan makananyang bergizi dan sehat. Oleh sebab itu sejarah mencatat bahwa nabi Muhammad melakukan iftar dengan tiga biji kurma, sehingga makanan yang masuk dalam badannya yang telah dibersihkan itu merupakan makanan yang sehat.

Kata-kata “Iftar” juga bermakna proses mengembalikan diri kepada fitrah yang suci, sehingga jika manusia menjalani proses ramadan dengan tetap menjaga kualitas taraweh, kualitas tadarus, kualitas sahur dan kualitas imsak, maka dia telah melakuakn sebuah proses penyucian diri sehari demi sehari sampai satu bulan. Iftar pada hari pertama ramadhan berarti orang yang berpuasa telah melakukan proses penyucian dan penguatan ruh, akal,hati, nafsu dan jasad sepertiga puluh bagian. Jika proses taraweh, tadarus, sahur, imsak, dan iftar itu dilakukan   selama sebulan, berati manusia telah melakukan proses  menyucikan dan menguatkan ruh,pikiran, hati, emosi, dan badannya  secara menyeluruh, sehingga pada akhir ramadhan kita akan menjadi manusia yang berpuasa tersebut telah kembali kepada fitrah yang suci baik ruh,pikiran, hati dan emosi. Itulah sebabnya di akhir ramadhan umat islam akan kembali kepada fitrah semula, dan proses kembali kepada fitrah semua secara menyeluruh ini disebut dengan Idul Fitri ( kembali kepada fitrah ), sehingga diharapkan dengan proses tersebut manusia kembali menjadi lebih suci, kuat dan tangguh dlam menghadapi kehidupan.

Penyucian lingkungan dengan beri’tikaf di akhir Ramadhan.

I’tikaf adalah “ duduk dan berada dimasjid”. I’tikaf ini merupakan salah satu ibadah dengan cara duduk dan berada di masjid, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Taala. Pada sepuluh hari di akhir bulan ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk melakukan i’tikaf di masjid, mengikutiperbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Umar, Anas dan Aisyah menceritakan bahwa : “ Sesungguhnya Nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Baginda melakukan demikian sejak baginda datang ke Madinah sampai beliau meningal dunia “ ( hadis sahid riwayat Bukhari dan Muslim ).

Dengan melakukan I’tikaf di masjid sepuluh hari di akhir ramadhan diharapkan seorang muslim dapat merenungi dan membuat kilas balik atas segala amal dan perbuatannya selama setahun ini. Sejak awal puasa dia telah membaca, memahami ayat-ayat al Quran, dan di akhir ramadhan ini dia seharusnya dapat melihat kembali seluruh kehidupannya selama setahn ini apakah telah sesuai dengan petunjuk al Quran yang baru dibacanya sejak awal ramadhan. Dalam I’tikah, seorang muslim yang sudah tadarus al Quran akan bertanya,  apakah pemikiran, perkataan dan perbuatannya saya selama ini sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalam al Quran? Apakah saya telah melakukan semua petunjuk al Quran dan mencegah diri dari perkara yang dilarang al Quran?  Manakah yang lebih banyak dalam hidupnya selama ini, apakah perbuatan yang baik dan positif atau pemikiran, perkataan dan perbuatan yang buruk dan negatif.? Sudahkah selama ini dia dapat mengendalikan hawa nafsunya dalam ucapan dan tindakan, ataukah selama ni dia telah dikuasai oleh hawa nafsu  baik dalam sehari-hari..? 

Proses muhasabah hidup dengan bertanya kepada diri sendiri atas apa yang dilakukan  dalam setahun inilah yang dilakukan dalam beri’tikaf di masjid di akhir sepuluh ramadhan. Muhasabah ini diharapkan dapat memberikan kesadaran atas perbuatan yang salah, sehingga kita dapat dengan segera meminta ampun, beristighfar kepada Allah atas perbuatan tersebut, dan berjanji untuk segera memperbaiki diri di tahun depan, sehingga hidup setelah ramadhan akan lebih baik daripada sebelum ramadhan. Dengan muhasabah, hidup manusia akan lebih baik, dari tahun ke tahun, sebelum kita nanti di muhasabah oleh Allah di hari akhirat kelak.  Khalifah Umar bin Khattab ra. Berkata,” Hasibu Anfusakum qablan tuhasabu” ( hitunglah dirimu sendiri sebelum datang hari perhitungan kepadamu).

Dalam ber’tikaf di akhir ramadhan tersebut, diharapkan seorang muslim harus selalu mengadakan muhasabah dalam setiap langkah dan tindakannya baik yang berhubungan dengan kegiatan ibadah, rumah tangga, sosial, ekonomi dan seluruh kegiatan kehidupan. Oleh sebab itu muhasabah total tersebut memerlukan waktu sepuluh hari, sehingga muhasabah dapat sempurna dan meliputi semua amal ibadah, keluarga, hubungan sosial, pekerjaan, pergaulan, kedudukan, harta kekayaan, hubungan dengan anak dan istri, serta keluarga, dan masyarakat, dan lain sebagainya, sebab segala yang kita dengar, pikirkan, ucapkan, tindakan semuanya akan disoal oleh Allah pada hari akhirat kelak.

Dalam al Quran dinyatakan :  “ Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggung jawaban” (QS. Al Isra : 36). Dalam ayat yang lain juga dinyatakan bahwa semua nikmat baik itu kesehatan, makanan, minuman, pakaian, anggota badan, kedudukan, pangkat, dan lain sebagainya semuanya akan ditanya pada hari akhirat kelak “ Kemudian pada hari itu kamu akan ditanya tentang segala nikmat yang telah kamu dapatkan” ( QS. At-Takatsur : 8 ). Sebelum kit ditanya di hari akhirat, sebaikna kita tanya diri kita dulu pada setiap tahun sehingga kita sadar dan mengetahui dimana kekurangan dan kesalahan kita. Sebagai contoh untuk mempermudah proses muhasabah diri, disini kami sertakan beberapa pertanyaan yang dapat diajukan pada diri sendiri :

Muhasaah Ibadah

1.                     Sudahkah engkau melaksanakan sholat pada waktunya?
2.                     Apakah sholat tersebut dilaksanakan dengan berjamaah?
3.                     Sudahkah sholat tersebut dilaksanakan dengan khusyu’dan thu’maninah.
4.                     Sudahkah engkau melaksanakan puasa di bulan Ramadhan?
5.                 Apakah engkau mengikuti telah sunnah rasulullah puasa Senin dan Kamis dan puasa sunat pada hari 13,14,15 dari setiap bulan hijriyah?
6.                Apakah engkau sudah membayar zakat dari hartamu? Tahukah kamu itu merupakan hak para mustahiq zakat yang harus engkau pertanggungjawabkan di hari kiamat nanti?
7.   Sudahkah engkau melaksanakan haji padahal hartamu sudah mencukupi untuk melaksanakannya? Apakah hajimu benar-benar karena Allah dan niat yang suci?

Muhasabah Sosial

1.           Sudahkah engkau berbuat baik pada kedua orangtuamu? Ingatkah engkau akan firman Allah “ Berbuat baiklah kamu pada kedua orangtuamu “( QS. Al Isra : 23)

2.         Sudahkah engkau berbuat baik pada tetangga dan masyarakat di sekitarmu? Ingatkah engkau bahwa Rasulullah telah bersabda, “ Barangsiapa yang menyakiti tetangganya berarti telah menyakitiku”. ( riwayat Ibnu Hibban )

3.          Sudahkah hatimu bersih dari sombong, riya, takabbur, iri dan dengki ? Bukankah Rasulullah telah bersabda,” Tidaklah masuk ke dalam surga seseorang yang dalam hatinya masih ada rasa sombong walaupun sebesar biji sawi”( riwayat Ahmad )

4.         Sudahkah lidahmu bersih dari ucapan kotor, dusta, khianat, ghibah, fitnah, tengkar dan ucapan yang sia-sia?.Padahal Allah telah berfirman :  “ Dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain, ” (QS. Al Hujurat : 12) dan “ Murka Allah atas mereka yang berdusta, “ ( Ali Imran : 61) . Rasulullah juga telah bersabda ,” Tidak luruslah iman seorang hamba selagi belum lurus hatinya dan tidak luruslah hatinya sebelum lurus ucapannya.”( riwayat Ahmad )


Muhasabah ekonomi

1.               Sudahkah pekerjaan dan harta penghasilanmu bersih dari riba dan hal-hal yang diharamkan Allah? Ingatkah kamu akan peringatan Allah, “ Hai Orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan riba, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Mka jika kamu tidak meninggalkan riba tersebut ketahuilah bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu (QS Al Baqarah : 278-279).  Rasulullah juga telah bersabda, “ Barangsiapa yang dalam dagingnya terdapat yang haram maka api nerakalah yang lebih baik baginya.”( riwayat Tirmidzi )

2.       Apakah harta penghasilanmu telah engkau pergunakan sesuai dengan perintah Allah? Sudahkah engkau menolong orang yang susah, fakir dan miskin, dari keluargamu, kawan-kawanmu, dan saudaramu yang lain ?

3.      Apakah kau pergunakan harta penghasilanmu secara boros ?, mubazir, foya-foya dan berlebih-lebihan? Tidakkah engkau ingat akan firman Allah, “ sesungguhnya orang yang memboroskan harta itu adalah saudara-sauara syetan “, ( QS. Al Isra : 27) Ingatlah sabda Rasulullah,” Tidak akan tergeraklah kedua kaki anak Adam di hari kiamat nanti sehingga ia akan ditanya empat perkara, untuk apakah umurmu  dipergunakan…? Apakah yang dilakukannya dengan anggota badannya….? Apakah amal perbuatannya selama hidupnya…? Dan darimanakah harta penghasilan hidupnya dan dipergunakan untuk apa sajakah harta kekayaan tersebut dikeluarkan? ( riwayat Ahmad )   

Setelah semua pertanyaan itu kita jawab, maka segeralah kita melihat sekian banyak dosa dan kesalahan serta kelalaian kita dalam setahun yang lalu, dan segera kita beristighfar , meminta ampunan atas kesalahan , dosa, dan kelalaian tersebut, sehingga kita terlepas dari azab dan siksa api neraka. Oleh sebab itu sebabnya dalam hadis disebutkan bahwa sepuluh terakhir ramadhan itu adalah merupakan hari-hari mendapat keselaatan dari siksa dari api neraka.  

Muhasabah tersebut dilakukan di masjid, di dalam rumah Allah dan bersama orang-orang yang saleh yang datang ke masjid. Ini juga merupakan penyucian lingkungan tempat tinggal yang suci, untuk kita mengambil pengajaran sudahkan selama ini rumah kita, kantor tempat kerja kita, kedai tempat niaga kita, lingkungan kita merupakan lingkungan yang suci bebas dari segala bentuk dosa , ataukah selama ini kita hidup dengan lingkungan yang memudahkan kita dalam berbuat dosa?. Dengan beri’tikaf kita melihat kembalikeadaan lingkungan kita apakah sudah merupakan lingkugan yang dapat mengantarkan kita menuju keridhaan Allah?

Demikian juga dengan kawan-kawan kita selama ini, apakah kawan kerja kita, sahabat pergaulan kita dapat menolong kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana kawan-kawan yang ada di dalam masjid dalam sepuluh akhir ramadhan ini. Sebab keadaan rumah, kerja, dan kawan kita kadangkala dapat membuat kita terlena oleh kesibukan dunia dan melupakan kehidupan akhirat. Dengan duduk beri’tikaf sepuluh hari ini kita berusaha untuk menjadikan lingkungan tempat dan kawan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah, sebagaimana lingkungan dan kawan yang ada di dalam masjid.

Munajat di malam Lailatul Qadar

Setelah meminta ampun atas dosa dan kesalahan, maka tugas selanjutnya adalah merencanakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki diri setelah ramadhan nanti. Sebagai contoh, jika kita selama setahun ini kurang bersilaturahmi dengan keluarga, maka kita akan memperbaiki untuk mengadakan silaturahmi dengan keluarga, dan begitu seterusnya. Cari kekurangan apa yang kita lakukan, dan rencanakan bagaimana tindakan untuk menutupi kekurangan tersebut dengan perbuatan yang baik. Catatlah tindakan apa saja yang akan kita lakukan untuk memperbaiki diri, baik dalam ibadah, hubungan kekeluargaan, ekonomi, hubungan sosial kemasyarakatan, kemudian berdoalah kepada Allah di malam-malam akhir ramadhan munajat agar rencana perbaikan itu ditetapkanNya menjadi taqdir akan akan diputuskan pada malam Lailatul Qadar, sebab malam Lailatul Qadar adalah malam penentuan takdir atas kehidupan setiap manusia untuk setahun mendatang, sehingga diharapkan hidup kita di tahun mendatang lebih baik dari tahun lalu, bahkan dapat bernilai seperti hidup seribu bulan. Sahabat Nabi, bernama Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ayat 4  dari surah ad Dukhan : “ Pada malam Lailatul Qadar tersebut diputuskan segala urusan dengan bijaksana “ pada malam Lailatul Qadar itu akan diputuskan segala urusan manusia untuk setahun yang akan datang, baik yang berkaitan dengan rezeki, kelahiran, kematian, turun hujan, sampai siapa yang akan mnenunaikan iabadah haji, dan lain sebagaina ( Jalaluddin as Suyuthi, Tafsir Durarur Mansur fit tafsir bil Ma’sur , jilid 5 hal. 738).

Dalam kajian sejarah, Malam Lailatul Qadar itu,  adalah malamnya turun al Quran sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Sesungguhnya Kami turunkan al Quran itu  pada malam Lailatul Qadar “ ( QS. Al Qadar: 1 ). Agar manusia tidak lupa peristiwa yang mulia tersebut, maka Allah jadikan peringatan malam tersebut pada setiap tahun, hanya saja malam Lailatul Qadar yang terjadi di setiap tahun bukan lagi untuk menurunkan al Quran, tetapi untuk menentukan keadaan manusia untuk tahun selanjutnya. Rbiah bin  Kalsum bertanya kepada Hasan : Apakah malam Lailatul Qadar itu terjadi di stiap tahun ? Ya, malam itu akan terjadi di setiap tahun dalam bulan ramadhan dan itulah malam dimana segala urusan manusia diputuskan denan bijaksana baik urusan amal, rezeki, dan kematian, dan lain-lain sebagainya ( Jalaudiin as Suyuthi,  Durarur Mansur, jilid 5, hal, 739 ).

Penyucian Harta dengan Zakat di Hari Raya Idul Fitri.

Di akhir ramadhan, setelah terbenam matahari dan sebelum ditunaikan shalat Idul Fitri di pagi hari raya, umat Islam diwajibkan mengeluarkan zakat fitra. Malahan sebagian umat Islam juga mengeluarkan zakat harta kekayaan di dalam bulan ramadhan. Pengeluaran zakat fitrah dan zakat harta ini merupakan penyucian terhadap harta kekayaan, sebab makna zakat secara bahasa adalah penyucian dan pertumbuhan, sehingga diharapkan dengan mengeluarkan zakat, maka harta itu bersih dan bertambah banyak. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa mengeluarkan zakat di akhir ramadhan merupakan penyucian harta kekayaan, sehingga dengan berakhirnya ramadhan, dan dikeluarkannya zakat, berarti proses penyucian diri manusia telah meliputi setiap yang dimiliki oleh manusia seperti ruh, akal, hati, hawanafsu, tempat tinggal, lingkungan pergaulan dan harta kekayaan yang dimiliki, sehingga sewaktu berakhir ramadhan, berarti diri manusia telah suci secara keseluruhannya. Inilah sebabnya orang yang telah selesai menjalani proses penyucian diri secara menyeluruh, merupakan manusia “ Idul Fitri “, manusia yang telah kembali kepada fitrah semula, sehingga kehidupan di bulan akan datang merupakan kehidupan yang meningkat dan lebih baik. Itulah sebabnya bulan setelah bulan ramadhan disebut dengan bulan Syawal, sebab dalam bahasa arab makna syawal adalah sesuatu yang naik dan meningkat. Selamat Memasuki bulan Ramadhan, dan Selamat kembali kepada fitrah, Selamat Idul Fitri. Hari itulah hari kemenangan bagi kehidupan manusia, sebab padawaktu itu manusia yang berpuasa telah kembali kepada kesucian diri, manusia yang memiliki ruh yang suci, pikiran yang suci, hati yang suci, hawanafsu, keinginan dan emosi yang terpelihara, badan yang sehat. Ramadhan merupakan bulan yang dapat memproes manusia menjadi manusia yang kembali kepada fitrah memiliki kesucin ruh, pikiran Qurani, hati berzikir, nafsu yang terkendali, semangat berprestsi, dngan  jasad yang kuat dan sehat, untuk menjadi hamba dan khalifah Allah. Fa’tabiru Ya Ulil albab.
 


PERAN KHALIFAH DAN PERADABAN MADINAH

PERAN KHALIFAH, DAN PERADABAN MADINAH

Manusia diciptakan Allah adalah untuk menjadi Khalifah sebagaimana tersirt dalam dialog antara Allah dan malaikat :  “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “ Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi “. Mereka berkata : “ Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa betrasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau”. Tuhan menjawab dengan berfirman : “ Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui “( QS. al Baqarah : 30 ). Menurut sejarawan Thabari, dengan berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, malaikat bertanya demikian sebab merujuk kepada pengrusakan dan pembunuhan yang pernah dilakukan oleh makhluk jin, sebab makhluk jin pada waktu itu   merupakan penghuni dan penduduk bumi sebelum penciptaan manusia.[1]

Peran Khalifah

Dalam dialog Tuhan dengan malaikat tersebut dapat dilihat bahwa Allah berfirman : “ Aku hendak menjadkan Khalifah “, dan tidak mengatakan “ Aku hendak menjadikan Manusia “. Kalimat khalifah bermakna “ pengganti dan wakil dari sesuatu “[2], sehingga maksud khalifah di muka bumi adalah menjadi wakil Tuhan yang bertugas  untuk mengatur kehidupan  di muka bumi. Khalifah disebutkan sebagai peran, dan kedudukan manusia di muka bumi. Berdasarkan dialog tersebut diatas, terlihat bahwa sebenarnya Allah hendak menjadikan seorang makhluk yang dapat berperan sebagai khalifah di atas kehidupan dunia ini. Untuk melaksanakan peran khalifah tersebut, Allah akan menciptakan makhluk yang memiliki potensi khalifah yang diperlukan dalam memimpin kehidupan. Makhluk yang memiliki potensi khalifah itulah yang disebut manusia yang diawali dengan penciptaan Adam alaihissalam, bukan seperti makhluk jin yang selama ini melakukan kerusakan dan pembunuhan diatas permukaan bumi.  “ Aku ( Allah ) lebih mengetahui daripada apa yang kamu ( malaikat) tidak ketahui “.

Peran Khalifah hanya dapat dilakukan dengan landasan iman dan ilmu. Setelah Adam alaihissalam dijadikan sebagai khalifah, maka Nabi Adam alaihissalam dibekali dengan ilmu pengetahuan “ wa allamal Adama al asmaa kullaha “ ( QS. Al Baqarah : 31 ) dimana sebelumnya, Nabi Adam alaihissalam telah berjanji untuk mengakui keesaan Tuhan sebagai perjanjian azali ( QS. Al A’raf : 172 ) yang merupakan perjanjian iman dan tauhid manusia kepada Tuhan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa dalam menjalankan peran khalifah,  nabi Adam itu dibekali dengan ilmu, baik ilmu tauhid, sebagai ilmu fardhu ain, maupun ilmu fardhu kifayah. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa sebaik nabi Adam alaihissalam turun ke muka bumi, maka malaikat Jibril alaihissalam mengajarkan nabi Adam alaihisalam cara menanam pohon gandum, kemudian membuat tepung gandung dan membuat roti dari tepung gandum tersebut.[3] Malaikat jibril juga mengajarkan nabi Adam alaihissalam cara membuat pakaian dari kulit hewan. Dengan modal iman dan ilmu nabi Adam alaihissalam menjalankan peran sebagai khalifah membangun peradaban dunia.

Menurut Imaduddin Khalil,[4] peran khalifah itu dapat dilaksanakan dengan tiga tahapan, yaitu tahapan istikhlaf ( penguasaan ilmu dan sain baik ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah ) taskhir ( pengolahan alam yang menghasilkan teknologi ), dan isti’mar ( pengelolaan kehidupan dan pemakaian teknologi dengan akhak dan abad ). Peran khalifah inilah yang merupakan modal untuk dapat melaksanakan amal shaleh untuk membangun sebuah peradaban di muka bumi,“ Sesungguhnya bumi ini Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang shaleh “. (QS. Al Anbiya : 105 ). 

Dalam kisah para nabi yang beredar di masyarakat, kita jarang menemukan tekanan kisah peranan para nabi sebgai khalifah yang memiliki skill dan ketrampilan tertentu,pribadi yang memiliki landasan keimanan dan memiliki ketrampilan dengn sikap istikhlaf, taskhir dan isti’mar diatas. Dalam kitab “ Al Iktisab fi Rizqil Mustatab “,[5] Muhammad bin Hasan al Syaibani menyebutkan bahwa bekerja itu adalah jalan hidup para rasul “ al Kasbu thariqul Mursalin “. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa nabi Adam alaihissalam adalah orang yang pertama bekerja berdasarkan dalil ayat : “ Maka janganlah sekali-kali dia (syetan) mengeluarkan kamu dari syurga yang akan membuat kamu celaka “ ( QS. Thaha : 117 ). Kalimat “tasyqa” menurut tafsir yang beredar di masyarakat bermakna “celaka “[6], padahal menurut Ibnu Abbas, arti “tasyqa” adalah kesusahan bekerja dalam mencari rezeki, malahan Mujahid menyatakan makna ayat adalah “ engkau tidak dapat memakan roti dengan minyak sebelum engkau bekerja dengan penuh kesungguhan “.[7] Ibnu Katsir dalam menjelaskan makna ayat 117 dari surah Taha tersebut menyatakan : “ Hati-hatilah engkau (wahai Adam ) terhadap syetan yang akan berusaha mengeluarkan engkau dari syurga sebab nanti engkau akan penat dalam mencari rezeki, sedang disini ( di dalam syurga ) engkau hidup dengan penuh kenikmatan tanpa ada sedikitpun merasakan penat dan susah  “. [8]

Selanjutnya Syarbaini menyatakan bahwa “ nabi Nuh bekerja sebagai tukang kayu, dan hidup dari pekerjaannya tersebut, nabi Idris bekerja sebagai tukang jahit pakaian, nabi Ibrahim bekerja sebagai pedagang pakaian, nabi Daud bekerja sebagai tukang pembuat baju besi, nabi Zakariya sebagai tukang kayu, dan nabi Isa bekerja dengan menjual kain yang ditenun dan dipintal ibunya “.[9]
Sudah seharusnya dalam membangun peradaban di masa mendatang, kisah-kisah rasul yang disampaikan kepada anak-anak di rumah sebelum tidur, atau murid-murid di ruang kelas, dan masyarakat luas, tidak hanya  berkisar pada  perjuangan dakwah mereka semata-mata, tetapi juga menceritakan peranan khalifah yang mereka lakukan di tengah masyarakat, seperti menceritakan nabi Adam berperan sebagai petani produktif dalam agro bisnis,  nabi Nuh sebagai tukang kayu sehingga dapat membuat kapal yang besar, nabi Daud berperan dalam industri dengan memproduksi baju besi, nabi yusuf sebagai menteri keuangan, dan lain sebagainya, sehingga  kisah peran khalifah para nabi dan rasul tersebut akan memberi motivasi kepada masyarakat muslim dalam membangun peradaban dunia.

Peradaban Madinah

Islam diturunkan sebagai dien, yang memiliki konsep ‘paradaban”, sebab dalam istilah “dien’ itu tersembunyi unsur-unsur peradaban. Oleh sebab itu, pada waktu Dien dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat  itu bernama “madinah”[10]. Dari akar kata din dan madinah dibentuk kata akar baru “madana”, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan, dan memartabatkan . [11] Dari akar kata “madana”, tersebut lahir kata “tamaddun”, yang secara literal bermakna peradaban ( civilization ).

Peradabaan Islam adalah peradaban yang berdasarkan pada ilmu. [12] Menurut Imam Ghazali[13], ilmu terdiri dari ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah. Ilmu fardhu ain adalah lmu yang wajib dituntut oleh setiap individu muslim, seperti ilmu tauhid, ilmu fikih, ilmu akhlak, dan lain sebagainya, sedangkan ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang tidak perlu dituntut oleh setiap individu, tetapi dituntut oleh sebagian dari masyarakat.  Dengan mempelajari ilmu secara lengkap baik ilmu fardhu ain bagi setiap individu, dan ilmu kifayah, maka akan tercipta amal shaleh yang dilakukan oleh masyarakat sehingga tercipta peradaban yang berdasarkan iman dan ilmu.

Sejarah membuktikan bahwa masyarakat yang dibina Rasulullah dengan landasan iman dan ilmu merupakan masyarakat terbaik, sesuai dengan hadis Rasul : “ Sebaik-baik manusia adalah manusia pada masaku (masa nabi dan sahabat ), kemudian masyarakat pada masa setelahku (sahabat dan tabiin ), dan kemudian masyarakat setelah itu (masyarakat tabiin-tabiut tabiin ). [14] Sejarah juga telah mencatat bahwa sistem ekonomi, politik, budaya, ekonomi dan pertahanan dalam masa Rasulullah telah menjadi contoh bagi peradaban dunia selanjutnya. [15]

Sangat disayangkan dalam kitab-kitab sirah kontemporer[16], kita tidak dapat melihat sisi peradaban Madinah dalam semua budang kehidupan. Sebagai contoh, dalam kisah hijrah nabi ke madinah, kitab sirah hanya bercerita sekitar pembangunan masjid madinah, persaudaraan antara muhajirin dan anshar, dan pembentukan piagam madinah, padahal pada tahun pertama hijrah tersebut, Nabi Muhammad membangun sistem ekonomi madinah dengan perniagaan dan industri sehingga penguasaan pasar madinah dengan mendirikan pasar wakaf yang dapat menghancukan beberapa pasar yahudi yang selama ini ada di madinah.[17] Padahal menurut Zainal Arifin Abbas, bahwa pada tahun pertama Hijrah, setelah membangun masjid, nabi membangun sistem ekonomi Madinah dengan menggalakkan umat Islam Madinah khususnya muhajirin untuk berniaga dan berkebun kurma, memproduksi panah, pedang, dan senjata perang sampai membuat pasar wakaf sebagai pusat perniagaan, yang dapat menghancurkan pasar yahudi yang telah beroperasi selama dua ratus tahun. [18] Pada tahun pertama Hijrah tersebut, nabi juga mengatur komplek perumahan bagi kabilah-kabilah Arab, sebagai contoh kabilah Bani Ghifari diberi tempat antara rumah Katsir bin Abu Salt sampai ke rumah Abu Sabrah. dan demikian seterusnya, sehingga kota Madinah pada zaman nabi merupakan kota yang penuh dengan pemukiman penduduk.[19] Nabi juga membagi-bagikan tanah dan mengatur pembangunan rumah-rumah di Madinah bagi sahabat yang memerlukan. Misalnya kepada Bani Zuhrah, nabi memberikan tanah di ujung masjid beliau. Abubakar mendapat sebidang tanah yang dekat dengan masjid, sehingga pintu rumah Abubakar bertemu dengan pintu masjid nabi. Tanah-tanah tersebut pada mulanya adalah milik kaum Anshar yang diberikan kepada nabi untuk dibagi-bagikan kepada sahabat yang memerlukan.[20]

Dalam kepemimpinan  peradaban Madinah, nabi menjalankan roda kepemimpinan yang sempuna dengan megatur sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pengaturan agama, dan sistem pertahanan militer dengan baik. Dalam pemerintahan, nabi membagi pemerintahan menjad pemerintahan pusat di Madinah, dan pemerintahan daerah dan provinsi yang dipimpin oleh seorang ‘wali”, seperti di kota administratif Makkah dipimpin oleh  Atab bin Asid, provinsi Yaman dibawah Bazan, kemudian Sahr bin Bazan, selanjutnya dipimpin oleh Muadz bin Jabal, yang bertugas juga sebagai koordinator bagian selatan arab yang meliputi beberapa kawasan yang dipimpin oleh gubernur. Nabi juga melantik bebererapa gubernur kawasn lain seperti kawasan Thaif, Bahrain, Hamadan, dan lain sebagainya.[21]

Nabi Muhammad sallahu alaihi wa sallam dalam memimpin pemerintahan pusat dibantu wakil-wakil yang bertugas memimpin pemerintahan dikala nabi sedang keluar kota seperti melakukan peperangan dan lain sebagainya (Naib).  Naib menjalankan tugas-tugas nabi dalam pemerintahan selama nabi tidak berada di ibukota Madinah. Pelantikan Naib tidak bersifat tetap, tetapi berganti, sebab Nabi dilantik ketika nabi keluar Madinah, seperti memimpin parang, dan lain sebgainya. Diantara sahabat yang pernah dilantik menjadi naib adalah Sa’ad bin Ubadah, Zaid bin Haritsah, Amr bin Ummu Maktum, dan lain sebagainya.  Nabi juga dibantu oleh para penasehat ( musyir ) yang memberikan masukan kepada nabi dalam sesuatu keadaan. Diantara sahabat yang pernah dilantik menjadi penasehat adalah Abubakar , Umar bin Khatab, Miqdad bin Amr al Khuzai, dan lain sebagainya. Nabi juga dibantu oleh para sekretaris ( katib) seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sofyan, Zubair bin Awwam, dan lain sebagainya. Nabi juga melantik  utusan khusus ( rusul ), sebagai wakil nabi ke kabilah-kabilah seperti Dihyah al kalbi yang menjadi utusan ke Kaisar Romawi, Abdullah bin Huzafa kepada Kaisar Parsi, dan lain sebagainya.

 Di bawah kekuasaan gubernur terdapat pemerintahan kawasan yang dipimpin oleh seorang  “Amir”. Dibawah kepemimpinan kawasan, terdapat kabilah/suku  yang dipimpin oleh seorang ketua kabilah/suku yang disebut  “Naqib”.  Disamping melantik wali, amir, dan naqib; nabi juga melantik hakim bagi setiap negeri, dan juga melantik pengawas pasar yang disebut dengan petugas hisbah.[22] Dari kajian diatas, dapat dilihat bahwa sistem pemerintahan yang telah dilakukan nabi dengan pembagian pemerintahan pusat, daerah dan kampung, dengan melantik pemimpin di tiap kawasan merupakan sistem pemerintahan pada saat ini.

Rasulullah saw dalam bidang ekonomi telah menetapkan sumber-sumber pendapatan negara yang terdiri daripada : derma (sedekah ), harta rampasan perang ( ghanimah ) baik itu berupa uang tunai dan alat dan perkakas, harta rampasan tanah, jizyah ( pajak tanah yang dipungut daripada orang kafir yang berada di kawasan islam ); dan zakat harta. Untuk melaksanakan sistem ekonomi dan kewangan tersebut, Rasululah melantik petugas yang disebut dengan Ummal Sadaqat ( pemungut zakat ), Katib sadaqat ( pencatat  ), Kharas ( pentaksir ), pengawas kawasan padang rumput untuk hewan milik negara( sahibul hima ), atau petugas yang menjaga badan usaha milik negara.[23]

Kerajaan islam yang dibentuk Rasulullah selepas hijrah ke Madinah memerlukan organisasi ketenteraan yang kuat, disebabkan ancaman yang nyata daripada orang-kafiir musyrik Makkah, disamping kelompok masyarakat yahudi yang ada di kota Madinah. Organisasi ketenteraan dibentuk rasulullah seperti : panglima perang ( amir saraya ), pemimpin pasukan( amir maimanah ), pembawa bendera ( sahibul liwa ), peninjau ( tali'ah ), pengintip ( uyun ), penunjuk arah ( dalil ), pegawai harta rampasan perang dan tawanan ( sahib ghanimah wa asara ), pegawai penguasa senjata dan kuda perang (sahibul silah wal faras ), dan pengawal pribadi ( sahibul haras ).[24]

Tugas Rasulullah yang utama adalah menyampaikan wahyu ilahi kepada umat manusia, dan memberikan contoh teladan kepada umatnya. Walaupun demikian, Rasulullah melantik sahabat-sahabat beliau yang bertindak sebagai petugas-petugas khusus dalam bidang agama, seyang terdiri dari pendakwah agama,[25] guru al Quran ( muqri/mu’allim ), Imam Masjid [26], Mu’azzin[27], Mufti ( petugas pemberi fatwa )[28] , dan pegawai yang mengurus urusan  haji[29].

Dari paparan sistem pemerintahan nabi di Madinah diatas dapat terbaca bagaimana masyarakat madinah menjadi pusat peradaban dunia yang dilakukan dengan nila-nilai tauhid, yang diaplikasikan dalam hukum-hukum syariah, yang dilaksanakan oleh petugas dan masyarakat yang memiliki nila-nilai akhlak dan adab mulia, yang diselenggarakan dengan sistem pemerintahan yang teratur dan rapi, sehingga menjadi unsur-unsur utama dalam membangun peradaban Madinah yang dapat menjadi contoh dan rujukan bagi peradaban dunia di masa mendatang. Sepatutnya kajian sirah nabi dimasa akan datang tidak terbatas kepada sejarah kehidupan pribadi dan peperangan, tetapi juga menceritakan sistem pemerintahan, sehingga dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi umat dalam membangun peradaban islam di masa mendatang. Wallahu A’lam. ( Kuala Lumpur, 17 Maret 2017/ Muhammad Arifin Ismail).











[1] Muhammad bin Jarir at-Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, Bait Afkar dauliyah, Yordan, 2003Jilid 1, hal.37
[2] Raghib Isfahani, al Mufradat fi gharibil Quran, Darul makrifah, Beirut, 2010,hal. 162.
[3] Abul Fida’ Ibnu Katsir, al Bidayah wan Nihayah, Dar alamul Kitab, 2003, jilid 1, hal.205.
[4] Imadudin  Khalil, Madkhal ila Islaiyatil ma’rifah, Dar Ibni Katsir 2006; al Aql al Muslim wa Ru’yah Hadhariyah,Darul haramain, ; al Madkhal ila Hadharah al Ilamiyah, Markaz Tsaqafah al arabiyah, 2005.
[5] Muhammad bin al Hasan al Syaibani, al Iktisab fir rizqil mustathab, Majalah al Azhar, 1995.
[6] Al Quran dan Terjemahanya, Departemen Agama Republik Indonesia, 1989, hal.490.
[7] Al Syabani, al Iktisab fi rizqil mustathab, hal. 27.
[8] Ibnu Ktsir, Tafsir al Quran al karim, Darul Fikr, Beirut, 1998, jilid 3, hal.186
[9] Al Syaibani, al Iktisab fi amril Mustathab, hal.26-29.
[10] Sayyid Naquib Al Attas, Islam, Religion and Morality, dalam Prolegomena to the Methaphysict of Islam, ISTAC, 1995, hal. 43-44.
[11] Ibnu Manzur, Lisan al Arab, Beirut, 1988, jilid 13, hal.402.
[12] Hamid Fahmi, On Islamic Civilization, Unisulla Press, Semarang, 2010, hal.45.
[13] Pembahasan pembagian ilmu terdiri dari fardhu ain dan fardhu kifayah, terdapat dalam Imam Ghazali,Kitab Ihya Ulumudin, jilid 1, hal.
[14] Hadis : “ Khairunnasi qarni, tsumma ladzina yalununahu, tsummal ladina yalununahu “, merupakan hadis sahih riwarat Bukhari ( 2509) dan Muslim (6635)
[15] Muhammad Yasin Mazhar Siddiqi, Organization of Government under the Holy Prophet, Islamic Publication, Lahore, 1986; Muhammad abdul Hayy al Kattani, Nidamul Hukumah an Nabawiyah al musamma al tartib al Idariyah, Darusslam, al Kaherah, 2012.
[16] Sejak dari kitab sirah Husein Haikal, Hayatu Muhammad; Khudari beik, Nurul Yaqin fi siratis sayyidil mursalin, sampai kepada kitab sirah terakhir al Mubarakpuri, al Rahiq al Makhtum”, penulisan sirah nabi hanya berkisar pada perjalanan dakwah, hijrah, dan peperangan, tanpa menceritakan suasana ekonomi, dan sistem peradaban madinah.
[17] Sebelumnya di Madinah terdapat empat pasar, yaitu pasar Zabalah, pasar al Yasar yang dimiliki oleh kaum yahudi Bani Qainuqa, pasar Safasir, dan pasar Zaqaq.
[18] Zainal Arifin Abbas, Sejarah dan Perjuangan Nabi Muhammad, Pustaka Antara, Kuala Lumpur, jilid 3, hal. 425. Lebih lanjut lihat Nuruddin Ali bin Ahmad as Samhudi (w.911 Hijrah ), Wafaul Wafa bi ikhbari daaril Mustafa, darul kutub ilmiyah, Beirut.
[19] Zainal Arifin Abbas, Sejarah Perjuangan Nabi Muhammad, hal.427.
[20] Zainal Arifin Abbas, hal. 424.
[21] Mazhar Siddiqi, Organization of Government under the holy Prophet, hal. 252-255.
[22] Mazhar Siddiqi, Organization of Government under the Holy Prophet, hal. 210-275.
[23] Mazhar Siddiqi, Organization of Government under the Holy Prophet, hal. 277-355.
[24] Mazhar Siddiqi, Organization of Government under the Holy Prophet, hal. 137-207.
[25] Diantra pendakwah adalah Ala bin Hadrami dikirim ke Bahrain.
[26] Seperti Hanzalah bin Abi hanzalah al Anshari sebagai imam masjid Quba, dan lan sebagainya.
[27] Seperti Bilal bin Rabah di masjid nabi, Sa’ad al Qarraz muezzin di masjid Quba, dan lain sebagainya.
[28] Diantara saabat yangpernah dilantik sebagai mufti yang bertugas menyelesaikan suatu perkara di kabiah seperti Abubakar, Umar, Usman, Ali, Abdurrahman bin Auf,dan lain sebagainya
[29] Rasulullah melantik Abubakar sebagai pemimpin haji pada tahun ke 9 Hijrah ( lihat Mazhar Siddiqi, Organization of Government under the Holy Prophet, hal. 345-367).