Pages

Monday, March 6, 2017

SUNNATULLAH  PERBEDAAN DAN KEWAJIBAN PERSATUAN 

Orang yang ingin menyatukan kaum muslimin dalam satu pendapat tentang hukum-hukum ibadah, muamalah, dan cabang-cabang agama lainnya, hendaknya mengetahui dan menyadari bahwa sebenarnya mereka menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi…upaya seperti ini hanyalah menunjukkan kejahilan mereka sendir karena perbedaan dalam memahami hukum-hakam syariat yang tidak bersifat asas itu merupakan kemestian dan tidak dapat dihindari ( Yusuf Qardhawi, fiqh perbedaan, hal. 69 ). Malahan usaha untuk menyatukan seluruh kaum muslimin dalam masalah khilafyah fiqih dan hukum hakam agama yang bukan bersifat asas sebab perbedaan tersebut perbedaan ulama  dalam masalah khilafiyah itu  dapat menambah perpecahan sebab semua pendapat ulama dalam perbedaan tersebut memiliki rujukan keilmuan dengan nash-nash baik dari al Quran, al Hadis. Perbedaan itu juga merupakan tabiat agama, tabiat bahasa arab, tabiat manusia dan tabiat alam.

Tabiat agama.

Tabiat agama maksudnya adalah bahwa dalam memahami nash-nash agama ada hukum yang dapat dipahami secara nyata dan langsung dari ayat-ayat yang dapat dipahami secara jelas (ayat-ayat muhkamat ), da nada juga hukum yang dipahami dari nash ayat-ayat yang harus dipahami melalui penafsiran ( ayat-ayat mutasyabihat ). Dalam ayat-ayat mutasyabihat, ulama akan berbeda pendapat dengan mencari korelasi dengan ayat yang lan, mencari makna yang terbaik dari berbagai makna, mencari korelasi dengan hadis-hadis yang berkaitan,sehingga menimbulkan banyak perbedaan dalam mengambil kesimpulan hukum dari ayat tersebut.

Kadangkala dalam suatu permasalahan khilafiyah, seperti letak tangan dalam shalat atau dalam masalah yang sunat lainnya, akan terdapat bilangan hadis yang banyak, sehingga ulama akan berbeda dalam mengambil salah satu hadis tersebut, sehingga jika seorang ulama mengambil satu hadis maka dia tidak akan mengatakan bahwa hadis yang diambilnya itu saja yang dilakukan oleh Rasulullah, sebab Rasulullah juga melakukan hal yang berbeda berdasarkan hadis yang lain. Oleh sebab itu ulama dahulu, seperti Imam Syafii, sewaktu dia mengambil satu hadis untuk dijadikan dalil atas pendapat dan mazhabnya, dia tidak berani mengatakan pendapat itu dengan “ menurut sunnah”, sebab masih ada hadis lain yang tidak menjadi rujukan, sehingga setiap imam mazhab hanya mengatakan ini pendapat mazhabku, dalam arti ini adalah pendapatku berdasarkan hadis yang aku pilih dalam perkara tertentu, sedangkan disana ada hadis lain yang menjadi dalil bagi imam mazhab yang lain. Jika dia memilih satu hadis yang menjadi rujukan dan mengatakan bahwa “inilah cara sunnah “, maka kalimat itu seakan-akan mengatakan bahwa pendapat yang lain itu tidak mengikuti sunah, padahal pendapat yan lain juga memiliki rujukan dari hadis dan sunnah nabi.

Sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud menyatakan bahwa dia mendengar seorang sahabat membaca ayat-ayat al Quran dengan bacaan (qiraat ) yang berbeda dengan bacaan yang pernah dia dengar dari Nabi, sehingga dia mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah, setelah itu aku melihat kebencian di wajah nabi seraya nabi bersabda : “ Kedua bacaan itu adalah baik, janganlah kamu berselisih tentang hal tersebut “. ( Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab, Tafsir dan keutamaannya )

Tabiat Bahasa

Rujukan agama adalah al Quran dan Hadis yang tertulis alam bahasa Arab. Setiap bahasa memiliki tabiat bahasa , kaedah bahasa, makna bahasa, makna susunan ayat, dan lain sebagainya. Dalam bahasa Arab terdapat kata-kata yang memiliki makna yang banyak ( musytarak ), disamping kata yang memiliki makna tunggal. Dalam makna juga terdapat makna yang langsung, ada juga makna kiasan ( majaz ), makna yang tersurat ( dalalah mutabaqah ) dan makna yang tersirat ( dalalah tadhamun ). Ada lafadz yang bersifat am da nada yang bersifat khas, sehingga perbedaan ulama dalam melihat kata-kata tersebut menimbulkan perbedaan pendapat.

Sebagai contoh, dalam hukum bersuci ( taharah ) yang diambil dari ayat 6 surah al Maidah : “ Hai orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah kamu, dan tangan kamu sampai ke siku tangan, dan basuhlah kepala kamu dan kaki kamu sampai kepada buku lali “( Surah al Maidah : 6 ). Dalam ayat sapulah kepala kamu terdapat kata-kata “ bi ru’uusikum “, yang bermakna “dengan kepala kamu”. Dari adanya kata-kata “ bi “ ( dengan ) , ulama berbeda pendapat apakah menyapu kepala itu sebagian kepala atau semua kepala, atau sekedar kata-kata tambahan yang tidak memiliki makna apapun juga. Sebab jika semua kepala, mengapa Allah tidak menyatakan dengan “ wam sahuu ru’uusakan “ ( sapulah kepala kamu ), sebagaimana kata-kata yang lain “ faghsilu wujuhakakum “ ( basuhlah wajah kamu ).  Perbedaan tersebut dikuatkan lagi dengan adanya berbagai hadis nabi yang menyapu dengan sebagian kepala dan juga ada hadis nabi yang menyapu seluruh kepala. Sehingga perbedaan pendapat apakah sebagian kepala atau seluruh kepala merupakan perbedaan pendapat yang tidak dapat dielakkan. Ulama bersepakat tentang kewajiban menyapu kepala, tetapi berbeda dalam batas yang disapu dari kepala tersebut. Kewajiban menyapu kepala adalah asas sedangkan batasan menyapu antara seluruh atau sebagian adalah masalah khilafiyah, yang berbeda dengan dalil masing-masing.

Tabiat manusia

Setiap manusia memiliki sifat dan tabiat yang berbeda dengan yang lan, seperti sikap keras dan sikap lembut, berbeda dalam kecintaan dan kecenderungan terhadap sesuatu, berbeda dalam cara pandang, sehingga hal tersbeut berakibat berbeda dalam mengambil keputusan dalam sesuatu perkara. Sejarah mencatat bahwa sahabat nabi, pribadi Abubakar Siddiq yang kasih sayang dan penuh kelembutan berbeda dengan pribadi Umar bin Khatab yang etegas dan berani. Sebagai contoh dalam menghadapi tawanan perang Badar dimana menurut Umar bin Khtab tawanan tersebut dibunuh sajaha, sedangkan menurut Abubakar, tawanan itu dimaafkan dengan memberikan tebusan. Demikian juga perbedaan antara Ibnu Umar dengan Ibnu Abbas dalam beebrapa perkara. Ibnu Umar selalu membasuh bagian dalam kedua matanya dalam berwudhu, sedangkan Ibnu Abbas tidak berpendapat demikian. Ibnu Umar berpendapat berhenti di Mishab ( nama sebuah tempat ) termasuk sunat dalam ibadah haji, sedang Ibnu Abbas berpendapat itu tidak sunat, sebab berhentinya nabi di tempat itu bukan termasuk amalan ibadah yang disyariatkan.

Rahmat di balik perpedaan pahaman agama

Perbedaan dalam pehaman agama dalam hal yang bukan asas dan pada perkara yang dibolehkan berbeda, merupakan rahmat bagi umat, sehingga umat dapat memilih, sebab  dengan perbedaan pendapat tersebut memudahkan umat dalam menjalankan agama. Dalam agama, ada perkara yang telah ditentukan kewajibannya, sehingga menjadi wajib, ada perkara yang telah ditentukan larangannya sehingga menjadi haram. Disamping itu ada perkara yang dianjurkan untuk dilakukan, yaitu perkara yang sunat, da nada perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan, yaitu perkara makruh. Setelah itu ada perkara yang tidak diwajibkan, juga tidak dilarang, juga tidak dianjurkan dilakukan atau tidak dilakukan, itu adalah perkara harus atau mubah,yaitu perkara yang tidak ditentukan sama sekali. Hal ini dinyatakan dalam hadis : “ Sesungguhnya Allah Taala telah membuat ketentuan ketentuan ( hudud ), maka janganlah kamu melanggarnya. Allah Taala juga telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka jangan kamu mengabaikannya. Allah juga telah mengharamkan beberapa perkara, maka jangan kamu melanggarnya, dan Allah juga telah mendiamkan banyak perkara sebagai rahmat bagi kamu, bukan karena lupa, dan janganlah kamu mencari-carinya ” ( Hadis diriwayatkan oleh Daruqtni, dengan kedudukan hadis hasan ).

Dalam hadis yang lain, disampaikan oleh Abu darda’ dinyatakan : Apa yang Allah telah halalkan dalam kitabnya maka itu menjadi halal, dan apa yang Allah haramkan dalm kitabnya, itu juga menjadi haram, dan apa yang Allah diamkan ( tidak diharamkan dan tidak diwajibkan ) itu merupakan kemurahan Allah, maka terimalah kemurahanNya tersebut. Sesungguhnya Allah tidak pernah lupa akan sesuatu, kemudian nabi membaca ayat “ dan tidaklah Tuhanmu itu lupa “ ( Surah Maryam /16 : 64 ) Perkara yang didiamkan ( tidak diwajibkan dan juga tidak dilarang dan tidak ada dalam nash )  berarti membuka peluang ijtihad bagi ulama untuk mengambil hukumnya, apakah dengan jalan ijtihad melalui ijma ( kesepakatan sahabat ), atau dengan jalan qiyas ( analogy ), atau memakai jalan istihsan ( mencari sesuatu yang lebih baik ), atau dengan jalan istislah ( sesuatu yang lebih sesuai ) atau dengan memakai jalan “urf “ ( kebiasaan dalam masyarakat ).

Sewaktu Rasulullah akan mengutus sahabat Muadz bin Jabaluntuk menjadi gubernur negeri Yaman, maka Rasulullah bertanya : “ Wahai Muadz, dengan apa engkau menghukum sesuatu ? Muadz menjawab : Dengan Kitabullah “. Rasul bertanya lagi : Jika engkau tidak mendapatkan perkara tersbeut di dalam Kitabullah, maka dengan apa engau mengambil keputusan ? “ Muadz menjawab : “ Dengan Sunnah Rasulullah “. Kemduian rasulullah bertanya lagi : “ Jika perkara tersebut tidak engkau dapatkan di dalam kitabullah dan sunnah rasulNya, maka dengan apa engkau memutuskan ? “,. Muadz menjawab : “ berijtihad dengan akal pikiranku “. ( riwayat Tirmidzi ). Hadis ini menjadi dalil bagi ulama bahwa dalam akal pikiran dapat dipakai dalam mengambil keputusan hukum, hanya saja akal pikiran yang dipakai bukan semua pendapat dan pikiran tetapi akal pikiran yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunah rasul, sebagaimana disebutkan dalam syarat-syarat pengambilan hukum melalui ijtihad dan qiyas.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata : “ Saya tidak suka jika para sahabat itu tidak berbeda pendapat, sebab seandainya mereka tidak berbeda pendapat niscaya tidak aka nada keringanan bagi kita hari ini untuk menjalankan agama “. ( riwayat Baihaqi ).
Syeikh Mar’I al Hanbali dalam kitab Tanwiru Masyairil Muqallidin berkata : “ Sesungguhnya perbedaan madzhab dalam agama ini merupakan rahmat dan keutamaan yang besar. Rahasia ini hanya diketahui oleh orang yang alim, dan tidak dapat diketahui oleh orang yang jahil. Perbedaan pendapat merupakan kekhususan umat Islam dan keluasan dalam syariat yang mudah ini “.

Mengikut Mazhab dan Sunnah

Pada awal perkembangan hukum Islam, tidak ada mazhab, sebab semua merujuk kepada Nabi Muhammad saw, dan setelah meninggal Rasul, sahabat menjadi rujukan hukum sebab mereka yang paling mengetahui ucapan, dan perbuatan Rasulullah. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, dengan bertambah luasnya daerah kekuasaan Islam, maka banyak sahabat dari madinah berpindah ke Bandar-bandar kawaan Islam seperti Mesir, Syam, Kufah, Baghdad, Yaman, dan lain sebagainya. Di kawasan tersebut, sahabat nabi mengajarkan agama Islam dan hukum-hakam, dan mereka menjadi tempat rujukan masyarakat disekitarnya. Masyarakat disekitarnya belajar dari sahabat-sahabat tersebut dan mengambil bacaan al Quran, dan Hadis tersebut dari mereka. Pengikut dan murid dari sahabat itu dinamakan Tabi’in, dan murd dari Tabiin dinamakan Tabiut Tabiin. Pemahaman agama yang berkatan dengan hukum fiqah ini menjadi pegangan bagi masyarakat di Kufah, Madinah, Yaman, Mesir dan lain sebagainya. Tidak semua sahabat akan mendengar hadis yang sama, dalam satu perkara, sehingga kadag kala hadis yang disampakan oleh sahabat di masyarakat  Mesir, tidak sama dengan ajaran dari saabat yang tinggal Madinah, walaupun kedua pendapat tersebut adalah benar, sebab kedua sahabat tersebut sama-sama mendengar dari Nabi Muhammad tentang satu perkara dalam dua hadis yang berbeda, dalam keadaan yang berbeda. Biasanya perbedaan tersebut bukan pada ajaran asa agama seperti tauhid, tetapi berkaitan dengan amal-amal yang dibolehkan berbeda dalam masaah khiafiyah dalam perkara yang sunat.

Imam Hanafi pengasas hukum  mazhab Hanafi,  lahir di Kufah, tahun 80 Hijah dan berguru dengan Tabi’in Ikrimah, pembantu Abdullah bin Abbas, Nafi’, pembantu Umar bin Khattab, Hammad bin Abi Sulaman, murid dari sahabat Ibrahim al Nakhai, dari Alqamah dan dari sahabat nabi Abdullah bin Mas’ud. ( Pengantar Syariat Islam, Mohd Salleh Ahmad, 142 ). Ilmu yang diperoleh dari Abdullah bin Mas’ud tersebut dikembangkan baik keputusan hukumnya, maupun dalam metodologi cara mengambil keputusan hukum oleh Imam Hanafi. Metodologi pengambilan keputusan hukum yang dikembangkan oleh Imam Hanafi tersebut disebut dengan Mazhab Hanafi. Berarti keputusan hukum mazhab Hanafi berdasarkan ilmu fiqah yang diajarkan oleh sahabat Nabi dan tabiin.

Imam Malik, pengasas mazhab Maliki, lahir tahun 93 Hijrah, dan berguru dengan Abdurahman bin Hurmuz, Rabi’ah bin Abdurrahman, Muhammad bin Muslim bin Syihab az Zuhri, Ja’far bin Muhammad Baqir, dan tabiin yang lain yang berdiam di kota Madinah. ( Haji Mohd . Salleh Ahmad, Pengantar Syariat Islam, ms. 45 ). Sejarah mencatat bahwa Imam malik berguru lebih dari 70 ulama tabiin yang berada di Madinah. Imam Malik mengajarkan dan mengembangkan metodologi ilmu fiqah yang didapat dari para tabiin tersebut sehingga dikenal dengan mazhab Maliki berdasarkan keputusan hukum, dan fatwa guru-guru beliau yang terdiri dari para Tabiin yang mendapatkan ilmu tersbut dari para sahabat nabi yang terdahulu.

Imam Syafi’I, pengasas mazhab Syafii, lahir pada tahun 150 Hijrah, di Ghaza, Palestina, dan kemudian beliau dibesarkan di Makkah. Selama di Makkah, beliau berguru dengan mufti Makkah, Muslim bin Khalid al Zanji. Beliau kemudian mengembara ke Madinah dan bergur dengan Imam Malik dan duduk di Madinah sampai Imam Malik meninggal dunia. Kemudian beliau berangkat ke Yaman dan berguru dengan Umar bin Abi Salamah, sahabat dari Imam Auza’i. Setelah dari Yaman, beliau pergi ke Irak, dan berguru dengan Imam Syaibani, sahabat dari Imam Abu Hanifah. Setelah itu beliau berangkat ke Mesir dan berguru dengan Imam Lait bin Sa’ad. ( Haji Saleh Ahmad, Pengantar Syariat Islam, ms. 151 ). Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa Imam Syafii jga berguru yang bersanad dengan para sahabat dan tabiin yang tersebar di Bandar-banar negara Arab.

Imam Ahmad bin Hanbal, lahir tahun 164 Hijrah di Baghdad. Beliau berguru dengan ulama besar seperti Sofyan bin Uyanah, Yahya al Qattaan, Walid bin Muslim, Qadzi Abu Yusuf ( murid Imam Hanafi ), dan juga berguru dengan Imam Syafii sendiri (Pengantar Syariat Islam, m.s.162 ) Beliau mendapatkan ilmu dari Tabi’in, dan tabiut Tabiin, dan mengembangkan ilmu dan metodologi pemikiran fikah yang dipelajarinya dan berkembang dengan nama Mazhab Hanbali.

Dari keterangan diatas dapat diketahui bahwa seluruh Imam Mazhab adalah murid daripada Tabiin atau Tabiut Tabiin (generasi Salaf )  yang mendapatkan ketetapan hukum berasal dari hadis dan atasr yang bersumber dari para  sahabat nabi yang tersebar di seluruh negeri Islam. Oleh sebab itu tidaklah layak jika ada yang menyatakan bahwa pendapat mazhab itu tidak sesuai dengan sunnah, sebab pendapat mereka semua berdasarkan sunnah yang mereka dapat dari guru mereka dengan ilmu yang datang daripada sahabat nabi.

Hanya saja pada saat ini, setelah seluruh kitab hadis tertulis, maka ada sebagian masyarakat yang ingin membaca hadis langsung dari kitabnya dan mencari kesimpulan hukum dari hadis dan sunnah yang dibaca, tanpa melalui metodologi yang dipakai oleh Imam Mazhab. Mereka menamakan diri dengan pengikut sunnah, sama dengan pengikut mazhab yang mengambil hukum dari Imam Mazhab mengambil keputusan hukum berdasarkan sunnah yang disampaikan oleh pengikut sahabt, Tabiin yang berguru kepada para Sahabat Nabi. Baik para pengikut mazhab, maupun pengikut sunnah, keduanya adalah benar, sebab kedua pengikut tersbeut mengambil hukum dari al Quran dan Hadis atau Sunnah Nabi Muhammad saw.

Salaf adalah masa sahabat, pengikut sahabat, dan pengikut Tabiin, sebagaimana hadis Nabi menyebutkan : “ Sebaik-baik masa adalah masaku, masa setelahku, kemudian setelah itu, dan kemudian setelah itu “. Berarti masa yang dimaksud dengan masa salaf adalah masa sahabat, masa tabiin ( pengikut sahabat ), dan masa pengikut tabiin, yang disebut dengan nama tabiut tabiin. Dari kajian sejarah Imam Mazhab diaats dapat dilihat bahwa Imam Mazhab juga merupakan Imam yang mengambil hukum dari para safafussaleh, sehingga pengikut mazhab juga dapat disebut dengan pengikut ulama salaf, malahan seperti Imam Hanifah itu termasuk dalam Tabiut Tabiin, sebab beliau berguru dengan Tabiin.

 Adab berbeda pendapat.

Dari penjeasan diatas dapat disimpulkan bahwa perbedaan fahaman agama antar mazhab dan juga antar pengikut sunnah dengan pengikut mmazhab sebenarnya perbedaan yang dibenarkan oleh agama, sebab perbedaan tersebut berdasarkan dalil-dalil dari al Quran , dan sahabat nabi, sehingga setiap perbedaan itu bersumber dari rujukan yang sama dan disjarkan oleh sahabat nabi yang tersebar di selurh pelosok negeri kekuasaan islam. Untuk mensikapi perbedaan mazhab dan fahaman tersebut sehingga tidak menimbulkan perpecahan, maka diperlukan adab dalam berbeda pendapat, sehingga perbedaan itu merupakan rahmat dan menunjukkan keluasan ajaran Islam. Dalam kitab “ Fiqh perbedaan Pendapat “, dinyatakan bahwa diantara adab perpedaan pendapat adalah :

1.       Menghormati pendapat yang berbeda.
2.       Meninggalkan fanatik / ta’assub  terhadap pendapat.
3.       Tidak menuduh pendapat lain dengan tuduhan yang menyakitkan seperti tuduhan sesat, kafir dan lain sebagainya hanya disebabkan perbedaan.
4.       Berprasangka baik kepada pendapat lain dengan meyakini bahwa pendpat mereka juga memiliki dalil yang beluk kita ketahui.
5.       Menjauhkan diri dari pertengkaran akibat perbedaan pendapat.
6.       Berdialog dengan cara yang baik sehingga menimbulkan kesepahaman pendapat.

Kewajiban  Umat untuk bersatu

Persatuan dan perpaduan hanya akan tercapai jika sesama umat dapat memahami perbedaan dan menghormati setiap perbedaan pendapat, sehingga umat terhindar dari pertengkaran dan perpecahan, sebab perpecahan umat merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama.

“ Dan berpegang teguhlah kamu semuanya di jalan Allah dan janganlah kamu berpecah belah “ (Surah Ali Imran : 103 )

“ janganlah kamu seperti mereka yang berpecah belah, dan berselisih sesudah datangnya keterangan, dan mereka akan mendapat siksa yang berat “ ( Surah Ali Imran : 105 ).

“ Janganlah kamu bertengkar, sebab pertengkaran itu akan membuat kamu menjadi lemah dan hilang kekuatan “ ( Surah al Anfal : 48 )

“ Janganlah kamu seperti orang kafir dimana mereka berpecah dalam dalam agama mereka, sehingga mereka berpecah menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok bangga dengan kelompoknya masing-masing “ ( Surah ar Rum : 32 )

“ janganlah kamu berselisih dan bertengkar sebab umat sebelum kamu itu menjadi hancur sebab mereka saling bertengkar “

Oleh sebab itu Allah dan rasul sangat menganjurkan perpaduan sebagaimana dinyatakan dalam ayat al quran dan hadis nabi :

“ Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang yang berperang di jalan Allah dengan berbaris rapi seolah-oleh mereka itu bangunan yang kuat “ ( Surah Saff : 4 )

“ Dan sesungguhnya inilah umatmu, umat yang satu, dan Akulah Rabbmu, maka hendaklah kamu bertaqwa kepadaKu “ ( Surah al Mukminun : 52 ).

“ Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah pertengkaran antara kedua kamu dan bertaqalah kepada Allah, sehingga engkau mendapat rahmat “ ( Surah al Hujurat : 49 ).

Wallahu a’lam.
Muhammad Arifin Ismail.

 






Sunday, May 8, 2016

BELAJAR KEPEMIMPINAN DARI KISAH MI'RAJ



Image result for israk mikraj
 Rasulullah bersabda ”........... Kemudian aku dinaikkan ke kawasan langit dunia, maka Jibrilpun memohon izin untuk menembusinya. Tiba-tiba suatu suara bertanya : Siapakah kamu? Jibril menjawab : Aku adalah Jibril. Suara bertanya lagi : Siapakah bersamamu? Jibril menjawab : Muhammad. Suara bertanya lagi ; Sudahkah dia itu diutus. Jibril menjawab : Sudah. Kamipun dibenarkan masuk, lalu aku bertemu dengan Adam yang datang menyambutku, dan mendoakanku dengan yang baik”. Pelajaran dari peristiwa ini bahwa perjumpaan dengan nabi Adam merupakan simbol seorang pemimpin harus hormat dan beradab dengan pendahulunya, sebagaimana nabi Muhamad tetap menjumpai nabi Adam dalam perjalanan menuju Tuhan.
” Kemudian kami dinaikan ke lapisan langit yang kedua, dan Jibril memohon izin untuk menembusnya.dan suara terdengar : Siapakah kamu ? Jibril menjawab : Aku Jibril. Suara bertanya lagi : Siapakah bersamamu? Jibril menjawab : Muhammad. Suara bertanya lagi : Sudahkah dia diutus? Jibril menjawab : Sudah. Kami segera dibenarkan masuk dan kami disambut oleh Yahya dan Isa,. Mereka mengalu-alukan kedatanganku dan mendoakan aku dengan segala yang baik.”. Maksud peristiwa ini, bahwa pemimpin  harus selalu mengingat jasa pemimpin sebelumnya, sebagaimana nabi Muhammad menjumpai nabi Isa dan nabi yahya sebab kedua nabi tersebut adalah nabi yang berada sebelum era nabi Muhammad saw.
.
” Kemudian kami dinaikkan ke langit yang ketiga, dan seeprti sebelumnya Jibril memohon izin menembusnya, lalu kedengaran suara bertanya: Siapakah kamu ? Jibril menjawab : Aku adalah Jibril. Suara bertanya lagi : Siapakah bersamamu ? Jibril menjawab : Muhammad. Suara bertanya lagi ; Sudahkah dia diutus? Jibril menjawab : Sudah. Kemudian kami diizinkan masuk dan disambut oleh Yusuf, dan dia mendoakanku dengan kebaikan ”. Makna perjumpaan dengan nabi Yusuf, bahwa seorang pemimpin harus tahan dengan segala macam godaan baik itu godaan yang datang dari kaum keluarga, godaan wanita, godaan tahta, dan godaan harta, sebagaimana nabi yusuf lulius dari godaan-godaan tersebut.
” Kemudian kami dinaikan ke lapisan langit keempat, dan jibril meminta izin untuk menembusinya, dan kedengaran suara bertanya : Siapakah kamu ? Jibril menjawab : Aku adalah Jibril. Suara bertanya lagi : Siapakah bersamamu ? Jibril menjawab : Muhammad. Suara bertanya lagi : Sudahkah dia diutus? Jibril menjawab : Sudah. Kemudian kami masuk dan disambut oleh Idris dan mendoakanku dengan yang baik. Dalam al Quran Alah telah berfirman : Dan Kami (Allah) telah mengangkat Idris ke tempat yang tinggi.”. Pelajaran dari peristiwa ini, dalam menghadapi godaan tersebut seorang pemimpin harus meningkatkan kualitas ibadah dan taqarrub kepada Allah sebagaimana nabi Idris adalah nabi yang paling hebat dalam beribadah kepada Tuhannya.
” Kemudian kami dinaikan ke lapisan langit yang kelima, dan Jibril meminta izin dan terdengar suara bertanya : Siapakah kamu? Jibril menjawab : Aku adalah Jibril. Suara bertanya lagi : Siapakah bersamamu? Jibril menjawab ; Muhammad. Suara bertanya lagi : Sudahkah dia diutus? Jibril menjawab ; Sudah. Kemudian kami diizinkan masuk dan disambut oleh Harun, dan mendoakanku dengan yang baik.”.Pelajaran kepemimpinan dari peristiwa ini bahwa seorang pemimpin harus pandai berdialog, berdebat, dan berkomunikasi sebagaimana yang dilakukanoleh nabi Harun di depan Firaun.
” Kemudian kami naik ke langit yang ke-enam, dan Jibrilsebagaimana biasa meminta izin, kemudian terdengar suara bertanya ; Siapakah kamu ? Jibril menjawab ; Aku adalah Jibril. Suara bertanya lagi : Siapakah bersamamu ? Jibril menjawab : Muhammad. Suara bertanya lagi : Sudahkah dia diutus? Jibril menjawab ; Sudah. Kemduian kami dibenarkan masuk dan disambut oleh Musa, dan mendoakanku dengan yang baik.Perjumpaan dengan nabi Musa sebagai iktibar seorang pemimpin harus belajar dari orang yang berpengalaman, sebagaimana nabi Musa adalah nabi yang paling berpengalaman menghadapi umat Bani Israel.
Kami seterusnya dinaikan ke langit yang ketujuh, dan Jibril sebagaimana biasa meminta izin, dan suara bertanya : Siapakah kamu ? Jibril menjawab : Aku adalah Jibril. Suara bertanya lagi : siapakah bersamamu ? Jibril menjawab ;Muhamad. Suara bertanya lagi ; Sudahkan dia diutus ? Jibril menjawab : Sudah. Kemudian kami masuk dan bertemu dengan Ibrahim yangsedang bersandar di Baitul makmur. Di baitul makmur ada seramai tujuh puluh ribu malaikat yang selalu mengunjunginya setiap hari, dan bila mereka masuk mereka tidak akan keluar lagi.” Pelajaran dari perjumpan dengan nabi Ibrahim adalah seorang pem9mpin harus banyak berjasa, berkorban dan berjuang sebagaimana nabi Ibrahim telah membangun Ka’bah , berkorban anaknya sendiri dan berjuang menghapuskan kemusyrikan.
Kemudian aku seorang diri meneruskan perjalanan ke Sidratul Muntaha, yaitu suatu pokok yang daunnya selebar telinga gajah, dan buahnya berjuntai-juntai dari atas para-para. Pokok Sidratul Muntaha ditutup dengan apa yang menutupinya sesuai dengan perintah Allah, maka tiada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mensifatkan kecantikan dan keindahannya. Maka Allah mewahyukan kepadaku apa yang hendak diwahyukan. Kemudian Dia ( Allah )mewajibkan keataskudan umatku untuk melakukan shalat sebanyak limapuluh kali dalam sehari dan semalam. Akupun turun dari tempat itu sehingga berjumpa dengan Musa, dan dia bertanya kepadaku : Apakah yang telah diwajibkan Allah kepada umatmu ? Aku menjawab : Shalat lima puluh kali sehari semalam.Musa berkata : kembalilah kepada tuhanmu untuk meminta keringanan, karena umatmu tidak akan dapat mengerjakan yang demikian. Sesungguhnya aku telah menguji kemampuan Bani Israel. Aku segera menghadap tuhanku dan memohon : wahai Tuhanku, Dapatkah Engkau meringankan kewajiban itu atas umatku ? Tuhan menguranginya sebanyak lima waktu. Aku turun dan bertemu dengan Musa, dan diapun bertanya ; Bagaimana keadaanmu? Aku menjawab : telah dikurangi lima waktu. Musa berkata lagi : Sesunguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya, kembalilah kepada Tuhanmu meminta keringanan. Aku terus berulang kali antara Tuhan dan Musa, dan setiap kali aku meminta keringanan, Tuhanku menguranginya lima waktu, sehingga akhirnya kewajiban itu hanya lima waktu sahaja, dan Tuhanku berfirman ; Wahai Muhammad, itulah lima waktu shalat yang diwajibkan siang dan malam, dan pada setiap satu waktu akan dinilai seperti mengerjakan sepuluh waktu. Sesiapa yang bercita-cita membuat kebajikan lalu terhalang untuk melakukannya akan dicatit baginya satu kebaikan, dan sesiapa yang melakukannya, maka akan dicatit baginya sepuluh kebaikan.Dan barangsiapa yang bercita-cita membuat kejahtan, dan dia membatalkan maka tidak akan dicatitkan apa apa, dan kalau dia melakukan kejahatan maka dia akan dicatit satu kejahatan. Kemudian aku turun dan bertemu Musa dan aku membritahukan dia akan keringanan lima kewajiban shalat tersebut, kemudian Musa berkata : Kembalilah engkau kepada Tuhanmu untuk meminta keringanan lagi, sebab umatmu nanti susah untuk melakukannya. Aku menjawab : “ Aku tidak akan kembali kepada tuhanku untuk meminta keringanan lagi, sebab aku malu kepadaNya”. Hadis dengan pernyataan dan cerita yang sama juga terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Pelajaran dari dialog dengan nabi Musa adalah seorang pemimpin harus dapat mendengar suara dari orang yang berpengalaman walaupun orang tersbeut lebih rendah kedudukannya, sebagaimana nabi Muhammad mendengar nasehat nabi Musa. Semoga peristiwa Isra Mikraj dalam menjadi pelajaran bagi para pemimpin umat. Fa’tabiru ya Ulil albab.

Friday, April 29, 2016

KETAHANAN KELUARGA DAN GLOBALISASI


Dengan kemajuan teknologi yang berkembang dengan pesat, maka masyarakat dunia juga mengalami perkembangan pemikiran dan budaya, sehingga setiap kurun waktu kita melihat istilah yang baru, seperti modernisasi, globalisasi dan lain sebagainya. Globalisasi berasal dari kata-kata Global yang bermakna sesuatu yang mendunia. Oleh sebab itu Globalisasi dimaksudkan juga merubah dunia menjadi perkampungan dunia, maksudnya jika dulu jarak, informasi antara satu tempat dengan tempat yang lain dirasakan sangat jauh, maka dengan kecanggihan teknologi informasi, maka informasi dunia tidak mempunyai jarak lagi, dimana kejadian di dunia lain, dalam hitungan detik, sudah dapat didengar dan dilihat oleh penduduk dunia lain. Karena itu sebagian orang mengatakan bahwa globalisasi adalah melenyapkan dinding dan jarak antara satu bangsa dengan bangsa lain, dan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain, sehingga semuanya menjadi dekat dengan kebudayan dunia, pasar dunia, dan keluarga dunia.

Istilah Globalisasi ( Globalization ) pada awalnya muncul di Amerika Serikat, yang artinya menggeneralisasi (menjadikan sesuatu menjadi general ) sesuatu dan memperluas jangkauannya sehingga ke seluruh tempat. Globalisasi juga dimaksudkan menjadikan sesuatu mendunia atau bersifat internasional, yakni menjadikannya dari terbatas dan terawasi kepada tidak terbatas dan sulit diawasi. Yang dimaksudkan terbatas adalah level nasional yang terbatas oleh batas-batas geografis dan dibawah pengawasan khusus. Jadi Globalisasi dapat mengandung arti “menghilangkan batas-batas kenasionalan dalam bidang ekonomi (perdagangan ) dan membiarkan segala sesuatu bebas melintas dunia dan menembus level internasional sehingga dapat mengancam identitas budaya dan ekonomi suatu bangsa dan Negara.  Oleh sebab itu, menurut Jalal Amin, Globalisasi adalah penyempitan jarak secara cepat antara masyarakat, baik yang berkaitan dengan pindahan barang, orang, modal, informasi, pemikiran maupun nilai-nilai, sehingga tampak globalisasi bagi kita adalah sepertinya mengiringi perkembangan peradaban manusia “.

Pada awalnya globalisasi berkaitan dengan ekonomi dan perdagangan bebas sebagaimana yang dimunculkan di Amerika, tetapi pada saat ini, globalisasi telah berkembaga dalam setiap bidang kehidupan masyarakat termasuk dalam budaya, agama, pemikiran, sustem hukum, politik, dan lain sebagainya. Globalisasi dalam arti yang sangat luas, maka dampak globalisasi tersebut dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat yang telah terjaga dengan nilai-nilai agama dan budaya, hukum, tradisi yang sudah berlaku dalam suatu bangsa dan negara. Akibat globalisasi pada saat ini terlihat dalam segala bidang, baik itu ekonomi, budaya, agama, politik dan lain sebagainya, sehingga jika umat Islam tidak waspada dan pandai melihat dimana aspek positif dan negative, maka umat Islam akan kehilangan identitas dirinya sebagai muslim dan umat Islam. Sepatutnya umat islam dapat bersikap tegar dalam menghadapi setiap serangan budaya luar, sebab umat Islam memiliki pedoman hidup yang tidak pernah berubah, yaitu al Quran dan Sunnah Nabi, dan memiliki sejarah Rasululah yang dapat dijadikan contoh teladan dalam setiap kehidupan.

Globalisasi ekonomi terlihat dengan berdirinya hypermarket dunia di setiap sudut kota, sehingga produk dunia dapat dibeli dan dijangkau di seluruh pelosok dunia. Akibatnya budaya konsumeris dan sikap mubazir menjadi budaya masyarakat. Globalisasi budaya merupakan globaliasi yang sangat mudah merusak masyarakat sebab globalisasi budaya berprinsipkan kepada pergaulan bebas yang permissive sehingga dapat menghilangkan identitas budaya dan merusak peraturan dan hukum agama. Globalisasi agama dengan merubah tatanan hukum fiqah dan merubah tatanan hukum  dengan nilai-nilai universal seperti  nilai kebebasan, hak asasi manusia, persamaan agama (pluralism agama ) dengan menggagas fiqih global, theology global dan etika global. Untuk itu, umat Islam harus bijak dalam bersikap terhadap Globalisasi. Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa untuk menghadapi globalisasi terdapat 3 sikap : (1) Sikap berlebihan  dengan menerima globalisasi secara mutlak.(2) Sikap yang menolak total.(3) Sikap pertengahan dengan mengambil manfaat dari perkembangan teknologi global tetapi menghindar dari sisi negative dengan memegang teguh orisinilitas nilai-nilai agama. Menurut Qardhawi, sikap terbaik adalah dengan mengambil manfaat dari perkembangan teknologi informasi globalisasi dan menolak sisi negative dari globaliasi, dengan menguatkan nilai-nilai keimanan dan identitas diri sebagai masyarakat muskim yang berwawasan masa depan, tanpa kehilangan nili-nilai iman, identitas diri, dan keistimewaan budaya lokal.

Untuk menghadapi serangan budaya globalisasi ini, diperlukan ketahanan diri yang dibentuk dalam ketahananan keluarga dan kekuatan iman yang diaplikasikan dalam sikap kehidupan. Keluarga adalah basis utama kehidupan bermasyarakat. Rapuhnya tatanan kehidupan keluarga mengakibatkan rapuhnya tatanan masyarakat. Kekuatan tatanan keluarga menjadi factor utama ketahanan masyarakat.Oleh karena itu ajaran Islam sangat memperhatikan tatanan keluarga sebagaimana al Quran menyatakan: “ Jagalah dirimu dan keluargamu daripada siskaan api neraka “ ( QS. Ah tahrim : 6 ). Rasulullah menjadi contoh terbaik dalam kehidupan keluarga sehingga beliau bersabda : “Orang yang terbaik daripada kamu adalah orang yang terbaik dengan keluarganya, dan aku ( rasululah ) adalah orang yang terbaik untuk keluarganya “.( QS.an Nisa : 34 ).

Kerapuhan ketahanan keluarga pada masa kini menjadikan generasi yang kosong dari perhatian, pendidikan, sehingga mereka mencari perhatian dan lingkungan yang telah dirusak oleh budaya pergaulan bebas, narkoba, seks bebas, hiburan, dan lain sebagainya. Ketahanan keluarga dapat tercapai dengan peran yang dimainkan oleh setiap orang di dalam keluarga. Seorang ayah sebagai kepala keluarga berperan untuk memimpin keluarga, baik istri dan anak-anaknya memiliki orientasi hidup yang jelas, memastikan istri dan anak-anaknya diberikan makanan yang halal,sehingga segala tindak tandul dan pergaulan mereka sesua dengan tuntunan dan pedoman ilahi. Itulah sebabnya al Quran menyatakan : “ Orang lelaki itu ( suami/ayah ) adalah orang yang berkuasa di hadapan kaum wanita “.( QS. An Nisa : 34 )  Suami dan ayah dapat memimpin agar istri dan anaknya tetap dalam nilai-nila iman, dan syariah, serta akhlak yang mulia. Disamping itu setiap anggota keluarga juga harus melakukan tugas dan kewajiban dalam bidang masing-masing, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang disampaikan oleh Abdllah bin Umar menyatakan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda : “ Setiap orang daripada kamu semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Orang lelaki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipemimpinnya, orang perempuan juga pemimpin atas keadaan rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pembantu juga adalah pemimpin untuk menjaga harta benda majikannya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya “.( hadis riwayat Bukhari dan Muslim ).

Keluarga juga harus dapat memperhatikan dan memberikan lingkungan yang terbaik bagi anak-anaknya, sebab lingkungan dan suasana yang dihadapi mereka dapat mempengaruhi nila-nila hidup, pola pikir dan pola sikap mereka, sebab lingkungan yang buruk, pergaulan yang merusak  itu merupakan sesuatu yang menular  sehingga dpat merobah sesuatu yang baik menjadi buruk.Oleh sebab itulah memperhatikan lingkungan dan pergaulan yang baik merupakan kewajiban suatu keluarga, sebagaimana hadis menyatakan bahwa : “ Tidak ada seorang manusia yang dilahirkan melainkan dia itu  dilahirkan dalam keadaan fitrah yang suci, maka kedua orangtualah yang bertanggungjawab jika sekiranya   anak yang suci tersebut  berobah menjadi seorang yahudi, atau nasrani atau majusi “( hadis riwayat Bukhari ). Dari hadis ini dapat dilihat bahwa seorang yang dilahirkan muslim dan beriman kepada Allah dapat berubah menjadi yahudi, nasrani atau majusi jika seandainya orangtua tersebut tidak peduli dengan keadaan perkembangan hidup anak-anak mereka terutama kehidupan globalisasi barat yang tidak memiliki nilai-nila agama, sebab budaya barat hari ini adalah budaya yang berasaskan nila-nilai atheis ( tidak mengenal kehiduapn akhirat ) , materialisme ( kehidupan materi semata )  dan hedonism ( budaya hidup yang ditujukan untuk mencari kepuasan  hawanafsu ). Mari kita kembalikan nila-nila agama dan iman melalui tatanan keluarga sehingga kita tetap dapat bertahan dalam nilai=nilai agama di tengah budaya global, sebab hidup kita bukan hanya ingin mendapatkan kebahagiaan untuk dunia saja  tetapi  juga kita ingin mendapatkan kebahagiaan yang kekal di akhirat kelak. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

KETEGUHAN SULTAN ABDUL HAMID


Pada tanggal 3 Maret 1924, yaitu seratus Sembilan puluh dua tahun yang lalu  merupakan hari sejarah hitam bagi umat Islam, sebab pada tanggal tersebut Kekhalifahan Turki Usmaniyah telah dijatuhkan dan digantikan dengan didirikannya Republik Turki Sekular yang dipimpin oleh Mustafa Kemal at taturk. Kekhalifahan Islam Usmaniyah adalah merupakan kelanjutan dari kekhalifahan Islam sejak zaman Rasulullah, dikuti dengan Khulafa Rayidin, Menurut Abdullah Azzam, selama tiga abad, orang Barat memusatkan perhatiannya kepada bagaimana menghancurkan khilafah Islam, sehingga berhasil menyingkirkan Khaliah Sultan Abdul Hamid yang berkuasa sejak tahun 1876 hingga 1909 Masehi. Pada tahun 1887 Masehi, masyarakat yahudi membentuk organisasi yang dipimpin oleh Theodore Hartzl yang bertujuan sebagaiman dikatakan oleh Hertzl : “ Sesunguhnya alasan kita berkumpul di tempat ini adalah untuk mencari tanah yang akan kita jadikan sebagai negara kita “. Hertzl melanjutkan : “ Saya ingin membangun sebuah negara di atas tanah leluhur kita. Pendirian negara ini saya batasi waktunya sekitar sepuluh sampai dua puluh tahun, dan jangan sampai lebih dari lima puluh tahun “. Sewaktu mereka melihat apakah yang menjadi halangan untuk mewujudkan keinginan tersebut, maka mereka lihat bahwa daerah leluhur mereka yaitu negeri Palestina ,berada di bawah kekuasaan khilafah Usmaniyah.

Mereka melihat bahwa khilafah pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid seorang pemimpin umat yang taat dan mempunya pendirian dan prinsip yang kuat. Dia tidak dapat diperdaya dengan wanita dan juga tidak dapat dibuai dengan minuman keras, jika demikian mereka mencoba untuk membujuk sultan dengan harta kekayaan. Pada tahun 1902, mereka menjumpai Sultan Abdul Hamid dan menawarkan empat hal : (1) Kami akan memberikan 150 juta dinar emas ke kantong pribadi Sultan (2)Menutup sebagian besar hutang negara kekhalifahan Usmaniyah (4) Membantu membangun armada laut (4) Mendirikan Universitas Daulah Usmaniyah yang besar. Tawaran itu diberikan dengan imbalan agar Sultan memberi izin untuk orang yahudi berhijrah ke negeri Palestina. Namun apa jawaban Sultan kepaa Hetzl : “ Sesungguhnya andaikan badanku disayat-sayat dengan pisau atau salah satu anggota badanku dipotong maka itu lebih aku suka daripada aku mengizinkan kalian tinggal di bumi Palestina yang merupakan negeri kaum muslimin. Sesungguhnya bumi Palestina telah direbut dengan pengorbanan darah. Dan sekali-kali bumi in9 tidak akan dirampas dari mereka melainkan dengan pertumpahan darah. Dan sungguhn Allah telah memuliakanku sehingga dapat menjadi pelayan kepada agama Islam selama tiga puluh tahun. Dan aku tidak akan mencoreng sejarah para leluhurku dengan aib ini “.

Hertzl tidak berputus asa untuk membujuk Sultan, sehingga dia meminta tolong kepada kawannya Neolinsky untuk dapat membeli tanah Palesina walau sekecil apapun.. Akhirnya sultan mengirim surat kepada Neolinsky : “ Jika benar Hertzl itu adalah kawanmu sebagaimana engkau adalah kawanku, maka beritahukan dia jangan sekali-kali dia meneruskan langkahnya karena aku tidak akan menjual sejengkalpun wilayah kekuasaanku sebab kerajaan ini bukan milikku pribadi, malainkan milik seluruh kaum muslimin. Dan untuk memperoleh itu, mereka telah mengorbankan harta benda dan hidupnya. Oleh karena itu kami mempertahankan bumi ini dengan darah kami pula, dari setiap usaha yang dilakukan oleh pihak luar untuk merebutnya. Pasukan kami telah terjun dalam medan perang di Syria dan Palestina. Mereka rela gugur satu demi satu, karena tidak se0rangpun dari prajurit kami yang mau menyerah kepada musuh. Mereka ebih senang mati membela kehormatan islam daripada hidup dalam kenistaan. Kerajaan Turki Usmaniyah bukanlah milik pribadiku, melainkan milik bangsa Turki. Tanah sejengkalpun tidak boleh dijarah orang lain. Sebaiknya orang yahudi menyimpan saja uang jutaan yang kalian miliki tersebut. Seandainya kerajaan ini bisa dihancurkan luluhkan, barulah orang yahudi dapat mengambil tanah Palestina dengan mudah. Akan tetapi harus diingat bahwa kami tidak akan mundur dari tekad, yang telah kami pegang selama ini. Orang yahudi tidak akan bisa menghanurkan kami sebelum melangkah mayat-mayat kami terlebih dahulu “.

Setelah menerima surat tersebut, orang yahudi tidak kehilangan akal, sehingga mereka mencari cara lain untuk menghancurkan kekuatan Sultan, yaitu dengan mempergunakan yahudi-yahudi Turki yang melakukan pergerakan rahasia. Mereka menebarkan isu dan fitnah yang mengatakan bahwa Sultan adalah peminum, pezina dan lain sebagainya,  baik di dalam negeri Turki ataupun di luar negeri Turki yang masih di bawah kekuasaan Turki seperti Mesir, dan lain sebagainya. Beberapa berusaha untuk mempengaruhi orang-orang dekat dengan Sultan, dan pemimpin=peminpin negeri yang takluk di bawah Sultan dengan membangkitkan semangat kedaerahan dengan tujuan agar setiap negeri akan melepaskan diri dari kesultanan Turki Usmaniyah. Mereka membantu orang nasrani seperti George Zaidan menerbitkan surat kabar Darul Hilal di Lebanon, dan juga Salim Naqlan dan Philip Naqlan mendirikan surak kabar al Ahram di Mesir untuk menyebarkan fitnah keburukan Sultan.

Salonika adalah salah satu kota di Turki yang berpenduduk 120 ribu orang tetapi 80.00 orang yang merupakan keturunan dan berdarah yahudi, walaupun mereka beragama Islam. Di antara pemuda kota ini  ada yang masuk  ikut menjalani pendidikan militer dan  diantara mereka terdapat Mustafa Kamal Pasha dan lain sebagainya, yang kelak menjadi komandan di pasukan perang. Akhirnya mereka dapat mempengaruhi pasukan militer Turki untuk menurunkan dan menangkap Sultan Abdul Hamid pada tahun  buan April 1909.  Akhirnya pasukan Inggeris menguasai wilayah Palestina pada tahun 1917, dan kekhalifahan Tuki jatuh ke tangan Inggeris dengan perjanjian Luzon, dan akhirnya Inggeris memberikan kepemimpinan Turki di bawah Mustafa Kamal Pasha dengan syarat-syarat  yang telah ditentukan dalam perjanjian tersebut.  

Sultan Abdul Hamid dipenjarakan di sebuah  di kota Salonika. Diantara pejgaga penjara terdapat seorang murid dan pengikut tarekat Sadziliyah  sedangkan Sultan Abdul hamid juga merupakan pengikut Tarekat Sadziliyah dibawah bimbingan gurunya Syekh Abu Samat. Sultan Abdul hamid berkirim surat kepada gurunya : …Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena sesuatu sebab tertentu, melainkan karena adanya tipu daya dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan nama Cun Turk, sehingga terpaksa meninggalkan kekhalifahan tersebut. Sebelumnya organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar saya menyetujui dibentuknya sebuah negeri nasional bagi bangsa Yahudi di bumi Palestina. Saya tetap tidak menyetujui permohonan berulang-ulang yang memalukan itu. Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta poundsterling emas. Saya tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan kata-kata : “ Seandainya kalian membayar dengan selurh isi bumi ini, aku tidak menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdikan diri kepada kaum muslimin dan kepada agama Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah lama dirintis oleh nenek moyangku, para sultan dan khalifah kerajaan Turki Usmaniyah. Sekali-kali aku tidak akan menerma tawaran kalian “.


Setelah mendengar dan mengetahui sikap dan jawaban saya tersebut, mereka dengan kekuatan rahasia yang mereka miliki memaksa saya untuk meninggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada saya menyetujui permintaan mereka. Saya masih bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng kerajaan Islam Turki dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri yahud dan sudilah anda i di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan mengulang-ulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala yang telah menyelamatkan kita daripada aib yang besar itu. Saya rasa cukup disini saja apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah anda dan segenap kawan-kawan menerima salam hormat saya. Gurku yang mulia mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, anda bersama jamaah yang anda bina dapat memaklumi semua ini “. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, 22 September 1909, tertanda pelayan kaum muslimin, Abdul Hamid bin Abdul Majid. Dari kisah diatas dapat dilihat bagaimana keteguhan hati Sultan Abdul Hamid dalam mempertahankan negeri umat Islam, sehingga beliau rela menderita, diasingkan dan dipenjara daripada menyerahkan negeri kaum muslimin kepada musuh. Semoga di bulan Maret ini kita dapat mencari hikmah dan pelajaran dari kejatuhan kekhalifahan Turki,  dan berharap akan muncul pemimpin umat Islam hari ini yang dapat mengikuti jejak langkah beliau. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

HAIKAL NABI SULAIMAN


“Sesungguhnya kamu (bani Israel)akan membuat kerusakan dimuka bumi ini dua kali “ ( QS. Al Isra: 4 ).

Masyarakat yang pertama mendiami bumi Palestina adalah kaum Kan'an dari keturunan nabi Nuh. Kemudian datanglah nabi Ibrahim ke bumi Kan'an. Nabi Ibrahim mempunyai anak yaitu nabi Ishaq dan nabi Ismail. Nabi Ishaq mempunyai anak bernama Ya'kub, Nabi Ya’kub juga dipanggil dengan nama Israel. Nabi Ya’kub mempunyai dua belas anak. Keturunan dari kedua belas anak nabi ya’kub itulah yang disebut dengan sebab itu maka keturunan dengan Bani Israel. Sewaktu nabi Yusuf menjadi menteri di Mesir, maka anak-anak Ya'kub berhijrah ke negeri Mesir, dan menetap disana. Sewaktu negeri Mesir di bawah kekuasaan Fir'aun yang berasal dari bangsa Qibti, maka penduduk mesir yang berasal dari bani Israel menjadi masyarakat hamba sahaya, sehingga datanglah nabi Musa membawa mereka keluar dari bumi Mesir, menuju bumi Palestina. Dalam perjalanan, nabi Musa wafat dan mereka belum lagi masuk ke wilayah Palestina. Akhirnya mereka berdiam di sebelah timur negeri Jordan, sehingga pada masa nabi daud. Baru setelah di bawah pimpinan Thalut mereka baru dapat memasuki Palestina. Setelah Thalut meninggal, maka nabi daud diangkat menjadi raja pengganti Thalut yang menyatukan seluruh bani Israel. Nabi Daud membina kota Jerusalem, dan kemudian dilanjutkan oleh nabi Sulaiman membina sitana yang disebut dengan Haikal Nabi Sulaiman ( Solomon temple).

 Kemudian setelah meninggal nabi Sulaiman, kerajaan bani Israel terpecah menjadi dua kerajaan kecil, sehingga datang serangan dari raja Babilonia Nebuchadnezar II menjajah bumi palestina, dan menghancurkan haikal sulaiman. Kaum yahudi akhirnya ditawan , dan dibawa ke bumi babilonia untuk menjadi hamba sahaya selama tujuh puluh tahun. Pada tahun 160 Masehi, Pasukan romawi datang menaklukkan Palestina, dan orang yahudi kembali bebas di bumi palestina,dan mereka kembali mendirikan haikal Sulaiman, tetapi setelah pemerintaan raja titus, orang yahudi ditindas kembali, sehingga datang Islam. Nabi Muhammad sebelum meningal telah melantik Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan melawan pasukan Romawi; dan baru pada masa pemerintahan Abubakar shiddiq, pasukan islam dapat menguasai bumi Syria. Akhirnya pada masa khalifah Umar bin Khatab , kaum muslimin dapat mengalahkan pasukan Romawi dalam perang Yarmuk, dan mengusir pasukan Rom dari bumi palestina. Sayidina Umar datang sendiri untuk menerima kunci Baitul Maqdis yang diserahkan oleh Pendeta Nasrani.

Pada masa Umayyah, Khalifah Abdul malik bin Marwan membina Kubah Batu yaitu tempat nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra dan mi'raj; dan pada masa Khalifah al Walid bin Abdul Malik disempurnakan pembangunan Masjidil Aqsha sebagaimana sekarang. Pada tahun 1099 tentera eropah datang menguasai Baitul Maqdis, dengan membunuh tujuh puluh ribu muslim, sehingga masjidil aqsha tergenang darah. Umat Islam mengadakan perlawanan sehingga pada tahun 1187 panglima Salahudin Al Ayubi dapat merebut kembali Baitul Maqdis. Pada tahun 1516 Masjid Baitul Maqdis dibawah pemerintahan Daulah Usmaniyah, sampai tahun 1918 dengan kekalahan Turki Usmaniyah pada perang dunia pertama. Pada tahun 1887 organisasi yahudi Zionis berkumpul di Basel, Swiss dan pada saat itu Theodore Hetzl berkata : Sesungguhnyas alas an kita berkumpul di tempat ini adalah untuk mencari tanah yang akan dijadikan sebuah Negara…kami diusir dan dibantai di setiap tempat, maka kami harus berkumpul di suatu tempat dan ditempat yang paling baik adalah negeri nenek moyang kami dahulu yaitu Jerussalem, dimana Haikal Sulaiman berdiri, karena menurut kitab taurat dan Talmud kami harus mendirikan haikal sulaiman kembali.Melalui tangan putra Daud kami akan memerintah dunia…rintangan terbesar untuk itu adalah daulah usmaniyah maka tugas kita adalah membujuk atau menghancurkan daulah usmaniyah tersebut “. Inilah keputusan mereka, sehingga kelompok Zionis merancang perang dunia pertama untuk menghancurkan daulah usmaniyah, disamping menyusun konspirasi dari dalam sehingga jatuhlah khilafah islam di turki dan digantikan dengan pemerintahan sekular oleh Mustafa Kamal atTaturk yang mengizinkan bumi palestina dimasuki kelbali oleh yahudi. Sejak itu maka bumi Palestine berada di bawah kuasa pemerintahan Inggeris. Pada waktu itu bangusa yahudi hanya mempunyai negeri tetapi belum mempunyai Negara, akhirnya dirancanglah perang dunia kedua sehingga melahirkan Persatuan Bangsa Bangsa, yang telah ditancang oleh kelompok Zionis untuk melahirkan Negara Israel. dan pada tahun 1948 dengan persetujuan PBB maka terbentuklah Negara Israel pada tahun 1948 di bumi palestina.

Dari sejarah singkat ini dapat dilihat bahwa sebenarnya bangsa yahudi memerintah bumi palestina hanya dalam masa 414 tahun sahaja ( 1000 - 586 SM ), sedangkan setelah itu negeri kan'an tersebut diperintah oleh bangsa lain yang berturut-turut dari penguasa Babylonia, penguasa Romawi, dan dibawah kerajaan islam yang memerintah selama 12 abad dan akhirnya pada baru pada tahun 1918 bumi palestina berada dibawah kuasa Inggeris, sehingga berdiri negara Israel pada tahun 1948. Dengan berdirinya Negara Israel tujuan mereka adalah mengembalikan kekuasaan Sulaiman yang telah berkuasa dari Jerussalem sampai Yaman (sebab ratu Balqis dari yaman ) dan dari negeri Irak sampai Mesir ( sebab yusuf pernah berkuasa di mesir ). Penguasaan Israel dari Jerusaklem sampai ke yaman, dan dari Iraq sampai ke Mesir inilah yang mereka sebut dengan Great Israel atau Israel Raya. Sebab itulah maka lambing Negara mereka adalah bintang daud ( David star ) yang bersegi enam. Untuk sebagai mencapai kekuasaan tersebut diperlukan uang , sehingga untuk itu mereka membuat lambing $ dalam mata uang dollars. Huruf S adalah symbol dari sulaiman, sedangkan garis dua adalah symbol daripada tiang haikal sulaiman. Berarti dengan dollars ( $ ) mereka akan membangun Haikal Suilaiman yang akan menjadi pusat pemerintahan dari Jerissalem sampai ke Yaman, dari Iraq sampai ke Mesir sebagaimana yang dilambangkan oleh bintang Daud. Oleh sebab itu perancangan meruntuhkan masjid al aqsha dan membangun Haikal Sulaiman merupakan cita-cita mereka sejak ribuan tahun yang lalu, dan bayangkan jika mereka berkuasa jangankan bumi palestina, tetapi Saudi Arabia, yaman, Iraq, iran, seluruh timur tengah akan berada dibawah kuasa mereka, apakah umat islam dapat tidur dengan nyenyak mendengar rencana ini semua..? Fa’tabiru ya ulil albab.

SIKAP ADIL


“ Adillah kamu karena itu lebih dekat kepada ketaqwaan “ ( QS. Al Maidah : 8 )

Sesudah peperangan Hunain berakhir dan para tawanan telah dikembalikan, ada beberapa sahabat berebut barang-barang rampasan perang sambil berkata berkata, "Wahai Rasulullah bagikanlah kepada kami harta rampasan perang”. Mereka berdesak sehingga mendorong Rasulullah sampai ke suatu pokok, dank arena saling berebut sehingga ada seorang sahabat yang mengambil baju Rasulullah, sehingga beliau berkata, "Kembalikanlah bajuku tersebut.. Demi Allah, andaikata aku mendapat bagian unta sebanyak pokok tihamah, pasti akan kubagikan kepadamu. Kamu tidak akan menemukan aku sebagai orang yang kikir, penakut, dan pembohong “. Kemudian beliau mendekati seekor unta lalu mengambil bulu dari unta tersebut, kemudian menjepitkannya di antara dua jari beliau lalu mengangkatnya keatas seraya berkata, "Wahai saudara-saudara sekalian..Demi Allah, tidak ada bagianku dari rampasan perang ini walaupun sehelai bulu ini kecuali seperlimanya, dan bagianku itupula akan kuberikan kepada kamu semua. Oleh karena itu, serahkanlah semua harta perang sampai kepada benang dan jarumnya, sesungguhnya menyembunyikan barang rampasan perang walaupun sedikit akan menjadi cela dan menjadi api serta menjadi aib pada hari kiamat." Kemudian datanglah seorang dari Anshar dengan membawa benang dari bulu dan berkata, " Ya Rasullullah, aku mengambil gumpalan benang ini untuk membuat tempat duduk di punggung untaku." Rasulullah SAW. berkata, " aku berikan kepadamu yang kuambil daripada bagianku" Orang itu menjawab : "Kalau demikian, maka aku tidak akan mengambilnya sambil meletakkan gumpalan itu Kisah diatas menggambarkan bagaimana adilnya nabi sebagai seorang pemimpin perang, sehingga dia tidak berani memberikan sehelai benangpun untuk diberikan dari pasukan dan beliau rela memberikan dari miliknya sendiri. Demikianlah nabi memberikan contoh kepada umat manusia bagaimana menjadi seorang pemimpin yang adil terutama dalam memakai kekayaan rakyat.

Dalam hadis nabi juga kita dapatkan sekian banyak pernyataan nabi tentang keadilan pemimpin seperti : “Setiap dari kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggungjawab atas tugasmu masing-masing “ ( riwayat Ahmad ) “ Tujuh orang yang akan mendapat perlindungan di hari akhirat nanti, pertama adalah Pemimpin yang adil…( riwayat Bukhari dan Muslim). “ Pemimpin yang adil adalah salah seorang dari tiga orang yang tidak akan ditolak doanya “ ( hadis riwayat Tirmidzi ) “ Orang yang adil akan mendapat minbar dari cahaya disisi Tuhan Yang Maha pemurah “ ( hadis riwayat Muslim dan nasai ) Keadilan seorang pemimpin merupakan ibadah sebagaimana sabda beliau “ Satu jam keadilan yang dilakukan oleh seorang pemimpin nilainya sama dengan ibadah enam puluh tahun “ ( riwayat Thabrani ). “ Satu jam kedzaliman lebih berat disisi Allah daripada kemaksiatan selama enam puluh tahun “ ( Isbahani ). “ Manusia yang paling dicintai Allah adalah pemimpin yang adil “ ( riwayat Tirmidzi ). Demikianlah pahala menjadi seorang pemimpn yang adil.

Malahan shalat dan ibadah seorang pejabat dan pemimpin akan digantung sebelum dia melakukan keadilan dalam memimpin sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan : “ Wahai manusia, sesunguhnya Allah tidak menerima shalat pemimpin yang dzalim ‘ (Hakim ). Dalam hadis yang lain juga disebutkan bahwa “ Barangssiapa yang meminta kekuasaan atas manusia ( seperti dengan pemilihan , atau kampanye ) dan dia mendapatkannya kemudian kedzalimannya mengalahkan keadilannya maka baginya neraka jahannam “ ( riwayat Abu daud ). “Tidak ada seseorang yang memimpin tiga orang atau lebih kecuali tangannya akan terbelenggu dan belenggu itu tidak akan dibukakan kecualid dengan keadilannya “ ( riwayat Ibnu Hibban ). “ Orang yang pertama masuk neraka adalah pemimpin yang memiliki kekayaan dan tidak menunaikan kewajibannya kepada Allah “ ( ibnu khuzaimah ) “Sesiapa yang mendapat kekuasaan kemudian tidak menjaga kekuasaan tersebut sebagaimana menjaga dirinya sendiri maka dia tidak mendapat waanginya surga “ ( riwayat Thabrani ). “Allah selalu bersama seorang pemimpin selama pemimpin itu tidak melakukan kedzaliman, jika dia berbuat kedzaliman, maka Allah akan meninggalkannya dan dia akan berada bersama syetan “ ( Tirmidzi ).“ Sesiapa yang mendapatkan kekuasaan tetapi tidak melihat dan peduli kepada keperluan rakyatnya maka Allah tidak akan melihat kepadanya ‘ ( Thabrani ). “ Barangsiapa yang diberi Allah kekuasaan tetapi dia menipu rakyatnya maka Allah haramkan dia daripada masuk ke dalam surga “ ( Bukhari Muslim ).“ Barangsiapa yang diberi kekuasaan dan tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dengan sebaik-baiknya maka dia tidak akan masuk ke dalam surga “ ( Muslim dan Thabrani ). “ Sesiapa pemimpin yang menutup pintunya daripada orang yang memerlukan pertolongannya , atau orang faqir dan miskin maka Allah akan menutup pintu langit daripadanya doanya“ ( Hakim ).

Seorang pemimpin juga akan diuji keadilannya dalam memilih pegawainya atau pembantunya sebagaimana dalam sebuah hadis “ Sesiapa yang memilih seseorang karena ta’asub sedangkan diantara mereka ada orang yang lebih layak untuk melakukannya maka dia telah mengkhianati allah , RasulNya dan orang yang beriman “ ( Hakim ). “Sesiapa yang memilih pemimpin karena kecintaan, sedangkan dia tidak layak untuk memimpin maka kutukan Allah akan datang kepadanya “ ( Hakim ). “ Abu Dzar bertanya kepada rasulullah : ya Rasulullah, mengapa baginda tidak memilihku untuk memegang sesuatu kekuasaan? Rasul memegang bahu Abu dzar sambil bersabda : “ Wahai abu dzar, sesungguhnya engkau ini lemah, sedangkan kekuasaan itu adalah amanah, dan amanah itu nanti pada hari kiamat itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat, kecuali orang yang mengambil amanat itu dengan menjalankan kewajiban-kewajibannya “( Muslim ). Hari ini, tambah hari, pejabat , pemimpin yang melakukan korupsi, kolusi bertambah setiap hari, dari pejabat tinggi, sampai pegawai rendah, padahal demikian berat ancaman bagi mereka yang tidak adil dengan memakai dan mempergunakan harta kekayaan negara, uang rakyat untuk kepentingan pribadi, semoga tulisan ini menggugah mereka untuk bersikap adil. Fa’tabiru ya Ulil albaab.


RISALAH RAMADHAN





KHUTBAH RASULULLAH SAW
MENYAMBUT RAMADHAN

Wahai Manusia…!
Sungguh bulan Allah ( ramadhan ) telah datang kepada kamu sekalian dengan membawa keberkatan, rahmat dan ampunan. Bulan itu adalah bulan yang paling mulia di sisi Allah. Siang harinya adalah hari yang paling utama. Malamnya adalah malam yang paling utama. Menit dan jam demi jamnya adalah masa yang paling utama. Pada bulan inilah kamu menjadi tetamu Allah dan kamu dimuliakan olehNya.
Pada bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal perbuatanmu akan diterima dan doa-doamu dikabulkan. Bermohonlah kepada Allah Rabb-mu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah Taala membimbingmu dalam melakukan puasa ( shiyam ) dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah di bulan yang agung ini. Dengan rasa lapar dan haus dalam ramadhan dimaksudkan agar engkau dapat membayangkan kelaparan dan kehausan di hari kiamat kelak.
Bersedekahlah kepada kaum faqir dan miskin. Muliakanlah orangtuamu, sayangilah orang yang lebih muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan matamu dari pada melihat sesuatu yang tidak halal bagi kamu untuk memandangnya. Kasihilah anak yatim niscaya manusia akan mengasihi anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tanganmu untuk berdoa pada waktu – waktu shalat karena itu adalah saat – saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba Nya dengan penuh kasih sayang.

DIA akan menjawab permintaan hamba-Nya di saat mereka berdoa kepada-Nya. DIA juga akan menyambut seruan ketika mereka memanggil-Nya dan DIA akan mengabulkan permintaan mereka di waktu mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai Manusia..!
Sesungguhnya dirimu tergadai karena amal perbuatanmu, maka bebaskanlah dirimu itu dengan istighfaar. Punggung-punggungmu berat menanggung beban dosamu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah..!
Allah Taala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa DIA tidak akan menyiksa orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul Alamin.

Wahai Manusia..! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang mukmin yang sedang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah, pemberian itu nilainya sama dengan membebaskan seorang hamba dan orang tersebut akan diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu. Sahabat-sahabat bertanya : Ya Rasulullah….! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian “. Rasululullah s.a.w. meneruskan ucapannya : “ Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air “.
Wahai Manusia…! Siapa yang menghias dirinya dengan akhlak yang baik selama di bulan ini, maka ia akan berhasil melewati shirat ( jembatan ) pada hari kiamat, dimana kaki-kaki akan tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan tangan kanannya (maksudnya pegawai atau pembantunya ) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekennya di bulan yang mulia ini, maka Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa dapat menyambung tali persaudaraan ( silaturrahim ) di bulan ini, maka Allah Taala akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya kelak.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya ganjaran pahala seperti melakukan tujuh puluh kali shalat fardhu di bulan yang lain.

Barangsiapa memperbanyak bacaan shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan sedang menjadi ringan.

Barangsiapa membaca satu ayat Al Quran di bulan ini, maka ganjaran pahalanya sama dengan mengkhatam Al Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia..! Sesungguhnya pintu-pintu surga telah dibukakan bagimu , maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya kembali untukmu.

Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonlah kepada Rabb-mu untuk pintu tersebut tidak pernah dibukakan untukmu.

Syetan-syetan terbelenggu, maka mintalah agar dia tidak dapat lagi menguasaimu.

Amirul mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaaahu wajhahuu ( semoga dimuliakan Allah akan wajahnya ) telah berkata : “ Aku berdiri dan bertanya kepada Rasul : Ya Rasulullah..! Amal apakah yang paling utama di bulan ini..? Nabi menjawab : “ Wahai Abal Hasan ( panggilan untuk Sayyidina Ali ) ketahuilah bahwa amal yang paling utama adalah menjaga diri dari sesuatu yang diharamkan Allah “.

Alhamdulillaahi rabbil aalamin.
Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam.







BENGKEL RAMADHAN
" pembersihan badan adalah puasa " ( Ibnu Majah )

Kalau kita membeli sebuah kenderaan, maka dalam buku panduan kenderaan pasti tertulis bahwa kenderaan tersebut dalam masa tertentu harus masuk bengkel untuk dilihat segala sesuatu yang berkaitan dengan kenderaan tersebut, apakah air baterenya perlu diisi lagi, olinya diganti, mesinnya di tune-up, bannya apakah perlu diganti, remnya , dan lain sebagainya, dan itu semua adalah bagian dari system pemeliharaan kenderaan sehingga kenderaan dapat berjalan dengan baik sepanjang masa. Jika hal itu diperlukan bagi sebuah kenderaan, demikian juga bagi kehidupan manusia, dan semua makhluk yang hidup. Hidup adalah bergerak, dan setiap yang bergerak diperlukan suatu system pemeliharaan sehingga kehidupan akan tetap berjalan dengan baik. Berarti dalam suatu kehidupan diperlukan sistem perawatan dan pemeliharaan, dan untuk bengkel kehidupan manusia dalam satu tahun itulah diperlukan bengkel ramadhan, untuk memperbaiki dan men-service seluruh anggota badan manusia, roh manusia, akal manusia dan emosi manusia, serta suku cadang manusia yang lain.

Jika kita memasuki bulan ramadhan, maka yang pertama kita lakukan adalah shalat taraweh. Shalat taraweh jika kita umpamakan dengan kenderaan adalah untuk mengisi air bateri agar batere tetap kuat dan dalam kondisi yang baik. Manusia mempunyai jiwa dan ruh. Jiwa dan ruh manusia adalah bagaikan sebuah batere. Jika batere perlu diisi ulang, sehingga kuat untuk menjalankan tugasnya sebagai bahan penggerak, demikian juga dengan jiwa dan ruh manusia. Pengisian ruh adalah dengan salat, itulah sebabnya rasulullah jika akan salat berkata kepada Bilal bin rabah, Yaa Bilaal, arihna bissalah…Wahai Bilal tenangkan jiwa kami dengan shalat. Berarti shalat adalah pengisian jiwa dan ruh agar tetap kuat. Untuk itu maka malam ramadhan pertama yang perlu diperrbaiki adalah ruh dan jiwa manusia dengan melakukan shalat taraweh baik itu delapan atau dua puluh rakaat. Sebaiknya kita tidak perlu bertengkar tentang bilangan rakaat, karena dalam ibadah shalat biasanya ada bilangan minimal danm maksimal. Jika dalam shalat duha minimal dua rakaat, maksimal delapan rakaat, dalam shalat witir minimal satu rakaat dan maksimal sebelas rakaat, tergantung kepada kemampuan dan keinginan kita untuk melaksanakannya, demikian juga dengan shalat taraweh, minimal delapan rakaat dan boleh juga duapuluh rakaat. Air bateripun demikian ada batas minimal dan batas maksimal dalam pengisiannya. Sepatutnya yang menjadi perhatian kita bukanlah bilangan, tetapi kualitas shalat taraweh yang dilakukan, apakah shalat tersebut sudah dapat menguatkan hubungan ruh dan jiwa kita kepada Allah taala. Oleh sebab itu lakukanlah shalat dengan penuh khusyu tanpa terburu-buru, sehingga shalat menjadi sebuah kenikmatan jiwa, kekuatan ruh bukan menjadi beban dan ajang pertengkaran.

Setelah shalat taraweh sebagai pengisian bateri kehidupan, maka kita melakukan tadarus al Quran, sebab menjadi tradisi nabi melakukan tadarus al quran bersama malaikat jibril sepanjang bulan ramadhan. Tadarus al Quran adalah untuk memperbaiki hati dan otak manusia. Hati manusia setelah dipakai selama setahun, kadang-kadang berkarat, untuk itu diperlukan sebuah proses pembersihan karat hati terlebih dahulu. Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda : " Sesungguhnya hati manusia itu dapat berkarat bagaikan besi yang berkarat ". Sahabat bertanya : Ya rasulullah, jika demikian apakah caranya untuk membersihkan karat hati tersebut ? ". rasulullah saw menjawab : " Karat hati itu hanya dapat dibersihkan dengan bacaan al Quran dan mengingat kematian ". ( hadis riwayat baihaqi ).

Sebagaimana dalam shalat sunat taraweh ada batas minimal, demikian juga dalam membaca Al Quran, maka untuk membersihkan hati diperlukan bacaan al quran walaupun dilakukan dengan membaca tanpa mengetahui makna. Tetapi lebih baik lagi jika membaca dengan getaran hati dan penghayatan akan makna yang terkandung di dalamnya, inilah maksud daripada kalimat " tadarus". Tadarus dari kalimat " tadarasa – yayatadaru- tadarusan " yang bermakna mempelajari sesuatu, berate tadarus al Quran adalah membaca, dan mempelajari ayat-ayat yang terkandung dalam al Quran. Jika dengan membaca saja sudah dapat membersihkan karatnya hati, maka dengan tadarus atau tadabur al quran kita dapat memasukkan informasi, pesan dari ayat-ayat al Quran ke dalam otak kanan kita, sebagaimana kita mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Tujuan dengan tadarus al Quran adalah memasukkan kembali pedoman hidup, informasi al quran ke dalam memori otak kita, sehingga dengan tadarus berarti membuang informasi yang salah tentang kehidupan seperti cara berpikir kapitalis, sekular, dan lain sebagainya, menjadi cara berpikir al quran. Jika dalam berpikir secular kita melihat bahwa dunia ini adalah kesenangan, maka berpikir al quran kita akan melihat bahwa dunia ini adalah ujian, demikian seterusnya. JIka kita bandingkan dengan kenderaan , maka tadarus al quran adalah bagaikan proses memperbaiki dan mentune-up mesin kenderaan sehingga mesin dapat berjalan dengan lebih baik.

Setelah tadarus, maka proses begkal ramadhan adalah sahur. Sahur secara bahasa adalah berjaga diwaktu malam. Makan sahur adalah proses penjagaan diri daripada keadaan lapar pada esok hari. Manusia berjaga di waktu malam juga diharapkan untuk melakukan shalat tahajud, bermunajat kepada Allah, dan memohon ampun kepadaNya, sebab dalam sebuah hadis : " Tuhan akan turun setiap malam ke langit pertama di sepertiga malam terakhir dan berfirman : Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku akan menjawabnya, Siapa yang meminta kepadaKu, Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu, Aku akan memberi ampunan kepadanya " ( riwayat Bukhari ).Dengan tahajud kita munajat, melaporkan rencana kerja kita untuk esok hari dan meminta persetujuanNya, rahmatNya, pertolongan dan perlindunganNya. dengan Allah. Proses sahur adalah proses penjagaan diri, dan jika dibandingkan dengan kenderaan adalah memperbaiki kaca spion, lampu tangan, dan lain sebagainya.

Setelah sahur , kita akan memasuki proses berpuasa dengan menahan diri daripada segala yang membatalkan puasa, dan menahan diri daripada keinginan dan nafsu. Inilah yang disebut dengan " imsak ", yaitu menaahan diri daripada yang membatalkan dan sesuatu yang dapat menghilangkan pahala puasa. Imsak kelas ekonomi, adalah menahan diri daripada makan dan minum dan yang membatalkan puasa. Imsak kelas eksekutif adalah bukan sahaja menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan pandangan, penglihatan, perkatan, tangan dan kaki dari segala tindakan tercela. Imsak kelas super eksekutif adalah menahan diri dari makan dan minum, dari perbuatan terscela dan juga menahan fokus perhatian dari segala sesuatu yang dapat melupakan Tuhan, sehinnga fokus segala perbuatan dan kehidupan adalah zkrullah, ibadah kepada Allah. Proses imsak ( manahan diri ) atau istilah yang dikenal dengan nama puasa ini jika kita umpamakan dengan kederaan masuk bengkel adalah memperbaiki rem baik itu rem belakang atau rem depan, sehingga pengemudi dapat mengawal diri dalam menjalankan kenderaannya. Inilah yang disebutkan nabi dalam hadis " al-Shaumu junnah", artinya "Puasa itu adalah benteng kehidupan ".

Setelah itu kita memasuki waktu berbuka puasa ( iftar ). Dengan berbuka puasa kita memasukkan energi ke dalam badan sehingga badan dapat berjalan dengan baik, demikian juga berbuka dimisalkan dengan memperbaiki " gas ', sehingga kenderaan dapat berjalan dengan baik. Seorang pakar kesehatan dari Amerika dalam buku " The Miracle of Fasting " berkata bahwa puasa tiga puluh hari dalam setahun itu dapat menghilangkan toksid yang terdapat di dalam tubuh manusia. Demikian juga dalam sebuah hadis disebutkan " , berpuasalah kamu maka kamu akan sehat " ( thabrani ) berati dengan puasa kita sedang memperbaiki kesehatan badan kita sehingga kita dapat berjalan dengan baik pada kehidupan mendatang.

Iftar juga bermakna kembali kepada fitrah yang suci, sehingga jika manusia menjalani proses ramadan dengan tetap menjaga kualitas taraweh, kualitas tadarus, kualitas sahur dan kualitas imsak, maka dia telah melakuakn sebuah proses penyucian diri ( iftar ) sehari demi sehari sampai satu bulan, sehingga setelah menjalani proses iftar selama sebulan, barulah proses iftar itu dapat menyucikan kehidupan secara totalitas, baik ruhnya, hati dan otaknya, emosi dan perbuatannya, sehingga pada akhir ramadhan kita akan menjadi manusia yang kembali kepada fitrah yang suci ( idul fitri ), sebagimana kenderaan dimasukkan ke dalam bengkel setelah proses beberapa hari maka kenderaan itu mempunyai kualiti lebih baik lagi seperti kenderaan yang baru. Selamat menjalani bengkel ramadhan. Fa'tabiru ya ulil albaab. ( Muhammad Arifin ismail ).





FADHILAT BULAN RAMADHAN

Ramadhan berasal dari kata bahasa Arab “ Ra – ma – dha “ yang bermakna “ Panas yang dapat membakar sesuatu “. Maka oleh karena itu, makna bulan ramadhan secara bahasa adalah bulan yang dapat membakar. Menurut para ulama bulan ramadhan berarti bulan yang dapat membakar dosa-dosa dengan melakukan ibadah puasa, menahan diri dari makan dan minum dan segala yangdapat membatalkan ibadah tersebut. Ada beberapa keutamaan bulan ramadhan :

1. Pada bulan ramadhan telah diturunkan semua kitab-kitab suci dan sahifah suci baik itu Sahifah Ibrahim, kitab suci Al Quran, Taurat, Injil dan Zabur. Menurut sebuah riwayat, Sahifah Ibrahim diturunkan pada awal ramadhan. Taurat diturunkan pada malam ke-enam ramadhan setelah 700 tahun dari sahifah Ibrahim. Kitab Zabur diturunkan kpada Nabi Daud pada malam ketiga belas ramadhan setelah 500 tahun dari turunnya Zabur. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa pada malam ke-delapan belas ramadhan setelah 1200 tahun diturunkannya kitab zabur. Kitab suci Al Qur an diturunkan pada malam ke-dua puluh tujuh ramadhan setelah 620 tahun dari turunnya Injil.

2. Rasulullah saw bersabda : “ Sekiranya ummatku mengetahui rahasia yang terkandung dalam bulan ramadhan, maka mereka berharap agar ramadhan itu berlaku untuk sepanjang tahun “. Para ulama menyatakan hal ini disebabkan bahwa pada bulan ramadhan tersebut seluruh kebaikan akan dikumpulkan, semua perbuatan yang dilaksanakan dengan ketaatan kepada Tuhan akan diterima, semua doa akan dikabulkan, dan semua dosa akan diampunkan, dan surga akan merindukan kedatangan mereka. Menurut Rasulullah saw dalam sebuah hadis menyatakan bahwa surga merindukan kedatangan empat jenis manusia yaitu mereka yang selalu membaca Al Quran di bulan ramadhan, mereka yang selalu menjaga lisan , mereka yang selalu memberi makan kepada orang yang lapar, dan mereka yang selalu berpuasa di dalam bulan ramadhan.

3. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa apabila terbitlah bulan sabit di awal ramadhan, maka berteriaklah Arsy, Kursi, dan seluruh malaikat beserta segala sesuatu yang berada di bawahnya, mengucapkan kata-kata yang bermakna : “ Kebaikan dan kemuliaan bagi umat Nabi Muhammad saw karena Allah Taala telah memberikan kemuliaan kepada mereka pada bulan ini”. Pada malam itu seluruh makhluk baik itu matahari, bulan, bintang-bintang , seluruh planet, burung-burung yang beterbangan di udara, ikan-ikan yang berada di dalam air dan seluruh makhluk yang bernyawa yang berada di atas permukaan dunia – kecuali syetan yang terkutuk - semuanya beristighfar, memohon agar Allah memberikan ampunan-Nya kepada mereka. Menjelang waktu subuh, maka Allah Taala menerima permintaan dan permohonan mereka itu semua, sehingga tidak ada seorangpun yang tidak mendapat ampunan-Nya. Kemudian Allah Taala berkata kepada malaikat : “ Jadikanlah dan tujukanlah seluruh ibadah shalat serta tasbih kalian pada bulan ramadhan ini untuk ummat Muhammad saw “.

4. Sayidina Umar bin Khattab r.a menceritakan bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “ Apabila seseorang kamu terbangun dari tidurnya di dalam bulan ramadhan, menggerakkan badannya yang masih berada di atas tempat tidur ke kiri dan ke kanan, maka tempat tidur itu akan berkata :

“ Apa yang sedang engkau lakukan ini..? Bangkitlah dari tidurmu, maka Allah Taala akan memberikan keberkatan-Nya , kasih sayang-Nya kepadamu “. Apabila dia berdiri untuk mendirikan shalat, maka tilam itupun berdoa : “ Ya Allah berikanlah kepadanya tilam yang tinggi “. Apabila dia memakai pakaiannya, maka pakaian itu berdoa : “ Ya Allah berikanlah kepadanya perhiasan surga”.

Apabila dia memakain alas kaki ( sliper ) maka alas kaki itupun berdoa : “ Ya Allah tetapkanlah kedua kakinya di atas shiraat ( jembatan ) di akhirat nanti “. Apabila dia mengangkat gayung untuk mengambil air wudhu’ maka gayung tersebut akan berdoa dan berkata: “ Ya Allah berikanlah kepadanya gayung surga “. Apabila dia mengambil wudhu’, maka air itu berkata : “ Ya Allah sucikanlah diri orang ini daripada dosa dan kesalahan“. Apabila bersiap untuk melaksanakan ibadah shalat , maka rumah tempat dimana dia shalat tersebut akan berdoa: “ Ya Allah lapangkanlah kuburannya , terangilah lobang kuburannya dengan cahaya, tambahkanlah rahmat baginya “. Allah subhana wa taala akan memandangnya dengan penuh rahmat dan sewaktu dia berdoa, maka Allah menjawab: “ Wahai hambaku.seaktu kamu berdoa ,maka Kami akan mengabulkannya. Kamu telah meminta sesuatu , maka Kami akan memberikannya. Kamu telah meminta ampun, maka Kami adalah yang memberi ampunan kepadamu sekalian “.

5. Menurut sebuah riwayat, Allah berkata kepada nabi Musa a.s. Aku telah memberikan dua cahaya bagi umat Muhammad agar mereka tidak mengalami kegelapan di dua tempat. Musa bertanya : ‘ Apakah kedua cahaya itu ya Tuhan ..? “. Allah taala menjawab : “ Nur Ramadhan dan Nur Al Quran “. Musa kembali bertanya : ‘ Apakah kedua kegelapan tersebut “. Allah taala menjawab : Kegelapan di dalam kuburan dan kegelapan di hari kiamat nanti “.

6. Anas bin Malik menceritakan bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam telah bersabda : ‘ Barangsiapa yang menghadiri majlis ilmu dalam bulan ramadhan, maka Allah akan menuliskan baginya pahala ibadah setahun bagi setiap langkah yang dilakukannya, dan nanti dia akan berada bersamaku di atas Arsy. Barangsiapa yang senantiasa melakukan shalat berjamaah di dalam ramadhan, maka setiap rakaat yang dilakukannya akan dibalas dengan satu buah kota yang penuh dengan nikmat Allah. Barangsiapa yang berbuat baik kepada kedua ibubapanya slama bulan ramadhan, maka dia akan mndapat pandangan kasih sayang daripada Allah subhana wa Taala, dan aku akan menjadi pelindung baginya di dalam surga. Jika seorang isteri berbuat sesuatu untuk mendapatkan ridha suaminya dalam bulan ramadhan, maka dia akan mendapat pahala Maryam (ibunda Nabi Musa) dan Asiah (istri Firaun yang tetap beriman ). Barangsiapa yang membantu hajat dan kesusahan seorang muslim yang lain di dalam bulan ramadhan, maka Allah akan membantu hajat dan keperluannya di hari kiamat “.

7. Rasulullah saw bersabda ; ‘ Apabila datanglah awal bulan ramadhan, maka syetan – syetan dan jin akan diikat dengan rantai, pintu neraka akan ditutup, pintu surga akan dibuka dan pada setiap malam dalam bulan ramadhan itu Allah subhana wa taala berkata tiga hal : (1) Adakah orang yang meminta sesuatu, maka Aku akan memberikan apa yang diminta olehnya (2) Adakah orang yang bertaubat kepada-KU, maka AKU akan menerima taubatnya (3) Adakah orang yang beristighfar kepada-KU, maka AKU akan memberi ampunan kepadanya .

8. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwasanya : “ Apabila tiba awal bulan ramadhan maka Allah Taala berkata : “ Siapa yang mencintai Kami, maka Kami akan mencintainya. Siapa yang meminta sesuatu kepada Kami, maka Kami akan memberi apa yang dipintanya. Siapa yang ber-istighfar kepada Kami, maka Kami akan memberi ampunan kepadanya, dengan berkat kemuliaan bulan ramadhan “. Kemudian Allah subhana wa taala menyuruh malaikat al-kiram al-katibin ( malaikat pencatat amal ) untuk mencatatkan kebaikan-kebaikan mereka dan tidak mencatatkan keburukan mereka serta menghapuskan segala kesalahan dan dosa-dosa mereka yang telah lalu.

9. Dalam riwayat lain disebutkan : “ Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan ramadhan, maka Allah Taala mengharamkan badannya dari siksa api neraka “.



FADHILAT BERPUASA

1. Puasa itu dapat mengendalikan dan mengatur nafsu syahwat. Rasulullah saw bersabda ; ‘ Wahai para pemuda, jika kamu telah mempunyai kemampuan maka laksanakanlah nikah, karena nikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu untuk nikah maka hendaklah melakukan puasa karena puasa itu merupakan pelindung “.

2. Rasulullah saw bersabda : “ Setiap amalan anak Adam itu adalah untuk diri mereka sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-KU dan AKU yang akan membalasnya “.

3. Diriwayatkan bahwasanya nabi Muhammad saw bersabda : “ Aku beri keistimewaaan bagi umatku dalam lima perkara. Pertama, jika datang awal ramadhan maka Allah Taala akan melihat mereka dengan penuh kasih sayang, dan barangsiapa yang dilihat oleh Allah dengan pandangan rahmah, maka dia tidak akan disiksa selamanya. Kedua, Allah Taala menyuruh malaikat untuk memintakan ampun bagi umatku. Ketiga, Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada minyak kesturi. Ke-empat, Allah taala berkata kepada surga : “ Berhiaslah kamu wahai surga untuk menyambut kebaikan hamba-hambaKu yang beriman. Mereka itulah yang akan menjadi wali-waliKU. Kelima, Allah Taala akan memberi ampunan-Nya kepada umatku sekalian.”.

4. Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala daripada Allah Taala, maka Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya “.

5. Jabir menceritakan bahwa rasulullah saw pernah bersabda : ‘ Jika datanglah malam terakhir dari bulan ramadhan, maka menangislah langit , bumi, dan seluruh malaikat karena melihat musibah yang datang kepada umat Muhammad “. Sahabat bertanya : Musibah apakah itu ya Rasulullah..Rasul menjawab : Musibah itu adalah dengan kepergian dan berakhirnya bulan ramadhan, sebab pada bulan tersebut segala doa dikabulkan; segala sedekah akan diterima, segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, dan setiap siksaan akan ditunda “. Musibah apakah yang lebih besar daripada musibah terputusnya dan berakhirnya segala sesuatu keutamaan tersebut…?


AMALAN RAMADHAN

1. Doa ketika melihat anak bulan di malam pertama ramadhan.

Rasulullah saw selalu berdoa setiap melihat anak bulan di awal malam ramadhan dengan ucapan : “ Wahai Tuhan yang telah menampakkan awal bulan kepada kami dengan aman dan iman, dengan selamat dan Islam..Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah..hilal (anak bulan ) yang benar dan baik “.

2. Berniat puasa pada malam hari.

Rasul bersabda : “ Barangsiapa tidak membulatkan niatnya untuk berpuasa sebelum fajar ( subuh ), maka tidak ada puasa baginya “.

Niat itu di dalam hati ; tetapi untuk menguatkan niat tersebut sebaiknya dilafadzkan dengan ucapan : Nawaitu shauma ghaadin an syahri ramadhaan ada’an lillahi taala ( Aku berniat untuk melakukan puasa bulan ramadhan esok hari karena Allah “

3. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dan yang membatalkan pahala berpuasa.

Ulama membagi puasa dalam tiga macam :
a. Puasa awam ( kelas biasa /bisnis) yaitu menahan diri dari makan, minum, dan melakukan hubungan kelamin.

b. Puasa khas ( kelas eksekutif ): yaitu puasa anggota badan dari segala larangan Tuhan dengan cara

(1) menjaga mata dari memandang yang dilarang agama.
(2) menjaga mulut dari pada dusta,
ghibah, fitnah, dan sumpah palsu.
(3)menjaga telinga daripada
mendengarkan suara yang tidak baik
(4) menjaga anggota tangan dan kaki dari
perbuatan yang buruk.dan menjaga perut dari makanan yang syubhat.
(5)tidak memasukkan makanan yang halal kedalam perut dengan berlebih-lebihan.

c. Puasa Khawasul khawas ( kelas Super eksekutif ): yaitu puasa orang-orang shaleh dengan menahan hati dan pikiran daripada keinginan duniawi.

Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan dan perbuatan yang buruk maka Allah tidak menghendaki dia untuk meninggalkan makan dan minumannya “ .

Anas bin Malik berkata bahwasanya rasulullah bersabda : “ Ada beberapa perkara yang dapat menggugurkan pahala berpuasa yaitu : Dusta, Ghibah, Namiimah (memfitnah) bersumpah palsu, dan memandang dengan pandangan penuh syahwat “.

Dalam hadis lain Rasul bersabda : “ Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapat apa-apa kecuali hanya lapar dan dahaga “.

Dalam hadis lain Rasul juga bersabda : ‘ Tidak ada tempat yang lebih dibenci oleh Allah melainkan daripada perut yang dipenuhi oleh makanan halal secara berlebih-lebihan “.

4. Bersegera sewaktu berbuka

Rasul bersabda : Alah berkata : ‘ Hamba yang paling AKU cintai adalah mereka yang bersegera dalam berbuka puasa “.

5. Berbuka dengan kurma atau air.

Rasul bersabda : “ Jika seseorang itu berbuka, maka berbukalah dengan kurma. Jika dia tidak mendapat kurma, maka berbukalah dengan air putih, karena dia itu adalah pembersih “.

6. Membaca doa sewaktu berbuka

Dalam hadis disebutkan : “ Bagi orang yang berpuasa ada doa yang tidak akan ditolak, yaitu ketika dia berbuka “. Apabila berbuka rasulullah berdoa : “ Allahumma laka sumtu wa alaa rizqika afthartu “ (Ya Allah hanya untuk Engkau aku berpuasa dan dengan rezeki–Mu aku berbuka)

“ Allahumma laka shumna, wa ala rizqika aftharnaa fataqabal minna innaka antas sami’ul alim “ (Ya Allah..hanya untuk-Mu kami berpuasa, dan dengan rezki-Mu kami berbuka, maka terimalah puasa kami sesungguhnya Engkau Maha mendengar dan Maha Mengetahui ).

7. Memberikan makanan berbuka kepada orang lain

Rasul bersabda : ‘ Barangsiapa memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala sama dengan orang yang berpuasa, sedangkan pahala orang yang berpuasa itu sendiri tidak berkurang sedikitpun “. ( Tirmidzi ).

8. Tadarus Al Qur an dan bersedekah

Dari Ibnu Abbas, rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan dan sikap kedermawanannya itu lebih besar lagi terlihat pada waktu bulan ramadhan ketika malaikat jibril menemuinya. Malaikat Jibril biasa menemuinya pada setiap malam Ramadhan, mengadakan tadarus al Qur an ( riwayat bukhari – muslim )

9. Melakukan shalat sunat di malam hari ( qiyamullail )

Rasul bersabda : “ Barangsiapa yang mendirikan ( shalat ) di bulan ramadhan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu “.

Shalat sunat tarawih adalah shalat sunat yang dilakukan setelah shalat isya di malam hari sebanyak 8 rakaat atau 20 rakaat. Kemudian di tutup dengan shalat witir sebanyak 3 rakaat. Shalat sunat tarawih ini boleh dilakukan perseorangan juga boleh dilakukan berjamaah.

10. Meng-akhirkan makan sahur.

Rasulullah saw bersabda : “ sahurlah kamu karena dalam makan sahur itu ada keberkahan “. Rasulullah saw ditanya berapa lama jarak antara makan sahur dan waktu mendirikan shalat ( subuh ). Rasul menjawab : “ Lima puluh ayat al Qur an “.

11. Beri’tikaf di masjid terutama pada sepuluh akhir ramadhan.

Rasulullah saw bersabda : “ Siapa yang akan beri’tikaf denganku maka hendaklah ia beri’tikaf pada sepuluh akhir ramadhan “ .

12. Memperbanyak ibadah di malam Lailatul Qadar.

Rasul bersabda : lailatul Qadar itu pada bulan ramadhan. Oleh sebab itu hendaklah kamu mencarinya pada sepuluh hari terakhir, karena ia terdapat pada hari-hari ganjil yaitu pada malam 21, atau 23 atau 25 atau 27 atau 29 atau malam terakhir



LAILATUL QADAR: Merebut Piala ramadhan

Jika seseorang itu sedang mengikuti sebuah pertandingan, maka dia akan selalu mengingat, bahwa kalau menang pasti akan mendapat piala ; sebagai bukti prestasi Piala yang akandiraihnya, merupakan bukti keunggulan prestasi dan kedudukan, dari piala tingkat kecamatan sampai piala dunia. Demikian juga dengan puasa ramadhan, di akhir pertandingan, pewerta ramadhan akan mendapatkan piala sebagai bukti prestasi puasa yang dilakukannya. Oleh sebab itu, setiap mendengar bulan ramadhan, pasti dalam pikiran kita teringat sebuah piala yang diperebutkan yaitu sebuah malam yang istimewa dikenal dengan malam Lailatul Qadar. Sebuah malam yang sangat istimewa, malam yang penuh dengan keberkatan, malam kemuliaan, malam yang lebih baik daripada seribu bulan, malam yang penuh dengan kesejahteraan sampai kepada terbit fajar, malam dimana turun malaikat dengan izin daripada-Nya, dan juga merupakan malam diturunkannya Kitab suci Al Quranil Karim dari Lauh Mahfudz di langit ke tujuh kepada Baitul Izza di langit pertama. Untuk mengekalkan kemuliaan malam tersebut, maka Allah Taala menerangkan tentang malam tersebut dalam kitab Suci Al Quran : “ Sesungguhnya telah Kami turunkan Al Quran pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apa itu malam Lailatul Qadar. Itulah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu malaikat turun dengan izin Allah untuk mengatur segala urrusan. Pada malam itu adalah malam yang penuh dengan kesejahteraan sampai kepada terbit fajar “ ( Surah Al qadar : 1 – 5 ). Dalam ayat yang lain juga disebutkan : “ Ha..Mim, dan Kitab yang nyata, Sesungguhnya Kami turunkan Al Quran pada malam yang penuh keberkatan “ ( Surah al Dukhan : 1-3 ). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa kitab yang diturunkan itu adalah kitab suci Al Quran yang diturunkan pada malam Lailatul Qadar dari Lauh Mahfudz ke Baitul Izza di langit yang pertama. Dari petikan ayat tersebut dapat kita lihat bahwasanya malam Lailatiu Qadar itu adalah suatu malam yang di dalamnya diturunkan kitab suci Al Quran secara keseluruhan. Kejadian ini terjadi hanya sekali, dan malam lailatul qadar yang terjadi setiap ramadhan adalah merupakan hari peringatan yang memiliki keistimewaan luar biasa. Malam lailatul qadar juga merupakan suatu malam di dalam malam-malam ramadhan dimana mempunyai keistimewaan sampai terbit fajar dan nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Mengenai kapan terjadinya malam lailatu Qadar itu, ada berbagai pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadar itu terjadi pada malam duapuluh tujuh ramadhan dengan landasan sebuah hadis : “ Siapapaun yang mengintainya, maka hendaklah mengintainya pada malam ke dua puluh tujuh “ ( hadis riwayat Ahmad dari Ibnu Umar ). Perintah Rasul untuk mengintai malam mulai tersebut pada malam duapuluh tukuh bukan suatu kepastian tetapi merupakan suatu kemungkinan. Sebab dalam hadis lain disebutkan bahwa Ubadah bin Samith berkata bahwa rasulullah telah memberitakan kepadaku tentang lailatul Qadar. Rasulullah bersabda : “ Lailatul qadar terjadi pada bulan ramadhan, dalam sepuluh malam terakhir. Malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dua puluh sembilan dan malam yang terakhir “ ( hadis riwayat Ahmad ). Malam lailatul Qadar itu mempunyai banyak keistimewaan yaitu : (1) malam diturunkannya kitab suci Al Quranul Karim (2) malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga menurut pendapat ulama nilai ibadah pada malam itu lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan (3) Pada malam itu malaikat jibril turun untuk mengatur segala urusan (4) Malam yang penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Disebabkan keistimewaan yang begitu hebatlah maka setiap muslim diberi Allah kesempatan untuk merebut peluang menjadi millioner pahala, dengan berjaga-jaga pada sepuluh akhir bulan ramadhan. Malam itu dapat diisi dengan amal ibadah kepada Allah baik itu shalat, membaca Al Quran, berzikir dan berdoa. Berzikir dengan makna melihat diri kita di masa lalu, dan melihat sejauh mana kita telah melaksanakan peintah Allah; mengadakan muhasabah, kemudian berdoa, dalam arti merancang masa depan yang lebih baik, empersiapkan diri untuk kehidupan tahun dpar. Oleh sebab itu lailatul Qadar juga disebut dngan malam merancang masa depan, malam kita mengajukan proposal hidup kepada Tuhan, dan malam keputusan Tuhan atas doa dan proposal kita. Jika doa dan proposal kita ajukan diterima dengan baik, dan Tuhan menyetujuinya maka hidup kita akan lebih baik sepeprti nilai hidup seribu bulan. Oleh sebab itu lailatul Qadar juga bermakna Malam Keputusan sebab di malam itu Tuhan memutuskan segala perkara untuk tahun yang akan datang sebagaimana makna ayat " malam itu malaikat turun untuk mengatur segala urusan dengan izin Tuhan " ( Surah al Qadar : 4).

Siti Aisyah pernah bertanya kepada nabi tentang doa apa yang baik dibaca pada malam tersebut.: wahai rasulullah bagaimana jika aku mengetahui bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar.? Rasulullah saw menjawab : ‘ Bacalah doa : Allahumma innaka afuwwun kariimun tuhibbul afwa fa’fu anni , ya Allah sesungguhnya Engkau ini Maha pemberi maaf dan Maha pemurah senang untuk memberikan maaf, maka maafkanlah dan ampunkanlah dosa-dosaku “. ( hadis riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan disahihkan oleh Tirmidzi ). Doa ini boleh dibaca, dan juga boleh ditambah dengan doa-doa yang lain yang sekiranya lebih sesuai dengan keperluan kita. Selain berdoa, kita boleh mengisi malam lailatul qadar dengan ibadah lain, baik itu shalat – shalat sunat seperti shalat tahajjud, shalat tasbih, shalat hajat, dan juga dengan berzikir membaca istighfar, astaghfirullahal adzim..memohon ampun atas segala dosa, membaca tasbih, subhanallah.., membaca tahmid, alhamdulillah, dan zikir-zikir lain sebagainya. Juga boleh diisi dengan membaca al quran secara tilawah, atau membaca Al Quran dengan tadabbur yaitu membaca ayat dengan arti dan makna yang terkandung di dalamnya , atau dengan mengadakan diskusi tentang makna yang terkandung di dalamnya. Paling tidak kita melakukan I’tikaf, mengadakan muhasabah diri.


Hal yang sangat penting adalah jangan sampai malam lailatul qadar lewat di depan kita sedangkan kita tidak melakukan apa –apa, ini sama dengan seseorang yang mendapat peluang menjadi millioner, tetapi dia tidak mau mengambil hadiah tersebut, maka orang ini adalah orang yang sangat rugi sebab tidak dapat mengambil kesempatan yang diberikan kepadanya. Agar malam Lailatul qadar itu tidak terlewat begitu saja, maka sudah sepatutnya kita berjaga-jaga sejak dari malam duapuluh satu sampai akhir ramadhan. Itulah sebabnya Rasulullah saw sendiri selalu berjaga-jaga dalam malam sepuluh akhir ramadhan. Dalam sebuah hadis juga disebutkan bahwa : “ barangsiapa yang beribadat pada malam Lailatul qadar dengan penuh iman dan mengharapkan keridhaan Allah maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya “ ( hadis riwayat Bukhari Muslim ).

Dalam menghadapi malam Lailatul Qadar, rasulullah bukan saja bangun berjaga-jaga dengan melakukan ibadah tetapi juga membangunkan keluarganya , isteri dan anak-anaknya agar sama-sama berjaga-jaga untuk mendapatkan keistimewaan malam tersebut. Dalam sebuah hadis disebutkan ; “ Ketika telah masuk malam sepuluh ramadhan terakhir, maka nabi Muhammad saw menghidupkan malam tersebut dengan membangunkan keluarganya serta mengencangkan sarungnya “ ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ). Hadis yang lain juga sama menyebutkan ; ‘ rasulullah membangunkan keluarganya dan menyingsingkan sarungnya “ ( hadis riwayat Tirmidzi dan Ali bin Abi Thalib ). Yang dimaksdu dengan menyingsingkan sarungnya, atau mengencangkan sarungnya adalah rasulullah saw selama malam terakhir tersebut sibuk beribadah, sehingga beliau tidak menggauli isterinya , walaupun pada malam hari. Barrti selama malam sepuluh tersebut, baik nabi maupu isterinya semua sibuk beribadah kepada Allah.

Dari keterangan diatas dapat juga kita ambil pelajaran bahwa pada malam sepuluh terakhir, baik itusuami , isteri, anak-anak, sepatutnya disibukkan dengan ibadah seperti shalat, zikir, membaca al quran dan lain sebagainya. Janga sampai terjadi seperti budaya sekarang ini, dimana pada malam sepuluh ramadhan, apalagi malam-malam akhir ramadhan, suami isteri dan anak-anak bukan diajak beribadah, tetapi diajak shoping untuk membeli keperluan hari raya. Ada lagi sekelompok orang kalau malam sepuluh akhir, ayah sibuk urus kartu lebaran, isteri sibuk urus kue lebaran, dan anak-anak sibuk urus mercon, petasan, kembang api dan beli lilin. Padahal nabi Muhammad pada malam sepuluh terakhir, bergaul dengan isteri saja sudah tidak sempat lagi, apalagi yang lain. Tapi kita sekarang, sibuk yang lain, sibuk shoping, sibuk ini dan itu sampai ibadah pun tak sempat lagi, kecuali yang wajib-wajib saja, apalagi untuk itikaf dan muhasabah.

Ada beberapa tanda yang terjadi pada malam lailatul qadar. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa “ Matahari pada pagi harinya terbit berwarna putih, tidak bercahaya “ ( hadis riwayat muslim ). Dari hadis ini dapat kita simpulkan bahwa jika malam itu adalah malam Lailatul qadar, maka matahari yang terbit pada keesokan harinya akan terbit dengan warna yang pudar, tidak bercahaya. Dalam hadis yang lain juga disebutkan ; “ Terang dan lapang, tidak panas dan tidak sejuk, matahari terbit pada pagi harinya tanpa cahaya “ . Tanda-tanda ini sembagaimana tersebut dalam hadis adalah tanda setelah terjadinya Lailatul Qadar, bukan sebelumnya. Tanda tersebut juga membuktikan bahwa lailatul qadar bukanlah suatu dongengan belaka, teapi sesuatu yang telah terjadi. Oleh sebab itu tanda yang ada adalah tandasetelah terjadinya malam lailatul qadar, bukan sebelumnya. Sehingga dengan demikian kita akan berjaga-jaga setiap malam, karena kita tidak tahu apakah besok hari matahari akan terbit sebagaimana yang dinyatakan dalam tanda tersebut.

Malam lailatul qadar itu juga merupakan sebuah motivasi, sebab dengan adanya malam Lailatul Qadar, umat islam bertambah akhir ke ujung ramadhan akan bertambah giat melakukan ibadah , sebab sebagai muslim hari ini harus lebih baik daripada hari yang lalu. Jika tidak ada malam lailatul qadar, boleh jadi kita hanya semangat puasa dan tarawih di malam-malam pertama saja, dan tambah akhir tambah malas, sebab tidak ada yang dicari dan direbut. Bagaikan orang yang lomba lari, maka piala biasanya disediakan di garis finish, demikian juga ramadhan, piala ramadhan berupa lailatul qadar disediakan di garis finish, sehingga kita tambah lama tambah berpacu dengan ibadah. Lailatul Qadar di hadapan kita, siapa yang cepat dan taqwa dia yang akan dapat..mari berpacu merebut piala Lailatul qadar, yang bernilai lebih baik daripada seribu bulan. Belum tentu kesempatan ini kita dapatkan di tahun mendatang.. mari berlomba merebut piala dan pahala. " lailatul qadar ", sekaligus mendapatkan surat keputusan hidup untuk tahuun mendatang sehingga hidup kita lebih baik dari seribu bulan. Fastabiqul khairaat..!