Pages

Tuesday, January 25, 2011

SIRR ( RAHASIA )

SIRR ( RAHASIA/SEMBUNYI)

Makna Sirr adalah rahasia, tetapi sirr dalam ibadah maksudnya adalah mengadakan hubungan dan bertaqarrub kepada Allah dengan rahasia (tanpa diketahui oleh orang ramai ) dan juga Allah akan menghubungkan diri kepada hambanya dengan secara rahasia ( sirr ).

Hal ini berlandaskan kepada ayat suci Al Quran :

" Dan Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan Aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak (pula) Aku mengatakan: "Bahwa Sesungguhnya Aku adalah malaikat", dan tidak juga Aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka". Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; Sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim ( Surah Hud /11 : 31 ).

Ulama menafsirkan maksud ayat " Allah lebih mengetahui apa yang ada pada dalam diri mereka ", maksudnya adalah Allah mengetahui segala apa saja yang ada dalam diri mereka , baik itu yang mereka rahasiakan ataupun yang tidak mereka rahasiakan.

Dalam sebuah hadis bahwa Saad bin Abi Waqqas ditanya oleh anaknya : wahai ayah, mengapa ayah berada disini, sedangkan orang ramai sedang sibuk berselisih mengenai kepemimpinan umat dan khilafah ?". Saad bin Abi waqqas menjawab : " Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : " Sesungguhnya Allah menyukai hambaNya yang bertaqwa, kaya dan sembunyi-sembunyi (tentang keadaan dirinya )".

Demikian juga dalam hadis yang lain disebutkan :
Berapa banyak orang rambutnya pakaian dan rambutnya berdebu, tertolak di depan pintu , tidak dipedulikan manusia tetapi jika dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan segera mengabulkannya ". Hadis ini menyatakan bahwa keadaan seorang mansuia yang tidak dikenal, tetapi dia mempunyai hubungan rahasia dengan Tuhan, sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaannya dengan segera.

Pada suatu hari seorang sahabat berjalan di depan sahabat yang lain, maka rasulullah bertanya kepada sahabat-sahabat beliau : " Apakah komen kamu semua terhadap orang itu ? Sahabat-sahabat nabi segera menjawab : " Dia itu orang yang baik dan pantas. Jika dia memnita syafaat, pastilah diberi; dan jika dia mengajukan lamaran untuk menikah , pastilah dia akan diterima; dan jika dia berkata, pastilah didengar orang perkataannya ". Tak lama kemudian berjalanlah di depan sahabat nabi tersebut seorang sahabayt yang lain, dan nabi segera bertanya kepada sahabat-sahabatnya : "Bagaimana pula komen kalian kepada orang itu ? ". Sahabat-sahabat menjawab ; Dia itu orang yang biasa-biasa saja, jika dia meminta syafaat , maka dia itu tidak layak mendapatkan pertolongan, dan jika dia itu mengajukan lamaran, maka dia akan ditolak, dan jika dia berkata-kata, maka perkataannya tidak layak untuk didengar ". Mendengar komen sahabat beliau, rasulullah bersabda : " Orang ini lebih baik daripada isi dunia semuanya ".



Orang yang memiliki rahasisa (sirr ) ini terbagi dalam tiga kelompok :

Kelompok pertama adalah golongan yang mempunyai hasrat yang tinggi, tujuan yang bersih, dengan perjalanan yang benar, tidak berhenti pada suatu bentuk, dan tidak mengkaitkan kepada sesuatu nama dan mereka tidak dianggap oleh manusia . Merekalah simpanan-simpanan Allah.

Mereka mempunyai hasrat yang tinggi, maksudnya bahwa mereka tidak mempunyai keinginan dan hasrat kecuali hanya untuk Allah semata-mata. Keinginan mereka, hanyalah mencari keridhaan Allah, kegembiraan mereka hanyalah bersama allah, kecintaan mereka adalah berjumpa dengan Allah Hasrat mereka ini tidak boleh dikotori dengan keinginan diri, keinginan nafsu, keinginan materi, keinginan dunia, sebab segala sesuatu hanyalah untuk Allah.

Tujuan yang bersih maksudnya tujuan amal perbuatan dan ibadah mereka hanyalah Allah, matlamat hidup hanyalah Allah; tujuan mereka hanyalah penghambaan kepada allah, melaksanakan perintah Allah, mencari keridhaan Allah; tidak ada dalam hatinya tujuan keduniaan atau tujuan hawa nafsu, semuanya hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah.

Perjalanan yang benar, maksudnya dalam melaksanakan perintah Allah, dalam beribadah kepada allah semuanya dilaksanakan dengan cara yang benar sesuai dengan yang dicontohkan dan diarahkan oleh Rasulullah. Ibnu Qayim dalam menjelaskan perjalanan yang benar menyatakan ada tiga cara :
a. Harus berada di jalan yang dilalui oleh Rasulullah, bukan jalan yang dibuat-buat oleh mansuia.
b. Berjalan yang benar bermaksud tidak memenuhi panggilan-pangilan yang bathil dan panggilan yang membuatnya harus menghentikan perjalanan.
c. Berjalan yang benar, juga bermakna bahwa dalam perjalanan itu harus melihat kepada tujuan, sehingga tidak salah arah.

Tidak berhenti pada suatu bentuk maksudnya, bahwa perjalanan itu tidak akan berhenti, sebelum mencapai tujuan , mencari ridha Allah. Perjalanan itu tidak berhenti disebabkan oleh orang ramai, atau oleh orang lain.
Perjalanan ibadah juga tidak dikaitkan dengan suatu nama, sebab ibadah dilakukan karena Allah, dengan mengikuti sunnah Rasul, bukan karena nama tertentu, atau kelompok tertentu, atau sebab tertentu.

Tidak dikenal oleh manusia, maksudnya adalah menjadi kebiasaan mereka menyembunyikan amal ibadahnya, sehingga orang lain tidak mengetahui ketekunan ibadahnya , sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis : " Setiap orang yang beramal mempunyai ketekunan, dan setiap ketekunan mempunyai waktu rehat. Jika dia benar-benar beramal dan bertaqarrub, maka engkau boleh berharap kepadanya, dan jika dia dalam beramal ibadah menginginkan tunjuk jari orang kepadanya , maka janganlah kamu menganggap sedikitpun kepadanya ". Sewaktu ditanya kepada nabi, apa maksud orang yang ingin ditunjuk dengan jari , nabi menjawab : Itulah orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama dan yang berbuat kerusakan dengan dunianya ".


Golongan kedua adalah golongan yang mempunyai kalimat-kalimat yang diucapkannya dengan pemahaman yang berkaitan dengan Allah, sedangkan mansuia akan memahaminya dengan pemahaman yang berlainan dengan pemahaman orang tersebut. Contohnya adalah :jika mereka berkata : " Aku adalah kaya ", maksudnya bahwa kaya itu adalah kaya dengan Allah, cukup dengan Allah; sedangkan orang lain memahami makna kaya itu adalah kekayaan dunia. Orang ini akan selalu menjaga adab-adab seperti tawadhu, dan menjaga maruah, sehingga mereka terpelihara daripada sangkaan orang ramai. Jika mereka bersama orang ramai, maka dia akan memakai bahasa orang ramai, tanpa memperlihatkan kelebihannya daripada orang ramai, dan mereka tidak akan berbicara dengan manusia dengan bahasa yang asing, atau yang tidak dapat dipahami. Orang menyangkan mereka manusia biasa walaupun sebenarnya merwka manusia yang lebih daripada biasa. Dalam hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwasanya nabi isa berkata kepada : " Apabila kamu sedang berpuasa, maka beri minyaklah rambutmu, dan sapulah (basahkanlah) kedua bibirmu, sehingga jika engkau keluar kepada orang ramai, nanti orang akan berkata bahwasanya dia itu tidak berpuasa ".

Kelompok yang ketiga adalah kelompok yang kelompok yang sibuk beribadah kepada Allah, sibuk berbuat baik kepada orang lain,, tetapi Allah menyembunyikan amal ibadahnya, dan kebaikannya, sehingga tidak ada manusia yang nampak kebaikannya, hanya Allah sahaja yang mengatahuinya. Mereka ini tidak akan hina walaupun manusia menghinanya, sebab tujuan mereka adalah hnya Allah bukan manusia.

Contoh manusia yang disembunyikan Allah daripada mansuia yang lain adalah Uwais al Qarni. Pada suatu hari Rasulullah saw bersabda kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib : " wahai umar dan ali, pada suatu hari nanti apabila kamu berjumpa dengan orang yang bernama Uwais al qarni, maka mintalah agar dia mendoakan agar kamu mendapat ampunan Allah, sebab dia adalah orang yang dimakbulkan Allah setiap doanya ". Wahai umar dan ali, Uwais al Qarni itu mempunyai rambut yang merah, jauh jarak antara kedua bahunya, sederhana tingginya, berkulit hitam campur putih, senantiasa merapatkan dagunya ke dadanya,(selalu menunduk), tangan kanannya diletakkan diatas tangan kirinya, senantiasa membaca al Quran,. Dia mempunyai kain buruk daripada bulu, dia tidak dikenal oleh manusia di muka bumi, tetapi terkenal di atas langit ".

Selama sepuluh tahun, Umar dan Ali mencari orang yang disifatkan oleh rasulullah, sehingga pada suatru musim haji, datanglah kabilah dari yaman. Ali bertanya kepada pengetua kabilah : " Apakah tidak ada lagi orang dalam kabilahntuan ? ". Pengetahua kabilah berkata : " ada seorang pemuda yang tidak terkenal, pengembala kambing, pakaiannya buruk, dia kami beri upah satu dirham ". Ali bertanya : apakah orang itu mempunyai sifat-sifat mempunyai rambut pirang, selalu menundukkan kepala..?". Pengetua kabilah membenarkan segala sifat tersebut.". Ali dan Umar segera bertanya dimana pemuda tersebut, dan mereka berlomba untuk mendapatkannya. Sampai mereka di jabal Qubais, terlihat seorang pemuda pengembala kambing, Ali dan Umar segera memberi salam : dan setelah salam itu dijawab oleh pemuda, Ali dan Umar bertanya : Siapakah tuan ini? Pemuda menjawab : Saya adalah pengembala dengan menerima upah ". Umar tanya lagi ; Siapakah nama anda ? Pemuda menjawab : saya adalah hamba Allah. Umar menjawab : Kami tahu dibumi ini semua hamba allah, tetapi siapakah nama tuan ? ".
Pemuda menjawab : apakah maksud tuan menanyakan nama saya ?" Akhirnya Ali dan Umar menceritakan hadis rasulullah, dan sifat-sifat itu ada pada diri tuan.
Ali dan Umar segera memintakan doa kepada pemuda itu : Saya tidak pernah mengkhususkan doa kepada seseorang, saya hanya mendoakan untuk seluruh kaum muslimin dan muslimat ". Pemuda itu bertanya : Siapakah anda berdua? Ali menjawab : Ini adalah Umar, amirul mukminin, dan saya adalah Ali. Mendengar itu, pemuda tadi memberi salam kepada amirul mukminin dan ali . Umar berkata : Wahai Uwais, ajarilah kami ". Uwais menjawab : tuntutlah rahmat Allah ketika melaksanakan ketaatan kepadanya dan berharaplah tuan dicelah-celah amal tersebut". Ali berkaya : " wahai Uwais, rasulullah pernah bersabda : " Uwais adalah semulia-mulia tabi'in ", maka bagaimanakah engkau dapat menggembirakan nabi? ". Uwais menjawab : Wahai Ali, tuan telah beroleh nikmat bersahabat dengan nabi, tuan bahagia dapat melihat nabi, sedangkan saya hanya melihat nabi dengan mata hati. Nabi adalah cahaya yang memancar memenuhi alam dan menjalar kepada seklain yang ada, saya lihat Rasulullah kepalanya sampai ke arsy, dan kakinya di bawah biumi yang ketujuh ".

Khalifah Umar bertanya ; " bagaimana keadaan engkau wahai Uwais ? Uwais menjawab : " Bagaimana seorang lelaki ketika pada pagi hari dia mengira tidak akan sampai pada petang hari, dan jika hari petang maka dia mengira tidak sampai pada pagi hari ".

Umar bertanya lagi : " bagaimana engkau dapat mencapai kedudukan yangb mulia sebagaiman disebutkan oleh rasululah ? ". Uwais menjawab : " Saya hidup dengan takut kepada Allah , dan jika seseorang sudah takut kepada Tuhan maka dia akan takut berbuat dosa sekecil apapun juga ".

Umar memberikan pakaian dan belanja kepada Uwais, tetapi Uwais menolak dan berkata : " Apa gunanya pakaian dan benja ini buat saya. Bukankah tuan melihat, pakaian saya dari bulu, apakah dia akan habis? Pekerjaan saya mengembala kambing dengan upah empat dirham, cuba tuan kira berapa lama saya memakan uang yang empat dirham itu, sedangkan di depan saya dan di depan tuan banyak rintangan yang sukar untuk dilalui, oleh sebab itu wahai Umar tinggalkanlah dunia ini, takutlah akan suatu hari dimana tidak berguna harta dan anak ".

Uwais akan pergi, Ali memegang tangannya, dan berkata : kami dating hendak berbicara dengan tuan, mengapa tuan pergi? Uwais menjawab : " Aneh sekali tuan Ali, saya kira tidak seorangpun yang mengenal tuhannya akan merasa senang dan tenteram dengan selain daripada Tuhannya ". Setelah berkata demikian, dia berlari dengan kencang meninggalkan Ali dan Umar.

Demikianlah contoh manusia "sirr", Uwais al Qarni yang lebih senang mendengarkan kalam Tuhan daripada ucapan mansuia, dan selalu berusaha berhubungan dengan Tuhan secara bersendirian, sembunyi-sembunyi, sehingga manusia tidak mengenalnya, tetapi alah mengenalnya. Di akhir hayatnya, Uwais meninggal sebagai syahid dalam peperangan antara umat islam dngan pasukan Romawi, gugur sebagai syuhada.Wallahu A'lam ( muhammad Arifin ismail , 15 rabiul awal 1427/3April2007)

4 comments:

  1. Salam tuan terdapat kesilapan perkataan sepatutnya 'tetapi Allah mengenalinya 'di akhir article,maaf ya

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah ada penjelasan yang baik

    ReplyDelete