Pages

Sunday, August 29, 2010

IJAZAH RAMADHAN

IJAZAH RAMADHAN
" Puasa adalah milikKU dan AKU akan membalasnya " ( Hadis riwayat Bukhari )

Ka'ab bin Ujzah menceritakan bahwa pada suatu hari nabi Muhammad saw memerintahkan seluruh sahabat untuk hadir ke masjid, dan tak lama kemudian nabi naik ke atas mimbar. Pada waktu nabi Muhammad saw naik satu anak tangga, maka beliau berhenti sejenak dan berkata " Amien ", setelah itu beliau naik ke anak angga kedua dan berhenti sejenak sambil berkata "Amien "; dan selanjutnya beliau naik ke anak tangga ketiga dan berhenti sejenak mengucapkan kalimat "Amien". Setelah nabi selesai berkhutbah, dan turun dari mimbar, maka sahabat datang bertanya : Ya rasulullah, tadi kami mendengar engkau mengucapkan sesuatu yang kami tidak pernah dengar sebelumnya. Nabi Muhammad saw menjawab : Benar, sesungguhnya tadi telah datang malaikat Jibril dan berkata kepadaku : Celakalah orang yang mendapat kesempatan bulan ramadhan tetapi tidak mendapat ampunan Tuhan, maka aku mengatakan : Amien. Sewaktu naik ke anak tangga kedua, malaikat Jibril berkata lagi : Celakalah orang yang menyebut namamu ( nama nabi Muhammad ) tetapi tidak menyambung ucapannya dengan shalawat kepadamu. Aku menjawab : Amien. Sewaktu aku naik ke atas tangga ketiga, Jibril berkata lagi : Celakalah orang yang mempunyai kedua orangtua yang telah renta atau mempunyai salah seorang dari kedua orangtuanya, tetapi kesempatan itu tidak dapat membuat dia masuk ke dalam surga. Aku menjawab : Amien. Demikianlah tiga hal yang dinyatakan oleh Jibril kepada nabi, dan nabi mengucapkan Amien , artinya nabi setuju dengan ketiga hal tersebut. Hadis ini diriwayatkan oleh Al hakim, dan merupakan hadis sahih.

Dari tiga hal tersebut, pertama nabi nyatakan bahwa celaka orang yang mendapatkan kesempatan berada dalam bulan ramadhan tetapi tidak mendapatkan ampunan Allah. Mengapa demikian? Sebab bulan ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan, yang Allah berikan sejak pada awal puasa sampai akhir ramadhan. Allah memberikan kesempatan untuk mendapatkan ampunanNya bagi siapa saja yang berpuasa dngan penuh iman dan perhitungan di bulan ramadhan; tetapi orang itu sebab tidak dapat menjaga puasanya maka ampunan tersebut tidak didapatkan. Seperti orang yang sedang lewat di pasar yang sedang jual murah dengan potongan harga yang besar, tetapi orang itu tidak membeli barang yang diinginkannya di pasar yang ada potongan tetapi malah mencari ke pasar lain yang tidak menjualnya au membeli barang yang diinginkan dengan harga yang tingi di pasar yang lain; maka orang itu adalah orang yang rugi dan bodoh. Rugi karena sepatutnya dia dapat harga murah tetapi dia tidak pergunakan kesempatan itu. Demikianlah juga dengan kesempatan ramadhan yang begitu mulia tetapi disia-siakan, padahal kesempatan tu tidak datang kecuali setahun mendatang. Di akhir ramadhan ini marilah kita lihat diri kita, apakah kita layak mendapat ampunan Allah dengan ramadhan yang kita jalani, atau malah kita menjadi orang yang rugi, sebab ramadhan telah rusak dan ampunan Allah luput dan terlepas.

Banyak orang sebelum masuk ramadhan bersiap untuk ramadhan , sehingga pada malam satu ramadhan setiap masjid penuh; tetapi sangat kita sayangkan di akhir ramadhan kita banyak yang lengah dan lalai. Seperti orang yang sedang mengikuti lomba lari, pada waktu mulai berlomba, di garis "start ", siap menghadapi lawan, berlari dengan kencang, tetapi sewaktu di tengah dan di akhir, malah bukan berlari kencang, tetapi berjalan santai, tengok sana, tengok sini, terlena oleh pemandangan, sehingga sewaktu orang sudah masuk garis" finish ", dia masih tengok sana sini. Demikian juga pada waktu awal ramadhan, semangat beribadah begitu tinggi; tetapi di akhir ramadhan yang seharusnya lebih tinggi lagi sebab ada bonus "lailatul qadar ", dan ada suasana "itikaf :, tetapi banyak umat islam malahan terlena oleh persiapan harui raya, sibuk berbelanja ke shoping complek, sehingga suasana ibadah berubah menjadi suasana belanja; dan hari raya yang seharusnya merupakan suasana ibadah, manjadi suasana pesta , hariraya adalah hari silaturahmi saling memaafkan menjadi suasana pamer kemewahan dan riya.

Dalam sebuah hadis dari Abi Umamah menyebutkan bahwa nabi Muhammad saw bersabda : Barangsiapa yang mendirikan malam hari raya dengan penuh perhitungan maka hatinya tidak akanmati pada hari dimana hati-hati manusia akan mati ". Haddis riwayat Ibnu Majah. Dalam hadis lain yang diceritakan oleh Muadz bin Jabal disebutkan : " Barangsiapa yang menghidupkan malam yang lima yaitu malam "tarwiyah " (malam ke dkedelapan dari bulan Dzulhijjah), malam arafah ( malam kesembilan Dzul Hijjah ), malam idul adha, malam idul fitri, dan malam nisfu syaban (malam lima belas sya'ban ), maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga . Hadis riwayat Isfahan. Dalam hadis lain yang disampaikan oleh Ubadah bin samith disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda : "Barangsiapa yang menghidupkan malam idul fitri dan malam idul adha, maka hatinya tidak akan mati dimana hati manusia akan mati ".

Dari hadis tersebut dapat kita simpulkan bahwa malam idul fitri adalah malam untuk bermuhasabah, menilai diri bagaimana menghadapi tahun yang akan datang. Malam idul fitri juga malam untuk bertasbih, bertakbir dan berzikir, sebagai kesiapan diri memasuki hari-hari mendatangh dengan semangat zikir. Kita hadapi masa depan dengan semanat Allahu Akbar, merasakan keagungan Allah dalam menghadapi apa saja, sehingga kita tidak pernah takut terhadap situasi apapun. Dengan semangat takbir, kita masuki hari dan malam dengan kalimat " La ilaaha illallah ", Tiada Tuhan selain Allah. Berarti kita berjalan di bawah kalimat syahadat, kita bekerja, berniaga, berkarier, berkeluarga, bertetangga, bernegara, semuanya kita lakukan dengan konsep syahadat, dengan mengikuti peraturan dan nilai-nilai yang telah Allah tetapkan. Kita hadapi hari-hari mendatang dengan aucapan " Wa lillahilhamd ", berarti kita mengakui bahwa semua nikmat yang kita dapatkan semuanya daripada Allah dan harus kita pergunakan sesuai dengan perintah Allah, sehingga kita akan mendapat nikmat yang lebih banyak lagi. Takbir, tahlil dan tahmid inilah yang menjadi falsafah hidup seorang yang suci , seorang yang fitri untuk menghadapi segala tantangan kehidupan di hari-hari mendtaang. Inilah makna takbir yang kita kumandangkan adi akhir ramadhan. Kita lepaskan ramadhan dengan sambutan takbir, tahlil dan tahmid, bukan dengan sambutan pesta, mercon, petasan, kembang api, dan hiburan yang hanya mengikuti selera nafsu dan materi. Dalam ramadhan kita dilatih menjadi manusia yang dapat mengekang nafsu dan emosi, sehingga jika kita lulus, maka pasti di akhir ramadhan kita menjadi manusia suci, yang dimanifestasikan dalam ucapan takbir di malam lebaran.

Di pagi lebaran, kita bersiap untuk menghadap Tuhan, bersimpuh, bersyukur, bersujud, siap menerima ijazah ramadhan sebagaimana dalam sebuah hadis : " Maka apabila datanglah malam hari raya itulah malam mendapat hadiah, sebab di pagi hari raya Allah mengutus malaikat ke seluruh negei, turun ke bumi, berdiri disetiap simpang jalan sambil berteriak dengan suara yang keras yang didengar oleh semua makhluk keciuali jin dan manusia, mereka malaikat itu berkata : " Wahai umat Muhammad, segeralah kamu keluar ke tempat shalat hari raya, sebab Allah akan memebrimu pemberian yang banyak, mengampunkan dosa=dosamu; maka apabila mereka telah sampai ke tempat shalat mereka, Allah bertanya kepada malaikat : Wahai malaikatku, apakah ganjaran seseorang yang ekerja? Malaikat menjawab : Tuha kami, ganjaran bagi mereka adalah Engkau sempurnakan pahala bagi mereka. Tuhan kemudian berfirman : Sesungguhnya AKU bersaksi kepadamu sekalian bahwa AKU telah berikan pahala dan balasan atas puasa mereka, shalat tarawih dan qiyamul lail mereka dengan keridhaanKu dan ampunanKU …..". Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan juga diriwayatkan oleh Baihaqi.

Dengan hadis diatas dapat disimpulkan egembiraan seorang muslim di hari saya idul fitri, bukan ebab berakhirnay puasa ramadhan, tetapi disebabkan akan mendapat ijazah dari Tuhan yaitu Ijazah Ramadhan berupa balasan pahala, ampunan dan keridhaan yang telah dijanjikan bagi mereka yang menjalanai puasa ramadhan.. Mendapatkan ijazah ramadhan merupakan suatu kemenangan, tetapi mempertahankan ijazah ramadhan dengan tetap menjadi manusia fitrah sepanjang hari-hari mendatang dengan semangat takbir, tahlil dan tahmid, merupakan suatu ujian. Selamat berhari raya semoga Allah menerima semua amalan kita, selamat mendapat Ijazah dan menjadi sarjana ramadhan. Fa'tabiru ya Ulil albaab.

No comments:

Post a Comment