Pages

Wednesday, August 18, 2010


PLURALISMA AGAMA DAN SPIRITUALISME

Mukaddimah.

Pada tarikh 12hb January 1952, seorang pengetua rabbi yahudi Emanuel Robinovisc berucap di dalam Mesyuarat Agung Rabbi Seluruh Eropah di kota Budapest menyatakan : “ Keberadaan agama dan tokoh agama merupakan ancaman bagi kita, karena agamalah yang mampu membuat ancaman bagi kita untuk menguasai dunia. Kekuatan jiwa yang ditimbulkan oleh keimanan pemeluk agama akan melahirkan sikap berani mati untuk menghadapi kekuatan kita. Akan tetapi, kita tetap akan memelihara sebagian ajaran agama yang bersifat lahiriyah saja. Sedang agama yahudi tetap akan merupakan pegangan bagi setiap bangsa yahudi, dengan satu tujuan untuk menjaga tali pengikat antar bangsa kita, dan sekaligus menjadi perisai untuk menghalangi orang non-yahudi tidak masuk ke dalam barisan kita melalui perkawinan atau lainnya……Anda sekalian sekarang melihat kemenangan terakhir yang jelas, seperti melihat gajah di pelupuk mata. Kalian akan kembali ke negara masing-masing setelah mesyuarat agung ini untuk mengajak bangsa kita bekerja keras, sehingga akhirnya akan sampai suatu saat nanti dimana negara is-ra-il akan membuka hakikat diri yang sebenarnya kepada dunia, sebagai tempat memancarnya cahaya yang akan menerangi seluruh alam raya “.[1]

Dari pernyataan diatas dapat dilihat bagaimana rancangan untuk menghancurkan agama sedang dilakukan oleh musuh-musuh agama, dengan menghancurkan asas-asas keyakinan dan keimanan serta mengekalkan bentuk-bentuk ritual yang bersifat lahiriyah sahaja. Diantara cara menghancurkan nilai-nilai keimanan adalah menyebarkan paham pluralisme dengan nilai-nilai pemikiran liberal, berdsarkan hak-hak asasi manusia, serta membangun sebuah agama bagi semua berdasarkan kepada nilai-nilai spiritualisme yang bersumberkan kepada hati nurani. Oleh sebab itu, pluralisme dan spiritualisme adalah dua sisi serangan terhadap agama dan keimanan.

Maksud Pluralisma Agama

Secara bahasa Pluralisma Agama berasal dari dua ayat iaitu ayat “ Pluralisma “ dan ayat “ Agama”. Kalimat “ Pluralism “ dalam bahasa Inggeris mempunyai tiga pengertian. Dalam pengurusan gereja bermakna (1) sebutan untuk orang yang memegang lebih dari satu jawatan dalam kepengurusan gereja (2) Memegang dua jawatan atau lebih secara bersama-sama baik dalam kepengerusuan gereja atau luar gereja. Pengertian kedua adalah aliran falsafah iaitu mengakui wujudnya pemikiran yang mendasar lebih dari satu. Pengertian ketiga bersifat sosio-politik iaitu system yang mengakui wujudnya berbagai macam agama, aliran, dan parti dengan tetap menghormati perbedaan dan cirri khas masing-masing. [2]

Tetapi dalam perkembangan selanjutnya istilah “ Pluralisma Agama “ dipakai dengan makna yang tidak sesuai dengan makna bahasa, sebagaimana dinyatakan oleh John Hick, bahwa Pluralisma Agama adalah: “ Kepercayaan bahawa tidak ada satu agama memonopoli kebenaran atau jalan kehidupan yang membawa kepada keselamatan “[3]. Oleh sebab itu menurut Jhon Hick, Pluralisma Agama adalah “ Cara yang lebih arif untuk memahami kebenaran agama-agama lain adalah dengan menerima bahawa kita ( semua agama ) mempersembahkan banyak jalan menuju ke satu reality tunggal ( Tuhan ) yang membawa kebenaran dan keselamatan. Tidak ada satu jalan ( agama ) pun yang boleh mendakwa lebih benar daripada yang lain kerana kita semua ( semua agama ) sama dekat dan sama jauhnya dari reality yang sama yang kita ( semua agama ) sedang mencariNya “ .[4]

Istilah Pluralisma Agama ( Religious Pluralism ) tidak sama dengan istilah Pluraliti Agama ( Religious Plurality ) sebab Pluralisma Agama adalah pahaman yang mengakui kesamaan agama - agama sedangkan Pluralistik Agama adalah pengakuan tentang wujudnya agama-agama dalam masyarakat berbilang kaum. Pengakuan wujudnya agama-agama dalam masyarakat berbilang kaum sebagaimana yang dimaksudkan dalam istilah Pluraliti Agama tidaklah sama dengan pengakuan kebenaran agama-agama sebagaimana yang dimaksudkan dalam istilah Pluralism Agama, sebab dalam Pluraliti Agama setiap agama mengakui kebenaran dan keunggulan agamanya masing-masing dan tidak mengakui kebenaran agama lain walau tetap bersikap untuk menghargai dan menghormati agama lain sedangkan dalam Pluralisma Agama setiap agama harus mengakui kebenaran agama lain, malahan menafikan kebenaran mutlak dalam agama masing-masing, sehingga semua agama adalah sama, tuhan semua agama adalah sama, sebab semua agama menyembah Tuhan yang sama dengan cara yang berbeda sebagaimana dikatakan oleh Husein Nasr “ semua agama adalah jalan-jalan menuju puncak yang sama “.[5]

Sejarah kemunculan dan perkembangan paham Pluralisma Agama.

a. Dari India ke Chigaco.

Jika kita meneliti sejarah, maka terlihat bahwa paham Pluralisma Agama telah ada sejak dahulu kala, bermula dari kurun ke-15 dalam pemikiran Kabir ( 1440-1518 ) dan murudnya iaitu Guru Nanak ( 1469-1538 ) yang mengasaskan agama Sikh.[6] Hanya saja pengaruh pemikiran ini belum dapat menembus batas geografi, sehingga hanya dikenal di kawasan India sahaja. Selanjutnya pemahaman Pluralisma Agama dikembangkan oleh Rammohan Ray ( 1772-1883 ) yang semula sebagai pemeluk agama Hindu, kemudian mempelajari konsep ketuhanan dari agama Islam, dan akhirnya menncetuskan pemikiran Tuhan Satu dan persamaan antar agama serta mengasaskan gerakan “ Brahma Samaj “ pada tahun 1828. Ayat “ Brahma “ berasal dari “ Brahman “, Tuhan dalam kitab suci Hindu “ Upanishad “ dan falsafah Vedanta, yang menjadi sifat dari “ Samaj “ yang berarti “ masyarakat “. Maka “ Brahma Samaj “ berarti “ masyarakat bertuhan “ iaitu masyarakat yang menerima siapa saja yang mengakui adanya Tuhan tanpa melihat warna kulit, kasta, bangsa, dan agamanya; dengan tujuan memperkuat ikatan kesatuan antar manusia yang memiliki agama, tradisi, dan budaya yang berbeda. [7]

Setelah Rammohan Ray meninggal dunia, maka Ramakrishna Paramahamsa ( 1834-1886 ) yang telah mencoba untuk mempelajari agama Hindu, Islam dan Kristen akhirnya menyatakan : “ Saya sudah pernah mengalami hidup di semua agama : Hindu, Islam dan Kristen, begitu juga saya pernah mengikuti berbagai tarekat dan sekte-sekte Hindu, akhirnya saya menemukan bahawa semuanya hanyalah langkah-langkah dan cara-ara yang berbeda menuju Tuhan Yang Satu “. [8]
Setelah menjelajah agama Hindu, Islam, Kristen dan akhirnya kembali kepada agama Hindu, Ramakrishna menyatakan bahawa perbedaan agama-agama itu tidaklah berarti karena perbedaan itu hanya masalah luaran. Bahasa Bengal, Urdu dan Inggeris mempunyai ungkapan yang berbeda dalam menyatakan “ air “, sedangkan hakikat air adalah air. Maka menurutnya, semua agama menghantarkan manusia kepada satu tujuan yang sama, maka mengubah seseorang dari satu agama kepada agama yang lain merupakan tindakan sia-sia. Gagasan Ramakrishna , persahabatan dan toleransi penuh antar agama, kemudian berkembang dan diterima sampai ke luar negara India melalui kedua muridnya , Keshab Chandra Sen ( 1838-1884 ) dan Swami Vivekananda ( 1982-1902 ). Dalam kunjungan Keshab Chandra Sen ke benua Eropah, dia berjumpa dengan F.Max Muller ( 1823-1900) bapak perbandingan agama di barat dan dia menyampaikan gagasan gurunya. Swami Vivekananda juga dijemput untuk menyampaikan pesan-pesan gurunya dalam Sidang Palemen Agama Dunia ( World’s Parliament of Religion ) yang pertama di Chicago tahun 1893[9] dengan keputusan bahwa agama-agama di dunia perlu menghilangkan bersatu dan menghilangkan perbedaan masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan Sidang Parlemen Agama Dunia kedua di kota Chigaco pada tahun 1993 dengan memperkenalkan konsep Global Theology dan Global Ethic. Pertemuan dilanjutkan dengan Sidang arlemen Agama Dunia ketiga tahun 1999 di Barcelona, Spain dan pertemuan Sidang Parlemen Agama Dunia ke-empat pada tahun 2004 di Cape Town , Afrika selatan, dan pertemuan terakhir Sidang Parlemen Agama Dunia kelima pada bulan Desember 2009 yang lalu di kota Meulborne Australia.
b. Dari Theosophical Society, dan FreeMasonry kepada Islam.
Pada tahun 1875 Helena Blavatsky, Henry Steel Olcott, dan William Quan Judge berdiri sebuah pertubuhan yahudi bernama Theosophical Soceity di kota New York dengan tujuan mengikat persaudaraan universal tanpa melihat kelompok, bangsa dan agama, di bawah pimpinan Helena Blavatsky, Henry Steel Olcott, dan William Quan Judge. Beberapa tahun kemudian pertubuhan ini mendirikan International Head Quarters di Adyar, Chennai, India. Di bawah lambang Theosophical Soceity tersebut tertulis ayat “ There is no religion higher than Truth “ Sedangkan tujuan utama Perhimpuan Theosofi adalah (1) Mengadakan inti persaudaraan antara sesama manusia tanpa memandang bangsa, kepercayaan, kelamin, kaum atau warna kulit. (2) Memajukan pelajaran dengan mencari persamaan dalam agama-agama, filsafat dan ilmu pengetahuan. (3) Menyelidiki hukum-hukum alam yang belum dapat diterangkan dan kekuatan-kekuatan dalam manusia yang masih terpendam. Oleh sebab itu, adalah Theosophical Soceity adalah sebuah badan kebenaran yang merupakan dasar dari semua agama, yang tidak dapat dimiliki dan dimonopoli oleh agama atau kepercayaan manapun. Theosofi menawarkan sebuah filsafat yang membuat kehidupan menjadi dapat dimengerti, dan Theosofi menunjukkan bahwa keadilan dan cinta-kasihlah yang membimbing evolusi kehidupan.[10]
Gagasan Pluralisma masuk ke dalam wacana pemikiran Islam melalui tulisan-tulisan Rene Guenon ( 1886-1851 ) dan diikuti oleh muridnya Frithjof Schoun. [11] Rene Geunon adalah seorang ahli dari perkumpulan Theosophical Society di Perancis yang didirikan oleh seorang FreeMason Gerard Encausse ( 1865-1916) [12]. Encause mendirikan Free School of Hermetic Science, sekolah yang mengkaji masalah misticisme. Rene Guenon belajar tentang pemikiran mistikisme ( Occult Studies ), dan berkenalan dengan tokoh-tokoh FreeMasonry dan Theosophia. Rene Geonon juga tercatat sebagai ahli FreeMasonry Lodge Thebah, Prancis. Malahan menurut Grand Master FreeMasonry Prancis, Henry Tort-Nougues, tulisan dan pemikiran Rene Geonon merupakan dasar dari hermeneutika ( penafsiran ) tentang lambang-lambang FreeMasonry Modern. [13] Pengalaman Spritual Rene Guenon dalam Theosophy Soceity dan FreeMasonry mendorongnya untuk mengambil kesimpulan bahawa semua agama memiliki kebenaran dan bersatu dalam level Kebenaran.[14] Pada tahun 1912, Rene Geunon yang semula beragama Kristen masuk ke dalam agama Islam dan berganti nama dengan Abdul Wahid Yahya. Dalam tulisan dan buku-bukunya, Rene Guenon menghidupkan kembali nilai-nilai , hikmah dan kebenaran abadi yang ada pada tradisi dan agama-agama yang disebutnya dengan Tradisi Primordial ( Primordial Tradition ). Menurutnya, walaupun setiap agama itu berbeda, tetapi semua agama itu memiliki tradisi yang sama, disebut dengan Tradisi Primordial, yang dimiliki oleh semua agama. Perbedaan teknis yang terdapat dalam setiap agama merupakan jalan dan cara yang berbeda untuk merealisasikan Kebenaran. Menurut Geonon, semua agama, termasuk agama Islam, tidak dapat dikatakan benar atau salah dengan cara mengkaji ajaran agamanya, sebab semua agama itu mempunyai kebenaran yang terkandung dalam Tradisi Primordial. Semua agama dalam kegiatan ritualnya hanya merupakan cara untuk mencapai Tradisi Primordial.[15] Rene Geonon meningal tahun 1951 di Kairo sebagai seorang muslim dengan nama Abdul Wahid Yahya, tetapi menurut Michel Valsan : “ Geunon never presented himself specially in the name of Islam, but in the name of the Traditional dan initiatic universal consciousness “.[16]
Pemikiran Rene Geunon diteruskan oleh muridnya Fritjof Schuon ( 1907-1998 ). Sejak berusia 16 tahun, Schuon telah membaca tulisan Geunon “ Orient et Occident “. Kagum dengan pemikiran Geunon, Schuon berkirim surat dengan Geunon selama 20 tahun. Setelah berkorespodensi sekian lama, akhirnya Schoun berjumpa pertama kali dengan Rene Geunon di Mesir pada tahun 1938, dan masuk Islam pada tahun 1948 dengan nama Isa Nuruddin. Menurut buku “ Tranedental Unity of Religions “ yang ditulis oleh Schoun, agama-agama merupakan salah satu dari tiga wujud utama dari penjelmaan Zat Yang Mutlak ( Grand Theophanies of the Absolute ) yang mempunyai dua hakikat iaitu esoteric ( batin ) dan exoteric ( dzahir ), substansi ( subtance ) dan aksiden ( accident ), atau essensi ( essence ) dan bentuk ( form ) atau dalaman ( inward ) dan luaran ( outward ). Semua agama bersatu dalam tingkat bathin ( esoteric ) walaupun berbeda dalam tingkat dzahir ( exoteric ). Kesatuan agama dalam tingkat bathin inilah yang disebut dengan “ Kesatuan agama-agama dalam tingkat transedent ( Trancedent Unity of Religions ). Oleh sebab itu setiap agama dalam tingkat lahir tidak boleh menganggap dirinya mempunyai kebenaran yang mutlak ( absolutely absolute ). “ Oleh karena itu klaim eksoterik tentang pemilikan kebenaran absolute secara ekslusif merupakan kesalahan murni, sebab pada kenyataannya setiap ungkapan kebenaran meniscayakan suatu bentuk untuk mengekspresikannya, dan secara metafisik adalah hal yang mustahil bahawa bentuk memiliki sebuah kebenaran absolute yang ekslusif, yakni tidak boleh merupakan satu-satunya ungkapan dari apa yang diungkapkan “. [17] Schoun mendakwa dirinya sebagai seorang Syekh Tarekat dengan mendirikan Tarekat Szadziliyah Maryamiyah. Sewaktu ditanyakan kepadanya mengapa dia memakai nama Maryam, maka dia menjawab : “ She was a Jewish princess in the House of David, she was on the other hand the mother of the founder of Christianity, and she occupies in Islam the peak in the hierarchy of women. She loves the three religions, and religion in general as we do “.[18]Akhirnya Schoun meninggal pada tahun 1998 dengan nama Syekh Isa Nuruddin Ahmed al Sazdili al-Alawi el-Maryami.

Selanjutnya pemikiran Schoun diikuti, dikembangkan dan diteruskan oleh Sayed Hussein Nasr, seorang Syiah dari Iran yang menetap di Amerika. Menurut Nasr, setiap agama adalah penjelmaan dari model dasar ( archetype ) yang merupakan salah satu bagian dari hakikat ketuhanan. Hakikat suatu agama, seperti Islam dan Kristen, sebagaimana wujudnya dalam meta-historis ( meta-history ) dan sebagaimana wujudnya di sepanjang sejarahnya, tidak lain sesuatu yang tertulis dalam model dasarnya di alam ideal. Oleh karena itu perbedaan model dasar inilah yang sejatinya menentukan perbedaan tabiat setiap agama, yang menyebabkan timbulnya pluralitas agama. Namun demikian, model dasar ini selalu merefleksikan atau mengekpressikan focus yang tunggal dan terangkum dalam jangkauan lingkaran yang tunggal. Oleh sebab itu setiap agama pada hakikatnya merefleksikan atau mengekpresikan hakikat ketuhanan. Nasr juga menyatakan bahawa adalah bertentangan dengan kebijakan dan keadilan Tuhan untuk membiarkan agama-agama dunia dalam kesesatan selama ribuan tahun, padahal berjuta-juta manusia telah mencari jalan keselamatan. Dengan demikian, Pluralisma Agama merupakan “ kehendak Tuhan” dan sebagai akibatnya semua agama adalah benar dan dapat diikuti. Nasr berpendapat bahwa “ memeluk atau percaya kepada agama apapun, kemudian mengamalkan ajaran-ajarannya secara sempurna berarti memeluk dan beriman kepada semua agama “. [19] Pemikiran Nasr ini banyak diikuti oleh mahasiswa, pensyarah dan pemikir muslim di dunia islam, sehingga dia merupakan tokoh yang paling bertanggungjawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisma agama di kalangan Islam tradisional.


BUKTI PLURALISMA AGAMA MERUSAK AKIDAH.

Pluralisma Agama : Semua agama sama, semua agama benar.

Dalam pandangan paham Pluralis Agama, semua agama adalah sama sebab semua agama mencari kebenaran yang sama dan menuju Tuhan yang sama, sebagaimana dikatakan oleh Husein Nasr berdasarkan bahawa “ semua agama adalah jalan menuju puncak yang sama “. Jhon Hick juga mengatakan bahwa agama lain adalah sama-sama jalan yang benar menuju kebenaran yang sama ( Other religion are equally valid ways to the same Truth )[20]

Ulil Absar Abdallah, tokoh Jaringan Islam Liberal di Indonesia menyatakan “ Semua agama adalah sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan agama yang paling benar “[21]. Ulil Absar juga menulis : “ Dengan tanpa rasa segan dan malu saya mengatakan bahwa semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Maha Benar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama : yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya “ [22]

Pernyataan semua agama adalah sama bercanggah dengan akidah Islam, sebab bagi umat Islam agama yang benar hanyalah Islam sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci Al Quran : “ Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah agama Islam “ ( Surah Ali Imran : 19 ). “ Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu ) daripadanya, dan dia di akhirat kelak termasuk orang yang merugi “ ( Surah Ali Imran : 85 ).

Pluralisma Agama : Semua agama menyembah Tuhan yang sama.

Paham Pluralisma Agama juga meyakini bahawa semua agama menyembah Tuhan yang satu sebagaimana dikatakan oleh John Hick “ Pluralism is the view that the great world faith embody different perceptions and conceptions of, and correspondingly different resnses to the Real or the Ultimate from within the major variant cultural ways of human being “ ( Paham Pluralisma adalah pandangan bahawa agama-agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang dan secara bertepatan merupakan respos yang beragam terhadap Tuhan Yang Nyata ( The Real ) atau Tuhan Yang Maha Agung ( Ultimate ) dari dalam berbagai budaya masyarakat yang berbeda ). [23]

Noorkholis Madjid, tokoh Pluralisma Agama dari Indonesia menyatakan : “ setiap agama sebenarnya merupakan ekspressi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda , pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama. Filsafat perennial juga membagi agama pada level esoteric ( batin ) dan level eksoterik ( dzahir ). Satu agama berbeda dengan agama lain dalam level eksoterik, tetapi relative sama dalam level esoteriknya. Oleh karena itu ada istilah “ Satu Tuhan Banyak Agama “. [24]

Konsep Tuhan, Dzat Tuhan, Sifat Tuhan, Nama Tuhan, Perbuatan Tuhan yang berdasarkan kepada akidah tauhid dalam agama Islam berbeda dengan konsep dan dzat Tuhan dalam agama yang lain. Sejarah mengatakan sewaktu orang kafir Qurasy bertanya kepada Nabi Muhammad tentang bagaimana Tuhan, maka turunlah surah al Ikhlas yang menerangkan bahwa Allah itu satu, tidak mempunyai anak, dan tidak sama dengan apapun juga[25]. Sewaktu orang kafir meminta agar Nabi Muhammad menyembah Allah satu tahun, dan selanjutnya ikut menyembah Tuhan orang kafir Makkah, maka turunlah surah al Kafirun.[26]

Pluralisma Agama : Semua penganut agama masuk surga.

Akibat pemahaman bahwa semua agama adalah benar, dan semua agama menyembah kepada Tuhan yang satu, maka semua nabi, dan orang yang baik daripada semua agama akan mendapat tempat di dalam surga, sebagaimana dikatakan oleh Sumanto al Qurthuby, salah seorang aktivis Pluralisma Agama di Indonesia menyatakan : “ Jika kelak di akhirat pertanyaan diatas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum, sambil menunggu banyak orang ramai, antara lain : Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharuddin Lopa, dan Munir “ [27]

Abdul Munir Mulkan, menyatakan bahawa : “ Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahawa surga Tuhan yang satu itu terdiri dari banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan, pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama “.[28]
Reza Shah-Kazemi, bekas perunding di Institut Kajian Dasar, Kuala Lumpur dalam tulisan ” Macam-macam jalan ke syurga ” menyatakan bahwa : ” Walaupun agama lain kurang sempurna berbanding Islam, semua manusia yang beriman dengan Tuhan adalah umat yang satu. Tuhan adalah esa, maka semua orang beriman, tidak kira bagaimana penampilan dan bentuk agama serta sistem kepercayaan mereka dinilai berdasarkan kelayakan dan amal mereka, bukan berdasarkan label-label buatan. Hal ini berdasarkan ayat al Quran (4:122) : ” Orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh akan Kami masukkan ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal selama-lamanya . Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah ” [29]
Pernyataan bahwa orang kafir masuk dalam surga merusak akidah, sebab dalam al Quran sangat banyak bilangan ayat yang mengatakan bahwa orang kafir itu masuk neraka dan kekal di dalamnya. Pernyataan ” orang yang beriman ” dalam ayat 122 diatas bukanlah ” orang beriman dalam agama apa saja ” , sebagaimana tertulis secara harfiyah, tetapi maksud ayat ” orang beriman ” dalam ayat tersebut adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya.
Pluralisma Agama : Tidak ada perbedaan antara Mukmin – Kafir.

Kelompok muslim liberal akan berpikir bahwa definisi muslim – kafir harus ditinjau kembali dimana seorang kafir bukan tidak beriman dan percaya kepada Allah tetapi orang yang tidak beragama atau tidak memiliki agama. Sedangkan orang yang beragama, walaupun bukan agama islam, itu termasuk orang beriman. Budhy Munawar Rahman, pensyarah Universitas Paramadina menyatakan : ” Teologi pluralis memberikan legitimasi kepada kebenaran semua agama, dan pemeluk agama apapun layak disebut sebagai orang yang beriman, dengan makna ”orang yang percaya kepada Tuhan ”, karena sesuai dengan al Quran Surah 49:10-12, sebab mereka semua adalah bersaudara dalam iman. Karenanya, hal yang diperlukan sekarang dalam penghayatan Pluralisme agama adalah pandangan bahwa siapapun yang beriman adalah sama di hadapan Allah, karena Tuhan kita semua adalah Tuhan yang Satu ” ( Wajah Islam Liberal, 2002, m.s. 51-53 ).

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa bagi kaum Pluralis agama, tidak ada istilah mukmin, muslim, atau kafir, sebab siapa saja yang percaya kepada Tuhan, disebut dengan orang yang beriman (mukmin ). Hal ini dapat merusakkan akidah islam sebab dalam Islam, definisi orang yang beriman adalah orang yang beriman kepada rukun-rukun iman sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang menyatakan bahwa “ Iman itu adalah keyakinan kepada Allah, Iman kepada Rasul, Iman kepada Malaikat, Iman kepada kitab-kitabNya, iman kepada Qadha baik dan buruk, dan iman kepada Hari Kiamat “. ( Hadis Muttafaq alaihi ).

Pluralisma dan InterFaith Commission

Di Malaysia Gerakan Pluralisme Agama terlihat cadangan dalam penubuhan InterFaith Commision ( IFC) atau nama asalnya Inter Religious Council (IRC) atau Majelis Suruhanjaya Antara Agama-Agama. Badan ini berfungsi seperti sebuah mahkamah dan segala keputusannya adalah muktamad ke atas agama-agama yang tersabit. IRC juga akan berfungsi seperti SUHAKAM yang menerima dan melayan aduan-aduan berkaitan dengan agama. Jika diteliti, penubuhan IRC ini ditaja oleh Malaysian Consultative Council of Budhism, Christianity, Hinduism, and Shiks ( MCCBCHS) atau Majelis Perundingan Malaysia Agama Budha,Kristian,Hindu dan Shik melalui memorandumnya kepada Majelis Peguan bertarikh 21 Ogos 2001. Kandungan memorandum tersebut adalah :

Orang Islam hendaklah diberi hak murtad tanpa permohonan ke mahkamah Syariah. Ini adalah hak yang diberi Artikel 11 Perlembagaan. Sebarang kes pertukaran agama orang Islam kepada bukan Islam tidak sepatutnya dikendalikan oleh mahkamah sivil.
Seorang anak yang dilahirkan oleh ibu paba Islam tidak seharusnya secara terus menjadi orang Islam.
Orang-orang bukan Islam yang telah memeluk agama Islam hendaklah diberikan kebebasan untuk kembali kepada agama asal mereka(murtad) dan tidak boleh dikenakan tindakan undang-undang.
Tidak perlu dicatat dalam kad pengenalan seseorang muslim bahawa ia beragama Islam.
Orang bukan Islam tidak perlu dikehendaki menganut Islam sekiranya ingin berkahwin dengan orang Islam. Orang Islam dibenarkan keluar daripada islam ( murtad ) sekiranya ingin berkahwin dengan orang bukan Islam tanpa dikenakan apa-apa tindakan undang-undang.
Seseorang atau pasangan suami isteri yang menukar agamanya dengan memeluk Islam tidak patut diberikan hak penjagaan anak.
Orang-orang bukan Islam yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan seorang yang memeluk Islam hendaklah diberikan hak menuntut harta pusakanya selepas kematiannya.
Kerajaan hendaklah menyediakan dana yang mencu7kupi untuk membina dan menyelenggara rumah-rumah ibadat orang bukan Islam sebagaimana kerajaan menyediakan dana yang sama untuk masjid. Kerajaan juga perlu membenarkan pembinaan rumah-rumah ibadat orang bukan islam tanpa perlu adanya peraturan-oeraturan tertentu.
Orang bukan Islam hendaklah dibenarkan dan tidak boleh dihalang daripada menggunakan perkataan-perkataan suci Islam dalam percakapan dan sebaaginya.
Bibel dalam Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia sepatutnya dibenarkan untuk diedarkan kepada umum secara terbuka.
Pelajaran agama bukan Islam untuk penganut agama itu hendaklah diajar di semua sekolah.
Program-program berunsur Islam dalam bahasa ibunda sesuatu kaum hendaklah ditiadakan. Program dakwah agama lain selain Islam pula hendaklah dibenarkan untuk disiarkan dalam bahasa ibunda masing-masing.
Orang-orang Islam yang membayar zakat tidak sepatutnya dikecualikan daripada membayar cukai pendapatan dan wang sepatutnya digunakan juga untuk keperluan orang-orang bukan Islam.
Sepatutnya Islam tidak disebut sebagai pilihan pertama masyarakat Malaysia seperti dalam soal pakaian menutup aurat kepada pelajar sekolah.

Dari butir-butir memorandum diatas dapat dilihat bahwa agenda utama penubuhan IFC adalah mendudukkan semua dalam kedudukan yang sama, sehingga setiap orang bebas untuk menentukan status agamanya dan tidak ada halangan seorang muslim untuk melakukan murtad. Penubuhan IFC ini ditaja oleh yayasan barat sebagaimana terbukti pada Persidangan Kebangsaan ” Towards the Formation of the Interfaith Commission of malaysia ” yang berlangsung pada 24-25 Februari 2005 di Hotel Equatorial Bangi, Selangor terdapat Jawatan Kuasa Pemandu IRC iaitu Konrad Adeneur Foundation ( KAF ) dan Malaysian Interfaith Network.[30]

Pluralisma Agama dan Kalimat Allah.

Majalah Herald The Catholic Weekly pada tahun bulan Mei 2009 meminta kepada Mahkamah Tinggi malaysia untuk membenarkan pengarang majalah menterjemahkan kalimat ” God ” dengan kalimat ” Allah ” sebagai bentuk terjemahan ke dalam bahasa. Kerajaan Malaysia tidak meluluskan permintaan pemakaian kalimat Allah sebagai pengganti kalimat ”God” tersebut sebab kalimat Allah hanya dapat dipakai oleh agama Islam. Permintaan menamakan tuhan agama Nasrani dengan kalimat Allah atau membolehkan agama lain untuk memakai nama Allah atau istilah-istilah agama yang lain seperti Ka’bah, Shalat, Syahadat, merupakan pemikiran pluralisma Agama yang berpendirian bahwa satu tuhan untuk semua agama, sebagaimana yang dinyatakan dalam teori ” Trancedental Unity of Religions”, paham kesatuan semua agama dalam tingkat transenden.
Menurut John Hick, Pluralisma agama adalah “ Suatu gagasan bahawa agama-agama besar dunia merupakan anggapan dan konsep yang berbeda tentang Yang Maha Agung, dan secara bertepatan merupakan respon yang majemuk terhadap Yang Nyata atau Yang Maha Agung dari dalam aturan budaya manusia yang berbagai bentuk dan bahwa transformasi wujud manusia dari suatu pemusatan menuju Hakikat yang terjadi secara nyata dalam setiap bentuk budaya tersebut dan dapat terjadi sejauh yang dapat dicermati sampai pada batas yang sama “( Pluralism is the view that the great world faiths embody different perceptions and conceptions of, and correspondingly different responses to, the Real or the Ultimate from within the major variant cultural ways of being human, and that within each of them the transformation of human existence from self-centredness to Reality centredness is manifestly taking palce-and taking so far as human observation can tell, to much the same exten “ ( Jhon Hick, An Interpretation of Religion : Human Responses to the Trancendent, MacMillan, London, 1991, hal. 36 ).
Definisi diatas menjelaskan bahwa semua agama itu merupakan jalan yang berbeda tetapi semuanya menuju kepada Tuhan yang satu, Yang Nyata, Yang Maha Agung; sehingga walaupun setiap agama itu berbeda dalam melakukan respon, tetapi pada batas-batas tertentu setiap agama itu memiliki kesamaan dan kesatuan dengan agama yang lain. Tujuan utama paham pluralisma adalah menghilangkan sifat ekslusif umat beragama, khususnya islam. Artinya dengan paham ini umat Islam tidak lagi bersikap fanatic, merasa benar sendiri, dan menganggap agama lain itu salah, sehingga menurut John Hick, diantara prinsip pluralisma agama adalah menyatakan bahwa agama lain adalah sama-sama jalan yang benar menuju kebenaran yang sama “ Oter religions are equally valid ways to the same ways “.
Paham pluralisma ini memiliki dua aliran yaitu aliran kesatuan transenden agama-agama ( transcendent unity of religion ) dan aliran teologi global ( global theology ). Diantara pendukung aliran kesatuan transenden agama-agama adalah Rene Guenon[31] ( Abdul Wahid Yahya ), Frithjof Schoun[32] ( Isa Nuruddin ), dan Husein Nasr. Sedangkan diantara pendukung Theologi Global adalah Wilfred Cantwel Smith dengan bukunya “ Toward A World Theology “, dan Hans Kung dengan buku “ Global Ethic “.
Aliran Kesatuan transcendent agama-agama, memahami bahwa setiap agama memiliki nilai-nilai batin ( esoteric ) dan juga nilai-nilai zahir ( eksoteric ). Setiap agama hanya berbeda dalam nilai-nilai zahir sahaja, sedangkan dalam setiap agama itu akan mempunyai nilai-nilai esoteric yang sama sebab menuju kepada Tuhan yang sama. Bagi aliran ini, Tuhan itu satu untuk semua agama, hanya sahaja panggilan Tuhan itu dan bentuk penyembahan kepada tuhan itu berbeda bagi setiap agama. Walaupun berbeda, hakikatnya mereka menyembah tuhan yang sama.
Oleh sebab itu pluralisma agama selain menyatakan bahwa semua agama itu benar, sebab semuanya menuju Tuhan yang satu, tetapi mereka juga akan membentuk konsep teologi yang sama ( Global Theology ) dengan memakai istilah agama yang sama ( seperti lafaz Allah untuk Tuhan, istilah shalat untuk sembayang, istilah syahadat untuk baptis, istilah muslim, istilah mukmin, dan lain sebagainya ) syariat yang sama, hukum fikah yang sama, ( sebagai contoh terbinya buku “ Fikah Lintas Agama “ di Indonesia ), sampai kepada pedoman akhlak dan etika yang sama ( global ethic ).
Gerakan Pluralisme ini merupakan gerakan global sejak dibentuknya World’s Parliament of Religions di kota Chigaco tahun 1893, dengan keputusan bahwa agama-agama di dunia perlu menghilangkan bersatu dan perbedaan masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kedua di kota yang sama tahun 1993 dengan memperkenalkan konsep Global Theology dan Global Ethic, dilanjutkan dengan pertemuan ketiga tahun 1999 di Barcelona, Spain dan pertemuan selanjutnya tahun 2004 di Cape Town , Afrika selatan, dan pertemuan terakhir pada bulan Desember 2009 di Meulbourne, Australia.

Lafadz Allah sebagai strategy daiyah.

Dalam laman web thepeopleofthebook.org dinyatakan bahwa penggunaan kalimat Allah oleh umat kristen adalah merupakan strategy untuk mempengaruhi orang islam, sebagaimana mereka nyatakan : “ The People of the Book is taking an "insider approach" to working with Muslims. This means that we do not want to harshly extract them from their family and culture. We want them to come to saving faith in Christ, but stay inside their culture to be able to share Christ with family, friends and the rest of the Muslim world. We do not, of course, approve of any form of syncretism. If we desire to have an effective ministry to Muslims, we must, in a sense, become as a Muslim to the Muslim world. The goal is to share the Gospel in a way that it can be understood and embraced by them with all their heart and mind. If we do not spend time with them, living among them, how will they ever see the Gospel being lived out in real life? John Gilchrist makes the following comments in his book” Communicating the Gospel to Muslims” :
"When Christians take a traditional evangelical line of approach, simply setting Jesus forth as the Lord and Saviour of all men, Muslims find security in dismissing the message as simply an exposition of Christian doctrine and belief, and they comfort themselves by resting in the doctrines and tenets of Islam instead. We need to penetrate, we need to challenge the Muslims where they are and stimulate a process of reflection by presenting the Gospel against their own background, against the Muslims' own views of Jesus and the prophetic history leading up to him.
Not only so but, as we have seen in the example of Paul, we have a clear Biblical sanction for quoting their own scriptures to make our message relevant. Paul did this with telling effect in Athens by quoting Greek poets and it is quite amazing to behold how, by quoting passages from the Qur'an as well as the Bible, a Christian can make the Gospel message thoroughly relevant to a Muslim. I intend to give numerous practical examples later in this book, but let it suffice for the moment to say that we have, here, a clear Biblical authority for this method." ( part B - The Biblical Approach to Muslims section 3 - Paul's preaching at Athens and Corinth)
Mr. Gilchrist adds the following comment in section 4 - Becoming a Muslim to the Muslims:
"What, then, is the Biblical approach to Muslims in the light of this method into which the great apostle allows us to enter? It is simply this - in the same way that he became as a Jew to the Jews, so each of us must become as a Muslim to the Muslims. We must discover the beliefs of the Muslims, their view of prophetic history, their assessment of Jesus Christ, and their overall religious perception of life, and present the Gospel against that background. Samuel Zwemer, one of the most famous missionaries to Muslims, sums this up perfectly in saying: 'We must become Moslems to the Moslem if we would gain them for Christ. We must do this in the Pauline sense, without compromise, but with self-sacrificing sympathy and unselfish love. The Christian missionary should first of all thoroughly know the religion of the people among whom he labours; ignorance of the Koran, the traditions, the life of Mohammed, the Moslem conception of Christ, social beliefs and prejudices of Mohammedans, which are the result of their religion, - ignorance of these is the chief difficulty in work for Moslems. ( Zwemer, The Moslem Christ, p. 183).'"
We believe that it can be very effective to use the Quran as a tool to share concepts that are familiar and acceptable to Muslims, and that support Biblical principles. There are many concepts that are very compatible with the Bible and there are other Quranic teachings that may actually be misunderstood by Christians and Muslims. Of course, the Holy Bible is the only and complete authority for everything pertaining to doctrine and lifestyle. We believe that it is perfectly acceptable to use the name Allah, both in the Bible that we use to minister to Muslims, as well as materials that we distribute. It is the translation of the word "God" in Arabic. Joshua Massey has written an excellent summary about this topic. This does not mean that Allah in the Qur'an is exactly the same as the God of the Bible.



Pluralisme Agama dan Spiritualisme

Dalam Prolog buku ESQ : Emotional Spiritual Quotient, Ary Ginanjar Agustian menjelaskan bahwa “ Kecerdasan Spiritual ( SQ ) pertama kali di gagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif. Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual yang dipaparkan Zohar dan Marshall dalam SQ, Sprititual Quotient, The Ultimate Intellegence ( London, 2000 ) dua diantaranya adalah : Pertama, riset pakar syaraf Michael Persinger pada awal tahun 1990-an dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh pakar syaraf V.S. Ramachandran dan timnya dari California University yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia. Ini sudah built-in sebagai pusat spiritual ( spiritual center ) yang terletak pada jaringan syaraf dan otak. Sedangkan bukti kedua adalah riset pakar syaraf Austria, Wolf Singer pada era tahun 1990-an atas Binding Problem yang menunjukkan ada proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan syaraf yang secara literal “mengikat” pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna…. Kebenaran sejati sebenarnya terletak pada suara hati yang bersumber dari spiritual center ini, yang tidak bias ditipu oleh siapapun, atau oleh apapun, termasuk diri kita sendiri. Mata hati ini dapat mengungkap kebenaran hakiki yang tak tampak di hadapan mata “.[33]
Dari pernyataan diatas dapat dilihat bahwa Ary Ginanjar menyatakan dalam buku ESQ bahawa : “ kebenaran sejati sebenarnya terletak pada suara hati yang bersumber dari spiritual center ini “. Spiritual center yang dimaksudkan adalah God Spot yang built-in sebagai pusat spiritual yang terletak pada jaringan syaraf dan otak. Dalam Islam, kebenaran itu hanya datang dari Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Sesungguhnya orang yang beriman itu mengetahui bahwa kebenaran itu datang dari Tuhannya “ ( Surah al Baqarah : 26 ). “ Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah engkau menjadi orang yang ragu “ ( Surah alBaqarah : 148, Ali Imran: 60 ).
Jika sejati itu adalah suara hati, itulah yang disebut oleh Rene Geunon dengan kebenaran abadi “ meskipun bentuk-bentuk (tradisi ) itu mungkin banyak dan beragam..metafisik tetaplah satu, sebagaimana Kebenaran ( the Truth ) tidak lain hanyalah satu “ [34] Pernyataan inilah yang tertulis di bawah lambang Theosophical Society “ No religion higher than Truth “, tidak ada agama yang lebih tinggi dari Kebenaran.
Menurut Mufti S.S. Wan Zahidi Wan Teh, konsep “suara hati “ adalah merupakan ajaran kristian, berdasarkan buku “ Menembus batas tradisi “ karangan Franz Magnis Suseno S.J. ahli teologi Jerman yang menetap di Indonesia. Oleh sebab itu “ suara hati merupakan ajaran kristian yang cuba disebarkan dalam kursus ini (ESQ). Ini terbukti apabila “suara hati “ diulang sebanyak 93 tempat dan merupakan istilah yang paling banyak digunakan dalam bukunya ini “.[35]
Konsep “ suara hati “ juga merupakan pusat dalam kehidupan spiritual yahudi sebagaimana dinyatakan oleh Rabbi Yaacov J. Kravitz dalam lawan meb Spiritual Intelligence bahwa : “ Spritituality refers to what is most essential to the heart of human experience “. Malahan menurut Rabbi Yaacov, suara hati ( Heart ) itu juga dapat merupakan singkatan dari “ Heart, Enthusiasm, Awareness, Respet, Tradition “.
Spiritual Intelligence yang berdasarkan kepada hati ini, menurut Rabbi Yaacob dilakukan berasaskan kepada ajaran Kabbala, sebagaimana disebutkan bahwa “ Rabbi Dr. Kravitz telah melakukan penelitian dalam penyatuan antara spiritual dan psikologi. Praktek spiritual yang dilakukannya adalah meditasi, ketenangan jiwa, yoga, doa, yang dikembangkan dalam program yang komprehensif untuk meningkatkan kemahiran Spriritual Intelegent berdasarkan pada ajaran mistik kuno Kabbala dan penemuan psikologi modern ( Rabbi Dr. Kravitz has spent 30 years working on the integration of spirituality and psychology. His favorite personal spiritual practices include meditation, mindfulness, yoga, prayer, chanting and study. He has developed a comprehensive program for learning the skills of Spiritual Intelligence based on the ancient mystical teachings of the Kabbalah and the insights of modern psychology).

Dalam latihan Spiritual Intelegence Center yang telah dilakukan oleh Rabbi Dr. Yacccov J. Kravitz sejak tahun 1983 ada 12 langkah yaitu : [36]
1. Menerima kelemahan diri “ Admitted we were powerless over our addiction “.
2. Meyakini adanya Kekuatan yang lebih besar dari kekuatan diri yang dapat merubah kehidupan “ Came to believe that a Power greater than ourselves could restore us to sanity “.
3. Buat keputusan untuk merobah kehidupan untuk mengenal Tuhan dan memperhatikan ajarannya “ Made a decision to turn our will and our lives over to the care of God as we understand Him/Her “.
4. Mencari dan merasakan ketakutan atas kesalahan diri sendiri “ Made a searching and fearless moral inventory of ourselves”.
5. Bertobat kepada Tuhan, meminta maaf kepada orang lain atas kesalahan yang dilakukan, dengan melakukan pengakuan dosa “ Admitted to God, to ourselves, and to human being the exact nature of our wrong “
6. Kesiapan diri secara total untuk meningalkan kesalahan tersebut “ Were entirely ready to have God remove all these defect of character “.
7. Berdoa kepada Tuhan untuk menghilangkan sifat yang tidak baik “ Humbly asked God to remove our shortcomings “.
8. Membuat senarai kawan-kawan yang pernah kita lakukan kesalahan kepadanya dan berusaha meminta maaf kepada mereka. “ Made a list of all person we had harmed and became willing to make amends to them “.
9. Lakukan permintaan maaf langsung kepada kawan yang ada “ Made direct amend to suh people where ever possible “.
10. Tetap terus mencari kesalahan diri dan segera meminta maaf “ Continued to take personal inventory and when were wrong promptly admitted it “.
11. Mencari dan meningkatkan kesadaran untuk berkomunikasi dengan Tuhan melalui meditasi dan doa, dan bacaan-bacaan ritual.
12. Merasakan kesadaran spiritual sebagai natijah atas latihan yang dilakukan dan berusaha mengajak orang lain untuk merasakan kesadaran spiritual yang sama dengan mempraktekkan prinsip-prinsip yang diajarkan “ Having had a spiritual awakening as the result of these steps, we tried to carry this message to anyone with an addiction and to practice these principles in all our affairs “.

Inilah latihan yang diberikan dalam Spiritual Intellegence Center yang diasaskan oleh Rabbi Jaccov Kravtiz berdasarkan pada ajaran Kaballa sehingga tercapai tujuan yaitu agar manusia menyatu dengan Tuhan ( panteisma ) sebab ajaran Kaballa adalah untuk mempelajari bagaimana manusia dapat menyatu dengan Tuhan dengan mempelajari nama-nama Tuhan. Sebagaimana diketahui dalam ajaran Kabbala terdapat 72 nama-nama Tuhan seperti : Adonai ( Pencipta ), Elohim ( Yang Maha Kuasa ), Shalom (Yang Maha Damai ) dan lain sebgainya. [37]
Bagi Ary Ginanjar, siapa saja dan dari agama apa saja dapat mencapai kebenaran yang bersumber dari hati suara hati, sebagaimana dinyatakannya “ Manusia memiliki suara hati yang sama. Apakah anda seorang dokter, professor, direktur, manajer, pengusaha, pedagang kecil, penguasa, orang kaya, orang miskin, suku apa saja, agama apa saja, atau tukangcuci piring direktur sekalipun, semua sama, suara hati yang universal….Tujuan penulisan buku ini adalah sebagai pemandu dalam pengembaraan suara hati untuk mengajak anda menelusuri relung-relung hati sekaligus membangun ESQ ( Lihat Gambar ESQ Model). Di setiap bagian diberikan contoh pengalamannyata berdasarkan teori-teori ilmiah, pendapat ahli, dan ayat-ayat Al Quran sebagai dasar berpijak ( legitiminasi ). Dan yang terpenting adalah legitimasi suara hati anda sendiri, sebagai nara sumber kebenaran sejati “.[38]

Dalam AlQuran , Allah menyatakan bahwa suara hati itu dapat mengajak kepada kebaikan tetapi juga dapat mengajak kepada kejahatan : “dan Kami tunjukkan kepadanya (manusia) itu dua jalan “ ( Surah alBalad/90 : 10 ). “ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan jalan ketaqwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh rugilah orang yang mengotori jiwanya “ ( surah al Syams/91 : 7-9 ).

Menurut Al Quran, sebelum bumi dan manusia diciptakan, ruh manusia telah mengadakan perjanjian dengan Allah, Allah bertanya kepada manusia : ..Bukankah Aku tuhanmu ?”, lalu ruh menjawab : Ya , kami bersaksi ( surah al A’raf ayat 172 ). Bukti adanya perjanjian ini menurut Muhammad Abduh ialah adanya fitrah iman di dalam jiwa manusia. Dan menurut Prof.Dr.N.Dryakara,S.J. ialah adanya suara hati manusia. Suara hati itu adalah suara Tuhan yang terekam di dalam jiwa manusia. Karena itu bila manusia hendak berbuat tidak baik, pasti dilarang oleh suara hati nuraninya. Sebab Tuhan tidak mau kalau manusia berbuat tidak baik. Kalau manusia tetap mengerjakan, perbuatan yang tidak baik itu, maka suara hatinya akan bernasehat. Dan kalau sudah selesai pasti akan menyesal. Mac Scheler mengatakan penyesalan adalah tanda kembali kepada Tuhan. Setelah pernyataan ini, Ary Ginanjar menulis ayat 30 surah Rum sebagai landasan pernyataannya : “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan mantap kepada agama menurut fitrah Allah yang telah menciptakan fitrah itu pada manusia. Tiada dapat diubah (hukum-hukum) ciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya “ ( Surah Rum ayat 30 ).[39]

Dari tulisan diatas dapat dilihat bahwa Ary Ginanjar telah menghubungkan suara hati dengan suara Tuhan, kemudian menanfsirkan suara hati tersebut itulah fitrah yang telah Tuhan berikan kepada setiap manusia. Suara hati bukan suara Tuhan, tetapi sesuatu yang diilhamkan Tuhan ke dalam hati manusia. Suara Tuhan adalah Kalam Tuhan yang disebut dengan wahyu. Jika suara hati itu suara Tuhan, suara Tuhan, maka setiap orang boleh mendapat suara Tuhan, sedangkan suara Tuhan itu adalah wahyu. Wahyu dalam ajaran agama Islam hanya disampaikan kepada para Nabi dan Rasul, dan tidak ada lagi Wahyu setelah wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw.

Ary Ginanjar mengambil ayat 30 surah Rum sebagai landasan pernyataan, sehingga seakan-akan menyatakan bahwa suara hati itulah fitrah yang telah diberikan Allah ke dalam diri manusia. Padahal, menurut Ibnu Kasir dalam tafsirnya menjelaskan bahawa maksud ayat adalah : “ Maka hadapkanlah wajah engkau (Muhammad ) dan teruslah atas agama yang telah disyariatkan Allah kepadamu daripada nillah nabi Ibrahim yang telah Allah tunjuki engkau kepadanya, dan disempurnakan kepada engkau, dan engkau tetaplah atas fitrah yang selamat yang telah Allah jadikan engkau diatasnya “. [40] Selanjutnya Ibnu kasir menyatakan bahwa fitrah itu adalah agama Islam dengan mengutip hadis Nabi Muhammad : “ Setiap anak itu dilahirkan atas fitrah, maka kedua orangtuanya yang menjadikan dia menjadi yahudi, nasrani, atau majusi “ ( riwayat Bukhari ). Maksud hadis ini semua manusia itu dilahirkan dalam menjadikan fitrah makhluknya untuk mengenalNya, bertauhid kepadaNya, dan mengakui tiada Tuhan selain Allah sebagaimana dimaksudkan dalam ayat 72 surah al A’raf. Itulah yang dimaksud oleh hadis bahwa setiap anak dilahirkan dalam fitrah islam, hanya setelah itu dia menyimpang mengambil agama lain seperti yahudi, nasrani dan majusi.

Ary Ginanjar telah membawa makna “ agama yang lurus (dinul qayim) “ kepada makna suara hati, padahal ulama tafsir menyatakan bahwa fitrah agama itu adalah fitrah beriman kepada Allah bukan suara hati sebagaimana yang ditulis oleh Ary Ginanjar. Dengan tulisan tersebut, Ary telah memasukkan penafsiran Hermeunetik sebagai metide kelompok liberal dalam memahami ayat, tanpa merujuk kepada tafsir ulama atau penjelasan rasul dan sahabat terhadap ayat tersebut.

Ary Ginanjar, juga menyatakan bahwa suara hati itu adalah Asmaul Husna sebagaimana tertulis dalam bukunya: “ Asmaul Husna, sembilan puluh sembilan suara hati. Suara Tuhan. Sembilan puluh sembilan sifat Tuhan ( 99 Thinking Hats ).[41] “ Dan melalui sebuah perenungan panjang, akhirnya dengan izin Allah saya meminjam suara-suara hati milikNya untuk menggagas sebuah bentuk sinergi keduanya ( maksudnya SQ dan EQ ) ke dalam ESQ ( Emotional and Spiritual Quotient ).[42]

Dari pernyataan diatas dilihat bahwa Ary Ginanjar menyatakan bahwa “ Asmaul Husna “ itu adalah suara Tuhan, dan itulah suara hati. Padahal secara bahasa “ Asmaul Husna “ bukanlah suara hati , apalagi suara Tuhan, tetapi bermakna “ Nama-Nama Tuhan Yang Mulia “, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran Surah Al-A’raf : 180; Surah al Isra’ : 110; Surah Taha : 8; Surah al Hasyr : 24.
Dalam ayat-ayat tersebut dinyatakan dengan “ Wa lillahil Asma’ul Husna “ yang bermakna “ Bagi Allah itu nama-nama yang mulia “. Ayat tidak meyatakan “ bagi Tuhan “ , sebab orang kafir juga mempunyai nama Tuhan masing-masing, sehingga kalimat “ nama Tuhan “, dapat dipakai untuk semua agama[43], sedangkan “ Asma’al Husna “ hanya dapat dipakai kepada umat Islam yang hanya bertuhankan dan bertauhid kepada Allah .

Menurut Ary Ginanjar, Nabi Muhammad juga dalam menyampaikan risalahnya hanya mengandalkan logika dan suara hati : “ Itulah tanda bahawa nabi Muhammad saw merupakan nabi penutup, atau yang terakhir, yang begitu mengandalkan logika dan suara hati, bukan mukjizat-mukjizat ajaib semata yang tidak bisa diterima oleh akal sehat saat ini “ [44].

Nabi Muhammad menurut Ary Ginanjar mengandalkan suara hati dan logika, padahal dalam surah an Najm dinyatakan : “ Dan tidaklah Muhammad itu berbicara melainkan dengan wahyu yang disampaikan kepadanya “ ( QS. An Najm : 3 ). Nabi Muhammad juga menurut Ary Ginanjar menyampaikan risalahnya tidak melalui mukjizat, padahal Imam Suyuthi dalam kitab Al-Khashais[45] telah mencatat ratusan mukjizat nabi dan banyak diantara mukjizat tersebut menjadikan orang yang menyaksikannya masuk agama islam. Ary juga menyatakan bahwa mukjizat nabi itu tidak dapat diterima oleh akal manusia, padahal bagi seorang muslim kita percaya bahwa itu mukjizat itu dapat diterima akal[46], sebab mukjizat itu datang daripada Allah Yang Maha Kuasa.

Ary Ginanjar dalam bukunya juga menggambarkan hubungan IQ,EQ, SQ dan Tuhan secara langsung, sehingga hubungan manusia boleh langsung kepada Tuhan secara spiritual tanpa melalui rasul atau berdasarkan wahyu, sebagaimana terlihat dalam rajah yang ditulisnya dalam buku ESQ ( lihat gambar rajah ).

Di bawah rajah diatas diletakkan Surah al Haj ayat 46, sehingga seakan-akan maksud daripada ayat “ sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka merasa, dan mempunyai telinga yang dengan itu mendengar “, bahwa hati itu merasakan suara hati, dan telinga mendengar suara hati. Padahal ayat itu berkaitan dengan ayat sebelumnya : “ Berapa banyak kota yang Kami telah binasakan karena penduduknya dzalim, maka kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan berapa banyak sumur yang ditinggalkan dan istana yang tinggi “ ( Surah al Haj : 46). Menurut Imam Fakhrurrazi dalam tafsirnya : hati yang dengan itu merasa dimaksudkan adalah akal pikiran yang mempunyai ilmu sehingga maksud ayat adalah : “ apakah mereka tidak berpikir setelah melihat kehancuran kota tersebut, dan mengambil pelajaran atas kejadian masyarakat dulu yang dilaknat Allah akibat tidak mendengarkan wahyu yang disampaikan oleh nabi dan rasul yang datang kepada mereka. [47]

Dalam rajah diatas dapat terlihat makna 165 dimana 1 nilai ( value) yang disymbolkan dengan ( God Spot/Conscience/Suara hati ) menjadi landasan , diikuti dengan Zero Mind Process , kemudian diplikasikan dalam 6 principle ( Star Principle , Angel Principle, Leadership Principle, Leraning Principle, Vision Principle, Well Organized Principle ) dan dilaksanakan dalam 5 Action ( Mission Statement, Character Building, Self Controlling, Strategic Collaboration, Total Action ).
Dari rajah tersebut terlihat bahwa 1 ( GodSpot/Conscience/Suara hati ) menjadi landasan hidup, sedangkan dalam Islam landasan hidup adalah keimanan kepada Tuhan ( God ), sehingga dengan rajah tersebut terkesan Suara hati ( God Spot, Conscience ) menjadi landasan hidup. Berarti Suara hati telah menggantikan Tuhan dalam kehidupan, dan menjadi landasan berbuat dalam kehidupan. Padahal dalam islam segala sesuatu harus dilandaskan karena perintah Allah, sebagaimana yang dilakukan dalam niat sebelum beramal. Dari rajah tersebut maka 165 adalah 1 value, 6 principle, dan 5 action, sebagaimana tertulis dalam buku , bukan 1 Tuhan, 6 rukun Iman, atau 5 rukun islam.

Dengan mengambil 6 rukun iman, menjadi 6 prinsiple sehingga keimanan kepada Allah menjadi Strar Principle, Keimanan kepada malaikat kenjadi Angel Principle, keimanan kepada rasul menjadi Leadership principle, keimanan kepada kitab menjadi Learning principle, keimanan kepada hari kiamat menjadi Vision principle, dan keimanan kepada qadha dan qadar menjadi well organized principle.

5 Action diambil dari 5 rukun islam sehingga syahadat menjadi mission statement, shalat menjadi character building, puasa menjadi self controlling, zakat menjadi strategic collaboration dan haji menjadi total action. Oleh sebab itu Ary Ginanjar menyatakan dalam cover depan bukunya : “ ESQ berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 Rukun Islam “.

STRATEGI MENGHADAPI PLURALISMA AGAMA : Pengalaman Indonesia.

Untuk menghadapi pemahaman Pluralisma agama dalam masyarakat muslim, perlu diambil langkah-langkah yang dilakukan oleh kerajaan , terutama jabatan agama islam, pihak NGO Islam , lembaga pendidikan, masjid surau. Menurut pengalaman di Indonesia ada beberapa langkah yang telah mereka lakukan :

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam untuk mengikuti dan terpengaruh dengan pemikiran Sekularisma, Pluralisma, dan Liberalisma.

Membentuk NGO Islam seperti INSIST yang bertugas khas untuk menghadapi dengan mendedahkan pemikiran Sekularisma, Pluralisma, Liberalisma, yang berasal dari pemikiran Barat yang diikuti oleh pemikir Islam di seluruh dunia, baik dari negeri barat, maupun dari negeri Arab; kemudian memberikan jawaban-jawaban atas serangan pemikiran tersebut serta memberikan alternatif membentuk pandangan islam yang lengkap dengan merujuk kepada alquran, sunnah, dan kitab-kitab ulama mutakalimin dan mujtahidin terdahulu. Setakat ini INSIST telah menerbitkan majalah ISLAMIA, dan menerbitkan buku-buku yang mengkritik pemikiran Pluralisma, Sekularisma dan Liberalisma, serta melakukan kajian diskusi setiap minggu, melakukan workshop kepada tokoh-tokoh agama, ulama, ustadz dan khatib, pondok pesantren, perguruan tinggi, pertubuhan islam seperti Muhammadiyah, NU, Persis, dan lain-lain.

Melakukan Program Pengkaderan Ulama ( PKU : Program Kader Ulama ) yang dilakukan oleh ISID – Gontor bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia dengan peserta dari perwakilan lembaga pendidikan, majelis ulama, pondok, pertubuhan islam, dengan masa 6 bulan sampai 2 tahun.

Melakukan pengkaderan intelektual dan sarjana dengan melakukan kerjasama pendidikan tinggi dan pendidikan jarak jauh antara INSIST dengan Pasca Sarjana Universitas Muhamadiyah Solo, Pasca Sarjana Universitas Sultan Agung Semarang, Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Pasca Sarjana Universitas Indonesia Jakarta, dan lain sebagainya.

Bekerjasama dengan akhbar ” Republika ” dalam penerbitan wacana Peradaban Islam, dan menyiarkan artikel dan tulisan yang dapat mengkritik pemahaman yang keliru terhadap islam dari penulis-penulis Pluralis agama.

Menerbitkan makalah dan artikel yang dapat menghadapi gerakan tersebut melalui Majalah Islam seperti Hidayatullah, Majalah Gontor, dan juga dengan media lawan web seperti : hidayatullah, era muslim, swara muslim, dan lain sebagainya.

Memberikan informasi dan penjelasan kepada AJK Masjid terhadap individu, NGO, yang mempunyai hubungan dengan pemikiran Pluralisma, Sekularisma, dan Liberalisma, sehingga masyarakat dan AJK dapat berhati-hati dengan pemikiran mereka.

Memproduksi VCD , dan menyiarkan dalam lawan web melalui youtube, mendedahkan tentang bahaya Liberalisma, Pluralisma, dan Sekeluarisma.

Membentuk jaringan kelompok seperti millinglist, jaringan kerjasama antar NGO di pusat dan daerah di seluruh provinsi Indonesia.

Memberikan informasi dan bahan-bahan kepada kebjiaksanaan yang akan diambil kerajaan terhadap tuntutan-tuntutan yang diminta oleh kelompok-kelompok Liberal, Pluralisma Agama dengan berdasarkan kepada Hak Asasi Manusia dan lain sebagainya.

Membentuk kelompok-kelompok kajian atas pemikiran islam liberal di sejumlah kota, dengan mendirikan NGO yang mempunyai pemikiran yang sama dalam menghadapi serangan pemikiran liberal, pluralisme, dan sekularisme.

Menugaskan pakar-pakar pemikiran Islam yang dapat menghadapi serangan pemikiran pluralisme ke dalam ahli jawatan kuasa organiasi-organisai Islam seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Majelis Ulama, Dewan Dakwah, dan lain sebagainya.

Memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang berminat untuk mengambil bidang studi pemikiran Islam tingkat master dan doktoral dengan bidang kajian yang berkaitan dengan menangkis balik pemikiran liberal, dan pluralisme.

Memberikan masukan kepada institusi kerajaan tentang pandangan islam terhadap pluralisme, hak asasi manusia, liberalisme dan sekularisme, dan bahaya pemikiran tersbet kepada bangsa, negara dan agama.

Mengkaji ulang buku-buku pelajaran dari sekolah rendah agama sampai perguruan tinggi yang terpengaruh dengan pemikiran liberal, pluralisme, dan sekularisme, serta memberikan solusi dengan membuat buku – buku teks yang sesaui dengan pandangan islam.

PENUTUP

Di akhir tulisan penulis mengutip jawaban ketua Rabbi Yahudi tahun 1489 kepada masyarakat yahudi di perancis terhadap bagaimana mereka melakukan serangan kepada agama kristian :

Pada tarikh 13 Januari 1489, Shamur seorang rabbi yahudi menulis surat kepada pemimpin yahudi meminta pandangan berkaitan dengan situasi bahaya yang dialami oleh masyarakat yahudi di negeri perancis. Pada waktu itu orang perancis di kota Aix, Arles dan Marsailes menyerang sinagog yahudi. Oleh sebab itu Shamur menulis surat bertanya tindakan apa yang harus dilakukan. Surat itu dijawab :

“ Saudara-saudara, dengan rasa sedih pengaduan kalian telah kami pelajari. Penderitaan buruk yang kalian alami membuat kami ikut bersedih. Kalian mengadukan bahwa raja Perancis telah memaksa kalian memeluk agama Kristian. Kalian susah untuk melawan arahan tersebut. Maka masuklah kalian ke dalam agama kristian, tetapi tetap harus diingat bahwa ajaran Musa harus tetap kalian pegang erat-erat dalam hati sanubari.

Umat kristian memerintahkan supaya kalian menyerahkan harta benda kalian. Laksanakan arahan tersebut, tetapi selanjutnya didik putra-putri kalian untuk menjadi pedagang dan pengusaha yang tangguh sehingga perlahan-lahan kalian dapat merebut kembali harta benda itu dari tangan mereka.

Kalian juga mengatakan bahwa mereka telah mengancam keselamatan hidup kalian. Maka didiklah anak-anak kalian untuk menjadi dokter sehingga mereka nanti dapat membunuh orang kristiani secara rahasia.

Mereka menghancurkan tempat ibadat kalian. Maka didiklah putra-putri kalian untuk menjadi paderi, agar mereka nanti dapat menhancurkan gereja dari dalam.

Mereka menindas dan berbuat dzalim dengan melanggar hak dan nilai-nilai kemanusiaan. Maka didiklah putra-putri kalianagar mereka nanti menjadi agen-agen propaganda dan penulis, dan masuk ke dalam sistem pemerintahan.

Dengan demikian, di kemudian hari nanti kalian dapat menundukkan orang kristiani dalam cengkeraman kuku kekuasaan internasional yang kalian kendalikan dari belakang tirai. Ini merupakan cara balas dendam kalian terhadap mereka.

24 July 1489
Pemimpin Tertinggi Yahudi di Constantine
( Rujukan : Yahudi Menggemgam Dunia oleh William G. Carr , m.s.26-27.)


Demikianlah serangan pahaman Pluralisma agama dan spiritualisma agama terhadap keimanan umat Islam. Dengan Pluralisma agama mereka akan menghancurkan akidah umat Islam, dan dengan Spiritualisma agama mereka akan membangun sebuah agama yang baru berdasarkan kepada hati nurani, dengan hukum-hukum yang sesaui dengan pemikiran liberal dan hak asasi manusia, menuju kepada masyarakat yang berkebajikan dengan pembentukan ”human character” berlandaskan kepada suara hati nurani, bukan lagi berlandaskan kepada wahyu Al Quran yang disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Wallahu A’lam.


Kuala Lumpur, 2 Sya’ban 1431 / 14 July 2010.
Muhammad Arifin Ismail
Email : arifin_ismail@yahoo.com








[1] William G.Carr, Yahudi Menggenggam Dunia, hal.192-193.
[2] Anis Malik Toha, Tren Pluralisma Agama , Perspektif, Jakarta , 2005, hal. 11-12.
[3] John Hick, Pluralisma Agama dan Islam, dalam “ Islam dan Pluralisme “ al Mustaqeem Mahmood Radhi, Khairul Anam he Menteri, Middle Eastern Gtaduate Center, 2006, hal. 96.
[4] Suratno, Pluralitas makna Pluralisme, dalam “ Islam dan Pluralisme, al Mustaqeem Mahmood Radhi dan Khairul Anam Che Menteri, Middle Eastern Graduate Center, 2006, hal. 21.
[5] Syed Husein Nasr, Knowledge and the Sacred, hal. 293.
[6] Anis Malik Toha, Tren Pluralisma Agama, hal.20.
[7] Farquhar, J.N., Modern Religious Movement in India, hal.148.
[8] Masih Y, A omparative Study of Religions, Delhi, 1993, hal. 200.
[9] Anis Malik Toha, opcit, hal. 22.
[10] Untuk lebih jelas tentang Theosophical Soceity sila rujuk laman web www.ts.-adyar.com.
[11] Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama, hal.23.
[12] Adian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi, Gema Insani, 2009, hal. 177.
[13] Umar Ibrahim Vadillo, The Esoteric Deviation in Islam, Madinah Press, 2003, hal. 392.
[14] Adian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi, hal. 178. Untuk lebih lanjut tentang kehidupan ReneGeunon lihat Robin Waterfield, Rene Geunon and the Future of the West, The life and writing of a 20th century metaphysician.
[15] Umar Ibrahim Vadillo, The Esoteric Deviation in Islam, hal.382.
[16] Umar Ibrahim Vadillo, The Esoteric Deviation in Islam, hal. 383.
[17] Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama, hal. 116.
[18] Umar Ibrahim Vadillo, The Esoteric Deviation in Islam, hal. 405, mengutip dari Fricjof Schoun, Un Regard Autobiographique, in Frithjof Schoun 1907-1998 by Bernard Cheviliat, Avon ( France ) hal.85
[19] Sayed Hussein Nasr, Knowledge and Sacred, hal. 296 dan juga bukunya “ Ideals and Realities of Islam, hal. 16.
[20] Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, CIOS-ISID Gontor, 2008, hal.103
[21] Majalah Gatra, 21 Desember 2002.
[22] Harian Kompas, 18/11/2002 dalam artikel “ Menyegarkan kembali pemahaman Islam “.
[23] John Hick, An Interpretation of Religion : Human Responses to the Trancendent “, London, Mamillan, 1991, hal. 36.
[24] Noorkholis Madjid, Tiga Agama Satu Tuhan, Mzan , bandung, 1999, hal. Xxx
[25] Ibnu Katsir, Tafsir Quranul Adzim, jilid 4, Darul Fikr, 1998, hal.639
[26] Imam Suyuthi, Tafsir Durrul Mansur fit tafsir bil Ma’sur, jilid 6,darulkutilmiyah,2000, hal. 692
[27] Suminto al Qurthuby, Lobang Hitam Agama, Rumah Kata, Yogyakarta, 2005, hal. 45
[28] Abdul Minur Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, Kreasi Wacana, Jogyakarta,2008, hal. 44
[29] AlMustaqeem Mahmud Radhi, Islam dan Pluralisme, Kuala Lumpur, hal.64
[30] Untuk lebih lanjut tentang InterFaith Commission sila baca Malaysian Interfaith Commission – A Documentation, Konrad Adeauer Foundation, Kuala Lumpur, 2007.
[31] Rene Guenon, seorang yahudi lahir di Brois Perancis, pada tahun 1883. Mulai mempelajari agama-agama khususnya Hindu, Taoisme, dan Islam. Masuk islam pada tahun 1912 dan memakai nama Abdul Wahid Yahya. Pada tahun 1930 pindah ke Mesir dan meninggal disana pada tahun 1951. Diantara karya tulisnya : The Symbolism of the Cross, The crisis of the Modern World, dan The Multiple States of Being.
[32] F.Schoun lahir di Basle, Germany, 1907 mempelajari agama-agama Hindu, Budha dan masuk Islam menulis karya : The Transendent Unity of Religions, Esoterism as Principle and as Way , Sufism : Veil and Quintessence, Perennial Philosophy in Islam, dan Understanding Islam.
[33] Ary Ginanjar Agustian, ESQ : Emotional Spiritual Quotient, Agra, 2001, hal.xxxvii.
[34] Rene Geunon, Crisis of the Modern World “, Lahore, 1981, hal.38, Anis Malik Toha, Tren Pluralisma Agama, hal. 113.
[35] Wan Zahidi bin Wan Teh, Kertas kerja “ Gerakan Islam Liberal dan kaitannya dengan ESQ, Unit buhus Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan “. Hal.35.
[36] Lihat lawan meb www.spiritualintellegene.com
[37] Untuk lebih mengetahui tentang Kabala, sila buka lawan web www.wikipedia.org/wiki/kabbalah.
[38] Ary Ginanjar Agustian, ESQ , hal. Liii.
[39] Ary Ginanjar Agustian, ESQ, hal. 11.
[40] Ibnu Kasir, Tafsir Quranul Adzim, Darul Fikr, 1998, jilid 3, hal. 473.
[41] Ary Ginanjar, ESQ, hal. 44.
[42] Ary Ginanjar, ESQ, hal. Xxxviii.
[43] Sebagai contoh, kelompok Kabbalah, salah satu sekte yahudi mengakui 72 nama-nama Tuhan, dan mereka beriabadh dengan menyebut nama-nama Tuhan mereka dan merasakan bahwa tuhan menyatu dengan dirinya sewaktu menyebut nama-nama Tuhan tersebut ( lihat situs kabbalah dalam wikipedia)
[44] Ary Ginanjar Agustian, ESQ, hal. 100.
[45] Lihat Al-Khasais an Nabawiyah alKubra, mujallah awwal wassani, Jalaluddin as Sayuthi, Maktabah Qayimah, al Qahirah, 1996. Kitab ini menghimpun segala hadis yang berkaitan dengan nabi Muhammad saw.
[46] Pada saat ini, banyak kajian tentang bukti sains terhadap mukjizat nabi, sebagai contoh mukjizat nabi dalam membelah bulan telah dibuktikan oleh NASA bahwa dari kajian terhadap batu-batu bulan, mereka mengambil kesimpulan bahwa bulan pernah terbelah dua bagian.
[47] Fakhruddin ar Razi, Tafsir al Kabir, jilid 8, Darul Ihya Turas Islamiy, Beirut, 2001, hal. 234,

No comments:

Post a Comment