Pages

Monday, January 11, 2010

SIKAP MUSLIM TERHADAP WAKTU


“ Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan “
( QS. At taubah : 36 )

Dalam setiap pergantian waktu, hari,bulan dan tahun, sebagai muslim kita perlu mengingat wasiat rasulullah mengenai waktu sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadis : ‘ Tidak akan datang suatu hari, kecuali hari itu akan berkata-kata kepada seluruh manusia : “ Wahai anak cucu Adam, aku adalah hari baru bagimu..Aku ini akan menjadi saksi atas semua perbuatan yang kamu lakukan. Oleh sebab itu jadikanlah aku sebagai bekal hidupmu, sebab jika aku telah berlalu, maka aku tidak akan pernah kembali lagi sampai hari kiamat kelak “. Hadis dengan makna diatas diriwayatkan oleh Baihaqi dan Dailami.

Begitu tingginya nilai waktu bagi kehidupan, sehingga dalam Al Quran kita akan mendapati bahwa Allah bersumpah dengan waktu seperti “ wallaili “ ( demi waktu di malam hari ), “wan-nahaari “ ( demi waktu siang ), “ Wal fajri “ ( demi waktu fajar di pagi hari ), “ wa-dhuhaa “ ( demi waktu duha, yaitu waktu matahari sedang naik ), dan “wal ahsri “ ( demi waktu ). Dalam menafsirkan surah wal –Ashri tersebut Imam Fakhruddin Ar razi menyatakan bahwa : Allah subhana wa taala bersumpah dengan waktu karena di dalam waktu terdapat beberapa keajaiban, terdapat kesenangan dan kesusahan, kesehatan dan rasa sakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Juga disebabkan karena nilai dan harga waktu tidak dapat ditandingi oleh apapun jua. Itulah sebabnya Allah taala bersumpah dengan waktu

Waktu adalah nikmat Allah yang tak ternilai harganya , tapi sayang banyak manusia yang tidak dapat mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya sebagaimana dinyatakan oleh sebuah hadis : “ Dua kenikmatan yang banyak dilalaikan orang yaitu kesehatan dan kesempatan “. hadis riwayat Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Oleh sebab itu dalam beribahasa Arab dikatakan: Waktu itu laksana pedang, jika anda tidak menggunakannya dengan baik, maka ia akan memotong anda “. Berarti kalau waktu kita pergunakan dengan baik berarti kita menang, dan jika kita membiarkannya berlalu begitu saja maka kita telah kalah. Dengan kata lain, apabila anda tidak siap untuk mengambil manfaat dalam setiap kesempatan, maka anda akan binasa sebagaimana binasanya orang yang ditebas oleh sebilah pedang.

Imam Hasan AlBanna menyatakan: ‘ Ramai orang mengatakan bahwa waktu itu adalah emas. Pendapat ini benar dan beralasan, apabila ditinjau dari nilai sesuatu benda, karena mereka tidak dapat mengukur sesuatu yang ada kecuali dengan sesuatu benda. Padahal, sebenarnya waktu lebih berharga daripada emas karena waktu itu adalah suatu kehidupan. Emas kadang-kadang boleh hilang dan kita masih dapat mencari penggantinya atau mendapatkan sesuatu yang lebih banyak daripada yang hilang. Sedangkan waktu, apabila telah pergi, maka mustahil dapat kembali lagi atau dapat dikembalikan lagi, itulah sebabnya waktu itu lebih berharga daripada emas, intan, berlian, dan permata lainnya, karena waktu itu adalah kehidupan. Oleh karena waktu adalah kehidupan, maka dapat dikatakan bahwa membuang dan mensia-siakan waktu berarti membuang mensia-siakan kehidupan kita sendiri. Orang yang lalai , maka waktunya akan berlalu dan waktu itu tidak dapat diulang lagi sebab tidak mungkin hari kemarin diputar dan dijadikan hari ini.
Lihat saja bagaimana mereka yang menghabiskan waktunya dengan permainan video game, main catur, duduk-duduk di warung , di diskotik, di pinggir jalan, itu hanyalah menghabiskan waktu tanpa sesuatu yang bermanfaat. Ada lagi mereka yang membuang waktu dengan membaca majalah picisan, novel-novel fiktif, nonton filem , sinetron, telenovela, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh kaum wanita di rumah-rumah, bukankah itu semua membuang waktu mereka dengan kegiatan yang tidak memberikan manfaat bagi keperluan dunia maumun untuk kebaikan di akhirat. Mengapa waktu itu tidak diperguanakn untuk kegiatan yang lebih positip ataupun yang bersifat produktif..? Padahal ajaran agama kita menyuruh kita agar memakai waktu dengan amal ibadah, atau amal saleh, atau amal jariyah.

Sudah waktunya sebagai muslim, kita merobah cara hidup dari hidup dengan santai, penuh hiburan dan permainan menjadi hidup yang penuh dengan pekerjaan yang positip dan produktif, baik untuk kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Sudah sewajarnya kita selalu bertanya ; ‘ Apa yang telah saya lakukan dalam mengisi waktu saya setiap hari..? Sudahkan saya pergunakan untuk menjaga kesehatan, untuk menambah harta kekayaan, untuk menambah ilmu pengetahuan, untuk membantu orang lain, atau untuk sesuatu yang bermanfaat baik bagi diriku maupun bagi orang lain.. “.

Amir bin Abdul Qais, seorang ulama yang zuhud pada suatu hari didatangi seseorang yang memintanya untuk bercerita, maka beliau menjawab : “ Hentikan dahulu matahari itu. Tahanlah agar ia tak bergerak, hingga aku sempat untuk bercerita kepadamu, sebab waktu akan terus bergerak dan apa yang telah aku lakukan tidak akan pernah kembali. Maka apabila ada suatu kerugian, niscaya kerugian itu tidak boleh diganti dan ditukar, karena setiap waktu itu mempunyai bagian-bagian tersendiri “. Oleh karena itu sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Mas’ud berkata : “ Saya tidak pernah menyesali suatu hal, seperti penyesalan saya atas hari yang telah berlalu, dimana umurku telah berkurang dan aku tidak sempat menambah amal baikku “.

Oleh sebab itu Nabi berpesan : “ pergunakanlah waktu kosongmu sebelum datang waktu sibukmu “, malahan beliau telah mengajari kita agar selalu berdoa setiap pagi dan petang dengan doa : Allahumma inni a’udzubika minal ajzi wal kasal “, Ya Allah aku berlindung kepadamu daripada lemah dan malas. Oleh sebab itu itu sebagai seorang muslim sepatutnya menghindar dari sifat malas karena malas itu laksana syetan yang haru kita jauhi, sehingga kita disuruh untuk meminta perlindungan kepada Allah subhana wataala. Imam Ibnu Jauzi berkata : “ Malas adalah teman yang paling buruk, dan suka bersantai-santai dapat mewariskan penyesalan yang luar biasa “. Seorang muslim harus waspada daripada sifat malas dan santai, atau melakukan sesuatu yang tidak berguna, sebab sifat seorang mukmin adalah : “orang yang berpaling dari perkara yang tidak berguna “ ( QS.AlMukminun : 3 ) “ Dan apabila mereka berjalan di depan perkara yang tidak berguna, maka mereka berjalan dengan penuh kemuliaan “( QS. Al Furqan : )

Seorang muslim juga tidak perlu takut lelah, karena jika seorang muslim bekerja dengan sekuat tenaga, maka butiran keringat akan bernilkai pahala disisi Allah subhana wa taala. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda : “ Allah sangat senang kepada seorang hamba apabila bekerja sampai merasa kelelahan “. Dengan kelelahan bekerja disana terdapat kecintaan daripada Allah Taala. Itulah sebabnya Umar bin Khattab sangat membenci orang yang tidak bersemangat dalam bekerja dengan katanya : “ Aku sangat membenci seseorang yang tidak mempunyai semangat dalam mencari kemaslahatan dunia dan akhirat “.

Memasuki tahun dua ribu sepuluh ini sudah sepatutnya masyarakat muslim merobah cara hidup. Dari cara hidup malas, hidup santai, hidup berleha-leha, dirobah menjadi cara hidup kerja keras, penuh disiplin, kreatif, produktif, yang melakukan kegoiatan positip baik untuk akal pikiran, kesehatan, ilmu pengetahuan, kekayaan dunia, atau untuk kehidupan akhirat. Ahmad Syauqi, penyair Arab berkata ; “ Denyut jantung manusia selalu berkata : Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah beberapa saat saja. Maka angkatlah nama baikmu untuk bekal apabila kamu mati, karena nama baik bagi manusia adalah umur baru “. Al Faqih Umarah Al Yamani berkata : ‘ Jika modalmu adalah umurmu, maka waspadalah..jangan sampai kau pergunakan umurmu tersebut di jalan yang tidak benar. Karena di dalam pergantian siang dan malam terdapat pertarungan yang tentera-tenteranya akan membawa kepada kita segala macam keajaiban dan sesuatu yang tak terduga “. Akhirnya marilah kita memasuki tahun ini dengan merenungi sebuah hadis nabi yang bermakna : ‘ Orang mukmin itu berada di antara dua kekhawatiran : kekhawatiran waktu yang telah berlalu, yang mana ia tidak tahu apakah waktu itu akan diberi ganjaran oleh Allah kepadanya, dan kekhawatiran waktu yang akan datang dan masih ghaib baginya, dimana dia tidak tahu apakah yang telah ditaqdirkan Allah kepadanya “. Fa’tabiru ya Ulil albab.

No comments:

Post a Comment