M A K R I F A H
Makrifah berasal dari akar kata “a-ra-fa”, yang bermakna mengenal akan sesuatu. SEcara bahasa , makrifah berarti meliputi sesuatu sebagaimana apa adanya . Dalam kitab suci Al Quran disebutkan:
“ Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul ( Muhammad ) kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui “ ( Surah al Maidah : 83 ),
“ Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenal ( Muhammad ) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri “ ( Surah al An’am : 20 ).
Dalam Hadis Rasulullah saw bersabda :
“ Aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepadaNya “. ( Kitab Madarijussalikin, jilid 3, m.s.338)
“ takutlah kamu ( bertaqwa ) kepada Allah, dengan mengambil perhatian atas apa yang engkau kenal akan Dia dan dengan meninggalkan apa yang dilarangNya “ ( riwayat Ahmad ).
“ Iman itu adalh mengenal Allah dengan hati “ ( Ibnu Majah )
“ Iman itu adalah mengenal dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan “ ( riwayat Thabrani dan Baihaqi )
“ Hati orang munafiq mengenal Allah tetapi mereka mengingkariNya “ ( riwayat Ahmad ).
Ibnu Qayim menyatakan bahwa orang yang bermakrifat (arif) adalah orang yang memiliki makrifat tentang Allah dengan segala sifat, asma dan perbuatanNya, kemudian Allah membenarkan muamalahnya, memurnikan tujuan dan niatnya, melepaskan akhlak-akhlaknya yang buruk, sabar menerima ketetapan hukum Allah, baik yang berupa nokmat atau musibah, kemudian berdoa kepadaNya berdasarkan bashirah terhadap agama dan ayat-ayat Allah, memurnikan seruan hanya kepada Allah seperti yang dibawa oleh Rasulullah, tidak dicampuri dengan keinginan , pemikiran dan hawa nafsu.
Sebagian ulama berkata bahwa diantara tanda makrifat kepada Allah adalah munculnya rasa takut kepada Allah, sehingga sesiapa yang lebih mengenal Allah maka dia akan lebih takut kepadaNya, sebagaimana yang dinyatakan oleh hadis nabi diatas.
Ada yang menyatakan bahwa makrifat akan mendatangkan ketenangan jiwa, sehingga sesiapa yang bermakrifat kepada Allah maka dia akan merasakan bertambahnya ketenangan jiwa “.
Ada orang yang bertanya : Apakah tanda makrifat kepada Allah ? Ulama Salaf menjawab bahwa tanda makrifat kepada Allah adalah kebersamaan hati dengan Allah dan merasakan kedekatan hati dengan Allah “.
Ulama tasawuf, Syibli berkata : “ Orang yang arif tidak mempunyai ikatan, orang yang mencintai tidak mengeluh, hamba yang arif tidak akan mengadu, bagi hamba yang takut tidak akan merasa aman dari siksa Allah, tetapi dia juga mengakui tidak akan dapat lari daripada Allah “.
Ulama sufi yang lain, Ahmad bin Ashim berkata : “ Sesiapa yang paling memiliki makrifat kepada Allah, maka dia akan merasa paling takut dengan siksa Allah “.
Ada lagi yang mengatakan bahwa ; Sesiapa yang makrifat kepada Allah, maka dia merasa sempitnya dunia karena rindu ingin berjumpa dengan Allah “
Ada yang menyatakan “ Makrifat kepada Allah akan melapangkan segala kesempitan “. Hal ini disebabkan dia mengenal sifat-sifat Allah, sehingga tidak ada kesulitan dan kesempitan dalam hidup ini, sebab dia yakin dengan segala sifat-sifat Allah.
Ulama lain berkata : “ Sesiapa yang memiliki makrifat kepada Allah, maka hidupnya menjadi jernih dan tenang, segala sesuatu takut kepadanya, dia tidak takut kepada apapun dan hatinya merasakan dekatnya seakan-akan berada di sisi Allah “.
Subagian ulama menyatakan : “ Makrifat kepada Allah maka dia akan merasa senang kepada Allah, senang dengan kematian, dan semuanya akan senang kepadanya, sementara sesiapa yang tidak memiliki makrifat kepada Allah maka dia akan merasakan terputusnya dunia, ( dunia tidak member manfaat bagi kehidupannya dimasa mendatang ), dan sesiapa yang makrifat kepada Allah tidak akan membiarkan sedikiktpun dari masa dan kesenangan di dunia kecuali hanya dipergunakan untuk mencari keridhaan Allah, dan jika memakai kesenangan hanya untuk dirinya berarti dia telah mendustakan makrifatnya kepada Allah. Sesiapa yang memilkiki makrifat kepada Allah, maka AllahTaala akan mencintainya, tergantung dari ukuran makrifatnya kepada Allah. Sesiapa yang makrifat kepada Allah, maka dia sangat takut kepadaNya ( khauf ), selalu berharap kepadaNya ( raja’ ), bertawakkal dan berserah diri kepadaNya, selalu merindukan perjumpaan dengan Nya, merasa malu kepadaNya ( jika tidak melakukan perintahNya), mengagungkanNya dan memuliakanNya “.
Diantara tanda orang yang arif adalah jika dia melihat dan mendengar informasi yang ghaib maka hatinya segera menjadi cermin mengajak kepada beriman, seberapa jauh kejernihan cermin hati itu, maka sejauh itu dia merasakan kehadirran Allah, merasakan kehidupan akhirat, merasakan wujudnya surge dan neraka, merasakan kehadiran rasul dan malaikat.
Ada orang yang bertanya kepada seorang ulama tasawuf Al Junaid bahwa ada segolongan orang yang mengaku telah mendapat tingkat makrifat sehingga merasa tidak perlu lagi menjalankan shalat dalam gerakan, cukup dengan mengenal Allah saja, dan mereka menyangka itulah suatu kebajikan , maka AlJunaid berkata : “ Mereka itu adalah orang yang dengan sengaja menggugurkan amal ibadah. Dalam pandangan saya ini merupakan masalah yang berat,karena orang yang berzina atau mencuri lebih baik daripada mereka yang berpendapat demikian. Orang yang memiliki makrifat tentang Allah sepatutnya mengambil berat setiap amal ibadah kepada Allah dan hanya ditujukan kepada Allah. Andaikata aku ( aljunaid ) berumur seribu tahun lagi, maka aku tidak akan mengurangi amal ibadah walaupun sebesar atom kecuali jika umurka telah dihentikan “.
Diantara tanda orang yang arif adalah tidak menyesali apa yang lepas daripada tangannya, dan tidak gembira karena sesuatu yang diterimanya, sebab dia melihat bahwa segala sesuatu tidak akan kekal ( fana ), dan segala sesuatu itu adalah milik Allah, semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
AlJunaid berkata : Orang tidak disebut arif kecuali dia menjadi seperti tanah yang siap dipijak oleh orang baik dan orang yang buruk, atau menjadi seperti awan yang akan memberikan perlindungan kepada segala sesuatu, atau seperti hujan yang akan memberikan airnya kepada orang yang disukai ataupun tidak disukai ‘.
Ulama lain berkata : Orang tidak disebut arif kecuali jika dia memiliki harta sebanyak diberikan kepada nabi Sulaiman, tetapi harta itu tidsak membuatnya berpaling sedikitpun daripada Allah”.
Seorang ulama sufi Dzun Nun al Masri berkata : “ Tanda orang arif itu tiga macam : Cahaya makrifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya. Kedua tidak mempercayai ilmu batin dapat mengalahkan ilmu hukum secara zahir. Ketiga, limpahan nikmat Allah tidak membuatnya merusak tabir yang telah diharamkan Allah kepadanya “.
Dzun Nun ditanya dengan apa engkau mengenal Allah ? Maka dia menjawab : “ Aku mengenal Tuhan dengan Tuhanku, jikalau bukan karena TuhanKu maka aku tidak akan mengenal Tuhanku “.
Orang arif akan tetap menjaga hubungannya dengan Allah walaupun dalam keadaan tidur, sehingga ada yang berkata : Tidurnya orang arif sama dengan berjaga dan nafasnya orang arif merupakan tasbih, oleh sebab itu tidurnya orang arif lebih baim daripada shalatnya orang yang lalai “.
Ulama berkata bergaul dengan orang arif akanmengajakmu kepada enam perkara ; “ Mengajakmu dari keraguan kepada keyakinan, dari riya kepada ikhlas, dari lalai kepada dzikir, dari keinginan terhadap dunia kepada keinginan kepada akhirat, dari takabur kepada tawadhu, dan dari buruk sangka kepada nasihat “.
Orang arif adalah orang yang selalu mengisi waktunya dengan amal kebajikan, dan membagun waktunya untukmkehidupan dimasa mendatang.
Oleh sebab itu Muhammad bin al Fadl berkata : Makrifat itu adalah hidupnya hati seorang hamba bersama Allah.
Walahu A’lam
Masjid AlGhufron, 7 Ogos 2007/23Rajab 1428
Muhammad Arifin bin Ismail.
Tuesday, January 25, 2011
FANA
FANA
Fana dalam bahasa artinya adalah kebinasaan. Dalam kitab suci Al Quran disebutkan : “Semua yang ada dibumi ini akan binasa. Dan tetaplah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan “ ( Surah ar Rahman : 26-27).
Sikap fana dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah fana dalam kecintaan dan ketaatan kepada Allah, dan mencari keridhaan Allah sehingga mengantarkannya kepada kehidupan dan kedudukan yang kekal.
Sikap Fana juga dimaksudkan adalah fana hati dari seluruh kehidupan dunia, dan ketergantungan kepada alam dan makhluk yang fana, dan hanya bergantung kepada Dzat Allah yang kekal dan Yang Maha tinggi. Oleh sebab itu sebgain ulama menyatakan bahwa makna ayat Al Quran tersebut seakan-akan menyatakan : “ Jika engkau bergantung kepada yang fana, maka ketergantungan itu akan berakhir pada waktu benda itu menjadi fana ; tetapi jika engkau bergantung kepada Dzat yang kekal, maka ketergantungan itu tidak akan putus dan terus berlanjut “. Kefanaan dalam hal ini berarti puncak dan akhir ketergantungan seseorang dalam kepada makhluk, dan hanya menyerahkan segala keputusan dalam qudrah dan iradah Allah.
Ulama menyatakan ada dua tingkatan fana :
1. Fana dalam makrifat menegnal dzat Alah, sehingga tidak ada sesuatu dialam ini yang kekal kecuali Allah subhana wataala.
2. Fana dalam keilmuan, sehingga tidak ada sesuatu di dalam hati kecuali hanya mengingat dan dzikir kepada Allah.
3. Fana dalam kesaksian :
a. fana dalam kesaksian rububiyah dan qayumiyah. Maksudnya adalah kesaksian terhadap sifat Allah yang qayum ( berdiri sendiri ) bahwa Dialah sebagai pengatur, pencipta, pemberi rezki, pemberi manfaat dan mudharat, dan semua makhluk dan hamba wajib tunduk dibawah hukum rububiyah Allah subhana wataala.
b. Fana dalam kesaksian ilahiyah, maksudnya kefanaan dari kehendak kepada selain Allah, baik dalam cinta, tawakkal, takut dan harap, dengan penuh ketaatan sehingga tidak ada perintah dan larangan selain perintah Allah, tidak ada kehidupan selain mengikuti segala yang telah ditentukan Allah dalam syariatNya.
Penyimpangan pemahaman dalam fana :
1. Wahdatul wujud.
Wahdatul wujud artinya adalah kesatuan yang wujud. Maksudnya bahwa segala ala mini sebenarnya fana, dan yang wujud adalah Allah, dan semua makhluk itu adalah pancaran daripada Allah, oleh sebab itu jika kita melihat makhluk sama dengan kita melihat Allah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh al Hallaj ( Abul Mughist Husain al hallaj hidup dari tahun 858 M – 922 , lahir di Marokko dan wafat di Baghdad ) yang berkata : “ Anal haq, Aku adalah Tuhan “. Dan dalam kesempatan lain dia juga berkata : “ Tidak ada dalam jubahku selain Allah “. Pernyataan ini diungkapkannya karena melihat bahwa dirinya secara Dzat telah fana dan yang ada hanya Dzat allah, sehingga jika aku melihat diriku, maka sebenarnya diriku telah fana, maka yang ada adalah Dzat Allah. Akhirnya ulama memfatwakan bahwa al hallaj adalah sesat dan hukuman bagi pernyataannya adalah dibunuh.
Pemikiran al hallaj ini berkembang ke nusantara sehingga Syekh Siti Jenar di Jawa juga berkata : Aku adalah Tuhan “, dan akhirnya Syekh siti Jenar di pulau jawa juga difatwakan oleh kumpulan ulama di jawa ( Wali Songo ) adalah sesat dan dibunuh.
Hal ini juga sebagaimana yang dikatakan oleh Hamzah Fansuri dalam syairnya :
Satukan hangat dengan dingin
Tinggal loba dan ingin
Hancur hendak seperti lilin
Maka dapat kerjamu licin
Hapuskan akal dan rasamu
Lenyapkan badan dan nyawamu
Pecahkan hendak kedua matamu
Disanalah lihat permai rupamu
Hunuskan pedang bakarkan sarung
Isbatkan Allah nafikan patung
Laut tauhid juga kau harung
Disanalah engkau dapat bernaung
Hamzah fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus ke Kudis terlalu payah
Akhirnya dapat di dalam rumah
2. Ittihad.
Ittihad secara bahasa adalah bersatu. Hal ini dimaksudkan adalah bersatunya diri manusia dengan dzat Tuhan, sehingga diri manusia fana ( binasa ) dan yang ada adalah Dzat Tuhan. Jika wahdatul wujud menyatunya alam dengan Tuhan sehingga setiap alam seebnarnya adalah Dzat Tuhan yang memancar dalam alam, maka ittihad adalah diri manusia dengan dekatnya kepada Tuhan maka dia akan menyatu dengan tuhan, sebab itulah al hallaj berkata “ Anal Haq “, akulah Tuhan.
3. Hulul
Hulul adalah hilangnya diri dalam Dzat Tuhan, itulah sebabnya dalam syair tersebut Hamzah Fansuri berkata : Hapuskan akal dan rasamu, lenyapkan badan dan nyawamu, pecahkan hendak kedua matamu, disanalah lihat permai rupamu. Wallaahu A’lam.
Fana dalam bahasa artinya adalah kebinasaan. Dalam kitab suci Al Quran disebutkan : “Semua yang ada dibumi ini akan binasa. Dan tetaplah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan “ ( Surah ar Rahman : 26-27).
Sikap fana dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah fana dalam kecintaan dan ketaatan kepada Allah, dan mencari keridhaan Allah sehingga mengantarkannya kepada kehidupan dan kedudukan yang kekal.
Sikap Fana juga dimaksudkan adalah fana hati dari seluruh kehidupan dunia, dan ketergantungan kepada alam dan makhluk yang fana, dan hanya bergantung kepada Dzat Allah yang kekal dan Yang Maha tinggi. Oleh sebab itu sebgain ulama menyatakan bahwa makna ayat Al Quran tersebut seakan-akan menyatakan : “ Jika engkau bergantung kepada yang fana, maka ketergantungan itu akan berakhir pada waktu benda itu menjadi fana ; tetapi jika engkau bergantung kepada Dzat yang kekal, maka ketergantungan itu tidak akan putus dan terus berlanjut “. Kefanaan dalam hal ini berarti puncak dan akhir ketergantungan seseorang dalam kepada makhluk, dan hanya menyerahkan segala keputusan dalam qudrah dan iradah Allah.
Ulama menyatakan ada dua tingkatan fana :
1. Fana dalam makrifat menegnal dzat Alah, sehingga tidak ada sesuatu dialam ini yang kekal kecuali Allah subhana wataala.
2. Fana dalam keilmuan, sehingga tidak ada sesuatu di dalam hati kecuali hanya mengingat dan dzikir kepada Allah.
3. Fana dalam kesaksian :
a. fana dalam kesaksian rububiyah dan qayumiyah. Maksudnya adalah kesaksian terhadap sifat Allah yang qayum ( berdiri sendiri ) bahwa Dialah sebagai pengatur, pencipta, pemberi rezki, pemberi manfaat dan mudharat, dan semua makhluk dan hamba wajib tunduk dibawah hukum rububiyah Allah subhana wataala.
b. Fana dalam kesaksian ilahiyah, maksudnya kefanaan dari kehendak kepada selain Allah, baik dalam cinta, tawakkal, takut dan harap, dengan penuh ketaatan sehingga tidak ada perintah dan larangan selain perintah Allah, tidak ada kehidupan selain mengikuti segala yang telah ditentukan Allah dalam syariatNya.
Penyimpangan pemahaman dalam fana :
1. Wahdatul wujud.
Wahdatul wujud artinya adalah kesatuan yang wujud. Maksudnya bahwa segala ala mini sebenarnya fana, dan yang wujud adalah Allah, dan semua makhluk itu adalah pancaran daripada Allah, oleh sebab itu jika kita melihat makhluk sama dengan kita melihat Allah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh al Hallaj ( Abul Mughist Husain al hallaj hidup dari tahun 858 M – 922 , lahir di Marokko dan wafat di Baghdad ) yang berkata : “ Anal haq, Aku adalah Tuhan “. Dan dalam kesempatan lain dia juga berkata : “ Tidak ada dalam jubahku selain Allah “. Pernyataan ini diungkapkannya karena melihat bahwa dirinya secara Dzat telah fana dan yang ada hanya Dzat allah, sehingga jika aku melihat diriku, maka sebenarnya diriku telah fana, maka yang ada adalah Dzat Allah. Akhirnya ulama memfatwakan bahwa al hallaj adalah sesat dan hukuman bagi pernyataannya adalah dibunuh.
Pemikiran al hallaj ini berkembang ke nusantara sehingga Syekh Siti Jenar di Jawa juga berkata : Aku adalah Tuhan “, dan akhirnya Syekh siti Jenar di pulau jawa juga difatwakan oleh kumpulan ulama di jawa ( Wali Songo ) adalah sesat dan dibunuh.
Hal ini juga sebagaimana yang dikatakan oleh Hamzah Fansuri dalam syairnya :
Satukan hangat dengan dingin
Tinggal loba dan ingin
Hancur hendak seperti lilin
Maka dapat kerjamu licin
Hapuskan akal dan rasamu
Lenyapkan badan dan nyawamu
Pecahkan hendak kedua matamu
Disanalah lihat permai rupamu
Hunuskan pedang bakarkan sarung
Isbatkan Allah nafikan patung
Laut tauhid juga kau harung
Disanalah engkau dapat bernaung
Hamzah fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus ke Kudis terlalu payah
Akhirnya dapat di dalam rumah
2. Ittihad.
Ittihad secara bahasa adalah bersatu. Hal ini dimaksudkan adalah bersatunya diri manusia dengan dzat Tuhan, sehingga diri manusia fana ( binasa ) dan yang ada adalah Dzat Tuhan. Jika wahdatul wujud menyatunya alam dengan Tuhan sehingga setiap alam seebnarnya adalah Dzat Tuhan yang memancar dalam alam, maka ittihad adalah diri manusia dengan dekatnya kepada Tuhan maka dia akan menyatu dengan tuhan, sebab itulah al hallaj berkata “ Anal Haq “, akulah Tuhan.
3. Hulul
Hulul adalah hilangnya diri dalam Dzat Tuhan, itulah sebabnya dalam syair tersebut Hamzah Fansuri berkata : Hapuskan akal dan rasamu, lenyapkan badan dan nyawamu, pecahkan hendak kedua matamu, disanalah lihat permai rupamu. Wallaahu A’lam.
TAJRID (KESUNGGUHAN)
T A J R I D
Tajrid secara bahasa adalah mengosongkan sesuatu daripada yang lain. Maksud tajrid dalam pemahaman tasawuf bahwa jika kita sedang menghadap Allah, maka penuhkanlah perhatian hanya kepada Allah dan kosongkan perhatian daripada yang lain. Demikianlah juga jika engkau mengerjakan sesuatu maka penuhkanlah perhatian kepada pebuatan tersebut dengan niat kepada Allah dan kosongkan daripada yang lain. Kosongkan daripada yang lain dan hanya menghadapkan diri kepada Allah itulah yang dimaksudkan dalam kalimat : “ iyyaka na’budu wa iyyaka nastain “ dalam surah al fatihah.. Dalam ayat ini dipakai kalimat “Iyaaka” bukan “Ilaika”. Iyyaka artinya adalah hanya kepadaMu Ya Allah, dan tidak kepada yang lain sedikitpun sedang ilaika “ kepadaMu “; berarti dalam kalimat ‘iyyaka “ tersembnyi makna “tajrid” dan “tafrid”. Tajrid mengosongkan diri daripada segala sesuatu sedangkan tafrid hanya menuju kepada Allah Yang Esa, sebab kalimat tafrid berasal dari “fardun “, yang bermakna tunggal, satu, tidak ada yang lain. Ulama menyatakan “ tajrid “ dalam ibadah sedangkan “tafrid “ dalam ubudiyah. “Tajrid” dari hamba kepada Allah sedangkan tafrid terdapat pada Dzat Allah.
Ada kumpulan yang mengatakan bahwa tajrid adalah mengosongkan dunia dari kehidupan sehingga kehidupan hanya untuk beribadah kepada allah, padahal tajrid dalam amal ibadah tidak dapat dilakukan dengan meninggalkan amal shaleh, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Athaillah dalam kitab al Hikam : “ Keinginan anda untuk tajrid padahal Allah menempatkan anda pada asbab, maka hal itu termasuk syahwat yang tersembunyi. Sebaliknya jika melakukan “asbab” padahal Allah menempatkan anda pada kedudukan tajrid, maka hal itu berarti kemerosotan daripada himmah yang luhur “. Said Hawa menjelaskan bahwa tajrid disini maksudnya adalah meninggalkan pekerjaan duniawi, sehingga seakan-akan maksud Ibnu Athaillah adalah : “ Jika anda ditempatkan Allah pada kedudukan untuk melakukan ikhtiar dengan sebab-sebab sedangkan hatimu menginginkan tajrid, maka itu berarti akibat pengaruh syahwat yang tersembunyi “.
Disini Imam Athaillah menyatakan bahwa “tajrid” tidak berarti menghilangkan “asbab”. Sikap “Tajrid” adalah sikap hati yakin hanya Allah menentukan segala sesuatu tetapi keyakinan tersebut tidak boleh mengurangi amal terhadap sebab-sebab dalam berikhtiar. Tetapi dalam beramal, dalam melakukan sebab, maka hati tidak boleh pula tergantung kepada perbuatan tersebut, tetapi selayaknya hati hanya tetap bergantung kepada Allah. Ibnu Athaillah berkata : Daripada sebagian tanda ketergantungan kepada amal perbuatan adalah kurangnya harapan ketika terjadi suatu kesalahan “. Setiap muslim diwajibkan untuk beramal, berbuat sesuatu ikhtiar, tetapi diwaktu yang sama dia juga diwajibkan untuk tidak bersandar kepada amal perbuatannya tersebut, tetapi bersandar kepada Allah, hal ini dimaksudkan agar dalam melakukan amal, tujuannya adalah mencari keridhaan Allah, bukan natijah daripada amal perbuatan tersebut.
Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa ‘” Tanda Allah menempatkanseseorang dalam “asbab” ialah dengan berjalan terus menerus dan nampak buahnya, maksudnya ketika sibuk dengan ikhtiar maka ikhtiar itu tidak menganggu agamanya, tidak membuatnya tamak kepada milik orang lain, tetap dalam niat yang baik, selalu menjalin hubungan silaturahmi dengan yang lain, dan menolong orang yang lain sehingga amal perbuatannya dapat memberikan manfaat kepada dirinya, hidupnya, manusia yang lain, alam sekitarnya, dan kehidupannya di akhirat kelak. Sedangkan jika Allah memberikan kepadanya “tajrid”, maka hatinya tetap kepada Allah walau dalam keadaan dan kesibukan melakukan asbab, dan mendapatkan ketenangan jiwa dalam beramal, kebersihan hati, dan hanya tergantung kepada Allah, tidak terpengaruh kepada natijah, tetapi tujuan melakukan asbab hanya mencari keridhaan Allah “.
Syetan selalu menggoda manusia dalam tajrid dan ikhtiar. Jika manusia sedang berikhtiar, maka dia mengoda dengan mengatakan bahwa keadaanmu ini adalah hina sebab engkau meninggalkan ibadah kepada Allah, maka sebaiknya engkau tinggalkan ikhtiar dan bergantunglah kepada Allah tanpa berikhtiar. Syetan berkata : “ Andai engkau meninggalkan ikhtiar, dan kamu tajrid beribadah kepada Allah, maka nanti hatimu akan bersinat dan mendapat kedudukan yang tinggi disisi Allah sebagaimana si fulan dan si fulan “. Akhirnya orang tadi akan meninggalkan ikhtiar, padahal Allah mewajibkannya berikhtiar.
Demikian juga syetan akan menggoda orang yang sedang khusyu’ beribadah kepada Allah (tajrid), dan berkata “ mengapa engkau sibuk dengan ibadah kepada Allah, padahal dunia itu diberikan kepadamu, maka sebab engkau meninggalkan ikhtiar, maka lihat orang lain telah menjadi kaya, mendapat dunia maka segera tinggalkan ibadahmu dan berikhtiarlah , dan carilah dunia “. Tujuan syetan adalah agar manusia yang sedang melakukan ibadah atau yang sedang melakukan ikhtiar terpesong, antara ibadah dan ikhtiar, padahal ikhtiar dilakukan dengan niat ibadah dan keyakinan kepada Allah merupakan cara untuk mendapatkan keridhaan Allah, tetapi sebab terputusnya ibadah disebabkan ikhtiar atau terputusnya ikhtiar disebabkan ibadah menjadi penyebab tidak mendapat ridha Allah. Ikhitar dan ibadah, tak dapat dipisahkan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Atahillah : “ Amal-amal itu adalah badan yang berdiri, sedangkan rohnya adalah ketergantungan hati dan keikhlasan kepada Alah “.
Dalam hadis disebutkan bahwa :
“ Sesungguhnya Allah sangat suka kepada seorang hamba jika dia melakukan suatu perbuatan maka dia melakukannya dengan penuh kesungguhan “. ( riwayat Abu Ya’li dan al askari )
“ Andaikata kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal maka Dia akan memberikan kepadamu rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, di pagi hari burung itu keluar dari sarangnya mencari makan, dan di petang hari dia kembali ke sarangnya dalam keadaan perut yang kenyang “ ( riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah). Hadis ini menjelaskan bahwa tawakkal kepada Tuhan tidak menafikan ikhtiar, sebab Allah memberikan rezeki kepada burung sesudah burung itu terbang mencari rezeki, bukan menunggu di dalam sangkar. Tetapi dalam berikhtiar maka hati tetap bergantung dan bertawakkal kepada Allah.
Tajrid menghajatkan kepada “uzlah” dan inqitha’. Uzlah ( menyendiri ) bukanlah semata-mata menyendiri di salah satu sudut masjid atau bilik, tetapi suasana hati yang tetap ingat Allah dari satu waktu kepada waktu yang lain, tidak terpengaruh dengan segala godaan dan suasana dalam beramal dan berikhtiar. Sedangkan “inqitha’, adalah mengumpulkan segala potensi , semangat dan waktu untuk melakukan ikhtiar, dengan hati tetap bergantung kepada Allah, sehingga kata Ibnu Ataillah : “ Adalah kebodohan orang yang meninggalkan apa yang suidah dimilikinya karena hendak mencari sesuatu yang baru, padahal Allah telah memilih baginya pada waktu itu “.
Dalam uzlah Ibnu Ataillah juga berkata :
“ Tidak ada sesuatu yang bermanfaat untuk hati sebagaimana uzlah, sebab lewat pintu uzlah hati dapat memasuki medan pikir “.
“ Bagaimana mungkin hati akan bersinar, sementara gambaran dunia terlukis di cerminnya “.
“ Bagaimana mungkin seseorang itu menuju Allah, padahal hatinya terpasung oleh syahwatnya “.
Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda :
“ Fitnah-fitnah itu dilekatkan di hati bagaikan tikar,sehelai demi sehelai. Maka hati yang dapat dimasukinya tertitik satu noda hitam padanya. Adapun hati yang mengingkarinya maka terteteslah padanya titik putih. Sehingga hati ada dua macam : hati yang putih laksana batu karang yang tak dapat digoyang oleh fitnah selama ada langit dan bumi; dan hati yang hitam laksana periuk yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, hatinya penuh dengan hawanafsu yang telah masuk ke dalamnya “ ( riwayat Muslim ).
“Tajrid” dan asbab adalah bergantung kepada rububiyah dan melaksnaakan ubudiyah dalam setiap kehidupan, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dan pada waktu yang sama kita meyakini “tafrid” yaitu meyakini hanya Allah bermula segala sesuatu dan hanya kepadanya berakhir, sebaagimana dikatakan oleh Ibnu Atailah : “ Bergantunglah kamu kepada sifat-sifat rububiyah Allah, dan laksanakanlah dengan sungguh-sungguh sifat-sifat ubudiyahmu kepadaNya “.
Hati manusia selalu dalam proses ujian, apakah dapat melakukan tajrid , sehingga bersih daripada nafsu, keinginan dan goresan-goresan dunia, mereka yang dapatmelakukan “ tajrid” inilah yang disebutkan oleh Al Quran bahwa : “ Mereka itu adalah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa ‘ ( Surah al hujurat : 3 ). Semoga hati kita tetap tajrid dan tafrid kepada Allah dengan tetap melaksanakan ikhtiar dengan penuh kesungguhan dengan tujuan mendapatkan keridhaan Allah. Wallahu A’lam.
Muhammad Arifin Ismail
Masjid AlGhufran, 8 Sya’ban 1428/21 Ogos 2007
Tajrid secara bahasa adalah mengosongkan sesuatu daripada yang lain. Maksud tajrid dalam pemahaman tasawuf bahwa jika kita sedang menghadap Allah, maka penuhkanlah perhatian hanya kepada Allah dan kosongkan perhatian daripada yang lain. Demikianlah juga jika engkau mengerjakan sesuatu maka penuhkanlah perhatian kepada pebuatan tersebut dengan niat kepada Allah dan kosongkan daripada yang lain. Kosongkan daripada yang lain dan hanya menghadapkan diri kepada Allah itulah yang dimaksudkan dalam kalimat : “ iyyaka na’budu wa iyyaka nastain “ dalam surah al fatihah.. Dalam ayat ini dipakai kalimat “Iyaaka” bukan “Ilaika”. Iyyaka artinya adalah hanya kepadaMu Ya Allah, dan tidak kepada yang lain sedikitpun sedang ilaika “ kepadaMu “; berarti dalam kalimat ‘iyyaka “ tersembnyi makna “tajrid” dan “tafrid”. Tajrid mengosongkan diri daripada segala sesuatu sedangkan tafrid hanya menuju kepada Allah Yang Esa, sebab kalimat tafrid berasal dari “fardun “, yang bermakna tunggal, satu, tidak ada yang lain. Ulama menyatakan “ tajrid “ dalam ibadah sedangkan “tafrid “ dalam ubudiyah. “Tajrid” dari hamba kepada Allah sedangkan tafrid terdapat pada Dzat Allah.
Ada kumpulan yang mengatakan bahwa tajrid adalah mengosongkan dunia dari kehidupan sehingga kehidupan hanya untuk beribadah kepada allah, padahal tajrid dalam amal ibadah tidak dapat dilakukan dengan meninggalkan amal shaleh, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Athaillah dalam kitab al Hikam : “ Keinginan anda untuk tajrid padahal Allah menempatkan anda pada asbab, maka hal itu termasuk syahwat yang tersembunyi. Sebaliknya jika melakukan “asbab” padahal Allah menempatkan anda pada kedudukan tajrid, maka hal itu berarti kemerosotan daripada himmah yang luhur “. Said Hawa menjelaskan bahwa tajrid disini maksudnya adalah meninggalkan pekerjaan duniawi, sehingga seakan-akan maksud Ibnu Athaillah adalah : “ Jika anda ditempatkan Allah pada kedudukan untuk melakukan ikhtiar dengan sebab-sebab sedangkan hatimu menginginkan tajrid, maka itu berarti akibat pengaruh syahwat yang tersembunyi “.
Disini Imam Athaillah menyatakan bahwa “tajrid” tidak berarti menghilangkan “asbab”. Sikap “Tajrid” adalah sikap hati yakin hanya Allah menentukan segala sesuatu tetapi keyakinan tersebut tidak boleh mengurangi amal terhadap sebab-sebab dalam berikhtiar. Tetapi dalam beramal, dalam melakukan sebab, maka hati tidak boleh pula tergantung kepada perbuatan tersebut, tetapi selayaknya hati hanya tetap bergantung kepada Allah. Ibnu Athaillah berkata : Daripada sebagian tanda ketergantungan kepada amal perbuatan adalah kurangnya harapan ketika terjadi suatu kesalahan “. Setiap muslim diwajibkan untuk beramal, berbuat sesuatu ikhtiar, tetapi diwaktu yang sama dia juga diwajibkan untuk tidak bersandar kepada amal perbuatannya tersebut, tetapi bersandar kepada Allah, hal ini dimaksudkan agar dalam melakukan amal, tujuannya adalah mencari keridhaan Allah, bukan natijah daripada amal perbuatan tersebut.
Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa ‘” Tanda Allah menempatkanseseorang dalam “asbab” ialah dengan berjalan terus menerus dan nampak buahnya, maksudnya ketika sibuk dengan ikhtiar maka ikhtiar itu tidak menganggu agamanya, tidak membuatnya tamak kepada milik orang lain, tetap dalam niat yang baik, selalu menjalin hubungan silaturahmi dengan yang lain, dan menolong orang yang lain sehingga amal perbuatannya dapat memberikan manfaat kepada dirinya, hidupnya, manusia yang lain, alam sekitarnya, dan kehidupannya di akhirat kelak. Sedangkan jika Allah memberikan kepadanya “tajrid”, maka hatinya tetap kepada Allah walau dalam keadaan dan kesibukan melakukan asbab, dan mendapatkan ketenangan jiwa dalam beramal, kebersihan hati, dan hanya tergantung kepada Allah, tidak terpengaruh kepada natijah, tetapi tujuan melakukan asbab hanya mencari keridhaan Allah “.
Syetan selalu menggoda manusia dalam tajrid dan ikhtiar. Jika manusia sedang berikhtiar, maka dia mengoda dengan mengatakan bahwa keadaanmu ini adalah hina sebab engkau meninggalkan ibadah kepada Allah, maka sebaiknya engkau tinggalkan ikhtiar dan bergantunglah kepada Allah tanpa berikhtiar. Syetan berkata : “ Andai engkau meninggalkan ikhtiar, dan kamu tajrid beribadah kepada Allah, maka nanti hatimu akan bersinat dan mendapat kedudukan yang tinggi disisi Allah sebagaimana si fulan dan si fulan “. Akhirnya orang tadi akan meninggalkan ikhtiar, padahal Allah mewajibkannya berikhtiar.
Demikian juga syetan akan menggoda orang yang sedang khusyu’ beribadah kepada Allah (tajrid), dan berkata “ mengapa engkau sibuk dengan ibadah kepada Allah, padahal dunia itu diberikan kepadamu, maka sebab engkau meninggalkan ikhtiar, maka lihat orang lain telah menjadi kaya, mendapat dunia maka segera tinggalkan ibadahmu dan berikhtiarlah , dan carilah dunia “. Tujuan syetan adalah agar manusia yang sedang melakukan ibadah atau yang sedang melakukan ikhtiar terpesong, antara ibadah dan ikhtiar, padahal ikhtiar dilakukan dengan niat ibadah dan keyakinan kepada Allah merupakan cara untuk mendapatkan keridhaan Allah, tetapi sebab terputusnya ibadah disebabkan ikhtiar atau terputusnya ikhtiar disebabkan ibadah menjadi penyebab tidak mendapat ridha Allah. Ikhitar dan ibadah, tak dapat dipisahkan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Atahillah : “ Amal-amal itu adalah badan yang berdiri, sedangkan rohnya adalah ketergantungan hati dan keikhlasan kepada Alah “.
Dalam hadis disebutkan bahwa :
“ Sesungguhnya Allah sangat suka kepada seorang hamba jika dia melakukan suatu perbuatan maka dia melakukannya dengan penuh kesungguhan “. ( riwayat Abu Ya’li dan al askari )
“ Andaikata kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal maka Dia akan memberikan kepadamu rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, di pagi hari burung itu keluar dari sarangnya mencari makan, dan di petang hari dia kembali ke sarangnya dalam keadaan perut yang kenyang “ ( riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah). Hadis ini menjelaskan bahwa tawakkal kepada Tuhan tidak menafikan ikhtiar, sebab Allah memberikan rezeki kepada burung sesudah burung itu terbang mencari rezeki, bukan menunggu di dalam sangkar. Tetapi dalam berikhtiar maka hati tetap bergantung dan bertawakkal kepada Allah.
Tajrid menghajatkan kepada “uzlah” dan inqitha’. Uzlah ( menyendiri ) bukanlah semata-mata menyendiri di salah satu sudut masjid atau bilik, tetapi suasana hati yang tetap ingat Allah dari satu waktu kepada waktu yang lain, tidak terpengaruh dengan segala godaan dan suasana dalam beramal dan berikhtiar. Sedangkan “inqitha’, adalah mengumpulkan segala potensi , semangat dan waktu untuk melakukan ikhtiar, dengan hati tetap bergantung kepada Allah, sehingga kata Ibnu Ataillah : “ Adalah kebodohan orang yang meninggalkan apa yang suidah dimilikinya karena hendak mencari sesuatu yang baru, padahal Allah telah memilih baginya pada waktu itu “.
Dalam uzlah Ibnu Ataillah juga berkata :
“ Tidak ada sesuatu yang bermanfaat untuk hati sebagaimana uzlah, sebab lewat pintu uzlah hati dapat memasuki medan pikir “.
“ Bagaimana mungkin hati akan bersinar, sementara gambaran dunia terlukis di cerminnya “.
“ Bagaimana mungkin seseorang itu menuju Allah, padahal hatinya terpasung oleh syahwatnya “.
Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda :
“ Fitnah-fitnah itu dilekatkan di hati bagaikan tikar,sehelai demi sehelai. Maka hati yang dapat dimasukinya tertitik satu noda hitam padanya. Adapun hati yang mengingkarinya maka terteteslah padanya titik putih. Sehingga hati ada dua macam : hati yang putih laksana batu karang yang tak dapat digoyang oleh fitnah selama ada langit dan bumi; dan hati yang hitam laksana periuk yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, hatinya penuh dengan hawanafsu yang telah masuk ke dalamnya “ ( riwayat Muslim ).
“Tajrid” dan asbab adalah bergantung kepada rububiyah dan melaksnaakan ubudiyah dalam setiap kehidupan, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dan pada waktu yang sama kita meyakini “tafrid” yaitu meyakini hanya Allah bermula segala sesuatu dan hanya kepadanya berakhir, sebaagimana dikatakan oleh Ibnu Atailah : “ Bergantunglah kamu kepada sifat-sifat rububiyah Allah, dan laksanakanlah dengan sungguh-sungguh sifat-sifat ubudiyahmu kepadaNya “.
Hati manusia selalu dalam proses ujian, apakah dapat melakukan tajrid , sehingga bersih daripada nafsu, keinginan dan goresan-goresan dunia, mereka yang dapatmelakukan “ tajrid” inilah yang disebutkan oleh Al Quran bahwa : “ Mereka itu adalah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa ‘ ( Surah al hujurat : 3 ). Semoga hati kita tetap tajrid dan tafrid kepada Allah dengan tetap melaksanakan ikhtiar dengan penuh kesungguhan dengan tujuan mendapatkan keridhaan Allah. Wallahu A’lam.
Muhammad Arifin Ismail
Masjid AlGhufran, 8 Sya’ban 1428/21 Ogos 2007
DZOUK (MERASAKAN )
DZOUQ
Dzouq adalah keadaan seseorang untuk merasakan kelezatan dan kenikmatan sesuatu baik secara zahir maupun secara batin. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa :
ذ ا ق طعم الا يما ن : من رضى با للـه ربا و با لاسـلا م د ينـا و بـمـحـمـد ر سـو لا
“ Seseorang itu akan merasakan makanan iman : sesiapa yang ridha dngan Allah sebagai Tuhan, dan dengan islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai rasul “. Hadis ini memberikan gambaran kepada kita bahwa iman itu laksana makanan, dan hati seorang yang beriman akan merasakan kelezatan makanan tersebut sebagaimana seseorang merasakan kenikmatan dan kelezatan suatu makanan dan minuman. Jika seseorang telah merasakan kelezatan iman dan islam, maka tidak ada sedikitpun keraguan yang akan sampai ke dalam hatinya.
Dzouq : Zikir-(ilmu)-Makrifah-(ridha)
Dzouq ini didahului oleh zikir dan makrifah. Zikir adalah mengingat dan mengetahui dan mempunyai ilmu, dengan ilmu itu barulah seseorang mengenal (makrifah ) Allah, dan segala yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah. Setelah mengenal Allah, mengenal Rasulullah, mengenal hari kemudian, mengenal kehidupan, mengenal perintah-perintah Allah, mengenal Surga, mengenal neraka, mengenal kehidupanm akhirat, mengenal malaikat, mengenal musuh-musuh iman seeprti syetan, hawa nafsu, orang kafir, dan munafik; barulah dia dapat merasakan kelezatan iman. Itulah sebabnya, dalam hadis diatas disebutkan bahwa kelezatan iman itu hanya didapat bagi mereka yang telah ridha kepada Allah , ridha kepada rasul dan ridha kepada islam sebagai agama. Keridhaan tersebut hanya didapat setelah seseorang mengenal, dan mengenal tersebut hanya dicapai jika seeseorang telah mengetahui akan sesuatu secara detail.
Ibnu Qayim membagi Dzouq dalam tiga tingkatan :
Pertama : Dzouq dengan merasakan kelezatan keyakinan, sehingga tidak dapat diputuskan dengan anggapan, atau angan-angan. Tidak dapat diputuskan oleh anggapan, maksudnya keyakinan terhadap Allah, rasul dan agama Islam tidak dapat lagi diputuskan oleh “dzan”, anggapan-anggapan dalam pemikiran manusia.
“Dan janganlah kamu mencampurkan yang benar dengan yang salah “ ( Surah albaqarah :42)
“Kebenaran itu hanya datang dari Tuhan engkau maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu “ ( Surah al baqarah : 214/ Ali Imran : 60)
“Dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka(orang kafir) tentang sesuatu kebenaran yang datang kepada engkau “ ( Surah alMaidah :48 ).
“Dan sesungguhnya anggapan (dzan ) itu tidak berguna sedikitpun dalam kebenaran” (surah an anjm : 53).
“Mereka (orang kafir)tidak mempunyai ilmu (tentang pembunuhan nabi isa), itu semua hanyalah sangkaan(dzan) “ ( Surah an Nisa:157).
“ Apakah kamu tidak melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan dan Allah membiarkannya sesat karena ilmunya, dan Allah menutup pendengarannya, dan hatinya, dan meletakkan penutup atas penglihatannya.Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? Mereka berkata : Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia sahaja,kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanya menyangka (dzan) sahaja “ ( surah al-Jatsiyah/45:23-24).
Tidak dapat diputuskan oleh angan-angan maksudnya adalah tidak dapat diputuskan dengan keindahan dan kemewahan dunia, sebab dia telah mendapatkan janji-janji Allah dengan kehidupan yang penuh nikmat di hari akhirat.
“ Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman laki dan perempuan taman-taman yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan mendapatkan tempat tinggal yang baik di dalam surge adn, dan keridhaan Allah itu lebih besar “ ( Surah Taubah/9:72)
Dalam hadis disebutkan : Demi Allah, tidak ada sesuatu yang diberikan Allah kepada mereka (orang yang beriman ) sesuatu yang lebih hebat daripada melihat wajah Allah “.
Dzouq diperoleh setelah meyakini Allah dengan ilmu dan makrifah, kemudian mengamalkan perintahNya dengan motivasi pahala, serta kenikmatan surga, dan menjauhi laranganNya dengan mengingat siksaan dan kepedihan neraka bagi mereka yang ingkar kepadaNya. Maka untuk merasakan Dzuoq ibadah dalam tingkatan pertama ini diperlukan hadis-hadis motivasi tentang pahala dan hadis berbagai siksa bagi mereka yang ingkar kepadaNya. Tujuannya adalah agar seorang mukmin tidak lagi terpengaruh dengan angan-angan kenikmatan dunia yang akan selalu mengganggunya dalam menjalankan perintahNya. Dalam hadis disebutkan : Orang yang pandai itu adalah orang yang dapat menguasai keinginan dirinya/hawa nafsu dan berbuat untuk kehidupan setelah kematian; dan orang yang bodoh itu adalah orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya tetapi berangan-angan kepada yang dijanjikan Allah “.
Tingkatan kedua adalah Dzuq dengan merasakan kelezatan kehadiran Allah dalam setiap keadaan hidupnya. Orang ini akan merasakan bahwa Allah selalu bersamanya, selalu melihat perbuatannya, selalu mengawasi tindakannya, baik di dalam masjid atau di luar masjid, baik di waktu seorang diri maupun sedang bersama orang ramai. Orang yang merasakan dzouq seperti ini akan selalu : Zikir kepada Allah dalam setiap keadaan dan waktu, mencintai Allah dalam setiap keadaan, dan tetap melakukan perbuatan terbaik ( ihsan ) dalam setiap tindakan. Kualiti dzouq tingkatan kedua ini tergantung kepada kualiti kedekatan (taqarrub ) kepada Allah, dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dalam tingkatan kedua ini mereka melakukan amal bukan karena pahala tetapi karena hanya untuk menghambakan diri kepadaNya. “ Sesungguhnya kami ini mememberikan makanan kepada mereka hanya karena mengharapkan keridhaan Allah,Kami tidak menginginkan balasan daripada kamu, dan juga tidak menginginkan (ucapan) terima kasih “ ( surah al Insan/76 : 9 ).
“ Dan kelak akan dijauhkan dari neraka orang yang paling bertaqwa, yaitu orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, dan tidak seorangpun yang mengharapkan balasan dari kenikmatan tersebut sebab dia memberikan itu hanya karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi “ ( Surah al lail ?92 : 17-20)
Tingkatan ketiga adalah dzouq dengan merasakan kelezatan berhubungan dengan Allah dalam setiap keadaan. Setiap ucapan merupakan ucapan kesyukuran atas karunia Allah, dan merupakan munajat kepada Allah. Pendengaran dipergunakan hanya untuk mendengarkan perintah Allah, penglihatan hany untuk melihat kekuasaan Allah dan perbuatan, baik ibadah ataupun kerja hanya untuk penghambaan diri kepada Allah.
Dalam hadis Qudsi , Allah subhana wa Taala telah berfirman : “ Sesiapa yang memusuhi waliKu maka seolah-olah dia berani untuk mengisytiharkan perang kepadaKu. Tiadalah seorang hambaKu bertaqarrub kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain daripada kewajiban-kewajiban yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hambaKu itu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga aku mencintainya. Apabila aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar. Aku menjadi penglihatannya, dengan itu dia akan melihat. Aku akan menjadi tangannya, dengan itu dia akn memegang; dan Aku akan menjadi kakinya, dengan itu dia berjalan. Apabila dia meminta kepadaKu, niscaya Aku kabulkan, dan apabila dia memohon perlindungan kepadaKu, nescaya Aku akan melindunginya ( hadis riwayat Bukari ).
Ibnu Qayim dalam kitab “Thariqul Hijratain” berkata bahwa wali Allah adalah orang yang tidur, tetapi hatinya berkeliling di sekitar Arsy dan dia senantiasa berhubungan dengan Allah, Tuhan Yang Maha Agung.
ا لـلـه أ عـلــم و ا لـحـمـد لـلــه رب ا لـعـا لمـين
Dzouq adalah keadaan seseorang untuk merasakan kelezatan dan kenikmatan sesuatu baik secara zahir maupun secara batin. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa :
ذ ا ق طعم الا يما ن : من رضى با للـه ربا و با لاسـلا م د ينـا و بـمـحـمـد ر سـو لا
“ Seseorang itu akan merasakan makanan iman : sesiapa yang ridha dngan Allah sebagai Tuhan, dan dengan islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai rasul “. Hadis ini memberikan gambaran kepada kita bahwa iman itu laksana makanan, dan hati seorang yang beriman akan merasakan kelezatan makanan tersebut sebagaimana seseorang merasakan kenikmatan dan kelezatan suatu makanan dan minuman. Jika seseorang telah merasakan kelezatan iman dan islam, maka tidak ada sedikitpun keraguan yang akan sampai ke dalam hatinya.
Dzouq : Zikir-(ilmu)-Makrifah-(ridha)
Dzouq ini didahului oleh zikir dan makrifah. Zikir adalah mengingat dan mengetahui dan mempunyai ilmu, dengan ilmu itu barulah seseorang mengenal (makrifah ) Allah, dan segala yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah. Setelah mengenal Allah, mengenal Rasulullah, mengenal hari kemudian, mengenal kehidupan, mengenal perintah-perintah Allah, mengenal Surga, mengenal neraka, mengenal kehidupanm akhirat, mengenal malaikat, mengenal musuh-musuh iman seeprti syetan, hawa nafsu, orang kafir, dan munafik; barulah dia dapat merasakan kelezatan iman. Itulah sebabnya, dalam hadis diatas disebutkan bahwa kelezatan iman itu hanya didapat bagi mereka yang telah ridha kepada Allah , ridha kepada rasul dan ridha kepada islam sebagai agama. Keridhaan tersebut hanya didapat setelah seseorang mengenal, dan mengenal tersebut hanya dicapai jika seeseorang telah mengetahui akan sesuatu secara detail.
Ibnu Qayim membagi Dzouq dalam tiga tingkatan :
Pertama : Dzouq dengan merasakan kelezatan keyakinan, sehingga tidak dapat diputuskan dengan anggapan, atau angan-angan. Tidak dapat diputuskan oleh anggapan, maksudnya keyakinan terhadap Allah, rasul dan agama Islam tidak dapat lagi diputuskan oleh “dzan”, anggapan-anggapan dalam pemikiran manusia.
“Dan janganlah kamu mencampurkan yang benar dengan yang salah “ ( Surah albaqarah :42)
“Kebenaran itu hanya datang dari Tuhan engkau maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu “ ( Surah al baqarah : 214/ Ali Imran : 60)
“Dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka(orang kafir) tentang sesuatu kebenaran yang datang kepada engkau “ ( Surah alMaidah :48 ).
“Dan sesungguhnya anggapan (dzan ) itu tidak berguna sedikitpun dalam kebenaran” (surah an anjm : 53).
“Mereka (orang kafir)tidak mempunyai ilmu (tentang pembunuhan nabi isa), itu semua hanyalah sangkaan(dzan) “ ( Surah an Nisa:157).
“ Apakah kamu tidak melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan dan Allah membiarkannya sesat karena ilmunya, dan Allah menutup pendengarannya, dan hatinya, dan meletakkan penutup atas penglihatannya.Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? Mereka berkata : Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia sahaja,kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanya menyangka (dzan) sahaja “ ( surah al-Jatsiyah/45:23-24).
Tidak dapat diputuskan oleh angan-angan maksudnya adalah tidak dapat diputuskan dengan keindahan dan kemewahan dunia, sebab dia telah mendapatkan janji-janji Allah dengan kehidupan yang penuh nikmat di hari akhirat.
“ Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman laki dan perempuan taman-taman yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan mendapatkan tempat tinggal yang baik di dalam surge adn, dan keridhaan Allah itu lebih besar “ ( Surah Taubah/9:72)
Dalam hadis disebutkan : Demi Allah, tidak ada sesuatu yang diberikan Allah kepada mereka (orang yang beriman ) sesuatu yang lebih hebat daripada melihat wajah Allah “.
Dzouq diperoleh setelah meyakini Allah dengan ilmu dan makrifah, kemudian mengamalkan perintahNya dengan motivasi pahala, serta kenikmatan surga, dan menjauhi laranganNya dengan mengingat siksaan dan kepedihan neraka bagi mereka yang ingkar kepadaNya. Maka untuk merasakan Dzuoq ibadah dalam tingkatan pertama ini diperlukan hadis-hadis motivasi tentang pahala dan hadis berbagai siksa bagi mereka yang ingkar kepadaNya. Tujuannya adalah agar seorang mukmin tidak lagi terpengaruh dengan angan-angan kenikmatan dunia yang akan selalu mengganggunya dalam menjalankan perintahNya. Dalam hadis disebutkan : Orang yang pandai itu adalah orang yang dapat menguasai keinginan dirinya/hawa nafsu dan berbuat untuk kehidupan setelah kematian; dan orang yang bodoh itu adalah orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya tetapi berangan-angan kepada yang dijanjikan Allah “.
Tingkatan kedua adalah Dzuq dengan merasakan kelezatan kehadiran Allah dalam setiap keadaan hidupnya. Orang ini akan merasakan bahwa Allah selalu bersamanya, selalu melihat perbuatannya, selalu mengawasi tindakannya, baik di dalam masjid atau di luar masjid, baik di waktu seorang diri maupun sedang bersama orang ramai. Orang yang merasakan dzouq seperti ini akan selalu : Zikir kepada Allah dalam setiap keadaan dan waktu, mencintai Allah dalam setiap keadaan, dan tetap melakukan perbuatan terbaik ( ihsan ) dalam setiap tindakan. Kualiti dzouq tingkatan kedua ini tergantung kepada kualiti kedekatan (taqarrub ) kepada Allah, dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dalam tingkatan kedua ini mereka melakukan amal bukan karena pahala tetapi karena hanya untuk menghambakan diri kepadaNya. “ Sesungguhnya kami ini mememberikan makanan kepada mereka hanya karena mengharapkan keridhaan Allah,Kami tidak menginginkan balasan daripada kamu, dan juga tidak menginginkan (ucapan) terima kasih “ ( surah al Insan/76 : 9 ).
“ Dan kelak akan dijauhkan dari neraka orang yang paling bertaqwa, yaitu orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, dan tidak seorangpun yang mengharapkan balasan dari kenikmatan tersebut sebab dia memberikan itu hanya karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi “ ( Surah al lail ?92 : 17-20)
Tingkatan ketiga adalah dzouq dengan merasakan kelezatan berhubungan dengan Allah dalam setiap keadaan. Setiap ucapan merupakan ucapan kesyukuran atas karunia Allah, dan merupakan munajat kepada Allah. Pendengaran dipergunakan hanya untuk mendengarkan perintah Allah, penglihatan hany untuk melihat kekuasaan Allah dan perbuatan, baik ibadah ataupun kerja hanya untuk penghambaan diri kepada Allah.
Dalam hadis Qudsi , Allah subhana wa Taala telah berfirman : “ Sesiapa yang memusuhi waliKu maka seolah-olah dia berani untuk mengisytiharkan perang kepadaKu. Tiadalah seorang hambaKu bertaqarrub kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain daripada kewajiban-kewajiban yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hambaKu itu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga aku mencintainya. Apabila aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar. Aku menjadi penglihatannya, dengan itu dia akan melihat. Aku akan menjadi tangannya, dengan itu dia akn memegang; dan Aku akan menjadi kakinya, dengan itu dia berjalan. Apabila dia meminta kepadaKu, niscaya Aku kabulkan, dan apabila dia memohon perlindungan kepadaKu, nescaya Aku akan melindunginya ( hadis riwayat Bukari ).
Ibnu Qayim dalam kitab “Thariqul Hijratain” berkata bahwa wali Allah adalah orang yang tidur, tetapi hatinya berkeliling di sekitar Arsy dan dia senantiasa berhubungan dengan Allah, Tuhan Yang Maha Agung.
ا لـلـه أ عـلــم و ا لـحـمـد لـلــه رب ا لـعـا لمـين
Al-JAM'U (BERKUMPUL)
A L - J A M ’ U
“Al Jam’u” secara harfiyah maksudnya adalah mengumpulkan. Maksud al Jam’u disini adalah mengumpulkan antara perbuatan hamba dengan kehendak dan keputusan Allah, sehingga terjadilah sesuatu perbuatan. Hal ini didasarkan kepada ayat : “ Tidaklah negkau melempar, tetapi Allah yang telah melempar “ ( QS. Al Anfal : 17 ). Ayat ini turun dalam peperangan Badar, dimana Rasulullah melempar batu kepada musuh dan ketika batu itu terkena kepada orang kafir maka orang kafir musyrikin itupun mati. Oleh sebab itu ayat ini menyatakan bahwa wahai Muhammad engkau tidaklah melempar batu itu, tetapi Allah melempar. Maksudnya bahwa engkau yang melempar, tetapi Allah yang menjadikan keputusan lempar itu sehingga orang kafir itu mati disebabkan oleh lemparan yang engkau lakukan. Keyakinan bahwa itu semua terjadi karena kehendak Allah , sehingga perbuatan manusia itu hanya merupakan sebab, itulah yang dinamakan dengan al jam’u ( mengumpulkan dengan menghilangkan sebab, sehingga yang diyakini itu adalah perbuatan dan keputusan dari Allah ).
Ada kumpulan yang salah memahami ayat diatas menyatakan bahwa manusia itu tidak melempar, maka setiap lemparan itu hanyalah Allah yang melempar, oleh sebab itu manusia tidak perlu berikhtiar, sebab semuanya itu terpulang kepada Allah. Ini pendapat kelompok Jabariyah yang salah, sebab manusia yang melakukan lemparan, dan pada waktu manusia itu melempar, itu dengan ikhtiar, dengan usaha (kasb ), dengan kekuatan daripada mansuia, hanya saja pada waktu manusia itu melempar, Allah yang membrikan kepadanya kekuatan, dan keputusan.
Ada lagi kelompok yang menyatakan bahwa manusia itulah yang melempar, bukan Allah sebab manusia itu diberi kekuasaan penuh dalam berikhtiar, tanpa ada hubungan dengan Tuhan. Mereka berlandaskan kepada ayat : “ Sesungguhnya Allah itu tidak merobah apapun daripada suatu kaum sehingga kaum itu yang merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri “. ( Surah al ra’d : 11 ). Pendapat dari kelompok Qadariyah ini juga salah, sebab mereka tidak melihat kepada ayat yang lain. Adapun yang benar adalah mengumpulkan kedua ayat, sebagaimana yang diyakini oleh Ahlussunnah wal jamaah, bahwa manusia yang melakukan ikhtiar dan berusaha ( kasb ), hanya segala sesuatu itu tergantung juga dengan iradah dan qudrah daripada Allah Taala. Inilah yang disebut dengan konsep al Jam’u , yaitu mengumpulkan antara ikhtiar dan kasab daripada manusia dengan kehendak dan qudrah daripada Allah, dan menyatakan bahwa keputusan segala sesuatu hanya ada pada Allah.
Dalam memahami konsep “ al Jam’u “ ini, maka seorang ulama tasawuf, Ibnu Athaillah Al Askandari dalam kitabnya yang terkenal “ al Hikam” menyatakan : “ Orang yang lalai akan melihat apakah yang akan dikerjakannya esok hari, sedangkan orang yang berakal akan berkata apakah yang akan Allah perbuat baginya esok hari “. Bagi orang yang lalai dia akan menyangka bahwa dirinya melakukan sesuatu perbuatan, tanpa ada hubungan kait dengan Allah Taala, sedangkan bagi orang yang berakal menyatakan bahwa apapun yang dilakukan pada esok hari itu semua hanya dapat dilaksanakan dengan pertolongan Allah, sebab Allah memberikan kepadanya kesehatan, kekuatan, dan Allah juga yang memberikan kepadanya keputusan daripada perbuatannya tersebut. Itulah sebabnya dalam Al Quran dinyatakan : “ Dan janganlah engkau berkata bahwa besok engkau akan melakukan sesuatu perbuatan melainkan dengan izin dan kehendak Allah “ ( Surah al kahfi : 23-24 ).
Pemahaman “al Jam’u” dalam perbuatan itu dapat dilaksanakan dengan cara bahwa sewaktu akan melakukan perbuatan kita mengucapkan “isnya Allah “, sewaktu mulai melakukan perbuatan dengan ucapan “ Bismillah “, dan sewaktu perbuatan itu berakhakhir , maka kita ucapkan “ Alhamdulillah “. Dengan ucapan itu maka kita memahami bahwa perbuatan manusia tidak ada satupun yang dapat dilepaskan dari pertolongan, qudrah dan iradah Allah, sehingga manusia jika melakukan sesuatu harus meyakini bahwa “ La haula wala quwata illa billah “, tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali daripada Allah Subhana wa taala. Manusia melakukan perbuatan, tetapi upaya manusia uitu juga datang darupada Allah. Manusia yang mempunyai tenaga dan kekuatan, tetapi tenaga dan kekuatan juga datang dari Allah, bukan dari badan manusia itu semata-mata. Dengan pemahaman ini, maka manusia akan terlepas daripada riya, bangga dan sombong.
Dengan pemahaman “al jam’u “, manusia juga akan mengakhiri segala perbuatan yang dilakukannya dengan meminta ampun dan taubat kepada Allah, itulah sebabnya rasulullah sendiri setiap mengakhiri sesuatu perbuatan seperti majlis ilmu, selalu melakukan “istighfar’. Demikian juga setiap pagi nabi membaca istighfar dan di perang hari nabi juga membaca istighfar. Seakan-akan mengajarkan kepada umatnya agar memulai hari dengan istighfar dan menutup hari dengan istighfar. Dengan istighfar berarti kita telah merasa bahwa perbuatan kita itu harus kita persembahkan kepada Allah, dan sebab itu kita meminta ampun atas kesalahan ataupun kekurangan yang terdapat dalam perbuatan tersebut.
Ulama juga menyatakan al jam’u dalam ilmu, artinya manusia disuruh Allah mencari ilmu, tapi ingatlah bahwa ilmu itu dfatang daripada Allah : “Bacalah dengan nama Tuhanmu “ ( Surah al Alaq : 1 ) dan dalam ayat lain Allah berfirman : “ Dan kami ajarkan dia ( khidir ) dengan ilmu pengetahuan yang datang dari sisi kami “ ( Surah al Kahfi : 65 ). Carilah ilmu itu dengan nama Allah, walaupun engkau mencari ilmu dengan membaca, mengkaji, dan lain sebagainya, tetapi ilmu itu yang datang kepada kamu itu semua bukan karena pembacaan dan pengkajian, tetapi daripada Allah Taala. Inilah yang dimaksud dengan “ al Jam’u “ dalam ilmu.
“Al jam’u “ juga dalam wujud, sehingga seorang manusia harus meyakini bahwa wujudnya sesuatu itu hanya dapat terjadi dengan wujudnya Allah, dengan kekuasaan Allah dalam menciptakan sesuatu, bukan terjadi dengan sendirinya. Segala kejadian alam, perubahan siang dan malam, itu semua terjadi dengan adanya ketentuan Tuhan dalam setiap proses penciptaan, sebagaimana dinyatakan oleh Al Quran bahwa Allah melakukan segala sesuatu dalam setiap sa’at penciptaan : “ Setiap yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan “ ( Surah ar rahman : 29 ).
Dengan memahami al jam’u dalam wujud baru kita dapat memahami “ aljam-‘u “ dalam kesaksian, dimana seorang mansuia dalam melihat setiap benda, melihat setiap kejadian alam, hanya menyaksikan kebesaran Tuhan, dimana segala diciptakanNya dengan penuh hikmah, dan kasih sayang Allah. Sebab itu segala sesuatu bagi seorang muslim itu merupakan kebaikan sebab segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah untuk kebaikan manusia. “ Kadangkala apa yang engkau benci, itu sebenarnya itu baik bagi dirimu dan apa yang engkau suka, itu sebenarnya tidak baik bagi dirimu, sebab hanya Allah Maha mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya “ ( Surah alBaqarah : 216 ). Walahu A’lam.
“Al Jam’u” secara harfiyah maksudnya adalah mengumpulkan. Maksud al Jam’u disini adalah mengumpulkan antara perbuatan hamba dengan kehendak dan keputusan Allah, sehingga terjadilah sesuatu perbuatan. Hal ini didasarkan kepada ayat : “ Tidaklah negkau melempar, tetapi Allah yang telah melempar “ ( QS. Al Anfal : 17 ). Ayat ini turun dalam peperangan Badar, dimana Rasulullah melempar batu kepada musuh dan ketika batu itu terkena kepada orang kafir maka orang kafir musyrikin itupun mati. Oleh sebab itu ayat ini menyatakan bahwa wahai Muhammad engkau tidaklah melempar batu itu, tetapi Allah melempar. Maksudnya bahwa engkau yang melempar, tetapi Allah yang menjadikan keputusan lempar itu sehingga orang kafir itu mati disebabkan oleh lemparan yang engkau lakukan. Keyakinan bahwa itu semua terjadi karena kehendak Allah , sehingga perbuatan manusia itu hanya merupakan sebab, itulah yang dinamakan dengan al jam’u ( mengumpulkan dengan menghilangkan sebab, sehingga yang diyakini itu adalah perbuatan dan keputusan dari Allah ).
Ada kumpulan yang salah memahami ayat diatas menyatakan bahwa manusia itu tidak melempar, maka setiap lemparan itu hanyalah Allah yang melempar, oleh sebab itu manusia tidak perlu berikhtiar, sebab semuanya itu terpulang kepada Allah. Ini pendapat kelompok Jabariyah yang salah, sebab manusia yang melakukan lemparan, dan pada waktu manusia itu melempar, itu dengan ikhtiar, dengan usaha (kasb ), dengan kekuatan daripada mansuia, hanya saja pada waktu manusia itu melempar, Allah yang membrikan kepadanya kekuatan, dan keputusan.
Ada lagi kelompok yang menyatakan bahwa manusia itulah yang melempar, bukan Allah sebab manusia itu diberi kekuasaan penuh dalam berikhtiar, tanpa ada hubungan dengan Tuhan. Mereka berlandaskan kepada ayat : “ Sesungguhnya Allah itu tidak merobah apapun daripada suatu kaum sehingga kaum itu yang merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri “. ( Surah al ra’d : 11 ). Pendapat dari kelompok Qadariyah ini juga salah, sebab mereka tidak melihat kepada ayat yang lain. Adapun yang benar adalah mengumpulkan kedua ayat, sebagaimana yang diyakini oleh Ahlussunnah wal jamaah, bahwa manusia yang melakukan ikhtiar dan berusaha ( kasb ), hanya segala sesuatu itu tergantung juga dengan iradah dan qudrah daripada Allah Taala. Inilah yang disebut dengan konsep al Jam’u , yaitu mengumpulkan antara ikhtiar dan kasab daripada manusia dengan kehendak dan qudrah daripada Allah, dan menyatakan bahwa keputusan segala sesuatu hanya ada pada Allah.
Dalam memahami konsep “ al Jam’u “ ini, maka seorang ulama tasawuf, Ibnu Athaillah Al Askandari dalam kitabnya yang terkenal “ al Hikam” menyatakan : “ Orang yang lalai akan melihat apakah yang akan dikerjakannya esok hari, sedangkan orang yang berakal akan berkata apakah yang akan Allah perbuat baginya esok hari “. Bagi orang yang lalai dia akan menyangka bahwa dirinya melakukan sesuatu perbuatan, tanpa ada hubungan kait dengan Allah Taala, sedangkan bagi orang yang berakal menyatakan bahwa apapun yang dilakukan pada esok hari itu semua hanya dapat dilaksanakan dengan pertolongan Allah, sebab Allah memberikan kepadanya kesehatan, kekuatan, dan Allah juga yang memberikan kepadanya keputusan daripada perbuatannya tersebut. Itulah sebabnya dalam Al Quran dinyatakan : “ Dan janganlah engkau berkata bahwa besok engkau akan melakukan sesuatu perbuatan melainkan dengan izin dan kehendak Allah “ ( Surah al kahfi : 23-24 ).
Pemahaman “al Jam’u” dalam perbuatan itu dapat dilaksanakan dengan cara bahwa sewaktu akan melakukan perbuatan kita mengucapkan “isnya Allah “, sewaktu mulai melakukan perbuatan dengan ucapan “ Bismillah “, dan sewaktu perbuatan itu berakhakhir , maka kita ucapkan “ Alhamdulillah “. Dengan ucapan itu maka kita memahami bahwa perbuatan manusia tidak ada satupun yang dapat dilepaskan dari pertolongan, qudrah dan iradah Allah, sehingga manusia jika melakukan sesuatu harus meyakini bahwa “ La haula wala quwata illa billah “, tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali daripada Allah Subhana wa taala. Manusia melakukan perbuatan, tetapi upaya manusia uitu juga datang darupada Allah. Manusia yang mempunyai tenaga dan kekuatan, tetapi tenaga dan kekuatan juga datang dari Allah, bukan dari badan manusia itu semata-mata. Dengan pemahaman ini, maka manusia akan terlepas daripada riya, bangga dan sombong.
Dengan pemahaman “al jam’u “, manusia juga akan mengakhiri segala perbuatan yang dilakukannya dengan meminta ampun dan taubat kepada Allah, itulah sebabnya rasulullah sendiri setiap mengakhiri sesuatu perbuatan seperti majlis ilmu, selalu melakukan “istighfar’. Demikian juga setiap pagi nabi membaca istighfar dan di perang hari nabi juga membaca istighfar. Seakan-akan mengajarkan kepada umatnya agar memulai hari dengan istighfar dan menutup hari dengan istighfar. Dengan istighfar berarti kita telah merasa bahwa perbuatan kita itu harus kita persembahkan kepada Allah, dan sebab itu kita meminta ampun atas kesalahan ataupun kekurangan yang terdapat dalam perbuatan tersebut.
Ulama juga menyatakan al jam’u dalam ilmu, artinya manusia disuruh Allah mencari ilmu, tapi ingatlah bahwa ilmu itu dfatang daripada Allah : “Bacalah dengan nama Tuhanmu “ ( Surah al Alaq : 1 ) dan dalam ayat lain Allah berfirman : “ Dan kami ajarkan dia ( khidir ) dengan ilmu pengetahuan yang datang dari sisi kami “ ( Surah al Kahfi : 65 ). Carilah ilmu itu dengan nama Allah, walaupun engkau mencari ilmu dengan membaca, mengkaji, dan lain sebagainya, tetapi ilmu itu yang datang kepada kamu itu semua bukan karena pembacaan dan pengkajian, tetapi daripada Allah Taala. Inilah yang dimaksud dengan “ al Jam’u “ dalam ilmu.
“Al jam’u “ juga dalam wujud, sehingga seorang manusia harus meyakini bahwa wujudnya sesuatu itu hanya dapat terjadi dengan wujudnya Allah, dengan kekuasaan Allah dalam menciptakan sesuatu, bukan terjadi dengan sendirinya. Segala kejadian alam, perubahan siang dan malam, itu semua terjadi dengan adanya ketentuan Tuhan dalam setiap proses penciptaan, sebagaimana dinyatakan oleh Al Quran bahwa Allah melakukan segala sesuatu dalam setiap sa’at penciptaan : “ Setiap yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan “ ( Surah ar rahman : 29 ).
Dengan memahami al jam’u dalam wujud baru kita dapat memahami “ aljam-‘u “ dalam kesaksian, dimana seorang mansuia dalam melihat setiap benda, melihat setiap kejadian alam, hanya menyaksikan kebesaran Tuhan, dimana segala diciptakanNya dengan penuh hikmah, dan kasih sayang Allah. Sebab itu segala sesuatu bagi seorang muslim itu merupakan kebaikan sebab segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah untuk kebaikan manusia. “ Kadangkala apa yang engkau benci, itu sebenarnya itu baik bagi dirimu dan apa yang engkau suka, itu sebenarnya tidak baik bagi dirimu, sebab hanya Allah Maha mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya “ ( Surah alBaqarah : 216 ). Walahu A’lam.
Saturday, December 25, 2010
SEBENARNYA NATAL BUKAN 25 DESEMBER

SEJARAH TANGGAL HARI RAYA NATAL
by: Dr. J.L. Ch. Abineno
Gereja-gereja merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Kebiasaan ini baru mulai dalam abad ke-4. Sebelum itu Gereja tidak mengenal perayaan Natal. Terutama karena Gereja tidak tahu dengan pasti bilamana –pada hari dan tahun berapa– Yesus dilahirkan. Kitab kitab Injil tidak memuat data data tentang hal itu. Dalam Lukas 2 dikatakan, bahwa pada waktu Yesus dilahirkan gembala gembala sedang berada “di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (ayat 8). Itu berarti, bahwa Yesus dilahirkan antara bulan Maret atau April dan bulan November.
Klemens dari Alexandria mengejek orang orang yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus. Dalam abad abad pertama hidup kerohanian anggota anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan Yesus. Natal tidak mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun umumnya –terutama oleh Origenes– dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir: orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka. Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari ulang tahunnya.
Tetapi di sebelah Timur (= Eropa Timur) orang telah sejak dahulu memikirkan mukjizat pemunculan Allah dalam rupa manusia. Menurut tulisan tulisan lama suatu sekte Kristen di Mesir telah merayakan “pesta Epiphania” (= pesta Pemunculan Tuhan) pada tanggal 4 Januari. Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epiphania ialah munculnya Yesus sebagai Anak Allah –pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan (= Gereja di seluruh Eropa) bukan saja menganggap baptisan Yesus sebagai Epiphania, tetapi terutama kelahiranNya di dunia. Sesuai dengan anggapan ini Gereja –pada permulaan abad ke 4– merayakan pesta Epiphania pada tanggal 6 Januari sebagai pesta kelahiran dan pesta baptisan Yesus.
Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab dan puji pujian (= nyanyian). Ephraim dari Syria menganggap Epiphania sebagai pesta yang paling indah. Ia katakan: “Malam perayaan Epiphania ialah malam yang membawa damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, di mana seluruh dunia sedang berjaga jaga?!” Pada malam perayaan Epiphania semua gedung gereja dihiasi dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di guha Betlehem, di mana Yesus –menurut kepercayaan orang– dilahirkan.
Di Roma perayaan Natal kemudian –antara tahun 325 dan tahun 354– beralih dari tanggal 6 Januari ke tanggal 25 Desember. Dalam agama kafir pada waktu itu tanggal 25 Desember dirayakan sebagai pesta untuk menghormati dewa matahari. Kaisar Konstantin menghendaki, supaya agama Kristen menggunakan praktik praktik keagamaan yang ada pada waktu itu, Sementara. itu konsili Nicea (325) dengan kuat menggarisbawahi, bahwa Yesus sejak lahirNya adalah Anak Allah. Hal ini mendorong Gereja untuk merayakan hari ulang tahun (= dies natalis) Yesus sebagai suatu pesta tersendiri, lepas dari pesta baptisanNya.
Untuk itu Gereja menggantikan pesta kafir –pesta dewa matahari– dengan “pesta Kristen”: “pesta Natal Yesus Kristus” sebagai Terang dunia. Tetapi pengaruh pesta kafir ini lama sekali nampak dalam pesta Natal. Begitu rupa, sehingga Paus Leo –dalam abad ke 5– harus menasihatkan orang-orang Kristen pada waktu itu supaya mereka jangan merayakan pesta dewa matahari, tetapi Natal Yesus Kristus.
Dari Roma perayaan Natal pada tanggal 25 Desember disebarkan ke seluruh dunia. juga ke Indonesia. Jadi yang kita rayakan pada tanggal 25 Desember bukanlah suatu tanggal historis.. (Dr. J.L. Ch. Abineno, Buku Katekisasi Perjanjian Baru I, BPK Gunung Mulia, Jakarta, Cet. II, 1987, hlm. 14-16). [taz/voa-islam.com]
Tipuan Pohon Natal = Kelahiran Yesus Menurut Bibel?
Ditulis oleh : Hj.Irena Handono
Untuk menyibak tabir 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, sebaiknya disimak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana tercantum dalam Lukas 2:1-8 dan Matius2:1, 10, 11. Sedangkan Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus.
Lukas 2:1-8:
Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, -- karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud -- supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
Jadi, menurut Lukas, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7 M = 579 tahun Romawi). Yusuf tunangan Maria (Maryam) ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka berangkat kesana, dan lahirlah Yesus di Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.
Menurut Matius 2:1, 10, 11
Matius 2:1:
2:1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
Matius 2:10:
2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
Matius 2:11:
2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
Jadi menurur Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah antara tahum 37 SM sampai tahun 4 M (749 tahun Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.
Jadi, cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang sedang di lepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan malam hari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil.
Bagi yang memiliki wawasan luas, hati dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci Al-quran telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Nabi Isa alaihissalam).
Q.S Marayam:23-25
23. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan."
24. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.
25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,
Jadi menurut Al-Qur’an, Nabi Isa as dilahirkan pada musim panas disaat buah kurma sedang ranum. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthur. Peak, dalam Commentary on the bible – seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23): Yesus lahir dalam Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan: Agustus – September.
Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity – seperti juga yang dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:
"There is, moreover, no authority for the belief than Dcember 25 was the actual birthday of jesus. If we can give abny credence to the brit – storyof lurk, with the shepherds keeping watchby night in the fields near Bethlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, mhen the night temperature is so low in the hill country of Judea that snow is not uncommon. After much argument our Chritmast day seems to have been accepted about A. D. 300."
(Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang rumput di dekat Bethlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi). ****
Friday, December 24, 2010
Wednesday, December 22, 2010
FATWA MUI TENTANG PERAYAAN NATAL
Pada tahun 1981dahulu, Majelis Ulama Indonesia, telah mengeluarkan Fatwa yang berkaitan dengan perayaan Natal dengan salinan fatwa sebagai berikut. Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia setelah :
MEMPERHATIKAN :
1. Perayaan Natal bersama pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal .
3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.
MENIMBANG :
1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.
2. Ummat Islam agar tidak mencampur adukkan aqiqah dan ibadahnya dengan aqiqah dan ibadah agama lain.
3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT.
4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar Ummat Beragama di Indonesia.
Meneliti kembali
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:
A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:
1. Al Qur`an surat Al-Hujurat ayat 13: ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan Kamu sekattan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang bertaqwa (kepada Allah), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
2. Al Qur`an surat Luqman ayat 15:”Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku lah kembalimu, maka akan Ku-berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
3. Al Qur`an surat Mumtahanah ayat 8: ”Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan :
1. Al Qur`an surat Al-Kafirun ayat 1-6:”Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”
2. Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 42: “Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersatukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Kita, kemudian kepada-Kulah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas:
1. Al Qur`an surat Maryam ayat 30-32: “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibumu (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”
2. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 75: “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rosul yang sesungguhnya telah lahir sebelumnya beberapa Rosul dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa memakan makanan(sebagai manusia). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”
3. Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 285 : “Rasul (Muhammad telah beriman kepada Al Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman) semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-rasulnya dan mereka mengatakan : Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”
D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak Isa Al Masih itu anaknya, bahwa orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan atas :
1. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 72 : “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata : Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam. Padahal Al Masih sendiri berkata : Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang penolong pun.”
2. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 73 : “Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan : Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang pedih.”
3. Al Qur`an surat At Taubah ayat 30 : “Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Al Masih itu anak Allah. Demikianlah itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka bagaimana mereka sampai berpaling.”
E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakan dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab “Tidak” : Hal itu berdasarkan atas :Al Qur`an surat Al Maidah ayat 116-118 :”Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah, Isa menjawab : Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu : sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadapa mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku, Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Jika Engkau mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
F. Islam mengajarkan Bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al Qur`an surat Al Ikhlas: “Katakanlah : Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun / sesuatu pun yang setara dengan Dia.”
G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas :
1. Hadits Nabi dari Nu`man bin Basyir : “Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”
2. Kaidah Ushul Fiqih “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan).”
MEMUTUSKAN
MEMFATWAKAN :
3. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas.
4. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
5. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.
Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H
7 Maret 1981
Komisi Fatwa
Majelis Ulama Indonesia
Ketua Sekretaris
K.H.M SYUKRI GHAZALI Drs. H. MAS`UDI
Demikianlah bunyi teks fatwa tersebut, semoga kita sebagai umat Islam dapat menjadikan fatwa tersebut menjadi panduan dalam bersikap terhadap agama lain. Hal ini sangatlah penting, sebab akhir-akhir ini banyak pendapat tentang hukum perayaan natal bagi umat Islam. Terlebih lagi menurut situs voa-islam, terdapat buku tentang natal yang ditulis didepannya dengan kalimat ” maulid nabi isa a.s.”. Demikian juga terdapat tayangan di layar kaca melalui media tivi dimana umat kristiani menayangkan acara natal dengan nasyid dari kitab injil berbahasa arab dengan memakai busana muslimah, dan mendatangkan penyanyi dari kristiani Timur tengah. Oleh sebab itu umat Islam harus waspada dan tidak terikut dan terpengaruh dengan segala bentuk kegiatan natal yang bernuansa arab, dan tidak terjebak dengan pemikiran liberalisme dan pluralisme yang mencampuradukan kegiatan satu agama dengan agama yang lain. Rasululah saw telah memperingatkan hal ini dengan sabdanya yang disampaikan oleh sahabatnya Abdullah bin Amru bin 'Ash radhiyallahu 'anhuma, berkata: ” Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya dan tahun baru mereka (naruz), dan perayaan agama mereka (mahrajan) serta menyerupai mereka sampai dia meninggal dunia dalam keadaan demikian, maka nanti di hari kiamat, ia akan dibangkitkan bersama mereka ” (Sunan al-Baihaqi IX/234). Umat Islam dilarang menghadiri perayaan natal,sebab natal berkaitan dengan akidah dan ibadah agama lain, walauoun demikian umat Islam tetap harus menghormati agama lain dan bersikap toleransi dengan bersikap dan berakhlak yang mulia dalam berhubungan dan bersilaturahmi dengan mereka, sebagaimana dinyatakan dalam al quran : ”Katakan kepada orang kafir bahwa saya tidak akan menyembah apa yang akan kamu sembah, dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang saya sembah. Saya tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah dan saya juga tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah. bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku. ( QS.AlKafirun ) . Inilah sikap umat Islam, tegas dalam akidah, tetapi tetap toleran dan menghormati agama yang lain. Fa’tabiru Ya Ulil albab.
MEMPERHATIKAN :
1. Perayaan Natal bersama pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal .
3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.
MENIMBANG :
1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.
2. Ummat Islam agar tidak mencampur adukkan aqiqah dan ibadahnya dengan aqiqah dan ibadah agama lain.
3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT.
4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar Ummat Beragama di Indonesia.
Meneliti kembali
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:
A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:
1. Al Qur`an surat Al-Hujurat ayat 13: ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan Kamu sekattan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang bertaqwa (kepada Allah), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
2. Al Qur`an surat Luqman ayat 15:”Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku lah kembalimu, maka akan Ku-berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
3. Al Qur`an surat Mumtahanah ayat 8: ”Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan :
1. Al Qur`an surat Al-Kafirun ayat 1-6:”Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”
2. Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 42: “Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersatukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Kita, kemudian kepada-Kulah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas:
1. Al Qur`an surat Maryam ayat 30-32: “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibumu (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”
2. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 75: “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rosul yang sesungguhnya telah lahir sebelumnya beberapa Rosul dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa memakan makanan(sebagai manusia). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”
3. Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 285 : “Rasul (Muhammad telah beriman kepada Al Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman) semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-rasulnya dan mereka mengatakan : Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”
D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak Isa Al Masih itu anaknya, bahwa orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan atas :
1. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 72 : “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata : Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam. Padahal Al Masih sendiri berkata : Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang penolong pun.”
2. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 73 : “Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan : Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang pedih.”
3. Al Qur`an surat At Taubah ayat 30 : “Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Al Masih itu anak Allah. Demikianlah itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka bagaimana mereka sampai berpaling.”
E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakan dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab “Tidak” : Hal itu berdasarkan atas :Al Qur`an surat Al Maidah ayat 116-118 :”Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah, Isa menjawab : Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu : sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadapa mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku, Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Jika Engkau mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
F. Islam mengajarkan Bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al Qur`an surat Al Ikhlas: “Katakanlah : Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun / sesuatu pun yang setara dengan Dia.”
G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas :
1. Hadits Nabi dari Nu`man bin Basyir : “Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”
2. Kaidah Ushul Fiqih “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan).”
MEMUTUSKAN
MEMFATWAKAN :
3. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas.
4. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
5. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.
Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H
7 Maret 1981
Komisi Fatwa
Majelis Ulama Indonesia
Ketua Sekretaris
K.H.M SYUKRI GHAZALI Drs. H. MAS`UDI
Demikianlah bunyi teks fatwa tersebut, semoga kita sebagai umat Islam dapat menjadikan fatwa tersebut menjadi panduan dalam bersikap terhadap agama lain. Hal ini sangatlah penting, sebab akhir-akhir ini banyak pendapat tentang hukum perayaan natal bagi umat Islam. Terlebih lagi menurut situs voa-islam, terdapat buku tentang natal yang ditulis didepannya dengan kalimat ” maulid nabi isa a.s.”. Demikian juga terdapat tayangan di layar kaca melalui media tivi dimana umat kristiani menayangkan acara natal dengan nasyid dari kitab injil berbahasa arab dengan memakai busana muslimah, dan mendatangkan penyanyi dari kristiani Timur tengah. Oleh sebab itu umat Islam harus waspada dan tidak terikut dan terpengaruh dengan segala bentuk kegiatan natal yang bernuansa arab, dan tidak terjebak dengan pemikiran liberalisme dan pluralisme yang mencampuradukan kegiatan satu agama dengan agama yang lain. Rasululah saw telah memperingatkan hal ini dengan sabdanya yang disampaikan oleh sahabatnya Abdullah bin Amru bin 'Ash radhiyallahu 'anhuma, berkata: ” Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya dan tahun baru mereka (naruz), dan perayaan agama mereka (mahrajan) serta menyerupai mereka sampai dia meninggal dunia dalam keadaan demikian, maka nanti di hari kiamat, ia akan dibangkitkan bersama mereka ” (Sunan al-Baihaqi IX/234). Umat Islam dilarang menghadiri perayaan natal,sebab natal berkaitan dengan akidah dan ibadah agama lain, walauoun demikian umat Islam tetap harus menghormati agama lain dan bersikap toleransi dengan bersikap dan berakhlak yang mulia dalam berhubungan dan bersilaturahmi dengan mereka, sebagaimana dinyatakan dalam al quran : ”Katakan kepada orang kafir bahwa saya tidak akan menyembah apa yang akan kamu sembah, dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang saya sembah. Saya tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah dan saya juga tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah. bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku. ( QS.AlKafirun ) . Inilah sikap umat Islam, tegas dalam akidah, tetapi tetap toleran dan menghormati agama yang lain. Fa’tabiru Ya Ulil albab.
Sunday, December 12, 2010
HIJRAH
A..Makna Hijrah
Makna hijrah secara bahasa : berpindah dari suatu keadaan/tempat kepada keadaan/tempat yang lain.
Para rasul melakukan hijrah : nabi adam hijrah dari surge ke dunia, nabi nuh hijrah dari masyarakat yang kafir kepada masyarakat beriman, nabi Ibrahim hijrah dari Babilonia, ke Mesir, ke Palestina, dan Makkah, nabi Yusuf hijrah dari keluarga yang hasad ke Mesir, nabi Isa hijrah dari Palestina, ke Mesir; nabi Musa hijrah dari Mesir ke bumi Palestina, nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah.
Dalam Al Quran makna hijrah bermakna :
1.meninggalkan perbuatan yang buruk :
“ dan perbuatan yang buruk, maka hijrahlah, tinggalkanlah ( Surah al Muddasir/73 : 5)
2.menjauhkan diri dari orang yang musyrik :
“ Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka (orang musyrik) ucapkan dan jauhilah merka (hijrah) dengan cara yang baik “ ( Surah al Muzammil/73 : 10 )
3.berpindah kepada perintah Tuhan :
“ Dan berkata (nabi Ibrahim ) : Sesungguhnya aku berpindah kepada apa yang diperintahkan oleh Tuhan kepadaku “ ( Surah al ankabut/29 : 26 ).
4.hijrah pada jalan Allah :
“ Mereka (orang munafiq/kafir ) ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir. Maka janganlah kamu jadikan mereka sebagai pemimpinmu sehingga mereka berhijrah kepada jalan Allah “ ( Surah an Nisa/4 : 89 )
Hijrah dalam hadis nabi :
Hadiis hijrah:
1.Seorang sahabat Amrul Qais hijrah ke madinah disebabkan seorang perempuan, sehingga menjadi pembicaraan sahabat; mendengar itu rasulullah saw bersabda “ Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung kepada niatnya; dan setiap orang akan mendapat sesuai dengan niat perbuatannya. Sesiapa yang berhijrah dengan kepada Allah dan rasulNya, maka dia akan mendapatkan Allah dan rasulNya; dan sesiapa yang berhijrah untuk mencari seorang perempuan atau dunia maka dia akan mendapatkan perempuan atau dunia sebagaimana yang diniatkannya “ ( hadis sahih riwayat Bukhari Muslim).
2. Suatu hari seorang Arab datang dari negeri Syam bertanya kepada Rasulullah bertanya : Ya Rasulullah, apakah itu islam? Nabi menjawab : islam adalah engkau menyerahkan diri kepada Allah dan rasulnya dan engkau memberikan jaminan keselamatan kepada orang lain dengan lidahmu dan tanganmu. Arab itu bertanya lagi : Apakah yang terbaik daripada Islam? Nabi menjawab : Iman. Orang itu bertanya lagi : Apakah itu iman? Nabi menjawab : Engkau beriman kepada Allah dan rasulNya, dan kitab-kitabNya, dan malaikatnya, dan hari kemudian dan qadha (ketentuan) baik atau buruk itu daripada Allah. Orang Arab badui itu bertanya lagi : Apakah yang terbaik daripada iman? Nabi menjawab : Hijrah. Dia bertanya lagi : Apakah itu hijrah? Nabi menjawab : engkau meninggalkan segala kejahatan dan keburukan. Orang arab bertanya lagi : apakah hijrah yang terbaik? Nabi menjawab : Jihad. Orang itu bertanya lagi : Apakah jihad? Nabi menjawab : Engkau berusaha untuk menghadapi segala kekufuran “.
( Kitab al Iman, Ibnu taimiyah )
Hijrah dalam kehidupan nabi/sahabat :
1. Hijrah sahabat nabi ke negeri Habsyah tahun kelima kenabian.
2. Hijrah nabi ke Thaif
3. Hijrah nabi/sahabat ke Madinah.
B.Pelaksanaan hijrah.
1.Persiapan hijrah :
a. Perjanjian Aqabah I antara 12 muslim madinah dengan rasululah pada musim haji 11 kenabian
dan perjanjian Aqabah II antara 70 muslim madinah untuk membela Islam pada musim haji tahun 12
b. Pengiriman sahabat nabi mus'ab dan ummu maktum pada tahun kesebelas kenabian ke madinah untuk mengajar islam kepada masyarakat muslim madinah.
c. Hijrah sahabat pada awal tahun ketiga belas kenabian.
d. Nabi berdoa untuk dapat tempat yang lebih baik ( Surah al isra/ 17 :80 )
e. Perintah hijrah setelah ada keputusan pertemuan seluruh kelompok kafir Makkah di darunnadwah untuk membunuh nabi dengan cara setiap kabilah mengirimkan seorang pembunuh, sehingga mereka utusan kabilah itu secara bersama akan membunuh nabi ( Surah al anfal : 30).
2. Merancang Hijrah : Setelah mendapat perintah hijrah, nabi di siang hari segera berangkat ke rumah Abubakar untuk merancang perjalanan hijrah :
a. Menyediankan kenderaan 2 ekor unta
b. Mengambil jalan yang tidak biasa dilalui ( menuju Madinah melalui arah ke Jeddah )
c. Menyewa Abdullah ibn Uraiqith sebagai penunjuk jalan.
d. Merancang waktu berjalan : berangkat malam dan dipagi hari sembunyi.
e. Memberi tugas kepada Aisyah untuk memasak makanan, Asma binti Abubakar sebagai pengantar makanan ke gua, dan Abdullah bin Abubakar setiap malam akan datang ke gua memberikan informasi perkembangan Makkah, dan kembali ke Makkah sebelum subuh. Amir bin Furaihah hamba sahaya Abubakar ditugaskan untuk mengembalakan kambing Abubakar di sekitar gua berangkat pagi dan pulang di sore hari.
f. Setelah keadaan aman dari kejaran musuh, baru berangkat ke madinah melalui jalan Jeddah.
Pelaksanaan hijrah.
1.Waktu :senin,1 rabiul awal thn.13/ 24 september 622
2.Tatkala pengepungan rumah nabi di malam hari, Ali disuruh tidur diatas katil nabi dengan selimut nabi.
3. Nabi keluar tengah malam hari dari pintu belakang, membaca doa, menuju rumah Abubakar.
4.Di pagi hari nabi bersembunyi di gua 3 malam dan menyuruh penunjuk jalan membawa unta ke rumahnya untuk diberi makan, dan nanti baru kembali lagi jika ada arahan.
5.Setelah berjalan, sembunyi, baru berserah diri dan tawakkal ( Surah at taubah:40).
6. Asma mengantar makanan ke gua di pagi hari, kambing dibawa ke dekat gua sehingga jejak langkah kambing menghapuskan jejak langkah kaki asma, disiang hari susu kambing diperah untuk nabi, di petang hari kambing kembali, sehingga jejak langkah kaki asma kembali ke Makkah terhapus dengan jejak langkah kaki kambing pulang ke makah; dimalam hari Abdullah datang ke gua memberikan informasi tentang perkembangan Makkah kepada nabi dan Abubakar, dan dia pulang ke makkah sebelum subuh, jejak langkah kaki besok pagi terhapus lagi dengan jejak langkah kaki kambing.
6.Pertolongan Allah dengan labah-labah, dan burung sehingga sewaktu orang kafir datang ke gua mereka yakin bahwa tidak ada orang di dalam gua disebabkan adanya lebah dan burung.
7.Setelah aman dari kejaran musuh, nabi menyuruh Abdullah bin Abubakar untuk memanggil kembali Abdullah bin Uraiqith membawa Rasul menuju Madinah.
8.Musuh berusaha mencari nabi dengan mengadakan perlombaan siapa yang dapat mengejar nabi diberi hadiah seratus ekor unta. Ssuraqah bin naufal segera mengejar dan dapat mengesan kedudukan nabi di tepi pantai , tetapi sewaktu Suraqah akan membunuh nabi dengan pedangnya, Allah memelihara nabi dengan cara kuda suraqah masuk ke dalam pasir, sehingga membuat Suraqah gagal untuk membunuh nabi. Hal itu terjadi sampai ketiga kali, akhirnya Suraqah meminta tolong kepada nabi dan berjanji tidak akan mengejar lagi, dan dia segera kembali ke makkah.
9. Hari kedelapan nabi sampai di Quba (dekat madinah ). Disana sudah ada orang islam maka nabi membina Masjid sebagai masjid pertama dalam sejarah islam. ( Surahat Taubah:108).
10. pagi hari kedua belas, hari Jumat nabi berangklat ke Madinah; di tengah jalan turun nperintah shalat jumat, maka nabi melakukan shalat jumat pertama kali dalam perjalanan di kampung bani auf.
12.Setelah shalat jumat, nabi berangkat menuju madinah dan masyarakat muslim serta yahudi madinah sudah menunggu nabi dan menyambut nabi dengan nasyid “tala’al badru alaina “
13. Nabi berhenti di tempat berhentinya unta, yaitu dis ebuah kebun kurma milik dua orang anak yatim
14. Nabi membeli kebun kurma milik anak yatim itu untuk dijadikan masjid dan rumah nabi.
C. Membina Negara madinah :
1.Membeli tanah anak yatim seharga 10dinar untuk tapak masjid.
2. Membina masjid dengan panjang dan lebar 100 hasta(lebih kurang 50 meter) dengan ldinding batu , tiang batang kurma,dan atap daun kurma, lantai tanah.
3.Melakukan shalat jamaah.
4.Mengikat persaudaraan antara individu muhajirin dan anshar ( Surah al Hasyr : 9).
5.Membuat perjanjian antar umat pelembagaan madinah mengatur hubungan muslim , kabilah arab, dan yahudi di madinah untuk saling bekerjasama, hidup bersama dan mempertahankan madinah. Inilah pelembagaan Negara pertama secara tertulis di dunia.
6. Mengarahkan seluruh masyarakat untuk bekerja dan membangun ekonomi.
7.Membentuk masyarakat berilmu dengan majlis ilmu di masjid .
8.Membangun ekonomi umat islam madinah dengan membuat pasar wakaf madinah.
9.Membina teknologi dan industri pertahanan sehingga seluruh keperluan umat wajibbaik pakaian, makanan, dan senjata diproduksi oleh umat islam sendiri.
10.Membentuk masyarakat berkualiti dalam akhlak, kerja, ilmu dan ibadah sehingga rasulullah bersabda : “ sebaik-baikmasyarakat adalah masyarakat aku , dan sahabatku dan setelah sahabatku “.
D.Kunci kejayaan hijrah :
1.landasan iman.
2.persiapan masyarakat madinah untuk menerima islam
3.perancangan yang baik.
4.ikhtiar dengan seluruh potensi ( jihad ).
5.kebijaksanaan dan keputusan yang tepat.
6.membina perpaduan dan visi melalui shalat jamaah dan jumat.
7.pembentukan institusi masjid sebagai pusat pembinaan dan informasi.
8.membentuk kekuatan hukum bagi semua dengan pelembagaan madinah
9.memakai semua kekuatan dari semua golongan, anak-anak, pemuda, wanita, orang kafir, hamba sahaya, untuk bekerjasama.
10.doa dan pertolongan Allah.
E.Sejarah taqwim hijrah.
1.Zaman nabi tidak ada taqwim, dan tahun ditandai dengan peristiwa besar, seperti tahun gajah sebagai tanda tahun kelahiran nabi.
3.Cadangan taqwim dari gubernur yaman Ya'la bin Umayah kepada khalifah abubakar, tetapi abubakar belum dapat menentukan taqwim.
2.Khalifah umar menerima balasan surat dari Abu Musa al Asy'ari dengan ayat : “ Menjawab surat khalifah yang tidak bertarikh “, memberikan pemikiran kepada Umar untuk menentukan taqwim islam.
3.Umar mengadakan musyawarah dengan seluruh sahabat Dalam perjumpaan ada 4 cadangan sebagai penentu awal tahun islam, yaitu dari tahun lahir nabi, atau tahun nabi mendapat wahyu pertama, atau tahun nabi wafat atau tahun nabi hijrah.
4.Perjumpaan menentukan bahwa penetapan taqwim islam dimulai dari tahun nabi hijrah dan hitungan bulan dimulai dari bulan muharram
F.Makna tahun baru hijrah
1.Hasan albasri berkata : “ setiap pagi ,hari berkata: hai manusia aku makhluk baru, dan amalmu akan jadi saksi, maka rebutlah aku, karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat kelak”
2.waktu dalam islamadalah pertanggungjawaban di depan Tuhan yang harus diisi dengan amal dan perbuatan yang baik ( Surah al ‘ashr 1-3, surah almukminun :3, surah al furqan).
3.pergantian waktu adalah ujian iman ( Surah ali imran:140 / surah alhasyr: 18)
3.Setiap pagi dan petang nabi berdoa meminta perlindungan darisikap lemah dan malas
4.Hadis nabi menyatakan seorang mukmin tidak layak masuk ke dalam lobang yang sama dua kali.
5.Doa akhir dan awal tahun bukan hanya sekedar ritual tetapi untuk menilai program dan perjalanan hidup di tahun yang lalu , maka segera meminta ampun atas kesalahan (sebaagi dioa akhir tahun ) ; dan segera merancang program untuk tahun mendatang, setelah itu baru berdoa ( doa awal tahun ) agar program tersebut dapat dijalankan dnegan baik.
6.Hijrah, proses peningkatan kualiti hidup harus dilaksanakan dengan landasan iman dan diupayakan dengan sekuat tenaga (jihad ) dengan mempergunakan segala kemudahan yang ada. Hijrah tanpa jihad adalah tidak akan tercapai, dan hijrah bukan dengan landasan iman akan sia-sia.
( Surah al baqarah: 219/surah al anfal:74/ surah taubah:20)
7.Hijrah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: hijrah niat ( motivasi), hijrah pemikiran (visi), hijrah perbuatan , hijrah emosi, hijrah keluarga, hijrah persekitaran, hijrah budaya, hijrah tradisi dan lain sebagainya.
8.Dengan hijrah, (meningkatkan kualiti hidup kea rah yang lebih baik ) seorang muslim diharapkan dapat menjadi teladan ( syuhada kehidupan ) bagi manusia dan masyarakat dunia. Individu muslim menjadi syuhada kepada manusia ( surah al baqarah : 143 ), masyarakat muslim menjadi masyarakat terbaik ( surah ali imran : 143 ), dan penguasa dan khalifah di muka bumi (surah annur : 55 ).
HIJRAH SEKARANG INI :
Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitab “ Ainal Hill “ ( Dimana jawaban atas persoalan umat ) mencadangkan 20 langkah hijrah bagi meningkatkan kualiti umat islam :
1.Hijrah dari perbincangan remeh temeh, masalah sunat-khilafiyah kepada masalah yang lebih utama dan bersifat universal.
2.Hijrah dari sibuk dengan amalan sunat kepada amalan wajib, baik fardhu ain dan fardhu kifayah.
3.Hijrah dari sikap mencari perbedaan kepada sikap perpaduan.
4.Hijrah dari amalan secara bilangan kepada amalan mementingkan kualiti.
5.Hijrah dari ibadah yang tdk seimbang kepada ibadah yang seimbang.
,6.Hijrah dari sikap mempersulit kepada sikap saling memudahkan
7.Hijrah dari sikap jumud/tertutup kepada sikap terbuka, berwawasan.
8.Hijrah dari banyak berbicara kepada budaya banyak kerja.
9.Hijrah dari melakukan agama secara emosional kepada sikap pfofesional dan rasional.
10.Hijrah dari sikap ta’asub kepada sikap tolak angsur dengan perbedaan(toleran)
11.Hijrah dari penyampaian islam secara lisan kepada islam dengan kesadaran
12.Hijrah dari muslim idealis kepada menjadi muslimyang praktikal dan kerja terancang.
13.Hijrah kepada sikap merasa lebih tingi kepada sikap bermasyarakat, bergaul dengan semua lapisan.
14. Hijrah dari sikap mudah menuduh kepada sikap sama-sama mencari penyelesaian.
15.Hijrah dari kenangan masa lalu kepada sikap siapkan dengan membangun masa depan dengan mempersiapkan generasi terbaik untuk dapat menjawab cabaran masa depan.
16.Hijrah dari sibuk kepada kerja politik kepada kerja pelayanan sosial
17.Hijrah dari perselisihan kelompok kepada kerjasama antar kelompok .
18.Hijrah dari sikap malas kepada sikap kerja produktif niat ibadah
29.Hijrah dari kejahilan kepada ilmu pengetahuan dan kepakaran dalam semua bidang.
20. Hijrah dari pembentukan individu kepada pembentukan system, dan masyarakat.
Wallahu A’lam . ( Muhammad Arifin Ismail ).
Makna hijrah secara bahasa : berpindah dari suatu keadaan/tempat kepada keadaan/tempat yang lain.
Para rasul melakukan hijrah : nabi adam hijrah dari surge ke dunia, nabi nuh hijrah dari masyarakat yang kafir kepada masyarakat beriman, nabi Ibrahim hijrah dari Babilonia, ke Mesir, ke Palestina, dan Makkah, nabi Yusuf hijrah dari keluarga yang hasad ke Mesir, nabi Isa hijrah dari Palestina, ke Mesir; nabi Musa hijrah dari Mesir ke bumi Palestina, nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah.
Dalam Al Quran makna hijrah bermakna :
1.meninggalkan perbuatan yang buruk :
“ dan perbuatan yang buruk, maka hijrahlah, tinggalkanlah ( Surah al Muddasir/73 : 5)
2.menjauhkan diri dari orang yang musyrik :
“ Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka (orang musyrik) ucapkan dan jauhilah merka (hijrah) dengan cara yang baik “ ( Surah al Muzammil/73 : 10 )
3.berpindah kepada perintah Tuhan :
“ Dan berkata (nabi Ibrahim ) : Sesungguhnya aku berpindah kepada apa yang diperintahkan oleh Tuhan kepadaku “ ( Surah al ankabut/29 : 26 ).
4.hijrah pada jalan Allah :
“ Mereka (orang munafiq/kafir ) ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir. Maka janganlah kamu jadikan mereka sebagai pemimpinmu sehingga mereka berhijrah kepada jalan Allah “ ( Surah an Nisa/4 : 89 )
Hijrah dalam hadis nabi :
Hadiis hijrah:
1.Seorang sahabat Amrul Qais hijrah ke madinah disebabkan seorang perempuan, sehingga menjadi pembicaraan sahabat; mendengar itu rasulullah saw bersabda “ Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung kepada niatnya; dan setiap orang akan mendapat sesuai dengan niat perbuatannya. Sesiapa yang berhijrah dengan kepada Allah dan rasulNya, maka dia akan mendapatkan Allah dan rasulNya; dan sesiapa yang berhijrah untuk mencari seorang perempuan atau dunia maka dia akan mendapatkan perempuan atau dunia sebagaimana yang diniatkannya “ ( hadis sahih riwayat Bukhari Muslim).
2. Suatu hari seorang Arab datang dari negeri Syam bertanya kepada Rasulullah bertanya : Ya Rasulullah, apakah itu islam? Nabi menjawab : islam adalah engkau menyerahkan diri kepada Allah dan rasulnya dan engkau memberikan jaminan keselamatan kepada orang lain dengan lidahmu dan tanganmu. Arab itu bertanya lagi : Apakah yang terbaik daripada Islam? Nabi menjawab : Iman. Orang itu bertanya lagi : Apakah itu iman? Nabi menjawab : Engkau beriman kepada Allah dan rasulNya, dan kitab-kitabNya, dan malaikatnya, dan hari kemudian dan qadha (ketentuan) baik atau buruk itu daripada Allah. Orang Arab badui itu bertanya lagi : Apakah yang terbaik daripada iman? Nabi menjawab : Hijrah. Dia bertanya lagi : Apakah itu hijrah? Nabi menjawab : engkau meninggalkan segala kejahatan dan keburukan. Orang arab bertanya lagi : apakah hijrah yang terbaik? Nabi menjawab : Jihad. Orang itu bertanya lagi : Apakah jihad? Nabi menjawab : Engkau berusaha untuk menghadapi segala kekufuran “.
( Kitab al Iman, Ibnu taimiyah )
Hijrah dalam kehidupan nabi/sahabat :
1. Hijrah sahabat nabi ke negeri Habsyah tahun kelima kenabian.
2. Hijrah nabi ke Thaif
3. Hijrah nabi/sahabat ke Madinah.
B.Pelaksanaan hijrah.
1.Persiapan hijrah :
a. Perjanjian Aqabah I antara 12 muslim madinah dengan rasululah pada musim haji 11 kenabian
dan perjanjian Aqabah II antara 70 muslim madinah untuk membela Islam pada musim haji tahun 12
b. Pengiriman sahabat nabi mus'ab dan ummu maktum pada tahun kesebelas kenabian ke madinah untuk mengajar islam kepada masyarakat muslim madinah.
c. Hijrah sahabat pada awal tahun ketiga belas kenabian.
d. Nabi berdoa untuk dapat tempat yang lebih baik ( Surah al isra/ 17 :80 )
e. Perintah hijrah setelah ada keputusan pertemuan seluruh kelompok kafir Makkah di darunnadwah untuk membunuh nabi dengan cara setiap kabilah mengirimkan seorang pembunuh, sehingga mereka utusan kabilah itu secara bersama akan membunuh nabi ( Surah al anfal : 30).
2. Merancang Hijrah : Setelah mendapat perintah hijrah, nabi di siang hari segera berangkat ke rumah Abubakar untuk merancang perjalanan hijrah :
a. Menyediankan kenderaan 2 ekor unta
b. Mengambil jalan yang tidak biasa dilalui ( menuju Madinah melalui arah ke Jeddah )
c. Menyewa Abdullah ibn Uraiqith sebagai penunjuk jalan.
d. Merancang waktu berjalan : berangkat malam dan dipagi hari sembunyi.
e. Memberi tugas kepada Aisyah untuk memasak makanan, Asma binti Abubakar sebagai pengantar makanan ke gua, dan Abdullah bin Abubakar setiap malam akan datang ke gua memberikan informasi perkembangan Makkah, dan kembali ke Makkah sebelum subuh. Amir bin Furaihah hamba sahaya Abubakar ditugaskan untuk mengembalakan kambing Abubakar di sekitar gua berangkat pagi dan pulang di sore hari.
f. Setelah keadaan aman dari kejaran musuh, baru berangkat ke madinah melalui jalan Jeddah.
Pelaksanaan hijrah.
1.Waktu :senin,1 rabiul awal thn.13/ 24 september 622
2.Tatkala pengepungan rumah nabi di malam hari, Ali disuruh tidur diatas katil nabi dengan selimut nabi.
3. Nabi keluar tengah malam hari dari pintu belakang, membaca doa, menuju rumah Abubakar.
4.Di pagi hari nabi bersembunyi di gua 3 malam dan menyuruh penunjuk jalan membawa unta ke rumahnya untuk diberi makan, dan nanti baru kembali lagi jika ada arahan.
5.Setelah berjalan, sembunyi, baru berserah diri dan tawakkal ( Surah at taubah:40).
6. Asma mengantar makanan ke gua di pagi hari, kambing dibawa ke dekat gua sehingga jejak langkah kambing menghapuskan jejak langkah kaki asma, disiang hari susu kambing diperah untuk nabi, di petang hari kambing kembali, sehingga jejak langkah kaki asma kembali ke Makkah terhapus dengan jejak langkah kaki kambing pulang ke makah; dimalam hari Abdullah datang ke gua memberikan informasi tentang perkembangan Makkah kepada nabi dan Abubakar, dan dia pulang ke makkah sebelum subuh, jejak langkah kaki besok pagi terhapus lagi dengan jejak langkah kaki kambing.
6.Pertolongan Allah dengan labah-labah, dan burung sehingga sewaktu orang kafir datang ke gua mereka yakin bahwa tidak ada orang di dalam gua disebabkan adanya lebah dan burung.
7.Setelah aman dari kejaran musuh, nabi menyuruh Abdullah bin Abubakar untuk memanggil kembali Abdullah bin Uraiqith membawa Rasul menuju Madinah.
8.Musuh berusaha mencari nabi dengan mengadakan perlombaan siapa yang dapat mengejar nabi diberi hadiah seratus ekor unta. Ssuraqah bin naufal segera mengejar dan dapat mengesan kedudukan nabi di tepi pantai , tetapi sewaktu Suraqah akan membunuh nabi dengan pedangnya, Allah memelihara nabi dengan cara kuda suraqah masuk ke dalam pasir, sehingga membuat Suraqah gagal untuk membunuh nabi. Hal itu terjadi sampai ketiga kali, akhirnya Suraqah meminta tolong kepada nabi dan berjanji tidak akan mengejar lagi, dan dia segera kembali ke makkah.
9. Hari kedelapan nabi sampai di Quba (dekat madinah ). Disana sudah ada orang islam maka nabi membina Masjid sebagai masjid pertama dalam sejarah islam. ( Surahat Taubah:108).
10. pagi hari kedua belas, hari Jumat nabi berangklat ke Madinah; di tengah jalan turun nperintah shalat jumat, maka nabi melakukan shalat jumat pertama kali dalam perjalanan di kampung bani auf.
12.Setelah shalat jumat, nabi berangkat menuju madinah dan masyarakat muslim serta yahudi madinah sudah menunggu nabi dan menyambut nabi dengan nasyid “tala’al badru alaina “
13. Nabi berhenti di tempat berhentinya unta, yaitu dis ebuah kebun kurma milik dua orang anak yatim
14. Nabi membeli kebun kurma milik anak yatim itu untuk dijadikan masjid dan rumah nabi.
C. Membina Negara madinah :
1.Membeli tanah anak yatim seharga 10dinar untuk tapak masjid.
2. Membina masjid dengan panjang dan lebar 100 hasta(lebih kurang 50 meter) dengan ldinding batu , tiang batang kurma,dan atap daun kurma, lantai tanah.
3.Melakukan shalat jamaah.
4.Mengikat persaudaraan antara individu muhajirin dan anshar ( Surah al Hasyr : 9).
5.Membuat perjanjian antar umat pelembagaan madinah mengatur hubungan muslim , kabilah arab, dan yahudi di madinah untuk saling bekerjasama, hidup bersama dan mempertahankan madinah. Inilah pelembagaan Negara pertama secara tertulis di dunia.
6. Mengarahkan seluruh masyarakat untuk bekerja dan membangun ekonomi.
7.Membentuk masyarakat berilmu dengan majlis ilmu di masjid .
8.Membangun ekonomi umat islam madinah dengan membuat pasar wakaf madinah.
9.Membina teknologi dan industri pertahanan sehingga seluruh keperluan umat wajibbaik pakaian, makanan, dan senjata diproduksi oleh umat islam sendiri.
10.Membentuk masyarakat berkualiti dalam akhlak, kerja, ilmu dan ibadah sehingga rasulullah bersabda : “ sebaik-baikmasyarakat adalah masyarakat aku , dan sahabatku dan setelah sahabatku “.
D.Kunci kejayaan hijrah :
1.landasan iman.
2.persiapan masyarakat madinah untuk menerima islam
3.perancangan yang baik.
4.ikhtiar dengan seluruh potensi ( jihad ).
5.kebijaksanaan dan keputusan yang tepat.
6.membina perpaduan dan visi melalui shalat jamaah dan jumat.
7.pembentukan institusi masjid sebagai pusat pembinaan dan informasi.
8.membentuk kekuatan hukum bagi semua dengan pelembagaan madinah
9.memakai semua kekuatan dari semua golongan, anak-anak, pemuda, wanita, orang kafir, hamba sahaya, untuk bekerjasama.
10.doa dan pertolongan Allah.
E.Sejarah taqwim hijrah.
1.Zaman nabi tidak ada taqwim, dan tahun ditandai dengan peristiwa besar, seperti tahun gajah sebagai tanda tahun kelahiran nabi.
3.Cadangan taqwim dari gubernur yaman Ya'la bin Umayah kepada khalifah abubakar, tetapi abubakar belum dapat menentukan taqwim.
2.Khalifah umar menerima balasan surat dari Abu Musa al Asy'ari dengan ayat : “ Menjawab surat khalifah yang tidak bertarikh “, memberikan pemikiran kepada Umar untuk menentukan taqwim islam.
3.Umar mengadakan musyawarah dengan seluruh sahabat Dalam perjumpaan ada 4 cadangan sebagai penentu awal tahun islam, yaitu dari tahun lahir nabi, atau tahun nabi mendapat wahyu pertama, atau tahun nabi wafat atau tahun nabi hijrah.
4.Perjumpaan menentukan bahwa penetapan taqwim islam dimulai dari tahun nabi hijrah dan hitungan bulan dimulai dari bulan muharram
F.Makna tahun baru hijrah
1.Hasan albasri berkata : “ setiap pagi ,hari berkata: hai manusia aku makhluk baru, dan amalmu akan jadi saksi, maka rebutlah aku, karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat kelak”
2.waktu dalam islamadalah pertanggungjawaban di depan Tuhan yang harus diisi dengan amal dan perbuatan yang baik ( Surah al ‘ashr 1-3, surah almukminun :3, surah al furqan).
3.pergantian waktu adalah ujian iman ( Surah ali imran:140 / surah alhasyr: 18)
3.Setiap pagi dan petang nabi berdoa meminta perlindungan darisikap lemah dan malas
4.Hadis nabi menyatakan seorang mukmin tidak layak masuk ke dalam lobang yang sama dua kali.
5.Doa akhir dan awal tahun bukan hanya sekedar ritual tetapi untuk menilai program dan perjalanan hidup di tahun yang lalu , maka segera meminta ampun atas kesalahan (sebaagi dioa akhir tahun ) ; dan segera merancang program untuk tahun mendatang, setelah itu baru berdoa ( doa awal tahun ) agar program tersebut dapat dijalankan dnegan baik.
6.Hijrah, proses peningkatan kualiti hidup harus dilaksanakan dengan landasan iman dan diupayakan dengan sekuat tenaga (jihad ) dengan mempergunakan segala kemudahan yang ada. Hijrah tanpa jihad adalah tidak akan tercapai, dan hijrah bukan dengan landasan iman akan sia-sia.
( Surah al baqarah: 219/surah al anfal:74/ surah taubah:20)
7.Hijrah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: hijrah niat ( motivasi), hijrah pemikiran (visi), hijrah perbuatan , hijrah emosi, hijrah keluarga, hijrah persekitaran, hijrah budaya, hijrah tradisi dan lain sebagainya.
8.Dengan hijrah, (meningkatkan kualiti hidup kea rah yang lebih baik ) seorang muslim diharapkan dapat menjadi teladan ( syuhada kehidupan ) bagi manusia dan masyarakat dunia. Individu muslim menjadi syuhada kepada manusia ( surah al baqarah : 143 ), masyarakat muslim menjadi masyarakat terbaik ( surah ali imran : 143 ), dan penguasa dan khalifah di muka bumi (surah annur : 55 ).
HIJRAH SEKARANG INI :
Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitab “ Ainal Hill “ ( Dimana jawaban atas persoalan umat ) mencadangkan 20 langkah hijrah bagi meningkatkan kualiti umat islam :
1.Hijrah dari perbincangan remeh temeh, masalah sunat-khilafiyah kepada masalah yang lebih utama dan bersifat universal.
2.Hijrah dari sibuk dengan amalan sunat kepada amalan wajib, baik fardhu ain dan fardhu kifayah.
3.Hijrah dari sikap mencari perbedaan kepada sikap perpaduan.
4.Hijrah dari amalan secara bilangan kepada amalan mementingkan kualiti.
5.Hijrah dari ibadah yang tdk seimbang kepada ibadah yang seimbang.
,6.Hijrah dari sikap mempersulit kepada sikap saling memudahkan
7.Hijrah dari sikap jumud/tertutup kepada sikap terbuka, berwawasan.
8.Hijrah dari banyak berbicara kepada budaya banyak kerja.
9.Hijrah dari melakukan agama secara emosional kepada sikap pfofesional dan rasional.
10.Hijrah dari sikap ta’asub kepada sikap tolak angsur dengan perbedaan(toleran)
11.Hijrah dari penyampaian islam secara lisan kepada islam dengan kesadaran
12.Hijrah dari muslim idealis kepada menjadi muslimyang praktikal dan kerja terancang.
13.Hijrah kepada sikap merasa lebih tingi kepada sikap bermasyarakat, bergaul dengan semua lapisan.
14. Hijrah dari sikap mudah menuduh kepada sikap sama-sama mencari penyelesaian.
15.Hijrah dari kenangan masa lalu kepada sikap siapkan dengan membangun masa depan dengan mempersiapkan generasi terbaik untuk dapat menjawab cabaran masa depan.
16.Hijrah dari sibuk kepada kerja politik kepada kerja pelayanan sosial
17.Hijrah dari perselisihan kelompok kepada kerjasama antar kelompok .
18.Hijrah dari sikap malas kepada sikap kerja produktif niat ibadah
29.Hijrah dari kejahilan kepada ilmu pengetahuan dan kepakaran dalam semua bidang.
20. Hijrah dari pembentukan individu kepada pembentukan system, dan masyarakat.
Wallahu A’lam . ( Muhammad Arifin Ismail ).
Thursday, December 2, 2010
RISALAH NIKAH
CINTA : ANUGERAH ILAHI
Allah berfirman : “ Allah telah menjadikan bagi manusia kecintaan terhadap wanita, anak-anak , harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dan disisi Allah terdapat surga tempat kembali yang lebih baik “ ( QS. Ali Imran : 14 ).
Sudah menjadi ketetapan dalam kehidupan ( natural law / sunnatullah ) bahwa segala sesuatu diciptakan dengan berpasang-pasangan. Hari diciptakan dalam siang dan malam, aksi dan reaksi, positip dan negatip, jantan dan betina, guru dan murid, bumi dan langit, dan manusia juga diciptakan dalam dua bentuk, lelaki dan wanita. Oleh karena itu lelaki dan wanita adalah bagian dari manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam menjalani kehidupan. Dalam bahasa kiasan dapat digambarkan bahwa lelaki dan wanita di tengah kehidupan laksana dua sayap burung yang sedang terbang, jika kedua sayap tersebut sama kuat dan seimbang, maka burung itu dapat terbang mencapai puncak yang tertinggi, tetapi jika salah satu sayap burung itu patah atau lemah, dan tidak seimbang, maka burung tersebut tidak dapat terbang dengan sempurna, atau tidak dapat terbang sama sekali.
Untuk terciptanya hubungan antara lelaki dan perempuan tersebut, maka dalam diri manusia diperlukan perasaan yang dapat menghubungkan antara sesama manusia. Hubungan itulah yang diciptakan Tuhan melalui cinta dan kasih sayang. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa perasaan cinta dan kasih sayang adalah rahmat dari Allah dan merupakan fitrah suci yang diletakkan dalam hati manusia demi terwujudnya kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat kelak.
“ Wahai manusia , Kami ( Allah ) jadikan kamu terdiri dari lelaki dan perempuan , berbangsa dan berpuak, agar kamu saling mengenal antar sesama. Sesungguhnya mereka yang paling bertaqwa itulah yang akan mendapat kedudukan yang paling mulia di sisi Allah “ ( QS. 49 : 13 ).
“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Tuhan adalah Dia menciptakan bagimu isteri-isteri dari jenismu sendiri ( jenis manusia ) agar kamu mendapatkan ketentraman dan kedamaian. Untuk itu Dia memberikan rasa kasih sayang di dalam hatimu, sesungguhnya hal itu merupakan tanda-tanda bagi orang yang berpikir “. ( QS. 30 : 21 ).
Cinta juga mempunyai ruang kajian yang sangat luas, tidak hanya terbatas padahubungan kasih sayang antara lelaki dan wanita, tetapi juga menyangkut hubungan antara seseorang dengan yang lain, hubungan anak dengan orangtua, hubungan negara dengan negara, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan Tuhan, ataupun hubungan manusia dengan makhluk lain seperti dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Setiap insan diciptakan mempunyai rasa cinta dan juga hasrat seksual. Berarti cinta dan keinginan seksual adalah fitrah suci yang diberikan oleh Tuhan dalam diri manusia. Fitrah cinta dan seksual yang suci tersebut dapat bernilai suci jika diletakkan dan disalurkan dalam aturan yang telah digariskan oleh Pemilik kehidupan Yang Maha Suci, sehingga rasa cinta , kasih sayang dan hasrat seksual sesama manusia tersebut dapat menjadi bagian dari kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Suci.
Jika manusia dapat menyalurkan cinta dan kasih sayang serta melakukan hubungan seksual tersebut berlandaskan pada cinta yang suci menuju pada ridha Ilahi, maka dia akan mendapat kenikmatan tertingi serta kebahagiaan hidup baik dalam masa yang singkat di dunia ini maupun kehidupan masa mendatang di alam akhirat.
Cinta , kasih sayang dan hubungan seksual tersebut akan mencapai kedudukan tertinggi jika dilakukan dengan cara-cara terhormat berdasarkan petunjuk pemilik kehidupan, Allah swt . Tetapi jika seandainya rahmat cinta yang suci yang diberikan oleh Tuhan tersebut dipergunakan dan disalurkan melalui cara-cara yang tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan, maka berarti manusia tersebut telah mencampakkan dirinya ke dalam jurang kenistaan karena dia akan mendapat murka dari Tuhan, si pemilik cinta itu sendiri, Rabbul ‘alamin.
Cinta , kasih sayang dan hubungan seksual yang sah tersebut hanya dapat disatukan antara lelaki dan perempuan dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah sebagaimana yang telah diatur oleh Tuhan, si pemberi cinta itu sendiri, sehingga dengan pernikahan tersebut dapat memberikan manfaat ketenangan dan kebahagian baik bagi diri individu maupun masyarakat .
Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa pernikahan adalah legalisasi hubungan cinta, kasih sayang dan hubungan seksual demi mendapatan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, sedangkan cinta, kasihsayang dan hubungan seksual di luar pernikahan merupakan penghinaan atas kesucian cinta itu sendiri dan merupakan pelanggaran atas peraturan yang telah digariskan dalam hubungan seksual antar lelaki dan perempuan yang akan mengakibatkan kesengsaraan bagi individu, dan masyarakat.
Cinta , kasih sayang dan keinginan seksual dalam diri manusia adalah fitrah dan kodrat manusia yang suci. Fitrah ini merupakan keperluan asasi bagi kehidupan manusia dan tidak dapat dipisahkan dari naluri dan jiwa manusia itu sendiri. Maka jika seseorang ingin menikmati cinta, kasih sayang dan keinginan seksual yang sejati dan abadi , maka dia harus meletakkan cinta , kasih sayang, dan hubungan seksual tersebut dalam kedudukan yang mulia dan terhormat, dengan cara-cara yang mulia sesuai dengan aturan pernikahan yang telah diatur oleh Yang Maha Mulia, sehingga dengan itu dia akan mendapatkan kebahagiaan hidup yang abadi baik sejak di dunia sampai di akhirat nanti.
NIKAH SEBAGAI IBADAH
1. Nikah : Sunnah Rasulullah.
Tiga orang sahabat datang ke rumah isteri Nabi ingin menanyakan bagaimanakah ibadah Nabi selama ini.? Setelah mendengar keterangan tentang bagaimana nabi beribadah, mereka berkata : “ Bagaimanakah ibadah kita jika dibandingkan dengan ibadah Nabi, sedangkan beliau itu telah mendapat ampunan Allah atas dosa-dosa yang telah lalu dan juga yang akan datang “.. Salah seorang dari mereka berkata : “ Saya akan melakukan shalat di tengah malam secara terus menerus “. Seorang lagi berkata: “ Saya akan berpuasa setiap hari tanpa berbuka “. Seorang yang lain berkata : “ Sedangkan saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan berniat untuk tidak akan menikah selama-lamanya “.
Tak lama kemudian, rasulullah saw datang dan berkata : "“Apakah kamu kelompok yang berkata seperti ini..? Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah, dan orang yang paling taqwa. Aku berpuasa dan juga berbuka. Aku tidur dan aku juga menikahi perempuan-perempuan. Maka barangsiapa yang tidak senang dengan sunnahku ( tradisiku itu ), maka dia itu tidaklah termasuk dari golonganku “. ( hadis riwayat Bukhari ).
Pada suatu hari datanglah seorang sahabat bernama Akkaf bin Basyar al Tamimy menghadap nabi Muhammad saw. Rasul bertanya kepadanya : Wahai Akkaf , apakah engkau mempunyai seorang isteri ? Tidak….ya Rasulullah. Rasul bertanya lagi : Apakah engkau mempunyai hamba sahaya perempuan ? Tidak, jawab Akkaf. Rasul bertanya lagi : Adakah hidupmu penuh dengan kelapangan dan kemudahan..? Ya, jawab sahabat tersebut. Kemudian rasul melanjutkan : Jika demikian, maka engkau adalah kawan syetan. Jika seandainya engkau dalam agama nasrani, maka engkau termasuk dalam kelompok paderi mereka. Sesungguhnya sunnah kami adalah nikah. Orang yang jahat diantara kamu adalah mereka yang hidup membujang dan mati yang paling hina adalah mati dalam keadaan membujang……Setelah mendengar ucapan tersebut Akkaf berkata : Ya Rasulullah, aku tidak akan menikah kecuali jika engkau menikahkan aku dengan seseorang yang engkau sukai. Rasul menjawab : “ Aku nikahkan engkau dengan Karimah binti kalsum al Humairy. ( hadis riwayat Thabrani ). Itulah sebabnya maka ada salah seorang diantara sahabat rasul yang bernama Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa : ‘ Jika seandainya ajalku akan tiba, dan aku tahu bahwa umurku masih ada sepuluh malam lagi, maka aku aku akan menikah karena aku tidak ingin jika aku meninggal tanpa ada isteri disampingku “ ( Majmu al zawaid/251).
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah saw mengutuk orang lelaki yang menyerupai perempuan, dan orang perempuan yang menyerupai lelaki, dan lelaki yang berkata bahwa aku tidak akan menikah dan perempuan yang berkata bahwa aku tidak akan menikah. ( hadis riwayat Ahmad ). Dalam hadis lain juga disebutkan bahwa : Barangsiapa yang mempunyai kemudahan tetapi dia tidak menikah maka dia tidaklah termasuk dalam golonganku “ ( hadis riwayat Thabrani ).
Rasulullah pada suatu hari juga bersabda : “ Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu yang telah mampu, maka hendaklah menikah, agar kamu dapat menundukkan pandangan matamu ( dari wanita lain ) dan juga menyelamatkan kemaluanmu ( dari perbuatan zina ). Barangsiapa yang tidak mampu untuk melakukan perkawinan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menahan dirimu dari perbuatan maksiat “ ( Hadis riwayat Bukahri dan Muslim ). Rasulullah bersabda : “ Jika seorang hamba telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan sebagian dari imannya , maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah untuk menyempurnakan sebagian yang lain “ ( hadis riwayat Baihaqi ). Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa nikah itu adalah sunnah rasulullah, dan mengikuti sunah merupakan ibadah.
2. Niat nikah
Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa yang menikahi perempuan karena kemulian perempuan tersebut, maka Allah akan menjadikan dia hina. Barangsiapa yang menikahi perempuan karena harta bendanya, maka dia akan menjadi faqir. Barangsiapa yang menikahi perempuan karena keturunannya , maka dia akan menjadi rendah, tetapi siapa yang menikahi perempuan karena ingin memelihara pandangannya dan kemaluannya atau karena ingin menghubungkan silaturahmi maka Allah akan memberkati keduanya “ ( hadis riwayat Thabrani dari Anas )
Rasulullah juga bersabda : “ Janganlah kamu menikahi perempuan hanya disebabkan oleh kecantikannya saja karena kecantikan itu akan berkurang. Janganlah kamu menikahi perempuan karena harta kekayaannya saja karena harta kekayaan itu akan habis, tetapi nikahilah perempuan itu disebabkan oleh agamanya, dan perempuan hitam yang berpegang teguh pada agama itu lebih baik bagimu“. ( hadis riwayat Ibnu Majah )
Dalam hadis lain rasulullah bersabda : “ wanita itu dinikahi disebabkan karena empat hal yaitu harta kekayaannya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka berpeganglah kamu pada agamanya, maka kamu akan beruntung “ ( hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ).
Dari hadis diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari pernikahan bukan untuk memiliki harta kekayaan, bukan juga karena kecantikan seseorang, juga bukan karena si gadis itu dari keturunan yang terhormat, tetapi untuk menyelamatkan iman dan agama, itulah sebabnya kita memilih seorang perempuan tersebut karena agamanya dan pelaksanaan ajaran agama yang dinyatakan dalam akhlak dan kepribadiannya.
3. Pahala hubungan suami isteri.
Rasulullah saw bersabda : “ Setiap anak adam harus mengeluarkan sedekah setiap hari selama matahari terbit.” Sahabat bertanya : ‘ Bagaimanakah caranya ya rasulullah.? Dan darimana kami mendapat harta sehingga kami dapat bersedekah setiap hari..? rasul menjawab : Sesungguhnya pintu pintu kebaikan itu banyak : membaca tasbih ( subhanalah ), membaca tahmid ( alhamdulillah ), membaca tahlil ( la ilaaha illallah ), amar makruf dan mencegah kemungkaran, membuang duri dari tengah jalan, menolong orang yang pekak untuk mendengarkan sesuatu, menuntun orang yang buta, memberi petunjuk kepada orang yang sesat di jalan, menolong orang yang sedang kesusahan, menolong orang miskin yang lemah, itu semuanya adalah sedekah. Dan kamu berhubungan dengan isterimu itu juga akan mendapat pahala “. Sahabat bertanya : “ Apakah dalam syahwat tersebut ada pahala ? “ Rasul menjawab : Ya..apakah kamu tidak melihat bahwa jika kamu mempunyai anak kemudian kamu besarkan dan nikahkan dan dia meninggal, apakah perbuatanmu itu tidak akan dihitung “ ? Sahabat menjawab : Ya pasti dihitung.Rasul kemudian berkata : “ Apakah kamu yang menjadikannya ? “ sahabat menjawab : “ Tidak, tetapi Allah yang menjadikannya “. Rasul bertanya lagi : “ Apakah kamu yang memberikan petunjuk kepadanya “ . Sahabat menjawab : Tidak, tetapi Allah yang memberinya petunjuk. Rasul bertanya lagi : “ Apakah kamu yang memberi rezeki kepadanya ? Sahabat menjawab ; ‘ Tidak, tetapi Allah yang memberikan rezeki kepadanya. Rasul berkata ; “ Maka letakkanlah kemaluanmu pada tempat yang halal dan jauhkanlah dia dari tempat yang haram dan letakkan air mani itu pada tempatnya, maka jika Allah menghendakinya hidup maka dia akan hidup, dan jika Allah menghendakinya mati, maka dia mati, tetapi engkau telah mendapat pahala dari perbuatanmu itu “.( Kitab Adaabunnisa, 175 ).
Atha bin Abi Rabbah berkata bahwa pada suatu hari rasulullah bertanya kepada seorang sahabat : “ Apakah kamu berpuasa pada hari ini.? Sahabat itu menjawab : Tidak…kemudian Rasul bertanya lagi : Apakah kamu telah bersedekah pada hari ini? Sahabat itu menjawab : Belum ya Rasulullah. Rasul kemudian bersabda : “ Jumpailah isterimu dan bergaullah kamu dengannya karena itu juga merupakan sedekah bagimu “ ( Kitab Adabunnisa, 173 ).
Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa rasulullah saw telah bersabda : Setiap hari, seorang muslim hendaklah bersedekah..Sahabat bertanya : “ Siapakah yang mampu melakukan hal tersebut ya Rasulullah ? Nabi Muhammad saw menjawab : Engkau memberi salam kepada seorang muslim itu adalah sedekah. Engkau mengunjungi orang yang sakit juga sedekah. Engkau ikut menyembahyangkan mayit juga sedekah. Membuang duri dari jalan juga sedekah. Menolong orang yang susah juga sedekah. Dan engkau berhubungan dengan isterimu itu juga merupakan sedekah. “ ( Kitab Adaabun Nisa , 174 ).
Aisyah berkata : “ Jika seorang lelaki bermain-main dengan isterinya maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan dan menghapuskan baginya sepuluh kejahatan dan mengangkat baginya sepuluh tingkatan di dalam surga. Jika dia mencium isterinya dan memeluk lehernya maka Allah akan menuliskan baginya seratus dua puluh kebaikan. Jika dia berhubungan dengan isterinya dan dia mandi maka sewaktu air itu mengalir ke atas rambutnya, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan darinya sepuluh kejahatan, dan mengangkat baginya sepuluh derajat dan Allah akan memberikan kepadanya kelebihan di dunia, sehingga Allah berkata kepada malaikat : “ Lihatlah kepada hambaku, dia mandi di malam hari yang dingin karena mengharapkan kerelaanku dan membenarkan janjiku. Saksikanlah bahwa aku telah memberikan ampunan kepadanya “.( Kitab Adaabunnisa , 172 ).
Diceritakan oleh Said bin Musayib bahwa Rasulullah saw telah bersabda : “ Apabila seorang lelaki ingin mendatangi isterinya dan bermain-main dengannya, maka Allah menuliskan baginya dua puluh kebaikan , menghapuskan darinya dua puluh kejahatan. Apabila dia memegang tangan isterinya maka Allah menuliskan baginya empat puluh kebaikan, menghapuskan baginya empat puluh kejahatan. Apabila dia mencium isterinya, maka Allah menuliskan baginya enam puluh kebaikan, menghapuskan darinya enam puluh kejahatan. Apabila dia melakukan hubungan sebadan dengan isterinya, maka Allah menuliskan baginya seratus dua puluh kebaikan, menghapuskan darinya seratus duapuluh kejahatan. Apabila dia mandi maka Allah memanggi malaikat dan berkata : Lihatlah hambaku ini sedang mandi di malam yang dingin karena takut kepada-Ku dan karena meyakini bahwa Aku adalah Tuhan-nya. Saksikanlah bahwa Aku telah memberikan ampunan kepadanya. Maka Allah akan menuliskan baginya kebaikan bagi setiap butir air yang mengalir di atas rambutnya. ( kitab Adaabunnisa , 172 ).
4. Pahala memberi nafkah kepada keluarga
Rasulullah saw bersabda : “ Satu dinar yang diberikan untuk perang di jalan Allah, dan dinar yang diberikan untuk membebaskan budak, dan dinar yang disedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang dikeluarkan untuk membeli keperluan anak dan isteri. Maka dinar yang paling besar pahalanya adalah dinar yang diberikan untuk keperluan keluarga. ( hadis riwayat Muslim ).
Tsauban , pembantu rasulullah saw berkata : Sebaik-baik dinar adalah dinar yang diberikan seorang lelaki kepada keluarganya, kemudian dinar yang dikeluarkan untuk membeli kenderan berperang di jalan Allah, kemudian dinar yang diberikan kepada orang yang berperang di jalan Allah. ( riwayat Muslim dan Tirmidzi ).
Saad bin Abi Waqqas berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda : “ Sesungguhnya jika engkau memberikan infaq mengharapkan pahala dari Allah, maka engkau tidak akan diberi pahala sebelum engkau memberikan sesuatu untuk memberi makan kepada isterimu “ ( Riwayat Bukhari dan muslim ).
Ibnu Mas’ud al badri berkata bahwa rasulullah saw telah bersabda : “ Apabila seseorang lelaki mengeluarkan uangnya untuk keperluan anak isterinya, dan dia melakukan itu hanya dengan niat mengharapkan mencari kerelaan Allah, maka pemberiannya itu termasuk dalam pahala sedekah “ ( hadis riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasai ).
Rasulullah saw juga bersbda : “ Apa saja yang engkau belanjakan untuk makanan dirimu itu menjadi sedekah. Apa saja yang engkau belanjakan untuk memberi makan anakmu itu juga menjadi sedekah. Apa saja yang engkau belanjakan untuk makan isterimu, itu juga sedekah. Apa saja yang engkau belanjakan untuk memberi makan pembantumu, itu juga merupakan sedekah. ( Riwayat Ahmad ).
Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa rasulullah saw telah bersabda ; Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah, maka mulakanlah dengan orang yang ada di bawah tangunganmu yaitu : ibumu, dan ayahmu, dan saudara perempuanmu, dan saudara laki-lakimu, dan selanjutnya dan selanjutnya “ ( riwayat thabrani ).
Abi Amamah menceritakan bahwasanya rasululah saw telah bersabda : “ Barangsiapa yang membelanjakan uangnya untuk keperluan dirinya demi menjaga kehormatan dirinya maka itu adalah sedekah, dan barangsiapa yang membelanjakan hartanya untuk memenuhi keperluan anak dan isterinya dan sanak keluarganya , maka itu juga sedekah “. ( hadis riwayat Thabrani ).
Dari Abu Hurairah menceritakan bahwa pada suatu hari rasulullah saw berkata kepada para sahabat : Bersedekahlah kamu..!. Salah seorang sahabat berkata : Ya rasulullah, aku mempunyai uang, kepada siapakah akan aku sedekahkan? Rasul menjawab : “ Belanjakan uang itu untuk keperluan dirimu sendiri “. Sahabat berkata: “Uangku masih ada lagi.” Rasul berkata : “ Belanjakan uang itu untuk keperluan isterimu “.
Sahabat itu berkata lagi : “ uangku masih ada lagi ‘. Rasul menjawab ; ‘ Belanjakan untuk keperluan anakmu “. Sahabat berkata lagi : “ Jika uangku masih ada lebihnya lagi “. rasul menjawab : “ Belanjakan untuk keperluan pembantumu “. Sahabat berkata ; Jika uang itu masih ada lebih lagi “. rasul berkata ; “ Keluarkanlah uang itu untuk keperluan yang engkau lebih mengetahui kemana yang lebih baik “. ( riwayat Ibnu Hibban ).
Pada suatu hari seorang lelaki berlalu di depan Rasul dan para sahabat melihat bahwa orang itu amat gagah dan bersemangat. Para sahabat memberi komentar : “ Wahai rasulullah, alangkah baiknya jika orang ini ikut berperang di jalan Allah “. mendengar ucapan tersebut, rasulullah saw bersabda : “ Jika orang itu keluar dari rumahnya untuk bekerja demi memenuhi keperluan hidup anak-anaknya yang masih kecil, maka dia telah berada di jalan Allah. Jika dia keluar bekerja untuk memenuhi keperluan hidup kedua orangtuanya yang telah tua maka dia juga berada di jalan Allah. Jika dia keluar rumah bekerja untuk memenuhi keprluan hidupnya sendiri, maka dia juga berada di jalan Allah. Tetapi jika dia bekerja untuk menampakkan kehebatan dirinya dengan penuh riya dan sombong, maka dia telah berada di dalam jalan syetan. ( Riwayat thabrani ).
Jabir berkata bahwa rasulullah saw bersabda : “ Apa saja yang dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, anaknya, keluarganya, dan saudaranya serta kerabatnya, maka itu semua menjadi sedekah baginya “ ( riwayat Thabrani ).
Jabir juga bercerita bahwa rasulullah saw bersabda : “ Setiap kebaikan itu mendapat pahala sedekah. Apa saja yang dikeluarkan oleh seseorang untuk keperluan anak-isterinya itu semua menjadi sedekah. Apa saja yang dikeluarkan untuk menjaga kehormatan dirinya juga menjadi sedekah. Apa saja yang diberikan kepada orang mukmin yang lain, juga sedekah, dan Allah akan mengganti pemberiannya itu. Allah akan menjadi penjamin kepadanya kecuali jika uang itu dikeluarkan untuk membina bangunan atau untuk suatu maksiat. ( riwayat daruqutni dan hakim ).
Rasulullah saw juga bersabda : “ Pertama kali yang akan diletakkan dalam timbangan seorang hamba adalah pemberiannya kepada keluarganya “ ( riwayat Thabrani ). Dalam hadis lain juga disebutkan bahwa rasulullah saw bersabda : ‘ Jika seorang lelaki memberikan minuman kepada isterinya maka orang itu akan diberi pahala”. Mendengar hadis tersebut, maka Irtbadh bin Sariyah segera pulang ke rumahnya mendatangi isterinya dan memberikan minuman kepada isterinya dan menceritakan apa yang didengarnya dari Nabi. ( riwayat Ahmad dan Thabrani ).
Rasulullah bersabda : Adalah suatu dosa jika seseorang lelaki tidak memperdulikan anak isterinya yang harus diberi makan olehnya “ ( riwayat Abu Daud, Nasai, dan Hakim ). Dalam hadis lain Rasulullah juga bersabda : “ Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin atas kepemimpinannya apakah dia telah melaksanakan kewajibannya dengan baik atau telah melalaikannya sehingga Dia akan bertanya kepada setiap lelaki tentang tanggungjawabnya kepada anak-isteri yang berada di bawah tanggungannya “. ( riwayat Ibnu Hibban ). “ Jika seseorang itu mendidik anaknya maka itu lebih baik daripada dia bersedekah “ ( Riwayat Tirmidzi ).
PAHALA SEORANG ISTERI
Rasulullah saw bersabda : Apablia seorang isteri telah melaksnakan shalat lima waktu, dan berpuasa di bulan ramadhan, dan memelihara kemaluannya dan patuh kepada suaminya, maka nanti di hari akhirat dia akan dipanggil dengan seruan : “ Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki “ ( Uqudullujain, 9 )
Nabi Muhammad saw juga bersabda: “ Burung-burng diudara, ikan-ikan di dalam air dan malaikat di langit semuanya akan memintakan ampunan bagi isteri yang patuh kepada suaminya dan selama dia dalam kerelaan suminya “.( Uqudullujain, 12 )
Pada suatu hari datanglah seorang perempuan menghadap nabi dan berkata:Ya Rasulullah..saya ini adalah utusan dari kelompok perempuan ingin menyatakan sesuatu kepadamu : Allah telah mewajibkan jihad kepada kaum lelaki. Jika mereka terluka maka mereka mendapat pahala, dan jika mereka terbunuh mereka akan syahid, hidup di sisi Allah dengan rezeki yang cukup. Kami ini kaum perempuan hanya melayani keperluan suami-suami kami, bagaimanakah kami agar dapat pahala seperti mereka itu ? Rasululah saw bersabda : Sampaikan kepada perempuan yang kamu jumpa bahwa kepatuhan seorang isteri kepada suaminya dan melaksanakan kewajibannya terhadap suami itu sama pahalanya dengan berjihad di jalan Allah. Tetapi sangat sedikit diantara kalian yang dapat menjalankannya “.(Uqudullujjain,10)
Ali bin Ja’far bin Muhammad berkata : “ Seorang isteri yang berkhidmat untuk suaminya dalam siang hari saja maka Allah telah mewajibkan baginya surga dan memberikan pahala dua belas wali Allah. Dan perempuan mana saja yang berkhidmat untuk suaminya siang dan malam, maka Allah akan memberi ampunan atas dosa-dosanya dan dia akan diberi pakaian kebesaran berwarna hijau dan dituliskan baginya pahala syahid bagi setiap rambut yang ada di tubuhnya dan dibuatkan baginya kota dari wangi-wangian sebanyak rambut yang ada di badannya dan dia tidak akan keluar daripada dunia kecuali dia akan melihat tempatnya di dalam surga “ ( Kitab Adaabun Nisa 291 ).
Dilanjutkan lagi : ‘ Seorang isteri yang melayani suaminya di siang hari , maka dia telah keluar dari dosanya sebagaimana dia keluar dari rahim ibunya dan Allah akan memberikan kepadanya pahala seribu kali haji dan seribu kali umrah dan malaikat akan memintakan ampunan baginya. Seorang isteri yang menyapu rumahnya dan menghamparkan kain/lkarpet untuk tempat duduk suaminya dengan mengharapkan kecintaan kepada Allah , maka Allah akan membukakan baginya pintu-pintu rahmat dan membersihkan kuburannya daripada ulat dan kalajengking dan Allah akan memasukkan ke dalam rumahnya tujuh puluh malaikat menolongnya dan akan mengunjungi kuburannya setiap hari dan dia akan mendapatkan seribu malaikat yang akan membawakan untuknya kenikmatan surga dan meluaskan kuburannya " ( Kitab Adaabunnisa . 291 ).
Abdul Malik bin habib dalam Kitab Adabunnisa menceritakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda : “ Seorang isteri yang tersenyum kepada suaminya dan bersyukur atas keadaan suaminya maka Allah akan memandang kepadanya nanti di hari kiamat. Seorang isteri yang dapat menyenangkan hati suaminya di malam hari maka dia akan keluar dari kuburannya bersama isteri-isteri nabi dan berjalan di atas shirat bersama mereka tanpa dihisab ( dihitung ) terlebih dahulu dan Allah akan memberikan kepadanya pahala dua belas wali Allah di dalam surga “.
Ditambahkan : “ Dan seorang isteri yang menyerahkan dirinya kepada suaminya dalam keadaan berhias, maka Allah akan mengharamkan dadanya daripada api neraka dan memberikan kepadanya pahala duaratus kali haji dan dituliskan baginya pahala duaratus ribu kebaikan dan diangkatkan darinya duaratus ribu derajat di surga “.
“ Dan jika seorang isteri yang mendatangi suaminya di atas tempat tidur maka datanglah malaikat yang akan memanggilnya dengan ucapan : “ Berbuatlah dengan penuh kebaikan..karena Allah telah memberikan ampunan atas dosa-dosamu yang terdahulu dan dosa yang kemudian, dan Allah telah menuliskan bagimu pahala orang yang memerdekakan seratus hamba dan menuliskan bagimu kebaikan sebanyak rambut yang ada di tubuhmu “.
“ Jika isteri mencium suaminya dengan penuh keharuman maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang membaca Al Quran sebanyak dua belas kali dan dituliskan Allah baginya dari setiap ayat lima puluh kebaikan dan dari setiap ciuman tersebut Allah akan bina untuknya satu kota di surga “.
“ Jika isteri mencium kepala suaminya dan menyisirkan rambutnya dan jenggotnya maka Allah akan menuliskan baginya kebaikan sebanyak rambut tersebut dan ditanamkan untuknya pohon kurma di dalam surga sebanyak jumlah rambut yang disisirkannya itu..”
“ Jika isteri memberikan minyak kepada rambut suaminya dan misainya maka Alah akan memberikan minuman kepadanya daripada air sungai di surga dan memudahkan baginya dalam menghadapi sakratul maut dan dituliskan baginya terhindar daripada api neraka dan dimudahkan baginya menelusuri titi di akhirat nanti (shirat) dan diberikan kepadanya pahala ibadah selama enam puluh tahun “.
“ Jika isteri memotong kuku suaminya maka dia akan mendapatkan kuurannya menjadi taman diantara taman-taman surga dan dibukakan Allah baginya pintu ke menuju surga dan dituliskan baginya seratus kebaikan dari setiap kuku yang dipotong dan diangkatkan baginya seratus derajat di dalam surga”.
“ Seorang siteri yang memberikan minuman kepada suaminya maka pahalanya sama dengan memerdekakan seorang hamba dan Allah akan memberikan minuman kepadanya nanti daripada air sungai al kautsar di surga sebanyak enampuluh kali sebelum dia memasuki surga dan Allah akan memberikan pakaian kepadanya daripada pakaian kebesaran di surga “.
“ Dan seorang isteri yang mempersiapkan hidangan makanan di hadapan suaminya maka Allah akan menuliskan baginya pahala ibadah selama satu tahun dan dituliskan baginya sepuluh kebaikan , dan diangkat sepuluh derajat dari setiap satu roti yang diberikan kepada suaminya, dan di atas kepalanya akan diletakkan mahkota yang bercahaya daripada batu permata “.
“ Seorang isteri yang membasuhkan pakaian suaminya maka Allah akan memberikan kepadanya pahala enam puluh syahid dan jika dia bangun dari tempat pembasuhan tersebut maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya “.
“ Seorang isteri yang masak di dalam periuk untuk mempersiapkan makanan bagi suaminya maka Allah akan mengharamkan baginya panas api neraka. Dan seorang isteri yang membuatkan sepotong roti untuk suaminya maka dia tidak akan merasakan panasnya hari kiamat dan dia akan berjalan di atas jembatan laksana kilat yang menyambar “.
“ Seorang isteri yang mendapat kerelaan dari suaminya, maka istri tersebut akan masuk ke dalam surga tanpa ada perhitungan terlebih dahulu. Dan jika seorang isteri tidur dalam keadaan suami yang rela kepadanya maka Allah akan memberikan kepadanya pahala sebagaimana pahala nabi Ayuub yang sabar atas segala cobaan “.
Ibnu Mas’ud juga menceritakan bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda : “ Apabila air mani seorang suami berdiam di dalam rahim isterinya, maka si isteri akan mendapat pahala bagaikan pahala orang berpuasa yang melakukan shalat, taat dan berjihad di jalan Allah. Apabila isteri itu diceraikan dalam keadaan hamil maka baginya pahala yang tidak terkira banyaknya. Jika isteri itu hamil maka si isteri akan mendapat pahala orang yang mati syahid di jalan Allah. Apabila si isteri menyusukan anaknya maka setiap susuan yang diisap dia akan mendapat pahala memerdekaan seorang hamba “ ( Kitab adabun nisa , 270 ).
Said bin Musayib menceritakan bahwa rasulullah saw pernah bersabda : “ Apabila seorang isteri hamil maka baginya pahala orang yang berperang di jalan Allah dan baginya juga pahala orang yang puasa tidak berbuka ditambah lagi dengan pahala orang yang melakukan shalat terus menerus. Jika dia melahirkan anak tersebut maka baginya setiap merasakan sakit bagaikan pahala orang yang memerdekakan seorang hamba. Apabila dia menyusukan anaknya maka berserulah para malaikat dari atas langit : “ Lakukanlah itu dengan cara yang baik, karena Allah telah memberikan ampunan kepadamu “
Menurut Aisyah, Rasulullah saw telah bersabda : “ Ketahuilah wahai seluruh perempuan, bahwasanya setiap wanita yang hamil maka baginya pahala orang yang sedang berpuasa dan berjihad di jalan Allah. Apabila dia diceraikan dalam keadan hamil, maka baginya pahala yang sangat banyak, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah. Apabila dia melahirkan anaknya maka setiap rasa sakit yang dirasakannya dia akan mendapat pahala bagaikan pahala orang yang memerdekakan hamba sahaya, apabila dia menyusukan anaknya maka malaikat akan memanggilnya dari langit : “ Wahai wanita yang sedang menyusukan anaknya, lakukanlah pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya, dan pahala menyusu itu sangatlah banyak sehingga sudah cukup bagimu “ ( Kitab Adabunnisa, 270 ).
KEWAJIBAN SUAMI
Firman Allah swt dalam itab suci Al Quran:
“ Dan pergaulilah isteri-isterimu dengan baik “
( QS. An Nisa : 19 )
“ Dan para isteri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi suami itu mempunyai kewajiban yang lebih daripada isteri “.
( QS. Al Baqarah : 228 )
“ Perintahkanlah kepada keluargamu agar mereka mendirikan shalat “ ( QS. Thaha : 132 )
“ Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, dan keluargamu daripada siksa api neraka “. Menurut Ibnu Abas , maksud ayat ini adalah seoang suami berkewajiban untuk memberikan pendidikan agama dan pelajaran akhlak yang baik kepada keluarganya “.( QS. Tahrim : 6 )
Dalam haji yang terakhir ( haji wada’ ) Rasulullah berwasiat kepada umatnya tentang amanat wanita :
“ Ingatlah wahai kaumku, terimalah wasiatku ini…
Berbuat baiklah kalian kepada isteri-isteri kalian..
Isteri itu adalah penolong dalam kehidupan yang selalu berada di sampingmu..
Kamu mengambilnya sebagai isteri dengan amanat dari Allah
Dan dihalalkannya bagimu dengan kalimat Allah..
Kamu tidak dapat memiliki apapun dari mereka kecuali hanya berbuat baik
Kamu tidak dapat memiliki apapun dari mereka kecuali hanya berbuat baik
Kecuali jika isterimu itu melakukan perbuatan keji yang jelas maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.
Kalau isterimu itu taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka...
Ingatlah.sesunguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isterimu dan isterimu juga mempunyai kewajiban terhadapmu..
Kewajiban isteri terhadapmu ialah mereka tidak boleh mempersilahkan tempat tidurmu didatangi oleh orang yang tidak kamu senang akan kehadirannya, dan mereka tidak boleh mengijinkan orang yang tidak kamu senangi masuk ke dalam rumahmu…
Ingatlah kewajibanmu terhadap mereka ialah kamu melayani mereka dengan baik, baik dalam pakaian maupun dalam makanan mereka “ (Hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah / Uqudullujian,2 /Tuhfatul Urus,140).
Rasulullah saw juga bersabda : “ Takutlah kamu kepada Allah dalam menjaga isteri-isterimu, karena sesungguhnya mereka adalah amanat yang ada disampingmu, maka barangsiapa yang tidak memerintahkan shalat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan kepada rasul-Nya “ ( Uqudullujain, 7 ).
Seorang lelaki dari Qayis bertanya kepada rasul : ya rasul, apakah kewajiban suami terhadap isterinya.?” Rasululah saw menjawab : “ Kewajiban suami terhadap isteri ialah suami harus memberikan makanan apabila dia ingin makan, dan memberikan pakaian kepadanya apabila dia ingin berpakaian, dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya, dan tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur, ketika isteri itu tidak thaat dan membangkang. ( Adabunnikah,257/ Uqudullujain, ).
“ Seorang lelaki yang mengawini perempuan dengan maskawin sedikit atau banyak, sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan maskawin itu kepadanya , maka itu berarti dia telah menipunya, seandainya dia meninggal dan belum memberikan maskwain itu kepada isterinya, maka dia akan menjumpai Allah dalam keadan berzina “.
“ Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang mempunyai akhlak yang baik dan mereka yang paling lembut bergaul dengan keluarganya “
“ Orang yang terbaik diantara kamu adalah mereka yang baik dalam bergaul dengan keluarganya, dan saya adalah orang yang terbaik dalam bergaul dengan keluarga “
“ Barangsiapa yang sabar atas perbuatan jelek dari isterinya, maka Allah memberinya pahala sama dengan yang diberikan kepada nabi Ayub karena sabar atas cobaan hidup. Dan isteri yang sabar atas perbuatan jelek dari suaminya, maka dia akan mendapat pahala Aisyah, isteri Firaun. “
“ Tidak ada seseorang lelaki yang menjumpai Allah dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak peduli dengan keadaan anak dan isterinya “
TANGGUNG JAWAB SUAMI :
Dalam Kitab Uqudullujain disebutkan bahwa tangung jawab suami terhadap anak dan isteri ialah :
1. Menjadi pemimpin terhadap anak dan isteri di dalam rumah tangga.
2. Mengajarkan ilmu fardhu ain kepada anak isteri yang meliputi ilmu tauhid, fikah dan akhlak. Ilmu tauhid diajarkan agar dia mempunyai keimanan dan keyakinanyang benar. Ilmu fiqah diajarkan agar dia dapat melaksnakan ibadah dengan benar. Ilmu tasauf diajarkan agar dia dapat menjaga amalanya dan perbuatannya dari penyakit-penyakit hati.
3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal. “ Sekali membelikan pakian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama tujuh puluh tahun beribadah “ , demikian ungkap seorang ulama sebagaimana disebutkan dalam kitab Uqudullujain ( uqudullujain,45).
4. Tidak mendzalimi anak dan isteri yaitu dengan :
a. Memberikan pendidikan agama.
b. Memberi nafkah lahir dan bathin
c. Memberi nasehat serta menegur dan memberi tunjukajar jika mereka melakukan kesalahan.
d. Bila memukul jangan sampai melukai.
5. Memberikan nasehat kepada isteri jika isteri suka menghasud, atau jika isteri melakukan sesuatu yang bercanggah dengan perintah agama.
SIFAT SUAMI YANG SHOLEH :
1. Bertanggungjawab dalam memimpin rumah tangga.
2. Tidak kedekut atau terlalu bermewah-mewah dalm memberi nafkah makan, minum , pakaian dan tempat tinggal, serta sehgala kepeluan anak dan isteri.
3. Kasih sayang, nesra serta senantiasa mengambil berat tentang mereka.
4. Tidak terburu-buru dalam menerima fitnah serta bertindak segera tanpa usul selidik terlebih dahulu.
5. Tidak gemar memandang perempuan yang lain.
6. Tidak gemar bergaul dengan perempuan yang lain.
7. Tidak minum arak, main judi, dan tidak suka membuang masa dengan kerja sia-sia.
8. Jujur dan senantiasa menepati janji terhadap anak-isteri.
9. Senantiasa menjaga kebersihan diri lahir dan batin.
10. Cemburu dalam hal yang mendatangkan maksiat terhadap dirinya, anaknya dan isterinya.
KEWAJIBAN ISTERI
Allah berfirman dalam Kitab suci Al Quran :
“ Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka ( laki-laki ) atas sebagian yang lain ( wanita ) , dan karena mereka telah menafkahkan harta mereka , sebab itu maka seorang wanita yang shaleh ialah wanita yang taat kepada Allah, lagi dapat memelihara diri di balik kehadiran suaminya, oleh karena Alah telah memelihara mereka. Wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka “ ( QS. AnNisa : 34 )
Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata :
“ Sejelek-jelek sifat kaum lelaki adalah sebaik-baik sifat bagi wanita, yaitu sifat kikir dan bersikap keras dan takut. Karena jika perempuan itu kikir, maka ia akan memelihara harta suaminya, dan jika dia bersikap keras, maka dia akan menjaga dirinya dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang mesra yang dapat menimbulkan persangkaan yang jelek. Jika dia bersikap penakut, maka dia takut dari segala sesuatu yang akan terjadi, maka dia tidak berani keluar dari rumahnya dan akan menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan karena takut kepada suaminya…
Ali juga melanjutkan bahwa ada beberapa kewajiban isteri terhadap suami :
1. Senantiasa malu terhadap suaminya.
2. Menundukkan penglihatannya di hadapan suaminya.
3. Mentaati perintah suaminya.
4. Dia ketika suami sedang berbicara
5. Berdiri ketika suaminya datang dan pergi dari rumah.
6. Menyerahkan dirinya kepada suaminya dikala hendak tidur.
7. Memakai wangi-wangian.
8. Memelihara mulutnya agar tetap wangi
9. Senantiasa berhias di depan suami
10. Tidak berhias jika suami tidak ada
11. Tidak berkhianat kepada suaminya ketika tidak ada di dalam tempat tidurnya dan di dalam hartanya.
12. Menghormati keluarga suami dan kerabatnya
13. Merasa puas jika diberi sedikit oleh suaminya
14. Tidak mencegah dirinya jika diajak suami untuk berhubungan walaupun ketika berada di punggung unta.
15. Tidak menjalankan puasa sunat kecuali dengan izin suami.
16. Tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin daripada suami. ( uqudullujain, 12 ).
Aisyah berkata ; “ Wahai kaum wanita..! Seandainya kamu mengerti kewajibanmu terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan mengusap debu dari kedua tellapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya “. ( Kitab Uqudullujain, 13 ).
Rasulullah saw bersabda :
“ Empat macam perempuan yang akan berada di surga dan empat macam perempuan berada di neraka. Empat macam perempuan yang berada di surga yaitu :
1. Perempuan yang menjaga dirinya dari berbuat haram lagi berbakti kepada allah dan suaminya.
2. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati dengan keadaan yang serba kekurangan ( dalam kehidupan ) bersama suaminya.
3. Perempuan yang bersifat pemalu, dan jika suaminya pergi, maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya. Jika suaminya datang, amka dia menjaga mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
4. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan dia mempunyai anak-anak yang masih kecil, lalu dia menjaga dirinya hanya untuk mengurusi anak-anaknya dan mendidik mereka serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia kawin karena khawatir jika kawin akan membuat anaknya terlantar.
Rasululah melanjutkan bahwa empat perempuan penghuni neraka yaitu :
1. Perempuan yang mulutnya kotor terhadap suaminya. Jika suaminya pergi, maka dia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya datang dia memarahinya.
2. Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberikan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh suaminya.
3. Perempuan yang tidak menutupi dirinya dari kaum lelaki dan keluar dari rumahnya dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya ( untuk menarik perhatian kaum lelaki ).
4. Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minum, tidur dan dia tidak berbakti kepada Allah dan juga tidak senang untuk berbakti kepada rasul dan juga tidak mau berbakti kepada suaminya.
Perempuan yang bersifat dengan sifat yang empat ini , maka dia akan menjadi penghuni neraka kecuali jika dia benar-benar bertaubat. ( Uqudullujain, 16,17).
Ali bin Abi Thalib berkata : Aku masuk rumah rasulullah bersama fatimah. Kami melihat Rasul sedang menangis, kemudian aku berkata : Demi ayah dan ibuku.!.Apakah yang membuatmu menangis ya rasulullah..! Nabi menjawab : Wahai Ali, pada malam aku diangkat ke langit ( isra mi’raj ) aku melihat perempuan dari umatku disiksa di neraka dengan bermacam-macam siksa, maka aku menagis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat.
Aku melihat perempuan yang digantungkan dengan rambutnya serta otaknya mendidih. Aku juga melihat perempuan yang digantungkan dengan lidahnya sedang air panas yang dituangkan pada tenggorokannya dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua kakinya sampai kedua buahdadanya dan diikat kedua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengerahkan ular dan kalajengking untuk menyengatnya. Aku melihat perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai yang sednag ditimpa dengan sejuta siksaan. Aku melihat perempuan berbentuk anjing dan api itu masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya dan malaikat memukul kepalanya dengan palu yang besar dari api neraka. Mendengar itu Fatimah berdiri dan berkata : “ Wahai kekasihku dan buah hatiku..perbuatan apakah yang dilakukan mereka sehingga mereka mendapat siksaan yang begitu berat “
Rasulullah saw menjawab : “ Wahai anakku..adapun perempuan yang digantung dengan rambutnya karena dia tidak menutup rambutnya daripada pandangan kaum lelaki yang lain.
Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia selalu menyakiti suaminya.
Adapun perempuan yang digantung dengan kedua payudaranya karena dia telah mempersilahkan orang lain untuk datang ke tempat tidur suaminya.
Adapun perempuan yang diikat kedua kakinya sampai kedua payudaranya dan diikat kedua angannya sampai ke ubun-ubunnya dan Allah mengerahkan ular serta kalajengking untuk menyengatinya adalah perempuan yang tidak mandi dari janabat dan haidh serta meningalkan shalat.
Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai adalah karena dia tukang mengadu domba dan pembohong.
Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya keluar dari duburnya karena dia adalah tukang hasud dan mengungkapkan aib orang lain.
Wahai anakku..celakalah bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya. ( Uqudullujain, 21 ).
ADAB SUAMI - ISTERI
Ibrahim bin Adham bercerita bahwa Abu darda’ berkata kepada isterinya : “ Apabila aku marah maka hendaklah engkau merelakannya ( diam ), dan apabila engkau marah maka aku akan merelakannya ( diam ) juga. Maka hendaknya kita tidak melakukan sesuatu yang dapt membuat kita bertengkar “.( Kitab adabunnisa , 161 ).
Rasulullah berwasiat : “ Takutlah kamu kepada Allah dalam menghadapi dua orang yang lemah, yaitu wanita dan hamba sahaya “ ( Adabunnisa, 255 ).
Pada suatu hari Rasulullah bersabda ; “ Janganlah kamu memukul isterimu “. Para sahabat mematuhi perintah tersebut dan tidak memukul isteri mereka. Tak lama kemudian datanglah Umar bin Khattab berkata kepada rasul : “ Ya Rasulullah..banyak isteri-isteri yang tidak taat kepada suami mereka “. Mendengar pengaduan itu, maka rasul mengizinkan suami untuk memukul isterinya. Tak lama kemudian, datanglah isteri sahabat kepada keluarga Rasul mengadukan perlakuan suami mereka sehingga Rasul berkata : “ telah datang kepada keluargaku tujuh puluh perempuan yang mengadukan suami-suami mereka. Para suami yang demikian itu bukanlah orang yang baik diantara kamu “. ( Adabunnisa , 248 )
Rasul membolehkan suami untuk memukul isteri kemudian beliau bersabda ; “ Pukullah mereka, dan suami yang baik tidak akan memukul mereka “. ( Adabunnisa, 248 ).
Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya aku sangat membenci jika melihat lelaki yang garang dan marah lalu memukul isterinya “. ( Adabunnisa , 255 ).
“ Barangsiapa yang sabar atas kejelekan sikap isterinya maka baginya dalam setiap hari mendapat pahala orang yang mati syahid “ ( Adabunnisa , 253 ).
“ Jika seorang isteri memaki suaminya maka Allah akan membukakan baginya tujuh puluh pintu kutukan dan Allah marah kepadanya, juga para malaikat yang ada di bumi dan di atas langit, semuanya akan mengutuk kepadanya “. ( Adabunisa , 288 ).
Jika ada seorang isteri yang berkata kepada suaminya : “ Demi Allah, aku tidak melihat sedikitkun kebaikan ada pada dirimu “, maka Allah akan mengharamkan baginya segala kenikmatan surga dan dituliskan baginya dosa bagaikan pasir banyaknya dan dalam setiap hari dan malam akan datang kepadanya seribu kali kutukan “. ( Adabunnisa, 288 ).
“ Jika seorang isteri menolak ajakan suaminya untuk tidur bersama, maka semua Allah akan menghancurkan segala amalannya selama tujuh puluh tahun “ ( Adabunisa, 288 ).
“ Jika seorang isteri berkata kepada suaminya dengan penuh penghinaan : “ Engkau makan dari hartaku dan berpakaian dari uang pemberian dariku “ , maka Allah akan marah kepadanya selama delapan puluh hari, walaupun si isteri itu mempunyai harta sebanyak harta qarun dan harta itu dikeluarkan untuk bersedekah di jalan Allah, maka sedekahnya itu tidak akan diterima “.( Adabunnisa, 289 ).
“ Jika seorang isteri menghina suaminya yang ada disampingnya maka binasalah shalatnya selama tujuh puluh tahun, dan jika isteri tidak bersyukur dengan suaminya maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat “ ( Adabunnisa, 257 ).
“ Jika seorang isteri bermuka masam kepada suaminya, maka ia berada dalam kemurkaan Allah sehingga ia dapat membuat suasana yang riang gembira kepada suaminya dan mohon kerelaannya “ ( Uqudullujain, 13 ).
“ Jika seorang isteri meminta cerai dari suaminya tanpa ada sesuatu sebab , maka Allah mengharamkan wangi surga kepadanya “ ( Uqudullujain , 14 ).
“ Sesungguhnya jika seorang suami melihat kepada isterinya dan isterinya juga memandang kepadanya, maka Allah telah melihat kepada mereka berdua dengan pandangan rahmat. Dan jika seorang lelaki memegang telapak tangan isterinya maka gugurlah dosa mereka berdua dari sela-sela jari tangan keduanya” ( Uqudullujain, 29 ).
Rasululah bersabda : ‘ Aku pernah melihat di dalam surga lalu aku melihat yang terbanyak ahli syurga ialah orang faqir dan aku juga melihat neraka dan melihat yang terbanyak daripada ahli neraka adalah perempuan-perempuan. Demikian itu karena kurang baktinya kepada allah dan kepada suaminya serta kebanyakan mereka menghias diri ( dengan berlebih-lebihan ) jika hendak keluar dari rumahnya “. ( uqudullujjain, 25).
TANDA ISTERI YANG BAIK
Dalam Kitab Uqudullujain disebutkan bahwa tanda perempuan yang baik muruahnya adalah :
1. Baik perangainya tehadap suaminya, anak-anaknya, ibubapanya, rakan-rakannya, jiran-jirannya dan masyarakat lainnya, iaitu :
- Dengan suami bersopan santun dalam segala percakapan dan tindakan.
- Dengan anak-anak bercakap dengan bahasa yang baik, dan tidak suka memaki atau berbahasa kesat.
- Dengan ibubapa bersopan santun dan beradab.
- Dengan rakan-rakan, jiran dan masyarakat tidak suka bertengkar dan memfitnah.
2. Dapat menjaga mulut dan tidak gemar mengadu-adukan hal keburukan suami kepada ibubapa, rakan-rakan dan jiran-jiran.
3. Banyak bersabar di dalam menempuh segala kesusahan ujian Allah, dan dalam menjalankan perintah-Nya.
4. Tidak berhias ketika keluar rumah karena kecantikan isteri hanyalah untuk suaminya sahaja dan bukan untuk orang lain.
5. Tidak cepat berkeluh kesah dalam menempuh kehidupan, tidak bersyukur dan tidak sabar.
6. Tidak memaksa suami untuk memenuhi keinginannya.
7. Merelakan dengan apa-apa pemberian suami .
8. Tidak gemar banyak cakap, tetapi cakap seperlu sahaja.
9. Patuh kepada suami samada dalam keadaan susah atau senang kecuali pada hal yang dilarang oleh agama.
10. Menjadi penorong serta penasehat suami dalam hal-hal kebajikan.
11. Memahami hal yang tidak digemari dan dibenci oleh suami.
12. Selalu melakukan perbuatan yang menyenangkan hati suami.
13. Senantiasa mendoakan keselamatan suami dalam setiap waktu terutama selepas shalat.
14. Senantiasa menambah ilmu agama serta amalan-amalan dengan gemar membaca, mendengar kaset-kaset, syarahan agama, dan pengajian.
15. Senantiasa menjaga diri dan rumah tangga.
DOA UNTUK KELUARGA
“ Ya Tuhan , berikanlah kepadaku keturunan yang baik “
( QS. Ali Imran/3 : 38 ).
“ Ya Tuhan kami berikanlah kepada kami isteri-isteri dan anak-anak yang dapat menyenangkan hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin diantara orang-orang yang bertaqwa “ ( QS.Al Furqan /25: 74 ).
“ Ya Tuhan, jadikanlah aku dan anak-anak keturunanku diantara orang-orang yang tetap mendirikan shalat “
( QS. Ibrahim/14 : 40 ).
“ Ya Tuhan, berikanlah kepadaku kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan juga kepada kedua orangtua, sehingga aku dapat beramal shaleh yang Engkau ridhai. Dan perbaikilah keturunanku..Sesunguhnya aku bertobat kepadamu Tuhan kami, dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri “ ( QS. Al Ahqaf /46 : 15 ).
“ Ya Tuhan kami jadikanlah kami orang yang menyerahkan diri ( ber-islam ) kepadamu dan jadikanlah keturunan kami juga termasuk orang yang ber-islam kepadamu “ ( QS. Al Baqarah /2 : 128 ).
@
Allah berfirman : “ Allah telah menjadikan bagi manusia kecintaan terhadap wanita, anak-anak , harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dan disisi Allah terdapat surga tempat kembali yang lebih baik “ ( QS. Ali Imran : 14 ).
Sudah menjadi ketetapan dalam kehidupan ( natural law / sunnatullah ) bahwa segala sesuatu diciptakan dengan berpasang-pasangan. Hari diciptakan dalam siang dan malam, aksi dan reaksi, positip dan negatip, jantan dan betina, guru dan murid, bumi dan langit, dan manusia juga diciptakan dalam dua bentuk, lelaki dan wanita. Oleh karena itu lelaki dan wanita adalah bagian dari manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam menjalani kehidupan. Dalam bahasa kiasan dapat digambarkan bahwa lelaki dan wanita di tengah kehidupan laksana dua sayap burung yang sedang terbang, jika kedua sayap tersebut sama kuat dan seimbang, maka burung itu dapat terbang mencapai puncak yang tertinggi, tetapi jika salah satu sayap burung itu patah atau lemah, dan tidak seimbang, maka burung tersebut tidak dapat terbang dengan sempurna, atau tidak dapat terbang sama sekali.
Untuk terciptanya hubungan antara lelaki dan perempuan tersebut, maka dalam diri manusia diperlukan perasaan yang dapat menghubungkan antara sesama manusia. Hubungan itulah yang diciptakan Tuhan melalui cinta dan kasih sayang. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa perasaan cinta dan kasih sayang adalah rahmat dari Allah dan merupakan fitrah suci yang diletakkan dalam hati manusia demi terwujudnya kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat kelak.
“ Wahai manusia , Kami ( Allah ) jadikan kamu terdiri dari lelaki dan perempuan , berbangsa dan berpuak, agar kamu saling mengenal antar sesama. Sesungguhnya mereka yang paling bertaqwa itulah yang akan mendapat kedudukan yang paling mulia di sisi Allah “ ( QS. 49 : 13 ).
“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Tuhan adalah Dia menciptakan bagimu isteri-isteri dari jenismu sendiri ( jenis manusia ) agar kamu mendapatkan ketentraman dan kedamaian. Untuk itu Dia memberikan rasa kasih sayang di dalam hatimu, sesungguhnya hal itu merupakan tanda-tanda bagi orang yang berpikir “. ( QS. 30 : 21 ).
Cinta juga mempunyai ruang kajian yang sangat luas, tidak hanya terbatas padahubungan kasih sayang antara lelaki dan wanita, tetapi juga menyangkut hubungan antara seseorang dengan yang lain, hubungan anak dengan orangtua, hubungan negara dengan negara, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan Tuhan, ataupun hubungan manusia dengan makhluk lain seperti dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Setiap insan diciptakan mempunyai rasa cinta dan juga hasrat seksual. Berarti cinta dan keinginan seksual adalah fitrah suci yang diberikan oleh Tuhan dalam diri manusia. Fitrah cinta dan seksual yang suci tersebut dapat bernilai suci jika diletakkan dan disalurkan dalam aturan yang telah digariskan oleh Pemilik kehidupan Yang Maha Suci, sehingga rasa cinta , kasih sayang dan hasrat seksual sesama manusia tersebut dapat menjadi bagian dari kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Suci.
Jika manusia dapat menyalurkan cinta dan kasih sayang serta melakukan hubungan seksual tersebut berlandaskan pada cinta yang suci menuju pada ridha Ilahi, maka dia akan mendapat kenikmatan tertingi serta kebahagiaan hidup baik dalam masa yang singkat di dunia ini maupun kehidupan masa mendatang di alam akhirat.
Cinta , kasih sayang dan hubungan seksual tersebut akan mencapai kedudukan tertinggi jika dilakukan dengan cara-cara terhormat berdasarkan petunjuk pemilik kehidupan, Allah swt . Tetapi jika seandainya rahmat cinta yang suci yang diberikan oleh Tuhan tersebut dipergunakan dan disalurkan melalui cara-cara yang tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan, maka berarti manusia tersebut telah mencampakkan dirinya ke dalam jurang kenistaan karena dia akan mendapat murka dari Tuhan, si pemilik cinta itu sendiri, Rabbul ‘alamin.
Cinta , kasih sayang dan hubungan seksual yang sah tersebut hanya dapat disatukan antara lelaki dan perempuan dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah sebagaimana yang telah diatur oleh Tuhan, si pemberi cinta itu sendiri, sehingga dengan pernikahan tersebut dapat memberikan manfaat ketenangan dan kebahagian baik bagi diri individu maupun masyarakat .
Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa pernikahan adalah legalisasi hubungan cinta, kasih sayang dan hubungan seksual demi mendapatan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, sedangkan cinta, kasihsayang dan hubungan seksual di luar pernikahan merupakan penghinaan atas kesucian cinta itu sendiri dan merupakan pelanggaran atas peraturan yang telah digariskan dalam hubungan seksual antar lelaki dan perempuan yang akan mengakibatkan kesengsaraan bagi individu, dan masyarakat.
Cinta , kasih sayang dan keinginan seksual dalam diri manusia adalah fitrah dan kodrat manusia yang suci. Fitrah ini merupakan keperluan asasi bagi kehidupan manusia dan tidak dapat dipisahkan dari naluri dan jiwa manusia itu sendiri. Maka jika seseorang ingin menikmati cinta, kasih sayang dan keinginan seksual yang sejati dan abadi , maka dia harus meletakkan cinta , kasih sayang, dan hubungan seksual tersebut dalam kedudukan yang mulia dan terhormat, dengan cara-cara yang mulia sesuai dengan aturan pernikahan yang telah diatur oleh Yang Maha Mulia, sehingga dengan itu dia akan mendapatkan kebahagiaan hidup yang abadi baik sejak di dunia sampai di akhirat nanti.
NIKAH SEBAGAI IBADAH
1. Nikah : Sunnah Rasulullah.
Tiga orang sahabat datang ke rumah isteri Nabi ingin menanyakan bagaimanakah ibadah Nabi selama ini.? Setelah mendengar keterangan tentang bagaimana nabi beribadah, mereka berkata : “ Bagaimanakah ibadah kita jika dibandingkan dengan ibadah Nabi, sedangkan beliau itu telah mendapat ampunan Allah atas dosa-dosa yang telah lalu dan juga yang akan datang “.. Salah seorang dari mereka berkata : “ Saya akan melakukan shalat di tengah malam secara terus menerus “. Seorang lagi berkata: “ Saya akan berpuasa setiap hari tanpa berbuka “. Seorang yang lain berkata : “ Sedangkan saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan berniat untuk tidak akan menikah selama-lamanya “.
Tak lama kemudian, rasulullah saw datang dan berkata : "“Apakah kamu kelompok yang berkata seperti ini..? Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah, dan orang yang paling taqwa. Aku berpuasa dan juga berbuka. Aku tidur dan aku juga menikahi perempuan-perempuan. Maka barangsiapa yang tidak senang dengan sunnahku ( tradisiku itu ), maka dia itu tidaklah termasuk dari golonganku “. ( hadis riwayat Bukhari ).
Pada suatu hari datanglah seorang sahabat bernama Akkaf bin Basyar al Tamimy menghadap nabi Muhammad saw. Rasul bertanya kepadanya : Wahai Akkaf , apakah engkau mempunyai seorang isteri ? Tidak….ya Rasulullah. Rasul bertanya lagi : Apakah engkau mempunyai hamba sahaya perempuan ? Tidak, jawab Akkaf. Rasul bertanya lagi : Adakah hidupmu penuh dengan kelapangan dan kemudahan..? Ya, jawab sahabat tersebut. Kemudian rasul melanjutkan : Jika demikian, maka engkau adalah kawan syetan. Jika seandainya engkau dalam agama nasrani, maka engkau termasuk dalam kelompok paderi mereka. Sesungguhnya sunnah kami adalah nikah. Orang yang jahat diantara kamu adalah mereka yang hidup membujang dan mati yang paling hina adalah mati dalam keadaan membujang……Setelah mendengar ucapan tersebut Akkaf berkata : Ya Rasulullah, aku tidak akan menikah kecuali jika engkau menikahkan aku dengan seseorang yang engkau sukai. Rasul menjawab : “ Aku nikahkan engkau dengan Karimah binti kalsum al Humairy. ( hadis riwayat Thabrani ). Itulah sebabnya maka ada salah seorang diantara sahabat rasul yang bernama Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa : ‘ Jika seandainya ajalku akan tiba, dan aku tahu bahwa umurku masih ada sepuluh malam lagi, maka aku aku akan menikah karena aku tidak ingin jika aku meninggal tanpa ada isteri disampingku “ ( Majmu al zawaid/251).
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah saw mengutuk orang lelaki yang menyerupai perempuan, dan orang perempuan yang menyerupai lelaki, dan lelaki yang berkata bahwa aku tidak akan menikah dan perempuan yang berkata bahwa aku tidak akan menikah. ( hadis riwayat Ahmad ). Dalam hadis lain juga disebutkan bahwa : Barangsiapa yang mempunyai kemudahan tetapi dia tidak menikah maka dia tidaklah termasuk dalam golonganku “ ( hadis riwayat Thabrani ).
Rasulullah pada suatu hari juga bersabda : “ Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu yang telah mampu, maka hendaklah menikah, agar kamu dapat menundukkan pandangan matamu ( dari wanita lain ) dan juga menyelamatkan kemaluanmu ( dari perbuatan zina ). Barangsiapa yang tidak mampu untuk melakukan perkawinan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menahan dirimu dari perbuatan maksiat “ ( Hadis riwayat Bukahri dan Muslim ). Rasulullah bersabda : “ Jika seorang hamba telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan sebagian dari imannya , maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah untuk menyempurnakan sebagian yang lain “ ( hadis riwayat Baihaqi ). Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa nikah itu adalah sunnah rasulullah, dan mengikuti sunah merupakan ibadah.
2. Niat nikah
Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa yang menikahi perempuan karena kemulian perempuan tersebut, maka Allah akan menjadikan dia hina. Barangsiapa yang menikahi perempuan karena harta bendanya, maka dia akan menjadi faqir. Barangsiapa yang menikahi perempuan karena keturunannya , maka dia akan menjadi rendah, tetapi siapa yang menikahi perempuan karena ingin memelihara pandangannya dan kemaluannya atau karena ingin menghubungkan silaturahmi maka Allah akan memberkati keduanya “ ( hadis riwayat Thabrani dari Anas )
Rasulullah juga bersabda : “ Janganlah kamu menikahi perempuan hanya disebabkan oleh kecantikannya saja karena kecantikan itu akan berkurang. Janganlah kamu menikahi perempuan karena harta kekayaannya saja karena harta kekayaan itu akan habis, tetapi nikahilah perempuan itu disebabkan oleh agamanya, dan perempuan hitam yang berpegang teguh pada agama itu lebih baik bagimu“. ( hadis riwayat Ibnu Majah )
Dalam hadis lain rasulullah bersabda : “ wanita itu dinikahi disebabkan karena empat hal yaitu harta kekayaannya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka berpeganglah kamu pada agamanya, maka kamu akan beruntung “ ( hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ).
Dari hadis diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari pernikahan bukan untuk memiliki harta kekayaan, bukan juga karena kecantikan seseorang, juga bukan karena si gadis itu dari keturunan yang terhormat, tetapi untuk menyelamatkan iman dan agama, itulah sebabnya kita memilih seorang perempuan tersebut karena agamanya dan pelaksanaan ajaran agama yang dinyatakan dalam akhlak dan kepribadiannya.
3. Pahala hubungan suami isteri.
Rasulullah saw bersabda : “ Setiap anak adam harus mengeluarkan sedekah setiap hari selama matahari terbit.” Sahabat bertanya : ‘ Bagaimanakah caranya ya rasulullah.? Dan darimana kami mendapat harta sehingga kami dapat bersedekah setiap hari..? rasul menjawab : Sesungguhnya pintu pintu kebaikan itu banyak : membaca tasbih ( subhanalah ), membaca tahmid ( alhamdulillah ), membaca tahlil ( la ilaaha illallah ), amar makruf dan mencegah kemungkaran, membuang duri dari tengah jalan, menolong orang yang pekak untuk mendengarkan sesuatu, menuntun orang yang buta, memberi petunjuk kepada orang yang sesat di jalan, menolong orang yang sedang kesusahan, menolong orang miskin yang lemah, itu semuanya adalah sedekah. Dan kamu berhubungan dengan isterimu itu juga akan mendapat pahala “. Sahabat bertanya : “ Apakah dalam syahwat tersebut ada pahala ? “ Rasul menjawab : Ya..apakah kamu tidak melihat bahwa jika kamu mempunyai anak kemudian kamu besarkan dan nikahkan dan dia meninggal, apakah perbuatanmu itu tidak akan dihitung “ ? Sahabat menjawab : Ya pasti dihitung.Rasul kemudian berkata : “ Apakah kamu yang menjadikannya ? “ sahabat menjawab : “ Tidak, tetapi Allah yang menjadikannya “. Rasul bertanya lagi : “ Apakah kamu yang memberikan petunjuk kepadanya “ . Sahabat menjawab : Tidak, tetapi Allah yang memberinya petunjuk. Rasul bertanya lagi : “ Apakah kamu yang memberi rezeki kepadanya ? Sahabat menjawab ; ‘ Tidak, tetapi Allah yang memberikan rezeki kepadanya. Rasul berkata ; “ Maka letakkanlah kemaluanmu pada tempat yang halal dan jauhkanlah dia dari tempat yang haram dan letakkan air mani itu pada tempatnya, maka jika Allah menghendakinya hidup maka dia akan hidup, dan jika Allah menghendakinya mati, maka dia mati, tetapi engkau telah mendapat pahala dari perbuatanmu itu “.( Kitab Adaabunnisa, 175 ).
Atha bin Abi Rabbah berkata bahwa pada suatu hari rasulullah bertanya kepada seorang sahabat : “ Apakah kamu berpuasa pada hari ini.? Sahabat itu menjawab : Tidak…kemudian Rasul bertanya lagi : Apakah kamu telah bersedekah pada hari ini? Sahabat itu menjawab : Belum ya Rasulullah. Rasul kemudian bersabda : “ Jumpailah isterimu dan bergaullah kamu dengannya karena itu juga merupakan sedekah bagimu “ ( Kitab Adabunnisa, 173 ).
Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa rasulullah saw telah bersabda : Setiap hari, seorang muslim hendaklah bersedekah..Sahabat bertanya : “ Siapakah yang mampu melakukan hal tersebut ya Rasulullah ? Nabi Muhammad saw menjawab : Engkau memberi salam kepada seorang muslim itu adalah sedekah. Engkau mengunjungi orang yang sakit juga sedekah. Engkau ikut menyembahyangkan mayit juga sedekah. Membuang duri dari jalan juga sedekah. Menolong orang yang susah juga sedekah. Dan engkau berhubungan dengan isterimu itu juga merupakan sedekah. “ ( Kitab Adaabun Nisa , 174 ).
Aisyah berkata : “ Jika seorang lelaki bermain-main dengan isterinya maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan dan menghapuskan baginya sepuluh kejahatan dan mengangkat baginya sepuluh tingkatan di dalam surga. Jika dia mencium isterinya dan memeluk lehernya maka Allah akan menuliskan baginya seratus dua puluh kebaikan. Jika dia berhubungan dengan isterinya dan dia mandi maka sewaktu air itu mengalir ke atas rambutnya, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan darinya sepuluh kejahatan, dan mengangkat baginya sepuluh derajat dan Allah akan memberikan kepadanya kelebihan di dunia, sehingga Allah berkata kepada malaikat : “ Lihatlah kepada hambaku, dia mandi di malam hari yang dingin karena mengharapkan kerelaanku dan membenarkan janjiku. Saksikanlah bahwa aku telah memberikan ampunan kepadanya “.( Kitab Adaabunnisa , 172 ).
Diceritakan oleh Said bin Musayib bahwa Rasulullah saw telah bersabda : “ Apabila seorang lelaki ingin mendatangi isterinya dan bermain-main dengannya, maka Allah menuliskan baginya dua puluh kebaikan , menghapuskan darinya dua puluh kejahatan. Apabila dia memegang tangan isterinya maka Allah menuliskan baginya empat puluh kebaikan, menghapuskan baginya empat puluh kejahatan. Apabila dia mencium isterinya, maka Allah menuliskan baginya enam puluh kebaikan, menghapuskan darinya enam puluh kejahatan. Apabila dia melakukan hubungan sebadan dengan isterinya, maka Allah menuliskan baginya seratus dua puluh kebaikan, menghapuskan darinya seratus duapuluh kejahatan. Apabila dia mandi maka Allah memanggi malaikat dan berkata : Lihatlah hambaku ini sedang mandi di malam yang dingin karena takut kepada-Ku dan karena meyakini bahwa Aku adalah Tuhan-nya. Saksikanlah bahwa Aku telah memberikan ampunan kepadanya. Maka Allah akan menuliskan baginya kebaikan bagi setiap butir air yang mengalir di atas rambutnya. ( kitab Adaabunnisa , 172 ).
4. Pahala memberi nafkah kepada keluarga
Rasulullah saw bersabda : “ Satu dinar yang diberikan untuk perang di jalan Allah, dan dinar yang diberikan untuk membebaskan budak, dan dinar yang disedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang dikeluarkan untuk membeli keperluan anak dan isteri. Maka dinar yang paling besar pahalanya adalah dinar yang diberikan untuk keperluan keluarga. ( hadis riwayat Muslim ).
Tsauban , pembantu rasulullah saw berkata : Sebaik-baik dinar adalah dinar yang diberikan seorang lelaki kepada keluarganya, kemudian dinar yang dikeluarkan untuk membeli kenderan berperang di jalan Allah, kemudian dinar yang diberikan kepada orang yang berperang di jalan Allah. ( riwayat Muslim dan Tirmidzi ).
Saad bin Abi Waqqas berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda : “ Sesungguhnya jika engkau memberikan infaq mengharapkan pahala dari Allah, maka engkau tidak akan diberi pahala sebelum engkau memberikan sesuatu untuk memberi makan kepada isterimu “ ( Riwayat Bukhari dan muslim ).
Ibnu Mas’ud al badri berkata bahwa rasulullah saw telah bersabda : “ Apabila seseorang lelaki mengeluarkan uangnya untuk keperluan anak isterinya, dan dia melakukan itu hanya dengan niat mengharapkan mencari kerelaan Allah, maka pemberiannya itu termasuk dalam pahala sedekah “ ( hadis riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasai ).
Rasulullah saw juga bersbda : “ Apa saja yang engkau belanjakan untuk makanan dirimu itu menjadi sedekah. Apa saja yang engkau belanjakan untuk memberi makan anakmu itu juga menjadi sedekah. Apa saja yang engkau belanjakan untuk makan isterimu, itu juga sedekah. Apa saja yang engkau belanjakan untuk memberi makan pembantumu, itu juga merupakan sedekah. ( Riwayat Ahmad ).
Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa rasulullah saw telah bersabda ; Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah, maka mulakanlah dengan orang yang ada di bawah tangunganmu yaitu : ibumu, dan ayahmu, dan saudara perempuanmu, dan saudara laki-lakimu, dan selanjutnya dan selanjutnya “ ( riwayat thabrani ).
Abi Amamah menceritakan bahwasanya rasululah saw telah bersabda : “ Barangsiapa yang membelanjakan uangnya untuk keperluan dirinya demi menjaga kehormatan dirinya maka itu adalah sedekah, dan barangsiapa yang membelanjakan hartanya untuk memenuhi keperluan anak dan isterinya dan sanak keluarganya , maka itu juga sedekah “. ( hadis riwayat Thabrani ).
Dari Abu Hurairah menceritakan bahwa pada suatu hari rasulullah saw berkata kepada para sahabat : Bersedekahlah kamu..!. Salah seorang sahabat berkata : Ya rasulullah, aku mempunyai uang, kepada siapakah akan aku sedekahkan? Rasul menjawab : “ Belanjakan uang itu untuk keperluan dirimu sendiri “. Sahabat berkata: “Uangku masih ada lagi.” Rasul berkata : “ Belanjakan uang itu untuk keperluan isterimu “.
Sahabat itu berkata lagi : “ uangku masih ada lagi ‘. Rasul menjawab ; ‘ Belanjakan untuk keperluan anakmu “. Sahabat berkata lagi : “ Jika uangku masih ada lebihnya lagi “. rasul menjawab : “ Belanjakan untuk keperluan pembantumu “. Sahabat berkata ; Jika uang itu masih ada lebih lagi “. rasul berkata ; “ Keluarkanlah uang itu untuk keperluan yang engkau lebih mengetahui kemana yang lebih baik “. ( riwayat Ibnu Hibban ).
Pada suatu hari seorang lelaki berlalu di depan Rasul dan para sahabat melihat bahwa orang itu amat gagah dan bersemangat. Para sahabat memberi komentar : “ Wahai rasulullah, alangkah baiknya jika orang ini ikut berperang di jalan Allah “. mendengar ucapan tersebut, rasulullah saw bersabda : “ Jika orang itu keluar dari rumahnya untuk bekerja demi memenuhi keperluan hidup anak-anaknya yang masih kecil, maka dia telah berada di jalan Allah. Jika dia keluar bekerja untuk memenuhi keperluan hidup kedua orangtuanya yang telah tua maka dia juga berada di jalan Allah. Jika dia keluar rumah bekerja untuk memenuhi keprluan hidupnya sendiri, maka dia juga berada di jalan Allah. Tetapi jika dia bekerja untuk menampakkan kehebatan dirinya dengan penuh riya dan sombong, maka dia telah berada di dalam jalan syetan. ( Riwayat thabrani ).
Jabir berkata bahwa rasulullah saw bersabda : “ Apa saja yang dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, anaknya, keluarganya, dan saudaranya serta kerabatnya, maka itu semua menjadi sedekah baginya “ ( riwayat Thabrani ).
Jabir juga bercerita bahwa rasulullah saw bersabda : “ Setiap kebaikan itu mendapat pahala sedekah. Apa saja yang dikeluarkan oleh seseorang untuk keperluan anak-isterinya itu semua menjadi sedekah. Apa saja yang dikeluarkan untuk menjaga kehormatan dirinya juga menjadi sedekah. Apa saja yang diberikan kepada orang mukmin yang lain, juga sedekah, dan Allah akan mengganti pemberiannya itu. Allah akan menjadi penjamin kepadanya kecuali jika uang itu dikeluarkan untuk membina bangunan atau untuk suatu maksiat. ( riwayat daruqutni dan hakim ).
Rasulullah saw juga bersabda : “ Pertama kali yang akan diletakkan dalam timbangan seorang hamba adalah pemberiannya kepada keluarganya “ ( riwayat Thabrani ). Dalam hadis lain juga disebutkan bahwa rasulullah saw bersabda : ‘ Jika seorang lelaki memberikan minuman kepada isterinya maka orang itu akan diberi pahala”. Mendengar hadis tersebut, maka Irtbadh bin Sariyah segera pulang ke rumahnya mendatangi isterinya dan memberikan minuman kepada isterinya dan menceritakan apa yang didengarnya dari Nabi. ( riwayat Ahmad dan Thabrani ).
Rasulullah bersabda : Adalah suatu dosa jika seseorang lelaki tidak memperdulikan anak isterinya yang harus diberi makan olehnya “ ( riwayat Abu Daud, Nasai, dan Hakim ). Dalam hadis lain Rasulullah juga bersabda : “ Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin atas kepemimpinannya apakah dia telah melaksanakan kewajibannya dengan baik atau telah melalaikannya sehingga Dia akan bertanya kepada setiap lelaki tentang tanggungjawabnya kepada anak-isteri yang berada di bawah tanggungannya “. ( riwayat Ibnu Hibban ). “ Jika seseorang itu mendidik anaknya maka itu lebih baik daripada dia bersedekah “ ( Riwayat Tirmidzi ).
PAHALA SEORANG ISTERI
Rasulullah saw bersabda : Apablia seorang isteri telah melaksnakan shalat lima waktu, dan berpuasa di bulan ramadhan, dan memelihara kemaluannya dan patuh kepada suaminya, maka nanti di hari akhirat dia akan dipanggil dengan seruan : “ Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki “ ( Uqudullujain, 9 )
Nabi Muhammad saw juga bersabda: “ Burung-burng diudara, ikan-ikan di dalam air dan malaikat di langit semuanya akan memintakan ampunan bagi isteri yang patuh kepada suaminya dan selama dia dalam kerelaan suminya “.( Uqudullujain, 12 )
Pada suatu hari datanglah seorang perempuan menghadap nabi dan berkata:Ya Rasulullah..saya ini adalah utusan dari kelompok perempuan ingin menyatakan sesuatu kepadamu : Allah telah mewajibkan jihad kepada kaum lelaki. Jika mereka terluka maka mereka mendapat pahala, dan jika mereka terbunuh mereka akan syahid, hidup di sisi Allah dengan rezeki yang cukup. Kami ini kaum perempuan hanya melayani keperluan suami-suami kami, bagaimanakah kami agar dapat pahala seperti mereka itu ? Rasululah saw bersabda : Sampaikan kepada perempuan yang kamu jumpa bahwa kepatuhan seorang isteri kepada suaminya dan melaksanakan kewajibannya terhadap suami itu sama pahalanya dengan berjihad di jalan Allah. Tetapi sangat sedikit diantara kalian yang dapat menjalankannya “.(Uqudullujjain,10)
Ali bin Ja’far bin Muhammad berkata : “ Seorang isteri yang berkhidmat untuk suaminya dalam siang hari saja maka Allah telah mewajibkan baginya surga dan memberikan pahala dua belas wali Allah. Dan perempuan mana saja yang berkhidmat untuk suaminya siang dan malam, maka Allah akan memberi ampunan atas dosa-dosanya dan dia akan diberi pakaian kebesaran berwarna hijau dan dituliskan baginya pahala syahid bagi setiap rambut yang ada di tubuhnya dan dibuatkan baginya kota dari wangi-wangian sebanyak rambut yang ada di badannya dan dia tidak akan keluar daripada dunia kecuali dia akan melihat tempatnya di dalam surga “ ( Kitab Adaabun Nisa 291 ).
Dilanjutkan lagi : ‘ Seorang isteri yang melayani suaminya di siang hari , maka dia telah keluar dari dosanya sebagaimana dia keluar dari rahim ibunya dan Allah akan memberikan kepadanya pahala seribu kali haji dan seribu kali umrah dan malaikat akan memintakan ampunan baginya. Seorang isteri yang menyapu rumahnya dan menghamparkan kain/lkarpet untuk tempat duduk suaminya dengan mengharapkan kecintaan kepada Allah , maka Allah akan membukakan baginya pintu-pintu rahmat dan membersihkan kuburannya daripada ulat dan kalajengking dan Allah akan memasukkan ke dalam rumahnya tujuh puluh malaikat menolongnya dan akan mengunjungi kuburannya setiap hari dan dia akan mendapatkan seribu malaikat yang akan membawakan untuknya kenikmatan surga dan meluaskan kuburannya " ( Kitab Adaabunnisa . 291 ).
Abdul Malik bin habib dalam Kitab Adabunnisa menceritakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda : “ Seorang isteri yang tersenyum kepada suaminya dan bersyukur atas keadaan suaminya maka Allah akan memandang kepadanya nanti di hari kiamat. Seorang isteri yang dapat menyenangkan hati suaminya di malam hari maka dia akan keluar dari kuburannya bersama isteri-isteri nabi dan berjalan di atas shirat bersama mereka tanpa dihisab ( dihitung ) terlebih dahulu dan Allah akan memberikan kepadanya pahala dua belas wali Allah di dalam surga “.
Ditambahkan : “ Dan seorang isteri yang menyerahkan dirinya kepada suaminya dalam keadaan berhias, maka Allah akan mengharamkan dadanya daripada api neraka dan memberikan kepadanya pahala duaratus kali haji dan dituliskan baginya pahala duaratus ribu kebaikan dan diangkatkan darinya duaratus ribu derajat di surga “.
“ Dan jika seorang isteri yang mendatangi suaminya di atas tempat tidur maka datanglah malaikat yang akan memanggilnya dengan ucapan : “ Berbuatlah dengan penuh kebaikan..karena Allah telah memberikan ampunan atas dosa-dosamu yang terdahulu dan dosa yang kemudian, dan Allah telah menuliskan bagimu pahala orang yang memerdekakan seratus hamba dan menuliskan bagimu kebaikan sebanyak rambut yang ada di tubuhmu “.
“ Jika isteri mencium suaminya dengan penuh keharuman maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang membaca Al Quran sebanyak dua belas kali dan dituliskan Allah baginya dari setiap ayat lima puluh kebaikan dan dari setiap ciuman tersebut Allah akan bina untuknya satu kota di surga “.
“ Jika isteri mencium kepala suaminya dan menyisirkan rambutnya dan jenggotnya maka Allah akan menuliskan baginya kebaikan sebanyak rambut tersebut dan ditanamkan untuknya pohon kurma di dalam surga sebanyak jumlah rambut yang disisirkannya itu..”
“ Jika isteri memberikan minyak kepada rambut suaminya dan misainya maka Alah akan memberikan minuman kepadanya daripada air sungai di surga dan memudahkan baginya dalam menghadapi sakratul maut dan dituliskan baginya terhindar daripada api neraka dan dimudahkan baginya menelusuri titi di akhirat nanti (shirat) dan diberikan kepadanya pahala ibadah selama enam puluh tahun “.
“ Jika isteri memotong kuku suaminya maka dia akan mendapatkan kuurannya menjadi taman diantara taman-taman surga dan dibukakan Allah baginya pintu ke menuju surga dan dituliskan baginya seratus kebaikan dari setiap kuku yang dipotong dan diangkatkan baginya seratus derajat di dalam surga”.
“ Seorang siteri yang memberikan minuman kepada suaminya maka pahalanya sama dengan memerdekakan seorang hamba dan Allah akan memberikan minuman kepadanya nanti daripada air sungai al kautsar di surga sebanyak enampuluh kali sebelum dia memasuki surga dan Allah akan memberikan pakaian kepadanya daripada pakaian kebesaran di surga “.
“ Dan seorang isteri yang mempersiapkan hidangan makanan di hadapan suaminya maka Allah akan menuliskan baginya pahala ibadah selama satu tahun dan dituliskan baginya sepuluh kebaikan , dan diangkat sepuluh derajat dari setiap satu roti yang diberikan kepada suaminya, dan di atas kepalanya akan diletakkan mahkota yang bercahaya daripada batu permata “.
“ Seorang isteri yang membasuhkan pakaian suaminya maka Allah akan memberikan kepadanya pahala enam puluh syahid dan jika dia bangun dari tempat pembasuhan tersebut maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya “.
“ Seorang isteri yang masak di dalam periuk untuk mempersiapkan makanan bagi suaminya maka Allah akan mengharamkan baginya panas api neraka. Dan seorang isteri yang membuatkan sepotong roti untuk suaminya maka dia tidak akan merasakan panasnya hari kiamat dan dia akan berjalan di atas jembatan laksana kilat yang menyambar “.
“ Seorang isteri yang mendapat kerelaan dari suaminya, maka istri tersebut akan masuk ke dalam surga tanpa ada perhitungan terlebih dahulu. Dan jika seorang isteri tidur dalam keadaan suami yang rela kepadanya maka Allah akan memberikan kepadanya pahala sebagaimana pahala nabi Ayuub yang sabar atas segala cobaan “.
Ibnu Mas’ud juga menceritakan bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda : “ Apabila air mani seorang suami berdiam di dalam rahim isterinya, maka si isteri akan mendapat pahala bagaikan pahala orang berpuasa yang melakukan shalat, taat dan berjihad di jalan Allah. Apabila isteri itu diceraikan dalam keadaan hamil maka baginya pahala yang tidak terkira banyaknya. Jika isteri itu hamil maka si isteri akan mendapat pahala orang yang mati syahid di jalan Allah. Apabila si isteri menyusukan anaknya maka setiap susuan yang diisap dia akan mendapat pahala memerdekaan seorang hamba “ ( Kitab adabun nisa , 270 ).
Said bin Musayib menceritakan bahwa rasulullah saw pernah bersabda : “ Apabila seorang isteri hamil maka baginya pahala orang yang berperang di jalan Allah dan baginya juga pahala orang yang puasa tidak berbuka ditambah lagi dengan pahala orang yang melakukan shalat terus menerus. Jika dia melahirkan anak tersebut maka baginya setiap merasakan sakit bagaikan pahala orang yang memerdekakan seorang hamba. Apabila dia menyusukan anaknya maka berserulah para malaikat dari atas langit : “ Lakukanlah itu dengan cara yang baik, karena Allah telah memberikan ampunan kepadamu “
Menurut Aisyah, Rasulullah saw telah bersabda : “ Ketahuilah wahai seluruh perempuan, bahwasanya setiap wanita yang hamil maka baginya pahala orang yang sedang berpuasa dan berjihad di jalan Allah. Apabila dia diceraikan dalam keadan hamil, maka baginya pahala yang sangat banyak, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah. Apabila dia melahirkan anaknya maka setiap rasa sakit yang dirasakannya dia akan mendapat pahala bagaikan pahala orang yang memerdekakan hamba sahaya, apabila dia menyusukan anaknya maka malaikat akan memanggilnya dari langit : “ Wahai wanita yang sedang menyusukan anaknya, lakukanlah pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya, dan pahala menyusu itu sangatlah banyak sehingga sudah cukup bagimu “ ( Kitab Adabunnisa, 270 ).
KEWAJIBAN SUAMI
Firman Allah swt dalam itab suci Al Quran:
“ Dan pergaulilah isteri-isterimu dengan baik “
( QS. An Nisa : 19 )
“ Dan para isteri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi suami itu mempunyai kewajiban yang lebih daripada isteri “.
( QS. Al Baqarah : 228 )
“ Perintahkanlah kepada keluargamu agar mereka mendirikan shalat “ ( QS. Thaha : 132 )
“ Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, dan keluargamu daripada siksa api neraka “. Menurut Ibnu Abas , maksud ayat ini adalah seoang suami berkewajiban untuk memberikan pendidikan agama dan pelajaran akhlak yang baik kepada keluarganya “.( QS. Tahrim : 6 )
Dalam haji yang terakhir ( haji wada’ ) Rasulullah berwasiat kepada umatnya tentang amanat wanita :
“ Ingatlah wahai kaumku, terimalah wasiatku ini…
Berbuat baiklah kalian kepada isteri-isteri kalian..
Isteri itu adalah penolong dalam kehidupan yang selalu berada di sampingmu..
Kamu mengambilnya sebagai isteri dengan amanat dari Allah
Dan dihalalkannya bagimu dengan kalimat Allah..
Kamu tidak dapat memiliki apapun dari mereka kecuali hanya berbuat baik
Kamu tidak dapat memiliki apapun dari mereka kecuali hanya berbuat baik
Kecuali jika isterimu itu melakukan perbuatan keji yang jelas maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.
Kalau isterimu itu taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka...
Ingatlah.sesunguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isterimu dan isterimu juga mempunyai kewajiban terhadapmu..
Kewajiban isteri terhadapmu ialah mereka tidak boleh mempersilahkan tempat tidurmu didatangi oleh orang yang tidak kamu senang akan kehadirannya, dan mereka tidak boleh mengijinkan orang yang tidak kamu senangi masuk ke dalam rumahmu…
Ingatlah kewajibanmu terhadap mereka ialah kamu melayani mereka dengan baik, baik dalam pakaian maupun dalam makanan mereka “ (Hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah / Uqudullujian,2 /Tuhfatul Urus,140).
Rasulullah saw juga bersabda : “ Takutlah kamu kepada Allah dalam menjaga isteri-isterimu, karena sesungguhnya mereka adalah amanat yang ada disampingmu, maka barangsiapa yang tidak memerintahkan shalat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan kepada rasul-Nya “ ( Uqudullujain, 7 ).
Seorang lelaki dari Qayis bertanya kepada rasul : ya rasul, apakah kewajiban suami terhadap isterinya.?” Rasululah saw menjawab : “ Kewajiban suami terhadap isteri ialah suami harus memberikan makanan apabila dia ingin makan, dan memberikan pakaian kepadanya apabila dia ingin berpakaian, dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya, dan tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur, ketika isteri itu tidak thaat dan membangkang. ( Adabunnikah,257/ Uqudullujain, ).
“ Seorang lelaki yang mengawini perempuan dengan maskawin sedikit atau banyak, sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan maskawin itu kepadanya , maka itu berarti dia telah menipunya, seandainya dia meninggal dan belum memberikan maskwain itu kepada isterinya, maka dia akan menjumpai Allah dalam keadan berzina “.
“ Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang mempunyai akhlak yang baik dan mereka yang paling lembut bergaul dengan keluarganya “
“ Orang yang terbaik diantara kamu adalah mereka yang baik dalam bergaul dengan keluarganya, dan saya adalah orang yang terbaik dalam bergaul dengan keluarga “
“ Barangsiapa yang sabar atas perbuatan jelek dari isterinya, maka Allah memberinya pahala sama dengan yang diberikan kepada nabi Ayub karena sabar atas cobaan hidup. Dan isteri yang sabar atas perbuatan jelek dari suaminya, maka dia akan mendapat pahala Aisyah, isteri Firaun. “
“ Tidak ada seseorang lelaki yang menjumpai Allah dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak peduli dengan keadaan anak dan isterinya “
TANGGUNG JAWAB SUAMI :
Dalam Kitab Uqudullujain disebutkan bahwa tangung jawab suami terhadap anak dan isteri ialah :
1. Menjadi pemimpin terhadap anak dan isteri di dalam rumah tangga.
2. Mengajarkan ilmu fardhu ain kepada anak isteri yang meliputi ilmu tauhid, fikah dan akhlak. Ilmu tauhid diajarkan agar dia mempunyai keimanan dan keyakinanyang benar. Ilmu fiqah diajarkan agar dia dapat melaksnakan ibadah dengan benar. Ilmu tasauf diajarkan agar dia dapat menjaga amalanya dan perbuatannya dari penyakit-penyakit hati.
3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal. “ Sekali membelikan pakian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama tujuh puluh tahun beribadah “ , demikian ungkap seorang ulama sebagaimana disebutkan dalam kitab Uqudullujain ( uqudullujain,45).
4. Tidak mendzalimi anak dan isteri yaitu dengan :
a. Memberikan pendidikan agama.
b. Memberi nafkah lahir dan bathin
c. Memberi nasehat serta menegur dan memberi tunjukajar jika mereka melakukan kesalahan.
d. Bila memukul jangan sampai melukai.
5. Memberikan nasehat kepada isteri jika isteri suka menghasud, atau jika isteri melakukan sesuatu yang bercanggah dengan perintah agama.
SIFAT SUAMI YANG SHOLEH :
1. Bertanggungjawab dalam memimpin rumah tangga.
2. Tidak kedekut atau terlalu bermewah-mewah dalm memberi nafkah makan, minum , pakaian dan tempat tinggal, serta sehgala kepeluan anak dan isteri.
3. Kasih sayang, nesra serta senantiasa mengambil berat tentang mereka.
4. Tidak terburu-buru dalam menerima fitnah serta bertindak segera tanpa usul selidik terlebih dahulu.
5. Tidak gemar memandang perempuan yang lain.
6. Tidak gemar bergaul dengan perempuan yang lain.
7. Tidak minum arak, main judi, dan tidak suka membuang masa dengan kerja sia-sia.
8. Jujur dan senantiasa menepati janji terhadap anak-isteri.
9. Senantiasa menjaga kebersihan diri lahir dan batin.
10. Cemburu dalam hal yang mendatangkan maksiat terhadap dirinya, anaknya dan isterinya.
KEWAJIBAN ISTERI
Allah berfirman dalam Kitab suci Al Quran :
“ Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka ( laki-laki ) atas sebagian yang lain ( wanita ) , dan karena mereka telah menafkahkan harta mereka , sebab itu maka seorang wanita yang shaleh ialah wanita yang taat kepada Allah, lagi dapat memelihara diri di balik kehadiran suaminya, oleh karena Alah telah memelihara mereka. Wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka “ ( QS. AnNisa : 34 )
Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata :
“ Sejelek-jelek sifat kaum lelaki adalah sebaik-baik sifat bagi wanita, yaitu sifat kikir dan bersikap keras dan takut. Karena jika perempuan itu kikir, maka ia akan memelihara harta suaminya, dan jika dia bersikap keras, maka dia akan menjaga dirinya dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang mesra yang dapat menimbulkan persangkaan yang jelek. Jika dia bersikap penakut, maka dia takut dari segala sesuatu yang akan terjadi, maka dia tidak berani keluar dari rumahnya dan akan menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan karena takut kepada suaminya…
Ali juga melanjutkan bahwa ada beberapa kewajiban isteri terhadap suami :
1. Senantiasa malu terhadap suaminya.
2. Menundukkan penglihatannya di hadapan suaminya.
3. Mentaati perintah suaminya.
4. Dia ketika suami sedang berbicara
5. Berdiri ketika suaminya datang dan pergi dari rumah.
6. Menyerahkan dirinya kepada suaminya dikala hendak tidur.
7. Memakai wangi-wangian.
8. Memelihara mulutnya agar tetap wangi
9. Senantiasa berhias di depan suami
10. Tidak berhias jika suami tidak ada
11. Tidak berkhianat kepada suaminya ketika tidak ada di dalam tempat tidurnya dan di dalam hartanya.
12. Menghormati keluarga suami dan kerabatnya
13. Merasa puas jika diberi sedikit oleh suaminya
14. Tidak mencegah dirinya jika diajak suami untuk berhubungan walaupun ketika berada di punggung unta.
15. Tidak menjalankan puasa sunat kecuali dengan izin suami.
16. Tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin daripada suami. ( uqudullujain, 12 ).
Aisyah berkata ; “ Wahai kaum wanita..! Seandainya kamu mengerti kewajibanmu terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan mengusap debu dari kedua tellapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya “. ( Kitab Uqudullujain, 13 ).
Rasulullah saw bersabda :
“ Empat macam perempuan yang akan berada di surga dan empat macam perempuan berada di neraka. Empat macam perempuan yang berada di surga yaitu :
1. Perempuan yang menjaga dirinya dari berbuat haram lagi berbakti kepada allah dan suaminya.
2. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati dengan keadaan yang serba kekurangan ( dalam kehidupan ) bersama suaminya.
3. Perempuan yang bersifat pemalu, dan jika suaminya pergi, maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya. Jika suaminya datang, amka dia menjaga mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
4. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan dia mempunyai anak-anak yang masih kecil, lalu dia menjaga dirinya hanya untuk mengurusi anak-anaknya dan mendidik mereka serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia kawin karena khawatir jika kawin akan membuat anaknya terlantar.
Rasululah melanjutkan bahwa empat perempuan penghuni neraka yaitu :
1. Perempuan yang mulutnya kotor terhadap suaminya. Jika suaminya pergi, maka dia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya datang dia memarahinya.
2. Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberikan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh suaminya.
3. Perempuan yang tidak menutupi dirinya dari kaum lelaki dan keluar dari rumahnya dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya ( untuk menarik perhatian kaum lelaki ).
4. Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minum, tidur dan dia tidak berbakti kepada Allah dan juga tidak senang untuk berbakti kepada rasul dan juga tidak mau berbakti kepada suaminya.
Perempuan yang bersifat dengan sifat yang empat ini , maka dia akan menjadi penghuni neraka kecuali jika dia benar-benar bertaubat. ( Uqudullujain, 16,17).
Ali bin Abi Thalib berkata : Aku masuk rumah rasulullah bersama fatimah. Kami melihat Rasul sedang menangis, kemudian aku berkata : Demi ayah dan ibuku.!.Apakah yang membuatmu menangis ya rasulullah..! Nabi menjawab : Wahai Ali, pada malam aku diangkat ke langit ( isra mi’raj ) aku melihat perempuan dari umatku disiksa di neraka dengan bermacam-macam siksa, maka aku menagis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat.
Aku melihat perempuan yang digantungkan dengan rambutnya serta otaknya mendidih. Aku juga melihat perempuan yang digantungkan dengan lidahnya sedang air panas yang dituangkan pada tenggorokannya dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua kakinya sampai kedua buahdadanya dan diikat kedua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengerahkan ular dan kalajengking untuk menyengatnya. Aku melihat perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai yang sednag ditimpa dengan sejuta siksaan. Aku melihat perempuan berbentuk anjing dan api itu masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya dan malaikat memukul kepalanya dengan palu yang besar dari api neraka. Mendengar itu Fatimah berdiri dan berkata : “ Wahai kekasihku dan buah hatiku..perbuatan apakah yang dilakukan mereka sehingga mereka mendapat siksaan yang begitu berat “
Rasulullah saw menjawab : “ Wahai anakku..adapun perempuan yang digantung dengan rambutnya karena dia tidak menutup rambutnya daripada pandangan kaum lelaki yang lain.
Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia selalu menyakiti suaminya.
Adapun perempuan yang digantung dengan kedua payudaranya karena dia telah mempersilahkan orang lain untuk datang ke tempat tidur suaminya.
Adapun perempuan yang diikat kedua kakinya sampai kedua payudaranya dan diikat kedua angannya sampai ke ubun-ubunnya dan Allah mengerahkan ular serta kalajengking untuk menyengatinya adalah perempuan yang tidak mandi dari janabat dan haidh serta meningalkan shalat.
Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai adalah karena dia tukang mengadu domba dan pembohong.
Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya keluar dari duburnya karena dia adalah tukang hasud dan mengungkapkan aib orang lain.
Wahai anakku..celakalah bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya. ( Uqudullujain, 21 ).
ADAB SUAMI - ISTERI
Ibrahim bin Adham bercerita bahwa Abu darda’ berkata kepada isterinya : “ Apabila aku marah maka hendaklah engkau merelakannya ( diam ), dan apabila engkau marah maka aku akan merelakannya ( diam ) juga. Maka hendaknya kita tidak melakukan sesuatu yang dapt membuat kita bertengkar “.( Kitab adabunnisa , 161 ).
Rasulullah berwasiat : “ Takutlah kamu kepada Allah dalam menghadapi dua orang yang lemah, yaitu wanita dan hamba sahaya “ ( Adabunnisa, 255 ).
Pada suatu hari Rasulullah bersabda ; “ Janganlah kamu memukul isterimu “. Para sahabat mematuhi perintah tersebut dan tidak memukul isteri mereka. Tak lama kemudian datanglah Umar bin Khattab berkata kepada rasul : “ Ya Rasulullah..banyak isteri-isteri yang tidak taat kepada suami mereka “. Mendengar pengaduan itu, maka rasul mengizinkan suami untuk memukul isterinya. Tak lama kemudian, datanglah isteri sahabat kepada keluarga Rasul mengadukan perlakuan suami mereka sehingga Rasul berkata : “ telah datang kepada keluargaku tujuh puluh perempuan yang mengadukan suami-suami mereka. Para suami yang demikian itu bukanlah orang yang baik diantara kamu “. ( Adabunnisa , 248 )
Rasul membolehkan suami untuk memukul isteri kemudian beliau bersabda ; “ Pukullah mereka, dan suami yang baik tidak akan memukul mereka “. ( Adabunnisa, 248 ).
Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya aku sangat membenci jika melihat lelaki yang garang dan marah lalu memukul isterinya “. ( Adabunnisa , 255 ).
“ Barangsiapa yang sabar atas kejelekan sikap isterinya maka baginya dalam setiap hari mendapat pahala orang yang mati syahid “ ( Adabunnisa , 253 ).
“ Jika seorang isteri memaki suaminya maka Allah akan membukakan baginya tujuh puluh pintu kutukan dan Allah marah kepadanya, juga para malaikat yang ada di bumi dan di atas langit, semuanya akan mengutuk kepadanya “. ( Adabunisa , 288 ).
Jika ada seorang isteri yang berkata kepada suaminya : “ Demi Allah, aku tidak melihat sedikitkun kebaikan ada pada dirimu “, maka Allah akan mengharamkan baginya segala kenikmatan surga dan dituliskan baginya dosa bagaikan pasir banyaknya dan dalam setiap hari dan malam akan datang kepadanya seribu kali kutukan “. ( Adabunnisa, 288 ).
“ Jika seorang isteri menolak ajakan suaminya untuk tidur bersama, maka semua Allah akan menghancurkan segala amalannya selama tujuh puluh tahun “ ( Adabunisa, 288 ).
“ Jika seorang isteri berkata kepada suaminya dengan penuh penghinaan : “ Engkau makan dari hartaku dan berpakaian dari uang pemberian dariku “ , maka Allah akan marah kepadanya selama delapan puluh hari, walaupun si isteri itu mempunyai harta sebanyak harta qarun dan harta itu dikeluarkan untuk bersedekah di jalan Allah, maka sedekahnya itu tidak akan diterima “.( Adabunnisa, 289 ).
“ Jika seorang isteri menghina suaminya yang ada disampingnya maka binasalah shalatnya selama tujuh puluh tahun, dan jika isteri tidak bersyukur dengan suaminya maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat “ ( Adabunnisa, 257 ).
“ Jika seorang isteri bermuka masam kepada suaminya, maka ia berada dalam kemurkaan Allah sehingga ia dapat membuat suasana yang riang gembira kepada suaminya dan mohon kerelaannya “ ( Uqudullujain, 13 ).
“ Jika seorang isteri meminta cerai dari suaminya tanpa ada sesuatu sebab , maka Allah mengharamkan wangi surga kepadanya “ ( Uqudullujain , 14 ).
“ Sesungguhnya jika seorang suami melihat kepada isterinya dan isterinya juga memandang kepadanya, maka Allah telah melihat kepada mereka berdua dengan pandangan rahmat. Dan jika seorang lelaki memegang telapak tangan isterinya maka gugurlah dosa mereka berdua dari sela-sela jari tangan keduanya” ( Uqudullujain, 29 ).
Rasululah bersabda : ‘ Aku pernah melihat di dalam surga lalu aku melihat yang terbanyak ahli syurga ialah orang faqir dan aku juga melihat neraka dan melihat yang terbanyak daripada ahli neraka adalah perempuan-perempuan. Demikian itu karena kurang baktinya kepada allah dan kepada suaminya serta kebanyakan mereka menghias diri ( dengan berlebih-lebihan ) jika hendak keluar dari rumahnya “. ( uqudullujjain, 25).
TANDA ISTERI YANG BAIK
Dalam Kitab Uqudullujain disebutkan bahwa tanda perempuan yang baik muruahnya adalah :
1. Baik perangainya tehadap suaminya, anak-anaknya, ibubapanya, rakan-rakannya, jiran-jirannya dan masyarakat lainnya, iaitu :
- Dengan suami bersopan santun dalam segala percakapan dan tindakan.
- Dengan anak-anak bercakap dengan bahasa yang baik, dan tidak suka memaki atau berbahasa kesat.
- Dengan ibubapa bersopan santun dan beradab.
- Dengan rakan-rakan, jiran dan masyarakat tidak suka bertengkar dan memfitnah.
2. Dapat menjaga mulut dan tidak gemar mengadu-adukan hal keburukan suami kepada ibubapa, rakan-rakan dan jiran-jiran.
3. Banyak bersabar di dalam menempuh segala kesusahan ujian Allah, dan dalam menjalankan perintah-Nya.
4. Tidak berhias ketika keluar rumah karena kecantikan isteri hanyalah untuk suaminya sahaja dan bukan untuk orang lain.
5. Tidak cepat berkeluh kesah dalam menempuh kehidupan, tidak bersyukur dan tidak sabar.
6. Tidak memaksa suami untuk memenuhi keinginannya.
7. Merelakan dengan apa-apa pemberian suami .
8. Tidak gemar banyak cakap, tetapi cakap seperlu sahaja.
9. Patuh kepada suami samada dalam keadaan susah atau senang kecuali pada hal yang dilarang oleh agama.
10. Menjadi penorong serta penasehat suami dalam hal-hal kebajikan.
11. Memahami hal yang tidak digemari dan dibenci oleh suami.
12. Selalu melakukan perbuatan yang menyenangkan hati suami.
13. Senantiasa mendoakan keselamatan suami dalam setiap waktu terutama selepas shalat.
14. Senantiasa menambah ilmu agama serta amalan-amalan dengan gemar membaca, mendengar kaset-kaset, syarahan agama, dan pengajian.
15. Senantiasa menjaga diri dan rumah tangga.
DOA UNTUK KELUARGA
“ Ya Tuhan , berikanlah kepadaku keturunan yang baik “
( QS. Ali Imran/3 : 38 ).
“ Ya Tuhan kami berikanlah kepada kami isteri-isteri dan anak-anak yang dapat menyenangkan hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin diantara orang-orang yang bertaqwa “ ( QS.Al Furqan /25: 74 ).
“ Ya Tuhan, jadikanlah aku dan anak-anak keturunanku diantara orang-orang yang tetap mendirikan shalat “
( QS. Ibrahim/14 : 40 ).
“ Ya Tuhan, berikanlah kepadaku kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan juga kepada kedua orangtua, sehingga aku dapat beramal shaleh yang Engkau ridhai. Dan perbaikilah keturunanku..Sesunguhnya aku bertobat kepadamu Tuhan kami, dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri “ ( QS. Al Ahqaf /46 : 15 ).
“ Ya Tuhan kami jadikanlah kami orang yang menyerahkan diri ( ber-islam ) kepadamu dan jadikanlah keturunan kami juga termasuk orang yang ber-islam kepadamu “ ( QS. Al Baqarah /2 : 128 ).
@
Subscribe to:
Posts (Atom)