Pages

Friday, April 29, 2016

ANTARA AMAL JARIYAH DAN TARIF

“ Dan janganlah kamu memberikan sesuatu untuk mendapatkan balasan yang lebih banyak ”
( QS. Muzammil : )
Ibnu Abbas menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda : “ Ulama umat ini terbagi dua. Bahagian pertama adalah ulama yang dianugerahkan Allah ilmu pengetahuan lalu diberikannya kepada orang lain dengan tidak mengharapkan apa-apa dan tidak diperjualbelikan. Ulama seperti ini akan didoakan oleh burung di udara, ikan dalam air, hewan diatas bumi, dan para malaikat yang menuliskan amal manusia. Dia dibawa ke hadapan Allah pada hari kimat nanti sebagai tuan yang mulia, sehingga menjadi teman bagi para rasul Tuhan. Bahagian kedua adalah ulama yang dianugerahi Allah akan ilmu pengetahuan dan kikir untuk memberikannya kepada hamba Allah yang lain, mengharapkan sesuatu dan memperjualbelikan ilmu tersebut. Ulama seperti ini akan datang nanti pada hari kiamat dengan mulut yang dikekang dengan kekangan api neraka. Dihadapkan kepada orang ramai, tampil seorang penyeru berkata : “ Inilah si fulan, anak dari si fulan, dianugerahkan ilmu pengetahuan di dunia tetapi dia kikir untuk memberikan ilmunya kepada orang lain, dia mengharapkan sesuatu dari ilmunya dan memperjual-belikan ilmunya, maka ilama tadi akan diazab sampai selesai perhitungan amalan manusia yang lain ( Hadis riwayat Thabrani ).
Dari hadis siatas dapat dilihat bahwa ulama dalam menyampaikan ilmu kepada masyarakat akan tebagi dua, pertama ulama yang mengajarkan ilmunya sebagai meneruskan apa yang diketahuinya kepada orang yang tidak diketahui dengan niat untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi, sebagai tanda bersyukur atas ilmu yang didapat sehingga merasa berkewajiban untuk menyampaikannya kepada orang yang tidak mengetahu. Kedua adalah ulama atau orang yang berilmu baik dalam agama atau bidang lain yang sangat kikir dengan ilmu sehingga jika dia menyampaikan ilmu tersebut harus mendapatkan imbalan dunia dan lain sebagainya. Ulama, pakar, saintis, yang mempunyai tanggungjawab kemanusiaan dengan memberikan ilmunya kepada masyarakat merupakan titik kelangsungan suatu peradaban Islam, sebab peradaban dibina atas kelangsungan ilmu dalam masyarakat. Tetapi ulama yang seallu memperhitungkan informasi dengan imbalan materi akan menghambat kelangsungan peradaban dalam masyarakat, sebab ilmu yang dimilikinga merupakan komoditi yang diperjual belikan.
Untuk kelangsungan peradaban manusia itu maka Rasulullah bersabda : “ Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputusnya amal baginya kecuali tiga : Sedekah Jariyah ( sedekah seperti wakaf yang terus dipakai manfaatnya sehingga pahalanya mengalir terus sepanjang pemakaian ), ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh “. Ilmu yang bermanfaat menjadi sumber pahala bagi si pemberi sebab ilmu tersebut akan terus berkembang sampai akhir zaman. Dengan ilmu yang terus berkembang tersebut akan menghasilkan masyarakat yang berilmu sebagai asas suatu peradaban. Tetapi jika ilmu itu diperjual belikan maka peradaban akan bergerak lambat.
Oleh sebab itu Ibnu Mas’ud berkata : ‘ Akan datang kepada manusia suatu masa, yang terbalik sehingga kemanisan hati menjadi asin, dimana pada hari itu orang yang berilmu dan mencari ilmu tidak dapat mengambil manfaat dari ilmunya. Hati orang yang berilmu itu laksana tanah yang kosong dan bergaram, jika hujan lebat turun di atas tanah tersebut, air hujan tersebut tidak dapat menghilangkan asin garam tanah tersebut. Hati mereka itu sangat condong kepada kehidupan dunia, dan mengutamakan dunia daripada akhirat. Pada saat itulah dicabut Allah sumber-sumber hikmah dan dipadamkannya lampu petunjuk dari hati mereka. Mereka takut kepada Allah dengan lisannya, tetapi kedzaliman terdapat pada amal perbuatannya. Lidah mereka subur tetapi hati mereka tandus. Hal ini terjadi karena para guru mengajar bukan karena Allah dan murid juga belajar bukan karena Allah “.
Inilah kondisi masyarakat hari ini. Masyarakat belajar ilmu dengan kewajiban belajar dan lain sebagainya, pendidikan dasar sampai perguruan tinggi bertaburan di seluruh penjuru tempat. Ijazah, gelar , titel telah diperjual belikan, tetapi kedzaliman tetap dimana mana. Jika kita meneliti kalimat Ibnu Mas’ud diatas dapat dilihat sebab keberkatan ilmu tidak di dapat dalam masyarakat disebabkan niat ilmu dan pendidikan bukan lagi karena Allah tetapi sudah bergeser menjadi komoditi bisnis, baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan yang lain.
Kaab bin Akhbar berkata : “ Pada akhir zaman nanti orang yang berilmu menyuruh manusia zuhud dari dunia tetapi mereka sendiri tidak zuhud. Menyuruh manusia takut kepada Tuhan tetapi mereka sendiri tidak takut. Malarang manusia untuk menjumpai penguasa negeri, sedangkan mereka sendiri datang kepada penguasa negeri. Mereka telah memilih dunia daripada akhirat, mereka makan dari hasil usaha lidah mereka sendiri. Mereka hanya mendekati orang yang kaya, dan tidak peduli dengan orang yang miskin. Mereka cemburu kepada ilmu pengetahuan seperti cemburunya wanita kepada kaum lelaki. Orang yang berilmu seperti ini adalah orang yang keras hatinya, dan mereka itulah musuh-musuh Allah”.
Ternyata niat belajar dan mengajar mempunyai dampak positif dan negatif dalam masyarakat, sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik berkata : “ Menuntut ilmu itu baik dan mengembangkannya akan baik apabila niat itu betul “. Abu Darda menyatakan bahwa diwahyukan Allah kepada sebagian nabi-nabi bahwa : “ Katakanlah kepada mereka yang menuntut ilmu bukan untuk agama, belajar bukan untuk beramal, dan mencari dunia dengan amal perbuatannya :” Bahwa mereka telah memebri pakaian kulit kambing qibas kepada manusia. Hati mereka seperti hati serigala. Lidah mereka tidak lebih manis daripada madu. Hati mereka lebih pahit daripada buah paria. NamaKu ( Nama Allah ) dipermaikan. Sesunguhnya Allah akan membukakan fitnah (bencana bagi agama )  mereka yang akan menjadikan orang yang benar terkejut dan meninggalkan mereka dengan penuh keheranan “.
Sayidina Ali bin Abu Thalib berkata : “ Ada dua orang yang mendatangkan bala bencana kepada kita, yaitu orang yang berilmu tetapi tidak menjaga kehormatan ilmunya dan orang yang bodoh yang kuat ibadahnya. Orang yang bodoh itu menipu manusia dengan peribadatannya dan orang yang berilmu itu menipu manusia dengan kelengahannya “. Ilmu, ibadah, hanya bersifat formalitas sehingga Ibnu Sammak berkata : “ Berapa banyak orang yang memberikan peringatan kepada orang lain untuk mengingat Allah sedangkan mereka lupa kepada Allah. Berapa banyak orang yang memberi peringatan supaya takut kepada Allah tetapi mereka menentang perintah Allah. Berapa banyak orang yang mengajak orang lain untuk mendekatkan diri kepada Allah tetapi mereka sendiri jauh daripada Allah. Berapa banyak orang yang menyerukan agar mendekat kepada Allah tetapi mereka sendiri lari daripada Allah. Berapa banyak orang yang membaca kitab Allah padahal ayat-ayat Allah terhapus dari hatinya “. Oleh sebab itu Rasulullah mengingatkan umatnya bahwa : “ Orang yang binasa daripada umatku adalah orang yang berilmu yang dzalim dan orang yang bodoh. Kejahatan yang paling jahat adalah kejahatan orang yang berilmu dan kebaikan yangpaling baik adalah kebaikan orang yang berilmu “. ( Hadis mursal dari Darimi )
Dari beberapa keterangan diatas dapat dilihat bahwa niat seorang ulama dalam mengajarkan ilmunya, niat seorang penguasa dalam mengatur negara, niat seorang peniaga dalam berniagaannya, harus dapat dilakukan dengan ikhlas, sehingga menghasilkan dampak positif bagi masyarakat, tetapi jika mengajar, memerintah, berniaga, dan segala sesuatu dilakukan dengan niat dunia seperti niat dan tujuannya dalam beramal itu hanya untuk mencari uang, mencari kedudukan, mencari pangkat, mencari populeritas, maka akan berdampak negatif dalam masyarakat.  
Baru-baru ini timbul polemik apakah boleh seorang penceramah memasang tarif sebagaimana penceramah, konsultan, dan lain sebagainya sebagaimana pemberi layanan jasa lainnya. Tarif merupakan transaksi bisnis dan jual beli, sehingga dengan memasang tarif ilmu berubah dari aset amal jariyah atau menjadi aset bisnis. Tanpa sadar kadang-kadang penentuan tarif dapat merubah niat dalam memberikan ilmu, walaupun kadangkala tarif dilakukan agar orang menghargai ilmu yang disampaikan. Oleh sebab itu ulama Islam zaman dahulu dijamin kehidupannya oleh masyarakat khususnya Baitul Maal, sehingga untuk menjaga niat mengajar bagi ulama sehingga tidak menjadi komoditi bisnis, maka semua ulama zaman silam mendapat bantuan dari Baitul Maal, malahan seorang ulama yang menulis buku, maka bukunya ditimbang dan ulama itu diberikan emas seberat timbangan buku tersebut. Malahan pada masa kejayaan Islam di masa Salahuddin al Ayubi bukan hanya ulama , atau istadz yang diberi bantuan oleh Baitul Maal, malahan orang yang datang ke masjid, masjid taklim, pelajar, pembaca di perpustakaan mereka semua mendapat bantuan keuangan dari Baitul Maal. Pada saat ini, Baitul Maal perhatian kepada fakir miskin lebih daripada ilmu dan keadaan ulama, sehingga muncul polemik diatas. Sudah saatnya masyarakat memperikan perhatian kepada ulama, pelajar , mahasiswa dan segala yang berkaitan dengan ilmu sehingga terjaga niat ilmu tetap terjaga sebagai mata-rantai peradaban Islam dan kunci kebaikan masyarakat dimasa mendatang.  Fatabiru Ya Ulil albab. 

Thursday, April 28, 2016

AL Hikam 120


AL HIKAM 120

مَتَى جَعَلَكَ فِى الظَّاهِرِ مُمْتَثِلاً لأَمْرِهِ وَرَزَقَكَ فِى الْبَاطِنِ الاسْتِسْلاَمَ لِقَهْرِهِ فَقَدْ أَعْظَمَ الْمِنَّةَ عَلَيْكَ

Terjemahan : Apabila Allah telah menjadkan engkau pada zahirnya menurut perintahNya dan dalam hatimu menyerah bulat kepadaNya, berarti Tuhan telah memberi sebesar-besar nikmat kepadamu (  Ibnu Athailah Sakandary /AL Hikam 120 )

Penjelasan : 

Tujuan manusia hidup adalah penghambaan  kepada Allah, sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci al Quran : “ Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKU “( QS. Dzariyat/51 : 56 ).

Penyembahan yang sempurna adalah penyembahan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, penyerahan diri kepadaNya : “ Tidaklah aku ( Muhammad ) diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan agama “ ( QS. Al Bayyinah/98 : 5)

Penyerahan diri kepada Allah secara zahir adalah dengan menjalankan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya : “ Apakah mereka mencari selain agama Allah padahal seluruh langit dan bumi telah menyerahkan dirinya kepada Allah “ ( QS. Ali Imran :83 ).

Dalam ayat yang lain dinyatakan juga bahwa “ Sesungguhnya agama yang diridhai Allah adalah agama Islam “ ( QS. Ali Imran/19) “ Dan siapa yang mencari selain agama Islam, maka Allah tidak akan menerimanya “ ( QS. Ali Imran : 85 )”. Maka siapa yang dikehendaki Allah untuk diberi  petunjuk maka Allah akan melapangkan dadanya dalam menjalankan   Islam “ ( QS. Al An’am/6 : 125).

Menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya, itulah ibadah secara zahir, sedangkan keikhlasan menyerahkan diri dengan ridha dalam menerima segala ketentuanNya, itu merupakan ibadah secara batin, serta mendapat kedua-duanya dalam kehidupan itu merupakan kenikmatan hidup yang terbesar.  Ramadhan al Bouty berkata bahwa sifat ubudiyah ( penghambaan ) kepada Allah akan sempurna dengan dua perkara (1) melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan laranganNya (2) penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dalam segala segala keadaan. Itulah sebabnya Rasulullah mengajarkan umatnya agar membaca kalimat zikir : Aku Ridha  menjadikan Allah sebagai Tuhanku, Aku ridha  menajdikan Islam sebagai agamaku dan Aku ridha akan  Muhammad sebagai Nabi dan Rasul “.

Melakukan amal ibadah dengan penyerahan diri, dan hati yang ikhlas hanya mengharapkan keridhaanNya itulah kenikmatan hidup yang diberikan kepada hambaNya. Sedangkan ada sebagian manusia  yang beribadah kepadaNya bukan untuk mencari keredhaanNya, tetapi untuk mendapatkan tujuan dan kesenangan tertentu. “ Dan diantara  manusia ada yang menyembah Allah hanya ditepi, maka jika dia memperoleh kebajikan, dia puas dan tenang,  tetapi jika dia ditimpa kesusahan, maka dia balik ke belakang. Dia mendapatkan kerugian dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata “ ( QS. al Hajj/ 22 : 11 ).

Ibnu Ajibah dalam menerangkan kalimat alhikam ini menyatakan : “ Pelaksanaan ibadah zahir dan batin ini merupakan sebesar-besar pemberian dan nikmat sebab jika seseorang itu dapat melaksanakan perintahNya dan meningalkan larannganNya, dengan penghambaan, keridhaan, penyerahan diri, dan keikhlasan hati dalam menjalankan kehidupan sesua dengan petunjukNya berarti orang tersebut telah makrifat ( mengenal ) Allah dengan sebenar-benar makrifat, sebab melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya itu menunjukkan pada kesempurnaan dalam menjalankan syariat, dan penyerahan diri kepadaNya di dalam batin itu merupakan kesempurnaan tharikat ( jalan menuju kepadaNya ), dan menyatukan keduanya dalam kehidupan itu merupakan hakikat kehidupan, dan itulah puncak kesempurnaan. Oleh sebab itu jika Allah telah menghiasi  zahir dengan ketaatan atas perintahNya, dan menghiasi batin engkau dengan mengenal ( makrifat ) segala ketentuanNya yang dinampakkan dengan  penyerahan diri kepada segala ketentuan dan takdirNya, dan keridhaan dalam menjalankan perintahNya dengan penuh keikhlasan, itu merupakan nikmat terbesar dalam kehidupan yang harus disyukuri sehingga keadaan tersebut dapat membuat dirimu melihat kebesaran Tuhan dengan penuh kecintaan dan kerinduan.

Sebesar-besar nikmat karunia Tuhan kepada hambanya ialah jika Allah memberikan taufik dan hidayah kepada hambaNya untuk melakukan segala perintah kemudian ditambah dengan kekuatan menyerahkan diri, tawakal kepadaNya di dalam batinnya. Dengan kedua nikmat zahir dan batin tersebut maka seseorang itu telah mencapai keperluan hidup di dunia dan di akhirat, sebab manusia itu hanya diperintahkan supaya beribadah dengan tulus ikhlas menuju kepada Allah, sedangkan segala keperluan hidupnya yang lain akan dicukupkan oleh Allah, sebagaimana dinyatakan Wahab bin Munabbih : “ Aku telah membaca dalam sebagian kitab-kitab suci terdahulu dimana Allah berfirman : “ Hai hambaKu, patuhlah kepadaKu pada apa yang Aku perintahkan kepadamu, dan jangan engkau mengajar Aku dengan segala keperluanmu. Aku memuliakan siapa yang memuliakanKu, dan Aku menghinakan siapa yang merendahkan perintahKu kepadanya, dan Aku tidak melihat kepada hak seorang hamba sehinga hamba itu melihat kepada hakKu. “.

Wallahu A'lam bissawab.





ALHIKAM 119

AL HIKAM 119

 لاَ تُطَالِبْ رَبَّكَ بِتَأَخُّرِ مَطْلَبِكَ ، وَلَكِنْ طَالِبْ نَفْسَكَ بِتَأَخُّرِ أَدَبِكَ

Terjemahan : “ Jangan menuntut Tuhan karena terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada Tuhan, tetapi hendaklah engkau betulkan dirimu, tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajipan-kewajipanmu terhadap Tuhanmu “ ( AL HIKAM 119 )

Penjelasan :

Ibadah dan Doa

Dalam surah al fatihah , Allah berfirman : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan “ ( Surah al Fatihah/1 : 5 ) Dari pemahaman ayat ini, sebagian ulama menyatakan bahwa sebaiknya doa dimulai dengan ibadah seperti membaca ayat-ayat al Quran, zikir, shalawat , sedekah, berbuat kebajikan dan lain sebagainya.

Doa dan Percaya

Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah] Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ( Surah al Baqarah/2 : 186 )

Rasulullah bersabda: Jika seseorag dari kamu berdoa maka janganlah kamu mengucapkan Ya Allah, ampunkanlah dosaku kalau Engkau Berkehendak, Ya Allah, kasihanilah aku jika Engkau berkehendak, untuk menetapkan permintaan itu, sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksakan sesuatu kepada Allah Taala “( riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ).
Rasululah bersabda : “ Berdoalah kepada Allah dan kamu yakin akan diterima, dan ketahuilah bahwa Allah Taala tidak akan menerima doa dari hati yang lalai “ ( riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah )

Doa, kebaikan dan khusyu

Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.  Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. ( Surah al Anbiya : 90)

Rendah diri dan tanpa kesombongan diri

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku  akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". ( Surah Ghafir/40 : 60 )“ Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan penuh kerendahan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas  (Surah al A’raf/7 : 55)

Doa dan membaca bacaan zikir

Salmah bin Akwa berkata : Belum pernah aku mendengar Rasulullah memulai doanya, selan dimulanya dengan membacakan :        سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَلِىِّ الأَعْلَى الوَهَّابِ
 Subhana Rabbiyal Aliyyil A’la Wahhab , artinya  Mahsuci Tuhanku, Dzat Yang Tinggi, Dzat Yang Tertinggi, Dzat Yang Maha Memberi

Doa dan bacaan shalawat

Abu Sulaiman Darani berkata : Barangsiapa bermaksud berdoa kepada Allah untuk suatu keperluan, maka hendaklah dimulanya dengan membaca shalawat kepada Nabi, kemudian meminta keperluannya, kemudian ditutp dengan membaca shalawat kepada Nabi, sesungguhnya Allah akan menerima dua shalawat dan Dia Maha Pemurah daripada meninggalkan (tidak menerima) doa diantara dua shalawat tersebut. 

Doa dan kebajikan

Abu Dzar berkata : “ Cukupkanlah doa itu dengan perbuatan kebajikan, sebagaimana dicukupkan makanan itu dengan garam “.

Doa dan kesabaran

Rasulullah bersabda : “ Mintalah kepada Allah dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Taala itu sangat suka jika diminta, dan termasuk daripada ibadah adalah menantikan kelapangan dari doa tersebut “ ( Hadis riwayat Thabrani, dari Ibnu Mas’ud ).

Rasulullah bersabda : Doa kamu akan diterima selama tidak minta disegerakan, dimana ia mengatakan : Aku telah berdoa, maka doaku tidak diterima, maka apabila kamu berdoa, maka mintalah yang banyak kepada Allah, karena engkau berdoa kepada Allah Yang Maha Pemurah “ ( riwayat Bukhari dan Muslim ).

Jawaban Doa

Rasululah bersabda : “ Sesungguhnya seorang hamba itu, jika berdoa maka jawabannya tidak akan terlepas daripada tiga hal, adakalanya dosa itu diampunkan dengan doa tersebut, adakalanya permintaan itu disegerakan dan adakalanya disimpankan baginya kebajikan di masa mendatang “.


Rasulullah bersabda : “ apabila kamu berdoa dan meminta dikabulkan, maka hendaklahmembaca  الحَمْدْ لِلِّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّلِحَاتُ Segala puji bagi Allah dimana dengan segalanikmatnya sempurnalah semua kebaikan, Dan sesiapa yang terlambat membacanya, maka bacalah الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ    Segala puji bagi Allah atas segala keadaan  ( Hadis riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah ) 

Sofyan bin Uyainah berkata : Tidaklah seseorang itu dilarang dari berdoa, walau bagaimana keadaan dirinya, sesungguhnya Allah menerima doa makhluk yang terjahat, Iblis yang telah dikutuk Allah, karena Iblis berkata : Wahai Tuhanku, beri tangguh aku sampai hari kebangkitan , maka Allah menjawab : “ Sesungguhnya engkau termasuk orang yang diberi tangguh “ ( Surah al Hijr : 36-37).

Wallahu A'lam.

AL HIKAM 118

AL HIKAM 118

         سُبْحَانَ مَنْ سَتَرَ سِرَّ الْخُصُوصِيَّةِ بِظُهُورِ الْبَشَرِيَّةِ ،
                        وَظَهَرَ بِعَظَمَةِ الرُّبُوبِيَّةِ فِى إِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ
Maha Suci Allah yang telah menutupi rahasia-rahasia keistimewaan seorang hamba (khususiyah ) dengan terlihatnya sifat-fifat kemanusiaan. Dan Maha Suci Allah yang telh memperlihatkan kepada hambaNya kebesaran Rububiyah dalam nampaknya penghambaan manusia kepadaNya.

Maksud daripada pernyataan diatas adalah kadang kala ada seseorang yang memiliki  keistimewaan ( wali Allah ) dengan memiliki  ilmu pengetahuan, makrifat, dan pemahaman terhadap kebesaran Allah yang diberikan Allah kepadanya, tetapi manusia sekitarnya tidak mengetahui keistimewaan tersebut sebab secara lahir orang tersebut sama seperti manusia awam biasa baik dalam perbuatan maupun dalam amal ibadah.

Siapakah wali Allah ?
Dalam kitab suci al Quran dinyatakan : “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka itu orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan  di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Hal yang demikian itu adalah kemenangan yang besar “. (Surah Yunus : 62-64)
Dalam hadis dinyatakan :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُع
Rasulullah bersabda , Allah berfirman : Siapa yang memusuhi waliKu maka aku akan berperang dengannya. HambaKu mendekatkan diri  kepadaKu yang dengan sesuatu yang wajib, dan senantiasa dia mendekatkan diri dengan sesuatu yang sunat sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya untuk memegang, kakinya untuk berjalan, dan jika dia meminta kepadaKu, niscaya Aku memberinya dan jika dia berlindung kepadaKu, Aku akan melindunginya ( Riwayat Bukhari/6502 )
Dalam al Quran dinyatakan bahwa Rasul itu adalah ,manusia biasa, melakukan apa yang manusia lakukan, demikian juga para wali-wali Allah, “ Dan Kami tidak mengutus rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan mereka sungguh makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat “(Surah al Furqan : 20) 

Dari Anas bin Malik berkata bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda : “ Ada orang yang rambutnya kusut, badannya berdebu, mempunyai pakaian yang buruk, jika dia bersumpah kepada Allah niscaya Allah menganugerahkan kebaikan kepadanya “. Hadis riwayat Muslim.


Rasulullah bersabda bahwa Allah telah berfirman : “ Sesungguhnya waliKu yang paling aku suka adalah hamba yang mukmin, sedikit harta, mempunyai kesenangan dengan shalat, membaikkan ibadah kepada Tuhannya, dan mentaatinya pada waktu tersembunyi. Dia tertutup pada manusia, tidak ditunjukkan kepadanya anak jari, kemudian dia bersabar atas yang demikian. ( riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah )

Rasulullah bersabda : “ Apakah tidak aku tunjukkan kepadamu siapakah iantara penduduk surga ? Iaitu orang yang lemah dan dipandang lemah, jikalau ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah mencurahkan kebaikan kepadanya. Dan penduduk neraka iaitu orang yang sombong dan terpandang sombong, dan angkuh dalam gerak-geriknya “ ( riwayat Bukhari dan Muslim ).

Rasulullah bersabda : “ Sedikit dari riya itu adalah sebagian dari syirik. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang yang taqwa dan menyembunyikan amal perbuatannya. Mereka jikalau tidak datang, orang tidak mencarinya. Jika hadir, orang tidak mengenalnya. Hati mereka itu lampu petunjuk. Mereka terlepas dari setiap bumi yang gelap (Thabrani )

Rasulullah bersabda : “ Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah riya dan nafsu syahwat yang tersembunyi, dimana dia lebih tersembunyi daripada merangkaknya semut hitam atas batu besar yang hitam di dalam malam yang gelap “ ( hadis sahih, riwayat Ibnu Majah dan Hakim )

Rasulullah bersabda : “ Tidaklah dua ekor serigala yan buas yang dilepaskan dalam kandang kambing, lebih cepat membat bencana kepada agama daripada kecintaan seseorang terhadap kemuliaan ( ingin dikenal ) dan kecintan terhadap harta “ ( Riwayat Tirmidzi ).

Fudhail bin Iyadh berkata : “ Jika engkau sanggup untuk tidak dikenal, maka lakukanlah : Tidaklah atas engkau untuk dikenal, tidklah atas engkau untuk dipuji, dan tidaklah engkau itu tercela jika engkau itu terpuji di sisi Allah subhana wa taala “.

Rasulullah bersabda : “ Cukuplah seseorang itu daripada kejahatan, bahwa manusia menunjuk kepadanya dengan anak jari tentang agama dan dunianya, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah “ ( riwayat Baihaqi dari Anas bin Malik ).


Wallahu A’lam.




AL HIKAM 116

AL HIKAM 116


مَنْ ظَنَّ انْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذَلِكَ لِقُصُورِ نَظَرِهِ

Siapa yang mengira terlepasnya hikmat karunia Allah daripada bala ujian yang ditaqdirkan oleh 
Allah, maka yang demikian itu disebabkan karena pendeknya pandangan imannya


Penjelasan :

Setiap yang dijadikan dan ditakdirkan itu mempunya maksud dan tujuan sebagaimana dinyatakan dua kali dalam kitab suci al Quran dengan ayat yang sama : Dan (ingatlah) tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main. (QS. Al Anbiya/21 : 16 / QS. ad Dukhan/44 : 38 )

Oleh sebab itu Rasulullah saw melarang umatnya untuk mencaci maki  taqdir musibah dan kejadian yang telah terjadi, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang  : “ Janganlah kamu menuduh Allah dengan suatu tuduhan yang tidak baik pada setiap kejadian yang sudah ditaqdirkanNya “.
Seorang mukmin harus meyakini bahwa didalam setiap musibah yang telah ditakdirkan itu pasti ada kebaikan, sebagaimana sabda Rasululah : “ Siapa yang dikehendaki Allah untuknya kebaikan maka orang tersebut akan diuji dengan musibah dan bala “ . Abu Hurairah dan Abu Said r.a. menceritakan bahwa Rasulullah bersabda : “ Tiada sesuatu yang mengenai seorang mukmin berupa penderitaan atau kelelahan, atau kerisauan hati dan pikiran melainkan itu semua akan menjadi penebus dosa bagi orang tersebut” ( riwayat Bukhari dan Muslim ).

 Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah bersabda :” Tiada seorang muslim yang terkena musibah dan bala bencana atau penyakit atau sesuatu yang lebih ringan daripada itu melainkan Allah akan menggugurkan dosanya bagaikan daun yang gugur “ . Oleh sebab itu dalam setiap musibah terdapat hikmah kebaikan dan rahmat Allah, dan jika seseorang tidak dapat melihat kebaikan dan rahmat dalam suatu musibah, maka itu disebabkan dangkalnya pandangan orang tersebut atas musibah yang telah ditetapkan Allah kepadanya.
Iman itu mempunyai dua sendi, yaitu yakin dan sabar, sebagaimana dinyatakan oleh sahabat nabi, Syahar bin Hausyab bahwa : “ Sesuatu yang paling sedikit yang diberikan kepada kamu adalah yakin dan sabar “. Artinya di dalam melihat sesuatu kejadian kita meyakini bahwa iu semua datang dari Allah dengan penuh kebaikan dan ahmatNya, oleh sebab itu kita harus menghadapinya dengan penuh kesabaran, sebab di dalam kejadian musibah dan bencana tersebut kita akan mendapatkan pahala, mendapatkan ampunan dosa, dan kenaikan pangkat dan kedudukan di depan Allah subhana wa ta’ala. Jika kita meyakini bahwa musibah itu mendatangkan kebaikan maka kita akan bersyukur dengan bencana dan musibah tersebut. Oleh sebab itu sahabat nabi Ibnu Mas’ud berkata : “ Iman itu memiliki dua sisi, sabar dan syukur “. Diantara doa yang diajarkan nabi kepada kita adalah meminta keyakinan dan kesabaran : “ as’aluka minal yakini ma tuhawwinu alayya bihi min masaibad dunya , Aku bermohon kepada Engkau Ya Allah suatu keyakinan yang dapat memudahkan aku untuk menghadapi musibah-musibah dunia “ ( riwayat Tirmidzi ).

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata dalam pidatonya : “ Apa yang dianugerahkan Allah kepada seorang hamba daripada nkmat, lalu dicabutnya nikmat tersebut dan digantikannya dengan sabar maka apa yang digantikan Allah tersebut (sabar ) lebih utama daripada nikmat yang dicabutNya “ kemudian dia membaca ayat : “ Sesungguhnya bagi orang yang sabar itu akan disempurnakan Allah ganjaran pahala atas kesabaran tersebut dengan balasan  pahala yang tiada terhingga “ ( QS.az Zumar : 10 ).

Diriwayatkan ada diantara orang-orang salaf ( terdahulu ) berjalan dengan membawa duit yang diletakkan di kantong bajunya. Di tengah jalan, uang tersbeut dicuri oleh seseorang, maka dia berkata : “ Semoga Allah memberikan keberkatan kepada orang yang mengambil uang tersebut, dan semoga orang itu lebih memerlukan uang itu daripada dirinya “. Demikian juga, seorang wanita, istri dari Fatah bin Syukruf al Mosuli jatuh terpeleset, sehingga tercabut kuku kakinya, kemudian dia tertawa dan bergembira. Sewaktu ditanyakan kepadanya mengapa dia bergembira dengan kejadian tersebut, dan tidak merasa sakit, maka dia menjawab : “ Sesungguhnya kelezatan pahala yang terdapat pada musibah ini menghilangkan rasa sakitnya “.

Rumaisha, Ummu Salim menceritakan : Anakku yang laki-laki meninggal dunia, sedang suamiku sedang keluar. Aku bangun berdiri dan menutup muka anakku dan kuletakkan di sudut rumah. Tak lama kemudian datanglah suamiku Abu Talhah, dan aku segera  menyiapkan makanan buka puasa untuknya. Sedang makan, suamiku bertanya : Bagaimana anak kita ? Aku menjawab : “Alhamdulillah, dia dalam keadaan baik ”. Kulihat suamiku senang dengan jawaban tersebut, kemudian aku bertanya : “ Tidakkah engkau heran dengan tetangga kita “, dan dia bertanya : “ Ada apa dengan mereka ? “. Aku menjawab : “ Mereka dipinjamkan dengan suatu pinjaman, tetapi tatkala pinjaman itu diminta kembali, ereka bersusah hati “. Suamiku menjawab : “ Itu adalah akhlak yang buruk “. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan : “ Anak lelaki kita itu adalah pinjaman Allah kepada kita, dan sekarang Allah telah mengambilnya dan kembali kepadanya “. Suamiku segera memuji Allah dan bersikap redha dengan keadaan tersebut. Keseokan harinya suamiku menjumpai Rasulullah dan menceritakan keadaan itu, maka Rasul berdoa : “ Allahuma barik lahuma fi lailatihima…Ya Allah berikanlah berkah kepada keduanya dengan sikap mereka berdua pada malam tersebut “. Anas yang menceritakan kisah ini selanjutnya menyatakan : “ Kemudian, aku melihat kedua suami istri tersebut memiliki tujuh orang anak. Semua anak tersebut  pandai membaca al Quran “. Sahabat Jabir jga menceritakan bahwa dia pernah mendengar Rasulullah bersabda : “ Aku bermimpi masuk surga, dan dalam mimpiku tersebut aku bertemu dengan istri Abu Talhah “ ( hadis riwayat Thabrani ).

Pada suatu hari, Rasulullah ditanya: “ Apakah iman ? “,  Rasulullah bersabda : “ Iman itu adalah bersikap sabar dan suka memaafkan “.  Ali bin Abi Thalib  berkata : “Iman itu dibangun atas empat tiang, yakin, sabar, jihad, dan adil”. Kemudian Ali melanjutkan : “ sabar itu dari iman adalah sebagaimana kedudukan kepala dari badan. Tiada badan yang tidak memiliki kepala, dan tiada iman bagi orang yang tidak memiliki kesabaran “. Oleh sebab itu dalam suatu hadis, Rasulullah bersabda : “ Lakukan ibadah kepada Allah dengan penuh keridhaan. Jika kamu tidak sanggup untuk ridha, maka sabarlah kamu atas apa yang kamu tidak suka “ ( Tirmidzi ).

Seorang lelaki menjumpai ulama Sahal Tustary berkata : “ Seseorang telah ke dalam rumah dan mencuri hartaku “. Sahal menjawab : “ Bersyukurlah kepada Allah, sebab yang hilang itu hanya hartamu. Jikalau syetan yang datang dan masuk ke dalam hatimu, dan merusak tauhidmu, apakah yang dapat engkau perbuat..? “. 

Khalifah Umar bin Khattab berkata : “ Tidaklah aku mendapat bencana melainkan ada padanya empat nikmat : (1) Bencana itu bukan bencana yang merusak agamaku, (2) Tiada terjadi bencana yang lebih besar daripadanya (3) Dengan bencana , aku mendapatkan sikap redha kepada takdirNya (4) Dengan bencana, aku bersabar dan mendapatkan pahala dari bencana tersebut.


Wallahu A’lam bis sawaab.

AL HIKAM 115

AL HIKAM 115

 لِيُخَفِّفْ أَلَمَ الْبَلاَءِ عَلَيْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِى لَكَ فَالَّذِى وَاجَهَتْكَ مِنْهُ الأَقْدَارُ هُوَ الَّذِى عَوَّدَكَ حُسْنَ الاَخْتِيَارِ 
Terjemahan :
Seharusnya terasa ringan kepedihan bala yang menimpa kepadamu, kerana engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji padamu, maka Tuhan yang menimpakan kepadamu takdirNya itu. Dia pula yang telah memberi kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu ( Ibnu Athaillah )

Penjelasan :

 1. Hidup adalah ujian 

Segala sesuatu dalam kehidupan ini, baik dan buruk adalah merupakan ujian daripada Allah untuk melihat bagaimana sikap kita sebagai hamba kepada Tuhannya. Dalam al Quran dinyatakan : “ Kami jadikan kebaikan dan keburukan itu suatu ujian bagi kamu “ ( QS. Al Anbiya/21 : 35 )  “ Dan Kami jadikan sebagian kamu dengan sebagian yang lain itu merupakan ujian, apakah kamu dapat bersabar “ ( QS. Furqan/25 : 20 ). “ Sesungguhnya harta kekayaan dan anak-anak yang kamu miliki itu semua merupakan ujian bagi kamu, dan apa yang ada pada sisi Allah itu pahala yang besar “ ( QS. At Taghabun/64 : 15 ).

 2. Kebaikan juga terdapat dalam sesuatu yang tidak engkau suka. 

“ Dan kadangkala pada sesuatu yang kamu benci itu ada kebaikan bagi kamu, dan pada sesuatu yang kamu suka itu ada keburukan bagi kamu, dan Allah Maha Mengetahui, dan kamu tidak mengetahui “ ( QS. al Baqarah : 216 ) “ Kadangkala pada apa yang kamu benci itu, Allah jadikan kebaikan yang banyak “ ( QS. an Nisa : 19 ) 

 3. Tidak semua kenikmatan itu terdapat kebaikan.

Jika seseorang mendapat nikmat yang banyak, dapat berakibat kepada sikap yang melampau sebagaimana dinyatakan dalam al Quran :  “ Dan jika Allah lapangkan rezeki bagi hambaNya di muka bumi, maka mereka akan bersikap melampau “ ( QS. as Syura : 37 )

Nikmat yang banyak juga dapat menjadkan seseorang itu lupa akan erngatan Tuhan.  “ Pada waktu mereka lupa atas apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami akan bukakan bagi mereka semua pintu-pintu segala sesuatu, dan apabila ereka bergembira dengan apa yang datang kepada mereka, Kami akan ambil apa yang telah Kami berikan tersebut, dan mereka akan gagal sepenuhnya “ ( QS. Al An’am : 44 ) 

Oleh sebab itu dalam kesabaran menunggu jawaban atas permintaan dan dosa atas  itu terdapat kebakan, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Orang yang sabar itu akan mendapat keselamatan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk “ ( Qs. al Baqarah : 157 ) . Rasulullah bersabda : “ Di dalam kesabaran atas apa yang kamu tidak suka itu terdapat kebaikan yang banyak “ ( riwayat Tirmidzi ) 

 4. Tanda Iman : Syukur, sabar dan ridha 

Ibnu Abbas menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah bertanya kepada sahabat : Apakah kamu termasuk orang yang beriman ? Sahabat terdiam, dan Umar bin Khtaatb menjawab : Ya, Rasulullah, kami orang yang beriman. Rasululah kembali bertanya : Apakah tanda iman kamu ? Sahabat menjawab : Kami bersyukur dengan nikmat, sabar dengan musibah, dan ridha dengan segala ketetapan Allah “. Rasulullah bersabda : Demi Tuhan yang memiliki Ka’bah, jika demikian, kamu adalah orang yang beriman “ ( riwayat Thabrani ). 

 5. Kebaikan di balik kesabaran.

Sabar itu memilki nilai pahala,  “ Sesungguhnya orang yang sabar itu akan mendapatkan balasan dengan pahala yang tidak terhitung “ ( QS. az Zumar : 10 ) “

Dalam kisah dinyatakan,  seseorang lelaki berkata kepada Rasulullah : Ya rasulullah beri aku wasiat, maka Nabi bersabda : “ Janganlah kamu menuduh atas segala yang telah Allah tetapkan “, kemduian Rasul meneruskan : “ Ada perkara yang menakjubkan bagi kehidupan seorang yang beriman keppada Allah : Jika ditakdirkan mendapat kesenangan, dia ridha dan itu adalah kebaikan bagi dirinya, dan jika ditakdirkan baginya suatu keburukan, maka dia juga ridha dan itu juga merupakan kebaikan bagi dirinya ( riwayat Muslim )

 6. Kedudukantinggi dicapai  dengan sabar.

 “ Sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah yang mana kedudukan itu tidak akan tercapai dengan amal biasa, sehingga dia diuji dengan bala dan musibah pada badannya dan dengan itu dia mendapatkan kedudukan mulia “ ( riwayat Abu Daud ).

 7. Ampunan dosa di balik musibah. 

Sewaktu turun ayat 123 dari surat an Nisa : “ Sesiapa yang mendapat keburukan, maka dia mendapatkan pahala “, maka Abu bakar bertanya : Apakah maksud ayat ini ? Rasulullah menjawab : “ Allah memberikan ampunan kepada engkau wahai Abu bakar, bukankah engkau pernah sakit..? Bukankah engkau pernah dianiaya, bukankah engkau pernah sedih ? Itu semua akan mendapat balasan pahala daripada Allah “ ( riwayat Tirmidzi ) .

Wallaahu A’lam.

Wednesday, January 7, 2015

TADABBUR SURAH ALKAFIRUUN


Terjemahan : 

Katakan : Hai orang kafir !(1)  Saya tidak menyembah apa yang kamu sembah (2) Dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang kami sembah (3) Dan saya tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah (4) Dan kamu juga tidak pernah menyembah apa yang aku sembah (5) Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku ( 6 ).

Sebab turun ayat :

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Mina, bahwa ada beberapa orang tokoh myusrikin Makkah, Walid bin Mughirah , Aswad bin Muthalib dan Umayah bin Khalaf menjumpai nabi Muhammad dan berkata : Hai Muhammad bagaimana jika engkau menyembah apa yang kami sembah dan nanti kami menyembah apa yang engkau sembah dan engkau bergabung dengan kami dalam segala urusan, dan kami juga akan ikut kamu dalam segala urusan, dan nanti jika apa yang ada pada kami lebih baik dariapa yang ada pada kamu, maka kamu telah mendapat sesuatu, dan jika nanti apa yang kamu punya lebih baik dari apa yang kami punya maka kami telah mendapat keuntungan “, maka Allah segera menurunkan surah al Hakirun kepada Nabi, sebagai petunjuk dalam bersikap terhadap usulan mereka. Sedang menurut Ibnu Abbas Surah ini turun disebabkan orang kafir Qurasiy menawarkan kepada nabi muhammad harta kekayaan, sehingga menjadi orang yang terkaya di Makkah, dan akan dicarikan perempuan yang paling cantik, dengan syarat agar nabi menghentikan untuk mengatakan yang tidak baik terhadap tuhan mereka (berhala), dan jika tidak mau juga mereka menawarkan kepda nabi, jalan kompromi yaitu bagaimana jika satu tahun mereka (orang kafir Makkah) menyembah Allah dan pada tahun selanjutnya berganti dimana Muhammad dapat menyembah tuhan mereka. Sebab adanya tawaran dari kaum kafir Makkah ini, maka Allah menurunkan surah al kafirun, sebagai petunjuk bersikp dengan tawaran orang kafir tersebut. (Imam Suyuthi, Durrur Manstur fi tafsir Ma;tsur, jilid 6, hal.692).

Tadabbur ayat :

 Jika kita kaji ayat yang pertama berarti : “ Katakanlah Hai orang kafir “, maka ayat pertama ini menyuruh nabi Muhammad berani bersikap dan berani berkata untuk menolak tawaran tersebut. Beda jika ayat tersebut berbunyi : “ Hai Muhammad : engkau tidak boleh menyembah apa yang mereka sembah “, sebab ayat ini hanya memberikan keyakinan ke dalam hati, bukan ayat untuk memerintahkan bersikap. Tetapi kalimat “ Hai orang kafir “, ini lebih tegas sebab menyuruh Nabi untuk berani bersikap tegas. Inilah sikap orang beriman dalam merespon gangguan akidah yang datang dari agama di luar Islam. Ini bukan masalah toleransi, tetapi masalah sikap menghormati keyakinan, sehingga agama lain tidak boleh ikut campur untuk mengatur keyakinan agama Islam. Ibnu Katsir menyatakan bahwakata-kata : “ orang kafir “ dalam ayat ini berlaku untuk semua orang kafir di seluruh muka bumi, tidak terbatas kepada orang kafir Makkah. ( Ibnu Katsir, Tafsir Quran al’Adzim, jilid4,hal.631) 

 Ayat kedua : “ Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah “. Inilah sikap seorang mukmin yang harus dipahami dan dihormati oleh orang yang berlainan agama, bahwa dalam keyakinan tak dapat ditukar-tuar, diganti-ganti dengan alas an apapun juga. “Tidak menyembah”, maksudnya tidak meenyembah tuhan mereka, tidak beribadah dengan cara ibadah mereka, tidak memakai atribut yang merupakan identiras agama mereka, tidak ikut perayaan hari besar meraka, sebab setiap agama mempunyai tuhan yang disembah, tatacara ibadah, identitas dan atribut yang dipakai pada hari kebesaran agama masing-masing, oleh sebab itu mari setiap penganut agama menghormati setiap agama lain, jangan memaksa agama lain untuk ikut dalam acara mereka. Imam Fakhrudin Razi dalam tafsirnya menyakatan bahwa makna “ Tidak menyembah apa yang mereka sembah “ berarti mengingkari dengan hati, lisan dan perbuatan/tindakan segala tatacara ibadah mereka.

 Ayat ketiga “ dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang kami sembah “. Jika seorang muslim tidak akan ikut acara-acara agama lain atau simbol-simbol dan atribut agama lain,maka penganut agama lain juga tidak perlu ikut-ikut acara agama Islam, atau memakai atribut, dan identitas agama Islam, sebab dapat membuat kekacauan dalam masyarakat. Bukanlah sikap toleransi dengan mengikut acara agama lain, sebab itu menghilangkan identitas dan ciri khas agama, maka dengan melarang pengikut agama lain untuk mengikuti ibadah, identitas agama lain, itulah makna toleransi beragama, sebab dengan sikap ekslusif itu agam masing-masing akan terjaga dan menjadi terhormat, malahan jika umat suatu agama ikut-ikut tatacara penyembahan agama lain, itu merupakan sikap pelecehan terhadap suatu agama. 

 Ayat keempat dan kelima: “ Dan kamu tidak pernah menyembah apa yang aku sembah , dan aku tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah “. Jika pada ayat kedua dan ketiga kata-kata menyembah dalam kata kerja sekarang dan akan datang ( fi’il mudhari’), sedangkan pada ayat empat dan lima, kata menyembah dalam kata kerja terdahulu ( fi’il madhi ), sehingga makna ayat dua dan tiga “ kami tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kami tidak mengharapkan agar kamu menyembah apa yang kami sembah “, sedang pada ayat empat dan lima bermakna “kami tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu juga tidak pernah menyembah apa yang telah kami sembah “. Seakan-akan dikatakan , jika selama ini kami tidak menyembah apa yang kamu sembah, mengapa sekarang kamu mememinta agar kami menyembah apa yang kamu sembah. Berati dalam ayat ini tersirat bahwa permintaan tersebut bukanlah permintaan yang jujur, tetapi suatu strategi orang kafir untuk menipu atau mengelabui orang islam dalam tatacara ibadah, sebab jika orang kafir kan menyembah apa yang kami sembah, maka nanti kamu meminta agar kami menyembah apa yang kamu sembah. 

Dalam ayat ini tersirat pesan agar umat Islam berhati-hati dengan strategi orang kafir dalam merusak akidah dengan percampuran tatacara ibadah atau ikut-ikutan perayaan dan atribut beribadatan. Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini bekata bahwa “ aku tidak menyembah apa yang kamu sembah “, maksudnya bahwa aku tidak melakukan tatacara ibadah agama kamu, tidak melakukannya dan juga tidak pernah ikut-ikutan untuk melakukannya, sebab aku hanya menyambah Allah dengan tatacara yang disukaiNya dan tatacara yang diridhaiNya. Ibnu Katsir melanjukna bahwa dalam ayat “ dan kamu tidak pernah pernah menyembah apa yang aku sembah “, maksudnya kamu (orang kafir) tidak mengikuti perintah Alah dan hukum syariatNya dalam tatacara ibadah, sebab tatacara ibadah orang kafir itu merupakan kreasi mereka sendiri.

 Ayat ke-enam “ Bagi kamu agama kamu bagi kami agama kami “. Ini merupakan ayat untuk mengajarkan umat islam agar menghormati agama lain, dan agama lain juga harus menghormati agama Islam. Jika ayat diatas berbicara sikap keyakinan umat Islam terhadap ajakan orang mencampur adukkan tatacara ibadah atau atribut peribadatan, dimana umat islam harus tegas menolak ajakan tersebut, maka ayat terakhir ini, menyatakan tentang adab sesama umat beragama untuk saling menghormati keyakinan, tatacara ibadah, dan atribut peribadatan masing-masing, sehingga perbedaan keyakinan, perbedaan tatacara ibadah, perbedaan atribut peribadatan tidak merupakan penyebab peperangan, perkelhian, kekacauan sesama umat beragama.

 Ibnu Abbas menyatakan bahwa dengan pernyataan “ bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku “, itu eakan-akan nabi berkata : Sesungguhnya aku dibangkitkan kepada kamu untuk mengajak kamu kepada kebnaran dan keselamatan, dan jika kamu tidak menerima ajakanku, maka jangan ikut aku, dan tinggalkan aku dan jangan engkau ajak aku kepada syirik”. Inilah sikap seorang muslim, tegas dalam akidah dan prinsip keyakinan, sehingga tidak perlu mengikuti tatacara ibadah agama lain, sebab kita berbeda dengan mereka; tetapi ketegasan itu harus diikuti dengan akhlak yang mulia, bukan dengan pertengkaran dan peperangan, tetapi dengan sikap menghargai perbedaan. 

Sejarah membuktikan bahwa perbedaan keyakinan pada masa lalu tidak menimbulkan perkelahian, maka hal tersebut dapat diwujudkan pada masa akan datang tanpa memaksa kelompok lain untuk mengakui kebenaran agama lain, atau mengikuti tatacara ibadah, atau mengikui perayaan hari besar agama yang lain. Zaid bin Harisah berkata : Hai Rasul ajarkan aku sesuatu yang harus aku baca sebelum tidurku , maka nabi menjawab : Apabila engkau akan tidur bacalah Qs.Alkafirun, karena sesungguhnya itu dapat melepaskan kamu daripada syirik “.(rwayat Ahmad dan Thabrani ). 

Nabi menganjurkan umatnya agar membaca Surah al Kafirun dengan maksud agar umat Islam tidak akan terperangkap dalam segala upaya orang kafir yan akan mengajak atau memaksa umat islam untuk megikuti budaya, cara hidup, pemakaian atribut dalam perayaan, ibadah dan lain sebagainya. Itulah sebabnya nilai surah alKafirun ini sama dengan sepertiga AlQuran, sebab pemahaman surah ini dapat menguatkan akidah umat dan bersikap terhadap ajakan orang kafir. Kehidupan harmonis dalam masyarakat hanya dapat terjadi setiap agama menghormati keyakinan agama lain yang dibuktikan dengan menghormati tatacara ibadah, atribut dalam perayaan agama, inilah toleransi agama, bukan dengan cara mengikuti atau ikut merayakan hari besar agama lain dengan ikut-ikutan simbol dan atribut mereka. Fa’tabiru ya Ulil albab.


Tuesday, January 6, 2015

NILAI WAKTU

“ Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan “ ( QS. At taubah : 36 )

 Di awal tahun dua ribu lima belas ini mari kita merenungi nilai waktu dalam kehidupan, karena dengan menghayati makna waktu tersebut baru kita dapat menghargai waktu dan mempergunakannya sebaik mungkin, sehingga kita akan menjalani hidup di tahun yang baru ini dengan semangat yang lebih daripada tahun yang lalu. Banyak orang yang tertipu dengan perjalanan waktu, sehingga waktu hanya dilaluinya dengan hiburan dan permainan belaka, padahal waktu itu adalah sesuatu yang sangat berguna bagi kehidupan kita. Sebagaimana mana banyak orang bergembira dengan datangnya tahun baru setiap wal januari, malahan kadang-kadang membuat penyambutan satu januari dengan segala macam acara dengan pidato sambutan dari presiden sampai kepada kepala er-te, tapi sayang mereka tidak dapat menghargai waktu tersebut dengan aktivitas yang bernilai atau dengan program yang dapat memberikan pendidikan kepada jiwa, pikiran ataupun hati, sehingga penyambutan itu merupakan perbuatan yang sia-sia dan hampa. Sebagai muslim kita perlu mengingat wasiat rasulullah mengenai waktu sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadis : ‘ Tidak akan datang suatu hari, kecuali hari itu akan berkata-kata kepada seluruh manusia : “ Wahai anak cucu Adam, aku adalah hari baru bagimu..Aku ini akan menjadi saksi atas semua perbuatan yang kamu lakukan. Oleh sebab itu jadikanlah aku sebagai bekal hidupmu, sebab jika aku telah berlalu, maka aku tidak akan pernah kembali lagi sampai hari kiamat kelak “. Hadis dengan makna diatas diriwayatkan oleh Baihaqi dan Dailami. Begitu tingginya nilai waktu bagi kehidupan, sehingga dalam Al Quran kita akan mendapati bahwa Allah bersumpah dengan waktu seperti “ wallaili “ ( demi waktu di malam hari ), “wan-nahaari “ ( demi waktu siang ), “ Wal fajri “ ( demi waktu fajar di pagi hari ), “ wa-dhuhaa “ ( demi waktu duha, yaitu waktu matahari sedang naik ), dan “wal ahsri “ ( demi waktu ). 

Imam Fakhruddin Ar razi dalam mengomentari surah wal-ashri menyatakan bahwa : Allah subhana wa taala bersumpah dengan waktu karena di dalam waktu terdapat beberapa keajaiban, terdapat kesenangan dan kesusahan, kesehatan dan rasa sakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Juga disebabkan karena nilai dan harga waktu tidak dapat ditandingi oleh apapun jua. Itulah sebabnya Allah taala bersumpah dengan waktu. Imam Syafii dalam menilai surah wal-ashri berkata jika seandainya tidak terdapat surah yang lain dalam kitab suci alQuran, maka surah wal-ashri ini sudah cukup bagi kehidupan manusia. Bagaimana tidak ? Jika setiap detik dan menit dalam kehidupan manusia itu diisi dengan iman dan amal perbuatan yang baik, maka kehidupan manusia itu akan baik, tetapi jika satu menit saja dari waktu yang berlalu tanpa iman dan amal yang baik, maka manusia itu akan rugi selama-lamanya, sebab nilai hidup itu tergantung bagaimana manusia mengisi waktunya dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dan dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan dan dari bulan ke tahun. .

 Waktu adalah nikmat Allah yang tak ternilai harganya , karena dengan waktu yang Allah berikan kepada manusia maka manusia dapat mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat yang kekal nanti. Tapi sayang banyak manusia yang tidak dapat mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya sebagaimana dinyatakan oleh sebuah hadis : “ Dua kenikmatan yang banyak dilalaikan orang yaitu kesehatan dan kesempatan “. hadis riwayat Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Oleh sebab itu dalam beribahasa Arab ikatakan : Al waqtu kassaif “, Waktu itu laksana pedang, jika anda tidak menggunakannya dengan baik, maka ia akan memotong anda “. Berarti kalau waktu kita pergunakan dengan baik berarti kita menang, dan jika kita membiarkannya berlalu begitu saja maka kita telah kalah. Dengan kata lain, apabila anda tidak siap untuk mengambil manfaat dalam setiap kesempatan, maka anda akan binasa sebagaimana binasanya orang yang ditebas oleh sebilah pedang.

 Imam Hasan Al banna dalam artikel tentang waktu menyatakan bahwa : ‘ Ramai orang mengatakan bahwa waktu adalah emas. Pendapat ini benar dan beralasan, apabila ditinjau dari nilai sesuatu benda, karena mereka tidak dapat mengukur sesuatu yang ada kecuali dengan sesuatu benda. Padahal, sebenarnya waktu lebih berharga daripada emas karena waktu itu adalah suatu kehidupan. Emas kadang-kadang boleh hilang dan kita masih dapat mencari penggantinya atau mendapatkan sesuatu yang lebih banyak daripada yang hilang. Sedangkan waktu, apabila telah pergi, maka mustahil dapat kembali lagi atau dapat dikembalikan lagi, itulah sebabnya waktu itu lebih berharga daripada emas, intan, berlian, dan permata lainnya, karena waktu itu adalah kehidupan. Oleh karena waktu adalah kehidupan, maka dapat dikatakan bahwa membuang dan mensia-siakan waktu berarti membuang mensia-siakan kehidupan kita sendiri. Orang yang lalai , maka waktunya akan berlalu dan waktu itu tidak dapat diulang lagi sebab tidak mungkin hari kemarin diputar dan dijadikan hari ini. Waktu itu bagaikan awan, maka barangsiapa yang dapat menggunakan waktunya sesuai dengan petunjuk Allah maka dia akan memiliki kehidupan yang sebenarnya tetapi barangsiap yang tidak menggunakannya sesuai dengan petunjuk Allah, maka hidupnya laksana hewan yang menghabiskan waktunya hanya untuk mengikuti hawa nafsu, dan sesuatu yang tidak bernilai. Lihat saja bagaimana mereka yang menghabiskan waktunya dengan permainan video game, main catur, duduk-duduk di warung , di diskotik, di pinggir jalan, itu hanyalah menghabiskan waktu tanpa sesuatu yang bermanfaat. Ada lagi mereka yang membuang waktu dengan membaca majalah picisan, novel-novel fiktif, nonton filem , sinetron, telenovela, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh kaum wanita di rumah-rumah, bukankah itu semua membuang waktu mereka dengan kegiatan yang tidak memberikan manfaat bagi keperluan dunia maumun untuk kebaikan di akhirat. Mengapa waktu itu tidak diperguanakn untuk kegiatan yang lebih positip ataupun yang bersifat produktif..? Sudah waktunya sebagai muslim, kita merobah cara hidup dari hidup dengan santai, penuh hiburan dan permainan menjadi hidup yang penuh dengan pekerjaan yang positip dan produktif, baik untuk kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Sudah sewajarnya kita selalu bertanya ; ‘ Apa yang telah saya lakukan dalam mengisi waktu saya setiap hari..? Sudahkan saya pergunakan untuk menjaga kesehatan, untuk menambah harta kekayaan, untuk menambah ilmu pengetahuan, untuk membantu orang lain, atau untuk sesuatu yang bermanfaat baik bagi diriku maupun bagi orang lain.. “.

 Amir bin Abdul Qais, seorang ulama yang zuhud pada suatu hari didatangi seseorang yang memintanya untuk bercerita, maka beliau menjawab : “ Hentikan dahulu matahari itu. Tahanlah agar ia tak bergerak, hingga aku sempat untuk bercerita kepadamu, sebab waktu akan terus bergerak dan apa yang telah aku lakukan tidak akan pernah kembali. Maka apabila ada suatu kerugian, niscaya kerugian itu tidak boleh diganti dan ditukar, karena setiap waktu itu mempunyai bagian-bagian tersendiri “. Oleh karena itu sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Mas’ud berkata : “ Saya tidak pernah menyesali suatu hal, seperti penyesalan saya atas hari yang telah berlalu, dimana umurku telah berkurang dan aku tidak sempat menambah amal baikku “. Oleh sebab itu Nabi berpesan : “ pergunakanlah waktu kosongmu sebelum datang waktu sibukmu “, malahan beliau telah mengajari kita agar selalu berdoa setiap pagi dan petang dengan doa : Allahumma inni a’udzubika minal ajzi wal kasal “, Ya Allah aku berlindung kepadamu daripada lemah dan malas. Oleh sebab itu itu sebagai seorang muslim sepatutnya menghindar dari sifat malas karena malas itu laksana syetan yang haru kita jauhi, sehingga kita disuruh untuk meminta perlindungan kepada Allah subhana wataala. Imam Ibnu Jauzi berkata : “ Malas adalah teman yang paling buruk, dan suka bersantai-santai dapat mewariskan penyesalan yang luar biasa “. 

 Seorang muslim harus waspada daripada sifat malas dan santai. Seorang muslim juga tidak perlu takut lelah, karena jika seorang muslim bekerja dengan sekuat tenaga, maka butiran keringat akan bernilkai pahala disisi Allah subhana wa taala. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda : “ Allah sangat senang kepada seorang hamba apabila bekerja sampai merasa kelelahan “. Dengan kelelahan bekerja disana terdapat kecintaan daripada Allah Taala. Itulah sebabnya Umar bin Khattab sangat membenci orang yang tidak bersemangat dalam bekerja dengan katanya : “ Aku sangat membenci seseorang yang tidak mempunyai semangat dalam mencari kemaslahatan dunia dan akhirat “. Memasuki tahun dua ribu lima belasini sudah sepatutnya kita sebagai masyarakat muslim merobah cara hidup. Dari cara hidup malas, hidup santai, hidup berleha-leha, dirobah menjadi cara hidup kerja keras, penuh disiplin, kreatif, produktif, yang melakukan kegoiatan positip baik untuk akal pikiran, kesehatan, ilmu pengetahuan, kekayaan dunia, atau untuk kehidupan akhirat. Ahmad sayuqi, penyair Arab berkata ; “ Denyut jantung manusia selalu berkata : Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah beberapa saat saja. Maka angkatlah nama baikmu untuk bekal apabila kamu mati, karena nama baik bagi manusia adalah umur baru “. Al Faqih Umarah Al Yamani berkata : ‘ Jika modalmu adalah umurmu, maka waspadalah..jangan sampai kau pergunakan umurmu tersebut di jalan yang tidak benar. Karena di dalam pergantian siang dan malam terdapat pertarungan yang tentera-tenteranya akan membawa kepada kita segala macam keajaiban dan sesuatu yang tak terduga “. Akhirnya marilah kita memasuki tahun ini dengan merenungi sebuah hadis nabi yang bermakna : ‘ Orang mukmin itu berada di antara dua kekhawatiran : kekhawatiran waktu yang telah berlalu, yang mana ia tidak tahu apakah waktu itu akan diberi ganjaran oleh Allah kepadanya, dan kekhawatiran waktu yang akan datang dan masih ghaib baginya, dimana dia tidak tahu apakah yang telah ditaqdirkan Allah kepadanya “. Fa'tabiru Ya Ulil albab.

Sunday, December 21, 2014

KEMULIAAN SILSILAH NABI MUHAMMAD SAW

Rasululah berasal dari keturunan keluarga yang mulia sebagaimana sabda beliau : “ Saya diutus dari yang terbaik dari setiap generasi, dari generasi ke generasi lainnya, sehingga saya berada pada generasi yang daripadanya saya datang “ ( hadis sahih dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Bukhari ). “ Allah menciptakan makhluk dan Dia menempatkan aku pada yang terbaik diantara yang terbaik dari generasi mereka.Kemudian Dia memilih suku-suku dan menempatkan aku pada suku yang terbaik, kemudian memilih keluarga dan menempatkan aku pada keluarga yang terbaik “ ( hadis dari Abbas diriwayatkan oleh Baihaqi dan Tirmidzi ) “ Allah memilih Ismail dari keturunan Ibrahim, dan memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih suku Quraisy dari Bani Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari suku Qurasiy, dan Dia memilih ku dari Bani Hasyim “. ( Hadis dari Wailah bin Asqaq diriwayatkan oleh Muslim ) “ Sesunguhnya Allah ketika menciptakanku, maka Dia menciptakanku dari sebaik-baik makhlukNya, kemudian Dia menciptakan kabilah-kabilah, dan menjadikanku dari kumpulan kabilah terbaik, kemudian Dia menciptakan jiwa, maka aku adalah jiwa yang terbaik, kemudian Dia menciptakan keluarga, maka aku dari keluarga yang terbaik, maka aku adalah merupakan jiwa yang terbaik dari keluarga yang terbaik “ ( Dari Abbas diriwayatkan oleh Tirmidzi ) “ Aku tidak dilahirkan dari perbuatan zina masyarakat jahiliyah, tetapi aku dilahirkan dari hasil perkawinan yang sah sebagaimana perkawinan dalam agama Islam “ ( Dari Abbas diriwayatkan oleh Thabrani ) 

Pakar sejarah Arab , al Kalbi menyatakan : “ Aku telah menelusuri 500 ibu dari silsilah keturunan nabi Muhammad, maka aku tidak dapatkan seorangpun diantara mereka yang pernah melakukan zina atau sesuatu perkara yang buruk bagi masyarakat jahiliyah “ ( riwayat Ibnu Asakir dan Ibnu Said ) Silsilah Nabi Muhammad Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Kusay bin Kilaab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihir ( digelar dengan nama Quraisy ), bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar bin Ma’aad, bin Adnan dan seterusnya sampai kepada nabi Ismail a.s. Hanya silsilah sampai Adnan ini telah disepakati para ulama sedangkan setelah Adnan, masih ada beberapa perbedaan pendapat.

Disebut dengan kaum Quraisy adalah keturunan setelah Fihir, sedangkan sebelum Fihr disebut dengan Bani Kananah. Abdullah bin Abdul Muthalib ( ayah nabi ) orang yang tampan dan direncanakan untuk menjadi tebusan anak yang akan dikorbankan sebagai nazar ayahnya jika mendapat sepuluh anak yang akan membantunya dalam menggali telaga zamzam setelah ditutup oleh masyarakat sebelumnya. Abdul Muthalib ( kakek pertama ) adalah pemimpin masyarakat Makkah pada zamannya. Hasyim ( kakek kedua ) orang yang membuka jalur perniagaan masyarakat Makkah ke Syria, Yaman, Habsyah dan Parsi. Abdul Manaf (kakek ketiga) adalah pemelihara Ka’bah dan memberikan pelayanan makan, minum bagi pengunjung Ka’bah Baitullah. Kusay ( kakek keempat) seorang yang dapat mengembalikan kepemimpinan Makkah kepada keturunan Ismail, sebab sebelumna Makah dipimpin oleh bani Khuza’ah, pendatang dari yaman. Kilab ( kakek kelima ) adalah orang yang pertama memberikan nama 12 bulan kepada masyarakat Arab. Murah ( kakek ke-enam ) adalah seorang yang dianggap sebagai orang yang mulia dan rujukan masyarakat. Ka’ab ( kakek ketujuh ) adalah seorang mahaguru sebab setiap hari jumat memberikan pengajian kepada masyarakatnya. Fihir ( kakek ke sepuluh ) adalah seorang yang berani dan pemurah, sehingga dinamakan dengan Quraisy yang bermakna memecah roti, sebab pada waktu krisis pangan, Fihir mencari roti yang banyak dan membagi-bagikannya kepada masyarakat. Ilyas ( kakek keenam belas ) dianggap sebagai ahli filsafat bagi masyarakat Arab Mudhar (kakek yang ketujuh belas ) orang yang sangat tampan dan ramah dengan masyarakatnya. Nizar ( kakek ke-18) seorang yang cantik dan tampan ) dan memiliki pemikiran yang cerdik dan bijaksana Ma’ad ( kakek yang ke-19) adalah orang yang berani dan pakar strategi perang. Demikianlah kemulian keturunan dari silsilah Nabi Muhammad, sehingga beliau dapat menjadi manusia yang paling mulia dari seluruh umat manusia sepanjang zaman. Wallahu A'lam.