Pages

Thursday, December 11, 2014

HIJRAH, PERSAUDARAAN DAN EKONOMI

Setelah membangun Masjid Madinah, langkah pertama yang dilakukan nabi dalam memimpin masyarakat Madinah adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin, yang datang dari Makkah dengan kabilah Arab Anshar yang berasal dari Madinah. Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar dari umat Islam ini sangat penting, sebab diantara masyarakat Madinah juga terdapat masyarakat yahudi, dan sejarah telah membuktikan bahwa sebelum kedatangan nabi ke Madinah, masyarakat Madinah yang terdiri dari kaum Kharaj dan Aus terlibat dalam peperangan yang berlangsung selama dua ratus tahun. Peperangan tersebut disebabkan isu-isu yang ditiup-tiupkan oleh masyarakat yahudi Madinah, sehingga kabilah Arab disibukan dengan peperangan, sehingga akhirnya masyarakat yahudi dapat menguasai politik dan ekonomi Madinah. Untuk menghindari perpecahan yang mungkin timbul antara Muhajirin dan Anshar, maka langkah pertama yang dilakukan adalah mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar yang diikat dengan ikatan persaudaraan iman. 

Rasulullah mempersaudarakan satu orang Muhajirin dengan satu orang Anshar seperti Abubakar dengan Kharijah bin Zaid, Umar bin Khatab dengan Ataba bin Malik, Usman bin Affan dengan Aus bin Tsamit,Bilal bin Rabah dengan Abu Ruwaihah, Salman al Farisi dengan Abu darda, Ammar bin Yasir dengan Huzaifah bin Yaman, Abdurahman bin Auf dengan Saad bin Abi Rabi’. Persaudaraan tersebut merupakan persaudaran sejati sehingga sewaktu Sa’ad bin Abi rabi’ menerima Abdurahman bin Auf sebagai saudaranya, maka untuk membuktikan persaudaraan tersebut dia berkata kepada Abdurrahman bin Auf : Wahai Abdurahman, sebab engkau sekarang adalah saudaraku, maka aku akan memberikan kepadamu sepatuh dari harta kekayaan yang aku miliki “. Tetapi disebabkan Abdurahman bin Auf adalah sahabat yang beriman dan berakhlak mulia, maka dia menjawab : “ Wahai saudaraku, tidak usah engkau membagi dua harta kekayaanmu itu, tetapi beri aku informasi dimana letak pasar di Madinah ini sehingga aku dapat berniaga “. Begitulah tingginya nilai persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin, sehingga riwayat mengatakan bahwa ada sahabat dari kaum Anshar yang mewariskan 1/6 dari harta kekayaannya kepada muhajirin, sebab pada waktu itu hukum waris yang sebenarnya belum diturunkan. 

 Melihat persaudaraan Muhajirin dan Anshar yang begitu erat, Kaum Yahudi Madinah tidak merasa senang dengan keadaan tersebut, sehingga mereka menyebarkan isu dan fitnah bahwa kedatangan kaum Muhajirin ke Madinah itu hanya memberatkan masyarakat kaum Anshar Madina, sebab banyak diantara kaum Muhajirin menumpang hidup di rumah kaum Anshar. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka semua masyarakat Muhajirin mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan profesi dan keahlian mereka masing-masing, sebagamana yang dicontohkan oleh Abdurahman bin Umar, dimana beliau adalah seorang yang berjiwa pedagang, sehingga sewaktu ditawari harta kekayan, beliau menolak pemberian tersebut, digantikan dengan informasi tempat berniaga, sehingga beliau dapat memulai kembali perniagaan sebagaimana yang beliau lakukan sewaktu berada di Makkah. 

Kawasan Madinah adalah kawasan kebun kurma, sedangkan kawasan Makkah adalah kawasan gunung batu yang tidak memiliki kebun, sehingga masyarakat Makkah belum mengenal bagaimana cara berkebun sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk Madinah. Sebagian Muhajirin yang berjiwa niaga, mulai perlahan-lahan kembali memulai perniagaan mereka dari kota Madinah, sedangkan sebagian Muhajirin mencoba mengikuti masyarakat Madinah untuk berkebun kurma di Madinah. Sejarah mencatat bahwa pada awal hijrah tersbeut, semua Muhajirin yang datang ke Madinah mencari pekerjaan untuk menghidupi diri mereka sendiri dengan perniagaan, atau berkebun kurma, atau bekerja di kebn kurma milik masyarakat madinah. Dengan demikian, maka masyarakat Muhajirin tidak menggantungkan hidupnya dari belas kasihan dan pertolongan masyarakat Anshar, tetapi masyarakat yang mandiri , dan sebagai pembuktian bahwa persaudaraan yang dibina bukanlah persaudaraan atas kepentingan dan keuntungan, tetapi persaudaraan atas dasar agama, sebagaimana Rasul berkata kepada dua sahabat yang diikat denganpersaudaraan iman dari kaum Muhajirin dan Anshar tersebut dengan sabda beliau: “ Bersaudaralah kamu berdua karena Allah “. 

 Masyarakat Madinah sudah berpengalaman dalam berkebun kurma, dimana kurma itu akan berbuah disebabkan perkawinan antara bunga kurma yang jantan dengan bunga betina. Perkawinan tersebut dapat terjadi disebabkan oleh angina yang berhembus dan juga disebabkan oleh perkawinan yang dilakukan oleh manusia. Masyarakat Makkah tidak berpengalaman dalam bekebun kurma, sehingga mereka menyangkan bahwa buah kurma itu hanya dapat terjadi dengan perkawinan yang dilakukan oleh angin, dan dengan ketentuan Allah, tanpa harus dikawinkan dengan tangan manusia. Akibatnya banyak dari pokok kurma dari kebun kaum Muhajirin Makkah memiliki buah yang tidak sebanyak dari hasil kaum kurma yang dimiliki oleh masyrakat Anshar Madinah. Mereka mengadu kepada Nabi Muhammad, akhirnya nabi memerintahkan kaun Muhajirin Makkah tersebut untuk berguru dengan pengalaman kaum Anshar dalam mengawinkan bunga kurma lelaki dengan bunga kurma perempuan. Itulah sebabnya nabi berkata kepada kaum Anshar Madinah bahwa : “ Kamu itu ( masyarakat Anshar Madinah ) lebih mengetahui dengan urusan dunia kamu “, maksudnya bahwa masyarakat Madinah itu lebih mengetahui dalam urusan berkebun kurma sebab mereka lebih berpengelaman daripada masyarakat Muhajirin Makkah, oleh sebab itu nabi menyarankan kepada masyarakat Muhajirin untuk belajar dari pengalaman kaum Anshar Madinah dlam urusan berkebun kurma sehingga dapat menghasilkan hasil kurma yang banyak. 

Demikian juga dengan nabi Muhammad sendiri, beliau juga membuktikan bahwa diri beliau merupakan pekebun kurma yang terbaik, sebagaimana sewaktu di Makkah beliau membuktikn sebagai peniaga yang terbaik sewaktu membawa barang dagangan dari Khadijah binti Khuwalaid. Demikian juga di Madina, nabi Muhammad membuktikan dirinya sebagai peneliti dan pekebun kurma yang terbaik sehingga beliau kurma yang ditanam beliau ( kurma ajwa ) merupakan kurma yang memiliki mempunyai kualitas terbaik. Berarti jika memakan sunnah itu merupakan sunnah nabi yang digalakkan untuk diikuti, maka sebenarnya melakukan penelitian tentang kurma dan menanam bibit kurma yang terbaik yang juga dapat dikiaskan supaya umat Islam melakukan penyelidikan dan riset tentang buah-buahan, dan dapat memproduk hasil peranian, perkebunan, yang terbaik juga merupakan sunnah nabi Muhammad saw, tetapi sangat disayangkan har ini banyak umat Islam sibuk dengan sunnah makan kurma, tetapi tidak sibk dengan sunah nabi dalam melakukan riset dan pennyelidikan hasil pertanian dan perkebunan sehingga umat Islam dapat menjadi umat yang memiliki dan menguasai pertanian, perkebunan, yang terbaik sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah pada waktu beliau di Madinah. Bukan hanya menjadi peniaga dan pekebun kurma, tatapi Nabi menggalakkan masyarakat Madinah untuk menghasilkan segala keperluan hidup sehingga umat islam menjadi umat yang produktif dan tidak bergantung dengan barang produk dari negeri lain, apalagi jika produk itu dikuasai oleh orang kafir.

 Oleh sebab itu dalam piagam Madinah nabi Muhammad saw menekankan bahwa masyarakat Madinah tidak boleh bergantung dengan orang lain, sehinnga semua keperluan umat Islam dapat dihasilkan dan dibuat oleh umat Islam sendiri. Nabi juga memerintahkan sahabat untuk membuat alat persenjataan perang seperti pedang, panah, tombak, baju besi, rantai, palu, godam, dan lain sebagainya. Dalam beberapa peperangan yang terjadi pasukan kafir Makkah tidak menyangka jika umat islam Madinah memiliki alat perang yang banyak, sehingga pada tahun kesembilan sewaktu perang Tabuk terjadi, umat islam sudah memiliki 40 ribu pedang, 40 ribu pnah, dan 40. Ribu tombak disamping tombak, rantai, godan yang palu yang bakyak. Oleh sebab itu kita dapat melihat bahwa Nabi Muhammad dalam memimpin masyarakat Madina, maka usaha pertama kali dilalukan adalah menguatkan ukhuwah persaudaraan antar umat, kemudian menguatkan ekonomi umat Islam, sehingga umat Islam tidak memiliki ketergantungan dengan masyarakat lain, dari keperluan biasa sampai kepada alat senjata perang. Sebab itu dapat dikatakan bahwa persaudaran dan ekonomi masyarakat merupakan syarat dalam kejayaan suatu umat dalam memimpin dunia, dan perpecahan serta kelemahan ekonomi suatu umat merupakan sebab kelemahan suatu umat. Sudahkah umat Islam hari ini memiliki persaudaraan dan kekuatan ekonomi sebagaimana masyarakat Madinah terdahulu.. ? Fa’tabiru Ya Ulil albab.

MEMBANGUN PASAR MADINAH

Sebelum hijrah dan kedatangan Rasul, maka kota Madinah memiliki empat buah pasar, sebagai tempat orang berniaga. Pertama pasar Zabalah dan kedua pasar Al Yasar kepunyaan kelompok Yahudi Bani Qainuqa. Pasar ketiga bernama Pasar Safasir, dan keempat bernama Zaqaq. Dari semua pasar tersebut maka Pasar Qainiqa yang dimiliki orang yahudi merupakan pasar yang paling maju dan lengkap, sebab segala keperluan hidup masyarakat terdapat disana sampai kepada tukang besi, tukang emas, penukaran uang dan lain sebagainya. Oleh sebab itu kegiatan pasar dan kegiatan ekonomi masyarakat Madinah sangat tergantung dengan ekonomi yang dikuasai oleh kelompok Yahudi yang ada di kota Madinah. 

Orang Islam sudah muenjadi pelaku ekonomi, tetapi pasar masih dikuasai oleh kelompok bukan Islam. Oleh sebab itu , Nabi Muhamad melihat bahwa kaum muslimin Madinah harus melepaskan diri dari ketergantungan ekonomi kepada kelompok yang lain. Untuk itu, maka umat islam perlu mempunyai pasar perniagaan sendiri. Menurut riwayat Ibnu Zabalah dari Abas bin Sahal dari ayahnya disebutkan bahwa Nabi Muhammad untkmerealisasikan pasar tersebut mendatangi orang Bani Saidah ( kaum Saad bin Ubadah ) dan meminta mereka untuk dapat menyerahkan tanah kosong yang semula disediakan untuk tanah perkuburan. Permintaan Nabi tersebut mereka kabulkan, dan akhirnya nabi jadikan sebagai tempat perniagaan bagi umat Islam yang disebut dengan Saniyatul Wada’i. Nabi kemudian berkata sambil memukulkan tongkatnya ke atas tanah tersebut : “ Inilah pasar kamu. Semoga pasar ini tidak sempit dan tidak boleh dipungut hasil ( tidak ada uang sewa atau retribusi berniaga ) daripadanya “. Jika orang yang berniaga di Pasar Yahudi dipungut sewa, maka berniaga di pasar kaum muslimin ini bebas daripada sewa dab bea.

 Akibatnya dalam sebentar saja, maka perniaga yang pada mulanya berjualan di Pasar Yahudi segera pindah ke pasar umat Islam. Jika di pasar yahudi harga barang sangat tinggi, sebab peniaga harus membayar sewa, sedangkan di pasar umat Islam, peniaga tidak dipungut sewa tempat, sehingga harga barang menjadi ebih murah dari pasar yahudi. Akibat perbedaan tersebut, maka penduduk Madinah lebih banyak berbelanja di pasar Islam daripada pasar yahudi.Oleh sebab itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama, akhirnya pasar yahudi terpaksa ditutup, sebab tiada peniaga yang mau berniaga di pasar tersebut, sebab peniaga lebih memilih pasar yang tidak memungut sewa tempat daripada pasar yahudi yang masih tetap memungut sewa tempat. 


Dengan demikian, kegiatan ekonomi pasar dikuasai oleh umat Islam. Disebabkan pasar tersebut merupakan pasar wakaf, dan tsebaagi pemimpin masyarakat Madinah, Nabi selalu ikut mengawasi jalannya perniagaan yang ada di pasar tersebut. Menurut Ibnu Abi Zuaib menyatakan bahwa pernah pada suatu hari Nabi Muhammad saw melintas pasar tersebut dan mendapatkan ada suatu khemah , maka nabi segera bertanya : Ini khemah tempat perniagaan siapa..? Orang yang mendengar menjawab : “ Ini adalah kehmah tempat seorang lelaki dari bani Harisah menjual kurma “. Mendengar hal tersebut maka Nabi berkata : “ Bakar kalian akan hemah tersebut “. Maka khemah tersebut dibakar oleh Muhamad bin Maslamah, salah seorang panglima Rasulullah. Nabi menyruuh membakar khemah tersebut sebab didirikan di pasar kaum muslimin, sedangkan menurut peraturan bahwa pasar tersebut tidak boleh dimiliki oleh seseorang, atau di monopoli oleh seseorang sebagaimana sabda beliau sewaktu membuka pasar tersebut : “ Janganlah kamu sekat menyekat di tempat ini “. Jadi pasar umat Islam merupakan pasar bebas, bukan pasar monopoli seseorang atau satu kelompok. Rasul juga melakukan inspeksi pemeriksaaan pasar. 

Dalam riwayat dari Abdurrahman bin Yakub menceritakan bahwa pada suatu hari menurut riwayat Nabi Muhammad saw datang ke pasar madinah tersebut, dan beliau melihat ada orang yang berjualan tepung gandum. Nabi segera memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tepung gandum tersebut, dan nabi merasa di kawasan bawah terdapat gandum yang basah, sedangkan diatasnya kering. Nabi bertanya kepada si penjual : “ Apa ini, mengapa di bawah ada gandum yang basah ? Penjual tersebut menjawab : “ Gandum yang basah itu sebab kena hujan Ya Rasululah “. Mendengar jawaban dari si penjual yang demikian, nabi berkata : “ Kenapa engkau tidak letakkan gandum yang basah itu di atas, sehingga dapat dilihat orang. Siapa yang menipu maka dia itu bukan dari golongan umatku. “. Nabi marah kepada orang tersebut karena mencampur gandum yang kering dengan yang basah, dan hal tersebut dalam Islam sudah dianggap suatu penipuan. Ibnu Mughirah menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah berjalan melalui seorang lelaki yang menjual makanan di pasar itu dengan harga yang tinggi daripada yang lain. Rasul bertanya kepada orang tersebut : Apakah kamu menjual di pasar ini dengan harga yang lebih tinggi daripada yang kami tetapkan di pasar ini..? Orang itu menjawab : “ Benar Ya Rasulullah”. Rasul kemudian bertanya lagi : Apakah engkau lakukan itu karena mengharapkan keredhaan Allah ? “. Orang itu menjawab : “ Benar ya Rasululah “. Nabi bersabda : “ Ketahuilah olehmu bahwa orang yang datang membawa barang ke pasar ini sama dengan orang yang berjihad di jalan Allah. Tetapi orang yang menyimnpan barang dan menaikan harga di pasar ini sama seperti orang yang ingkar kepada Allah “. Dari riwayat ini dapat dilihat bahwa berniaga dengan kejujuran adalah jihad, sedangkan berniaga dengan tipu menipu, atau menaikan harga dari harga yang ditetapkan adalah merupakan suatu kesalahan dan dosa, dan ingkar kepada Allah.

 Pengawasan pasar sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah juga dilanjutkan oleh khalifah beliau, seperti Umar bin Khattab. Riwayat menyatakan suatu hari Umar bin Khattab melihat ada seorang tukang pandai besi membuat tempat di tepi pasar nabi tersebut, maka Umar segera menyuruh untuk meruntuhkan tapak pandai besi tersebut dan berkata : “ Jangan dikurangi pasar yang telah dibuat oleh Rasulullah “. Artyinya Umar bin Khattab tidak mengizinkan seorangpun mendirikan bangunan permanen di tempat tersebut, jika ada penjual yang ingin membuat tempat jualan yang permanen, maka tidak boleh di dalam pasar, tetapi di luar kawasan pasar. Dari riwayat diatas dapat dilihat bahwa Rasululah sangat memperhatikan bagaimana agar umat islam mempunyai pasar sendiri, sehinga tidak tergantung dengan pasar yahudi, dan sejarah menyatakan bahwa tak sampai beberapa lama maka pasar yahudi di bani Qainuqa mengalami kehancuran, sebab akhirnya pasar yang ramai di madinah adalah pasar Rasulullah, sedangkan pasar yahudi yang awalnya ramai tetapi lama kelamaan menjadi kosong. Mengapa demikian, bukan karena sentimen agama , tetapi lebih utama di pasar Rasulullah, perniaga harus berakhlak dengan akhlak mulia, sehingga penjual tidak merasa tertipu atau terdzalimi. Di pasar yahudi pembeli tidak ada jaminan keselamatan dari penipuan dan lain sebagainya. Di pasar Rasulullah, harga terkontrol dengan baik, sedangkan di pasar Yahudi harga tidak terkontrol. Akibatnya maka pengunjung pasar Rasululah tambah lama tambah ramai, bukan hanya dari kalangan umat Islam tetapi juga dari kalangan yang lain. 

Dsamping itu Rasulullah juga selalu mendidik umat islam untuk berniaga dengan penuh kejujuran sehingga beliau mengatakan bahwa peniaga yang jujur adalah sama dengan orang yang berjihad, sedangkan peniaga yang tidak jujur adalah sebuah pengingkaran kepada perintah Allah. Sejarah menyatakan bahwa inilah yang dilakukan Rasulullah pada awal hijrah, yaitu membangun ekonomi masayarakat muslim sehingga dalam tempo singkat masyarakat muslim mempunyai kekuatan ekonomi yang mengalahkan masyarakat yahudi Madinah. Dalam waktu hanya setahun, orang Islam tetalh dapat memenuhi keperluan hidupnya sendiri tanpa ketergantungan dengan kelompok yang lain. Inilah sepatutnya yang dapat menjadi pelajaran bagi Umat islam di masa sekarang. Umat islam perlu membangun ekonomi yang kuat dan kokoh dengan system ekonomi yang berakhlak dan professional, bukan hanya membangun ekonomi Islam bersifat emosional dengan mengandalkan sentimen agama.Jika pada masa dahulu, umat Islam Madinah dapat mengalahkan perniagaan yahudi dan penguasaan pasar, bagaimana umat Islam hari ini..? Banyak terlihat umat Islam melakukan kegiatan ekonomi, tetapi ekonomi umat masih di bawah kekuasaan umat lain, sebab umat Islam tidak memiliki shoping center dan lain sebagainya, malahan hari ini kita lihat bagaimana pasar-pasar raya yang dimiliki oleh bukan Islam memperkejakan umat Islam, sehingga masyarakat muslim sementara merasa aman sebab mereka melihat bahwa kounter dan kasir serta pegawai shoping complek terdiri dari umat Islam, sedangan mereka tidak mengetahui bahwa pemilik pusat perniagaan tersebut adalah non=muslim, sehingga tanpa sadar perputaran ang muslim dikuasai oleh kelompok lain, padahal Rasul telah mengajarka n umatnya agar menguasai kegiatan perniagaan dan juga menguasai tempat pemasaran dan penjualan, sehingga seluruh keuntungan tersebut dipakai untuk menguatkan ekonomi potensi umat. Semoga dimasa mendatang setiap lokasi umat Islam memiliki pasar-pasar wakaf sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dengan pasr wakaf Madinah..Fa'tabiru Ya Ulil albab.

MEMBANGUN PERUMAHAN DAN BENTENG MADINAH

Sebagai pemimpin masyarakat Madinah, Rasulullah juga bertanggung jawab untuk menata permahan masyarakat Madinah, sehingga Madinah terlihat sebagai sebuah kota yang modern. Pada mulanya, sebelum Hijrah , kota Madinah yang bernama Yatsib tidak terlihat sebagai sebuah kota yang tertata, sebab diantara satu kawasan penduduk dengan kawasan penduduk yang lain terdapat tanah-tanah kosong. Oleh sebab itu sebagai pemimpin Negara, nabi menata kota Yatsib agar menjadi sebuah kota yang indah dan ramai. Oleh sebab itu pada tahun pertama Hijrah, setelah menata ekonomi dan membangun pasar, Nabi menata perumahan dan pemukiman masyarakat Madinah dengan baik. Setelah Nabi Muhammad mempersaudarakan antara seorang muhajirin dengan seorang anshar, maka dengan ikatan iman yang sama, kaum Anshar menawarkan pertolongan dan bantuan kepada kaum Anshar. Pada awalnya kaum Muhajirin tersebut tinggal di rumah saudaranya Muhajirin, sehingga persaudaraan mereka bertambah erat dengan ikatan kekeluargaan. Sebagai saudara, kaum Anshar mempersilahkan saudaranya dari kaum Muhajirin untuk berkongsi segala sesuatu yang mereka miliki, dari harta kekayaan, tanah perkebunan, malahan ada diantara mereka yang berkata kepada saudara Muhajirin : “ Saya memiliki beberapa orang istri, maka aku persilakan kepada saudaraku dari kaum Muhajirin untuk memilih salah satu dari istriku tersebut sehingga aku dapat menceraikannya agar engkau dapat menikahinya “. Begitulah sikap kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin. Walaupun mendapat tawaran bantuan yang begitu hebat dari kaum Anshar, kaum Muhajirin yang telah ditempa dengan akhlak yang mulia selama mereka di kota Makkah tidak mau menerima bantuan yang ditawarkan, tetapi mereka berusaha sendiri, baik dengan bertani, atau berniaga, atau menjadi pandai besi dan lain sebagainya, atau bekerja di kebun kurma milik masyarakat madinah, demikian dengan tawaran pembahgian harta kekayaan, mereka menolak tawaran tersbeut, dan merusaha untuk mandiri. Sebab kaum Muhajirin tidak mau menerima tawaran kaekayaan dan tanah dari kaum Anshar, maka kaum Anshar sebagai bukti persaudaraan dengan kaum Muhajirin, mereka memberikan sebagian tanah dan rumah yang mereka miliki kepada Rasulullah, dengan harapan tanah dan rumah itu dapat dipergunakan bagi kepentingan masyarakat yang memerlukan. Sahabat kaum Anshar yang pertama memberikan tanahnya kepada Rasulullah untuk dibagi-bagikan kepada kaum Muhajirin adalah sahabat Harisah bin Nukman dari kaum Anshar. Selain tanah , kaum Anshar juga memberikan rumah mereka kepada Nabi untuk dibagi-bagikan kepada sahabat Muhajirin. Menurut pakar sejarah Islam, Ibnu Sa’ad dalam kitab Tabaqaat mengatakan bahwa Rasulullah telah mengatur pembangunan rumah-rumah di Madinah untuk sahabat-sahabat yang memelukan. Misalnya kepada Bani Zuhrah , Nabi memberikan tanah yang berada di ujung masjid nabi. Abdurahman bin Auf juga mendapat sebatang pohon kirma yang masih kecil, yang terkesan disebabkan lama tidak disiram. Abdullah bin Mas;ud mendapat sepotong tanah dekat masjid nabi. Zubair bin Awam mendapat tanah yang luas, tetapi merupakan tanah yang tidak baik. Talhah mendapat tanah yang cukup untuk mendirikan rumah. Abubakar juga mendapat sepotong tanah yang dipakai untuk membangun rumahnya di dekat masjid nabi. Usman bin Affan, Khalid bin Walid, Al Miqdad, dan lain-lain sahabat mendapat sebidang tanah untuk dibangun rumah.Kalau tanah itu kurang baik, maka rasul membagikan tanah yang memiliki kawasan yang luas berbeda luas dengan tanah yang baik atau tanah yang telah dipakai atau rumah yang telah dipakai oleh kaum Anshar. Rumah yang pertama kali berada di sekeliling masjid nabi adalah rumah sahabat Abdullah bin Umar yang berada di jurusan kiblat. Rumah Abubakar pintunya bertemu dengan pintu masjid Nabi, sehingga sewaktu nabi sakit, nabi menyuruh tutup pintu masjid selain pintu masjid yang mengarah ke pintu rumah Abubakar Shiddiq. Al Miqdad bin Aswad dan Rabah, pembantu Rasulullah juga mendapat rumah. Demikian juga Abbas bin Abdul Muthalib diberi tanah untuk membuat rumah. Demikian juga dengan Hakim bin Hizam, Khalid bin Walid, Asma binti Husein. Disamping rumah Usman bin Affan terdapat rumah Abu ayub al Anshari., Ja;far Shadiq. Dengan kata lain, setiap sahabat yang berkemampuan, mereka diberi tanah untuk membangun rumah mereka sendiri; sedangkan sahabat yang tidak memiliki kemampuan, nabi memberikan kepada mereka rumah – rumah yang telah diserahkan pemiliknya kepada Rasul untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat madinah yang memerlukan. Disampng pemberian secara individu sahabat, Nabi juga mengatur penempatan pemukiman kepada kelompok-kelompok dan kabilah di dalam masyarakat Madinah. Sebagai contoh, nabi memberikan kabilah Bani Ghifari kawasan antara rumah sahabat Katsir bin Abu Salt sampai ke dekat rumah Abu Sabrah. Kabilah Bani Amru bin Nuaim mengambil kawasan antara Bani Mubasyir. Kabilah Banu Ahmar mendapat mendapat tempat antara masjid dengan pasar Tamarin. Kabilah Nabi Umar bin Yasar mengambil tempat dengan masjid Bani Qandal. Nabi mebagi-bagikan tanah pemukiman di dalam kota Madinah, sehingga tidak terlihat lagi tanah – tanah yang kosong di temgah kota Madinah sehingga sejarah mencatat bahwa dari masjid nabi sampai ke kawasan Uhud penuh dengan perumahan masyarakat madinah, demikian juga dari kawasan masjid nabi di Madinah sampai ke dekat masjid Quba. Dengan pembagian tanah dan rumah tersebut kepada masyarakat madinah, maka kota Yatrib yang pada awalnya memiliki kawasan perumahan yang berpencar-pencar menjadi kota Madinah Muhawaarah yang dihuni oleh seluruh warga kota Madinah, sehingga tidak terlihat kawasan kosong di dalam kota Madinah. Pembaca dapat membayangkan bagaimana padatnya kota Madinah pada zaman rasulullah, dimana tidak ada kawasan tanah yang kosong yang tidak diisi, sebagai contoh kawasan antara masjid nabi dengan gunung uhud yang ditaksir berjarak sekitar dua puluh kilo itu penuh dengan perumahan penduduk. Inilah gambaran kepadatan penduduk di Madinah pada zaman Rasulullah tersebut, berbeda dengan kawasan hari ini, dimana jika kita berjalan dari masjid nabawi ke bukit uhud, atau dari masjid nabi ke Bir Ali, atau dari masjid nabi ke masjid Quba, seluruhnya merupakan kawasan pemukiman penduduk. Setelah nabi mengatur pemukiman masyarakat Madinah, maka nabi membangun pintu kota Madinah yang merupakan banteng di empat penjuru kota. Menurut sejarawan Islam, Nuruddin Ali bin Ahmad Samhudi dalam Kitab Wafa’ul Wafa menyatakan bahwa pintu pertama berada sebelah barat dikenal dengan nama Babul Musalla ( pintu shalat ), pintu kedua dikenal dengan nama Babus Saghir (pintu kecil ), pintu ketiga dikenal dengan nama Babus Syam ( pintu dari arah Syam ), dan pintu keempat di sebelah timur dikenal dengan nama Babul Baqi ( pintu menuju Baqi ). Dengan demikian kawasan pemukiman Madinah tersebut berada di dalam dinding banteng yang kokoh sebagai jaminan perlindungan dan pertahanan kota. Demikianlah Rasulullah sebagai pemimpin Negara Madinah menata kota dan memberikan perhatian atas perumahan penduduk, dan memberikan perlindungan kepada masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya. Sikap Rasulullah tersebut sesuai dengan prinsip bahwa seorang pemimpin itu harus dapat menjadi pelayan bagi masyarakatnya dan dapat menjadi pelindung bagi orang yang dipimpinnya. Semoga pemimpin muslim hari ini juga dapat mengambil pengajaran dari kepemimpinan Rasulullah dalam mememberikan pelayanan dan perlindungn kepada masyarakat yang dipimpinnya. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Tuesday, January 14, 2014

MAULID DAN HARI KEHIDUPAN RASUL




“Sungguh pada diri Muhammad itu ada contoh teladan bagi kamu sekalian”( QS.Al Ahzab:21)

Dalam kitab suci Al Quran, Allah berfirman : “ Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri “ ( QS. Taubah : 128 ).  Dari makna ayat ini dapat diketahui bahwa Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa Allah telah mengangkat seorang Rasul dari kalangan manusia itu sendiri, bukan dari makhluk yang lain, malahan Rasul tersebut berasal darimana kaum dimana Rasul itu akan diutus. Sebab nabi Muhammad akan menjadi penghulu seluruh rasul ( sayyidul mursalin ) dan penutup semua nabi (khatimun nabiyin) maka beliau merupakan manusia yang terbaik dari kalangan manusia. Ali bin Abi Thalib berkata :..berdasarkan garis keturunan, dan ikatan perkawinan  dari silsilah nenek moyang beliau, sampai Nabi Adam alihisalam, maka tidak terdapat seorangpun penzina diantara nenek moyang tersebut. Ibnu Kalbi berkata : “ saya telah menelusuri 500 silsilah dari nenek moyang nabi Muhammad,  maka saya tidak dapatkan seorangpun penzina atau pelaku kejahatan diantara mereka sebagaimana yang disebarluaskan dalam masyarakat jahiliyah “.

Ibnu Abbas bertanya kepada Rasulullah : “Wahai Rasulullah, saya melihat orang Qurasiy sangat suka berbincang masalah silsilah keturunan mereka, tetapi mereka menjadikan dirimu seperti sebuah pohon kurma yang akhirnya akan jatuh ke bumi juga (maksudnya tidak memiliki silsilah keturunan yang dapat dibanggakan ) “. Rasulullah menjawab : “ Sesungguhnya pada hari Allah menciptakan makhluk, maka aku dijadikan makhluk terbaik daripadanya. Apabila Allah membagi manusia kepada kabilah-kabilah, maka kabilahku merupakan kabilah yang terbaik. Ketika Allah membagikan kabilah menjadi keluarga-keluarga, maka keluargaku merupakan keluarga yang terbaik. Oleh sebab itu akulah orang yang terbaik, daripada keluarga terbaik “. Dalam al quran dinyatakan : ..dan Kami jadikan kamu berbangsa dab berkabilah untuk saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa “. ( QS. Hujurat : 13 ). Siapakah orang yang paling mulia ?  Rasulullah bersabda : “ Akulah anak Adam yang paling bertaqwa dan paling mulia disisi Allah tetapi tidak merasa sombong “. Sayidatina Aisyah radhiallahu anha, berkata bahwa Rasulullah bersabda : “ Jibril telah berkata kepadaku bahwa “ aku telah membolak-balikkan kedudukan bumi dari timur ke barat, maka aku tidak menemukan seorangpun yang lebih mulia daripada Muhammad sallahu alaihi wasallam, dan aku juga telah memmutar balikkan bumi dari timur ke barat dan aku tidak menemukan kabilah yang lebih mulia daripada kabilah Bani Hasyim  “. ( riwayat Hakim dan Baihaqi ).

Rasulullah dilahirkan pada hari Senin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu  Qatadah berkata bahwa seorang Arab badui bertanya : Ya Rasululah, apa pendapatmu tentang puasa di hari senin ? Rasulullah menjawab : “ Itu adalah hari aku dilahirkan, dan aku turun ke bumi ( dari langit pada malam Isra Mikraj ) “. Ibnu Abbas berkata : “ Rasulullah dilahirkan pada hari senin, diangkat menjadi nabi juga pada hari senin, berangkat dari makkah untuk berhijrah ke Madinah juga pada hari senin. Sampai di Madinah pada hari Senin, meninggal dunia pada hari Senin, dan mengangkat hajar aswad ( pada waktu kabilah Makkah berselisih dalam peletakan batu tersebut) juga pada hari senin “. ( riwayat Imam Ahmad ).

 

 

Nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam adalah anak dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dengan Aminah binti Abdul Manaf. Kakek nabi, Abdul Muthalib ( nama asal adalah Syaibah ) bin Hasyim bin Abqar, bin Abid, Bin Alda’a, bin Hamdan, bin Sanbar, bin Yasrabiy, bin Yahzan, bin Yalhan, bin Arwa’I, bin Aidz, bin Disyan, bin Aishar, bin Afnan, bin Ayham, bin Maqsar, bin Nahis, bin Zarih, bin Smay, bin Mazya, bin Audah, bin Iram, bin Qaidar bin Ismail, bin Ibrahim alaihissalam.

 Nabi Muhammad dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal berdasarkan kepada nash Ibnu Ishaq . Ibnu Abu Syaibah meriwayatkan daripada Jabir dan Ibnu Affan : “ Rasulullah dilahirkan pada tahun Gajah, bertepatan dengan hari Senin, pada 12 Rabiul Awwal. Pada hari itu juga baginda dibangkitkan menjadi nabi, baginda melakukan israk dan mikraj, baginda berhijrah, dan baginda meninggal dunia “. Tangal kelahiran nabi pada tanggal 12 Rabiul Awwal ini merupakan pendapat yang diakui oleh jumhur (mayoritas ) ulama dan diikuti oleh sebagian besar penulis kehidupan nabi; walaupun  ada beberapa pendapat yang berbeda. Ibnu Hazm menyatakan bahwa tanggal kelahiran nabi adalah 8 Rabiul Awwal dari riwayat Abdurrahman al Hamidy. Ulama sirah kontemporer Safurrahman Mubarakpuri dalam kitab “ Rahiq Makhtum “, dan Muhammad Khudari Beik dalam kitab “Nurul Yaqin” menyatakan bahwa nabi Muhammad pada tanggal 9 Rabiul Awal. Tetapi pendapat yang diakui oleh mayoritas ulama bahwa kelahiran nabi pada 12 Rabiul awwal, sebagaimana yang diakui oleh Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah nabawiyah yang diakui sebagai kitab sirah yang pertama dalam penulisan sejarah nabi.

Dari keterangan diatas dapat dilihat bahwa tanggal 12 Rabiul Awwal bukan hanya hari kelahiran nabi Muhammad sallahu alaihi wasalam, tetapi juga hari beliau berhijrah dari Makah ke kota Madinah, dan juga tanggal beliau meninggal dunia. Berarti tangal 12 Rabiul Awwal dijadikan Allah menjadi tanggal yang serentak dari kelahiran, hijrah dan wafat Rasulullah, agar umat Islam pada waktu datangnya tanggal tersebut dalam setiap tahun bukan saja untuk mengingat kelahiran nabi Muhammad saja, tetapi juga mengingat dari sejak lahirnya, perjuangannya dari mulai hijrah nabi, sampai meninggalnya. Oleh sebab itu tanggal 12 Rabiul Awwal sepatutnya bukan hanya disebut hari maulid Nabi Muhammad saja, tetapi kehidupan nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam.

Alhamdulillah hampir di seluruh negara Islam di dunia, tanggal tersbeut dinyatakan sebagai hari libur nasional. Tetapi sangat disayangkan masih banyak diantara umat Muhammad tidak dapat memakai hari tersebut dengan sebaik-baiknya, seperti dengan bermalas-malasan tidur sehari suntuk, atau dengan jalan-jalan ke tempat rekreasi, atau menonton acara tivi sepanjang hari dan lain sebagainya. Sepatutnya sebagai umat Muhammad, hari libur tersebut dipakai dengan kegiatan positip seperti membaca buku sejarah nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam, atau meneladani akhlak nabi Muhamad baik dengan dirinya, atau dengan keluarganya dan masyarakatnya. Jika nabi Muhammad adalah seorang yang paling baik akhlaknya, maka coba jadikan hari libur tersebut merupakan hari akhlak mulia. Jika Nabi Muhammad adalah manusia yang paling baik dengan keluarganya, maka jadikanlah hari itu menjadi suami yang paling baik dengan keluarganya. Jika nabi Muhammad merupakan manusia yang paling sayang dan perhatian dengan anak yatim, jadikan hari libur tersebut membawa keluarga istri dan anak untuk mengunjungi dan meberikan bantuan kepada panti asuhan anak yatim. Jika nabi Muhammad adalah peniaga dan pedagang yang paling jujur, jadikan hari  bagi pedagang untuk berniaga dengan penuh kejujuran, dan demikian seharusnya.

Di negeri jiran, sebagian masjid selama bulan Rabiul Awwal menjadi bulan sejarah nabi, sehingga selama sebulan tersebut, masjid melakukan pengajian dan majlis ilmu dengan membaca dan mengkaji buku sirah nabi. Ada masjid selama Rabiul awal ini mengkaji sirah nabi karangan Ibnu Hisyam, sebagian lain ana membaca kitab “ Syamail Muhammadiyah “ karangan Tirmidzi yang menceritakan tentang sifat, akhlak Rasulullah. Setiap tahun kitab sejarah nabi dibaca dari pengarang dan penulis yang berbeda. Sehingga dengan kedatangan bulan Rabiul Awwal. Masyarakat menjadi lebih memahami sejarah perjuangan Rasulullah. Pada saat ini sangat banyak buku dan kitab tentang sejarah nabi baik kitab yang ditulis oleh ulama terdahulu maupun oleh ulama kontemporer, dari kitab dan buku yang ringkas sampai ensiklopedia sejarah nabi yang berjilid-jilid. Oleh sebab itu tidak ada lagi alasan bagi umat Islam untuk tidak mengetahui sejarah dan perjuangan nabi, tetapi jika umat Muhammad ini tidak pernah membaca dan mempelajari sejarah nabi yang lengkap, bagaimana umat ini dapat mencintai dan mengikuti langkah perjuangan nabi; sebab untuk mengikuti langkah perjuangan nabi tidak cukup dengan membaca salawat atau marhaban sebagaimana yang dilakukan setiap tahun. Semoga maulid nabi tahun ini kita dapat merubah tradisi perayaan menjadi tradisi pemahaman dan mengikuti keteladanan Rasulullah sallahu alaihi wasallam. Fa’tabiru Ya ulil albab.( Muhammad Arifin Ismail, 11 Januari 2014 )

 

 

Thursday, November 28, 2013

SEJARAH HITAM QARAMITHAH

Qaramithah adalah suatu kelompok yang merupakan bagian dari pengikut ajaran Syiah Ismailiyah dibawah pimpinan Hamdan al Qaramit, sehingga pengikutnya disebut dengan Qaramithah. Ajaran Qaramithah terus berkembang dalam masyarakat terutama diantara kelompok Syiah Ismailiyah. Pada waktu itu Ismailiyah Fatimiyah mengaku bahwa Imam al Mahdi akan datang dari keturunan mereka, sedangkan menurut Qaramithah datangnya Imam Mahdi tetap dengan munculnya Imam ke-tujuh Ismail bin yang sedang menghilang hingga waktu tertentu. Qaramithah sangat membenci kelompok Nasibi, yaitu kelompok yang mengakui kepemimpinan Abubakar, Umar dan Usman bin Affan. Malahan mereka selalu menganggu dan membunuhnya. Pada tahun 294 Hijriyah mereka pernah menghadang jamaah haji yang pulang dari tanah suci dan membunuhnya. Mereka selalu mengintai jamaah haji yang pulang dari menunaikan jamaah haji dan menganggu mereka, atau merampas harta mereka malahan sampai kadang kala membunuh mereka. Khalifah Islam pada waktu itu sangat lemah, sehingga kaum pemberontak Qaramithah sangat berleluasa menganggu keamanan dan ketenteraman umat. Mereka kaum Qaramithah menganggap bahwa tanah Karbala, tempat terbunuhnya Husein itu lebih suci daripada Ka’bah, sebagaimana termaktub dalam halaman 370 dari kitab “ Fiqhul wal Aqaid” karangan ulama mereka Muhammad Huseini Syirazi menyatakan bahwa : “ Dikatakan bahwa tanah Karbala lebih utama daripada tanah Makkah, dan sujud diatas tanah makam Husein itu lebih utama daripada sujud di atas tanah Masjidil haram , apakah itu benar ? Syirazi menjawab : Ya itu benar “. Oleh sebab itu dalam sejarah kaum Qaramithah pernah menyerang Ka’bah, merusak Hajaral Aswad dan membunuh jamaah haji yang ada pada waktu itu. Ibnu Kasir dalam kitab Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa pada hari Tarwiyah yaitu hari kedelapan Zulhijah tahun 317 Hijriyah bertepatan dengan musim Haji 929 Masehi, pasukan tentera Syiah Qaramithah diketuai oleh Hamadan Ibn Al-Ashath Al-Qurmuti menyerang kota Makkah dan membunuh semua jemaah haji yang datang peda waktu itu. Kemudian Hamdan menyerang Kaabah, dan menageluarkan batu hitam Hajar Aswad dari tempatnya di sudut Ka’bah serta memecah batu tersebut menjadi dekapan potongan kecil, sebagaimana yang terlihat pada batu Hajaral Aswad sekarang. Hamdan juga menarik keluar pintu Kaabah dan kemudian memecahkannya, menarik kain Kabah dan memotongnya kecil-kecil dan memberikannya kepada sahabat-sahabat beliau. Setelah itu beliau mengarahkan pengikut-pengikut beliau untuk memusnahkan Mizab Al-Kabah, saluran untuk menyalurkan air (sekiranya hujan) yang terletak datas Kaabah. Sewaktusalah seorang pengikut beliau mencoba untuk memusnahkan saluran ini, pengikut yang disuruh tersebut terjatuh dari bumbung Kaabah dan mati. Hamadan kemudiannya menyuruh pengikutnya mencampakkan mayat-mayat jemaah haji yang telah mereka bunuh ke atas bumbung Kaabah, sehingga Mizab (saluran air) dari atas Kabah itu mengalirkan darah orang muslim buat pertama kalinya dalam sejarah. Beliau kemudian mencampakkan mayat-mayat jamaah haji yang lain kedalam telaga Zam-Zam sehingga telaha zam-zam penuh dan kemudian menutup telaga ini dengan batu yang besar. Wanita Qaramithah akan membawa air kononnya untuk menyiram mayat-mayat jemaah haji ini atau memberi minum kepada jemaah haji yang tercedera, akan tetapi apabila mereka berjumpa dengan jemaah haji yang masih hidup, mereka akan membunuhnya tanpa memberi air. Wanita Qaramithah percaya bahwa jika mereka perlu membunuh sekurang-kurangnya 3 orang Sunni (Nasibi, gelaran yang mereka berikan pada orang Sunni) yang dahaga itu , maka mereka mendapat tempat di Surga. Sebagian mayat-mayat yang lain ada yang ditanam di dalam Masjidil Haram dimana mereka (jemaah haji) dibunuh tanpa dikafankan, tanpa simandikan dan tanpa disolatkan. Kemudian Hamadan pemimpin Qaramithah yang menyerang Makkah tersebut berdiri di depan pintu Kaabah dan menjerit ke langit dan berkata: “ Akulah yang berani mencabar ALLAH, akulah yang berani mencabar Tuhan, DIA mencipta kamu dan aku membunuh kamu semua (jemaah haji)”. Pengikut-pengikutnya yang turut memusnahkan Hajar Aswad juga menjerit ke langit: “Dimana burung-burung Ababil ENGKAU? Dimana batu Sijjil (batu dari tanah yang terbakar) ENGKAU?” Merujuk kepada peristiwa serangan bergajah yang dipimpin oleh raja Abrahah sebelum kedatangan agama Islam. Kemudian Hamdan Qaramitah membawa batu Hajar Aswad ke arah timur yaitu le kota Al-Qatif dengan menggunakan 70 ekor unta sebab dalam perjalanan setiap unta yang membawa batu Hajar Aswad akan jatuh sakit dan kemudian mati di tengah padang pasir. Jika unta yang membawa batu Hajar aswad itu mati, maka Hamdan menggantikan unta itu dengan unta yang lain, sehingga seluruh unta yang membawa sampai ke bilangan tujuh puluh. Di kota al Qatif mereka membangun bangunan seperti Ka’bah yang mereka namakan ‘AinulKuaibah’ dan meletakkan batu Hajar Aswad di bangunan tersebut dan menyuruh orang ramai untuk mengerjakan haji di tempat tersebut, tetapi tidak seorangpun orang muslim yang pergi kesana kecuali pengikut Qaramithah saja. Batu Hajarl Aswad di kuasai oleh Qaramithah selama 22 tahun, hingga pada tahun 339 Hijriyah / 952 Masehi datanglah pasukan Khalifah Al-Muktadir Billah sebanyak 80 ribu tentara menyerang pengikut-pengikut Qarmatiah dan menyerang tiga ribu pasukan Qaramithah. Khalifah al Muktadir Billah setelah mengalahkan pasukan Qaramithah, kemudian baginda mengembalikan batu Hajaral Aswad ketempatnya semula sebagaimana yang kita lihat sekarang. Itulah sebabnya jika kita memperhatikan keadaan batu Hajaral Aswad sekarang terlihat jelas bekas pecahan potingan kecil yang disatukan kembali. Syukur Alhamdulillah batu tersebut tidak dihanciurkan atau dihilangkan tetapi masih dapat ditemukan walaupun telah hilang dari tempatnya selama 22 tahun. Penyerangan Khalifah terhadap pasukan Qaramithah tersebut telah melemahkan kekuatan Qaramithah dan menghilangkan jejak mereka, tetapi diantara pasukan Qaramithah tersebut, terdapat kumpulan kecil, lebih kurang 10 buah keluarga lolos dari serbuan dan dapat melarikan diri ke Syria dan bersembunyi di pegunungan Arab dalam bebrapa lama agar mereka tidak dibunuh. Kelompok kecil ini lama-kelamaan menjadi besar dan menurut kajian sejarah diantara kelompok tersebut lahirlah masyarakat Syiah Nusriyah, Syiah Alawiyah dan diantara mereka terdapat keluarga Al-Assad, yang memerintah Syria pada hari ini. Dari kilasan sejarah diatas dapat kita lihat bagaimana sejarah mencatat bahwa ada sebagian kelompok Syiah yang sangat membenci masyarakat Islam, sehingga dapat membunuh orang-orang islam yang lain, malahan menyerang Makkah dan mengeluarkan batu Hajaral Aswad dari tempatnya. Oleh sebab itu kita tidak heran jika pada saat ini, pasukan Basyar Assad dengan ringannya membunuh umat Islam dengan alasan pemberontakan atas negara dan lain sebagainya. Padahal ajaran agama Islam sangat melarang umat Islam saling membunuh, malahan tindakan tersebut dinyatakan dalam al Quran : “ Barangsiapa yang membunuh manusia seorang manusia bukan karena dia telah membunuh yang lain, dan bukan karena telah membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya “ ( QS. AlMaidah : 32 ). Jika kita semua menghayati makna dan mengamalkan maksud ayat tersebut, maka perdamaian di dunia akan terwujud, dan sejarah Qaramithah tidak akan terulang lagi. Fa’tabiru Ya Ulil Albab.

GHADIR KHUM

Dalam pelaksanaan haji wada’, Rasulullah berada di Makkah selama sepuluh hari sahaja. Dalam perjalanan menuju Madinah, nabi berhenti di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum. Di tempat ini Rasulullah mengumpulkan sahabat dan berkhutbah. Dalam khutbah Nabi menerangkan tentang kelebihan Sayidina Ali bin Abi Thalib yang sedang bertugas di Yaman. Di dalam khutbah itu Rasulullah menyatakan : “ Siapa yang mengakui aku adalah maulanya (tuannya ) maka Aku adalah maulanya, kemudian nabi berdoa : “ Ya Allah tolonglah orang yang menolong Ali, musuhilah orang yang menolong Ali, kasihanilah orang yang mengasihani Ali, bencilah orang yang membenci Ali, tolonglah orang yang menolong Ali, dan hinakan orang yang menghina Ali, dan berilah kebenaran kepada Ali kemana saja dia pergi “. Sejarah mencatat bahwa khutbah nabi tersebut berkaitan dengan seseorang yang mengadukan kepemimpinan Ali di Yaman. Nabi mengutus Ali ke Yaman untuk menghadapi kabilah Najran di Yaman yang masih tidak patuh kepada kepemimpinan Rasulullah, tetapi Ali mengetahui tentang rencana nabi untuk pergi haji, sehingga dia telah mengatur perjalanan dari yaman untuk dapat haji bersama Rasulullah. Sewaktu nabi berada di makkah, ada seorang sahabat bernama Buraidah datang menghadap Rasulullah mengadukan tentang sikap Ali bin Abi Thalib menjadi utusan khusus Rasulullah dalam menghadapi kabilah Najran di Yaman. Rasulullah saw kemudian berkata : “ Hai Buraidah, janganlah engkau menyebut tentang perlakuan Ali, sebab Ali dari saya dan saya bagian daripada Ali. Bukankah saya harus diutamakan oleh orang beriman daripada diri mereka sendiri ? Benar, ya Rasulullah jawab Buraidah. Kemudian nabi berkata : “ Siapa yang menjadi tuannya, maka Ali adalah tuannya “ . Sabda nabi tersebut sebenarnya di khususkan kepada sahabat Buraidah agar dia percaya sepenuhnya kepada kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa Usamah bin Zaid berkata kepada Ali bin Abi Thalib : “ Wahai Ali, anda bukanlah tuan saya “. Mendengar itu maka nabi bersabda kepada sahabatnya : “ Siapa yang bertuan kepada saya, maka Ali juga adalah tuannya “. Setelah sampai di Ghadir Khum, Nabi Muhammad saw kembali menceritakan hal tersebut, agar isu negatif kepada kepemimpinan Ali harus diluruskan kepada semua orang. Semua sahabat mengakui tentang kelebihan Ali dan yakin dengan kepemimpinan Ali, tetapi tidak berarti bahwa pernyataan nabi tersebut tentang Ali sebagai tuan, menjadi wasiat kepemimpinan Ali setelah nabi meninggal dunia. Jika kita perhatikan bahwa pada waktu itu Ali bin Abi Thalib adalah diutus nabi ke Yaman. Oleh sebab itu nabi berkata : “ Ali itu adalah dariku, dan aku adalah daripada Ali “. Artinya Ali diutus nabi ke Yaman, dan dia adalah wakil nabi di kawasan yaman. Oleh sebab itu kepemimpinan Ali di yaman juga bagian dari kepemimpinan nabi. Untuk menguatkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib tersebut maka nabi berdoa : Ya Allah tolonglah orang yang menolong Ali, hinakan orang yang menghina Ali, dan seterusnya sebagaimana doa nabi diatas. Sangat disayangkan kelompok Rafidhah menyatakan bahwa peristiwa di Ghadir Khum itu merupakan dalil bahwa Ali adalah pemegang wasiat kepemimpinan setelah Rasulullah, dan menyatakan bahwa kepemimpinan Abubakar, Umar bin Khatab serta Usman bin Affan adalah tidak sah. Padahal jika kita teliti sejarah, bahwa pernyataan Rasulullah tersebut bukan berkaitan dengan kesibnambungan kekhalifahan setelah nabi meninggal tetapi berkaitan dengan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib di intik mengatur dan menghadapi kabilah Najran di kawasan yaman, sebagaimana nabi juga mengutus sahabat-sahabat lain untuk menjadi gubernur di negeri-negeri yang lain seperti negeri Bahrain dan lain sebagainya. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah pernah melantik beberapa sahabat beliau untuk memimpin negeri tersebut dan juga kadang kala melantik sahabat tertentu untuk tugas-tugas khusus kepada kabilah tertentu. Jika benar dakwaan kelompok Rafidhah bahwa itu merupakan wasiat Rasulullah untuk kepemimpinan umat setelah nabi meninggal, maka mustahil sahabat berani melantik Abubakar sebagai pengganti kepemimpinan nabi. Ali sendiri ikut menyetujui kekhalifahan Abubakar, dan juga kemepimpinan kedua kepada Umar bin Khattab dan seterusnya juga setuju dengan kepemimpinan Usman bin Affan. Ada orang yang bertanya kepada Ali mengapa beliau tidak mengambil kekhalifahan Abubakar, maka Ali bin Abi Thalib menjawab : “ Jika memang ada wasiat dari Rasul tentang hal tersebut, maka tidak mungkin saya tidak mengambilnya, dan saya akan berperang untuk itu “ ( Kitab Insanul Uyum, jilid 3, hal. 309 ). Kaum Rafidhah Syiah juga menyatakan bahwa sahabat yang mendengar khutbah nabi tersebut sengaja menyembunyikan isi khutbah, padahal tidak mungkin ada sahabat yang berani menyembunyikan isi khutbah tersebut apalagi dalam sejarah tercatat bahwa Zaid bin Arqam bercerita : “ Saya adalah salah seorang diantara tiga puluh orang sahabat yang turut mendengar khutbah Rasulullah tentang kelebihan Ali bin Abi Thalib tersebut tetapi saya tidak sebarkan, maka Allah menjadikan saya buta “. Oleh sebab itu sahabat mengakui kelebihan Ali diantara yang lain, tetapi juga mengakui kelebihan sahabat lain seperti Abubakar Shiddiq, malahan Ali bin Abu Thalib sendiri mengakui kelebihan Abubakar sebagaimana dalam kitab Nahjul Balaghah yang berisi ucapan Ali menyatakan bahwa setelah Abubakar menyampaikan pidato pelantikan sebagai kekhalifah, Ali menyahut : “ Kami menyaksikan kepribadian bahwa pribadi AbuBakar paling pantas dan lebih berhak daripada sahabat yang lain..Abubakar juga paling tua dan Rasulullah telah memintanya menjadi imam shalat sedangkan beliau masih hidup “. Lebih lanjut Ali bin Abi Thalib berkata : “ Aku telah dibaiat oleh umat yang pernah membai’at Abubakar, Umar dan Usman dan tidak seorangpun diantara yang hadir mempunyai pilihan lain atau sengaja tidak hadir karena tidak setuju. Semua merupakan hasil musyawarah antara Muhajirin dan Anshar “ ( Nahjul Balaghah, 366-367 ) Bani Hasyim juga menyetujui kekhalifahan Abubakar sebagaimana dinyatakan dalam satu riwayat bahwa Khalid bin Saad ibn As, sahabat nabi dari yaman mendatangi Bani Hasyim dan bertanya : “ Apakah kalian membaiat Abubakar dengan rela dan ikhlas ? Mereka menjawab : “ Benar demikian “. Ali bin Abi Thalib juga menerima pepemimpinan Umar dan memuji Umar atas keberanian, dan kepemimpinannya malah sewaktu Umar ingin berangkat memimpin perang melawan Romawi, Ali mencegahnya dan berkata : “ Jika umar gugur di medan perang maka umat akan kehilangan pemimpin yang handal “. Ali menyerankan agar Umar mengutus seorang yang ahli perang “. Ali juga berkata : “ Sekiranya aku dapat menangkap orang yang mengatakan aku lebih utama daripada Abubakar dan Umar, niscaya aku akan menghukumnya dengan hukuman orang yang membuat pendustaan “ ( Ibnu Taimyah, Manhaj Sunnah, 219-220). Malahan pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib berpidato di mimbar Kufah : “ Sebaik-baik umat ini slepas nabinya adalah Abubakar dan Umar “ ( alQafari, Masalah taqrib baina ahlusunah wa syiah, hal.134). Sejarah juga mencatat bahwa hari khutbah nabi tersebut yaitu pada tanggal 18 Dzulhijah telah dijadikan oleh kelompok Rafidhah menjadi hari raya mereka dan mereka namakan dengan “Ied Ghadir “, untuk menampakkan seakan-akan mereka adalah kelompok yang mencintai Ali bin Abi Thalib. Cinta Ali dan keluarga nabi merupakan keharusan bagi umat Muhammad, tetapi jangan sampai cinta Ali dan keluarag nabi tersebut menjadi motivasi untuk mencaci maki sahabat nabi yang lain, apalagi mencaci maki sahabat dan khalifah Abubakar, Umar dan Usman. Munculnya kaum seperti ini telah digambarkan oleh Rasulullah sebagaimana diceritakan Ali bin Abi Talib bahwa Rasulullah saw pernah bersabda "Akan muncul satu golongan di akhir zaman yang dipanggil Rafidhah. Mereka menolak Islam" (Ahmad, al-Musnad, j.1, hal.103). Demikian juga Imam az-Zahabi telah mengemukakan satu riwayat daripada Ali bin Abi Thalib sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Hajar al-Haithami bahawa Saidina Ali berkata Rasulullah saw bersabda "Akan muncul didalam umatku di akhir zaman nanti satu golongan yang dinamakan Rafidhah. Mereka menolak Islam". Imam ad-Daraqutni mengemukakan hadis ini dengan sedikit tambahan iaitu Rasulullah saw berkata kepada Ali "Sekiranya kamu menemui mereka hendaklah kamu bunuh mereka kerana mereka adalah golongan musyrikun. Ali berkata "Aku bertanya Rasulullah saw "Apakah tanda yang ada pada mereka? Baginda bersabda "Mereka terlalu memuji-muji engkau dengan sesuatu yang tidak ada pada engkau dan mereka memburuk-burukkan para Sahabat" (Imam Ibnu Hajar al-Haithami, as-Sawa'iqu al-Muhriqah, hal 102). Semoga umat Islam tidak terpengaruh dengan hakwaan mereka, dan tetap mencintai nabi, keluarga nabi dan juga sahabat-sahabat beliau sebagaimana Rasulullah bersabda : “ Ikutilah sunahku dan sunah khulafa Rasyidin setelahku nanti “. Fa’tabiru Ya Ilil Albab.

HIJRAH MENUJU “SHIRATAL MUSTAQIM “

Hijrah berasal dari kata-kata bahAsa arab “ ha-ja-ra ” yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari suatu keadaan kepada keadaan yang lebih baik. Dalam kajian sejarah Islam, hijrah adalah peristiwa berpindahnya Nabi Muhammad sallahu alaihi wa salam dari kota kelahirannya Makkah al Mukarramah ke kota Yatsrib ( sekarang bernama Madinah). Sebenarnya hijrah adalah merupakan “sunnatullah” dalam sejarah kehidupan manusia. Nabi Adam hijrah dari surga ke atas bumi untuk mengemban amanat khalifah. Nabi Nuh hijrah dengan kapal yang menyelamatkan beliau dan pengikutnya dari bencana banjir. Nabi Ibrahim hijrah dari negeri Babilonia ke negeri Mesir dan negeri Palestina. Nabi Ismail hijrah dari negeri Palestina ke kota Makkah. Nabi Musa hijrah dari Mesir ke negeri Palestina. Nabi Yusuf hijrah dari negeri Kanan ke negeri Mesir. Dalam al Quran banyak makna yang dimaksudkan dengan kata-kata hijrah. Diantaranya makna hijrah adalah meninggalkan perbuatan dosa (QS.Muddasir : 1-5).Hijrah juga bermakna hijrah menjauhi kawan dan lingkungan yang tidak baik dan mencari lingkungan yang lebih baik dengan cara yang baik dan bijaksana ( Surah AlMuzammil: 10 ). Hijrah adalah suatu usaha untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan (QS.Al Ankabut : 26 ) Dalam ayat yang lain dinyatakan Hijrah juga bermakna meninggalkan cara hidup, adat, kebiasaan orang kafir sebab mereka akan selalu berusaha menjadikan ummat Islam agar mempunyai sikap hidup, tradisi, budaya, cara berpikir, cara bekerja, cara berdagang, cara berpakaian, cara hidup yang sama dengan cara dan pola mereka ( QS. An Nisa : 89). Pasa saat sekarang ini, bagaimana negara barat dengan slogan demokrasi, transformasi dan hak asasi manusia, dan kebebasan sedang berusaha keras agar seluruh negara ummat Islam ikut peraturan, undang-undang yang mereka buat. Mereka menginginkan agar cara hidup, dan aturan ummat Islam sama dengan cara hidup dan aturan mereka, padahal umat Islam telah memiliki aturan, cara hidup yang berdasarkan nilai-nilai Islam. Padahal hidup mereka berbedan dengan cara hidup Islam. Mereka disibukkan oleh hidup keduniaan dengan memakai gaya hidup materialistik ( hanya mementingkan materi ) , atau gaya hidup hedonis ( hidup hanya untuk mencari kesenangan dengan menurutkan keinginan hawa nafsu perut dan syahwat) dan tidak pernah memikirkan bahwa di akhirat nanti masih ada kehidupan yang lebih abadi,padahal dalam Islam hidup akhirat lebih utama dari dunia. Hidup mereka dalam sehari-hari telah terpisah dari agama ( hidup sekular ) dan bagi mereka agama hanyalah urusan individu belaka, padahal bagi Islam agama harus menjadi landasan hidup yang tak terpisahkan. Mereka berekonomi dengan gaya kapitalis yang penuh dengan unsur riba,padahal dalam Islam riba adalah haram dan memudaratkan masyarakat. Dalam bekerja yang menjadi tujuan utama adalah uang, karier, popularitas, padahal dalam Islam kerja adalah melaksanakan amanah khalifah. Mencari ilmu juga dengan tujuan sekular, agar nanti dapat kerja, kedudukan, titel dan lain sebagainya, sedangkan dalam Islam belajar adalah ibadah. Hubungan keluarga, antara anak dan bapak hanya sekedar hubungan darah. Hukum dan ikatan kekeluargaan tidak lagi mempunyai nilai-nilai spiritual , sehingga boleh jadi seorang anak tidak akan peduli dengan kematian orangtuanya, dan seorang bapak tidak lagi peduli dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Dalam perpakaian mereka tidak lagi memperdulikan masalah aurat, atau malu.. Busana bagi mereka hanyalah hiasan belaka bukan padahal dalam Islam adalah melaksanakan perintah Tuhan untuk menutup aurat. Dalam makanan mereka memakan apa saja yang penting enak dan bermanfaat tanpa memikirkan apakah makanan ini halal atau haram. Dalam bermasyarakat mereka menjadi insan individualis, sehingga boleh jadi seorang kaya tidak lagi mengenal siapakah nama dan bagaimanakah keadaan tetangga yang berada disamping rumahnya, padahal dalam Islam setidak beriman seseorang yang perutnya kennyang, sedangkan tetangga kelaparan. Ini adalah beberapa bentuk sikap hidup orang kafir yang tanpa sadar telah banyak mempengaruhi sikap hidup ummat Islam, padahal seharusnya cara hidup muslim berbeda dengan kafir secara totalitas. Tanpa sadar kita telah mengikuti cara hidup mereka, padahal agama dan aqidah kita berlainan dengan agama mereka. Oleh sebab itulah kita harus selalu bersikap hijrah..hijrah…dan hijrah. Hijrah bukan berarti pindah tempat, tetapi hijrah dalam arti kita mempunyai niat, motivasi, sikap , penampilan, gaya hidup, cara berpikir yang tidak sama dengan mereka. Mengapa…? Karena mereka tidak beriman kepada Tuhan, apalagi kepada nabi Muhammad sedangkan kita manusia yang beriman kepada Allah dan Rasulullah; maka gaya hidup dan cara berpikir kita harus sesuai dengan petunjuk kehidupan yang telah Allah berikan dan juga dicontohkan oleh Rasulullah saw… Kita mempunyai Kitab Suci Al Quran, kita mempunyai Hadis dan Sunnah, maka hidup kita harus sesuai dengan kedua pedoman tersebut; bukan sesuai dengan kehidupan dan gaya mereka yang kafir. Itulah sebabnya kita membaca “ Ihdinasshiratal Mustaqim, shiratalladzina an’amta alaihim “. Hidup di atas “ Shiraatal Mustaqim “ hidup berdasarkan petunjuk Ilahi, bukan hidup dengan mengikut cara hidup orang - orang kafir yang sudah jelas telah mendapat predikat “ Maghduub alaihim , orang yang mendapat kemarahan Tuhan “ dan cara hidup mereka yang telah sesat , cara hidup “ Dhaaallin “. Inilah makna hijrah . Hijrah dari kondisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, hijrah dari cara hidup “maghdub alaihin “ atau cara hidup “Dhallin “ kepada cara hidup “ Shiraatal Mustaqim “ seperti cara hidup “alladzi an’amta alaihim” cara hidup para nabi, dan orang shaleh yang telah mendahului kita. Hijrah berarti juga usaha untuk mengembangkan potensi diri agar diri lebih baik sehingga dapat mengemban amanat khalifah di muka bumi. Hijrah dalam karier berarti berusaha untuk meningkatkan karier dengan tujuan mencari keridhaan Ilahi. Hijrah dalam ilmu juga berarti berusaha untuk mencari ilmu yang lebih banyak dengan tujuan agar dapat berguna bagi masyarakat . Hijrah dalam harta berarti berusaha mencari kekayaan yang lebih banyak untuk dapat menolong sesama manusia Tetapi itu semua harus dilakukan dengan motivasi yang suci, yaitu motivasi dan niat untuk mencari keridhaan Ilahi. Oleh karena itu mengapa rasulullah sejak awal sudah memperingati kita dengan sebuah hadis tentang niat berhijrah. Mengapa ini penting..? Karena banyak orang melakukan perubahan sikap , meningkatkan karier ( agar kedudukannya lebih baik ), mencari kekayaan ( agar hartanya lebih banyak ) atau mencari dan menambah ilmu bukan dengan niat “ untuk Allah dan rasul-Nya”. Inilah yang dijelaskan Nabi dalam hadis beliau yang maksudnya : “ Sesungguhnya setiap pekerjaan itu akan dinilai sesuai dengan niat dan motivasi dalam melakukannya. Oleh karena itu setiap orang akan mendapat balasan ataupun hasil sesuai dengan niat dan motivasinya tersebut. Maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang melakukan hijrah karena mencari dunia atau mencari wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan sesuai dengan niat dan motivasi tersebut ( mendapat dunia atau wanita ) “. Menurut Ibnu Daqiq, hadis ini terjadi disebabkan ada seorang sahabat yang berhijrah ke Madinah disebabkan oleh wanita yang bernama Ummu Qais…Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa niat dan motivasi berbuat adalah ukuran dari segalanya. Niat dan motivasi tersebut biasanya berdasarkan pada tiga hal. Pertama, hidup dan berbuat sesuatu dengan niat dan tujuan mencari kepuasaan keduniaan seperti mencari populeritas, mencari kedudukan, mencari kekayaan, dan lain sebagainya. Inilah sikap seorang materialis.Inilah yang dimaksud dalam hadis diatas dengan hijrah untuk dunia. Kedua, ada lagi manusia berbuat bukan mencari populeritas, kedudukan atau pangkat tetapi mencari kepuasan hawa nafsu, seperti untuk bersenang-senang , berfoya-foya, dan lain sebagainya. Inilah yang dinamakan hidup hedonis, yaitu hidup hanya untuk mencari kesenangan dan kepuasan belaka.Inilah yang dimaksud dalam hadis diatas dengan hijrah kepada wanita. Yang ketiga adalah hidup dan bekerja dengan niat mencari keridhaan Allah dengan cara menjalani petunjuk-Nya dan mengikuti cara hidup yang telah dicontohkan oleh rasul-Nya Muhammad saw. Inilah cara hidup seorang muslim. Inilah maksud hijrah kepada Allah dan RasulNya. Mari kita perhatikan cara hidup kita selama ini. Sudahkah kita hidup, bekerja, berkeluarga, mendidik anak, memberi makan anak, berdagang, berkarya, berkarier, belajar, mencari ilmu, menjadi guru, mengajarkan ilmu, menjadi ustadz, menjadi da’i, menjadi direktur, menjadi ayah, menjadi ibu, menjadi isteri, menjadi pemimpin, menjadi pengurus, menjalankan ibadah shalat, menunaikan zakat, menunaikan rukun haji, mendatangi majlis pengajian, menjadi dosen, menikah, berpakaian, berpenampilan, benar-benar dengan niat mencari keridhaan Allah, dengan niat menjalankan sunnah Rasulullah, dengan niat ibadah ataukah sewaktu kita melakukan itu semua masih tersisa disana niat-niat keduniaan dan hawa nafsu….? Apakah hidup kita masih mengikuti cara hidup mereka yang “maghdub alaihim “ atau cara hidup orang yang “dhallin “ ? Mari kita berubah dan berhijrah dari cara hidup orang yang “maghduub alaihin “ tau cara hidup mereka yang “dhallin”, kepada cara hidup orang yang telah berada dalam jalan “ shiratal mustaqin “ dengan niat hijrah “ kepada Alah dan Rasulnya” bukan hidup hanya untuk tujuan dunia atau hawa nafsu belaka. Selamat Tahun Baru Hijrah. Selamat berhijrah..!

Monday, October 21, 2013

Kalimat Allah dan Pluralisme Agama*

1. Nama Allah dalam Islam. Allah adalah nama Tuhan yang mulia ( ismul Jalalah ) dengan sifat-sifat yang sempurna, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab suci AlQuran. Oleh sebab itu lafadz Allah adalah bersifat qadim dan azali, sebab nama Allah tidak dapat dipisahkan daripada Dzat Allah. Dzat Allah bersifat qadim, maka nama Allah juga bersifat Qadim, dan azaliy. Oleh sebab nama Allah itu bersifat qadim, dan azaliy maka lafaz Allah bukanlah lafadz dari bahasa manusia, berarti Lafaz ”Allah” juga bukan berasal dari bahasa Arab disebabkan : 1. Nabi Adam dan nabi-nabi sebelum orang arab seperti nabi Nuh, Nabi Idris, Hud, Saleh, Ibrahim menyebut Tuhan mereka dengan nama Allah. 2. Lafadz Allah tidak memiliki akar kata ( root word ) dalam bahasa Arab, oleh sebab itu lafadz Allah bukan berasal bahasa arab. 3. Tuhan dalam bahasa Arab disebut dengan ” ilah ” ( god ) dan jika dalam bentuk khas disebut dengan ” al -Ilah ” ( The God ). 2. Nama Allah dalam pandangan Barat Dalam pandangan Barat, nama Allah adalah berasal dari bahasa Arab, malahan jauh sebelum bangsa Arab, yaitu dari bahasa Semitis dan Aramaic ( bahasa syria kuno ) sebagaimana dinyatakan dalam Ensyclopaedia of Britanica dan Ensyclopaedia of Islam. "Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah, "the God." The name's origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for god was Il or El, the latter being an Old Testament synonim for Yahweh. Allah is the standard Arabic word for "God" and is used by Arab Christians as well as by Muslims." ( “ Allah” dalam Encyclopaedia Britanica ) ” ALLAH, was known to the Pre-Islamic Arabs, he was one of the Meccan deities, possibly the supreme diety and certainly a creator God. He was already known, by antonomasia, as the God, al-Ilah ( the most likely etymology; another suggestion is the Aramaic Alaha ). ( Encyclopaedia of Islam. Volume I, E,J.Brill, hal. 406 ) 2. Konsep Nama Tuhan dalam Islam. Menurut konsep Islam nama Allah disebutkan oleh Tuhan sendiri, bukan buatan manusia sebagaimana firman Allah dalam surah Taha (20) : 14 إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۟ فَٱعۡبُدۡنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِڪۡرِىٓ ” Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku ”.( QS.Taha : 14 ) Dari ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa nama ”Allah” itu disebutkan oleh Tuhan sendiri ” Sesungguhnya Aku ini adalah Allah , tiada tuhan selain Aku ”, sebab hanya Tuhan yang mengetahui namanya sendiri, dan nama Tuhan itu diinformasikan kepada mansuia melalui wahyu yang diberikan kepada nabi dan nrasulNya. Berarti nama Allah bukan nama yang diciptakan oleh manusia atau nabi tetapi nama yang disebutkan oleh Tuhan itu sendiri. Oleh sebab itu dapat disimpulkan dalam konsep agama Islam, nama Tuhan bukanlah ciptaan manusia, tetapi nama yang diberikan oleh Tuhan sendiri untuk dirinya sendiri dan tidak dapat dipisahkan daripada DzatNya sehingga dinamakan dengan ”Lafdzul Jalalah ”. 3. Nama Tuhan bagi orang kafir. Sedangkan dalam konsep orang kafir, namakan Tuhan mereka berikan sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Hal ini dinyatakan Allah dalam firmanNya : مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦۤ إِلَّآ أَسۡمَآءً۬ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُڪُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِہَا مِن سُلۡطَـٰنٍ‌ۚ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ‌ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ” Kamu tidak menyembah tuhan selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu buat dan reka sendiri. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Sesungguhnya keputusan (untuk membuat nama tuhan itu ) hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."( Surah Yusuf/12 : 40 ). Dari ayat ini dapat dismpulkan bahwa orang kafir itumembuat nama-nama tuhan sesuai dengan rekaan mereka sendiri, keputusan tentang nama Tuhan itu hanya dari Allah, dan manusia tidak berhak membuat nama Tuhan. إِنۡ هِىَ إِلَّآ أَسۡمَآءٌ۬ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِہَا مِن سُلۡطَـٰنٍ‌ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَمَا تَهۡوَى ٱلۡأَنفُسُ‌ۖ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّہِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ “ Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu buat sendiri; Allah tidak pernah menurunkan suatu keteranganpun (untuk menyembah nama-nama yang kamu buat itu).Sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka sahaja dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka ”.(Surah an Najm/53 : 23 ). Dari ayat ini disimpulkan bahwa orang kafir membuat nama tuhan mereka berdasarkan kepada keinginan hawa nafsu mereka, sehingga nama-nama itu dapat berubah-rubah sesuai dengan keinginan mereka. أَتُجَـٰدِلُونَنِى فِىٓ أَسۡمَآءٍ۬ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِہَا مِن سُلۡطَـٰنٍ۬‌ۚ فَٱنتَظِرُوٓاْ إِنِّى مَعَڪُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ” Apakah kamu sekalian hendak berbantah-bantah dengan Aku tentang nama-nama tuhan yang kamu beserta nenek moyangmu telah berikan, Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan keputusannya untuk itu ? Maka tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu" ” ( Surah al A’raf/7 : 71 ) Dalam ayat ini Allah melarang kita untuk berbantah-bantah tentang nama Tuhan, sebab nama Tuhan yang sebenarnya itu datang dari Tuhan bukan dibuat-buat oleh manusia. Dan jika kita mempermainkan nama Tuhan maka Allah akan menurunkan azabNya. Oleh sebab itu dalam konsep orang kafir, nama tuhan adalah buatan manusia itu sendiri. Itulah sebabnya mereka menganggap bahwa kalimat Allah juga merupakan nama tuhan dalam Islam yang berasal dari bahasa Arab. 4. Lafadz Allah meliputi Tuhan sebagai rabb ( Tuhan yang mengatur alam ) dan Tuhan yang disembah ( Ilah ), dan Tuhan yang memiliki nama dan sifat yang mulia ( Asmaul Husna). إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلۡقَصَصُ ٱلۡحَقُّ‌ۚ وَمَا مِنۡ إِلَـٰهٍ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ Surah Ali Imran : 62. ” Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ”. Dalam ayat diatas, dinyatakan bahwa tiada Ilah yang sebenarnya kecuali Allah, berarti sewaktu seseorang menyebutkan lafaz Allah, maka lafadz itu menyatakan Allah sebagai Ilah, Tuhan yang disembah. ذَٲلِڪُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ‌ۖ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ خَـٰلِقُ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ فَٱعۡبُدُوهُ‌ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ وَڪِيلٌ۬ Surah al An’am : 102. (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu ”. Dalam ayat ini, dinyatakan bahwa Allah itu sebagai Rabb, Tuan pengatur seluruh alam. Bermakna sewaktu seseorang menyebut Allah, maka lafadz Allah itu juga menyatakan Allah sebagai Rabb. ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ Surah Taha /20 : 8. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik) “. Dalam ayat ini, dinyatakan bahwa Allah sebagai Ilah tersebut memiliki nama-nama yang mulia. Berarti jika menyebut lafadz Allah, maka di dalam lafadz Allah tersebut mengandungi semua nama-nama Asmaul Husna. هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ‌ۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ (٢٢) هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَـٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَڪَبِّرُ‌ۚ سُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ (٢٣) هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَـٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُ‌ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۚ يُسَبِّحُ لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ Surah al Hasyr : 22-24. : “ Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (22) Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (23) Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (24) Dalam ayat diatas, dinyatakan bahwa Allah itu sebagai pencipta, dan Dia memiliki Asmaul Husna. Oleh sebab itu dalam lafadz Allah itu meliputi makna Allah sebagai Ilah, Rabb yang memiliki Asmaul Husna, sehingga Alla sebagai Rabb tidak dapat dipisahkan dengan Allah sebagai Ilah, yang memiliki Asmaul Husa. 5. Nama Allah yang disebutkan oleh orang kafir dalam Al Quran bukan Allah dalam konsep sebagai Rabb dan Ilah, tetapi Allah sebagai Rabb sahaja, yang mereka pisahkan dari Tuhan sebagai Ilah. Oleh sebab itu walaupun mereka sebut lafadz Allah, sebenarnya mereka itu tidak menyembah Allah. وَلَٮِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ‌ۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ Surah al Ankabut/29 : 61. dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Dalam ayat ini Allah memberikan komen di akhir ayat , sehingga seakan-akan Allah menyatakan jika mereka itu menyebut nama Allah sebagi tuhan pencipta langit dan bumi, mengapa mereka tidak menyembah Allah, mengapa mereka berpaling dari menyembah Allah ? وَلَٮِٕن سَأَلۡتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ مَوۡتِهَا لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ‌ۚ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ‌ۚ بَلۡ أَڪۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ Surah al Ankabut/29 : 63. dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak berpikir.” Dalam ayat diatas dinyatakan bahwa walaupun mereka mengatakan bahwa Allah sebagi tuhan yang menurunkan hujan daripada langit, tapi sebenarnya mereka itu tidak berpikir, sebab apa yang mereka sembah bukan tuhan yang mereka sebut. وَلَٮِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ‌ۚ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ‌ۚ بَلۡ أَڪۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ Surah Lukman/31 : 25. dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dari ayat diatas disimpulkan bahwa walaupun orang kafir itu menyatakan bahwa Allah sebagai pencipta langit dan bumi, tetapi sebenarnya itu bukan berdasarkan ilmu pengetahuan yang benar, mereka hanya mempermainkan nama Tuhan, sebab mereka sendiri tidak menyembah Allah yang mereka sebut. وَلَٮِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ‌ۚ قُلۡ أَفَرَءَيۡتُم مَّا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَنِىَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلۡ هُنَّ كَـٰشِفَـٰتُ ضُرِّهِۦۤ أَوۡ أَرَادَنِى بِرَحۡمَةٍ هَلۡ هُنَّ مُمۡسِكَـٰتُ رَحۡمَتِهِۦ‌ۚ قُلۡ حَسۡبِىَ ٱللَّهُ‌ۖ عَلَيۡهِ يَتَوَڪَّلُ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ Surah az Zumar /39 : 38. Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: Apakah kamu tidak memikirkan apa yang kamu seru selain Allah, padahal jika Allah mendatangkan kemudharatan, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. Dalam ayat ini jelas Allah menyatakan bahwa walaupun mereka sebut Allah sebagi tuhan pencipta langit dan bumi, tetapi sebenarnya mereka itu tidak memikirkan apa yang mereka sebut itu, sebab mereka tidak menyembah Allah, tetapi menyembah tuhan selain Allah, padahal tuhan yang mereka sembah itu tidak dapat memberikan manfaat dan mencegah mudharat. وَلَٮِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ‌ۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ (٨٧) وَقِيلِهِۦ يَـٰرَبِّ إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ قَوۡمٌ۬ لَّا يُؤۡمِنُونَ (٨٨) فَٱصۡفَحۡ عَنۡہُمۡ وَقُلۡ سَلَـٰمٌ۬‌ۚ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ (٨٩) Surah Zukhruf/43 : 87-89:. “ Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan [dari menyembah Allah]?, (87) dan [Allah mengetahui] ucapan Muhammad: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman". (88) Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari mereka dan katakanlah: "Salam [selamat tinggal]." Kelak mereka akan mengetahui [nasib mereka yang buruk]. (89) Dari ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa “ Allah “ yang disebutkan oleh orang kafir bukan Allah dalam konsep yang dipahami oleh orang Islam sebagai Tuhan yang disembah dan Tuhan Pencipta Alam, dan di akhir semua ayat Allah memberikan komentar : “ dan bagaimana mereka dapat dipalingkan dari jalan sebenar “ ( Ankabut : 61 ), “ Dan mereka tidak memahaminya “ ( Ankabut : 63 ), “ Dan mereka tidak mengetahui “ ( Lukman : 25 ), “ tetapi apakah kamu memperhatikan mengapa kamu menyembah selain Allah “ ( Zumar : 38 ), Dan Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan dai menyembah Allah “ ( Zukhruf : 87 ). Dari keterangan diatas kita tidak dapat mengambil kesimpulan bahwa nama Allah itu adalah Allah yang dimaksudkan oleh orang Islam, sebab mereka hanya menyebutkan Allah sebagai pengatur alam bukan Tuhan yang disembah ( mereka memisahkan antara Tuhan pengatur alam dan Tuhan yang disembah, sedangkan dalam islam Tuhan Pengatur alam tidak dapat dipisahkan dari Tuhan yang disembah ). Ayat-ayat ini hanya menceritakan perkataan mereka yang mempermainkan nama Allah, ayat ini tidak memberikan keterangan bahwa Allah membolehkan mereka untuk menyebut nama Allah, sebab mereka telah meletakkan nama Allah bukan pada tempatnya. Oleh karena itu Allah memberikan komentar dalam setiap ayat bahwa mereka itu tidak mengetahui dan memahami apa yang mereka ucapkan 6. Kalimah Allah bagi masyarakat Arab Jahiliyah. Kalimat Allah dibawa kepada bangsa Arab oleh nabi Ibrahim sebab beliau mendirikan Ka’bah sebagai rumah Allah ( rumah untuk menyembah Allah ), dan nama Allah dikenal oleh orang Arab dengan agama tauhid yang diajarkan oleh nabi Ibahim dan Ismail kepada anak keturunannya. Setelah meninggal nabi Ismail, pemahaman agama semakin berkurang, sebab tidak ada nabi dari kalangan orang Arab antara nabi Ismail sampai kepada nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu pemahaman agama bangsa Arab berubah dari agama tauhid menjadi agama penyembah berhala ( jahiliyah ). Walaupun demikian, nama Allah masih berkembang dalam bahasa mereka, walaupun mereka tidak lagi mengetahui tentang konsep Tuhan Allah yang sebenarnya. Malahan mereka membuat nama Allah menjadi nama salah satu patung berhala yang ada disamping Ka’bah. ” Adapun status ketuhanan sekalian berhala dengan tidak membedakan bentuk, bahan, dan besar kcilnya, dalam pengetahuan orang arab jahiliyah patung itu semua adalah perantara antara mereka dengan Tuhan yang lebih besar, yang mereka tidak kenal bagaimana besarnya, walaupun diantara lisan mereka ada tersebut selalu kalimat Allah yang sebetulnya hanya satu kalimat yang tinggal rasamnya, tetapi tidak dikenal lagi isinya “ ( Zainal Arifin , Sejarah Perjuangan Nabi Muhammad, jilid 1, hal. 220 ). Sebab itulah nama Allah yang disebutkan oleh masyarakat jahiliyah bukan Allah dalam konsep yang dipahami oleh agama Islam. Oleh sebab itu alasan bahwa orang jahiliyah dulu pernah memakai kalimat Allah tidak dapat dijadikan dasar hukum, sebab Allah itu dalam bahasa arab yang berkembang bukan Allah dalam definisi Tuhan yang dianggap sebagai Rabb dan Ilah dalam agama Islam. 7. Fatwa Kebangsaan Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan bersidang kali ke-82 pada 5-7 Mei 2008 memutuskan “ Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa lafaz Allah merupakan kalimah suci yang khusus bagi agama dan umat Islam dan tidak boleh digunakan atau disamakan dengan agama-agama bukan Islam yang lain. Oleh karena itu wajib bagi umat Islam menjaganya dengan cara yang terbaik dan sekiranya terdapat unsure-unsur penghinaan atau penyalahgunaan terhadap kalimah tersebut, maka ia perlu disekat mengikut peruntukan undang-undang yang telah termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan “. 8. Penolakan kristiani Belanda terhadap pemakaian kalimat Allah. Dutch bishop: Call God ‘Allah’ to ease relations (Associated Press Aug.15,2007) AMSTERDAM - A Roman Catholic Bishop in the Netherlands has proposed people of all faiths refer to God as Allah to foster understanding, stoking an already heated debate on religious tolerance in a country with one million Muslims. Bishop Tiny Muskens, from the southern diocese of Breda, told Dutch television on Monday that God did not mind what he was named and that in Indonesia, where Muskens spent eight years, priests used the word "Allah" while celebrating Mass. "Allah is a very beautiful word for God. Shouldn't we all say that from now on we will name God Allah? ... What does God care what we call him? It is our problem." A survey in the Netherlands' biggest-selling newspaper De Telegraaf on Wednesday found 92 percent of the more than 4,000 people polled disagreed with the bishop's view, which also drew ridicule. "Sure. Lets call God Allah. Lets then call a church a mosque and pray five times a day. Ramadan sounds like fun," Welmoet Koppenhol wrote in a letter to the newspaper. Gerrit de Fijter, chairman of the Protestant Church in the Netherlands, told the paper he welcomed any attempt to "create more dialogue", but added: "Calling God 'Allah' does no justice to Western identity. I see no benefit in it." A spokesman from the union of Moroccan mosques in Amsterdam said Muslims had not asked for such a gesture.(www.msnbc.msn.com/id/20279326/ns/world_news-europe) 9. Kristian Indonesia menolak kalimah Allah untuk nama tuhan mereka. Di akhir tahun 1990-an, di Indonesia muncul kelompok yang memuja nama Yahweh (dalam huruf Ibrani disebut tetragrammaton yang terdiri dari 4 huruf bahasa Ibrani יהוה – YHVH). Pelopornya adalah dr. Suradi dari Yayasan Nehemia yang kemudian berlindung dibelakang nama organisasi Shiraathal Mustaqien dan lalu diganti dengan nama Bet Jeshua Hamasiah, Jakarta, dan mereka menerbitkan seri traktat berjudul Siapakah Yang Bernama Allah Itu? Pada prinsipnya kelompok ini berpendapat bahwa 'nama Allah' adalah nama dewa berhala Arab, atau tepatnya dewa bulan atau dewa air, karena itu haram disebut oleh umat Kristen dan harus dihapus dari dalam Alkitab terbitan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia). Akibat dari keyakinan ini maka kelompok ini kemudian menerbitkan Kitab Suci Torat dan Injil (Kitab Suci 2000) yang menggunakan terjemahan LAI sebagai dasar dan mengganti semua nama Tuhan dengan Eloim atau Yahwe, dan mengganti nama-nama menjadi nama Ibrani. Dua tahun kemudian terlihat ada kelompok yang mirip tetapi berjalan terpisah dan menamakan diri mereka sebagai Jaringan Gereja-Gereja Pengagung Nama Yahweh. Kelompok ini diilhami gerakan semacam dari Afrika Selatan dan Amerika Serikat, dan menyalahkan tradisi Yudaisme Orthodox, Septuaginta, dan Naskah PB Yunani Koine yang dianggap sudah menerjemahkan bahasa asli Alkitab yang dipercayai adalah bahasa Ibrani. Kelompok ini juga mengganti nama Tuhan dengan YAHWEH dan menerbitkan Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan pada tahun 2002. Kitab suci ini juga menghilangkan nama Allah dan menggantikannya dengan Tuhan dan nama TUHAN/Tuhan dengan YAHWEH. Ada juga Nafiri Yahshua Ministry yang menerbitkan traktat-traktat dan buletin dengan tokohnya Teguh Hindarto dan mendirikan Gereja Alkitab Injili Nusantara di Kebumen. Pada prinsipnya, pendapat mereka sama dengan yang di atas, yaitu bahwa nama Allah adalah nama berhala Arab dan harus disingkirkan dari Alkitab dan agar nama YAHWEH dan 'ELOHIM-lah yang digunakan. Menyinggung nama Allah, tidak bisa diabaikan adanya kelompok lain yang dipelopori Posma Situmorang yang menolak nama Allah yang dianggap nama berhala dan menekankan bahwa nama Bapa adalah Yesus, nama Anak adalah Yesus, dan nama Roh Kudus adalah Yesus juga. Yang menarik dari kelompok ini adalah bahwa kelompok ini menganggap bahwa nama YAHWEH sebenarnya adalah nama berhala juga! (sumber : situs sarapan pagi.com ) 10. KALIMAT ALLAH DAN SRATEGI KRISTIAN Dalam laman web thepeopleofthebook.org dinyatakan bahwa penggunaan kalimat Allah oleh umat kristen adalah merupakan strategy untuk mempengaruhi orang islam, sebagaimana mereka nyatakan : “ The People of the Book is taking an "insider approach" to working with Muslims. This means that we do not want to harshly extract them from their family and culture. We want them to come to saving faith in Christ, but stay inside their culture to be able to share Christ with family, friends and the rest of the Muslim world. We do not, of course, approve of any form of syncretism. If we desire to have an effective ministry to Muslims, we must, in a sense, become as a Muslim to the Muslim world. The goal is to share the Gospel in a way that it can be understood and embraced by them with all their heart and mind. If we do not spend time with them, living among them, how will they ever see the Gospel being lived out in real life? John Gilchrist makes the following comments in his book” Communicating the Gospel to Muslims” : "When Christians take a traditional evangelical line of approach, simply setting Jesus forth as the Lord and Saviour of all men, Muslims find security in dismissing the message as simply an exposition of Christian doctrine and belief, and they comfort themselves by resting in the doctrines and tenets of Islam instead. We need to penetrate, we need to challenge the Muslims where they are and stimulate a process of reflection by presenting the Gospel against their own background, against the Muslims' own views of Jesus and the prophetic history leading up to him. Not only so but, as we have seen in the example of Paul, we have a clear Biblical sanction for quoting their own scriptures to make our message relevant. Paul did this with telling effect in Athens by quoting Greek poets and it is quite amazing to behold how, by quoting passages from the Qur'an as well as the Bible, a Christian can make the Gospel message thoroughly relevant to a Muslim. I intend to give numerous practical examples later in this book, but let it suffice for the moment to say that we have, here, a clear Biblical authority for this method." ( part B - The Biblical Approach to Muslims section 3 - Paul's preaching at Athens and Corinth) Mr. Gilchrist adds the following comment in section 4 - Becoming a Muslim to the Muslims: "What, then, is the Biblical approach to Muslims in the light of this method into which the great apostle allows us to enter? It is simply this - in the same way that he became as a Jew to the Jews, so each of us must become as a Muslim to the Muslims. We must discover the beliefs of the Muslims, their view of prophetic history, their assessment of Jesus Christ, and their overall religious perception of life, and present the Gospel against that background. Samuel Zwemer, one of the most famous missionaries to Muslims, sums this up perfectly in saying: 'We must become Moslems to the Moslem if we would gain them for Christ. We must do this in the Pauline sense, without compromise, but with self-sacrificing sympathy and unselfish love. The Christian missionary should first of all thoroughly know the religion of the people among whom he labours; ignorance of the Koran, the traditions, the life of Mohammed, the Moslem conception of Christ, social beliefs and prejudices of Mohammedans, which are the result of their religion, - ignorance of these is the chief difficulty in work for Moslems. ( Zwemer, The Moslem Christ, p. 183).'" We believe that it can be very effective to use the Quran as a tool to share concepts that are familiar and acceptable to Muslims, and that support Biblical principles. There are many concepts that are very compatible with the Bible and there are other Quranic teachings that may actually be misunderstood by Christians and Muslims. Of course, the Holy Bible is the only and complete authority for everything pertaining to doctrine and lifestyle. We believe that it is perfectly acceptable to use the name Allah, both in the Bible that we use to minister to Muslims, as well as materials that we distribute. It is the translation of the word "God" in Arabic. Joshua Massey has written an excellent summary about this topic. This does not mean that Allah in the Qur'an is exactly the same as the God of the Bible. Pernyataan tokoh kristian Malaysia. Dalam Utusan Malaysia dibawah tajuk ” Lagi tokoh kristian gesa gugur kalimah Allah ”, tokoh Kristian Webley Disim, menyatakan bahwa kalimah Allah dipakai umat kristian dengan motif untuk menarik penganut Islam kepada Kristian ” Webley yang juga Naib Presiden Dewan Usahawan Bumiputera Malaysia mengakui, tindakan akhbar itu sememangnya mempunyai motif untuk menarik penganut Islam kepada Kristian. "Saya difahamkan oleh rakan-rakan dari Kuala Lumpur, tindakan akhbar itu adalah untuk menguji orang Melayu dan Islam, dengan menyatakan 'kita' menyembah tuhan yang sama iaitu Allah," katanya. Menurutnya, perbuatan tersebut akan mengelirukan umat Islam kerana Allah bagi penganut Islam dan Kristian adalah berbeza mengikut kepercayaan masing-masing. "Ini tidak baik, kenapa perlu menarik orang yang sudah beragama, sepatutnya kita (Kristian) menarik orang yang masih tiada agama seperti Orang Asli di Semenanjung atau Bumiputera di Sabah atau Sarawak," katanya. ( Utusan Malaysia 14 Januari 2010 ). 11. Kalimat Allah dan paham Pluralisma Agama. Menurut John Hick, Pluralisma agama adalah “ Suatu gagasan bahawa agama-agama besar dunia merupakan anggapan dan konsep yang berbeda tentang Yang Maha Agung, dan secara bertepatan merupakan respon yang majemuk terhadap Yang Nyata atau Yang Maha Agung dari dalam aturan budaya manusia yang berbagai bentuk dan bahwa transformasi wujud manusia dari suatu pemusatan menuju Hakikat yang terjadi secara nyata dalam setiap bentuk budaya tersebut dan dapat terjadi sejauh yang dapat dicermati sampai pada batas yang sama “( Pluralism is the view that the great world faiths embody different perceptions and conceptions of, and correspondingly different responses to, the Real or the Ultimate from within the major variant cultural ways of being human, and that within each of them the transformation of human existence from self-centredness to Reality centredness is manifestly taking palce-and taking so far as human observation can tell, to much the same exten “ ( Jhon Hick, An Interpretation of Religion : Human Responses to the Trancendent, MacMillan, London, 1991, hal. 36 ). Definisi diatas menjelaskan bahwa semua agama itu merupakan jalan yang berbeda tetapi semuanya menuju kepada Tuhan yang satu, Yang Nyata, Yang Maha Agung; sehingga walaupun setiap agama itu berbeda dalam melakukan respon, tetapi pada batas-batas tertentu setiap agama itu memiliki kesamaan dan kesatuan dengan agama yang lain. Tujuan utama paham pluralisma adalah menghilangkan sifat ekslusif umat beragama, khususnya islam. Artinya dengan paham ini umat Islam tidak lagi bersikap fanatic, merasa benar sendiri, dan menganggap agama lain itu salah, sehingga menurut John Hick, diantara prinsip pluralisma agama adalah menyatakan bahwa agama lain adalah sama-sama jalan yang benar menuju kebenaran yang sama “ Oter religions are equally valid ways to the same ways “. Paham pluralisma ini memiliki dua aliran yaitu aliran kesatuan transenden agama-agama ( transcendent unity of religion ) dan aliran teologi global ( global theology ). Diantara pendukung aliran kesatuan transenden agama-agama adalah Rene Guenon ( Abdul Wahid Yahya ), Frithjof Schoun ( Isa Nuruddin ), dan Husein Nasr. Sedangkan diantara pendukung Theologi Global adalah Wilfred Cantwel Smith dengan bukunya “ Toward A World Theology “, dan Hans Kung dengan buku “ Global Ethic “. Aliran Kesatuan transcendent agama-agama, memahami bahwa setiap agama memiliki nilai-nilai batin ( esoteric ) dan juga nilai-nilai zahir ( eksoteric ). Setiap agama hanya berbeda dalam nilai-nilai zahir sahaja, sedangkan dalam setiap agama itu akan mempunyai nilai-nilai esoteric yang sama sebab menuju kepada Tuhan yang sama. Bagi aliran ini, Tuhan itu satu untuk semua agama, hanya sahaja panggilan Tuhan itu dan bentuk penyembahan kepada tuhan itu berbeda bagi setiap agama. Walaupun berbeda, hakikatnya mereka menyembah tuhan yang sama. Oleh sebab itu pluralisma agama selain menyatakan bahwa semua agama itu benar, sebab semuanya menuju Tuhan yang satu, tetapi mereka juga akan membentuk konsep teologi yang sama ( Global Theology ) dengan memakai istilah agama yang sama ( seperti lafaz Allah untuk Tuhan, istilah shalat untuk sembayang, istilah syahadat untuk baptis, istilah muslim, istilah mukmin, dan lain sebagainya ) syariat yang sama, hukum fikah yang sama, ( sebagai contoh terbinya buku “ Fikah Lintas Agama “ di Indonesia ), sampai kepada pedoman akhlak dan etika yang sama ( global ethic ). Gerakan Pluralisme ini merupakan gerakan global sejak dibentuknya World’s Parliament of Religions di kota Chigaco tahun 1893, dengan keputusan bahwa agama-agama di dunia perlu menghilangkan bersatu dan perbedaan masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kedua di kota yang sama tahun 1993 dengan memperkenalkan konsep Global Theology dan Global Ethic, dilanjutkan dengan pertemuan ketiga tahun 1999 di Barcelona, Spain dan pertemuan selanjutnya tahun 2004 di Cape Town , Afrika selatan, dan pertemuan terakhir pada bulan Desember 2009 di Meulborne Australia. Dari kajian diaats dapat dilihat pluralisme merupakan cabaran terbesar bagi agama Islam, dan juga semua agama yang lain. Oleh sebab itu Majelis Agama Islam Indonesia dan Fatwa kebangsaan Malaysia sudah memutuskan bahwa paham pluralisma adalah pemahaman yang sesat dan bertentangan dengan akidah islam, bahkan dapat dilihat paham ini merupakan syirik kontemporeri. Wallahu A’lam. *Makalah disampaikan dalam prohram pemantapan fatwa Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia.

Sunday, November 4, 2012

Antara Takbir dan Talbiyah

“ Dan mengingat Allah itu lebih besar “ ( QS. Ankabut/29:45) Setiap hari raya baik itu idul fitri, maupun Idul Adha takbir dan tahmid menjadi sikap hidup msulim yang diucapkan dalam lafadz, diyakini dalam hati, dan diamalkan dalam perbuatan. Dengan melafazkan lafazd takbir lengkap tersebut berarti kita mulai segala aktivitas kehidupan dengan ucapan takbir “ Allahu Akbar “, agar kita dapat merasakan kehadiran Allah Yang Maha Kuasa dalam setiap sisi kehidupan. Dengan tahmid “ walillahilhamd “, kita menyatakan bahwa tiada kehidupan tanpa rahmat dan nikmat daripada Allah, sebab Allah sebagai “rabbul alamin “. Dengan takbir dan tahmid, kita mengakui bahwa tiada kehidupan yang kita nikmati tanpa rahmat dan karunia daripada Allah, dan dengan takbir kita siap menghadapi segala resiko dan tantangan sebab Allah akan bersama kita dimanapun kita berada, memberikan hidayahNya, pertolonganNya, dan taufiqNya.Tidak ada suatu gerakanpun did unia yang lepas dari kekuasaan Allah, dan bagaimanapun hebatnya otak manusia dan canggihnya teknologi tetap manusia tidak dapat lepas dari kuasa Allah. Allahu akbar walilahilhamd. Setelah kita meyakini bahwa kekuasan Allah yang tak dapat ditandingi walau dengan teknologi secanggih apapun, dan kemustahilan manusia untuk lepas dari rahmat dan nikmat Allah, barulah kita sadar dan insaf bahwa segala kenikmatan yang telah Allah berikan, segala kehidupan ini sepatutnya kita pergunakan hanya dengan tujuan beribadah kepadaNya. “ Laa Na’budu Illa Iyyah “,.Kami tidak menyembah selain kepada Allah, “ Walau karihal kafirun “, walaupun orang kafir, akan membenci kami akan mengatakan kami sebagai kolot, fundamentalis, teroris, dan lain sebagainya hanya disebabkan oleh iman kami, ibadah kami, keyakinan kami . Ini adalah sikap dan identitas seorang muslim. Sudahkah kita selama ini mempergunakan segala kenikmatan hidup kita untuk menyembah dan beribadah kepada Allah. Apakah akal dan ilmu pengatahuan yang telah diberikan kepada kita dipergunakan untuk beribadah kepadaNya, ataumenjadikan kita kafir kepadaNya sebab kita mengagungkan akal sehingga hukum Tuhan dirobah, sebagaimana dilakukan oleh kelompok Islam liberal dan lain sebagainya. Harta kekayaan diberikan agar kita dapat beribadah kepadaNya dengan infaq dan sedekah bukan untuk bersenang-senang memuaskan hawa nafsu di tempat-tempat maksiat. Kekuasaan yang diberikan sepatutnya dipergunakan untuk ibadah, menolong masyarakat, beramal jariyah bukan untuk menindas dan memeras rakyat, dengan melakukan kolusi, korupsi dan lain sebagainya. La Na’budu Illa Iyyah, Ya Tuhan , segala nikmatMu hanya untuk beribadah kepadaMu. Inilah makna daripada “ Labbaikallahumma Labbaik”…Ya Allah kami datang dengan segenap jiwa, harta, pangkat, kuasa, hanya untuk memenuhi panggilanMu, menjalankan perintahMu…”Laabbaika Laa Syariika laka labbaik”, kami beribadah kepadaMu tanpa ada sedikitpun unsur kemusyirikan Ya Allah, kami beribadah dengan niat ikhlas, tanpa riya, tanpa tujuan yang lain. Kami bekerja, membantu , membangun, hanya untukMu, bukan untuk mencari populeritas,mencari nama, tujuan politis agar terpilih menjadi kepala daerah, dan lain sebagainya. “Innal hamda.”.segala nikmat yang Engkau berikan seperti kesehatan, tenaga, tanah, bumi, anak, keluarga, pekerjaan, semuanya datang dariMu dan akan kami pergunakan hanya untuk menyembahmu. “Wannikmata” demikian juga segala kenikmatan seperti kekayaan, gaji, kenderaan, rumah , semuanya berasal dari anugerah dan rahmatMu, bukan karena kehebatanku, bukan karena kepintaranku, bukan karena kecanggihan teknologi, tetapi semua berdasarkan rahmat dan kasih sayangMu. “Wal Mulk “ demikian juga pangkat, jabatan, kedudukan, menjadi lurah, bupati, direktur, walikota, menteri, anggota parlemen , presiden, semuanya adalah anugerahMu kepadaku. Oleh karena itu sebagai hambaMu, maka aku mempergunakan itus emua hanya untuk beribadah kepadaMu, bukan untuk riya, “ La syarika laka “ bukan untuk mencari populeritas, prestise, kesombongan dan lain sebagainya. Pernyataan diri untuk beribadah secara totalitas inilah yang dimaksudkan dalam kalimat “ Mukhlisin lahuddin “, kami menyembah dan beribadah, melakukan segala aktivitas, bekerja, berpolitik, bermasyarakat, berkeluarga, dan seluruh kehidupan kami hanya kami lakukan dengan penuh keikhlasan mencari dan mengharapkan ridha Allah, bukan untuk gengsi, bukan karena mencari pangkat, kedudukan, harta dan populeritas. Inilah sikap tauhid yang menafikan dan menghilangkan segala “ personal interest “, kepentingan diri , kepentingan kelompok , kepentingan dunia, kepentingan hawa nafsu dalam berbuat dan beramal, jika kita inginkan segala perbuatan tersebut akan mendapat predikat ibadah kepada Allah. Mengapa demikian, sebab tidak ada nilai suatu perjuangan dan pengorbanan jika kita masih mendahulukan kepentingan diri dan kelompok daripada kepentingan yang lebih besar, kepentingan kesejahteraan umat manusia . Untuk ini diperlukan pendidikan hati yang bersih, nurani yang jernih, niat yang suci, dan tujuan yang luhur, dalam melakukan setiap aksi dan aktivitas kehidupan. Untuk menghadapi tantangan dan segala macam ujian, godaan dan maka seorang muslim diharapkan hanya meninta pertolongan kepada Allah, tanpa mencemarinya dengan kemusyrikan. Inilah yang dituntut dalam kalimat takbir : “ Shadaqa wa’dah….Dia adalah Tuhan yang pasti akan melaksanakan segala janji Allah…Janji kemenangan bagi mereka yang beriman. Janji pertolongan bagi mereka yang berbuat mencari ridhaNya.. Ini merupakan pembentukan motivasi untuk berani menghadapi segala tantangan dan godaan sebesar apapun dari pihak luar, sebab Allah pasti akan menepati janjiNya. “ Wa nashara ‘abdah .” .pastilah Dia akan menolong hambaNya, jika hambanya berada dalam kesulitan, kesusahan, ataupun dalam ancaman musuh; selama hambaNya telah beriman kepadanya dan benar-benar melaksanakan segala perintahNya. Keyakinan akan pertolongan Allah dalam segala keadaan dalam menghadapi setiap langkah perjuangan menghadapi setiap tantangan ini merupakan kekuatan diri untuk mencapai kemenangan. Dengan keyakinan akan pertolongan Allah maka apapun yang akan menghalangi kita, janganlah gentar dan takut sebab Allah akan menghancurkan mereka “ Wa Hazamal Ahzaaba wahdah “ Dia akan menghancurkan segala potensi lawan jika kita telah melakukan ikhtiar, berusaha, dengan juga bekerja keras dengan mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan, potensi dan tenaga, dalam melakuan aktivitas kehidupan. Keyakinan akan kekuatan dari Allah yang akan menghancurkasn segala potensi lawan ini merupakan motiovasi diri yang paling utama untyuk mencapai kemenangan. Inilah makna firman Allah dalam Al Quran “ Sungguh kewajiban kami untuk memberikan kememangan kepada orang yang beriman “ ( QS. Ar Ruum (30 ) : 48 ). Identitas tauhid dengan ucapan takbir, sehingga menjadi manusia yang ikhlas, melakukan sesuatu dengan tujuan mulia, hati yang suci tanpa dicemari oleh kepentingan pribadi, mencari kedudukan, pangkat dan dunia dan diikuti dengan motivasi keyakinan akan pertolongan Allah dalam segala keadaan inilah yang merupakan tongak utama pribadi tauhid, sebagai landasan dasar dalam kehidupan untyuk mencapai kemenangan dan kejayaan dalam aktivitas kehidupan. Bekerja karena Allah, berkeluarga karena Allah, bermasyarakat karena Allah, berorganisasi karena Allah, berpolitik karena Allah. Inilah yang wajib ada dalam pribadi setiap muslim. Inilah yang sekarang telah hilang di tengah masyarakat; sebab banyak umat islam yang sibuk bekerja hanya karena mencari kenikmatan dunia, aktif dalam partai politik karena ingin dapat kursi dan posisi, berniaga karena ingin cepat kaya, berkiprah dan berkarya untuk mencari nama dan populeritas dan lain sebagainya. Jika motivasi tauhid ini telah berganti menjadi motivasi nafsu, motivasi dunia, maka umat islam tidak akan pernah dapat menang sebab sebab dilakukan bukan dengan niat ikhlas, bukan untuk kepentingan umat, tetapi untuk kepentingan diri, hawa nafsu dan kelompok yang mengakibatkan timbulnya persaingan tidak sehat, jegal menjegal, sikut menyikut, fanatik buta, dan lain sebagainya. Inilah sebabnya mengapa umat islam sampai hari ini belum menunjukkan kemenangan dalam segala bidang, dalam ekonomi, pendidikan, sosial kemasyarakat dan politik; sebab motivasi utama adalah prestasi kelompok dan diri bukan berprestasi untuk mendapat ridha Ilahi. Fa’tabiru Ya Ulil albab. ( Muhamad Arifin Ismail )