Pages

Tuesday, January 25, 2011

ISLAM DAN BARAT

TRANSMISI PEMIKIRAN ISLAM
KEPADA PEMIKIRAN DAN PERADABAN BARAT


Pengantar

Robert Gulick dalam bukunya “ Muhammad the Educator “ menyatakan bahwa “ sangatlah sedikit kaum terpelajar yang dapat membantah pengaruh budaya Islam terhadap renaissance di Eropah. Sekian banyak terjemahan yang dilakukan telah menunjukkan bagaimana pengaruh revolusi Islam menimbulkan semangat revolusi Perancis. Jika seandainya penelitian terhadap sumbangan Islam tersebut kurang diperhatikan, hal ini akan mengakibatkan timbulnya konklusi negatif sumbangan Islam terhadap peradaban kontemporer “.

C.H. Haskin dalam bukunya “ Studies in the History of medieval Science “ juga menyatakan bahwa kenyatan yang tidak bisa dibantah bahwa kebudayaan Arab Spanyol adalah sumber utama ilmu pengetahuan bangsa barat di Eropah”. Secara rinci hal ini dikemukakan oleh Robert Briffault Dunlop Robert Hammond G. Sarton, dan Mehdi Nakosten. .

Kebudayaan manusia memang merupakan formulasi ide yang berlangsung secara kontinyu dari suatu kelompok masyarakat kepada masyarakat yang lain. Oleh karena itu sudah merupakan suatu tugas daripada ilmuwan dan cendekiawan budaya untuk menyingkap jalur transmisi dari suatu budaya dengan budaya lain, sehingga terdapat suatu titik singgung antar budaya dan pemikiran. Titik singgung antar budaya dan pemikiran tersebut menciptakan rantai peradaban umat manusia sejak dahulu hingga masa mendatang, tanpa menafikan keistimewaan dan karakteristik pemikiran dan budaya suatu masyarakat dari masyarakat yang lain.


Transmisi pemikiran Islam ke Barat.


Peradaban dan filsafat Yunani ( Graeco-Roman ) tidak lepas dari pengaruh filsafat dan budaya Hindu, Babilonia, dan Mesir Kuno. Filsafat Yunani juga mempengaruhi perkembangan dan filsafat Islam. Filsafat islam juga mempunyai andil yang besar dalam perkembangan pemikiran dan peradaban Eropah, yang dikenal dengan peradaban modern dewasa ini.

Hubungan kultural antara Islam dan barat berlangsung melalui beberapa tempat seperti Spanyol, Sicilia, naples, dan juga melalui pergaulan antara Muslim dan pasukan nasrani dalam perang Salib Pusat perdagangan Itali seperti kota genoa, Vinice, Milan, dan Florence, juga merupakan media pertemuan budaya islam dan Eropah. Para pasukan salib ( 1095 – 1270 ) yang kembali ke Eropah membawa semangat kebebasan, toleransi, persaudaraan yang mereka lihat dalam masyarakat Islam, sedangkan pada masa tersebut masyarakat eropah masih dalam “ age of darkness “.

Adapun transmisi pemikiran Islam bada bangsa Eropah tersebut dilakuka dalam tiga tahapan :

1. Pelajar dan Mahasiswa Eropah mendatangi universitas – universitas Islam di Cordova, granada, Seville, baghdad, dan cairo. Sebagai contoh, mahasiswa eropah yang kemudian dikenal sebagai Pope Sylvester II ( menduduki jabatan tertinggi dalam agama Katholik ) adalah salah seorang alumni universitas cardova. Ini memberikan bukti bahwa universitas islam dan sekolah – sekolah Islam memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang tanpa membedakan ras, bangsa dan agama.

2. Para mahasiswa Eropah setelah menamatkan pelajarannya dari Universitas Islam mereka kembali ke negara asalnya dan mendirikan Universitas, dan mereka menjadi tenaga pengajar di sekolah/ universitas tersebut. Universitas yang mereka bangun mencontoh gaya, arsitektur, kurikulum, dan metode pengajaran dari universitas Islam.

3. Disamping mendirikan universitas, mereka juga mengadakan kelompok-kelompok penterjemahan seluruh literatur Islam ke dalam bahasa latin. Proses penerjemahan literatur Islam ini berlangsung selama abad ke sebelas dampai abad ke tiga belas.

Adelard Bart, Plato Trivoli, Gerad Cremona, dan Robert Chester adalah nama-nama penterjemah buku-buku Arab yang dikenal pada masa tersebut. Michael Scott ( 1926) menterjemahkan karya Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, ke dalam bahasa latin. Gerard Cremona ( 1187 ) menterjemahkan buku karya Al farghani, Al farabi, dan buku bahasa Arab sebanyak 71 buah ke dalam bahasa latin. Joannes Seville ( 1135 ) menterjemahkan karya Al Kindi , Al Ghazali dan bku-buku astronomi , kedokteran dan matematika.

Setelah penaklukan Cordova, Bishop Raymond I ( 1126 – 1152 ) membentuk akademi terjemahan pada tahun 1135. kemudian di Toledo didirikan Akademi studi ketimuran ( School of Oriental Stuides ) pada tahun 1250.

Nama –nama Penerjemah Literatur islam

A. Dari bahasa Arab ke dalam bahasa latin :

1. Adelard of bath.
2. Alfred of Sarashel.
3. Armengandus, Son of Blaise.
4. Bonacosa.
5. Constantinus Africanus.
6. Domigo Gundasalvo
7. Faraj bin Salim
8. Givanni da Brescia, Joannes Brixiensis.
9. Gustav Flugel.
10. Herman the german.
11. Herman the Dalmation.
12. Hugo Sancceliensis
13. John of Seville.
14. Joannes saracenus Afflacius
15. Marc of Toledo
16. Michael Scott
17. Moses of Palermo
18. Peter of Cluny
19. Peter Gallego
20. Plato of Tiboli ( Plato Tiburtinus )
21. Philip of Tripoli
22. Rudolf of Bruges.
23. Robert of Chester
24. salio of Padua
25. Stephen of Antioch
26. Stepanus Arnoldi
27. Stephen of saragosa
28. Theodore of Antioch
29. Gerard of Cremona
30. Wilbelmus de Linisapud Neapolim

B. Dari bahasa Arab ke bahasa Spanyol.
1. Abraham of Toledo
2. Alfonso X
3. Dinis ( Diniz )
4. Isaac bin Sid
5. udah bin Moses
6. Judah bin Moses Hakosen
7. Sanuel Ha-levi Abul Afia

C. dari bahasa Arab/ latin ke bahasa Hebrew / Ibrani
1. Abraham ben Hayya Ha Nasi
2. Abraham ben Meir Ibn Ezra
3. Abraham ben Nathan Ha Yarhi
4. Abraham ben samuel Ibn Hasdai Ha-Levi
5. Ahitub ben Isaac
6. David ibn Ya-Ish
7. Isaac ben Nathan of Cordova
8. Jacob ben Abba Mari ben Simon
9. Jacob ben Moses Ibn Abbasi Ha-Bedarshi
10. Jacob ben Abi Abraham Isaac ben Al carsono
11. Joseph ben Isaac Qimbi
12. Joseph been Joshua I
13. Joseph ben Joshoua II
14. jacob ben mahir ibn Tibbon
15. Judah ben Saul Ibn Tibbon
16. Judah ben Solomon al Harizi
17. Judah ben Solomon Ibn Labbi
18. Judah ben Solomon Nathan
19. Moses ben Solomon of Beaucaire
20. Moses Ibn Tibbon
21. Nathan ben Elizar
22. Qalomonymos ben David the Elder
23. Salama
24. Samuel ben Jacob of Capua
25. Solomon ben Joseph Ibn Ayyub Ha-sefardi
26. Samuel ben judah of Marselle
27. samuel ben Judah Ibn tibbon
28. Salomon ben labi
29. salomon ben Peter
30. samson ben salomon
31. samuel ben Solomon Ha-Meati
32. samuel ibn Motot
33. Shem –top ben Isaac
34. Solomon Bonirac
35. tadros tadrosi
36. Zerahiah Gracian
37. Qaloynos ben Qolamos.

Dengan adanya proses penerjemahan tersebut, maka karya-karya intelektual muslim tersebut menjadi bahan bacaan utama dan referensi perkembangan pemikiran di Eropah yang akhirnya menimbulkan gerakan Renaisance, sebagaimana dijelaskan oleh J. Bronowski : ‘ Kita menyangka bahwa Itali adalah tempat kelahiran Renaisance. Padahal cikal bakal Itali tersebut adalah Spanyol pada abad kdua belas , dan itu disimbolkan dengan adanya sekolah-sekolah terkenal di toledo “.

Pengaruh pemikiran Islam di Barat

MM. Sharif dalam “ History of Muslim Philosophy “ melihat bahwa pengaruh filsafat islam terhadap perkembangan pemikiran di barat dapat ditinjau dari beberapa hal :

1. Filsafat islam memberikan inisiatif gerakan humanisme dalam masyarakat barat.
2. Memperkenalkan kepada Barat tentang ilmu sejarah dan metode kritik historis.
3. Memperkenalkan metodologi riset ilmiah pada masyarakat Eropah.
4. Mengadakan perpaduan antara filsafat dan ajaran agama.
5. Memberikan stimulasi atas gerakan mistis di Eropah.
6. Memberikan dasar-daras Renaisance dan kerangka pemikiran filsafat Barat baik Pra-Descartes maupun Post-Kantian.

A.Pengaruh Pemikiran rasionalis

Masih anyak kaum terpelajar yang beranggapan bahwa pemikiran rasionalis berasal dari barat, dan mereka merupakan penemu dan peletak dasar sains modern. Tanpa mengecilkan sumbangan mereka dalam perkembangan pemikiran rasionalis, sebenarnya aliran filsafat rasionalis berhulu dari nilai-nilai rasionalis yang berkembang dalam islam, dan buku-buku filsafat Islam.

Roger Bacon, yang dikenal sebagai salah seorang peletak dasar bagi pemikiran rasionalis barat ternyata mempelajari bahasa Arab dan banyak membaca buku-buku-buku pengatahuan islam, dan dia merupakan salah seorang team penterjemahan literatusr islam dari Universitas Oxford. Sejak Roger Bacon , barulah semangat pengkajian ilmiah dengan metode ekspriment berkembang di seluruh Eropah.

G.R.kaye dalam ‘ A Guide to Old Observation “ mengatakan bahwa kaum intelektual arab dan astronom muslim mengadakan metode penelitian yang lain daripada pendahulu mereka. Mereka para ilmuwan muslim tersebut melakukan observasi , membangun pusat-pusat penelitian, dan menciptakan instrumen penelitian, juga mengadakan koreksian terhadap rumus-srumus yang ditemukan oleh Ptolemius.

Dengan demikian, ternyata bahwa semangat pengkajian dan penelitian ilmiah, metode investigasi, metode ekspriment, observasi, dan pengukuran yang merupakan dasar pemikiran rasionalis dan ilmu matematika bukanlah ditemukan dari budaya yunani tetapi diambil dari peradaban dan pemikiran Islam.

Oleh sebab itu pemikiran –pemikiran Ibnu Sina dapat kita jumpai dalam karya Bishop Jhon Toledo , Gundisalvi, William Auverguoe (1249) Alexander Hales ( 1245) , jean de la Rochele ( 1245 ), St. Bonaventure ( 1274 ), Robert Grossette ( 1253 ), dan Jhon Peckasm ( 1292 ), demikian juga dalam karya Albertus magnus dan st. thomas Aquinas.

Risalah Hayy bin Yaqdzan karya ibnu Tufail telah diterjemahkan ke dalam bahsa latin oleh Picodella Mirandola ( 1491) dan Edward Peacock ( 1961 ) . dan terjemahan bahasa Inggeris dilakukan oleh G. Keith and Quaker ( 1674 ), ke dalam bahasa Belanda pada tahun 1672 dan 1701 , dalam bahasa jerman oleh J.G. pritius ( 1726 ) , T.G.Eichborn ( 1783 ) dan dalam bahasa perancis oleh L. Gauthier ( 1900 ) dan dalam bahasa Rusia oleh J. Kuzmin ( 1920 ).

B. Pengaruh pemikiran teologis.

St. Thomas aquinas belajar di universitas naples, dan banyak memakai argumentasi Al Ghazali dalam mengkritik filsafat yunani. Dalam karyanya “ Summa Theologica “ banyak terdapat persamaan ide dengan pemikiran Al ghazali tentang bukti adanya tuhan dengan dalil “ contingency “ dan ‘ necessity “, nama-nama, sifat, dan ilmu Tuhan, kebenaran kenabian, dan kebangkitan manusia.

Asin palacios melihat bahwa pemikiran teologis Al Ghazali juga mempengaruhi ide Pascal yang terkenal dalam filsafat agama. Theori Pascal : “ If youn win you shal win all, if you loss you will loose nothing “, merupakan teori Al ghazali yang diteruskan oleh raymond Martini dan kemudian dipakai oleh Pascal.

Robert Hammond telah mengadakan studi komparasi antara St.Thomas Aquinas dan Al Farabi dalam persoalan bukti dan argumentasi tentang Tuhan seperti bukti adanya gerak dalam setiap sesuatu , hukum kausalitas aktif , dan Tuhan sebagai “eternal being “.

Pengaruh pemikiran Filosofis.

Karya-karya Al kindi telah diterjemahkan ke dlam bahasa latin oleh Plato trivoli, Arnold Villanova, Robert the Englishman, John of Seville, dan gerard of Cremona.

Kitab Ihsa’ul ulum karya Al Farabi diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gundisalvus ( 1151 ). Ide Al Farabi tentang argumentasi kosmologis tentang Tuhan, dilanjutkan oleh Maimonides, St. Thomas Aquinas, kemudian oleh Spinoza, Leibniz, dan Kant. Menurut D. Borkowski yang mengadakan pengkajian tentang pemikiran Spinoza mengatakan bahwa siapa yang membaca dan meneliti karya Spinoza “ de Emendatione Intelectus “ akan mendapatkan kesamaan ide dengan pemikiran Al farabi dalam ‘ manahijul Adillah “ karena adanya kesamaan sentral ide, motivasi, dan konsklusi dari kedua buku tersebut.

Pemikiran Ibnu Sina juga berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Barat, sehingga William Auverge , sepoarng pemikir Latin dikenal dengan nama latin Avicennism, sedangkan Roger bacon juga mengikuti teori-teori etika sosial, konsepsi kota dan negara dan filsafat aama Ibnu Sina

Menurut M. saed Sheikh, Descartes juga mengkuti ide Ibnu Sina dlam beberapa hal :
1. Metodologi keraguan.
2. Thesis : “ Cogito Ergo Sum “.
3. Argumen ontologis dan kosmologis tentang Tuhan.

Ibnu Sina berpendapat bahwa segala sesuatu di dunia ini berstatus mungkin. Kemungkinan tersebut merupakan dasar eksistensi segala sesuatu. Sedangkan Descartes menyatakan bahwa untuk meyakini sesuatu harus didahului dengan suatu kemungkinan untuk diragukan, dan hanya satu yang tidak mungkin diragukan yaitu “ saya berfikir maka saya ada “ ( Cogito Ergu Sum ).

Pembagian antara “infinite” dan “indifinite” demikian juga ide ‘ substance “ Spinoza, bermula dari konsep Tuhan menurut Al Ghazali. Empirisme Kant dalam level tingkatan “ sense –experience “ dan “ moral consciousness “, juga bermula daripada empirisme Al Ghazali dalam “ mistical experience “.Keduanya menitik beratkan pada “ moral will “, sebagai landasan ‘ noumena “ dan “ ultimate reality “. Seperti Al Ghazali, Hume juga menyatakan bahwa kita tidak dapat memiliki pengetahuan tanpa hukum kausalitas dalam phenomena, demikian juga ide-ide Al ghazali banyak mempengaruhi pemikiran Schopenhear dan Bergson.

Karya Descartes “ Discourse de la methode “ mempunyai kesamaan dengan ‘ Al Munqidh minandhalal “ Al ghazali. Keduanya berupa tulisan autobiography, yang dimulai dengan kisah seorang pemuda yang mempunyai beberapa tradisi dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat sehinga kemudian pemuda tersebut berpendapat tidak perlu mengikuti segala bentuk tradisi dan kebiasaan karena hal inderawi tidak dapat dijadikan sebagai suatu dasar keyakinan.

Pemuda tersebut baik menurut Al ghazali maupun dalam tulisan Descartes akhirnya berkesimpulan bahwa metode untuk mencari sesuatu kebenaran adalah dengan menghilangkan segala kemungkinan dari keraguan. Sehingga pemuda tersebut menyatakan bahwa untuk mencapai kebenaran diperlukan suatu kepastian sebagaimana dalam matematika. Hal inilah yang membuat Henry Lewis berpendapat bahwa thesis “ I think therefore I am “ yang dikemukakan oleh Descartes berasal dari thesis Al Ghazali “ I will, therefore I am “.

Ibnu Rusyd dikenal sebagai interpreter pemikiran Aristotle, tetapi Rusyd bukan hanya menterjemahkan pemikiran Aristotle secara mutlak, tetapi mempunyai lompatan-lompatan ide yang berada di luar pemikiran Yunani. Menurut M.M.Sharif, ide-ide Ibnu Rusyd yang menjadi landasan pencerahan pemikiran Barat adalah :

1. Interpretasi allogorical terhadap Kitab suci.
2. Teori “ Dualism “.
3. Teori “ pan-psychism “.
4. Eternalitas dan potensialitas “ matter “.
5. Emasipasi wanita.

Teori ‘ dualism “ bagi ibnu Rusyd menyatakan bahwa materi adalah eternal dan materi tersebut memproduksi huku-hukum yang eternal dan sainstifik. Materi dan hukum-hukum formulasi materi tersebut adalah dua kebenaran yang diberikan kepada manusia dari Pemilik Kebenaran agar manusia dapat berpikir secara sainstifik , dalam mencari suatu kebenaran. Sedangkan teori “ pan-psychism “ menyatakan bahwa dalam alam ini terdapat kekekalan jiwa kemanusiaan universal, dan kefanaan jiwa pribadi.

Leibniz sebagaimana Al ghazali berpendapat bahwa dunia adalah phenomena. Pengetahuan manusia tidak dapat berdiri sendiri dalam mencapai kebenran universal, tetapi harus juga berdasarkan kepada inderawi ( sense 0 . maka al ghazali dan leibniz membedakan antara konsep dan persepsi. Sedangkan ruang dan waktu menurut keduanya adalah merupakan “ idea of relation “.

Schopenhaur sebagaimana Al Ghazali berpendapat bahwa kemauan –bukan pemikiran- merupakan realitas fundamental.
Sedangkan bergson menyatakan bahwa intuisi adalah sumber pengetahuan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Al Ghazali bahwa pengalaman intuisi ( termasuk intuisi kenabian ) juga merupakan dasar pengetahuan dan lebih utama daripada “ sense experience ‘.

Kant dalam “ Antinomies of Pure Reason “ mengemukakan empat thesis :
1. Alam terdiri dari “ finite “ dan “ indifinite” , maka segala sesuatu harus diawali dengan waktu dan berada dalam ruang yang tidak terbatas.
2. Segala sesuatu adalah “ infinitely divisible “ atau terdiri dari bagian yang tidak terbatas.
3. Segala sesuatu secara mekanis harus mempunyai keterbatasan, dalam hukum kausalitas.
4. Di Akhir hukum kausalitas terdapat “ necessary being “ yang bersifat “ causeless cause “.

Thesis diatas sama dengan thesis yang dikemukakan oleh Ibnu Sina :
1. Alam bersifat sternal dan baharu.
2. Jism ( badan segala sesuatu) dapat dibagi pada potensi yang tidak terbatas.
3. Segala sesuatu mempunyai sebab dan berakhir pada sesuatu yang tidak mempunyai sebab yaitu tuhan .
4. Alam bersifat “ possible “ dan ‘ necessary “.

Pengaruh pemikiran filsafat islam terhadap perkembangan pemikiran di barat tidak dapat dipisahkan dari pengaruh pemikiran Ibnu Khaldun, dimana ibnu Khaldun telah dikenal sebagai bapak Sosiologi dan peletak dasar Fiulsafat sejarah. Konsep ibnu Khaldun mengenai perubahan sosial, demography, klasifikasi masyarakat kepada masyarakat desa dan kota, masih berlaku hingga saat ini. Sebagaimana hal tersebut dapat dijumpai dalam teori sosiologi barat seperti Boldin, Malthus, Adam Smith, Mills, dan sosiolog yang lain,

Pengaruh pemikiran humanis

Pengaruh peradaban muslim terhadap peradaban barat meliputi seluruh aspek kehidupan, baik secara materi maupun intelektual. Hal ini berlangsung dikarenakan adanya kontak antara bangsa eropah dan umat islam dalam bidang kebudayaan, pendidikan, lembaga ilmiah, dan terutama dalam kebebasan dan semangat pencerahan pemikiran, menggantikan suasana Eropah dimasa abad pertengahan yang masih berada dalam tirani dan dogma gereja serta diktator feodalisme.

Semangat kebebasan yang mereka lihat dalam masyarakat muslim memberikan motivasi kepada bangsa eropah untuk bangkit mancari kebebasan berpikir dan kebebasan berbicara. Gerakan kebebasan mulai muncul di eropah pada abad ke 11 dan abad ke 12 . Faktor yang utama dari gerakan kebebasan ini adalah dengan kembalinya pasukan perang salib dari Jerussalem.

Kehidupan liberal dan “ freedom of thinking “ yang mereka temukan dan lihat pada masyarakat muslim , kemudian hari mereka kembangkan dalam kehidupan bermasyarakat London terutama di kawasan Universitas Oxford ( 1163 ) dan terus mempengaruhi pola pikir masyarakat menengah dan masyarakat atas. Pada saat kebebasan ini berkembang dengan pesatnya, King Richard meninggal ( pada 1199) dan digantikan oleh King John. Pada saat itu suasana kebebasan berpendapat menjadi keperluan seluruh masyarakat, terutama di kalangan masyarakatb menengah dan atas. Hal ini yang menjadi cikal bakal dikeluarkannya piagam “ Magna Carta ‘ oleh King John pada bulan Juni 121, sebagaimana dijelaskan : “ Keadaan inilah yang menyebabkan masyarakat melihat oeluang untuk mempunyai hak kebebasan lebih daripada sebelumnya sehingga dikeluarkannya piagam “ Magna Carta “. Dari paiagam ini bermula suasana demokrasi dalam masyarakat barat dari keterangan diatas dapat dilihat bahwa gerakan humanisme yang berporos pada demokrasi di barat bersumber dari gerakan humanisme yang terdapat dalam masyarakat muslim.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa peradaban dan pemikiran Islam merupakan “ starting point “ bagi perkembangan pemikiran dan peradaban barat, dan merupakan cikal bakal peradaban masyarakat modern.

AL MALIK

Al MALIK ( Tuhan Yang Maha Kuasa )
Makna al Malik : Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki ( Surah al hasyr /23 : 23 )
Sebutan al malik dapat juga disebutkan kepada manusia tetapi dengan keyakinan bahwa pemilikan dan kekuasaan itu adalag datang dari Allah ( Surah al baqarah /2 : 246 , Surah Ali Imran /3 : 26 ).
Al Malik dalam al Quran memiliki makna :
a.Menghidupkan dan Mematikan ( Surah at taubah /9 : 116 ).
b.memberi rezeki ( Surah an Nahl/16 : 73 )
c. Memberi dzurriyat kepada manusia ( surah as Syura/42 : 49 ).
d. Menguasai pendengaran dan penglihatan ( Surah Yunus/10 : 31 ).
e. Menentukan mudharat dan manfaat ( surah al Maidah /5 : 76 ; al Isra/17 : 56 )
f.Menguasai hari pembalasan di hari akhirat
( surah Al fatihah/1 : 4 , Al An’am/6 : 73, Al hajj/22 : 56 , al Furqan/25 : 26 , Ghafir/40 : 16).
g.Mengazab dan memaafkan ( surah al maidah/5:40, alFath/48 :14 ).
h.Memberi syafaat ( surah az Zumar/39 : 44 )
i.Menguasai manusia sepenuhnya ( an nas/114:2 )
j.Menguasai segala sesuatu ( surah ali Imran/3 : 189 ).

Sikap manusia dengan memahami sifat al malik :
a. Beribadah kepadaNya ( alMukminun/23 : 116 ).
b. Meminta ditambahkan ilmu ( surah taha/20 :118 ).
c.Meyakini bahwa segala sesuatu akan kembali kepadaNya ( surah Nur/24:42)
d.Bertasbih memujiNya ( Yasin/36:83, AlJumuah/62:1, Taghabun/64:1)
e.Berdoa dengan meminta kekuasaan kepadaNya ( Ali Imran/3:26)




Hadis tentang kekuasaan :
“Setiap dari kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggungjawab atas kepemimpinannya masing-masing “ ( hadis riwayat Ahmad )
“Tujuh orang yang akan mendapat perlindungan di hari akhirat nanti, pertama adalah Pemimpin yang adil ‘ ( riwayat Bukhari dan Muslim).
“ Pemimpin yang adil adalah salah seorang dari tiga orang yang tidak akan ditolak doanya “ ( hadis riwayat Tirmidzi )
“ Orang yang adil akan mendapat minbar dari cahaya disisi Tuhan Yang Maha pemurah “ ( hadis riwayat Muslim dan nasai )
“ Satu jam keadilan yang dilakukan oleh seorang pemimpin nilainya sama dengan ibadah enam puluh tahun “ ( riwayat Thabrani ).
“ Satu jam kedzaliman lebih berat disisi Allah daripada kemaksiatan selama enam puluh tahun “ ( Isbahani ).
“ Wahai manusia, sesunguhnya Allah tidak menerima shalat pemimpin yang dzalim ‘ (Hakim )
“ Sesiapa yang meminta kekuasaan atas manusia dan dia mendapatkannya kemudian kedzalimannya mengalahkan keadilannya maka baginya neraka jahannam “ ( riwayat Abu daud ).
“ Manusia yang paling dicintai Allah adalah pemimpin yang adil “ ( riwayat Tirmidzi )
“Tidak ada seseorang yang memimpin tiga orang atau lebih kecuali tangannya akan terbelenggu dan belenggu itu tidak akan dibukakan kecualid dengan keadilannya “ ( riwayat Ibnu Hibban ).
“ Orang yang pertama masuk neraka adalah pemimpin yang memiliki kekayaan dan tidak menunaikan kewajibannya kepada Allah “ ( ibnu khuzaimah )
“Sesiapa yang mendapat kekuasaan kemudian tidak menjaga kekuasaan tersebut sebagaimana menjaga dirinya sendiri maka dia tidak mendapat waanginya surga “ ( riwayat Thabrani ).
“Allah selalu bersama seorang pemimpin selala pemimpin itu tidak melakukan kedzaliman, jika dia berbuat kedzaliman, maka Allah akan meninggalkannya dan dia akan berada bersama syetan “ ( Tirmidzi ).
“ Sesiapa yang mendapatkan kekuasaan tetapi tidak melihat kepada keperluan dan hajat orang ramai maka Allah tidak akan melihat kepadanya ‘ ( Thabrani ).
“ Sesiapa yang diberi Allah kekuasaan tetapi dia menipu rakyatnya maka Allah haramkan dia daripada masuk ke dalam surge “ ( Bukhari Muslim ).
“ Sesiapa yang diberi kuasa dan tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dengan sebaik-baiknya maka dia tidak akan masuk ke dalam surga “ ( Muslim dan Thabrani ).
“ Sesiapa pemimpin yang menutup pintunya daripada orang yang menghajatkan pertolongannya , atau orang faqir dan miskin maka Allah akan menutup langit daripadanya “ ( Hakim ).
“ Sesiapa yang memilih seseorang karena ta’asub sedangkan diantara mereka ada orang yang lebih layak untuk melakukannya maka dia telah mengkhianati allah , RasulNya dan orang yang beriman “ ( Hakim ).
“Sesiapa yang memilih pemimpin karena kecintaan, sedangkan dia tidak layak untuk memimpin maka kutukan Allah akan datang kepadanya “ ( Hakim ).
“ Abu Dzar bertanya kepada rasulullah : ya Rasulullah, mengapa baginda tidak memilihku untuk memegang sesuatu kekuasaan? Rasul memegang bahu Abu dzar sambil bersabda : “ Wahai abu dzar, sesungguhnya engkau ini lemah, sedangkan kekuasaan itu adalah amanah, dan amanah itu nanti pada hari kiamat itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat, kecuali orang yang mengambil amanat itu dengan menjalankan kewajiban-kewajibannya “( Muslim ).
( Abu dzar adalah sahabat nabi yang sangat taat dalam menjalankan agama, dan termasuk ahli suffah ( kelompok yang selalu beribadah , berzikir di tempat belakang rumah nabi ), tetapi nabi tidak memberikannya kekuasaan disebabkan dia orang yang lemah, maka nabi tidak memberikannya kekuasaan walaupun dia orang yang rajin beribadah ).
Wallaahu a’lam.

YA RAHMAN

RAHMAN DAN RAHIM

1. Makna rahman : Yang Maha Pengasih ( Surah ar Rahman /55 : 1-7 ).
Makna Rahim : Yang Maha Penyayang
( Surah al baqarah/2 : 105 ; Al Araf/7 : 156 , Al Ahzab/33 : 43.

2. Sifat yang menerangkan ar Rahman
a. Menciptakan langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya
( Al Furqan/25 :59 , Al Mulk/67:3 )
b. Menurunkan al Quran yang merupakan petunjuk hidup
( Al Fushilat/41 :2 )
c. Mengajarkan Al Quran dan menetangkan penjelasannya
( ar Rahman/55 : 1-4 ).
d.Memberikan pertolongan kepada hamba-hambaNya.
( Al Mulk /67 : 20 ).
e. Memberikan penangghuna azab ( al Maryam/19 : 75 ).
f. Memberikan kasih sayang ( Maryam/19 :96 ).
g.Berkuasa ke atas makhlukNya di dunia ( al Mulk/67:19 ).
h.Berkuasa atas makhluk di akhirat ( an naba/78 : 37-38 ).

3. Sikap setelah memahami ar Rahman

a. Senantiasa beriman dan bertawakkal kepada Allah ( al Mulk/67 : 29 ).
b. Meminta pertolongan kepada Allah dalam setiap perkara ( al Fatihah/1 :1)
c.Bersyukur dan berterima kasih kepada Allah ( al Fatihah/1:2 ).
d.Beribadah kepada Allah ( al hasyr/59 :22 ).
e.Menyeru dan memohon pertolongan hanya kepada Allah
(Maryam/19:18; AlIsra/17:110 , An naml/27 : 30)
f. Merendahkan diri di hadapan Allah ( al Furqan/25 : 63 ).
g.Senantiasa berasa takut terhadap murka Allah ( ysain/36 : 11 ).
h.Senantiasa mengingat Allah Yang Maha Pengasih ( Azzukhruf/43:63 ).

4. Makna Rahim dalam al Quran

a.Menerima taubat ( Al baqarah/2 : 37, 54 ).
b.Memberi pahala ( AlBaqarah /2 : 143 ).
c. Mengutus rasulullah ( Anbiya/21 : 107 ).
d.Melembutkan hati ( Ali Imran/3 : 159 ).
e.Memberikan keselamatan ( Yunus/10:86;Hud/11: 66,94 ).
f. Memberikan penyembuhan ( Anbiya/21 : 84 ).
g.Memelihara HambaNya dari mengikuti hawa nafsu ( Yusuf/12 : 53 ).
h.Memelihara hambaNya sehingga tidak mengikuti syetan ( an nisa/4:83 ).
i. Menjadikan wajah orang beriman berseri ( Ali Imran/3 : 107 ).
j.Menjauhkan azab daripada hambaNya di dunia dan akhirat ( Nur/24 : 14 ).


5.Sikap setelah memahami ar rahim

a. mentaati Allah dan rasul ( ali Imran/3 : 132 ).
b. Meminta diberi rahmat ( Ali Imran/3 :8, al A’raf/7 :23, al Kahfi/18: 10 ).
c. Mendengarkan al Quran ( al A’raf/7 : 204 ).
d. mengikuti al Quran ( al Al’am /6 : 155 ).
e. Beriman, berhijrah dan berjihad ( Al Baqarah /2 : 218 ).

6.Doa dengan nama Rahman

a. membaca Bismilahirahmanirahim dalam permulaan setiap pekerjaan dengan memahami makna bahwa segala yang dikerjakan maka Allah akan membrikan rahmat dan kasih sayangNya.

b.membaca Ya rahman Ya rahim : Wahai Allah Yang maha Pengasih dan maha Penyayang, sehingga Allah memebrikan rahmat kepada diri kita dalam menghadapi setiap kesulitan.

c. Membaca : Ya Arhamarrahimin irhamna…
Ya Allah yang maha Pengasih dan Penyayang kasihanilah kami, agar setiap apa yang apa yang terjadi merupakan rahmat daripada Allah, dan Allah akan memberikan kasihsayangNya.

SIRR ( RAHASIA )

SIRR ( RAHASIA/SEMBUNYI)

Makna Sirr adalah rahasia, tetapi sirr dalam ibadah maksudnya adalah mengadakan hubungan dan bertaqarrub kepada Allah dengan rahasia (tanpa diketahui oleh orang ramai ) dan juga Allah akan menghubungkan diri kepada hambanya dengan secara rahasia ( sirr ).

Hal ini berlandaskan kepada ayat suci Al Quran :

" Dan Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan Aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak (pula) Aku mengatakan: "Bahwa Sesungguhnya Aku adalah malaikat", dan tidak juga Aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka". Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; Sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim ( Surah Hud /11 : 31 ).

Ulama menafsirkan maksud ayat " Allah lebih mengetahui apa yang ada pada dalam diri mereka ", maksudnya adalah Allah mengetahui segala apa saja yang ada dalam diri mereka , baik itu yang mereka rahasiakan ataupun yang tidak mereka rahasiakan.

Dalam sebuah hadis bahwa Saad bin Abi Waqqas ditanya oleh anaknya : wahai ayah, mengapa ayah berada disini, sedangkan orang ramai sedang sibuk berselisih mengenai kepemimpinan umat dan khilafah ?". Saad bin Abi waqqas menjawab : " Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : " Sesungguhnya Allah menyukai hambaNya yang bertaqwa, kaya dan sembunyi-sembunyi (tentang keadaan dirinya )".

Demikian juga dalam hadis yang lain disebutkan :
Berapa banyak orang rambutnya pakaian dan rambutnya berdebu, tertolak di depan pintu , tidak dipedulikan manusia tetapi jika dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan segera mengabulkannya ". Hadis ini menyatakan bahwa keadaan seorang mansuia yang tidak dikenal, tetapi dia mempunyai hubungan rahasia dengan Tuhan, sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaannya dengan segera.

Pada suatu hari seorang sahabat berjalan di depan sahabat yang lain, maka rasulullah bertanya kepada sahabat-sahabat beliau : " Apakah komen kamu semua terhadap orang itu ? Sahabat-sahabat nabi segera menjawab : " Dia itu orang yang baik dan pantas. Jika dia memnita syafaat, pastilah diberi; dan jika dia mengajukan lamaran untuk menikah , pastilah dia akan diterima; dan jika dia berkata, pastilah didengar orang perkataannya ". Tak lama kemudian berjalanlah di depan sahabat nabi tersebut seorang sahabayt yang lain, dan nabi segera bertanya kepada sahabat-sahabatnya : "Bagaimana pula komen kalian kepada orang itu ? ". Sahabat-sahabat menjawab ; Dia itu orang yang biasa-biasa saja, jika dia meminta syafaat , maka dia itu tidak layak mendapatkan pertolongan, dan jika dia itu mengajukan lamaran, maka dia akan ditolak, dan jika dia berkata-kata, maka perkataannya tidak layak untuk didengar ". Mendengar komen sahabat beliau, rasulullah bersabda : " Orang ini lebih baik daripada isi dunia semuanya ".



Orang yang memiliki rahasisa (sirr ) ini terbagi dalam tiga kelompok :

Kelompok pertama adalah golongan yang mempunyai hasrat yang tinggi, tujuan yang bersih, dengan perjalanan yang benar, tidak berhenti pada suatu bentuk, dan tidak mengkaitkan kepada sesuatu nama dan mereka tidak dianggap oleh manusia . Merekalah simpanan-simpanan Allah.

Mereka mempunyai hasrat yang tinggi, maksudnya bahwa mereka tidak mempunyai keinginan dan hasrat kecuali hanya untuk Allah semata-mata. Keinginan mereka, hanyalah mencari keridhaan Allah, kegembiraan mereka hanyalah bersama allah, kecintaan mereka adalah berjumpa dengan Allah Hasrat mereka ini tidak boleh dikotori dengan keinginan diri, keinginan nafsu, keinginan materi, keinginan dunia, sebab segala sesuatu hanyalah untuk Allah.

Tujuan yang bersih maksudnya tujuan amal perbuatan dan ibadah mereka hanyalah Allah, matlamat hidup hanyalah Allah; tujuan mereka hanyalah penghambaan kepada allah, melaksanakan perintah Allah, mencari keridhaan Allah; tidak ada dalam hatinya tujuan keduniaan atau tujuan hawa nafsu, semuanya hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah.

Perjalanan yang benar, maksudnya dalam melaksanakan perintah Allah, dalam beribadah kepada allah semuanya dilaksanakan dengan cara yang benar sesuai dengan yang dicontohkan dan diarahkan oleh Rasulullah. Ibnu Qayim dalam menjelaskan perjalanan yang benar menyatakan ada tiga cara :
a. Harus berada di jalan yang dilalui oleh Rasulullah, bukan jalan yang dibuat-buat oleh mansuia.
b. Berjalan yang benar bermaksud tidak memenuhi panggilan-pangilan yang bathil dan panggilan yang membuatnya harus menghentikan perjalanan.
c. Berjalan yang benar, juga bermakna bahwa dalam perjalanan itu harus melihat kepada tujuan, sehingga tidak salah arah.

Tidak berhenti pada suatu bentuk maksudnya, bahwa perjalanan itu tidak akan berhenti, sebelum mencapai tujuan , mencari ridha Allah. Perjalanan itu tidak berhenti disebabkan oleh orang ramai, atau oleh orang lain.
Perjalanan ibadah juga tidak dikaitkan dengan suatu nama, sebab ibadah dilakukan karena Allah, dengan mengikuti sunnah Rasul, bukan karena nama tertentu, atau kelompok tertentu, atau sebab tertentu.

Tidak dikenal oleh manusia, maksudnya adalah menjadi kebiasaan mereka menyembunyikan amal ibadahnya, sehingga orang lain tidak mengetahui ketekunan ibadahnya , sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis : " Setiap orang yang beramal mempunyai ketekunan, dan setiap ketekunan mempunyai waktu rehat. Jika dia benar-benar beramal dan bertaqarrub, maka engkau boleh berharap kepadanya, dan jika dia dalam beramal ibadah menginginkan tunjuk jari orang kepadanya , maka janganlah kamu menganggap sedikitpun kepadanya ". Sewaktu ditanya kepada nabi, apa maksud orang yang ingin ditunjuk dengan jari , nabi menjawab : Itulah orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama dan yang berbuat kerusakan dengan dunianya ".


Golongan kedua adalah golongan yang mempunyai kalimat-kalimat yang diucapkannya dengan pemahaman yang berkaitan dengan Allah, sedangkan mansuia akan memahaminya dengan pemahaman yang berlainan dengan pemahaman orang tersebut. Contohnya adalah :jika mereka berkata : " Aku adalah kaya ", maksudnya bahwa kaya itu adalah kaya dengan Allah, cukup dengan Allah; sedangkan orang lain memahami makna kaya itu adalah kekayaan dunia. Orang ini akan selalu menjaga adab-adab seperti tawadhu, dan menjaga maruah, sehingga mereka terpelihara daripada sangkaan orang ramai. Jika mereka bersama orang ramai, maka dia akan memakai bahasa orang ramai, tanpa memperlihatkan kelebihannya daripada orang ramai, dan mereka tidak akan berbicara dengan manusia dengan bahasa yang asing, atau yang tidak dapat dipahami. Orang menyangkan mereka manusia biasa walaupun sebenarnya merwka manusia yang lebih daripada biasa. Dalam hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwasanya nabi isa berkata kepada : " Apabila kamu sedang berpuasa, maka beri minyaklah rambutmu, dan sapulah (basahkanlah) kedua bibirmu, sehingga jika engkau keluar kepada orang ramai, nanti orang akan berkata bahwasanya dia itu tidak berpuasa ".

Kelompok yang ketiga adalah kelompok yang kelompok yang sibuk beribadah kepada Allah, sibuk berbuat baik kepada orang lain,, tetapi Allah menyembunyikan amal ibadahnya, dan kebaikannya, sehingga tidak ada manusia yang nampak kebaikannya, hanya Allah sahaja yang mengatahuinya. Mereka ini tidak akan hina walaupun manusia menghinanya, sebab tujuan mereka adalah hnya Allah bukan manusia.

Contoh manusia yang disembunyikan Allah daripada mansuia yang lain adalah Uwais al Qarni. Pada suatu hari Rasulullah saw bersabda kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib : " wahai umar dan ali, pada suatu hari nanti apabila kamu berjumpa dengan orang yang bernama Uwais al qarni, maka mintalah agar dia mendoakan agar kamu mendapat ampunan Allah, sebab dia adalah orang yang dimakbulkan Allah setiap doanya ". Wahai umar dan ali, Uwais al Qarni itu mempunyai rambut yang merah, jauh jarak antara kedua bahunya, sederhana tingginya, berkulit hitam campur putih, senantiasa merapatkan dagunya ke dadanya,(selalu menunduk), tangan kanannya diletakkan diatas tangan kirinya, senantiasa membaca al Quran,. Dia mempunyai kain buruk daripada bulu, dia tidak dikenal oleh manusia di muka bumi, tetapi terkenal di atas langit ".

Selama sepuluh tahun, Umar dan Ali mencari orang yang disifatkan oleh rasulullah, sehingga pada suatru musim haji, datanglah kabilah dari yaman. Ali bertanya kepada pengetua kabilah : " Apakah tidak ada lagi orang dalam kabilahntuan ? ". Pengetahua kabilah berkata : " ada seorang pemuda yang tidak terkenal, pengembala kambing, pakaiannya buruk, dia kami beri upah satu dirham ". Ali bertanya : apakah orang itu mempunyai sifat-sifat mempunyai rambut pirang, selalu menundukkan kepala..?". Pengetua kabilah membenarkan segala sifat tersebut.". Ali dan Umar segera bertanya dimana pemuda tersebut, dan mereka berlomba untuk mendapatkannya. Sampai mereka di jabal Qubais, terlihat seorang pemuda pengembala kambing, Ali dan Umar segera memberi salam : dan setelah salam itu dijawab oleh pemuda, Ali dan Umar bertanya : Siapakah tuan ini? Pemuda menjawab : Saya adalah pengembala dengan menerima upah ". Umar tanya lagi ; Siapakah nama anda ? Pemuda menjawab : saya adalah hamba Allah. Umar menjawab : Kami tahu dibumi ini semua hamba allah, tetapi siapakah nama tuan ? ".
Pemuda menjawab : apakah maksud tuan menanyakan nama saya ?" Akhirnya Ali dan Umar menceritakan hadis rasulullah, dan sifat-sifat itu ada pada diri tuan.
Ali dan Umar segera memintakan doa kepada pemuda itu : Saya tidak pernah mengkhususkan doa kepada seseorang, saya hanya mendoakan untuk seluruh kaum muslimin dan muslimat ". Pemuda itu bertanya : Siapakah anda berdua? Ali menjawab : Ini adalah Umar, amirul mukminin, dan saya adalah Ali. Mendengar itu, pemuda tadi memberi salam kepada amirul mukminin dan ali . Umar berkata : Wahai Uwais, ajarilah kami ". Uwais menjawab : tuntutlah rahmat Allah ketika melaksanakan ketaatan kepadanya dan berharaplah tuan dicelah-celah amal tersebut". Ali berkaya : " wahai Uwais, rasulullah pernah bersabda : " Uwais adalah semulia-mulia tabi'in ", maka bagaimanakah engkau dapat menggembirakan nabi? ". Uwais menjawab : Wahai Ali, tuan telah beroleh nikmat bersahabat dengan nabi, tuan bahagia dapat melihat nabi, sedangkan saya hanya melihat nabi dengan mata hati. Nabi adalah cahaya yang memancar memenuhi alam dan menjalar kepada seklain yang ada, saya lihat Rasulullah kepalanya sampai ke arsy, dan kakinya di bawah biumi yang ketujuh ".

Khalifah Umar bertanya ; " bagaimana keadaan engkau wahai Uwais ? Uwais menjawab : " Bagaimana seorang lelaki ketika pada pagi hari dia mengira tidak akan sampai pada petang hari, dan jika hari petang maka dia mengira tidak sampai pada pagi hari ".

Umar bertanya lagi : " bagaimana engkau dapat mencapai kedudukan yangb mulia sebagaiman disebutkan oleh rasululah ? ". Uwais menjawab : " Saya hidup dengan takut kepada Allah , dan jika seseorang sudah takut kepada Tuhan maka dia akan takut berbuat dosa sekecil apapun juga ".

Umar memberikan pakaian dan belanja kepada Uwais, tetapi Uwais menolak dan berkata : " Apa gunanya pakaian dan benja ini buat saya. Bukankah tuan melihat, pakaian saya dari bulu, apakah dia akan habis? Pekerjaan saya mengembala kambing dengan upah empat dirham, cuba tuan kira berapa lama saya memakan uang yang empat dirham itu, sedangkan di depan saya dan di depan tuan banyak rintangan yang sukar untuk dilalui, oleh sebab itu wahai Umar tinggalkanlah dunia ini, takutlah akan suatu hari dimana tidak berguna harta dan anak ".

Uwais akan pergi, Ali memegang tangannya, dan berkata : kami dating hendak berbicara dengan tuan, mengapa tuan pergi? Uwais menjawab : " Aneh sekali tuan Ali, saya kira tidak seorangpun yang mengenal tuhannya akan merasa senang dan tenteram dengan selain daripada Tuhannya ". Setelah berkata demikian, dia berlari dengan kencang meninggalkan Ali dan Umar.

Demikianlah contoh manusia "sirr", Uwais al Qarni yang lebih senang mendengarkan kalam Tuhan daripada ucapan mansuia, dan selalu berusaha berhubungan dengan Tuhan secara bersendirian, sembunyi-sembunyi, sehingga manusia tidak mengenalnya, tetapi alah mengenalnya. Di akhir hayatnya, Uwais meninggal sebagai syahid dalam peperangan antara umat islam dngan pasukan Romawi, gugur sebagai syuhada.Wallahu A'lam ( muhammad Arifin ismail , 15 rabiul awal 1427/3April2007)

Makrifah (Mengenal Allah)

M A K R I F A H
Makrifah berasal dari akar kata “a-ra-fa”, yang bermakna mengenal akan sesuatu. SEcara bahasa , makrifah berarti meliputi sesuatu sebagaimana apa adanya . Dalam kitab suci Al Quran disebutkan:
“ Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul ( Muhammad ) kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui “ ( Surah al Maidah : 83 ),
“ Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenal ( Muhammad ) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri “ ( Surah al An’am : 20 ).
Dalam Hadis Rasulullah saw bersabda :
“ Aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepadaNya “. ( Kitab Madarijussalikin, jilid 3, m.s.338)
“ takutlah kamu ( bertaqwa ) kepada Allah, dengan mengambil perhatian atas apa yang engkau kenal akan Dia dan dengan meninggalkan apa yang dilarangNya “ ( riwayat Ahmad ).
“ Iman itu adalh mengenal Allah dengan hati “ ( Ibnu Majah )
“ Iman itu adalah mengenal dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan “ ( riwayat Thabrani dan Baihaqi )
“ Hati orang munafiq mengenal Allah tetapi mereka mengingkariNya “ ( riwayat Ahmad ).
Ibnu Qayim menyatakan bahwa orang yang bermakrifat (arif) adalah orang yang memiliki makrifat tentang Allah dengan segala sifat, asma dan perbuatanNya, kemudian Allah membenarkan muamalahnya, memurnikan tujuan dan niatnya, melepaskan akhlak-akhlaknya yang buruk, sabar menerima ketetapan hukum Allah, baik yang berupa nokmat atau musibah, kemudian berdoa kepadaNya berdasarkan bashirah terhadap agama dan ayat-ayat Allah, memurnikan seruan hanya kepada Allah seperti yang dibawa oleh Rasulullah, tidak dicampuri dengan keinginan , pemikiran dan hawa nafsu.
Sebagian ulama berkata bahwa diantara tanda makrifat kepada Allah adalah munculnya rasa takut kepada Allah, sehingga sesiapa yang lebih mengenal Allah maka dia akan lebih takut kepadaNya, sebagaimana yang dinyatakan oleh hadis nabi diatas.
Ada yang menyatakan bahwa makrifat akan mendatangkan ketenangan jiwa, sehingga sesiapa yang bermakrifat kepada Allah maka dia akan merasakan bertambahnya ketenangan jiwa “.
Ada orang yang bertanya : Apakah tanda makrifat kepada Allah ? Ulama Salaf menjawab bahwa tanda makrifat kepada Allah adalah kebersamaan hati dengan Allah dan merasakan kedekatan hati dengan Allah “.
Ulama tasawuf, Syibli berkata : “ Orang yang arif tidak mempunyai ikatan, orang yang mencintai tidak mengeluh, hamba yang arif tidak akan mengadu, bagi hamba yang takut tidak akan merasa aman dari siksa Allah, tetapi dia juga mengakui tidak akan dapat lari daripada Allah “.
Ulama sufi yang lain, Ahmad bin Ashim berkata : “ Sesiapa yang paling memiliki makrifat kepada Allah, maka dia akan merasa paling takut dengan siksa Allah “.
Ada lagi yang mengatakan bahwa ; Sesiapa yang makrifat kepada Allah, maka dia merasa sempitnya dunia karena rindu ingin berjumpa dengan Allah “
Ada yang menyatakan “ Makrifat kepada Allah akan melapangkan segala kesempitan “. Hal ini disebabkan dia mengenal sifat-sifat Allah, sehingga tidak ada kesulitan dan kesempitan dalam hidup ini, sebab dia yakin dengan segala sifat-sifat Allah.
Ulama lain berkata : “ Sesiapa yang memiliki makrifat kepada Allah, maka hidupnya menjadi jernih dan tenang, segala sesuatu takut kepadanya, dia tidak takut kepada apapun dan hatinya merasakan dekatnya seakan-akan berada di sisi Allah “.
Subagian ulama menyatakan : “ Makrifat kepada Allah maka dia akan merasa senang kepada Allah, senang dengan kematian, dan semuanya akan senang kepadanya, sementara sesiapa yang tidak memiliki makrifat kepada Allah maka dia akan merasakan terputusnya dunia, ( dunia tidak member manfaat bagi kehidupannya dimasa mendatang ), dan sesiapa yang makrifat kepada Allah tidak akan membiarkan sedikiktpun dari masa dan kesenangan di dunia kecuali hanya dipergunakan untuk mencari keridhaan Allah, dan jika memakai kesenangan hanya untuk dirinya berarti dia telah mendustakan makrifatnya kepada Allah. Sesiapa yang memilkiki makrifat kepada Allah, maka AllahTaala akan mencintainya, tergantung dari ukuran makrifatnya kepada Allah. Sesiapa yang makrifat kepada Allah, maka dia sangat takut kepadaNya ( khauf ), selalu berharap kepadaNya ( raja’ ), bertawakkal dan berserah diri kepadaNya, selalu merindukan perjumpaan dengan Nya, merasa malu kepadaNya ( jika tidak melakukan perintahNya), mengagungkanNya dan memuliakanNya “.
Diantara tanda orang yang arif adalah jika dia melihat dan mendengar informasi yang ghaib maka hatinya segera menjadi cermin mengajak kepada beriman, seberapa jauh kejernihan cermin hati itu, maka sejauh itu dia merasakan kehadirran Allah, merasakan kehidupan akhirat, merasakan wujudnya surge dan neraka, merasakan kehadiran rasul dan malaikat.
Ada orang yang bertanya kepada seorang ulama tasawuf Al Junaid bahwa ada segolongan orang yang mengaku telah mendapat tingkat makrifat sehingga merasa tidak perlu lagi menjalankan shalat dalam gerakan, cukup dengan mengenal Allah saja, dan mereka menyangka itulah suatu kebajikan , maka AlJunaid berkata : “ Mereka itu adalah orang yang dengan sengaja menggugurkan amal ibadah. Dalam pandangan saya ini merupakan masalah yang berat,karena orang yang berzina atau mencuri lebih baik daripada mereka yang berpendapat demikian. Orang yang memiliki makrifat tentang Allah sepatutnya mengambil berat setiap amal ibadah kepada Allah dan hanya ditujukan kepada Allah. Andaikata aku ( aljunaid ) berumur seribu tahun lagi, maka aku tidak akan mengurangi amal ibadah walaupun sebesar atom kecuali jika umurka telah dihentikan “.
Diantara tanda orang yang arif adalah tidak menyesali apa yang lepas daripada tangannya, dan tidak gembira karena sesuatu yang diterimanya, sebab dia melihat bahwa segala sesuatu tidak akan kekal ( fana ), dan segala sesuatu itu adalah milik Allah, semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
AlJunaid berkata : Orang tidak disebut arif kecuali dia menjadi seperti tanah yang siap dipijak oleh orang baik dan orang yang buruk, atau menjadi seperti awan yang akan memberikan perlindungan kepada segala sesuatu, atau seperti hujan yang akan memberikan airnya kepada orang yang disukai ataupun tidak disukai ‘.
Ulama lain berkata : Orang tidak disebut arif kecuali jika dia memiliki harta sebanyak diberikan kepada nabi Sulaiman, tetapi harta itu tidsak membuatnya berpaling sedikitpun daripada Allah”.
Seorang ulama sufi Dzun Nun al Masri berkata : “ Tanda orang arif itu tiga macam : Cahaya makrifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya. Kedua tidak mempercayai ilmu batin dapat mengalahkan ilmu hukum secara zahir. Ketiga, limpahan nikmat Allah tidak membuatnya merusak tabir yang telah diharamkan Allah kepadanya “.
Dzun Nun ditanya dengan apa engkau mengenal Allah ? Maka dia menjawab : “ Aku mengenal Tuhan dengan Tuhanku, jikalau bukan karena TuhanKu maka aku tidak akan mengenal Tuhanku “.
Orang arif akan tetap menjaga hubungannya dengan Allah walaupun dalam keadaan tidur, sehingga ada yang berkata : Tidurnya orang arif sama dengan berjaga dan nafasnya orang arif merupakan tasbih, oleh sebab itu tidurnya orang arif lebih baim daripada shalatnya orang yang lalai “.
Ulama berkata bergaul dengan orang arif akanmengajakmu kepada enam perkara ; “ Mengajakmu dari keraguan kepada keyakinan, dari riya kepada ikhlas, dari lalai kepada dzikir, dari keinginan terhadap dunia kepada keinginan kepada akhirat, dari takabur kepada tawadhu, dan dari buruk sangka kepada nasihat “.
Orang arif adalah orang yang selalu mengisi waktunya dengan amal kebajikan, dan membagun waktunya untukmkehidupan dimasa mendatang.
Oleh sebab itu Muhammad bin al Fadl berkata : Makrifat itu adalah hidupnya hati seorang hamba bersama Allah.
Walahu A’lam
Masjid AlGhufron, 7 Ogos 2007/23Rajab 1428
Muhammad Arifin bin Ismail.

FANA

FANA
Fana dalam bahasa artinya adalah kebinasaan. Dalam kitab suci Al Quran disebutkan : “Semua yang ada dibumi ini akan binasa. Dan tetaplah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan “ ( Surah ar Rahman : 26-27).
Sikap fana dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah fana dalam kecintaan dan ketaatan kepada Allah, dan mencari keridhaan Allah sehingga mengantarkannya kepada kehidupan dan kedudukan yang kekal.
Sikap Fana juga dimaksudkan adalah fana hati dari seluruh kehidupan dunia, dan ketergantungan kepada alam dan makhluk yang fana, dan hanya bergantung kepada Dzat Allah yang kekal dan Yang Maha tinggi. Oleh sebab itu sebgain ulama menyatakan bahwa makna ayat Al Quran tersebut seakan-akan menyatakan : “ Jika engkau bergantung kepada yang fana, maka ketergantungan itu akan berakhir pada waktu benda itu menjadi fana ; tetapi jika engkau bergantung kepada Dzat yang kekal, maka ketergantungan itu tidak akan putus dan terus berlanjut “. Kefanaan dalam hal ini berarti puncak dan akhir ketergantungan seseorang dalam kepada makhluk, dan hanya menyerahkan segala keputusan dalam qudrah dan iradah Allah.
Ulama menyatakan ada dua tingkatan fana :
1. Fana dalam makrifat menegnal dzat Alah, sehingga tidak ada sesuatu dialam ini yang kekal kecuali Allah subhana wataala.
2. Fana dalam keilmuan, sehingga tidak ada sesuatu di dalam hati kecuali hanya mengingat dan dzikir kepada Allah.
3. Fana dalam kesaksian :
a. fana dalam kesaksian rububiyah dan qayumiyah. Maksudnya adalah kesaksian terhadap sifat Allah yang qayum ( berdiri sendiri ) bahwa Dialah sebagai pengatur, pencipta, pemberi rezki, pemberi manfaat dan mudharat, dan semua makhluk dan hamba wajib tunduk dibawah hukum rububiyah Allah subhana wataala.
b. Fana dalam kesaksian ilahiyah, maksudnya kefanaan dari kehendak kepada selain Allah, baik dalam cinta, tawakkal, takut dan harap, dengan penuh ketaatan sehingga tidak ada perintah dan larangan selain perintah Allah, tidak ada kehidupan selain mengikuti segala yang telah ditentukan Allah dalam syariatNya.
Penyimpangan pemahaman dalam fana :
1. Wahdatul wujud.
Wahdatul wujud artinya adalah kesatuan yang wujud. Maksudnya bahwa segala ala mini sebenarnya fana, dan yang wujud adalah Allah, dan semua makhluk itu adalah pancaran daripada Allah, oleh sebab itu jika kita melihat makhluk sama dengan kita melihat Allah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh al Hallaj ( Abul Mughist Husain al hallaj hidup dari tahun 858 M – 922 , lahir di Marokko dan wafat di Baghdad ) yang berkata : “ Anal haq, Aku adalah Tuhan “. Dan dalam kesempatan lain dia juga berkata : “ Tidak ada dalam jubahku selain Allah “. Pernyataan ini diungkapkannya karena melihat bahwa dirinya secara Dzat telah fana dan yang ada hanya Dzat allah, sehingga jika aku melihat diriku, maka sebenarnya diriku telah fana, maka yang ada adalah Dzat Allah. Akhirnya ulama memfatwakan bahwa al hallaj adalah sesat dan hukuman bagi pernyataannya adalah dibunuh.
Pemikiran al hallaj ini berkembang ke nusantara sehingga Syekh Siti Jenar di Jawa juga berkata : Aku adalah Tuhan “, dan akhirnya Syekh siti Jenar di pulau jawa juga difatwakan oleh kumpulan ulama di jawa ( Wali Songo ) adalah sesat dan dibunuh.
Hal ini juga sebagaimana yang dikatakan oleh Hamzah Fansuri dalam syairnya :
Satukan hangat dengan dingin
Tinggal loba dan ingin
Hancur hendak seperti lilin
Maka dapat kerjamu licin

Hapuskan akal dan rasamu
Lenyapkan badan dan nyawamu
Pecahkan hendak kedua matamu
Disanalah lihat permai rupamu

Hunuskan pedang bakarkan sarung
Isbatkan Allah nafikan patung
Laut tauhid juga kau harung
Disanalah engkau dapat bernaung

Hamzah fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus ke Kudis terlalu payah
Akhirnya dapat di dalam rumah

2. Ittihad.

Ittihad secara bahasa adalah bersatu. Hal ini dimaksudkan adalah bersatunya diri manusia dengan dzat Tuhan, sehingga diri manusia fana ( binasa ) dan yang ada adalah Dzat Tuhan. Jika wahdatul wujud menyatunya alam dengan Tuhan sehingga setiap alam seebnarnya adalah Dzat Tuhan yang memancar dalam alam, maka ittihad adalah diri manusia dengan dekatnya kepada Tuhan maka dia akan menyatu dengan tuhan, sebab itulah al hallaj berkata “ Anal Haq “, akulah Tuhan.

3. Hulul

Hulul adalah hilangnya diri dalam Dzat Tuhan, itulah sebabnya dalam syair tersebut Hamzah Fansuri berkata : Hapuskan akal dan rasamu, lenyapkan badan dan nyawamu, pecahkan hendak kedua matamu, disanalah lihat permai rupamu. Wallaahu A’lam.

TAJRID (KESUNGGUHAN)

T A J R I D
Tajrid secara bahasa adalah mengosongkan sesuatu daripada yang lain. Maksud tajrid dalam pemahaman tasawuf bahwa jika kita sedang menghadap Allah, maka penuhkanlah perhatian hanya kepada Allah dan kosongkan perhatian daripada yang lain. Demikianlah juga jika engkau mengerjakan sesuatu maka penuhkanlah perhatian kepada pebuatan tersebut dengan niat kepada Allah dan kosongkan daripada yang lain. Kosongkan daripada yang lain dan hanya menghadapkan diri kepada Allah itulah yang dimaksudkan dalam kalimat : “ iyyaka na’budu wa iyyaka nastain “ dalam surah al fatihah.. Dalam ayat ini dipakai kalimat “Iyaaka” bukan “Ilaika”. Iyyaka artinya adalah hanya kepadaMu Ya Allah, dan tidak kepada yang lain sedikitpun sedang ilaika “ kepadaMu “; berarti dalam kalimat ‘iyyaka “ tersembnyi makna “tajrid” dan “tafrid”. Tajrid mengosongkan diri daripada segala sesuatu sedangkan tafrid hanya menuju kepada Allah Yang Esa, sebab kalimat tafrid berasal dari “fardun “, yang bermakna tunggal, satu, tidak ada yang lain. Ulama menyatakan “ tajrid “ dalam ibadah sedangkan “tafrid “ dalam ubudiyah. “Tajrid” dari hamba kepada Allah sedangkan tafrid terdapat pada Dzat Allah.
Ada kumpulan yang mengatakan bahwa tajrid adalah mengosongkan dunia dari kehidupan sehingga kehidupan hanya untuk beribadah kepada allah, padahal tajrid dalam amal ibadah tidak dapat dilakukan dengan meninggalkan amal shaleh, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Athaillah dalam kitab al Hikam : “ Keinginan anda untuk tajrid padahal Allah menempatkan anda pada asbab, maka hal itu termasuk syahwat yang tersembunyi. Sebaliknya jika melakukan “asbab” padahal Allah menempatkan anda pada kedudukan tajrid, maka hal itu berarti kemerosotan daripada himmah yang luhur “. Said Hawa menjelaskan bahwa tajrid disini maksudnya adalah meninggalkan pekerjaan duniawi, sehingga seakan-akan maksud Ibnu Athaillah adalah : “ Jika anda ditempatkan Allah pada kedudukan untuk melakukan ikhtiar dengan sebab-sebab sedangkan hatimu menginginkan tajrid, maka itu berarti akibat pengaruh syahwat yang tersembunyi “.
Disini Imam Athaillah menyatakan bahwa “tajrid” tidak berarti menghilangkan “asbab”. Sikap “Tajrid” adalah sikap hati yakin hanya Allah menentukan segala sesuatu tetapi keyakinan tersebut tidak boleh mengurangi amal terhadap sebab-sebab dalam berikhtiar. Tetapi dalam beramal, dalam melakukan sebab, maka hati tidak boleh pula tergantung kepada perbuatan tersebut, tetapi selayaknya hati hanya tetap bergantung kepada Allah. Ibnu Athaillah berkata : Daripada sebagian tanda ketergantungan kepada amal perbuatan adalah kurangnya harapan ketika terjadi suatu kesalahan “. Setiap muslim diwajibkan untuk beramal, berbuat sesuatu ikhtiar, tetapi diwaktu yang sama dia juga diwajibkan untuk tidak bersandar kepada amal perbuatannya tersebut, tetapi bersandar kepada Allah, hal ini dimaksudkan agar dalam melakukan amal, tujuannya adalah mencari keridhaan Allah, bukan natijah daripada amal perbuatan tersebut.
Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa ‘” Tanda Allah menempatkanseseorang dalam “asbab” ialah dengan berjalan terus menerus dan nampak buahnya, maksudnya ketika sibuk dengan ikhtiar maka ikhtiar itu tidak menganggu agamanya, tidak membuatnya tamak kepada milik orang lain, tetap dalam niat yang baik, selalu menjalin hubungan silaturahmi dengan yang lain, dan menolong orang yang lain sehingga amal perbuatannya dapat memberikan manfaat kepada dirinya, hidupnya, manusia yang lain, alam sekitarnya, dan kehidupannya di akhirat kelak. Sedangkan jika Allah memberikan kepadanya “tajrid”, maka hatinya tetap kepada Allah walau dalam keadaan dan kesibukan melakukan asbab, dan mendapatkan ketenangan jiwa dalam beramal, kebersihan hati, dan hanya tergantung kepada Allah, tidak terpengaruh kepada natijah, tetapi tujuan melakukan asbab hanya mencari keridhaan Allah “.
Syetan selalu menggoda manusia dalam tajrid dan ikhtiar. Jika manusia sedang berikhtiar, maka dia mengoda dengan mengatakan bahwa keadaanmu ini adalah hina sebab engkau meninggalkan ibadah kepada Allah, maka sebaiknya engkau tinggalkan ikhtiar dan bergantunglah kepada Allah tanpa berikhtiar. Syetan berkata : “ Andai engkau meninggalkan ikhtiar, dan kamu tajrid beribadah kepada Allah, maka nanti hatimu akan bersinat dan mendapat kedudukan yang tinggi disisi Allah sebagaimana si fulan dan si fulan “. Akhirnya orang tadi akan meninggalkan ikhtiar, padahal Allah mewajibkannya berikhtiar.
Demikian juga syetan akan menggoda orang yang sedang khusyu’ beribadah kepada Allah (tajrid), dan berkata “ mengapa engkau sibuk dengan ibadah kepada Allah, padahal dunia itu diberikan kepadamu, maka sebab engkau meninggalkan ikhtiar, maka lihat orang lain telah menjadi kaya, mendapat dunia maka segera tinggalkan ibadahmu dan berikhtiarlah , dan carilah dunia “. Tujuan syetan adalah agar manusia yang sedang melakukan ibadah atau yang sedang melakukan ikhtiar terpesong, antara ibadah dan ikhtiar, padahal ikhtiar dilakukan dengan niat ibadah dan keyakinan kepada Allah merupakan cara untuk mendapatkan keridhaan Allah, tetapi sebab terputusnya ibadah disebabkan ikhtiar atau terputusnya ikhtiar disebabkan ibadah menjadi penyebab tidak mendapat ridha Allah. Ikhitar dan ibadah, tak dapat dipisahkan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Atahillah : “ Amal-amal itu adalah badan yang berdiri, sedangkan rohnya adalah ketergantungan hati dan keikhlasan kepada Alah “.
Dalam hadis disebutkan bahwa :
“ Sesungguhnya Allah sangat suka kepada seorang hamba jika dia melakukan suatu perbuatan maka dia melakukannya dengan penuh kesungguhan “. ( riwayat Abu Ya’li dan al askari )
“ Andaikata kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal maka Dia akan memberikan kepadamu rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, di pagi hari burung itu keluar dari sarangnya mencari makan, dan di petang hari dia kembali ke sarangnya dalam keadaan perut yang kenyang “ ( riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah). Hadis ini menjelaskan bahwa tawakkal kepada Tuhan tidak menafikan ikhtiar, sebab Allah memberikan rezeki kepada burung sesudah burung itu terbang mencari rezeki, bukan menunggu di dalam sangkar. Tetapi dalam berikhtiar maka hati tetap bergantung dan bertawakkal kepada Allah.
Tajrid menghajatkan kepada “uzlah” dan inqitha’. Uzlah ( menyendiri ) bukanlah semata-mata menyendiri di salah satu sudut masjid atau bilik, tetapi suasana hati yang tetap ingat Allah dari satu waktu kepada waktu yang lain, tidak terpengaruh dengan segala godaan dan suasana dalam beramal dan berikhtiar. Sedangkan “inqitha’, adalah mengumpulkan segala potensi , semangat dan waktu untuk melakukan ikhtiar, dengan hati tetap bergantung kepada Allah, sehingga kata Ibnu Ataillah : “ Adalah kebodohan orang yang meninggalkan apa yang suidah dimilikinya karena hendak mencari sesuatu yang baru, padahal Allah telah memilih baginya pada waktu itu “.
Dalam uzlah Ibnu Ataillah juga berkata :
“ Tidak ada sesuatu yang bermanfaat untuk hati sebagaimana uzlah, sebab lewat pintu uzlah hati dapat memasuki medan pikir “.
“ Bagaimana mungkin hati akan bersinar, sementara gambaran dunia terlukis di cerminnya “.
“ Bagaimana mungkin seseorang itu menuju Allah, padahal hatinya terpasung oleh syahwatnya “.
Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda :
“ Fitnah-fitnah itu dilekatkan di hati bagaikan tikar,sehelai demi sehelai. Maka hati yang dapat dimasukinya tertitik satu noda hitam padanya. Adapun hati yang mengingkarinya maka terteteslah padanya titik putih. Sehingga hati ada dua macam : hati yang putih laksana batu karang yang tak dapat digoyang oleh fitnah selama ada langit dan bumi; dan hati yang hitam laksana periuk yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, hatinya penuh dengan hawanafsu yang telah masuk ke dalamnya “ ( riwayat Muslim ).
“Tajrid” dan asbab adalah bergantung kepada rububiyah dan melaksnaakan ubudiyah dalam setiap kehidupan, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dan pada waktu yang sama kita meyakini “tafrid” yaitu meyakini hanya Allah bermula segala sesuatu dan hanya kepadanya berakhir, sebaagimana dikatakan oleh Ibnu Atailah : “ Bergantunglah kamu kepada sifat-sifat rububiyah Allah, dan laksanakanlah dengan sungguh-sungguh sifat-sifat ubudiyahmu kepadaNya “.
Hati manusia selalu dalam proses ujian, apakah dapat melakukan tajrid , sehingga bersih daripada nafsu, keinginan dan goresan-goresan dunia, mereka yang dapatmelakukan “ tajrid” inilah yang disebutkan oleh Al Quran bahwa : “ Mereka itu adalah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa ‘ ( Surah al hujurat : 3 ). Semoga hati kita tetap tajrid dan tafrid kepada Allah dengan tetap melaksanakan ikhtiar dengan penuh kesungguhan dengan tujuan mendapatkan keridhaan Allah. Wallahu A’lam.


Muhammad Arifin Ismail
Masjid AlGhufran, 8 Sya’ban 1428/21 Ogos 2007

DZOUK (MERASAKAN )

DZOUQ

Dzouq adalah keadaan seseorang untuk merasakan kelezatan dan kenikmatan sesuatu baik secara zahir maupun secara batin. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa :

ذ ا ق طعم الا يما ن : من رضى با للـه ربا و با لاسـلا م د ينـا و بـمـحـمـد ر سـو لا

“ Seseorang itu akan merasakan makanan iman : sesiapa yang ridha dngan Allah sebagai Tuhan, dan dengan islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai rasul “. Hadis ini memberikan gambaran kepada kita bahwa iman itu laksana makanan, dan hati seorang yang beriman akan merasakan kelezatan makanan tersebut sebagaimana seseorang merasakan kenikmatan dan kelezatan suatu makanan dan minuman. Jika seseorang telah merasakan kelezatan iman dan islam, maka tidak ada sedikitpun keraguan yang akan sampai ke dalam hatinya.

Dzouq : Zikir-(ilmu)-Makrifah-(ridha)

Dzouq ini didahului oleh zikir dan makrifah. Zikir adalah mengingat dan mengetahui dan mempunyai ilmu, dengan ilmu itu barulah seseorang mengenal (makrifah ) Allah, dan segala yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah. Setelah mengenal Allah, mengenal Rasulullah, mengenal hari kemudian, mengenal kehidupan, mengenal perintah-perintah Allah, mengenal Surga, mengenal neraka, mengenal kehidupanm akhirat, mengenal malaikat, mengenal musuh-musuh iman seeprti syetan, hawa nafsu, orang kafir, dan munafik; barulah dia dapat merasakan kelezatan iman. Itulah sebabnya, dalam hadis diatas disebutkan bahwa kelezatan iman itu hanya didapat bagi mereka yang telah ridha kepada Allah , ridha kepada rasul dan ridha kepada islam sebagai agama. Keridhaan tersebut hanya didapat setelah seseorang mengenal, dan mengenal tersebut hanya dicapai jika seeseorang telah mengetahui akan sesuatu secara detail.

Ibnu Qayim membagi Dzouq dalam tiga tingkatan :
Pertama : Dzouq dengan merasakan kelezatan keyakinan, sehingga tidak dapat diputuskan dengan anggapan, atau angan-angan. Tidak dapat diputuskan oleh anggapan, maksudnya keyakinan terhadap Allah, rasul dan agama Islam tidak dapat lagi diputuskan oleh “dzan”, anggapan-anggapan dalam pemikiran manusia.

“Dan janganlah kamu mencampurkan yang benar dengan yang salah “ ( Surah albaqarah :42)
“Kebenaran itu hanya datang dari Tuhan engkau maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu “ ( Surah al baqarah : 214/ Ali Imran : 60)
“Dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka(orang kafir) tentang sesuatu kebenaran yang datang kepada engkau “ ( Surah alMaidah :48 ).
“Dan sesungguhnya anggapan (dzan ) itu tidak berguna sedikitpun dalam kebenaran” (surah an anjm : 53).
“Mereka (orang kafir)tidak mempunyai ilmu (tentang pembunuhan nabi isa), itu semua hanyalah sangkaan(dzan) “ ( Surah an Nisa:157).
“ Apakah kamu tidak melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan dan Allah membiarkannya sesat karena ilmunya, dan Allah menutup pendengarannya, dan hatinya, dan meletakkan penutup atas penglihatannya.Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? Mereka berkata : Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia sahaja,kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanya menyangka (dzan) sahaja “ ( surah al-Jatsiyah/45:23-24).

Tidak dapat diputuskan oleh angan-angan maksudnya adalah tidak dapat diputuskan dengan keindahan dan kemewahan dunia, sebab dia telah mendapatkan janji-janji Allah dengan kehidupan yang penuh nikmat di hari akhirat.

“ Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman laki dan perempuan taman-taman yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan mendapatkan tempat tinggal yang baik di dalam surge adn, dan keridhaan Allah itu lebih besar “ ( Surah Taubah/9:72)

Dalam hadis disebutkan : Demi Allah, tidak ada sesuatu yang diberikan Allah kepada mereka (orang yang beriman ) sesuatu yang lebih hebat daripada melihat wajah Allah “.

Dzouq diperoleh setelah meyakini Allah dengan ilmu dan makrifah, kemudian mengamalkan perintahNya dengan motivasi pahala, serta kenikmatan surga, dan menjauhi laranganNya dengan mengingat siksaan dan kepedihan neraka bagi mereka yang ingkar kepadaNya. Maka untuk merasakan Dzuoq ibadah dalam tingkatan pertama ini diperlukan hadis-hadis motivasi tentang pahala dan hadis berbagai siksa bagi mereka yang ingkar kepadaNya. Tujuannya adalah agar seorang mukmin tidak lagi terpengaruh dengan angan-angan kenikmatan dunia yang akan selalu mengganggunya dalam menjalankan perintahNya. Dalam hadis disebutkan : Orang yang pandai itu adalah orang yang dapat menguasai keinginan dirinya/hawa nafsu dan berbuat untuk kehidupan setelah kematian; dan orang yang bodoh itu adalah orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya tetapi berangan-angan kepada yang dijanjikan Allah “.

Tingkatan kedua adalah Dzuq dengan merasakan kelezatan kehadiran Allah dalam setiap keadaan hidupnya. Orang ini akan merasakan bahwa Allah selalu bersamanya, selalu melihat perbuatannya, selalu mengawasi tindakannya, baik di dalam masjid atau di luar masjid, baik di waktu seorang diri maupun sedang bersama orang ramai. Orang yang merasakan dzouq seperti ini akan selalu : Zikir kepada Allah dalam setiap keadaan dan waktu, mencintai Allah dalam setiap keadaan, dan tetap melakukan perbuatan terbaik ( ihsan ) dalam setiap tindakan. Kualiti dzouq tingkatan kedua ini tergantung kepada kualiti kedekatan (taqarrub ) kepada Allah, dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dalam tingkatan kedua ini mereka melakukan amal bukan karena pahala tetapi karena hanya untuk menghambakan diri kepadaNya. “ Sesungguhnya kami ini mememberikan makanan kepada mereka hanya karena mengharapkan keridhaan Allah,Kami tidak menginginkan balasan daripada kamu, dan juga tidak menginginkan (ucapan) terima kasih “ ( surah al Insan/76 : 9 ).

“ Dan kelak akan dijauhkan dari neraka orang yang paling bertaqwa, yaitu orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, dan tidak seorangpun yang mengharapkan balasan dari kenikmatan tersebut sebab dia memberikan itu hanya karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi “ ( Surah al lail ?92 : 17-20)

Tingkatan ketiga adalah dzouq dengan merasakan kelezatan berhubungan dengan Allah dalam setiap keadaan. Setiap ucapan merupakan ucapan kesyukuran atas karunia Allah, dan merupakan munajat kepada Allah. Pendengaran dipergunakan hanya untuk mendengarkan perintah Allah, penglihatan hany untuk melihat kekuasaan Allah dan perbuatan, baik ibadah ataupun kerja hanya untuk penghambaan diri kepada Allah.

Dalam hadis Qudsi , Allah subhana wa Taala telah berfirman : “ Sesiapa yang memusuhi waliKu maka seolah-olah dia berani untuk mengisytiharkan perang kepadaKu. Tiadalah seorang hambaKu bertaqarrub kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain daripada kewajiban-kewajiban yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hambaKu itu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga aku mencintainya. Apabila aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar. Aku menjadi penglihatannya, dengan itu dia akan melihat. Aku akan menjadi tangannya, dengan itu dia akn memegang; dan Aku akan menjadi kakinya, dengan itu dia berjalan. Apabila dia meminta kepadaKu, niscaya Aku kabulkan, dan apabila dia memohon perlindungan kepadaKu, nescaya Aku akan melindunginya ( hadis riwayat Bukari ).

Ibnu Qayim dalam kitab “Thariqul Hijratain” berkata bahwa wali Allah adalah orang yang tidur, tetapi hatinya berkeliling di sekitar Arsy dan dia senantiasa berhubungan dengan Allah, Tuhan Yang Maha Agung.
ا لـلـه أ عـلــم و ا لـحـمـد لـلــه رب ا لـعـا لمـين

Al-JAM'U (BERKUMPUL)

A L - J A M ’ U
“Al Jam’u” secara harfiyah maksudnya adalah mengumpulkan. Maksud al Jam’u disini adalah mengumpulkan antara perbuatan hamba dengan kehendak dan keputusan Allah, sehingga terjadilah sesuatu perbuatan. Hal ini didasarkan kepada ayat : “ Tidaklah negkau melempar, tetapi Allah yang telah melempar “ ( QS. Al Anfal : 17 ). Ayat ini turun dalam peperangan Badar, dimana Rasulullah melempar batu kepada musuh dan ketika batu itu terkena kepada orang kafir maka orang kafir musyrikin itupun mati. Oleh sebab itu ayat ini menyatakan bahwa wahai Muhammad engkau tidaklah melempar batu itu, tetapi Allah melempar. Maksudnya bahwa engkau yang melempar, tetapi Allah yang menjadikan keputusan lempar itu sehingga orang kafir itu mati disebabkan oleh lemparan yang engkau lakukan. Keyakinan bahwa itu semua terjadi karena kehendak Allah , sehingga perbuatan manusia itu hanya merupakan sebab, itulah yang dinamakan dengan al jam’u ( mengumpulkan dengan menghilangkan sebab, sehingga yang diyakini itu adalah perbuatan dan keputusan dari Allah ).
Ada kumpulan yang salah memahami ayat diatas menyatakan bahwa manusia itu tidak melempar, maka setiap lemparan itu hanyalah Allah yang melempar, oleh sebab itu manusia tidak perlu berikhtiar, sebab semuanya itu terpulang kepada Allah. Ini pendapat kelompok Jabariyah yang salah, sebab manusia yang melakukan lemparan, dan pada waktu manusia itu melempar, itu dengan ikhtiar, dengan usaha (kasb ), dengan kekuatan daripada mansuia, hanya saja pada waktu manusia itu melempar, Allah yang membrikan kepadanya kekuatan, dan keputusan.
Ada lagi kelompok yang menyatakan bahwa manusia itulah yang melempar, bukan Allah sebab manusia itu diberi kekuasaan penuh dalam berikhtiar, tanpa ada hubungan dengan Tuhan. Mereka berlandaskan kepada ayat : “ Sesungguhnya Allah itu tidak merobah apapun daripada suatu kaum sehingga kaum itu yang merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri “. ( Surah al ra’d : 11 ). Pendapat dari kelompok Qadariyah ini juga salah, sebab mereka tidak melihat kepada ayat yang lain. Adapun yang benar adalah mengumpulkan kedua ayat, sebagaimana yang diyakini oleh Ahlussunnah wal jamaah, bahwa manusia yang melakukan ikhtiar dan berusaha ( kasb ), hanya segala sesuatu itu tergantung juga dengan iradah dan qudrah daripada Allah Taala. Inilah yang disebut dengan konsep al Jam’u , yaitu mengumpulkan antara ikhtiar dan kasab daripada manusia dengan kehendak dan qudrah daripada Allah, dan menyatakan bahwa keputusan segala sesuatu hanya ada pada Allah.
Dalam memahami konsep “ al Jam’u “ ini, maka seorang ulama tasawuf, Ibnu Athaillah Al Askandari dalam kitabnya yang terkenal “ al Hikam” menyatakan : “ Orang yang lalai akan melihat apakah yang akan dikerjakannya esok hari, sedangkan orang yang berakal akan berkata apakah yang akan Allah perbuat baginya esok hari “. Bagi orang yang lalai dia akan menyangka bahwa dirinya melakukan sesuatu perbuatan, tanpa ada hubungan kait dengan Allah Taala, sedangkan bagi orang yang berakal menyatakan bahwa apapun yang dilakukan pada esok hari itu semua hanya dapat dilaksanakan dengan pertolongan Allah, sebab Allah memberikan kepadanya kesehatan, kekuatan, dan Allah juga yang memberikan kepadanya keputusan daripada perbuatannya tersebut. Itulah sebabnya dalam Al Quran dinyatakan : “ Dan janganlah engkau berkata bahwa besok engkau akan melakukan sesuatu perbuatan melainkan dengan izin dan kehendak Allah “ ( Surah al kahfi : 23-24 ).

Pemahaman “al Jam’u” dalam perbuatan itu dapat dilaksanakan dengan cara bahwa sewaktu akan melakukan perbuatan kita mengucapkan “isnya Allah “, sewaktu mulai melakukan perbuatan dengan ucapan “ Bismillah “, dan sewaktu perbuatan itu berakhakhir , maka kita ucapkan “ Alhamdulillah “. Dengan ucapan itu maka kita memahami bahwa perbuatan manusia tidak ada satupun yang dapat dilepaskan dari pertolongan, qudrah dan iradah Allah, sehingga manusia jika melakukan sesuatu harus meyakini bahwa “ La haula wala quwata illa billah “, tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali daripada Allah Subhana wa taala. Manusia melakukan perbuatan, tetapi upaya manusia uitu juga datang darupada Allah. Manusia yang mempunyai tenaga dan kekuatan, tetapi tenaga dan kekuatan juga datang dari Allah, bukan dari badan manusia itu semata-mata. Dengan pemahaman ini, maka manusia akan terlepas daripada riya, bangga dan sombong.
Dengan pemahaman “al jam’u “, manusia juga akan mengakhiri segala perbuatan yang dilakukannya dengan meminta ampun dan taubat kepada Allah, itulah sebabnya rasulullah sendiri setiap mengakhiri sesuatu perbuatan seperti majlis ilmu, selalu melakukan “istighfar’. Demikian juga setiap pagi nabi membaca istighfar dan di perang hari nabi juga membaca istighfar. Seakan-akan mengajarkan kepada umatnya agar memulai hari dengan istighfar dan menutup hari dengan istighfar. Dengan istighfar berarti kita telah merasa bahwa perbuatan kita itu harus kita persembahkan kepada Allah, dan sebab itu kita meminta ampun atas kesalahan ataupun kekurangan yang terdapat dalam perbuatan tersebut.
Ulama juga menyatakan al jam’u dalam ilmu, artinya manusia disuruh Allah mencari ilmu, tapi ingatlah bahwa ilmu itu dfatang daripada Allah : “Bacalah dengan nama Tuhanmu “ ( Surah al Alaq : 1 ) dan dalam ayat lain Allah berfirman : “ Dan kami ajarkan dia ( khidir ) dengan ilmu pengetahuan yang datang dari sisi kami “ ( Surah al Kahfi : 65 ). Carilah ilmu itu dengan nama Allah, walaupun engkau mencari ilmu dengan membaca, mengkaji, dan lain sebagainya, tetapi ilmu itu yang datang kepada kamu itu semua bukan karena pembacaan dan pengkajian, tetapi daripada Allah Taala. Inilah yang dimaksud dengan “ al Jam’u “ dalam ilmu.
“Al jam’u “ juga dalam wujud, sehingga seorang manusia harus meyakini bahwa wujudnya sesuatu itu hanya dapat terjadi dengan wujudnya Allah, dengan kekuasaan Allah dalam menciptakan sesuatu, bukan terjadi dengan sendirinya. Segala kejadian alam, perubahan siang dan malam, itu semua terjadi dengan adanya ketentuan Tuhan dalam setiap proses penciptaan, sebagaimana dinyatakan oleh Al Quran bahwa Allah melakukan segala sesuatu dalam setiap sa’at penciptaan : “ Setiap yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan “ ( Surah ar rahman : 29 ).
Dengan memahami al jam’u dalam wujud baru kita dapat memahami “ aljam-‘u “ dalam kesaksian, dimana seorang mansuia dalam melihat setiap benda, melihat setiap kejadian alam, hanya menyaksikan kebesaran Tuhan, dimana segala diciptakanNya dengan penuh hikmah, dan kasih sayang Allah. Sebab itu segala sesuatu bagi seorang muslim itu merupakan kebaikan sebab segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah untuk kebaikan manusia. “ Kadangkala apa yang engkau benci, itu sebenarnya itu baik bagi dirimu dan apa yang engkau suka, itu sebenarnya tidak baik bagi dirimu, sebab hanya Allah Maha mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya “ ( Surah alBaqarah : 216 ). Walahu A’lam.

Saturday, December 25, 2010

SEBENARNYA NATAL BUKAN 25 DESEMBER





SEJARAH TANGGAL HARI RAYA NATAL

by: Dr. J.L. Ch. Abineno


Gereja-gereja merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Kebiasaan ini baru mulai dalam abad ke-4. Sebelum itu Gereja tidak mengenal perayaan Natal. Terutama karena Gereja tidak tahu dengan pasti bilamana –pada hari dan tahun berapa– Yesus dilahirkan. Kitab kitab Injil tidak memuat data data tentang hal itu. Dalam Lukas 2 dikatakan, bahwa pada waktu Yesus dilahirkan gembala gembala sedang berada “di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (ayat 8). Itu berarti, bahwa Yesus dilahirkan antara bulan Maret atau April dan bulan November.
Klemens dari Alexandria mengejek orang orang yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus. Dalam abad abad pertama hidup kerohanian anggota anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan Yesus. Natal tidak mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun umumnya –terutama oleh Origenes– dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir: orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka. Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari ulang tahunnya.

Tetapi di sebelah Timur (= Eropa Timur) orang telah sejak dahulu memikirkan mukjizat pemunculan Allah dalam rupa manusia. Menurut tulisan tulisan lama suatu sekte Kristen di Mesir telah merayakan “pesta Epiphania” (= pesta Pemunculan Tuhan) pada tanggal 4 Januari. Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epiphania ialah munculnya Yesus sebagai Anak Allah –pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan (= Gereja di seluruh Eropa) bukan saja menganggap baptisan Yesus sebagai Epiphania, tetapi terutama kelahiranNya di dunia. Sesuai dengan anggapan ini Gereja –pada permulaan abad ke 4– merayakan pesta Epiphania pada tanggal 6 Januari sebagai pesta kelahiran dan pesta baptisan Yesus.

Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab dan puji pujian (= nyanyian). Ephraim dari Syria menganggap Epiphania sebagai pesta yang paling indah. Ia katakan: “Malam perayaan Epiphania ialah malam yang membawa damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, di mana seluruh dunia sedang berjaga jaga?!” Pada malam perayaan Epiphania semua gedung gereja dihiasi dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di guha Betlehem, di mana Yesus –menurut kepercayaan orang– dilahirkan.

Di Roma perayaan Natal kemudian –antara tahun 325 dan tahun 354– beralih dari tanggal 6 Januari ke tanggal 25 Desember. Dalam agama kafir pada waktu itu tanggal 25 Desember dirayakan sebagai pesta untuk menghormati dewa matahari. Kaisar Konstantin menghendaki, supaya agama Kristen menggunakan praktik praktik keagamaan yang ada pada waktu itu, Sementara. itu konsili Nicea (325) dengan kuat menggarisbawahi, bahwa Yesus sejak lahirNya adalah Anak Allah. Hal ini mendorong Gereja untuk merayakan hari ulang tahun (= dies natalis) Yesus sebagai suatu pesta tersendiri, lepas dari pesta baptisanNya.

Untuk itu Gereja menggantikan pesta kafir –pesta dewa matahari– dengan “pesta Kristen”: “pesta Natal Yesus Kristus” sebagai Terang dunia. Tetapi pengaruh pesta kafir ini lama sekali nampak dalam pesta Natal. Begitu rupa, sehingga Paus Leo –dalam abad ke 5– harus menasihatkan orang-orang Kristen pada waktu itu supaya mereka jangan merayakan pesta dewa matahari, tetapi Natal Yesus Kristus.

Dari Roma perayaan Natal pada tanggal 25 Desember disebarkan ke seluruh dunia. juga ke Indonesia. Jadi yang kita rayakan pada tanggal 25 Desember bukanlah suatu tanggal historis.. (Dr. J.L. Ch. Abineno, Buku Katekisasi Perjanjian Baru I, BPK Gunung Mulia, Jakarta, Cet. II, 1987, hlm. 14-16). [taz/voa-islam.com]


Tipuan Pohon Natal = Kelahiran Yesus Menurut Bibel?
Ditulis oleh : Hj.Irena Handono

Untuk menyibak tabir 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, sebaiknya disimak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana tercantum dalam Lukas 2:1-8 dan Matius2:1, 10, 11. Sedangkan Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus.

Lukas 2:1-8:
Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, -- karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud -- supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

Jadi, menurut Lukas, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7 M = 579 tahun Romawi). Yusuf tunangan Maria (Maryam) ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka berangkat kesana, dan lahirlah Yesus di Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

Menurut Matius 2:1, 10, 11

Matius 2:1:
2:1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem

Matius 2:10:
2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

Matius 2:11:
2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
Jadi menurur Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah antara tahum 37 SM sampai tahun 4 M (749 tahun Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.

Jadi, cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang sedang di lepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan malam hari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil.

Bagi yang memiliki wawasan luas, hati dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci Al-quran telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Nabi Isa alaihissalam).

Q.S Marayam:23-25
23. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan."

24. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,

Jadi menurut Al-Qur’an, Nabi Isa as dilahirkan pada musim panas disaat buah kurma sedang ranum. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthur. Peak, dalam Commentary on the bible – seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23): Yesus lahir dalam Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan: Agustus – September.

Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity – seperti juga yang dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:

"There is, moreover, no authority for the belief than Dcember 25 was the actual birthday of jesus. If we can give abny credence to the brit – storyof lurk, with the shepherds keeping watchby night in the fields near Bethlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, mhen the night temperature is so low in the hill country of Judea that snow is not uncommon. After much argument our Chritmast day seems to have been accepted about A. D. 300."

(Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang rumput di dekat Bethlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi). ****

Wednesday, December 22, 2010

FATWA MUI TENTANG PERAYAAN NATAL

Pada tahun 1981dahulu, Majelis Ulama Indonesia, telah mengeluarkan Fatwa yang berkaitan dengan perayaan Natal dengan salinan fatwa sebagai berikut. Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia setelah :

MEMPERHATIKAN :

1. Perayaan Natal bersama pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal .
3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.

MENIMBANG :

1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.
2. Ummat Islam agar tidak mencampur adukkan aqiqah dan ibadahnya dengan aqiqah dan ibadah agama lain.
3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT.
4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar Ummat Beragama di Indonesia.

Meneliti kembali
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:

A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:

1. Al Qur`an surat Al-Hujurat ayat 13: ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan Kamu sekattan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang bertaqwa (kepada Allah), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

2. Al Qur`an surat Luqman ayat 15:”Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku lah kembalimu, maka akan Ku-berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

3. Al Qur`an surat Mumtahanah ayat 8: ”Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan :

1. Al Qur`an surat Al-Kafirun ayat 1-6:”Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”

2. Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 42: “Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersatukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Kita, kemudian kepada-Kulah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas:

1. Al Qur`an surat Maryam ayat 30-32: “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibumu (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

2. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 75: “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rosul yang sesungguhnya telah lahir sebelumnya beberapa Rosul dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa memakan makanan(sebagai manusia). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”

3. Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 285 : “Rasul (Muhammad telah beriman kepada Al Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman) semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-rasulnya dan mereka mengatakan : Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak Isa Al Masih itu anaknya, bahwa orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan atas :

1. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 72 : “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata : Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam. Padahal Al Masih sendiri berkata : Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang penolong pun.”

2. Al Qur`an surat Al Maidah ayat 73 : “Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan : Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang pedih.”

3. Al Qur`an surat At Taubah ayat 30 : “Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Al Masih itu anak Allah. Demikianlah itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka bagaimana mereka sampai berpaling.”

E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakan dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab “Tidak” : Hal itu berdasarkan atas :Al Qur`an surat Al Maidah ayat 116-118 :”Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah, Isa menjawab : Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu : sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadapa mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku, Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Jika Engkau mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

F. Islam mengajarkan Bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al Qur`an surat Al Ikhlas: “Katakanlah : Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun / sesuatu pun yang setara dengan Dia.”

G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas :

1. Hadits Nabi dari Nu`man bin Basyir : “Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”

2. Kaidah Ushul Fiqih “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan).”

MEMUTUSKAN

MEMFATWAKAN :

3. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas.

4. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.

5. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.
Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H

7 Maret 1981

Komisi Fatwa
Majelis Ulama Indonesia

Ketua Sekretaris

K.H.M SYUKRI GHAZALI Drs. H. MAS`UDI

Demikianlah bunyi teks fatwa tersebut, semoga kita sebagai umat Islam dapat menjadikan fatwa tersebut menjadi panduan dalam bersikap terhadap agama lain. Hal ini sangatlah penting, sebab akhir-akhir ini banyak pendapat tentang hukum perayaan natal bagi umat Islam. Terlebih lagi menurut situs voa-islam, terdapat buku tentang natal yang ditulis didepannya dengan kalimat ” maulid nabi isa a.s.”. Demikian juga terdapat tayangan di layar kaca melalui media tivi dimana umat kristiani menayangkan acara natal dengan nasyid dari kitab injil berbahasa arab dengan memakai busana muslimah, dan mendatangkan penyanyi dari kristiani Timur tengah. Oleh sebab itu umat Islam harus waspada dan tidak terikut dan terpengaruh dengan segala bentuk kegiatan natal yang bernuansa arab, dan tidak terjebak dengan pemikiran liberalisme dan pluralisme yang mencampuradukan kegiatan satu agama dengan agama yang lain. Rasululah saw telah memperingatkan hal ini dengan sabdanya yang disampaikan oleh sahabatnya Abdullah bin Amru bin 'Ash radhiyallahu 'anhuma, berkata: ” Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya dan tahun baru mereka (naruz), dan perayaan agama mereka (mahrajan) serta menyerupai mereka sampai dia meninggal dunia dalam keadaan demikian, maka nanti di hari kiamat, ia akan dibangkitkan bersama mereka ” (Sunan al-Baihaqi IX/234). Umat Islam dilarang menghadiri perayaan natal,sebab natal berkaitan dengan akidah dan ibadah agama lain, walauoun demikian umat Islam tetap harus menghormati agama lain dan bersikap toleransi dengan bersikap dan berakhlak yang mulia dalam berhubungan dan bersilaturahmi dengan mereka, sebagaimana dinyatakan dalam al quran : ”Katakan kepada orang kafir bahwa saya tidak akan menyembah apa yang akan kamu sembah, dan kamu juga tidak perlu menyembah apa yang saya sembah. Saya tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah dan saya juga tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah. bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku. ( QS.AlKafirun ) . Inilah sikap umat Islam, tegas dalam akidah, tetapi tetap toleran dan menghormati agama yang lain. Fa’tabiru Ya Ulil albab.