Pages

Friday, February 25, 2011

AlHikam 12 : Uzlah Hati

IBNU ATHAILLAH DALAM AL HIKAM 12 :
" TIADA SESUATU YANG SANGAT BERGUNA BAGI HATI SEBAGAIMANA UZLAH (MENGASINGKAN DIRI) UNTUK MASUK KE MEDAN TAFAKUR (BERPIKIR)"

Dalam mencari kebenaran dan solusi kehidupan, seorang manusia memerlukan kesucian berpikir, sehingga apa yang diputuskan oleh akal pikiran tersebut merupakan langkah yang terbaik dalam hidupnya. Kesucian berpikir tersebut memerlukan keadaan yang tenang, sunyi dari kesibukan dan kebisingan, lepas dari pengaruh emosi dan hawa nafsu, sehingga pikiran dapat dihubungkan dengan Tuhan si pemberi cahaya kehidupan, dengan merenungi, dan memahami ayat-ayat yang telah disampaikanNya, sehingga langkah yang diambil tetap berlandaskan hukum dan perintahNya, dan mendapat keridhaanNya. Mengasingkan diri dari segala sesuatu kebisingan suasana dan memfokuskan diri untuk menghubungkan diri dengan Tuhan dengan memikirkan solusi setiap persoalan kehidupan berlandaskan ayat-ayatNya, sehingga mendapatkan solusi yang terbaik itulah yang disebut dengan “uzlah”.

Menurut ulama, Uzlah terbagi dua :
1. Uzlah dengan hati dan diri, yaitu menjauhkan diri dari keramaian kehidupan, sebagaimana uzlah nabi Muhammad saw di Gua hira, dan uzlah pemuda Kahfi di dalam gua.
2. Uzlah dengan hati tetapi jasmani tetap bergaul dengan manusia. Pergaulan dengan manusia, situasi yang dihadapinya, tidak dapat mempengaruhi suasana hati yang tetap istiqamah berhubungan , mengingat Allah, dan merasakan kehadiran Allah dimanapun dia berada.

Kalimat “uzlah” tersebut berdasarkan pada ayat AlQuran :

وَإِذِ ٱعۡتَزَلۡتُمُوهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأۡوُ ۥۤاْ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ يَنشُرۡ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَيُهَيِّئۡ لَكُم مِّنۡ أَمۡرِكُم مِّرۡفَقً۬ا (١٦) ۞

Dan apabila kamu (pemuda Kahfi) meninggalkan mereka (masyarakatnya) dan meninggalkan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (QS. Al Kahfi : 16)

Dalam ayat diatas pemuda Kahfi meninggalkan kaumnya yang sedang melakukan penyembahan kepada berhala-berhala mereka, dan mereka mencari perlindungan dari pengejaran penguasa kaumnya tersebut ke dalam gua, sehingga di dalam gua tersebut mereka mendapatkan rahmat Allah, yaitu keselamatan diri dan akidah mereka dari penguasa yang dzalim.

Demikian juga dengan nabi Muhammad saw, mengasingkan diri untuk bertafakkur di Gua Hira dengan mengharapkan hidayah Allah dalam menghadapi sikap kaumnya yang menyembah berhala. Sehingga Allah menurunkan wahyu kepadanya dengan ayat al Alaq 1-5. Tetapi perlu dicatat bahwa Nabi Muhammad saw melakukan “uzlah” tersebut sebelum beliau mendapatkan wahyu, dan setelah mendapatkan wahyu, nabi tidak lagi melakukan “uzlah” ke dalam Gua, tetapi melakukan shalat tahjjud untuk berkomunikasi dengan Tuhannya dan mencari solusi atas problematika yang dihadapi.

Mendirikan shalat tahajjud merupakan cara “uzlah” seorang muslim dengan Tuhannya, untuk mengadukan nasib dan keadaannya dan meminta petunjuk dan hidayahNya dalam mencari solusi atas problem yang dihadapinya. Itulah sebabnya dalam al Quran dinyatakan :

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةً۬ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامً۬ا مَّحۡمُودً۬ا (٧٩) وَقُل رَّبِّ أَدۡخِلۡنِى مُدۡخَلَ صِدۡقٍ۬ وَأَخۡرِجۡنِى مُخۡرَجَ صِدۡقٍ۬ وَٱجۡعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلۡطَـٰنً۬ا نَّصِيرً۬ا (٨٠)
“ Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah [pula] aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (QS. AlIsra: 79-80)

Dengan menghubungkan diri kepadaNya melalui shalat tahajuud dimalam hari, membaca ayat-ayat al Quran sebagai pedoman kehidupan, maka Allah akan memberikan “kalimat-kalimat yang berat dan bernash, ide yang cemerlang, solusi yang tepat dan diridhaiNya. Mendapatkan solusi yang tepat dalm menghadapi persoalan itu akan meningkatkan kedudukan kita yang dinyatakan al Quran sebagai kedudukan yang tinggi “maqamam mahmuda “.

Uzlah, dalam arti mengasingkan diri dari kesibukan dan menghadirkan diri di hadapan Tuhan dari kesunyian dengan bermunajat dan membaca serta memahami ayat-ayatNya tersebut merupakan jalan untuk mendapatkan solusi kehidupan yang tepat, ide yang segar sebagaimana dinyatakan AlQuran :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُزَّمِّلُ (١) قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلاً۬ (٢) نِّصۡفَهُ ۥۤ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلاً (٣) أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلاً (٤) إِنَّا سَنُلۡقِى عَلَيۡكَ قَوۡلاً۬ ثَقِيلاً (٥) إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِىَ أَشَدُّ وَطۡـًٔ۬ا وَأَقۡوَمُ قِيلاً (٦)
“ Hai orang yang berselimut [Muhammad], (1) bangunlah [untuk sembahyang] di malam hari [1] kecuali sedikit [daripadanya], (2) [yaitu] seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, (3) atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (4) Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (5) Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat [untuk khusyu’] dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (QS. AlMuzammil : 1-6)

Uzlah mengasingkan diri dengan melakukan shalat tahajjud, membaca, serta memahami ayat-ayatNya merupakan jalan untuk bertafkkur dengan merasakan kelemahan diri di depan Tuhan, sehingga pikiran yang suci tersebut akan menghasilkan solusi dan ide yang terbaik sebab melalui proses shalat, membaca alQuran dan tafakkur.Uzlah diri dan hati di malam hari tersebut dapat menjadi Uzlah hati dalam kehidupan dan keramaian, menjadikan pribadi Uzlah, pribadi yang tangguh dan istiqamah, tetap dlam prinsip dan sikap, tidak terpengaruh oleh godaan dunia, dan tidak terpengaruh oleh sikap kawan, situasi, keadaan yang dapat melupakan diri daripada Allah subhana wataala.
Pribadi Uzlah adalah pribadi yang tidak mudah terpengaruh setiap godaan dan rayuan yang datang dari kaum keluarga, kerabat dan kawan, atau situasi dan keadaan. Pribadi uzlah adalah pribadi yang tetap istiqamah dalam melangkah dengan tujuan yang pasti untuk meraih keridhaan Allah, pribadi yang hatinya tetap bersih daripada segala penyakit hati, perbuatannya tetap terpelihara daripada kemungkaran, tujuan hidupnya hanya mencari keridhaan Tuhan bukan kesenangan nafsu dunia,walaupun dia hidup di tengah-tengah masyarakat yang kafir dan lingkungan yang penuh dengan dosa dan maksiat, sebab setiap perbuatan yang dilakukan adalah buah dari hati dan pikiran yang suci, yang telah disinari oleh cahaya dan cahaya dan nur Ilahi. Pribadi Uzlah, adalah pribadi yang tetap merasakan kehadiran Ilahi ditengah keramaian manusia, dan kebisingan dunia.Pribadi uzlah ditengah masyarakat,lebih baik daripada pribadi yang menjauhkan diri dari masyarakat, sebagaimana dinyatakan dalam hadis : “ Seorang mukmin yang bergaul dengan masyarakat dan sabar atas segala godaan dan penderitaan lebih tinggi derajatnya daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak sabar atas penderitaan yang didahapinya “ ( Hadis riwayat Ibnu Majah/432). Wallahu A’lam ( Muhammad Arifin Ismail, Pengajian Ummahatul Muslimah, Kuala Lumpur, Jumat 25 /02/2011)

Saturday, February 12, 2011

ALHIKAM 11 : IKHLAS DAN KHUMUL

ALHIKAM 11 :

" TANAMLAH DIRIMU DALAM TANAH KERENDAHAN SEBAB (KHUMUL) SEBAB TIAP SESUATU YANG TUMBUH DARI SESUATU YANG TIDAK DITANAM MAKA HASILNYA TIDAK SEMPURNA HASIL. ( IBNU ATHAILLAH)


Ikhlas adalah kunci utama dalam setiap amal perbuatan. Lawan ikhlas adalah riya’. Riya adalah keinginan diri untuk dikenal dalam melakukan sesuatu perbuatan. Diantara cara untuk mengikis dan mematikan sikap riya, dan menghilangkan keinginan untuk dikenal , adalah dengan cara merendahkan diri (tawadhu) dan merasa tidak ingin dikenal ( khumul ) sewaktu kita melakukan suatu perbuatan. Dalam kitab suci al Quran dinyatakan : “ Kehidupan akhirat itu Kami berikan kepada mereka yang tidak menghendaki ketinggian dan tidak membuat kerusakan di muka bumi “ ( QS. Qashash : 83 ).
Dari Anas, menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Cukuplah sudah dapat diktakan suatu kejahatan, jika manusia menunjuk kepadanya dengan anak jari, tentang agama dan dunianya, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah “ ( riwayat Baihaqi ).
Dalam hadis yang lain juga dinyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Cukuplah menjadi suatu kejahatan, jika manusia menunjuk kepadanya dengan anak jari, tentang agama dan dunianya. Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupanya, akan tetapi Dia memandang kepada hati dan amap perbuatanmu “ ( Thabrani dan Baihaqi ).
Dalam hadis Qudsi, Rasulullah bersabda : “ Allah berfirman : sesungguhnya waliKu yang paling aku suka adalah hamba yang mukmin, sedikit harta, mempunyai kesenangan hati dengan shalat, selalu memperbaiki ibadahnya kepada Alah, dan selalu mentaatiNya walaupun dalam keadaan tersembunyi. Dia tertutup daripada manusia, tidak ditunjukkan kepadanya dengan anak jari, kemudian dia bersabar atas yang demikian “ ( riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah ).
Umar bin Khattab masuk ke dalam masjid dan melihat Muaz bin Jabal sedang menangis, maka dia bertanya : Wahai Muadz, mengapa engkau menangis ? Muadz menjawab : “ Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : “ Sedikit daripada riya itu merupakan syirik. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaqwa yang menyembunyikan amal perbuatannya. Mereka itu jika tidak ada (ghaib) maka orang tidak mencarinya. Jika mereka ada, orang tidak mengenalnya dan menghiraukannya. Hati mereka merupakan lampu petunjuk dan , mereka terlepas dari setiapkegelapan dunia “ ( Thabrani ).
Dalam hadis yang lain dikatakan : “ Apakah kalian mau aku tunjukkan penghuni syurga. Mereka itu adalah orang-orang yang lemah dan dipandang rendah, padahal jika dia bersumpah dengan nama Allah, maka Allah akan segera mencurahkan kebaikan kepadanya. Sedangkan penghuni neraka adalah setiap orang yang sombong dan angkuh dalam gerak-geriknya “ ( riwayat Bukhari dan Muslim ).
Rasulullah saw bersabda : “ Banyak orang yang rambutnya kusut, badannya berdebu, mempunai pakain yang buruk, tidak diperdulikan orang. Jikalau dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah anugerahkan dia kebaikan, dan diantara mereka adalah Barra bin Malik “ ( Hadis riwayat Muslim ). Dalam hadis yang lain disebutkan : “ Banyak orang yang berpakaian buruk, yang tidak diperdulikan orang. Jika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah mencurahkan nikmat kepadanya. Jika dia berdoa : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon surge kepadaMu “, niscaya Allah akan mengabulkannya. Dan tidak dianugerahkan Allah kepadanya sedikitpun daripada kekayaan dunia “. ( Riwayat Ibnu Abiddunya ).
Abu Hurairah menceritakan dalam suatu majlis, Nabi Muhammad saw berkata kepada sahabat-sahabatnya : Besok akan datang salah seorang penghuni syurga yang shalat bersama kamu. Abu Hurairah berkata dalam hatinya : “ Aku berharap orang itu adalah saya. Maka pagi-pagi hari saya shalat di belakang Rasulullah dan terus berada di majlis walaupun orang lain segera pulang. Tidak lama kemudian datanglah seorang hamba berkulit hitam berkain compang camping datang berjabat tangan dengan Rasulullah sambil berkata : “ Ya Rasulullah, doakan agar aku mati syahid “. Nabi berdoa untuknya. Setelah itu orang itupun pergi. Kami (sahabat ) mencium aroma wangi dari badannya. Kemudian kami bertanya : Siapakah orang itu ya Rasulullah. Rasul menjawab : Dia itu hamba sahaya dari Bani Fulan. Abu Hurairah berkata : “ Mengapa engkau tidak memerdekakannya ?. Nabi menjawab : Bagaimana saya dapat memerdekakannya sedangkan Allah telah menjadikannya salah seorang raja di dalam syurga nanti “. Kemudian nabi berkata : “ Hai Abu Hurairah sesungguhnya Allah sayang kepada makhluknya yang hati suci (ikhlas) , walaupun datang dengan rambutnya kusut, kempis perutnya kecuali dari makanan yang halal, sehingga apabila dia masuk menghadap raja, dia tidak diizinkan, dan apabila dia akan meminang wanita bangsawan , tidak akan diterima, bila dia tidak ada, maka dia tidak dicari, dan bila dia ada, dia tidak dihiraukan, bila dia sakit, tidak dikunjungi orang, bahkan bila dia mati, tidak banyak orang yang akan melayat kematiannya “. Sahabat bertanya : “ Tunjukkan kepada kami serang dari mereka “. Nabi menjawab : Uwais al Qarni, seorang yang berkulit coklat, mempunyai bahu yang lebar, selalu menundukkan kepala sambil membaca al Quran, tidak terkenal di bumi, tetapi terkenal di langit, andaikan dia meminta sesuatu kepada Allah, segera dikabulkan. Hai Umar dan Ali, jika kamu bertemu dengannya, mintalah kepadanya supaya membaca istighfar untukmu “.
Uwais Al Qarni adalah seorang pemuda yang telah masuk Islam di masa Rasulullah, hanya dia masuk Islam melalui dakwah yang disampaikan oleh sahabat yang datang ke Yaman. Uwais sangat rajin mendlami agama, dan melaksanakan ibadah, walaupun dia belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Dia sangat ingin dapat berkunjung ke Madinah untuk berjumpa Rasulullah. Pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaann Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi dirumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang.
Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru. Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya.
Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anakyangtaatkepadaibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudahitubeliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat.

Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”
Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Sikap tidak ingin dikenal, merupakan cara untuk mendapatkan kesempurnaan ikhlas. Pada suatu hari, banyak orang berjalan di belakang Ubay bin Ka’ab. Tiba-tiba khalifah bin Umar melihat keadaan demikian, maka dia segera mengambil cemeti mengusir orang-orang yang mengikuti sahabat Ubay tadi. Melihat sikap Umar, ada sahabat bertanya : Wahai Umar, apa yang kau lakukan ini ? Umar menjawab : Keadaan ini (mengikuti seseorang sahabat ) dapat menjadi kehinaan bagi yang mengikuti dan menjadi bencana (fitnah ) bagi orang yang diikuti “.
Ibnu Muhairiz berkata : “ kalau engkau sanggup untuk mengenal dan engkau tidak dikenal, engkau berjalan dan orang tidak berjalan kepada engkau, engkau bertanya dan engkau tidak ditanya, maka buatlah yang demikian “.
Ali bin Abi Thalib berkata : “ Engkau member dan engkau tidak termasyhur (terkenal). Dan jangan engkau mengangkat diri engkau supaya engkau disebut orang. Belajarlah dan sembunyikanlah dan diamlah, niscaya engkau selamat.”.
Wallhu A’lam.
*Disampaikanoleh Muhammad Arifin Ismail dalam pengajian Ummahatul Muslimah, Condo Bestari, Kuala Lumpur, Jumat 9 Februari 2011.

Thursday, February 10, 2011

Valentine's Day : Sikap muslim.

Pada setiap pertengahan bulan Februari, banyak di antara generasi muda muslim yang ikut-ikutan hari Valentine ( Valentine’s day ) yang juga mereka sebut dengan Hari Cinta Kasih atau Hari Kasih Sayang. Padahal kalau dikaji lebih lanjut, perayaan tersebut adalah budaya Barat yang berasal dari salah satu tradisi dalam agama nasrani. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh merayakan hari tersebut, sebab hari itu merupakan bagian dari perayaan agama Kristen dan tradisi romawi. Pada awalnya bangsa Romawi merayakan acara untuk memperingati suatu hari besar mereka, yang jatuh setiap 15 Februari, yang mereka namakan Lupercalia. Peringatan ini dirayakan guna menghormati perkawinan antara Dewa Juno (Tuhan Wanita) dengan Dewa Pan (Tuhan dari alam ini),dalam agama pagan Romawi kuno.. Pada saat itu, digambarkan orang-orang muda “laki-laki dan wanita” memilih pasangannya masing-masing dengan menuliskan nama atau mengundi nama dari orang-orang yang diminati dan dicintainya, kemudian pasangan ini saling tukar bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Acara ini dilanjutkan dengan berbagai macam pesta hura-hura bersama pasangan masing-masing. Setelah penyebaran agama Kristen, Para Pemuka Gereja mencoba memberikan pengertian ajaran Kristen terhadap para pemuja berhala itu. Pada tahun 496 Masehi, Paus Gelasius (Pope Gelasius) mengganti peringatan Lupercalia itu menjadi Saint Valentine’s Day, yaitu Hari Kasih Sayang Untuk Orang-Orang Suci.



Di lain versi lagi, banyak pula ahli sejarah lain yang mengkaitkan Hari Valentine tersebut dengan Pendeta St. Valentine yang lain. St. Valentine yang satu ini adalah seorang Bishop (Pendeta) di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma. Pendeta tersebut dikejar-kejar karena mempengaruhi beberapa keluarga Romawi dan memasukkan mereka ke dalam agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 273 masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, Pendeta itu mengirim surat kepada para putri penjaga-penjaga penjara dengan mendo’akan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia. “Dari Valentinemu” demikian tulis Valentine pada akhir suratnya itu. Surat itu tertanggal 14 Februari 270 M. sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang. St.Valentine diangap sebagai lambang kasih sayang, apalagi pendeta tersebut dihukum sebab keberaniannya melawan penguasa Romawi, ditambah lagi di akhir hayatnya pendeta itu memberikan ucapan kasih sayang kepada putri orang yang menghukumnya, maka sebagai lambang Kahis sayang, dijadikanlah hari kematiannya tersebut menjadi hari kasih sayang.



Sejak kematiannya kisah Saint Valentine seperti tertiup angin, menyebar dan meluas sampai tak satu pelosok di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan Nenek mendongengkan cerita Saint Valentine pada cucunya sebagai dengan nada semangat dan penuh ekspresi. Orang-orang tua selalu menasehatkan pada anaknya, “kelak jika besar nanti, jadilah kau seperti Saint Valentine.” Pokoknya, Saint Valentine adalah sosok idola. Tutur katanya, gaya hidupnya, ketaatannya dalam memegang teguh keyakinannya menjadi acuan semua orang. Sampai pada akhirnya nama Valentine menjadi simbol kasih sayang. Tapi kebiasaan ini tak lama bertahan, sedikit demi sedikit kebiasaan menghormati Saint Valentine sebagai tokoh yang penuh kasih sayang berubah. Peringatan kematian Saint Valentine pada tanggal 14 Pebruari berubah menjadi hari memilih pasangan di antara kaum muda. Saling memberi hadiah dan mengucapkan rasa suka. Akhirnya dari hari kasih sayang, menjadi hari cinta berahi, dan hari kemaksiatan. Dari sejarah perjalanan Valentine’s Day ini, sudah selayaknya umat Islam, khususnya generasi muda, untuk tidak mengadakan, memperinci, bahkan mengistimewakannya. Dari kajian sejarah diatas terbukti bahwa Hari Valentine bukanlah sekedar budaya Barat tetapi budaya yang berhubungan dengan agama Romawi kuno, yang masih menyembah dewa – dewa dan juga berhubungan dengan agama Nasrani. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa seorang muslim tidak boleh sama sekali ikut-ikutan dalam merayakan hari Valentine tersebut, karena dengan ikut merayakannya berarti juga merayakan hari kebesaran agama yang lain.


Umat Islam harus sadar bahwa orang kafir akan berusaha untuk merusak agama kita dengan berbagai cara, termasuk dengan memasukkan budaya mereka dalam kehidupan muslim. Inilah yang dijelaskan dalam kandungan Surah Al Baqarah ayat 120 yang artinya : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (cara hidup) mereka. katakanlah ; sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.



Dalam surat itu Allah ingin menyampaikan pesan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah berhenti dan tidak pernah lelah melakukan usaha mereka. Dengan cara halus ataupun menghalalkan segala cara. Salah satunya dengan menggerogoti mental dan akidah pemuda-pemuda Islam. Jika pemuda Islam yang di masa depan diharapkan menjadi pembela dan pembawa panji kebesaran Islam sudah porak poranda, tinggal menunggu waktunya saja untuk menghancurkan.



Dalam firmannya yang lain Allah juga memperingatkan, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahui tentang hal itu. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Israa’:36). Dari ayat ini umat Islam tidak boleh mengikuti sesuatu tanpa menegtahui asal-asul sesuatu tersebut. Sejarah menyatakan bahwa \Valentine itu adalah budaya romawi kuno dan agama Kristen, oleh sebab mengikuti perayaan tersebut, membesarkan hari tersebut sama dengan membesarkan hari agama lain. Tapi sangat disyangkan pada saat sekarang ini, banyak generasi muslim, malahan ada partai politik islam yang menjadikan perayaan hari Valentine menjadi kesempatan menarik pemilih muda dengan ikut-ikut merayakannya.



Dalam sebuah sabdanya Rosulullah berpesan, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia menjadi bagian atau menjadi satu dengan kaum yang ditirunya.” (HR. Ibnu Hambal dan Abi Daud). Hadis ini menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh meniru apapun kebiasaan dari suatu kaum yang lain, sebab dengan meniru perayaan tersebut, maka \nabi Muhammad meyatakan bahwa umat Islam sudah menjadi bagian kaum yang lain. Umat Islam tanpa sadar pada saat sekarng ini sudah terlalu banyak meniru perayaan dari suatu kaum, baik dalam pakaian, tanpa menghiraukan apakah pakaian itu membuka aurat tetapi karena model, fasion, maka pakaian itu dibeli, sebab ingin sama dengan orang barat. Dalam budaya seni juga selalu ikut dengan seni barat, tanpa melihat apakah seni musik, seni budaya, itu untuk memuji Allah atau untuk mengutarakan nafsu birahi dan lain sebagainya.



Dalam Islam, sikap kasih sayang merupakan sikap yang wajib dimiliki oleh setiap muslim dimanapun dia berada, dan simbol kasih sayang seorang muslim hanya rasulullah saw.. Dalam sirah kehidupan rasul, terbukti bahwa Rasulullah adalah contoh teladan bagi kasih sayang, bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada hewan dan makhluk lainnya. Malahan sikap kasih sayang rasulullah telah mendapat pujian dari Allah dengan firmanNya : ” Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu , sangat menginginkan keimanan bagimu, amat belas kasihan lagi penyaynag terhadap sekalian orang yang beriman ” ( QS. At Taubah : 128 ). Dari ayat ini terlihat bahwa bagaimana Rasulullah sangat memperhatikan segala sesuatu yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia bukan saja dari penderitaan di dunia, juga daripada penderitaan di akhirat. Oleh sebab itu beliau tanpa pernah jemu mengajak umat manusia dalam keimanan sebab dengan cara itulah manusia selamat dari segala bentuk kesusahan dunia dan akhirat.



Rasulullah sangat menganjurkan kasih sayang kepada seapa saja, sehingga beliau bersabda : ” Tidaklah kamu termasuk orang beriman, sebelum kamu saling kasih-mnengasihi ”. Sahabat bertanya : ” Ya rasulullah, kami telah berbuat saling sayang-menyayangi sesama kami ”. Rasulullah saw menjawab : ” Kasih sayang yang aku maksudkan bukanlah kasih sayang hanya sebatas kamu dengan kelompokmu saja, atau sesama kamu saja, tetapi kasih sayang yang kamu berikat kepada semua orang ” ( Hadis riwayat Thabrani ). Hadis ini menyuruh umat Islam untuk saling kasih mengasihi bukan hanya sesama kelompok atau golongan, sebagaimana banyak terjadi sekarang ini, tetapi untuk sekalian manusia semuanya, dan itu merupakan bukti keimanan seorang muslim.



Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda : ” Demi Dzat yang diriku berada ditanganNya, sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan kasih sayangNya kecuali kepada orang yang berhati belas kasihan kepada orang lain ”. Sahabat berkata : ” Ya rasulullah, kami sudah saling menyayangi sesama kami ”. Rasulullah menjawab : ” Bukanlah belas kasihan itu hanya sebatas antara diri kamu dengan isteri dan kelompok kamu saja, tetapi kasih sayang yang diperintahkan itu adalah kasih sayang kepada seluruh kaum muslimin. ” ( hadis riwayat Tirmidzi ). Dari hadis ini terlihat bahwa kasih sayang Allah kepada umat Islam akan datang jika umat Islam saling kasih mengasihi sesama umat Islam seluruhnya, bukan hanya sekadar satu kumpulan, satu golongan, satu mazhab, satu partai, dan lain sebaginya sebagaimana yang terjadi selama ini. Malahan dari hadis ini dapat dipahami, bahwa rahmat dan kasih sayang Al;lah terhalang kepada umat islam hari ini akibat akibat sikap umat Islam yang hanya mengasihi kawan sekelompok, satu usrah, satu partai saja, tanpa mengasihi umat Islam di kelompok yang lain atau golongan yang lain. Semoga di masa mendatang umat islam tanpa memperlihtakan sikap kasih sayang kepada semua orang tanpa harus mengikuti Hari Kasih Sayang Gaya Valentine. Mari tunjukkan umat Islam adalah umat kasih sayang dengan mencontoh kasih sayang rasulullah saw . Fa’tabiru ya ulil Albab. ( M.Arifin ismail ).

Wednesday, February 2, 2011

SILATURAHMI UMAT AGAMA DAN PLURALISME AGAMA

Menurut situs voice of islam (01/2/2011) menyatakan bahwa : “ Para tokoh lintas agama akan menggunakan isu toleransi umat beragama untuk menggelar pesta silaturrahim antaragama. Pekan ini, Ahad (6/2/2011), Inter Religious Council Indonesia (IRC) yang dimotori oleh para tokoh lintas agama akan menggelar Pekan Kerukunan antar Umat Beragama se-Dunia (World Interfaith Harmony Week) di Istora Senayan, Jakarta, sejak pukul 09.30- 12.00 WIB. Mereka menargetkan agar perayaan pluralisme ini akan dihadiri oleh sepuluh ribu umat dari berbagai agama “. Dalam jumpa pers, Senin (31/12011) pagi, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin didampingi oleh sejumlah tokoh lintas agama, di antaranya: Pdt. Andreas Yewangoe (Ketua Umum PGI), Mgr. Martinus Situmorang (Ketua KWI), Romo Beny Susetyo (Ketua Umum PGI), S Udayana (Hindu), Rusli (Walubi), dan Uung Sendana (Matakin). Dikatakan oleh Andreas Yewangoe, beberapa tahun terakhir ini, ada kecenderungan peningkatan kekerasan atas nama agama di beberapa tempat. Dengan latar belakang itu, para tokoh lintas agama merasa perlu mengadakan perayaan kerukunan antar umat beragama sedunia. ”Sesungguhnya agama bisa memainkan peran yang positif, juga sekaligus negatif, terlebih jika agama disikapi secara keliru. Kami berharap, kerukunan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas atau elit politik, tapi juga di level bawah,” kata Andreas.
Perayaan yang diadakan oleh IRC Bhineka Tunggal Ika ini mendapat dukungan oleh CDCC (Center for Dialogue and Cooperation Among Civilization), PP Muhammadiyah, ORBIT, PGI (Persatuan Gereja Indonesia), KWI (Konferensi Wali Gereja), MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), WALUBI (Wakil Umat Budha Indonesia) dan Majelis TAO Indonesia. Rencananya, kegiatan tersebut akan menyampaikan pesan kerukunan dari tokoh agama, Sekjen Religious For Peace New York dan dari tokoh nasional. Sejumlah selebritis ibukota seperti Rossa, Edo Kondolegit, Delon, Iis Dahlia, Cici Paramida, Kristina, Debu, Trio Fatimah diiringi oleh Orkestra Dwi Darmawan akan meramaikan perayaan ini. ”Kegiatan ini juga mempertunjukkan budaya Barongsai, bela diri Tapak Suci, Wushu, Nichiren Shosu, dan marching band,” tandas Din. Dikatakan Din Syamsuddin, perayaan yang bertema ”Harmony in Diversity World Interfaith Harmony Week” ini merupakan program Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diselenggarakan setiap minggu pertama bulan Februari. Kegiatan tahunan PBB ini dimaksudkan untuk mengakhiri perjalanan panjang pertikaian antar agama dan kekerasan, sehingga umat beragama dapat hidup layak dan damai tanpa perang maupun kekerasan. Demikian berita yang kutip oleh situs tersebut.
Jika perayaan ini hanya untuk menekankan pada silaturahmi antar umat agama, toleransi beragama, membentuk masyarakat yang harmonis dan damai maka hal tersebut adalah suatu yang baik. Tetapi perkara ini jangan sampai kepada mencampur adukkan antara ritual keagamaan antar agama, seperti doa bersama, ibadah bersama, dan lain sebagainya, apalagi sampai kepada pemahaman kesamaan agama yang merupakan inti daripada paham Pluralisme. Karena menurut Fatwa MUI Nomor 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama menyatakan bahwa :
Pluralisme agama yang dimaksud dalam fatwa adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga. Oleh sebab itu MUI memutuskan hukum bahwa :
1. Pluralism, Sekualarisme dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama islam.
2. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme Agama.
3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap ekseklusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.
4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.
Kekerasan dan peperangan di dunia sebenarnya bukan karena agama, karena tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan perang. Jika terjadi perang dalam sejarah agama, bukan karena agama tersebut mengajarkan perang tetapi karena sikap mempertahankan diri daripada serangan lawan. Jangankan mempertahankan agama, jika seseorang diserang oleh orang lain secara individu mka dia wajib mempertahankan dirinya. Oleh sebab itu perdamaian masyarakat tidak memerlukan paham Pluralisme agama, tetapi yang diperlukan bahwa setiap pemeluk agama menjalankan agamanya masing-masing dengan penuh penghatayatan. Oleh sebab itu tidak ada alasan jika paham Pluralisme dikembangkan untuk mendamaikan dunia, sebab penyatuan agama bukan merupakan solusi, tetapi akan menjadi bencana bagi agama itu sendiri. Silaturahmi antar umat beragama tidak boleh menjadi ajang penyebaran paham pluralism agama, tetapi merupakan pertemuan silaturahmi tanpa diiringi dengan upacara keagamaan secara bersama seperti doa bersama, dan lain sebagainya.
Untuk mewujudkan masyarakat damai, diperlukan adalah pendidikan akhlak dan sikap toleransi antar umat beragama, bukan merubah dan menyatukan ritual dan keyakinan. Pada waktu orang kafir Makah datang kepada Rasululullah mengajak rasul untuk menyembah Tuhan mereka selama setahun, dan kemudian nanti mereka akan menyembah Allah selama setahun pula, maka Allah segera menurunkan surah al Kafirun : “ Katakan hai Muhammad : “ Hai orang kafir, Aku tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak perlu menyembah apa yang aku sembah. Aku tidak pernah menyembah apa yang telah kamu sembah, dan kamu juga tidak pernah menyembah apa yang telah aku sembah. Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku “. ( Qs. AlKafirun : 1-6 ).
Ayat “ aku tidak menyembah apa yang kalian sembah dan kalian tidak perlu menyembah apa yang aku sembah “ merupakan sikap bahwa umat Islam tidak boleh mencampuradukkan doa, ibadah, ritual dengan umat yang lain. Tetapi sikap tegas tersebut diikuti dengan sikap menghormati agama yang lain “ bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku “. Penghormatan kepada agama yang lain bukan berarti pengakuan agama yang lain. Banyak orang salah memahami ayat ini dengan mengatakan bahwa al Quran saja mengakui agama yang lain. Dalam ayat ini hanya penghormatan umat agama terhadap agama lain, tetapi bukan pengakuan kebenaran agama yang lain, sebab bagi umat islam agama yang benar adalah Islam, sebab dalam al Quran dinyatakan bahwa “ Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam “. ( Qs. Ali Imran :19 ). Kebenaran agama bagi umat islam hanya ada pada Islam. Walaupun umat agama lain meyakini kebenaran agama pada agamanya masing-masing, tetapi umat Islam tidak boleh meyakini kebenaran agama lain, sebab jika dia meyakini kebenaran ada pada semua agama, berarti dia telah ragu dengan kebenaran agamanya sendiri. Oleh sebab itu keyakinan akan kebenaran agama Islam harus diikuti dengan pengakuan bahwa agama yang lain tidak diterima disisi Allah sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Siapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak diterima agama itu daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi “ ( Qs. Ali Imran : 85 ) Pengakuan kesalahan agama lain dari umat Islam bukan berarti membolehjkan umat Islam melakukan kekerasan kepada mereka. Islam melarang melakukan kekerasan kepada umat yang lain, walaupun mereka itu adalah berbeda agama dan keyakinan. Tetapi sikap menghormati keyakinan orang lain jangan sampai meyakini kebenaran agama lain. Disinilah perbedaan antara sikap menghargai banyaknya agama (pluralitas agama) dan mengakui kebenaran agaam-agama (paham pluralism agama) dan menggabungkan ritual,hokum dan ajaran agama-agama (sikap pluralism agama). Islam hanya mengakui keberadaan (bukan kebenaran) agama-agama, dan mengharamkan umatnya untuk meyakini kebenaran lain dan mencampur adukkan ritualnya dengan ritual agama yang lain. Semoga kita tetap waspada dengan segala agenda yang akan merusak keyakinan beragama. Fa’tabiru ya ulil albab.( Muhammad Arifin ismail /Buletin ISTAID , 5 Februaru 2011 )

Monday, January 31, 2011

DUSTA DAN INGKAR JANJI

“ Hai orang yang beriman , tepatilah semua janji “ ( QS. AlMaidah: 1 )

Abdullah bin Khansa berkata : “ Aku telah mengadakan transaksi jual beli dengan Rasulullah sebelum beliau menjadi rasul. Pada suatu hari, kami berjual beli, dan ada sebagaian barang miliknya yang tertinggal. Maka aku berjanji dengan Muhammad bahwa aku akan datang sisa barang tersebut kepadanya ke suatu tempat yang kami sepakati. Aku lupa dengan janji pertemuan tersebut, dan setelah tiga hari, baru ku ingat janji tersebut. Aku segera datang ke tempat pertemuan yang kami sepakati, dan kulihat Rasulullah masih berada di tempat yang kami berjanji tersebut. Sebaik aku sampai ke tempat tersebut, Rasulullah hanya berkata : Wahai anak muda, engkau telah menyusahkan aku, semenjak tiga hari yang lalu “. Begitulah teguhnya Nabi Muhammad memegang janji, sehingga beliau menungu selama tiga hari, padahal kawan perniagaan telah terlupa dengan janji pertemuan tersebut.
Pada suatu hari yang lain, Rasulullah menjanjikan seorang pembantu kepada AbulHaitam bin Tayihan. Tak lama kemudian nabi mendapat tiga tawanan perang, kemudian nabi membagidua tawanan perang kepada sahabat-sahabat yang ikut perang, tinggallah satu orang tawanan. Tak lama kemudian datang Fatimah meminta seorang pembantu dari tawanan perang tersebut sambil berkata : “ Tidakkah ayah melihat bekas menggiling bumbu makanan di tangan Fatimah ini ? “. Rasulullah saw menjawab : “ Bagaimana dengan janjiku kepada Abu Haitam ? “. Rasulullah lebih mendahulukan tawanan perang itu diberikan kepada Abul haitam daripada anaknya sendiri Fatimah, sebab dia telah berjanji terlebih dahulu dengan Abul Haitam.
Shabat nabi, Sayidina Umar bin Khatab sangat takut jika dia tidak menepati janji, sehingga sewaktu beliau hamper wafat, dia berkata : “ Sesungguhnya seorang laki-laki dari suku Quraisy telah meminang anak perempuanku, dan aku telah berjanji kepadanya akan menikahkannya dengan putriku. Aku khawatir, jika ajalku sampai, aku belum menepati janji tersebut, dan aku tidak ingin mati dalam keadaan sepertiga munafik. Maka saksikanlah olehmu seklian, bahwa aku telah menikahkan anak perempuanku dengan laki-laki itu “
Menepati janji dan berkata benar merupakan sikap orang beriman, sedangkan berkata bohong dan mengingkari janji merupakan sifat orang munafik. Dalam hadis disebutkan : “ Tiga perkara, barangsiapa ada padanya tiga perkara tersebut, maka dia itu orang munafik walaupun dia berpuasa, mengerjakan shalat dan mengaku muslim. Tiga perkara itu adalah : apabila berkata , maka dia berdusta, apabila berjanji, maka dia mengingkari, dan apabila diberi amanah, maka dia berkhianat “. ( riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ). Dalam hadis yang lain disebutkan : “ Ada empat perkara barangsiapa ada padanya sifat tersebut, maka dia adalah munafik. Barangsiapa yang ada satu sifat saja dari empat sifat tersebut, maka dia sudah diangap orang munafik, sampai dia meninggalkan sifat tersebut. Sifat tersebut adalah : apabila berbicara maka ia berdusta, apabila berjanji maka dia mengingkari janji, apabila membuat perjanjian, maka dia membelok, dan apabila bermusuhan maka dia mendzalimi orang yang memusuhinya tersebut “ ( riwayat Bukhari, Muslim dari Abdullah bin Amr ).

Dalam islam, mengingkari janji tersebut juga termasuk bagian daripada dusta dan bohong, yang merupakan dosa besar. Dalam sebuah hadis Rasululah saw bersabda : “ Tidakkah aku beritahu kamu sekalian apa itu dosa-dosa besar ? Yaitu syirik kepada Allah dan durhaka kepada orangtua “. Kemudian Rasulullah duduk, seraya berkata : “ juga berkata dusta “ ( riwayat Bukhari Muslim dari Abi barkat ).
Oleh sebab itu menurut Aisyah : “ Tidak ada suatu sifat yang sangat berat dirasakan nabi jika sifat itu ada pada sahabatnya daripada sifat dusta. Jika Rasulullah melihat sifat tersebut ada pada sahabatnya, maka tidak hilang perkara itu dari dadanya sebelum beliau mengetahui benar-benar bahwa sahabat tersebut telah berubah sikap, tidak berdusta lagi dan bertobat kepada Allah ( riwayat Ahmad ).
Abdullah bi Umar mengatakan : Rasulullah datang ke rumah kami, dan saya pada waktu itu masih kanak-kanak. Saya sedang bermain-main, dan tak lama kemudian ibuku berkata : “ Hai Abdullah, mari kesini, aku akan memberikan kepadamu sesuatu “. Rasulullah bertanya : “ Apa yang akan engkau berikan kepadanya ? “. Ibuku menjawab : “ Kurma “. Rasulullah kemudian berkata : “ Jika engkau tidak member apa yang engkau janjikan maka engkau telah berdusta “. ( riwayat Abu daud ).
Rasulullah mendengar pembicaraan seorang peniaga dengan pembeli yang akan membeli kambing. Si penjual berkata : “Demi Allah, aku tidak akan menjual kambing ini kecuali dengan harga sekian”. Si pembeli juga bersumpah : “ demi Allah aku tidak akan membeli kambing ini kecuali dengan harga sekian “. Ternyata tak lama kemudian, nabi melihat bahwa kambing tersebut sudah dibeli bukan dengan harga yang dinyatakan dalam sumpah keduanya. Rasulullah berkata : “ kalian berdua telah melakukan dosa melanggar sumpah, dan wajib bagi kalian berdua untuk membayar kifarat sumpah “. Sahabat yang medengar bertanya : Ya rasulullah, bukankah mereka telah melakukan jual beli ? rasulullah menjawab sahabat tersebut : Ya, benar, tetapi mereka telah melanggar sumpahnya masing-masing, mereka berkata dan mereka berdusta, maka mereka berdosa “. ( riwayat Ahmad ).
Seorang mukmin tidak boleh berdusta, sehingga pada suatu hari Abdullah bin Jarrad bertanya kepada Nabi : “ Ya Rasulullah, adakah seorang mukmin itu berzina ? Nabi menjawab : “ kadang-kadang ada “, kemudian Abdullah bin Jarrab bertanya lagi : “ Adakah orang mukmin itu berdusta ? nabi menjawab : Orang mukmin itu tidak berdusta “, kemduan nabi membacakan ayat 10 dari surah An nahl : “ Sesungguhnya orang yang melakukan pembohongan dan dusta adalah mereka yang tidak beriman kepada ayat-ayat Nya “. Sebab itu rasulullah mengajarkan umatnya untuk berdoa terhindar daripada dusta : “ Allahumma tahhir qalbi minan nifaq, wa farji minaz zina, wa lisani minal kadzib , Ya Allah, sucikanlah diriku daripada sifat munafik, sucikan kemaluanku daripada zina, dan sucikanlah lisanku daripada dusta “. ( riwayat Muslim dari abu Hurairah ).
Demikian juga seorang pemimpin harus berkata jujur, menepati janji, dan tidak boleh berdusta sebagaimana pesan nabi kepada Muaz sewaktu melantiknya menjadi gubernur yaman : “ Aku wasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, benar dalam kata-kata, tunaikan amanah, tetapi janji, berikan salam, dan rendahkan dirimu kepada orang lain “. ( riwayat Abu Nu’aim ). Demikian juga pesan Abubakar sewaktu dilantik menjadi Khalifah. Dalam pidato pelantikan Abubakar berkata : “ Pada tahun pertama hijrah, rasulullah berdiri di tengah-tengah kami, beliau menangis dan berkata : “ Haruslah kamu bersikap benar, sebab kebenaran itu bersama kebaikan, dan kedua-duanya itu di dlaam surga “. ( riwayat Ibnu Majah ). Dalam Al Quran dinyatakan bahwa perkatan benar itu dapat meneguhkan kedudukan seseorang : “ Allah meneguhkan kedudukan orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan di hari akhirat nanti “ ( QS.Ibrahim : 27 ). Oleh sebab itu Rasulullah bersabda : “ Ada empat perkara jika kamu lakukan maka tidak dapat mendatangkan melarat bagi dirimu yaitu : pembicaraan yang benar, memelihara amanah, baik tingkah laku, dan menjaga makanan ( daripada yang haram atau syubhat).
Dari keterangan diatas dapat dilihat bahwa sikap jujur, tidak berdusta, menepati janji, merupakan syarat utama dalam kehidupan masyarakat, baik dari seorang pemimpin, pejabat, pegawai, pedagang, sampai sikap dari seorang ibu dengan anaknya yang maish kecil. Selama sifat ini ada, maka masyarakat akan terpelihara dan mendapat kbaikan, tetapi sebaliknya selama sifat dusta terdapat dalam negara, dalam perniagaan, dalam pendidikan dan ilmu, dalam masyarakat, dalam media, dalam keluarga, maka kebaikan dalam masyarakat tidak tercapai, walaupun masyarakat tersbeut banyak shalat, banyak zikir, banyak umrah, masjid banyak dibangun, dan seremonial agama dilaksanakan. Fa’tabiru ya Ulil albab.

HADIAH UNTUK ORANGTUA YANG TELAH MENINGGAL

Dari Abu Hurairah , Rasulullah bersabda : Jika meninggal anak Adam, maka terputuslah amalnya ( amal orang yang meninggal ) kecuali tiga : Sedekah jariyah ( wakaf ) , ilmu yang bermanfat dan doa anak yang saleh “ ( hadis riwayat Muslim ).
Dari Abi Usaid Malik bin Rabi’ah berkata bahwa ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kabilah Bani Salamah berkata : “ Ya Rasulullah, adakah kebaikan yang dapat dilakukan kepada kedua orangtua saya yang telah meninggal dunia ? Rasul menjawab : Ada, yaitu engkau berdoa untuk keduanya, dan meminta ampunan atas dosa-dosanya, dan engkau menyelesaikan wasiat dan janji-janjinya / meneruskan amal kebaikannya, dan menghubungkan silatiurahim dengan saudara dan keluarganya, dan memuliakan kawan-kawannya “ ( Hadis diriwayatkan oleh Abu Daud , Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dalam sahihnya / Kitab Targhib dan tarhib,Ibnu Muzdir, jilid 3, hal. 294 ).

Dari Aisyah menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah bertanya : Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan dia tidak ada berwasiat apapun dan saya rasa kalau dia sempat berbicara dia akan bersedekah, apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya ? Nabi menjawab : Ya (bersedekahlah dan dia akan mendapat pahala ). Hadis sahih Bukhari dan Muslim dari Kitab Ruh ,Ibnu Qayim, hal. 163.

Ibnu Abbas menceritakan bahwa ibu dari sahabat Saad bin Ubadah meninggal dunia dan dia tidak ada di tempat kejadian pada waktu meninggal tersebut, maka segera dia menjumpai Rasulullah bertanya : Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia dan saya tidak sempat menyaksikannya, maka apakah berguna jika saya bersedekah untuknya ? Rasul menjawab : Ya. Sa’ad berkata : Aku bersaksi bahwa aku telah memberikan sedekah bangunan ini sedekah untuknya “. ( Bukhari )

Dari Usman bin Affan menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah setelah selesai menguburkan mayat, maka beliau bersabda : “ Mintalah ampunan untuk mayat ini, dan mintakanlah ketetapan bagi dirinya sebab dia sekarang sedang disoal / ditanya “. ( hadis riwayat Abu daud ).

Amr bin Ash berwasiat kepada kawan-kawannya : Jika nanti kamu ikut menguburkan diriku, maka berdirilah kamu di atas kuburanku selama orang menyembelih kambing dan memotong-motong dagingnya “ ( hadis riwayat muslim ). Imam Syafii memberikan komentar selanjutnya : “ Diharapkan mereka membaca sebagian dari ayat-ayat al Quran, dan kalau dapat mengkhatamkan al Quran itu lebih baik “. ( lihat Kitab Riyadhus salihin, Imam Nawawi, bab doa kepada mayat, hal. 508 ).

Dari keterangan diatas dalam masyarakat terdapat dua pendapat. Pertama mengatakan bahwa yang sampai kepada si mati hanya doa anak yang saleh, sebagaimana disebutkan dalam hadis pertama. Pendapat kedua menyatakan bahwa sedekah diniatkan kepada orang yang mati juga sampai berdasarkan hadis yang sahih. Jika sedekah sampai, maka pahala bacaan dan doa juga sampai sebab diqiyaskan kepada sedekah yang sampai. Mari kita sama-sama menghormati kedua pendapat tersebut, sebab kedua pendapat itu memiliki dalil yang sahih. Apalagi ini perkara sunat bukan wajib, sedang bertengkar itu adalah haram. Jangan sampai hal yang sunat membuat kita berdosa karena bertengkar dalam perbedaan pendapat. Fastabiqul khairat, mariberlomba untuk kebaikan. Wallahu A’lam.

Sunday, January 30, 2011

IKHLAS : RUH AMAL PERBUATAN

ALHIKAM 10 : IKHLAS ADALAH ROH AMAL PERBUATAN

AMAL PERBUATAN ITU ADALAH KERANGKA SEDANGKAN ROHNYA TERDAPAT PADA KEIKHLASAN YANG TERSEMBUNYI DALAM AMALAN TERSEBUT.( IBNU ATHAILLAH SAKANDARY )

PENJELASAN :
Setiap perbuatan manusia terdapat sesuatu yang dzahir dari perbuatan tersebut, yaitu yang dilakukan oleh anggota badan dan sesuatu yang dalam batin yaitu niat perbuatan yang tersembunyi di dalam hati sanubari si pembuat amal itu sendiri. Nilai suatu perbuatan akan ditentukan oleh kualitas perbuatan dan niat perbuatan, malahan niat perbuatan merupakan landasan dari seluruh perbuatan. Allah Taala hanya menerima perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas. Ikhlas bukan berarti kosong, walaupun makna asal kata ikhlas yaitu “kha-la-sa” adalah kosong. Secara definisi ikhlas adalah sesuatu perbuatan yang dilakukan hanya karena Allah Taala. Hal ini dinyatakan dalam kitab suci Al Quran :
QS. Bayinah 5 : Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya untuk menyembah Allah dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

QS. AlKahfi : 110. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
QS.Zumar : 3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).

QS. An Nisa : 146. kecuali orang-orang yang taubat dan Mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

QS. AlAn’am : 162-163: Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".

Ikhlas adalah melakukan sesuatu perbuatan hanya karena Allah, karena perintah Allah “lillah “. Itulah sbabnya dalam setiap niat terdapat kalimat “lillahi Taala “. Keikhlasan niat karena Allah itu merupakan syarat diterimanya amal perbuatan, sebagaimana dinyatakan dalam hadis nabi : “ Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu dilakukan dengan niat. Dan setiap seuatu itu mendapatkan balasan sesuai dengan niat amal perbuatannya. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan RasulNya maka dia akan mendapatkan Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang berhijrah karena mencari dunia atau mencari perempuan yang akan dinikahinya maka dia akan mendapatkan apa yang diniatkannya ”. ( riwayat Bukhari,Muslim,Abu Daud,Tirmidzi,Nasai ). Dari hadis ini ada tiga kategori tujuan amal yaitu Allah dan rasulNya, dunia ( lambang dari materi ) dan perempuan ( lambang dari hawa nafsu ). Setiap orang dalam berbuat tidak terlepas dari niat karena Allah, nitat karena materi atau niat karena mencari kepuasan hawa nafsu. Dan Allah Taala hanya menerima sesuatu perbuatan yang hanya diniatkan karena Allah, dan untuk Allah. Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah dinyatakan : ” Allah akan berkata nanti pada hari kiamat kepada orang yang syirik dalam beramal kepadaNya : Ambillah amal perbuatan itu untuk sesuatu yang engkau tujukan dan niatkan ” ( Hadis riwayat Thabrani dan Hakim ). Dalam hadis dari Abu Hurairah dinyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda : ” Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk kamu dan juga kepada tidak melihat kepada badan kamu tetapi Dia hanya melihat kepada hati dan perbuatan kamu ”. Hal ini sesaui dengan ayat Al Quran :

QS. Ali Imran : 29. Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui"

QS. Al hajj : 37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu itulah yang dapat mencapainya.

Abu Hurairah mendengar nabi bersabda : ” Nanti manusia yang pertama disoal di hari kiamat adalah orang yang berperang di jalan Allah, sewaktu ditanya Allah : Apa yang telah engkau lakukan dalam hidupmu ? Orang itumenjawab : Saya telah berperang di jalanMu sehingga aku mati syahid ”. Allah menjawab : ” engkau telah berdusta, sebab engkau berperang bukan karena Aku, tetapi agar engkau disebut sebagai pahlawan, dan engkau telah mendapatkan sebutan tersebut, maka neraka tempatmu ”. Manusia kedua orang yang mengajar manusia, ditanya Allah : Apa yang engkau lakukan dalam hidupmu ? Orang itu menjawab : Saya telah mengajar ilmu dan al Quran.” Allah menjawab : “ engkau berdusta, sebab engkau mengajarkan ilmu bukan karena Aku, tetapi agar engkau dianggap sebagai orang alim, dan engkau mengajarkan Quran agar engkau dianggap Qari, dan engkau telah mendapatkan panggilan tersebut, maka ekarang neraka tempatmu “. Manusia ketiga adalah orangkaya yang banyak bersedekah, Allah bertanya : “ Apa yang telah engkau lakukan dalam hidupmu?”.Orang itu menjawab : “ aku telah membelanjakan hartaku , bersedekah siang dan malam “. Allah menjawab : engkau melakukan itu bukan karena Aku tetapi agar engkau dipanggil sebagai seorang yang dermawan, dan engkau telah mendapatkan itu, maka neraka tempatmu “. ( Hadis Muslim /1905). Mengapa Allah tidak menerima amal perbuatan ketiga orang tersebut ? Karena mereka melakukan untuk dipanggil sebagai syahid,alim dan dermawan adalah riya’, dan riya’ itu adalah syirik, dalam arti menduakan niat dalam suatu perbuatan. Orang yang ikhlas dalam al Quran disebut dengan alabrar yaitu mereka yang berkata:


QS. Al Insan : 9. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih ”.

Sebab itu ulama mendefinisikan ikhlas yaitu (1) melakukan perbuatan hanya karena Allah (2) Melupakan pandangan makhluk dan thanya mengharapkan pandangan Allah. Oleh sebab itu Ibnu Qayim menyatakan : ” Barangsiapa yang mengharapkan ucapan ikhlas dari perbuatannya maka dia itu belum mencapai tingkatan ikhlas ”. Sehingga seorang ulama, Fudail berkata : Meninggalkan sesuatu perbuatan karena manusia adalah riya’ dan melakukan perbuatan karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah engkau selamat dari keduanya. Dengan ikhlas dalam beramal maka kita terhindar dari mereka yang mendapat kerugian beramal sebagaimana dinyatakan dalam al uran :

QS. AlKahfi 103-104 : Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya ”. Wallahu A’lam.

( Muhammad Arifin Ismail/ Pengajian Ummahatul Muslimah, Kuala Lumpur, Jumat 28 Januari 2011)

Tuesday, January 25, 2011

TANTANGAN UMAT ISLAM NUSANTARA

a. Sejarah awal perkembangan Islam

Pada tahun 775 Masehi, seratus orang pedagang dari bani khalifah yang bermukim di daerah Timur Tengah ( sekitar kawasan Bahrain sekarng ) berlabuh di pesisir pantai sebelah barat pulau sumatera. Sebagai pedagang yang datang dari jauh, mereka dengan cepat dikenal oleh penduduk tempatan yang masih beragama hindu. Disamping sebagai pedagang, mereka mempunyai akhlak dan sikap yang terhormat, sehingga membuat penduduk tempatan bersimpati dengan mereka. Perbedaan agama antara mereka dengan penduduk tidak menjadi penghalang bagi mereka dalam bergaul, sebab mereka selalu menampakkan akhlak yang mulia, selalu ramah dengan siapa saja, disamping selalu membela yang lemah dan menolong orang yang susah. Sikap mereka ini membuat kedatangan mereka diterima oleh para penbduduk, dan akhirnya mereka menetap dan bermustautin di kawasan tersebut.

Sambil berdagang, dan bergaul mereka menerangkan kepada penduduk tentang ajaran agama yang mereka anut selama ini. Disebabkan sikap mereka yang begitu menarik simpati, sehingga dalam masa yang singkat banyak penduduk tempatan yang mengikuti ajaran agama mereka, bertauhid kepada Allah. Disamping sebagai pedagang, mereka juga melakukan dakwah ajaran tauhid kepada masyarakat, sehingga dalam masa yang singkat banyak penduduk tempatan yang mengikuti ajaran agama mereka. Sebagai pedagang yang sukses, mereka mendapat kedudukan yang terhormat di kalangan istana, dan kesempatan itu dipergunakan mereka untuk mengajak keluarga istana memahami ajaran agama tauhid yang mereka bawa. Diantara mereka ada yang beruntung dapat mempersunting putri raja, sehingga dalam masa yang singkat, keluarga raja telah memeluk ajaran agama Islam, dan pada tahun 825 berdirilah kerajaan islam pertama di Perlak.

Dengan berdirinya kerajaan islam tersebut, maka pengaruh hindu mulai menipis di seluruh nusantara, dan dengan tersebarnya islam di seluruh pelosok nusantara, maka berdirilah kerajaan islam di tempat dan kawasan yang lain seperti kerajaan Samudera Pasai di Aceh, kerajaan Siak di Riau, kerajaan pagaruyung di sumatera barat, kerajaan Malaka di Semenajung Malaya, kerajaan Tumasek ( sekarang bernama Singapore ), kerajaan Demak dan Mataram di pulau Jawa, kerajaan Kutai di kalimantan, kerajaan Ternate dan Tidore di pulau sulawesi, dan kerajaan islam lain yang terus bersambung dari patani di daerah selatan Thailand sampai ke Mindanau di Philipina. Kerajaan islam yang bertebaran di kepulauan nusantara ini bagaikan mutiara di tengah lautan, dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia Islam disebabkan hasil rempah-rempah yang tersebar di seluruh dunia. Itulah sebabnya dalam sejarah islam, kerajaan Islam di nusantara termasuk dari rantai kekhalifahan islam yaitu kerajaan Islam baghdad, kerajaan Islam di Andalusia , kerajaan islam di India, kerajaan islam di Turki, dan kerajaan islam di Nusantara. Secara ekonomi, kerajaan islam di Nusantara menjadi kerajaan yang maju disebabkan perdagangan rempah-rempah ke seluruh dunia. Secara politik, umat islam Nusantara ttelah berjaya menghancurkan kerajaan hindu yang berkuasa sebelumnya. Secara kultural, Islam telah berhasil mengislamisasikan budaya dan adat yang sebe;lumnya berakar pada agama hindu. Secara intelektual , muslim nusantara berhasil melahirkan ulama dan cendekiawan muslim berkaliber dunia seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin ar Raniri, Abdurrauf Singkel, Nawawi Al bantany, Daud al Fatani, Abdul Khatib al Minangkawbawi dan lain sebagainya yang melahirkan karya tulis yang berkualitas tinggi. Oleh sebab dapat dikatakan bahwa sejak dari abad ketujuh sampai abad ketiga belas, umat islam nusantara merupakan umat islam yang berkualitas dalam segala bidang dan merupakan rantai dari kejayaan mumat Islam dunia.

b. Kedatangan Penjajahan di bumi nusantara

Sejarah telah membuktikan bahwa pada abad pertengahan yaitu sekitar abad ke tujuh sampai abad ke ketiga belas, masyarakat Islam merupakan masyarakat yang unggul dalam segala bidang, baik dalam kebudayaan, ekonomi, teknologi dan ilmu pengetahuan. Tetapi setelah keruntuhan kekhalifahan Islam di Spanyol ( Andalusia ) pada tahun 1492, maka muncul motivasi dan tekad masyarakat Barat untuk menundukkan dan menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam yang lain yang tersebar dari ujung Afrika sampai di ujung Asia. Untuk merealisasi ide tersebut dipersiapkanlah armada eksipidisi untuk menjelajah dan menaklukkan seluruh kerajaan Islam. Misi penjelajahan tersebut dilaksanakan dibawah pimpinan Christoper Columbus ( 1492 ) sehingga ekspidisi tersebut sampai ke benua Amerika. Misi tersebut kemudian diikuti oleh Vasco da Gama ( 1498 ) menjelajah sampai ke Afrika Selatan dan India; dan kemudian pada tahun 1519 misi tersebut dilanjutkan oleh Ferdinand Magellan.

Tujuan utama dari ekspidisi tersebut adalah menghancurkan kekuatan ummat Islam terutama kekuatan jaringan ekonomi Islam yang terbentang dari Timur Tengah, Goa di Benua India dan sampai ke Maluku di Asia Tenggara. Selama ini seluruh jaringan dan pusat-pusat kekuatan ekonomi tersebut dikuasai oleh pedagang-pedagang muslim, maka dengan eksipidisi mereka berharap dapat menaklukkan jaringan diatas. Di samping itu mereka juga akan menaklukkan kekuatan politik masyarakat Islam, ini terbukti dengan permintaan Alfonso de Albuquerque kepada Raja Portugis, King Emanuel I agar kapal-kapal dagang tersebut juga dibekali dengan alat teknologi persenjataan, sehingga memudahkan mereka untuk menghancurkan kota-kota yang akan mereka kunjungi.

Pada tahun 1502 Vasco da Gama mendarat dan menguasai India dengan cara menyerang dan mengebom kota Calcutta yang pada sat itu dikuasai oleh pedagang Muslim India. Berita penyerangan dan penaklukan Calcutta tersebut diterima gembira oleh King Emanuel I dan segera mengirimkan ekspidisi yang kedua pada tahun 1505 di bawah pimpinan Almeida. Disebabkan oleh usaha pengiriman kapal ekspidisi tersebut, King Emanuel I diberi gelar kehormatan oleh Paus di Vatikan sebagai “ Raja Penakluk Ethiopia, Arab, Parsi dan India “.

Pada tahun 1510 kapal Portugis yang dipimpin oleh Alberqueque menguasai dan menaklukkan kota Goa di India. Kemudian selangkah demi selangkah tanah India dikuasai mereka dengan cara membuat pertentangan-pertentangan antara kerajaan Islam dengan kerajaan hindu seperti antara kerajaan Islam di Bijabur dan kerajaan hindu di Vijayanagar. Dengan politik pecah belah tersebut, mereka akhirnya dengan mudah dapat menguasasi keadaan. Alberquerque setelah penaklukan tersebut menulis surat kepada King Emanuel dan menyatakan bahwa “ kami telah menghancurkan kekuatan Islam dan menyerang setiap muslim yang kami jumpai “.

Setelah itu pemerintahan portugis di Lisbon segera mengadakan riset dan kajian tentang situasi ekonomi dan politik kawasan sekitar Lautan India dan berusaha untuk mengontrol setiap jaringan perdagangan dari Asia sampai ke Eropa. Berdasarkan hasil riset tersebut akhirnya, pada tahun 1510 Portugal menyimpulkan bahwa Aden, Ormuz dan Malaka adalah pusat jaringan perdagangan yang harus dikuasai; dan merupakan tiga pintu utama jaringan ekonomi dunia. Oleh karena itu, untuk menguasai jaringan ekonimi dunia, pada tahun 1511 pemerintahan Purtugal mengirim Alberquerque untuk memimpin armada ekspidisi dengan sembilan belas kapal menuju kerajaan Melaka di kawasan Asia Tenggara.

Pada tanggal 25 Juli 1511 armada kapal Portugis tersebut berlabuh di pelabuhan Melaka dengan menyerang serta menembaki kapal-kapal dagang muslim yang sedang berlabuh disana; sedangkan kapal-kapal dagang China dan Hindu dibiarkan saja. Dalam waktu sembilan bulan akhirnya Makala dapat dikuasai oleh Portugis . Dalam usaha penaklukan Melaka tersebut Alberquerque berkata kepada seluruh anggota eksipidisinya : “ Mari kita hancurkan orang Islam . Jika kita dapat menaklukkan urat nadi perdagangan di Malaka ini maka kita dapat mematahkan jaringan dagang bangsa Arab baik di Kairo dan Mekkah; sehingga dalam waktu singkat pedagang mereka terpaksa harus membeli segala komoditi dagang dari Portugal.” Dan selepas penaklukan tersebut, Alburquerque segera mendirikan benteng dan membangun gereja di Malaka. Disini terlihat bahwa kedatangan mereka adalah untuk melakukan penjajahan ekonomi, penjajahan militer dan juga penyebaran agama mereka.

Setelah menaklukkan Melaka, Alberquerque segera mengirim kapal armada untuk melanjutlkan penjajahan menaklukkan kepulauan Maluku di dekat pulau Sulawesi. Kepulauan Maluku pada saat itu diperintah oleh kesultaan Tidore dan Ternate dan merupakan daerah sumber penghasil rempah-rempah terbesar. Pada tahun 1513 dua skadron armada Portugis mendarat di kepulauan Maluku dan segera menjumpai Sultan Tidore dan Sultan Ternate. Pada tahun 1521 armada Victoria dibawah pimpinan Ferdinand Magellian juga mendarat di pulau Tidore dalam perjalanan kembali pulang ke Spanyol. Bagi Potrugis, dengan menguasasi perdagangan dari kepulauan Maluku dan Melaka berarti mereka telah dapat menguasasi pusat jaringan perdagangan dunia, Dengan kata lain Portugis telah menguasai ekonomi dan politik dunia dengan cara menaklukkan pusat kerajaan-kerajaan Islam yang pada waktu itu menguasasi jaringan perdagangan. Langkah Portugis ini segera memberikan motivasi kepada Inggeris, Perancis dan Belanda untuk ikut ambil bagian dalam penguasaan perdagangan dan politik kerajaan Islam dari Timur Tengah sampai ke Asia Tenggara.

Pada tahun 1596 Belanda memasuki pantai barat pulau Jawa dan segera mengambil alih kekuasaan Portugis dengan menguasai jalur perdagangan kerajaan Islam di Banten, dan kesultanaan Banda di Maluku. Sejak saat itu kerajaan Belanda secara berangsur-angsur menguasasi kepulauan Nusantara dan akhirnya mendirikan East India Company pada tahun 1602 dan akhirnya pada tahun 1619 kekuasaan penjajahan Belanda di kepulauan Nusantara tersebut dipusatkan dii Batavia ( sekarang bernama kota Jakarta ). Sejak itu sampai tiga setengah abad kemudian Belanda menjajah Indonesia dengan cara menghancurkan seluruh kekuatan kerajaan-kerajaan Islam sejak dari kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku sampai kerajaan Aceh di Sumatera.

Untuk melemahkan kekuatan Islam di Nusantara, Belanda menyebarkan agama Kristian, dan menghidupkan kembali budaya-budaya hindu, serta menghancurkan seluruh tatanan budaya dan peninggalan kesultanan Islam. Disamping itu mereka menghancurkan jaringan ekonomi masyarakat muslim bumiputera seperti Syarekat Dagang Islam dan memberikan kesempatan ekonomi kepada warga keturunan Cina. Dan untuk menghancurkan akidah ummat Islam di nusantara, maka penjajah Belanda memberi angin kepada gerakan komunis. Disamping itu mereka berusaha memecah kekuatan ummat Islam dengan memakai politik “ divide et empera “ dengan cara menimbulkan pertentangan-pertentangan antara kaum santri dan kaum abangan, kaum ulama dan kaum priyai, kaum pribumi dan non-pri dan lain sebagainya. Dari tulisan diatas kita dapat memahami bahwa maksud utama dari kedatangan penjajah Belanda bukanlah sekedar menjajah politik dan ekonomi tetapi di balik itu semua adalah untuk menghancurkan akidah dan syariat Islam dari bumi nusantara.


c. Kemerdekaan politik dan penjajahan pemikiran.

Selama tiga ratus lima puluh tahun, penjajah Belanda, Inggeris dan Portugis berusaha dengan segala kekuatan untuk menghancurkan Islam dari bumi nusantara ; tetapi dengan rahmat dan perlindungan Allah bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam tetap dapat memperjuangkan dan memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Augustus 1945, dan tak lama kemudian, umat islam di Semenanjung Malaya juga terlepas dari penjajahan British dengan kemerdekaan pada 31 Agustus .

Walaupun penjajah telah tidak dapat menjajah umat islam secara politik, tetapi mereka telah merobah cara berpikir dan cara hidup umat islam melayu, sehingga walaupun telah mendapat kemerdekaan politik, tetapi pengaruh penjajah masih sangat berpengaruh baik dalam undang-undang, ekonomi, pendidikan, budaya, dan militer. Ada beberapa pengaruh penjajah dalam kehidupan umat islam di bumi nusantara.

1. Sekularisasi kehidupan.

Kaum penjajah telah meninggalkan sekularisasi kehidupan bagi umat islam melayu, dengan menjadikan agama hanya berkaitan dalam kehidupan spiritual sahaja, sedangkan kehidupan yang lain seperti ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan terpisah daripada ajaran agama. Agama hanya dipahami dalam konteks ibadah bukan sebagai “ way of life “. Sekularisasi kehidupan ini mengarah kepada dikotomi dalam segala hal, sehingga agama menjadi bagian yang terpisah dari kehidupan. Sekularisai ini terlihat baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, hukum, budaya, dan politik, dan militer.

2. Pendangkalan pemahaman agama.

Kurikulum agama dis ekolah hanya terbatas kepada persoalan ibadah ritual, atau hanya berkisar pada persoalan ibadah. Sedangkan kajian teologi, filsafat, logika, sistem ekonomi islam, sistem politik islam, dan khazanah umat islam tidak menjadi bagian daripada kurikulum sekolah adgama. Jika ada hanya terbatas pada wacana dan pemahaman sepintas bukan kepada pendalalam sebagaimana yang telah menjadi tradisi masyarakat intelektual muslim terdahulu. Pemahaman agama yang diberikan juga dipengaruhi oleh pemikiran orientalis sehingga metode filsafat yang dipakai di barat dalam merekontruksi agama dipakai oleh kelompok muda muslim untuk merekontruksi ajaran agama mereka. Akibat inilah muncul beberapa gerakan modernisme, post modernisme, liberalisme, post-tradisionalisme, yang membongkar ajaran agama dari akarnya, sehingga menimbulkan kebingunan didalam masyarakat.

3. Westernisasi budaya.

Pendangkalan ajaran agama yang memakai metode filsafat barat untuk merekontrusksi nilai-nilai dasar agama, diikuti dengan menyebarkan budaya barat sebagai budaya baru dalam kehidupan masyarakat muslim, melalui infiltrasi budaya bebas nilai, melalui wacana hak asasi manusia dan gerakan feminisme. Pembangunan diartikan sebagai westernisasi yang menghilangkan nilai-nilai timur dan nilai-nilai religius, sehingga menjadikan masyarakat muslim nusantara menjadi masyarakat yang hilang jati diri.

4. Kristenisasi dan atheis.

Gerakan sekularisasi, westernisasi, dan pendangkalan ajaran agama akan ditujukan kepada kristenisasi masyarakat muslim nusantara, sehingga dalam masa yang tidak terlalu lama, masyarakat muslim di nusantara yang telah berjaya di masa lampau akan rusak dan hancur, dan akhirnya akan menerima ajaran agama yang lain seberti kristen , hindu, atau tidak beragama sama sekali ( atheis 0 sebagaiman yang diinginkan oleh kelompok komunis yang berbaju sosialis atau islam kiri yang sekarang sedang muncul menjadi gerakan alternatif di kalngan generasi muda muslim.





d. Islamisasi ilmu dan madanisasi kehidupan.

Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan usaha secara terpadu dari semua kelompok untuk kembali menempatkan islam sebagai basis utama masyarakat melayu, sehingga kegemilangan muslim melayu akan tercapai. Masyarakat muslim melayu adalah merupakan umat muslim terbesar , lebih besar darupada umat muslim Arab. Oleh sebab itu jika masyarakat muslim melayu hancur berarti sebagian besar umat islam akan hancur, demikian sebaliknya jika masyarakat muslim melayu berjaya, sebagian besar umat islam dunia akan berjaya. Inilah sebabnya kelompok non-muslim menjadikan masyarakat muslim melayu sebagi sasaran utama gerakan mereka sejak dahulu sampai sekarang.

Untuk mengembalikan kejayan masyarakat muslim melayu, diperlukan pusat kajian islmisasi ilmu pengetahuan dan madanisasi masyarakat yang mengadakan kajian keilmuan, penerbitan jurnal, buku dan risalah, disamping mengadakan pelatihan dan latihan untuk generasi muslim nusantara.. Hal itu diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi langkah pertama untuk kembali menapak kejayaan masyarakat melayu dan islam di kepulauan nusantara Wallahu Alam.
THE MIRACLE OF AL QURAN
Muhamad Arifin Ismail

The Quran is Allah’s greatest blessing for you. It is the fulfilment of His promise to Adam and his descendants : “ there shall come to tou guidance from me, neither shall they sorrow “ ( 2 : 38 ).The Quran is the word of the Ever-living God, it has sent down to guide man for all times to come. No book can be like it. As you come to the quran , Allah speaks to tou. To read the Quran is to hear Him, even to converse with Him, and to walk in His ways. It is the encounter of life with the Life-giver . “ God-there is no god but He, the Ever-living, The Self subsisting ( by whom all subsist ). He jas sent down upon you the Book with the Truth..as guidance unto mankind…( 3 : 2-3 ). It is the only weapon to help your frail existence as you struggle against the forces of evil and temptation in this world. It is only means to overpower your fear and anxiety. It is only light as you grope in the darkness, wuth which to find your way to success and salvation. It is only healing for your inner sicknesses, as well as the social ills that may surround you. It is the constant reminder ( dzikr ) of your true nature, and destiny, of your station, your duties, your rewardss, and your perils. Therefore such conditions we should fulfill to encounter with it :

1. We must realize what the Quran as the word of God is and means to us, and bring all reverence, love, longing, and will to act that this realization demands.

2. We must read it as it asks to be read, as Allah’s massenger instructed us, as he and his Companions read it.

3. We must bring each word of the Quran to bear upon our own realities and concerns by trancending the barriers of time, culture, and change.

The Quran has certain features which make it unique and of inimitable quality. This inimitability is called the miraculous nature of the Quran ( ija’z al quran ). The word ijaz is derived from the root “ ajaza” which has various meanings, ranging from ‘to be incapable, to make powerless, to be impossible, to be inimitable. In technical languange it means the inimitable and unique nature of the Quran which leaves its opponents powerless or incapable of meeting the challenge wich the revelation poses to them. It is also said that the Quran is the mu’jiza, the miracle of Prophet Muhammad.

Narrated Abu Huraira : The prophet said “ Every prophet was given miracles because of which people believed but what I have been is divine inspiration which Allah has revealed to me so I hope that my followers will outnumber the followers of the other prophets on the Day of Resurrection “.

The Muslim scholaral al – Qurtubi ( d.656/1258) in his commentary on the Quran has indicated the following ten aspects of the miracles of Al Quran :



1. Its language excels all other Arabic language.
2. Its style excels all other Arabic style.
3. Its comprehensiveness cannot be matched.
4. Its legislation cannot be surpassed.
5. Its narration about the unknown can only result from revelation.
6. Its lack of contradiction with the sound natural science.
7. Its fulfilment of all that it promises, both good tidings and threat.
8. The knowledge it comprises ( both legal and concerning the creation ).
9. Its fulfilment of human needs.
10. Its effect on the hearts of men.

Science and the Quran

The classical scholars while dealing with the unique nature of the Quran has already pointed aout that the Quran contains information about the nature things, the material environment, etc. and that this information is not in conflict with man’s perspective and experience. Furthermore, the development of science and its immediate effect upon the lives and societies of Muslims, especially during the last and in the present century, have led many Muslims to look at science against the backround of the Quran, and they have made numerous suggestions about the correct description in the Quran of certain secientific facts.

Among some of the very important aspects of this line of thought, i.e. that the Quran contains information on scientific facts which are in perfect agreement with the findings of man’s scientific pursuits , are the following :

- That the earth was previously part of the sun and only after separation from it became a habitable palce for mankind ( 21 : 30 ).
- That all life originated from water ( 21 :30 ).
- That the universe was in the shape of a fiery gas ( which Qiuran calls “Dukhan “) ( 41 : 11 ).
- That matter is made up of minute particles ( 10 : 62 ).
- That the oxygen content of the air is reduced at higher altidutes (6 : 125).
- That the embryo in the womb is enclosed by three coverings ( 39 : 6 ).
- That in nature everything consists of complementary elements, not only man and animals, but also plants and inorganic matter ( 36 ; 36 ).
- That fertilisation of certain plants is done by the wind ( 15 :22 ).
- That microsopic organisms exist that are not visible to the naked eye, such as spermatozoon ( 96 : 1 ).
- That each human being has permanent individual fingerprints ( 75 : 4 ).

All these matters which are in agreement with scientific findings could not, it is argued, have been known to any human being at the time of the revelation of the Quran. They were only discovered many centuries later after intense scientific research. Hence, their inclusion in the Quran shows the heavenly origin of the book. This heavenly origin is further corroborated by the correctness of the description of the scientific facts.



How to study The Quran

There are such basic state and attitude of heart and mind are necessary prerequisite to any fruitfull relationship with the Quran :
1. Come to the Quran with a strong and deep faith that it is the word of Allah, your Creator and Lord.
2. Read the Quran with no purpise other than to receive guidance from your Lord, to come nearer to Him, and to seek His good pleasure.
3. Make yourself constantly alert with intense praise and gratitude to your Lord for having blessed you with His greatest gift – the Quran – and for having guided you to its reading and study.
4. Accept and trust without the least doubt or hesitation, every knowledge and guidance that the quran conveys to you.
5. Bring the will, resolve and readiness to obey whatever the quran says , and change your life, attitudes and behaviour –inwardly and outwardly- as desired by it.
6. Always remain aware that as you embark upon reading the Quran , satan will create every possible hazard and obstacle to stalk you on your way to the great riches of the Quran.
7. Trust, exclusively and totally, in Allah to lead you to the full rewards of reading the Quran.

The Quranic criteria of inner participation.

1. Say to your self : My Quran reading will not be truly tilawah ( reading 0 unless my inner self participates in it as allah desires it to participate.
2. Say to your self : I am in Allah’s presence, he is seeing me.
3. say to your self : I am hearing from Allah.
4. Say to your self : Allah adresses me directly, through His Massenger, when I read the Quran.
5. Say to your self : Every word in the Quran is meant for me.
6. Say to your self : I am conversing with Allah when I am reading the Quran.
7. Say to yourself : Allah surely give me all the rewards he has promised me through His messenger for reading the Quran and following it.

There are such actions of your heart and body wich will greatly help you in immersing your inner self reading of the Quran :

1. Let your heart become alive and respond to whatever the Quran says.
2. Let your tongue express in words the appropriate response to what you read in the Quran.
3. Let the response in your heart overflow through your eyes – tears of joy or of fear- an answer to what you read in the Quran.
4. Adopt an outward posture that reflects your inner reverence, devotion and submission for the words of your Lord.
5. Read the Quran with perfect reading ( tartil ).
6. Purify yourself as much as you can.
7. Ask Allah for His help, mercy, guidance, and protection while you read the Quran.

Etiquette with the Quran

1. Keep the Quran in a clean place.
2. Seek only Allah’s pleasure not any worldly gain.
3. Concentrate fully and leaves aside all other preoccupations.
4. Be ritually clean, and sit on clean ground.
5. Preferably sit facing the Qibla.
6. Observe humility, tranquality and respect.
7. Begin with “ A’udzubilahi…Bismillah…”.
8. Read with a good voice.
9. Ask Allah’s Blessing when reading a verse which contains a promise, and ask Allah’s help when reading a verse which contains a threat.
10. Repeat important verses many times.
11. say “ sadaqallahul adzim “ at the end of the recitation, and close with a “ du’a “ that Allah may accept it from you.
12. Let no day pass without reading the quran.
13. Do not read in a manner that disturbs others.
14. Observe basic rules of reading ( ilm tajwid )
15. Memorise as much as you can.

How to memorise passages from the Quran.

1. Make memorisation a part of your daily routine. Do a little at time but do it regularly.
2. Choose a passage which is paticularly meaningful to you. It should not be very long.
3. Read this passage aloud a few times.
4. Write this passage on a small piece of paper.
5. Memorise it.
6. Read it from memory.
7. Ask someone to read it for you from the book.
8. Write down what he has read
9. Recite the portion in your prayers.
10. After you have memorised the passage, repeat it on many occasion ( such as during prayer, etc.) which will deeply engrave it in your memory.
11. Choose another passage and do likewise.













THE DIVORCE

The divorce in islamic legation is the release of the tie of marriage and ending up marital relation. The settlement of the marital life is a goal of the goals which the islam is cautious to safeguard. The marriage contract , but is convened for the continuous, and for the eternity till the ends, that it would be easy for the spouses to make of the house a cradle to come to it, and they enjoy in its abundant shadow, to enable to breed their children a righteous breeding. Because of this, the tie between the two spouses is the holiest ties and the most authentic. Allah said in the Quran : “ And they have taken from you a solemn covenant “ ( /4 : 21 ).

Every matter concerned to weaken this tie, and to loosen of its affair is loathed to islam, because of missing the benefits, and the losing of the affairs of each of the two spouses. The messenger Muhammad had said :

“ The most loathed of the lawful as to allah is the divorce “ ( narrated by Abu daud and Hakim ).

“ He is not of us who sows dissension of a woman on her husband “.

“ The women doesnot ask the divorce of her to replace her, and to marry the husband, but it is for her what is ordained for her “.

“ Any women who asks her husband to divorce her with no anguish, then the smell of paradise is forbidden on her “.

“ Allah exalted cursed every one who tastes the relish of marriage and divorces “.
ANTARA ISLAM DAN IDEOLOGI

Islam yang dimaksudkan dalam judul diatas adalah pandangan hidup yang berpandukan kepada ajaran agama yang fitrah, yaitu agama islam, bersumberkan pada wahyu Ilahi, Al Quranul karim dan Sunnah rasulullah saw. Sedangkan ideologi menurut Rosenthal dalam Dictionary of Philosophy adalah sebuah sistem dari pemikiran atau idea, baik itu berkenaan dengan politik, hukum, moral, seni, agama, dan filsafat. Sebenarnya Islam tidak dapat dibandingkan dengan segala ideologi sebab Islam adalah agama bersumber dari wahyu sedangkan Ideologi bersumber dari pemikiran manusia. Umat islam sepatutnya menjadikan islam sebagai sistem hidup baik dalam bidang ekonomi, politik, budaya, sosial, etika, seni dan lain sebagainya. Tetapi dalam kondisi dunia hari ini, kita dapat melihat bahwa islam sebagai satu sistem kehidupan berhadapan dengan ideologi – ideologi seperti Kapitalisme, Sosialisme - Komunisme , dan Sekularisme yang telah menjadi sistem hidup bagi masyarakat Barat. Dalam perkembangan masyarakat, terlebih lagi dengan globalisasi dunia sekarang ini, maka akan umat islam dapat saja terpengaruh dengan sistem hidup yang berdasarkan ideologi barat tersebut, apalagi jika mereka hanya memahami islam sebagai agama ibadah bukan sebagai suatu sistem dalam kehidupan..

Dalam tulisan di bawah ini penulis hanya membicarakan beberapa ideologi yang berkaitan erat dengan sikap hidup umat Islam dewasa ini baik dalam sistem sosial , ekonomi, politik dan budaya. Pada garis besarnya ada beberapa ideologi yang berkembang saat ini seperti ideologi Kapitalisme, Socialisme , Komunisme, Sekularisme, Post-Modernisme, Perennialisme, dan lain sebagainya. Dalam kesempatan ini kita tidak membahas ideologi ini secara lengkap, tetapi lebih kepada pengaruhnya dalam kehidupan beragama, sebagaimana judul tulisan ini untuk mendudukkan posisi agama islam di antara segala ideologi tersebut.




KAPITALISME
1. Tujuan hidup adalah materi.
Kapitalisme berasal dari kata-kata Kapital yang bermakna modal. Kapitalisme adalah ajaran yang menumpukan perhatian hanya kepada pemilik modal. Pemilikan modal adalah pemilikan pada materi. Itulah sebabnya maka Ideologi kapitalisme berlandaskan pada filsafat materialisme. Materialisme adalah berasal dari kata-kata materi. Materialisme jadi merupakan cara berpikir dan pemahaman bahwa segala sesuatu berasal dari materi. Materi adalah sesuatu yang nampak, berarti kebenaran sesuatu hanya dapat diukur dari kewujudan materi. Filsafat materialisme berpendapat bahwa yang primer adalah materi ( matter ) sedangkan pikiran ( mind ) adalah sekunder. Akibat dari pemahaman ini maka Filsafat materialisme berpendapat bahwa Dunia ini adalah sesuatu yang eternal ( kekal ) dan terjadi dengan sendirinya tanpa dibuat oleh Tuhan. Dalam pemahaman filsafat ini sesuatu itu dikatakan ada jika sesuatu itu dapat dibuktikan secara materi. Oleh sebab itu karena Tuhan tidak dapat dibuktikan secara materi, maka Tuhan itu tidak ada. Secara umum, berarti ideologi materialisme ini merupakan ideologi yang menolak secara yang bersifat ghaib, seperti Tuhan, Hari Akhirat, dan lain sebagainya. Segala sesuatu hanya diukur dengan materi, sehingga dalam filsafat materialisme tujuan hidup hanyalah untuk mencari kepuasan materi ( kebendaan ) tanpa menghiraukan kehidupan ukhrawi.

2. Kebebasan individu tanpa batas.

Ideologi kapitalisme memberi penekanan kepada individu secara mutlak. Bagi mereka kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat, oleh sebab itu individu mempunyai kebebasan mutlak baik dalam ekonomi, sosio-politik, dan pemikiran. Dalam ekonomi, individu mempunyai kekuasaan mutlak , boleh memupuk kekayaan tanpa menghiraukan keadaan masyarakat, kalau perlu segala sesuatu diekspliotasi untuk melipat gandakan kapital dan untuk meraih keuntungan sebanyak mungkin. Ekonomi kapitalisme ini akan mengakibatkan monopoli individu atas segala kegiatan ekonomi, tanpa menghiraukan para pekerja dan masyarakat. Tujuan utama adalah bagaimana mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sedikit. Akibat dari sistem ekonomi kapitalisme ini akan menimbulkan jarak yang besar anatara yang kaya dan yang miskin, disamping menimbulkan monopoli ekonomi di tangan segelintir masyarakat.

Kebebasan individu dalam politik dinamakan dengan istilah demokrasi, sehingga setiap individu mempunyai kebebasan mutlak tanpa batas walaupun kebebasan itu akan menabrak nilai-nilai agama atau kepentingan orang banyak. Sikap bebas tanpa batas dengan slogan hak asasi manusia dan demokrasitanpa batas ini dapat merusak agama, sehingga setiap individu dapat berbuat apa saja tanpa lagi menghiraukan nilai-nilai dan peraturan agama. Kebebasan individu dalam sosio-politik ini juga dapat membahayakan masyarakat, karena semua orang dapat berbuat apa saja tanpa melihat kepada peraturan dan hukum yang berlaku di masyarakat.

Kebebasan pemikiran berarti semua orang bebas berpendapat dan berpikir tanpa harus tunduk kepada kaidah hukum. Kebebasan berpikir ini dapat membahayakan agama sebab setiap orang dapat bebas berpikir tanpa melihat apakah dia mempunyai otoritas atau ilmu dalam memahami ajaran agama tersebut. Dari kebebasan berpikir inlah sekarang timbul di dalam masyarakat Islam liberal, dimana setiap orang berhak untuk memikirkan cara pengamalan ajaran Islam tanpa melihat kepada nash-nash agama. Kebebasan individu ini juga dapat merebak ke dalam budaya, etika dan seni, sehingga setiap orang merasa bebas berbuat apa saja, bebas memakai pakaian apa saja, kalau perlu bebas telanjang, tanpa menghiraukan etika – moral dan budaya masyarakat.

SOSIALISME

Socialisme adalah sistem hidup yang berdiri pada pendapat bahwa kepentingan sosial dan orang banyak lebih utama daripada kepentingan individu. Ideologi sosialisme ini dalam berawal dari filsafat Dialectical Materialism., yaitu pemahaman bahwasanya suatu itu akan berkembang dengan adanya dialiektika atau pertentangan. Sesuatu yang asal menjadi “ Thesis “, kemudian berkembang dan berubah menjadi sesuatu yang lain menjadi “sinthese “. Pertentangan antara thesis dengan sinthesis ini menjadi sesuatu yang baru lagi yang disebut dengan istilah “anti thesis” . Dari pemahaman ini maka dalam dunia ini tidak ada suatu yang pasti, yang absolut, tetapi segala sesuatu harus dikembangkan dengan cara membuang yang lama dan membuat yang baru yang berbeda dengan yang lama. Dengan demikian, kebenaran itu adalah mengikuti keperluan masyarakat bukan berdasarkan pada nilai-nilai yang murni dan baku. Filsafat Dialektikal Materialisme ini bermula dari ajaran Hegel ( 1770 – 1831 ) yang dikembangkan oleh Karl Marx ( 1818-1883 ) dan Frederick Engels ( 1820- 1895 ).

Karl Mark berpendapat bahwa jika kapitalisme sudah mencapai puncaknya, maka akan muncul kaum pemilik modal yang hidup senang dan kaum buruh yang terus tertindas. Untuk itu maka kaum buruh harus melawan kaum pemilik modal dengan mengadakan perlawanan dan pertentangan terus menerus. Dari penomena sejarah ini maka pemahaman materialisme berkembang menjadi Historical Materialisme yang menuju pada perjuangan kelas, dimana suatu masyarakat itu akan maju jika dikembangkan dengan dibuat pertentangan yang terus menerus di dalam masyarakat. Metode Materialisme Sejarah inilah yang menimbulkan pertentangan antara kaum buruh dengan majikan, antara penguasa dan rakyat, antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Dari pemahaman inilah muncul istilah rvolusi sebagai suatu jalan untuk menuju perbaikan dalam masyarakat, agama, budaya , politik dan lain sebagainya. Pemahaman ini berpengaruh dalam pemahaman agama, sehingga suatu agama itu dikatakan maju apabila agama itu meninggalkan nilai-nilai yang tradisional dan membuat sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan dan keperluan masyarakat.

Dalam pandangan kaum sosialis, ajaran agama itu adalah ajaran yang akan menghalangi kaum buruh dari kemajuan, sebab disan terdapat ajaran sabar, tawakkal dan lain sebagainya. Ajaran agama juga dapat menjadi pelindung bagi kaum pemodal dengan bersedekah, melalui harta kekayaan yang di dapat. Oleh sebab itu agama itu harus diperangi sehingga menurut Karl Marx : “ agama adalah keluh kesah makhluk yang tertindas, hati nurani dari dunia yang tidak berhati, maka dia adalah candu bagi rakyat “. Ungkapan ini dilanjutkan oleh Lenin : ‘ Agama adalah candu rakyat. Perkataan Karl Marx ini merupakan pandangan dunia Marxisme terhadap agama. Oleh sebab itu Marxisme menganggap agama dan gereja, serta semua organisasi agama , apapun juga, selalu merupakan alat reaksioner kaum pemodal untuk melindungi penindasan dan penghisapannya terhadap kaum buruh. Kita harus memerangi agama..maka lenyaplah agama dan hiduplah atheisme, maka penyebaran atheisme adalah tugas utama kita “

Dari kajian diatas dapat dilihat bahwa ideologi Sosialisme akan berakibat kepada sikap anti agama dan anti Tuhan ( atheis ) yang juga mencari tujuan utama daripada ajaran komunisme. Antara sosialisme dan kommunisme tak dapat dipisahkan, sebab Komunisme adalah pemahaman yang berdasarkan bahwa pemilikan ekonomi dan harta itu tidak bersivat individu dan pribadi tetapi bersifat “ common “ ( orang banyak ), sehingga dalam pemahaman komunisme tidak ada harta pribadi, semuanya adalah harta negara.

SEKULARISME

Menurut istilah, kata sekular berasal dari bahasa latin saeculum yang memiliki arti waktu dan lokasi. Waktu menunjukkan pada pengertian sekarang sedangkan lokasi menunjuk kepada dunia. Jadi saeculum berarti zaman ini atau masa kini dan zaman ini tersebut menunjuk kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia atau peristiwa yang terjadi pada masa kini. Oleh sebab itu sekularisasi didefinisikan oleh Syed Naquib al Attas sebagai “ pembebasan manusia pertama-tama dari agama dan kemudian dari metafisika yang mengatur nalar dan bahasanya “. Itu berarti “ terlepasnya dunia dari pengertian religius dan religius semu, terusirnya semua pandangan dunia yang tertutup, terpatahkannya semua mitos supranatural dan lambang-lambang suci “. Dengan kata lain sekularisasi adalah pemisahan dunia daripada kehidupan agama.

Alam pemikiran barat bermula dari filsafat rasionalisme yang dikembangkan oleh Rene Descartes ( 1596-1650 ) yang menyatakan bahwa kebenaran itu hanya sesuatu yang dapat dipikirkan dan dibuktikan oleh akal. Filsafat ini kemudian hari dilanjutkan oleh Francis Bacon ( 1561 – 1626 ) dengan filsafat empirisme yang menyatakan bahwa sesuatu itu benar jika sesuatu itu telah dapat dibuktikan secara empiris. Filsafat rasionalisme dan empirisme ini memacu kemajuan ilmu dan teknologi dengan begitu pesat dan kemudian dilanjutkan dengan filsafat Positivisme oleh August Comte ( 1778- 1857 ) yang menganggap bahwa setiap kebenaran harus dapat dibuktikan secara exprimental.

Akibat dari perkembangan filsafat rasionalisme, empirisme, dan positivisme ini, maka kedudukan agama mulai tergugat karena banyak doktrin agama yang tidak dapat dibuktikan secara rasional, empiris, dan teruji secara exprimental. Itulah sebabnya August Comte pada pertengahan abad ke-19 telah membayangkan adanya kebangunan ilmu pengetahuan dan keruntuhan agama, sehingga baginya masyarakat telah berevolusi dan berkembang dari tingkat primitif kepada tingkat modern. Dalam pemikiran August Comte, masyarakat berkembang dari agama pemahaman kepada agama, kemudian naik kepada pemahaman metafisik dan diakhiri dengan tingkat terakhir yaitu pemahaman ilmu dan teknologi. Dengan demikian, jika masyarakat sudah sampai peda tingkat ilmu dan teknologi, maka agama tidak diperlukan lagi, apalagi konsep keagamaan seperti Tuhan dan akhirat adalah sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan eksprimental, maka kepercayan kepada tuhan menurut Comte adalah suatu sikap kolot.

Pemikiran Comte ini berkembang melalui muridnya Ludewig Feurbach ( 1804-1872 ) yang juga merupakan guru kepada Hegel ( 1770 – 1831 ) yang kemudian dikembangkan dan dianjutkan oleh Karl Marx ( 1818-1883 ). Pemikiran agama ini terus berkembang di dunia eropah sehingga Fiedrich Nietzche berani menyatakan bahwa Tuhan telah mati. Dalam psikologi analisa, Sigmund Frued ( 1856 – 1939 ) menyatakan bahwa manusia dalam era psikologi berangkat dari alam takhayul ( supersition ) kepada alam agama ( religion ) dan kemudian kepada alam ilmu pengetahuan ( science ). Dengan demikian menurutnya dalam era ilmu pengetahuan sekarang ini, semua agama telah ketinggalan zaman. Sehingga seorang penulis barat Somerset Mugham menyatakan bahwa : ..suatu Tuhan baru telah ditemukan di Eropah dewasa ini yaitu ilmu pengetahuan sedangkan Tuhan yang lama telah mereka campakkan “.


Itulah sebabnya kaum intelektual barat pada masa itu berkata kepada gereja : “ Ambillah kembali Tuhanmu itu yang dengan atas namanya kalian telah memperbudak kami, serta membebani kami dengan kewajiban-kewajiban berat, dan menundukkan kami di bawah kediktatoran serta takhayul yang tirani. Keimanan pada Tuhanmu itu menuntut kami untuk menempuh kehidupan dngan ketergantungan kepada pendeta , maka kami tolak ajaranmu itu, karena kami akan punya Tuhan baru yang memiliki segala sifat Tuhan yang pertama, tetapi tanpa gereja yang memperbudak kami, dan juga ia tidak akan memberatkan kami dengan kewajiban moral, intelektual atau kebendaan apapun, seperti yang diperbuat oleh Tuhanmu “. Hal ini muncul sebab sejarah telah menceritakan bahwa gereja pada mulanya adalah sangat membenci pada ilmu pengetahuan. Dengan dalih agama, ilmu pengetahuan dikekang sebagaimana yang terjadi pada Socrates dan Bruno, sehingga pada masa Reinessance maka pemikir ilmu pengetahuan tidak segan-segan untuk membuang agama sebagai tindakan bals dendam kepada kekejaman gereja terhadap ilmu pengetahuan.

Sekularisasi dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan seperti dalam bidang sosio-politik, dalam bidang ilmu pengetahuan dan dalam bidang keagamaan. Dalam bidang sosio-politik, menurut pandangan kaum sekular, negara modern adalah negara yang memisahkan antara agama dan negara. Agama modern adalah agama yang lahir dengan sendirnyadan terpisah dari agama dan gereja. Negara bukanlah bagian daripada gereja, dan juga bukan merupakan bagian daripada masyarakat keagamaan. Dengan demikian sekularisasi politik adalah proses sosial dimana bentuk struktur politik tradisional mengalami perbedaan radikal, yang menghasilkan pemisahan bidang ketatanegaraan dari struktur keagamaan, penggantian legitimasi politik berdasarkan pada norma-norma sekular, dan usaha untuk meluaskan kekuasan politik di bidang yang semula diatur oleh kaidah agama. Sekularisasi politik inilah yang dikenal dengan nama desakralisasi politik yaitu penghapusan legitimasi sakrak kekuasaan politk, yang merupakan syarat perubahan politik. Agama dipandang sesuatu yang sakral sedangkan politik adalah sesuatu yang kotor, maka kedua hal itu harus dipisahkan dan dijauhkan.

Sekularisasi dalam ilmu pengetahuan, maksudnya adalah menjauhkan ilmu pengetahuan daripada nilai-nilai agama, sehingga akhirnya kalau perlu ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Agama hars dipisahkan daripada ilmu pengetahuan, sehingga tujuan ilmu hanyalah dunia, bukan untuk melaksnakan ajaran agama. Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang dibangun dengan riset dan eksprimental, sedangkan agama adalah sesuatu keyakinan yang hanya dapat dipercayai tanpa dapat dibuktikan secara roset dan eksprimental. Itulah sebabnya segala sesuatu yang berhubungan dengan agama adalah sesuatu yan tidak ilmiah, dan itulah sebabnya maka agama tidak perlu diajarkan dalam bangku sekolah. Jika agama diajarkan itupun hanya setakat untuk keprluan hubungan pribadi dengan tuhan. Bagi mereka kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran yang mutlak karena dapat dibuktikan dengan pemikiran yang logik dan rasional sedangkan kebenaran agama adalah kebenaran yang nisbi. Sekularisasi ilmu pengetahun ini muncullah teori evolusi Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera karena dibuktikan oleh perkembangan kerangka manusia yang sama dengan kerangka monyet. Sigmund Frued juga menyatakan bahwa perbuatan manusia adalah sikap yang dibentuk oleh desakan seksual ( libido sex ) sehingga tidak ada kehidupan yang fitrah bagi manusia.

Dalam ilmu antropologi kita melihat bahwa manusia ini pada mulanya adalah masyarakat yang tidak bertuhan, kemudian baru meningkat kepada masyarakat berthan dengan tuhan yang banyak, kemudian dilanjutkan kepada masyarakat bertuhan satu dengan agama monotisme, dan akhirnya dilanjutkan dengan masyarakat berilmu pengetahuan yang tidak bertuhan. Padahal dalam agama islam kita dapati bahwmanusia pada mulanya telah bertuhan dengan tuhan monotosme yang satu sebagaimana Allah wahyukan kepada Adam sebagai manusia pertama di dunia.

Sekularisasi ilmu pengetahuan ini telah begitu masuk ke dlam masyarakat dari sejak staman kanak-kanak sampai pasca sarjana, sehingga semua ilmu yang dipelajari dapat membuat mereka jauh daripada nilai-nilai agama. Itulah sebabnya ilmu pengetahuan yang membahas manusia sebagai individu ( psikologi ), ilmu pengetahuan yang mengkaji manusia sebagai bagian dari kelompok ( sosiologi dan sejarah ), ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang organisasi dan kelembagaan ( manajemen ), ilmu yang mengontrol aktivitas ekonomi ( ilmu ekonomi ) , ilmu pengetahuan yang mengatur cara hidup bernegara ( ilmu hukum ), ilmu pengeahuan tentang keindahan ( seni budaya ) semuanya telah mengalami proses sekularisasi dan perlu untuk dikaji ulang dengan menyatukan nilai-nilai agama melalui proses islamisasi.

Sekularisasi ilmu pengathuan berdampak pada sekularisasi teknologi sehingga pemakaian teknologi tidak lagi dilandaskan pada nilai-nilai agama tetapi lebih banyak dilandaskan pada nilai-nilai sekular, yang hanya dipakai untuk mewujudkan cita-cita kapitalisme, sosialisme, yang tidak menghiraukan nilai-nilai agama dan etika. Sekularisasi teknologi akan membuat teknologi itu terlepas daripada nilai-nilai agama dan etika, sehingga lebih banyak kepada pemuasan hawanafsu dan materi.

Sekularisasi pemahaman keagamaan mengakibatkan pada pemahaman bahwa agama adalah hak individu dan hanya mengatur hubungan individu kepada tuhan, seperti berdoa dan sembahyang. Sedangkan kegiatan yang lain seperti kegiatan ekonomi, kegiatan sosial, seni dan budaya tidak ada hubungannya dengan agama. Begitu juga dengan sikap dan tingkah laku, tidak lagi harus mengikuti nilai-nilai agama. Bagi mereka kegiatan ekonomi seperti bekerja bukanlah bagian daripada ibadah, tetapi hanya untuk tujuan dunia. Cara bekerja dan sistem ekonomi juga harus dipisahkan daripada ajaran agama. Demikian juga dengan kegiatan seni dan budaya. Seni hanya untuk seni, sehingga segala sesuatu atas nilai seni tanpa ada hubungan dengan nilai-nilai agama. Berpakaian juga tidak punya hubungan dengan ajaran agama, sehingga setiap orang bebas untuk memkai apa saja, kalau perlu tanpa busana. Hubungan sesama manusia juga bukan lagi berlandaskan pada nilai-nilai agama, tetapi nilai kepentingan. Itulah sebabnya dalam masyarakat sekular timbul pergaulan bebas, freesex, dan lain sebagainya, dengan alsan bahwa masalah pergaulan bukanlah masalah agama. Sekularisasi kehidupan inilah yang menimbulkan budaya hedonisme, budaya permissive, budaya liberal, yang telah melanda masyarakat modern hari ini.


Akibat dari pemisahan agama dari kegiatan sehari-hari ini menjadikan manusia hidup dalam kehidupan yang gersang, sehingga akhir-akhir ini timbul kesadaran manusia untuk mencari agama yang memadukan agama menjadi satu. Inilah yang dikenal dengan Filsafat perennialisme yang menyatakan bahwa pada dataran batin sebenarnya semua agama ini adalah satu. Dari filsafat inilah muncul pemikiran bahwa agama adalah benar semua, dan tidak ada agama yang paling benar. Ini diakibatkan oleh pemikiran filsafat post-modernisme, dimana dalam filsafat ini tidak ada kebenaran yang absolut, semua kebenaran adalah relatif walaupun kebenaran agama . Semua orang boleh perpendapat dan semua orang boleh dianggap benar, sehingga dalam masyarakat tidak ada lagi nilai-nilai yang dijadikan ukuran kebenaran.

Inilah gambaran bagi perkembangan ideologi dan filsafat hari ini yang banyak berpengaruh dalam pemahaman keagamaan terutama dalam pengamalan ajaran agama Islam. Untuk itu setiap muslim diperlukan usaha serius untuk memahami ajaran agamanya sehinga tidak terbawa oleh arus pemikiran dan ideologi yang berkembang dengan begitu cepat apalagi dalam era globalisasi dewasa ini. “ Al haqqu min rabbika fala takunanna minal mumtarin…”.

Bahan bacaan :
1. Syed Muhammad Naquib Al attas, Islam dan Sekularisasi.
2. Imam Munawir, Posisi Islam di tengah pertarungan ideologi dan keyakinan.
3. Muhammad Baqir Sadr , Falsafatuna.
4. Fritchjof Schoun, Islam and the Perennial Philosophy.
5. M. Rosenthal dan P. Yudin, A Dictionary of Philosophy.


Kuala Lumpur, 28 Juni 2001/ 6 Rabiul Akhir 1421
Muhammad Arifin Ismail.