Pages

Friday, November 12, 2010

MENSIKAPI PERBEDAAN IDUL ADHA 1431






Pada tanggal 6 November 2010 pukul 11.55 WIB , pemerintah melakukan pemantauan anak bulan di Pelabuhan Ratu untuk menentukan awal Dzulhijjah. Pada saat maghrib, maka anak bulan sudah ada pada ketinggian 1 derjat, 44. ( Anak bulan menurut kajian fiqih baru nampak terlihat jika berada pada ketingian 2 derjat ). Keberadaan anak bulan tersebut terdapat di Afrika Utara, Arab Saudi, Indoa dan Indosenesia bagian utara. Dengan adanya bulan pada ketinggian 1 derjat 44 tersebut akan menimbulkan perbedaan pendapat dalam menentukan awal Dzulhijjah antara hari Mingu, 7 November 2010 atau di hari senin, 8 November 2010, sebab ada perbedaan pandangan dalam menentukan awal bulan. Sebagian berpendapat bahwa wujudnya anak bulan ( hilal) walaupun belum sampai 2 derajat, berarti sudah dapat dipakai sebagai hukum, sehingga menurut kelompok wujdul hilal, awal Dzulhijjah jatuh pada hari Minggu 7 Novemver 2010. Sedang bagi kelompok kedua, jika anak bulan tidak sampai 2 derjat, berarti anak bulan tidak mungkin terlihat, sedangkan hukum baru jatuh jika anak bulan mungkin terlihat ( imkanurru’yah ), oleh sebab itu awal Dzulhijjah jatuh pada hari Senin, 8 Dzulhijjah.


Pada sidang itsbat 8 November 2010 yang merupakan forum resmi yang dihadiri perwakilan ormas-ormas Islam dan pakar hisab rukyat, pemerintah memutuskan Idul Adha jatuh pada 17 November 2010 ( mengikut penetapan satu Dzulhijjah jatuh pada hari Senin, 8 November 2010 ) , sebab pemerintah dan pakar hisab dari beberapa ormas Islam seperti Nahdatul Ulama, Persis, AlWashliyah, mengambil “imkanurru’yah” ( nampaknya anak bulan dengan kedudukan diatas 2 derajat ). Sedangkan dua Ormas Islam, Muhammadiyah berdasarkan kriteria wujudul hilal menyatakan Idul Adha jatuh pada 16 November ( mengikut penentuan satu Dzulhijjah jatuh pada hari Minggu, 7 November 2010 ) . Sedangkan Hizbut Tahrir, dan beberapa kelompok umat Islam yang lain akan menetapkan hari raya dengan melihat hari wukuf di Arafah. Jika hari wukuf jatuh pada 15 November 2010, maka hari raya pada 16 November 2010.

Perbedaan metrode nampaknya anak bulan antara “ wujudul hilal ( nampaknya “ dan “imkanurrukyah “ terjadi disebabkan perbedaan dalam memahami nash dalil tentang melihat anak bulan, daripada hadis nabi Muhammad saw : “ Hendaklah kamu berpuasa karena melihat anak bulan, dan berbukalah kamu karena melihat anak bulan, dan jika langit mendung maka cukupkanlah tiga puluh hari “ ( riwayat Muslim.). Kalimat “ melihat anak bulan “ ditafsirkan dengan dua metode. Metode pertama melihat anak bulan dalam arti “ mungkin dilihat anak bulan “, sehingga jika anak bulan tidak terlihat , seperti jika ada awan, atau belum sampai ke derjat yang terlihat, maka dianggap anak bulan belum nampak. Untuk itu perhitungan bulan hijriyah sebelumnya digenapkan tiga puluh hari. Metode kedua menyatakan bahwa “melihat anak bulan “ dalam arti “ sudah adanya bulan ( wujudul hilal ) “, sehingga jika bulan sudah ada, apakah terlihat atau tidak terlihat, disebabkan kecangkihan teknologi, dan perkiraan perhitungan ( hisab ), maka sudah dapat dipakai sebagai hukum.

Perbedaan juga terjadi dengan perbedaan Matla ( tempat keluar anak bulan ). Bagi sebagian ulama, muncul anak bulan di sauatu tempat di muka bumi ini, misalnya di Saudi Arabia, di Afrika, sudah dapat dijadikan patokan adanya bulan, walaupun di negeri lain tidak terlihat. Sedangkan bagi sebagian ulama lain seperti mazhab Syafii, menyatakan bahwa perbedaan Matla’ diambil kira, sebab nampak di suatu tempat, untuk hukum di tempat terbeut, dan tidak dapat berlaku bagi tempat yang belum nampak anak bulan. Pendapat ini berdasarkan bahwa waktu shalat juga berbeda dengan adanya matla’, sebab itu perbedaan menentukan awal bulan juga dibenarkan.

Dalam Fiqih Islam, perbedaan tersebut tidak menjadi masalah, apakah itu perbedaan metodologi, ataupun perbedaan matla’, tidak harus membuat umat Islam berpecah, sebab kedua metodologi tersebut mengacu kepada dalil yang sah berdasarkan nash yang kuat. Demikian juga perbedaan matla . Dalam hadis daripada Kuraib, menyatakan bahwa Ummu Fadl menghantarkannya menemui Muawiyah di negeri Syam ” Aku tiba di Syam dan menunaikan hajatnya sedangkan pemberitahuan anak bulan berkumandang di udara. Aku melihat anak bulan pada malam Jumat kemudian aku balik ke Madinah pada akhir bulan. Pada waktu itu aku ditanya oleh Ibnu Abbas yang menyebut anak bulan. Kata Ibnu Abbas, ” Bilakah kamu melihat anak bulan ? ” Aku menjawab : ” Kami melihatnya pada malam Jumat ”. Ibnu Abbas bertanya lagi : ” Adakah engkau sendiri melihat anak bulan ? ”. Aku menjawab : ” Ya, dan orang lainpun melihatnya, mereka berpuasa dan Muawiyah juga berpuasa ”. Ibnu Abbas berkata : ” Kami disini melihat anak bulan pada malam Sabtu, oleh karena itu kami terus berpuasa hingga kami sempurnakan 30 hari atau hingga kami melihat anak bulan syawal ”. Aku bertanya lagi : ” Tidakkah memadai bagi kalian dengan terlihatnya anak bulan itu dan puasanya khalifah Muawiyah ”. Ibnu Abbas menjawab : ” Tidak, beginilah caranya Rasulullah saw menyuruh kami ”. Hadis ini menjadi dalil bahwa terlihatnya bukamn d suatu negeri tidak dapat menjadi hukum bagi negeri yang lain, dan dalil bagi dibolehkannya berbeda dalam melihat anak bulan antara satu negeri dengan negeri yang lain. Kedua-duanya adalah sah dan tidak ada yang salah. Oleh sebab itu perbedaan hari raya nanti apakah 16 November atau 17 November jangan dijadikan alasan perpecahan umat. Kedua hari tersebut adalah benar, sebab perbedaan terletak dalam perbedaan metodologi pengambilan hukum penentuan awal bulan antara ” wujudul hilal ” dan ” imkanul hilal ”, atau perbedaan mengambil satu matla’ untuk seluruh dunia, atau menjadikan perbedaan matla dengan perbedaan hari menentukan awal bulan.

Sedangkan terkait dengan perbedaan puasa hari Arafah dijelaskan sebagai berikut. Ada dua pendapat terkait hari Arafah. Pendapat pertama mengaitkan puasa hari arafah dengan wukuf jamaah haji di Arafah. Pendapat kedua tidak mengaitkan dengan wukuf, tetapi dikaitkan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, sebab puasa itu bukan karena wukuf tetapi karena jatuhnya 9 dzulhijjah. Pendapat yang mengaitkan dengan wukuf di Arafah berpendapat bahwa puasa/shaum Arafah tergantung tanggal pelaksanaan wukuf di Arafah. Pada musim haji 1431/2010 saat ini wukuf di Arafah ditetapkan pada 15 November 2010. Jadi, pada hari itulah mereka melaksanakan shaum Arafah dan beridul Adha pada 16 November 2010. Sedangkan pendapat mayoritas ulama di Indonesia dan Malaysia serta beberapa negara lainnya menyatakan bahwa puasa hari Arafah itu terjadi pada tanggal 9 Dzulhijjah yang ditetapkan secara lokal, sehingga jika hari raya 17 November maka puasa Arafah jatuh pada 16 November.
Sebagian masyarakat bingung, karena khawatir haram bila melakukan puasa pada tanggal 16 Dzulhijjah karena sebagian masyarakat sudah a beridul adha. Tidak perlu bingung, karena ibadah didasarkan pada keyakinan. Pilih dulu hari Idul Adha yang paling meyakinkan. Kalau seseorang memilih hari raya pada tanggal 17 November karena itu merupakan hasil sidang itsbat (penentuan ) pemerintah dan ormas Islam yang berdasarkan dalil syar’i, maka puasa arafah jatuh pada tanggal 16 November. Jika seseorang memilih hari raya pada 16 November sebab telah ditetapkan oleh ormas yang memakai dalil syari ” wujudul hilam ”, maka puasa Arafah jatuh pada hari Selasa 15 November. Sehingga pada hari Rabu nanti, ada kelompok yang berpuasa Arafah dan ada kelompok yang sudah shalat hari raya. Semua kelompok benar, sebab semua kelompok memakai metodologi penentuan berdasarkan dalil syar’i, hanya mereka berbeda metodologi. Hal yang paling utama, sesama pengikut kelompok jangan saling menyalahkan kelompok yang lain, atau menghina kelompok yang lain sebab semua berdasarkan kepada dalil yang kiuat. Selamat berhari raya Idul Adha, Mari berkorban dan jangan sampai menjadi korban propaganda musuh untuk memecahkan umat Islam. Fa’tabiru Ya Ulil albab.




Pada tanggal 6 November 2010 pukul 11.55 WIB , kementerian agama, pemerintah Indonesia melakukan pemantauan anak bulan di Pelabuhan Ratu untuk menentukan awal Dzulhijjah. Pada saat maghrib, maka anak bulan sudah ada pada ketinggian 1 derjat, 44. ( Anak bulan menurut kajian fiqih baru nampak terlihat jika berada pada ketingian 2 derjat ). Keberadaan anak bulan tersebut terdapat di Afrika Utara, Arab Saudi, Indoa dan Indosenesia bagian utara. Dengan adanya bulan pada ketinggian 1 derjat 44 tersebut akan menimbulkan perbedaan pendapat dalam menentukan awal Dzulhijjah antara hari Mingu, 7 November 2010 atau di hari senin, 8 November 2010, sebab ada perbedaan pandangan dalam menentukan awal bulan. Sebagian berpendapat bahwa wujudnya anak bulan ( hilal) walaupun belum sampai 2 derajat, berarti sudah dapat dipakai sebagai hukum, sehingga menurut kelompok wujdul hilal, awal Dzulhijjah jatuh pada hari Minggu 7 Novemver 2010. Sedang bagi kelompok kedua, jika anak bulan tidak sampai 2 derjat, berarti anak bulan tidak mungkin terlihat, sedangkan hukum baru jatuh jika anak bulan mungkin terlihat ( imkanurru’yah ), oleh sebab itu awal Dzulhijjah jatuh pada hari Senin, 8 Dzulhijjah.


Pada sidang itsbat 8 November 2010 yang merupakan forum resmi yang dihadiri perwakilan ormas-ormas Islam dan pakar hisab rukyat, pemerintah memutuskan Idul Adha jatuh pada 17 November 2010 ( mengikut penetapan satu Dzulhijjah jatuh pada hari Senin, 8 November 2010 ) , sebab pemerintah dan pakar hisab dari beberapa ormas Islam seperti Nahdatul Ulama, Persis, AlWashliyah, mengambil “imkanurru’yah” ( nampaknya anak bulan dengan kedudukan diatas 2 derajat ). Sedangkan dua Ormas Islam, Muhammadiyah berdasarkan kriteria wujudul hilal menyatakan Idul Adha jatuh pada 16 November ( mengikut penentuan satu Dzulhijjah jatuh pada hari Minggu, 7 November 2010 ) . Sedangkan Hizbut Tahrir, dan beberapa kelompok umat Islam yang lain akan menetapkan hari raya dengan melihat hari wukuf di Arafah. Jika hari wukuf jatuh pada 15 November 2010, maka hari raya pada 16 November 2010.

Perbedaan metrode nampaknya anak bulan antara “ wujudul hilal ( nampaknya “ dan “imkanurrukyah “ terjadi disebabkan perbedaan dalam memahami nash dalil tentang melihat anak bulan, daripada hadis nabi Muhammad saw : “ Hendaklah kamu berpuasa karena melihat anak bulan, dan berbukalah kamu karena melihat anak bulan, dan jika langit mendung maka cukupkanlah tiga puluh hari “ ( riwayat Muslim.). Kalimat “ melihat anak bulan “ ditafsirkan dengan dua metode. Metode pertama melihat anak bulan dalam arti “ mungkin dilihat anak bulan “, sehingga jika anak bulan tidak terlihat , seperti jika ada awan, atau belum sampai ke derjat yang terlihat, maka dianggap anak bulan belum nampak. Untuk itu perhitungan bulan hijriyah sebelumnya digenapkan tiga puluh hari. Metode kedua menyatakan bahwa “melihat anak bulan “ dalam arti “ sudah adanya bulan ( wujudul hilal ) “, sehingga jika bulan sudah ada, apakah terlihat atau tidak terlihat, disebabkan kecangkihan teknologi, dan perkiraan perhitungan ( hisab ), maka sudah dapat dipakai sebagai hukum.

Perbedaan juga terjadi dengan perbedaan Matla ( tempat keluar anak bulan ). Bagi sebagian ulama, muncul anak bulan di sauatu tempat di muka bumi ini, misalnya di Saudi Arabia, di Afrika, sudah dapat dijadikan patokan adanya bulan, walaupun di negeri lain tidak terlihat. Sedangkan bagi sebagian ulama lain seperti mazhab Syafii, menyatakan bahwa perbedaan Matla’ diambil kira, sebab nampak di suatu tempat, untuk hukum di tempat terbeut, dan tidak dapat berlaku bagi tempat yang belum nampak anak bulan. Pendapat ini berdasarkan bahwa waktu shalat juga berbeda dengan adanya matla’, sebab itu perbedaan menentukan awal bulan juga dibenarkan.

Dalam Fiqih Islam, perbedaan tersebut tidak menjadi masalah, apakah itu perbedaan metodologi, ataupun perbedaan matla’, tidak harus membuat umat Islam berpecah, sebab kedua metodologi tersebut mengacu kepada dalil yang sah berdasarkan nash yang kuat. Demikian juga perbedaan matla . Dalam hadis daripada Kuraib, menyatakan bahwa Ummu Fadl menghantarkannya menemui Muawiyah di negeri Syam ” Aku tiba di Syam dan menunaikan hajatnya sedangkan pemberitahuan anak bulan berkumandang di udara. Aku melihat anak bulan pada malam Jumat kemudian aku balik ke Madinah pada akhir bulan. Pada waktu itu aku ditanya oleh Ibnu Abbas yang menyebut anak bulan. Kata Ibnu Abbas, ” Bilakah kamu melihat anak bulan ? ” Aku menjawab : ” Kami melihatnya pada malam Jumat ”. Ibnu Abbas bertanya lagi : ” Adakah engkau sendiri melihat anak bulan ? ”. Aku menjawab : ” Ya, dan orang lainpun melihatnya, mereka berpuasa dan Muawiyah juga berpuasa ”. Ibnu Abbas berkata : ” Kami disini melihat anak bulan pada malam Sabtu, oleh karena itu kami terus berpuasa hingga kami sempurnakan 30 hari atau hingga kami melihat anak bulan syawal ”. Aku bertanya lagi : ” Tidakkah memadai bagi kalian dengan terlihatnya anak bulan itu dan puasanya khalifah Muawiyah ”. Ibnu Abbas menjawab : ” Tidak, beginilah caranya Rasulullah saw menyuruh kami ”. Hadis ini menjadi dalil bahwa terlihatnya bukamn d suatu negeri tidak dapat menjadi hukum bagi negeri yang lain, dan dalil bagi dibolehkannya berbeda dalam melihat anak bulan antara satu negeri dengan negeri yang lain. Kedua-duanya adalah sah dan tidak ada yang salah. Oleh sebab itu perbedaan hari raya nanti apakah 16 November atau 17 November jangan dijadikan alasan perpecahan umat. Kedua hari tersebut adalah benar, sebab perbedaan terletak dalam perbedaan metodologi pengambilan hukum penentuan awal bulan antara ” wujudul hilal ” dan ” imkanul hilal ”, atau perbedaan mengambil satu matla’ untuk seluruh dunia, atau menjadikan perbedaan matla dengan perbedaan hari menentukan awal bulan.

Sedangkan terkait dengan perbedaan puasa hari Arafah dijelaskan sebagai berikut. Ada dua pendapat terkait hari Arafah. Pendapat pertama mengaitkan puasa hari arafah dengan wukuf jamaah haji di Arafah. Pendapat kedua tidak mengaitkan dengan wukuf, tetapi dikaitkan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, sebab puasa itu bukan karena wukuf tetapi karena jatuhnya 9 dzulhijjah. Pendapat yang mengaitkan dengan wukuf di Arafah berpendapat bahwa puasa/shaum Arafah tergantung tanggal pelaksanaan wukuf di Arafah. Pada musim haji 1431/2010 saat ini wukuf di Arafah ditetapkan pada 15 November 2010. Jadi, pada hari itulah mereka melaksanakan shaum Arafah dan beridul Adha pada 16 November 2010. Sedangkan pendapat mayoritas ulama di Indonesia dan Malaysia serta beberapa negara lainnya menyatakan bahwa puasa hari Arafah itu terjadi pada tanggal 9 Dzulhijjah yang ditetapkan secara lokal, sehingga jika hari raya 17 November maka puasa Arafah jatuh pada 16 November.
Sebagian masyarakat bingung, karena khawatir haram bila melakukan puasa pada tanggal 16 Dzulhijjah karena sebagian masyarakat sudah a beridul adha. Tidak perlu bingung, karena ibadah didasarkan pada keyakinan. Pilih dulu hari Idul Adha yang paling meyakinkan. Kalau seseorang memilih hari raya pada tanggal 17 November karena itu merupakan hasil sidang itsbat (penentuan ) pemerintah dan ormas Islam yang berdasarkan dalil syar’i, maka puasa arafah jatuh pada tanggal 16 November. Jika seseorang memilih hari raya pada 16 November sebab telah ditetapkan oleh ormas yang memakai dalil syari ” wujudul hilam ”, maka puasa Arafah jatuh pada hari Selasa 15 November. Sehingga pada hari Rabu nanti, ada kelompok yang berpuasa Arafah dan ada kelompok yang sudah shalat hari raya. Semua kelompok benar, sebab semua kelompok memakai metodologi penentuan berdasarkan dalil syar’i, hanya mereka berbeda metodologi. Hal yang paling utama, sesama pengikut kelompok jangan saling menyalahkan kelompok yang lain, atau menghina kelompok yang lain sebab semua berdasarkan kepada dalil yang kiuat. Selamat berhari raya Idul Adha, Mari berkorban dan jangan sampai menjadi korban propaganda musuh untuk memecahkan umat Islam. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Thursday, November 4, 2010

FALSAFAH QURBAN

Daging dan darahnya itu tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya “ ( QS. AlHaj : 37 )

Pengorbanan merupakan syarat untuk mencapai kemenangan dalam kehidupan. Ini merupakan peraturan hidup. Untuk itulah dalam Al Quran disebutkan bahwa : “ Inna A’thainaaka al Kaustar, Fa shalli bi rabbika wanhar, Inna Syaaniaka huwal abtar “. Biasanya surah tersbut diterjemahkan dengan : Sesungguhnya kami memberikan kepadamu telaga al Kausar. Maka dirikanlah shalat dan berkorbanlah. Sesungguhnya musuh engkau akan kalah “. Dalam kajian tadabbur alquran , tema utama surah ini adalah menjelaskan pedoman manusia untuk mencapai kemenangan. Kemenangan hanya akan dicapai jika seseorang itu telah melakukan pengorbanan dalam setiap usaha yang dilakukannya. Sebagai contoh, si Ahmad bekerja selama 8 jam, maka jika si B ingin mengalahkan si Ahmad, maka si B harus bekerja lebih lama dari si B dengan cara yang lebih baik. Jika si B telah melakukan usaha dan bekerja lebih dari si A, dengan segala pengorbanan tenaga, waktu dan lain sebagainya, maka menurut sunatullah kehidupan si B akan menang, dan si A akan kalah. Inilah sunatullah kemenangan dalam perjuangan.

“ Inna a’tahinaka al Kausar “, Kami telah memebrikan kepada engkau al Kausar. Apa itu al Kausar. Banyak hadis meriwayatkan bahwa makna al Kausar disini adalah telaga al Kausar yang diberikan nanti di dalam surga ( Hadis riwayat Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah ). Al Kaustar dapat juga bermakna nikmat yang banyak, sebab kalimat Kausar berasal dari Kasura yang berarti “banyak :. Sahabat nabi, Ibnu Abbas menyatakan bahwa Al Kausar juga bermakna “ al khair al kastir “, kebaikan yang banyak, nikmat yang banyak. dan Mujahid juga menyatakan bahwa Kausar adalah “ kebaikan di dunia dan di akhirat “ ( tafsir Ibnu Kasir, Juz 4, hal. 628). Oleh karena itu ayat “ Inna A’thainaka kal kausar “ juga dapat diterjemahkan dengan redaksi : “ Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak “. Dalam ayat ini Allah menekankan kepada kita bahwa segala nikmat yang didapat adalah pemberinan Allah. Artinya jika engkau mendapat nikmat, mendapat rezeki, mendapat kekuasaan, mendapat pekerjaan, mendapat kesenangan, mendapat kesehatan, maka ingatlah bahwa itu semua merupakan pemberian Allah kepadamu. Kerja keras, ketrampilan dan kepakaran, adalah merupakan ikhtiyar, sebab manusia diwajibkan berusaha dan bekerja. Tetapi hasil yang didapat, itu semua hanya kita dapatkan dari rahmat, nikmat dan pemberian Allah.

“ Fa shalli li rabbika wanhar “ , maka dirikanlah shalat kepada Tuhanmu dan berkorbanlah. Kalimat Fa shalli menurut sahabat bukan saja bermakna dirikanlah shalat, tetapi juga bermakna : “ bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang engkau dapatkan tersebut.”. Ayat ini adalah mendidik manusia bagaimana mempergunakan nikmat yang telah didapat. Nikmat terebut tidak boleh disia-siakan pada kegiatan yang tidak berguna, tetapi harus dapat dipakai secara positif dan produktif. “ Fa shalli” artinya dirikanlah shalat, dengan maksud jika engkau menyedari bahwa pemberi nikmat adalah Allah, maka dirikanlah shalat sebagai bukti pengabdianmu kepada Allah. Menurut sahabat nabi Ikrimah “ Fa shalli li rabbika“ juga bermakna “ usykur li rabbika , bersyukurlah kepada Tuhanmu “. ( Tafsir Durarur Mansur, Jilid 6, hal. ) Oleh karena itu ayat tersebut, dapat juga diterjemahkan dengan redaksi : “ Jika engkau telah mendapat nikmat yang banyak, maka bersyukurlah kepada Tuhanmu”. Bersyukur maksudnya adalah mempergunakan nikmat tersebut dengan cara yang baik, tidak mubazir, tidak untuk maksiat, tetapi untuk beribadah kepada Tuhan yang mencipta alam.

Pemakaian nikmat tersebut selain untuk keperluan diri sendiri dan keluarga, juga harus dapat dipergunakan untuk kepentingan orang lain dan masyarakat. Oleh karena itu maka Allah menyambung ayat “Fa shalli li rabbika” dengan kalimat “ wan Har “ , yang bermakna “ dan berkorbanlah “, sebab dalam harta kekayaan tersebut terdapat hak orang lain sebagaimana dinyatakan dalam ayat ” Fi amwalihim haqqun lissail wal mahrum ”, dalam harta kekayan mereka itu terdapat hak orang yang meminta dan orang yang memerlukan walaupun otang itu tidak meminta ”.( Surah Dzariyat : 19 ). Kekayan dan kenikmatan yang diberikan Allah adalah dimaksudkan untuk dapat dipergunakan bagi memnuhi keperluan indovidu, keluarga dan juga keperluan orang lain, sebaagimana dinyatakan dalam hadis nabi : “ Sesungguhnya Allah telah mengkhususkan kaum dengan nikmat yang diberikan kepada mereka agar mereka dapat memberi manfaat bagi orang lain “ ( hadis riwayat Thabrani daripada Abdullah bin Umar ).

Pemberian dan pengorbanan kepada orang lain tersebut sesuai dengan kenikmatan yang didapat, sehingga tidak dapat dinilai dengan bilangan tetapi diukur dengan besarnya nikmat, sebagaimana dinyatakan dalam hadis : “ Bertambah besar nikmat Allah yang diberikan kepada seseorang itu, maka bertambah besar keperluan manusia kepada orang yang memiliki nikmat tersebut “ ( Hadis dari Aisyah diriwayatkan oleh Thabrani ). Oleh sebab itu dalam sebuah hadis disebutkan : “ Sedekah satu dirham dapat mengalahkan seratus dirham “. Sahabat nabi bertanya : “ Bagaimana mungkin ya Rasulullah hal tersebut dapat terjadi ?. Rasulullah menjawab : “ Seseorang yang memiliki dua dirham, dan dia bersedekah dengan satu dirham, sedangkan seorang lagi mempunyai seribu dirham, dan dia bersedekah dengan seratus dirham; maka sedekah satu dirham tersebut, lebih utama dan lebih besar pahalanya daripada sedekah seratus dirham “ ( hadis riwayat ) Mengapa demikian, sebab sedekah satu dirham dari dua dirham adalah limapuluh persen daripada harta yang dimilikinya, sedangkan sedekah seratus dirham dari harta seribu dirham adalah sepuluh persen dari kekayaannya. Oleh sebab itu pahala sedekah satu dirham ( dari dua dirham ) lebih besar dari pahala sedekah seratus dirham.

Setiap muslim yang memiliki kemampuan dan kekayaan mempunyai tanggungjawab sosial kemasyarakatan, apalagi terhadap kelangsungan dan perjuangan agama, dengan memberikan sebagian harta kekayaan tersebut untuk keperluan orang lain dan keperluan perjuangan agama. Itulah sebabnya dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda : “ Siapa yang memiliki kelapangan pada hari ini ( harui raya Idul Adha ) dan dia tidak mau berkorban, maka janganlah dia dekat-dekat dengan tempat shalat kami ini ( masjid nabi ). “.Hadis riwayat Ahmad,dan Ibnu Majah. Maksud hadis ini adalah jika seorang muslim memiliki kekayaan dan kelapangan, maka hendaklah dia melakukan pengorbanan kepada agama dengan melaksanakan korban. Jika dia tidak mau berkorban sedangkan dia memiliki kekayaan berarti dia bukan bagian dari umat Islam ( dalam arti jamaah ), sebab dia tidak memiliki tanggungjawab sosial. Oleh sebab itu lebih baik dia tidak datang ke masjid, sebab kedatangan ke masjid adalah sebagai tanda memiliki kepedulian sosial dan sedia untuk berkorban demi agama. Sebab tujuan shalat jamaah adalah untk memperkuat jamaah dan umat, sedangkan kekuatan jamaah hanya dengan pengorbanan umatnya terhadap agama dan keoedulian terhadap jamaah yang lain.

Pengorbanan kepada agama dengan harta kekayaan merupakan syarat kemengan suatu agama, sebab itulah dalam kitab suci al Quran, banyak dijumpai ayat yang menyatakan “ “ Jahidu fi sabilillah bi amwalikum wa anfusikum “, berjihadlah, berjuanglah di jalan Allah denganh harta kamu dan diri kamu “. Sikap bersedia untuk berkorban inilah merupakan kunci kemenangan dalam perjuangan. Siapam yang lebih berkorban, maka dia akan meanng; dan dapat mengalahkan perlawanan musuh. Itulah sebabnya setelah perintah berkorban, Allah menyatakan dalam ayat selanjutnya “ Inna Syani’aka huwal abtar “, Sesungguhnya musuh-musuh engkau akan kalah “. Seakan-akan makna ayat adalah : Jika engkau telah mengorbankan harta kekayaan engkau, kenikmatan yang engkau terima untuk perjuangan dalam menegakkan agama , maka barulah musuh-musuh engkau akan kalah “. Ini merupakan sunatullah, merupakan hukum bagi kehidupan. Siapa aja, agama apa saja, umat apa saja, yang lebih banyak berkorban, yang lebih banyak mengorbankan segala sesuatu untuk agamanya, maka agamanya akan menang dibandingkan agama-agama yang lain. Umat apa saja yang peduli dengan saudaranya yang lain, maka umat tersebut akan unggul dibandingkan denganumat yang lain.

Agar umat Islam dapat memiliki sikap pengorbanan tersebut, maka dalam setiap tahun, disunatkan bagi mereka yang mampu melakukan penyembelihan hewan qurban di hari raya Idul Adha. Tujuan utama adalah disunatkan menyembelih hewan qurban adalah mendidik semangat pengorbanan bagi umat Islam untuk masyarakat dan agamanya sepanjang hidup. Inilah falsafah qurban. Semoga semangat qurban umat Islam bukan hanya pada hari traya idul qurban saja, tetapi tetap menyala sepanjang umur dikandung badan, sehingga hari kiamat kelak. Fastabiqul khairat. ( Kuala Lumpur, 26 DzulQa'dah 1431, Muhammad Arifin Ismail ).

Tuesday, September 21, 2010

KHUTBAH HARI RAYA IDUL FITRI 1431/2010

MENGHADAPI KEHIDUPAN

DENGAN PRIBADI TAQWA DAN FITRAH YANG SUCI

(Khutbah Idul Fitri 1431 Hijrah di Wisma Duta , Kuala Lumpur )

Oleh : Muhammad Arifin Ismail.


Allahu Akbar, Allahu Akbar..Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillaahilhamd.



Pada pagi hari ini, di hari Idul Fitri ini, berjuta-juta umat Islam mengucapkan syukur ke hadirat Allah atas segala nikmat yang telah diberikan, khususnya nikmat bulan Ramadhan bulan yang khusus diciptakan untuk mendidik umat Islam agar mencapai kedudukan yang tertinggi dan mulia yaitu menjadi manusia taqwa.



“ Hai orang-orang yang beriman kamu diwajibkan untuk berpuasa di bulan ramadhan sebagaimana umat yang datang sebelummu, sehingga kamu dapat menjadi manusia yang bertaqwa “ ( QS. Al Baqarah : 183 )



Alhammdulillah kita telah dapat menyelesaikan puasa di bulan ramadhan yang penuh berkah dan merayakan Idul Fitri hari kemenangan sehingga ramadhan dapat membentuk ketahanan diri, anti body, antivirus dari segala virus dan penyakit kehidupan dan dengan idul fitri kita dapat kembali kepada fitrah yang suci.



Alhamdulillah kita telah dapat menjadikan sepuluh akhir ramadhan sebagai hari-hari I’tikaf, sebagai muhasabah diri, refleksi kehidupan tahun yang lalu dan bermunajat , merancang kehidupan setahun mendataang diantara malam-malam lailatul qadar, sebagai hari penentuan qadha dan qadhar bagi seluruh makhluk di alam semesta.



Alhamdulillah kta telah dapat melaksanakan tadarus al Quran, diantara malam-malam ramadhan, sebagai sarana untuk mengkaji, mempelajari, memahami petunjuk Ilahi bagi meniti kehidupan dan meraih kebahagian di dunia dan di hari kemudian nanti.



Alhamdulillah kita telah melaksanakan shalat tarawih berjamaah, untuk memperkokoh hubungan kepada Tuhan dan mempererat rasa persaudaraan sesama insan, sehingga dapat menghilangkan pperpedaan pendapat, perselisihan dan pertikaian. Shalat taraweh juga sebagai lambang persatuan umat, persaudaraan dan kedamaian



Alhamdulillah, kita telah dapat menghadapi kehidupan siang dengan pekerjaan yang terbaik, melaksanakan tugas khalifah di dunia, tanpa hasad, dan dengki, tanpa tiya dan sombong, sebab kita melaksanakan tugas dan pekerjaan masing-masing di tengah menjalanai puasa ramadhan. Inilah hari-hari teladan dalam kehidupan, hari yang penuh dengan ibadah ritual, dan amal shaleh.



Alhamdulillah kita telah dapat mengisi ramadhan dengan hari-hari yang penuh dengan sedekah, zakat maal dan zakat fitrah, untuk mendidik pribadi peduli kepada orang lain, dan pribadi selalu mensucikan profesi dan harta kekayaannya dengan mengeluarkan kewajiban zakat, sedekah, wakaf, hibah, demi menegakkan kalimatullah di atas bumi Allah. Pribadi sedekah adalah peribadi siap mengorbankan harta dan diri untuk perjuangan menegakkan kebenaran, mempertahankan agama, bangsa dan negara.



Alhamdulillah, kita telah menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh, sebagai sarana pembersihan jiwa, pembersihan toksin dari badan, sehingga kita memiliki jiwa yang kuat, badan yang sehat, hati yang ikhlas, pikiran yang suci, sebagai modal menghadapi segala peroslan hidup di masa depan.



Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar , Walillahil hamd.



Tujuan puasa ramadhan adalah menjadikan orang – orang yang beriman menjadi manusia yang bertaqwa, manusia yang termulia sebagaimana tertulis di akhir ayat perpuasa “ la’allakum tattaqun “, semoga kamu menjadi orang yang bertaqwa. Mengapa bertaqwa menjadi tujuan puasa ? Sebab predikat taqwa, gelar taqwa adalah pangkat tertinggi disisi Alllah, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran :



“ Sesungguhnya manusia di antara kamu yang paling mulia di sisi Allah adalah manusia yang bertaqwa” ( QS. Al Hujurat : 13 )



Siapakah manusia taqwa ? Bagaimanakah ramadhan memproses dan mentransformasi seorang manusia menjadi manusia taqwa?



Pribadi taqwa yang dibentuk oleh ramadhan, dan pribadi fitrah, pribadi yang suci, pribadi yang dapat mengendalikan diri, pribadi yang siang hari bekerja dengan penuh semangat ibadah, dan malam hari beribadah dengan penuh khusyuk. Pribadi taqwa adalah pribadi khalifah dan ibadah, sebagaimana pribadi generasi sahabat “ Kami adalah generasi yang menjadi singa di siang hari, dan menjadi rahib di malam hari “. Karena hanya pribadi beriman, taqwa dan suci yang dapat menjadi khalifah Allah di muka bumi, penguasa dunia yang tabah dan tahan menghadapi segala cobaan dan tantangan kehidupan, dan dapat mengalahkan segala godaan dan nafsu syetan. Pribadi yang selalu menghadapi kehidupan dengan petunjuk al Quran, dan mengkonsultasikan segala persoalan kehidupan dengan menegakkan shalat. Inilah pribadi sahur, pribadi yang selalu siap sedia menghadapi segala tantangan kehidupan dengan iman dan amal.



Manusia taqwa adalah manusia suci. Manusia yang mempunyai jiwa yang suci, yaitu jiwa yang selalu taqarrub dan berhubungan dengan Dzat Allah subhana wa taala melalui shalat dan qiyamullail.



Manusia taqwa adalah manusia yang memiliki pikiran yang suci, pikiran yang berpandukan pada ayat-ayat suci Al Quranul karim yang dikaji dan dipelajari melalui tadarus setiap hari.



Manusia taqwa adalah manusia yang mempunyai pribadi yang suci, pribadi yang dapat mengendalikan hawa nafsu, dapat menjaga nafsu makan dan nafsu syahwat sesuai dengan hukum Ilahi. Pribadi yang dapat mengendalikan diri dalam kehidupan dunia, sehingga dapat menjadikan dirinya sebagai penguasa kehidupan dunia bukan dikuasai oleh kehidupan dunia. Menjadikan dunia sebagai sarana untuk kebahagian akhirat, bukan menjual akhirat untuk kebahagiaan dunia.Inilah pribadi shiyam di siang hari selama bulan ramadhan yang suci.



Manusia taqwa adalah manusia yang mempunyai harta kekayaan dari sumber yang halal melalui pekerjaan dan perbuatan yang suci, bukan dari uang riba, bukan dari uang korupsi, atau dari pekerjaan yang diperoleh dengan cara-cara yang bersih dan suci. Inilah pribadi berbuka ( Iftar ) dan dan pribadi sahur ( sahr ), pribadi yang mencari makanan dari makanan yang halal dan suci.



Pribadi taqwa adalah pribadi yang selalu merasa bahwa harta kekayaan yang telah diperolehnya bukanlah miliknya sendiri tetapi merupakan milik Allah yang diamanahkan kepadanya , untuk dipergunakan seperlunya sedangkan selebihnya harus dikeluarkan untuk paqir miskin, untuk anak-anak yatim, untuk para musafir, untuk orang yang susah karena hutang, untuk segala sesuatu yang diperlukan demi menegakkan kalimatullah, demi jihad fi sabilillah. Inilah maksud daripada zakat fitrah yang diwajibkan sewaktu kita mengakhiri ramadhan.



Pribadi taqwa adalah pribadi yang mencari harta dengan jalan yang suci, dan dapat mensucikan pendapatan serta harta kekayaan tersebut melalui sedekah, zakat harta dan zakat fitrah.



Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.



Ramadhan membentuk kita menjadi manusia taqwa yaitu manusia yang mempunyai jiwa yang suci, pikiran yang suci, pribadi yang suci, harta dan pekerjaan yang suci. Manusia taqwa harus memiliki seluruh dimensi kehidupan tersebut, mengamalkan Islam secara kaaffah, secara total. Islam dalam kepribadian, Islam dalam harta kekayaan, Islam dalam mencari pekerjaan, Islam dalam kehidupan budaya ,sosial, ekonomi dan politik Islam dalam pemikiran, Islam dalam seluruh dimensi kehidupan. Inilah tujuan ramadhan. Membentuk manusia dalam suasana keislaman dalam seluruh sisi kehidupan.



Bukanlah manusia taqwa jika sibuk dengan shalat, umrah dan haji sahaja tanpa mengeluarkan zakat harta sedangkan hartanya telah sampai pada nisab. Dia tidak pernah peduli dengan nasib faqir miskin, tidak peduli dengan keadaan orang Islam yang lain, tidak peduli dengan keadaan madrasah, pesantren, masjid, perpustakaan Islam, rumah sakit Islam, surat kabar Islam, sarana – sarana dakwah dan perjuangan umat Islam yang masih memerlukan bantuan serta uluran tangan para aghniya.



Al Quran menyatakan : “ Tidaklah kamu sekali-kali dapat mencapai kebaikan yang sempurna sebelum kamu menginfaqkan sebagian dari harta kekayaan yang kamu miliki dan cintai “ ( QS. Ali Imran : 92 ).



Rasulullah juga bersabda : “ Bukanlah termasuk umatku mereka yang tidak pernah peduli dengan keadaan umat Islam yang lain “ Bukan manusia taqwa jika dia sibuk berzikir saja , sibuk membaca Al Quran sedangkan perbuatannya masih dipenuhi oleh hawa nafsu, oleh rasa sombong, tamak, angkuh, sehingga dia merasa hanya dirinya, kelompoknya, golongannya saja yang suci dan islami sedangkan yang lain semuanya salah. Manusia taqwa adalah manusia ukhuwah, dan tawadhu’, bukan manusia sombong dan angkuh.



Manusia taqwa adalah manusia yang mempunyai sikap, tingkah laku dan berbuatannya sehari-hari dapat menjadi rahmat bagi manusia yang lain sehingga dapat mengajak manusia kepada nilai-nilai Islam. Inilah manusia “ rahmatan lil alamin “.



Bukan manusia taqwa mereka yang dalam sehidupan sehari-hari selalu berbuat baik kepada manusia yang lain, tetapi dia lupa untuk baik kepada Allah melalui shalat dan qiyamullail. Bukan juga manusia taqwa mereka yang mempunyai kehebatan luar biasa seperti terbang di atas angin, sehingga sampai ke tingkat keramat , wali , setengah nabi , tetapi shalat dan pelaksanaan syariat Islam tidak pernah terbukti.



Pribadi taqwa adalah pribadi yang sempurna. Pribadi yang mempunyai jiwa dan nafsu terkendali dengan syariat agama. Pribadi yang selalu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan petunjuk Tuhan. Pribadi yang memiliki harta kekayaan yang dipergunakan untuk membantu makhluk yang membutuhkan. Pribadi taqwa yang dibentuk oleh Ramadhan seperti inilah pribadi yang dapat kembali kepada fitrah kemanusiaan, fitrah hamba Allah yang suci. Inilah pribadi Idul Fitri.



Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd.



Pribadi taqwa dan pribadi fitrah yang suci seperti inilah yang dibentuk oleh Allah sekarang ini untuk dapat menguasai dunia. Dibentuk untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi, membawa manusia dan kehidupan kepada kehidupan yang lebih cemerlang dengan tamadun bagi kemanusiaan.



Tokoh Sosiologi Dunia, Ibnu Khaldun telah menyatakan bahwa pergantian kejayaan umat manusia menurut tinjauan sejarah berganti setiap tujuh abad. Pada abad pertama sampai abad ke tujuh dunia di kuasai oleh bangsa Yunani dan Romawi. Dari abad ke tujuh sampai abad ke empat belas, dunia dikuasai oleh ummat Islam , terbukti sejak zaman nabi dan sahabat dengan kecemerlangan akhlak dalam masyarakat Madinah, dilanjutkan dengan zaman keemasan ilmu pengetahuan, dan peradaban seperti di Baghdad, Cordova, di Andalusia sampai kepada kejayaan Dinasti Usmaniyah di Turki. Sejak abad ke-empat belas sampai abad sekarang, dunia di kuasai oleh budaya dan peradaban Barat. Akhir-akhir ini telah Nampak mulai keruntuhan barat yang ditandai dengan keruintuhan rezim Komunisme, disusul dengan kehancuran ekonomi kapitalisme, bergeser sedikit demi sedikit digantikan oleh sistem skonomi syariah. Pada saat yang sama di negeri Barat, setiap hari Islam tambah diminati, sehingga masyarakat mulai mencari kebenaran dari ayat-ayat Al Quran, sistem kehduan Islam, dari pribadi Rasulullah. Inilah yang menyebabkan bertanbah hari bertambah banyak masyarakat barat yang memeluk agama Islam, sebab setelah melakukan pencarian dan pengkajian ternyata sistem Islam merupakan solusi kehidupan di masa depan.



“ Demikianlah hari-hari itu ( masa kejayaan dan masa kehancuran ) Kami pergilirkan di antara manusia agar Allah dapat membedakan orang yang beriman daripada orang yang kafir dan supaya sebagian dari mereka menjadi syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim “ ( QS. Ali Imran : 140 ).



Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.


Ini semua bukan kebetulan. Tetapi taqdir Allah yang telah direncanakan dan ditentukannya dengan Qadha dan Qadar-Nya. Berarti di dalam al Quran, di dalam pribadi kehidupan rasulullah, di dalam system Islam terdapat nilai-nilai yang harus kita kaji untuk menjadi pelajaran dan pedoman bagi umat manusia khususnya bagi umat islam.



“ Hai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah..dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatkan untuk menghadapi hari esok dan bertaqwalah kepada Allah . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan .Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq . Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni syurga. Penghuni syurga itulah mereka yang menang dan beruntung “. ( QS. Al Hasyr : 18 - 20 )



Dari ayat ini Allah menyuruh kita umat Islam, untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi abad mendatang , menghadapi problematikan kehoidupan yang bersifat individual, bersifat sosial, dan global dengan penuh ketaqwaan. Kita tidak boleh seperti mereka yang selama ini memerintah di masa-masa yang lalu dengan sikap melupakan Tuhan sehingga Allah melupakan diri mereka sendiri, sebagaimana yang terjadi sekarang ini. Itulah sikap orang yang fasiq. Dunia pada saat sekarang ini telah hancur karena diperintah oleh mereka yang fasiq. Maka kita sebagai umat yang ditempa oleh ramadhan harus mempersiapkan diri untuk menggantikan kedudukan mereka tersebut.



Kita harus dapat mengambil kepemimpinan di abad mendatang dengan pribadi beriman, pribadi yang suci, pribadi taqwa. Inilah pribadi “ minal Aidin wal faizin “, pribadi yang kembali kepada fitrah ” Minal Aidin ” untuk meraih kemenangan ” Wal Faizin ”. Pribadi ” Minal Aidin ” adalah pribadi yang kembali kepada fitrah iman, fitrah kesucian, fitrah menjadi manusia yang bertaqwa. ” Wal Faizin ” adalah pribadi yang dapat meraih kemenangan, pribadi yang berprestasi, pribadi yang tangguh dalam menghadapi setiap tantangan dan poblematika kehidupoan, pribadi khalifah Allah di muka bumi.



Semoga kita dapat memasuki kehidupan di tahun-tahun mendatang dengan jiwa yang suci, jiwa yang selalu bertaqarrub kepada Allah, jiwa yang dibentuk oleh shalat dan qiyamullail, bukan jiwa yang hampa dan lepas dari bimbingan Allah Taala.



Semoga kita dapat menghadapi setiap tantangan masa depan dengan pribadi yang suci, pribadi yang dapat mengendalikan nafsu dan emosi, pribadi shiyam, bukan pribadi yang tamak akan kekayan dan kedudukan, bukan pribadi yang sibuk dengan kehidupan materialime, hedonisme, pribadi foya-foya, pribadi bebas merdeka tetapi menjadi budak hawa nafsu dan tunduk di bawah rayuan syetan dan godaan dunia.



Semoga kita dapat memasuki kehidupan mendatang dengan pedoman Al Quran dan mencontoh kehudpna Rasul sehingga menjadi masyarakat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Masyarakat yang suka kerja keras untuk mengolah sumber daya alam, sebagai bukti kekhalifahan manusia di muka bumi. Berusaha mencari kekayaan dari sumber yang halal, menjadi masyarakat yang berprestasi , masyarakat produktif, masyarakat yang berakhlak mulia, masyarakat yang peduli dengan yang lain, dan siap berbagi dalam setiap kehidupan, sehingga masyarakat muslim merupakan masyarakat teladan sebagaimana yang telah dilakukan oleh masyarakat-masyarakat muslim terdahulu.



Masyarakat muslim adalah masyarakat yang aktif, produktif, bukan masyarakat yang malan dan konsumtif. Masyarakat muslim adalah masyarakat berilmu, berwawasan, berpikir untuk masa depan bukan masyarakat yang jahil, statis, fanatik, dan jumud. Masyarakat muslim adalah masyarakat yang membina akhlak mulia, persaudaraan sesama manusia, dan siap memberikan pelayanan terbaik kepada mereka yang memerlukan, bukan masyarakat individualis, egois, tertutup dan mementingkan kepentingan diri dan hawa nafsu. Inilah masyarakat ramadhan, masyarakat fitrah, masyarakat rtakbir, tahlil dan tahmid, masyarakat yang bertaqwa.



Allahu Akbar, Allahu Akbar , Allahu Akbar walillahilhamd.



Kita harus waspada bahwa setelah ramadhan berlalu ,syetan akan menggoda kita sehingga jiwa, pikiran dan hati kita kembali kotor, nafsu kita kembali tak terkendali, budaya berfoya-foya, budaya miras dan narkoba, budaya korupsi dan nepotisme, budaya pub dan diskotik, budaya berbusana modern tanpa menutup aurat, budaya hura-hura, akan menjerat kita kembali menjadi manusia yang nista.



Wahab bin Munabbih menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadis pernah bersabda : “ Jika tiba hari raya Idul fitri maka Iblis berteriak memanggil seluruh pasukan dan anakbuahnya. Seluruh anak buah dan pasukan Iblis bertanya : Wahai pemimpin kami, apakah yan telah terjadi..sehingga engkau memanggil kami semua berkumpul disini..?



Maka berkata iblis : “ Aku kumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting. Ketahuilah bahwa pada hari ini , hari raya Idul Fitri, Allah Taala telah memberikan ampunan-Nya kepada umat Muhammad. Maka sekarang tugas kalian semua adalah menggoda mereka semua sehingga mereka kembali sibuk dengan kehidupan yang berfoya-foya, berpesta pora dengan segala kesenangan dunia, sehingga mereka tenggelam dalam nafsu birahi serta minuman yang memabukkan sehingga akhirnya Allah Taala kembali marah terhadap keadaan mereka yang sedemikian rupa”.



Orang mukmin yang sadar dan berakal, akan berusaha agar dirinya setelah ramadhan ini tetap dalam keadaan kesucian diri, hidup dengan penuh ketaatan dan ketaqwaan, dan mencegah dirinya dari kehidupan pesta pora, kehidupan hura-hura, kehidupan yang penuh dengan nafsu dan mencari kesenangan semata.



Rasulullah saw bersabda : “ Jika datang kepadamu hari raya Idul fitri, maka bersungguh-sungguhlah kamu pada hari itu untuk memberikan sedekah , dan melakukan perbuatan yang baik, seperti mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, membaca tasbih, membaca tahlil, karena pada hari itu Allah akan memberikan ampunan-Nya atas dosa-dosamu , dan menerima setiap doa – doa kamu, serta melihat kamu sekalian dengan pandangan penuh rahmat “.



Itulah sebabnya Anas bin Malik berkata bahwa ada lima Hari Raya bagi seorang muslim. Hari Raya pertama jika seseorang itu dapat melalui hari-harinya tanpa melakukan suatu dosa. Maka hari yang suci itu menjadi hari raya baginya.



Hari Raya kedua jika seseorang itu meninggalkan dunia dengan keimanan dan mati syahid, serta terlepas dari godaan syetan. Maka hari itu menjadi hari raya kedua baginya.



Hari Raya ketiga jika seseorang itu nanti di hari akhirat dapat melintas di atas shirat atau jembatan di akhirat dengan selamat dari api neraka dan terhindar dari siksaan kiamat. Itu merupakan hari raya ketiga baginya.



Hari raya ke-empat adalah hari dia akan masuk ke dalam syurga.



Sedangkan hari raya ke-lima adalah hari dia dapat melihat Tuhannya Allah subhana wataala di hari akhirat kelak.



Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.



Semoga kita dapat memasuki kehidupan mendatang dengan pribadi taqwa dan suci, pribadi yang mengamalkan Islam dalam seluruh dimensi, sehingga kita menjadi pribadi yang suci , pribadi Minal Aidin..( pribadi yang kembali kepada fitrah yang suci ) sehingga kita menjadi pribadi “ Faizin “ pribadi yang dapat meraih kemenangan di masa-masa mendatang.



Semoga Allah menerima ibadah kita selama bulan ramadhan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri….Mohon Maaf lahir dan Batin..

Taqabalallahu minnaa wa minkum….Minal Aidin wal Faizin



Kuala lumpur, 1 Syawal 1431/10 September 2010



MUHAMMAD ARIFIN ISMAIL

Akibat Rencana Membakar Al Quran

“ Sesungguhnya Kami yang menurunkan kitab suci al Quran dan Kami akan tetap memeliharanya “ ( Qs. Al Hijr : 9 )

Rencana Pendeta Terry Jones untuk membakar Al quran dalam peringatan tragedi 19 September yang tidak jadi dilakukan akibat memicu kemarahan dunia islam ternyata dilakukan oleh rekan seprofesinya.. Pelakunya adalah Pendeta Bob Old dan Pendeta Danny Allen, keduanya membakar Al Quran pada Sabtu (11/9) di hadapan sekelompok orang yang sebagiannya merupakan awak media. Kedua pendeta itu menyiram dua buah Al Quran dan sebuah teks Islam lainnya dengan cairan pembakar, lalu menyulutnya dengan api. Mereka menyaksikan bersama-sama kitab suci umat Islam itu menjadi abu. Aksi dua pendeta itu dilakukan di pekarangan belakang kediaman Old si Springfield, di kawaanTenesse , Amerika Syarikat. Mereka mengatakan aksinya merupakan pesan dari Tuhan.

Malahan menurut pendeta Bob Old mengatakan bahwa gereja telah mengecewakan banyak orang karena tidak mendukung aksinya. "Saya yakin bahwa sebagai negara kita berada dalam bahaya," ujarnya sebagaimana dikutip media online Tennessean.com (12/10). "Ini adalah buku berisi kebencian, bukan cinta," katanya sambil memegang Al Qur`an sebelum kemudian membakarnya. "Ini adalah kitab palsu, Nabi Muhammad adalah nabi palsu dan itu merupakan wahyu palsu," tambahnya. Kedua pendeta itu lantas melakukan apa yang disebutnya sebagai "demonstrasi damai" dengan sedikit gegap gempita. Delapan orang wartawan ikut menyaksikan aksi kedua rohaniwan gereja itu.
Setelah pembakaran tersebut, tersebar berita bahwa Pendeta Bob Old meninggal dunia akibat kecelakaan jalan raya yang terjadi sehingga mobilnya terbakar, dan dirinya ikut tewas dalam kecelakaan tersebut. Demikian berita kecelakaan tersebut tersebar melalui situs seperti firetrainingsite dan beberapa situs yang lain. Walaupun setelah beberapa hari kemudian artik el yang berkaitan dengan peristiwa tersebut tidak dapat dilacak kembali.
Pembakaran al Quran juga terjadi di kawasan lain di Amerika yaitu kawasan Michigan. Pada hari Sabtu bertepatan dengan peringatan 9/11, anggota komunitas setempat mendapati adanya al-Qur`an yang dibakar dan lembaran halamannya dikotori dengan feses. “Membakar Qur`an di masjid sama dengan membakar salib di gereja orang kulit hitam,” kata Dawud Walid, eksekutif direktur dari CAIR-Michigan, merujuk taktik yang biasa digunakan untuk mengintimidasi pihak lawan pada zaman gerakan hak-hak sipil di AS.
Menurut keterangan Lt. Polisi Kevin Daley, peristiwa terjadi antara Jumat (10/9) pukul 11 malam hingga Sabtu (11/9) pukul 01.30 dini hari. Polisi belum mendapatakan tersangka maupun saksi dan keamanan di sekitar masjid yang terletak di Jalan Harisson Selatan itu ditingkatkan. Jurubicara pengurus masjid Abdalmajid Katranji mengatakan, meskipun insiden terjadi pada hari Sabtu, namun pihaknya baru melapor keesokan harinya (12/9). Hal itu untuk menghormati peringatan 9/11. “Kami merasa hari Sabtu memiliki tujuan sendiri, … dan kami ingin memastikan (mereka) fokus pada isu 9/11,” ujar Katranji. “Kami tidak ingin pesannya tercampuraduk. Kami menentang apa yang terjadi pada peristiwa 9/11,” jelasnya.
Oleh sebab itu Council on American-Islamic Relations (CAIR) cabang Michigan, meminta FBI melakukan penyelidikan atas insiden pembakar al-Qur`an di sebuah masjid di East Lansing. Walikota East Lansing Victor Loomis telah bertemu dengan para pengurus masjid. “Itu merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dan kami mengecam siapa saja yang melakukan aksi ini,” kata Loomis sebagaimana dikutip Free Press (12/9). “Saya mencurigai, begitu juga pengurus pusat Islam, bahwa pelakunya orang dari luar komunitas kami.”
Sebelumnya, Associated Press melaporkan, hari Rabu (8/9), tiga orang pria diduga melakukan vandalisme atas dinding sebuah masjid di Hudson, New York. Mereka kemudian dikenai tuduhan vandalisme dan tindak kejahatan dengan dasar kebencian.
Di tempat lain , pada Hari Sabtu (11/9) di Phoenix, kaca-kaca jendela sebuah masjid yang sedang dibangun dilempari hingga pecah dan dindingnya dicorat-coret dengan tulisan anti-Muslim. Menurut Arizona Republic, FBI sedang menyelidiki insiden tersebut.

Salinan Al-Quran yang dibakar juga ditemukan di tong sampah di luar masjid San Fransisco minggu lalu. Situs Bay City News (18/9) mengutip sumber CAIR memberitakan, Quran yang telah dibakar itu ditemukan Minggu, di tong sampah di luar gedung Islam Society of San Francisco, yang terletak di 20 Jones Street. Hal itu dikemukakan Zahra Billo , direktur program CAIR cabang Bay Area.
Menurut Billo, Al-Quran yang ditemukan di tong sampah itu telah diambil semalam sebelumnya. “Sebagian sudah menjadi abu, tapi Anda masih bisa melihat bahwa itu adalah mushaf Quran,” katanya. Insiden itu telah dilaporkan kepada CAIR pada hari Senin, dan sejak itu telah dilaporkan ke polisi San Francisco dan kantor FBI San Francisco.
Juru bicara polisi San Francisco Albie Esparza mengkonfirmasi, bahwa mereka sedang menyelidiki insiden itu, dan mengatakan tidak ada penangkapan. “Ini sangat tidak-Amerika dan tidak mencerminkan perilaku warga Bay Area,” kata Billo. CAIR telah meminta masyarakat Muslim untuk waspada terhadap kejahatan berdasar kebencian (anti-Islam) lainnya benci yang mungkin terjadi. “Komunitas antaragama dan orang-orang berhati nurani akan mendukung komunitas kami,” pungkasnya kepada Bay City News.
Upaya untuk membakar Al-Quran yang dilakukan oleh para ekstrimis dari berbagai agama khususnya Kristen di Amerika Serikat ternyata malah membuat meningkatnya warga AS yang masuk Islam, di mana menurut laporan pemantauan pers terjadi lonjakan yang signifikan dalam kasus orang yang masuk Islam di seluruh negeri.

Muhammad Al-Nassir, Direktur Pusat Islam dari wilayah metropolitan Washington, yang meliputi lima area termasuk Maryland, Virginia dan Washington, DC, menyatakan bahwa sekitar 180 orang AS termasuk seorang wanita dari berbagai usia telah menyatakan diri masuk Islam bertepatan dengan adanya ancaman membakar al-Quran pada 11 September lalu dan terkait pro-kontra rencana pembangunan masjid di dekat lokasi Ground Zero di New York, menurut laporan yang diposting situs Al Arabiya.net

Nassir menghubungkan penyebab tingginya warga AS yang menyatakan diri masuk Islam di daerah vital atau kota utama Amerika Serikat karena mereka membaca dan mempelajari tentang Islam dan biografi Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan mereka tertarik lebih jauh untuk belajar tentang Islam.

Seorang warga negara Amerika Serikat, bernama Robert Spencer, dari timur laut Washington, DC, yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi “Abdul Rahman” mengatakan: “Saya mengikuti pertumbuhan pesat agama Islam di dunia Barat, dan orang-orang di sini mengakui bahwa jumlah orang yang masuk Islam setiap tahun di dunia Barat sangat besar dan cepat, dalam 12 tahun telah dibangun lebih dari 1200 masjid di Amerika Serikat (rata-rata seratus masjid setahun), dan hal itu adalah aneh bahwa sebagian besar orang-orang yang memeluk Islam adalah warga Amerika yang beralih menjadi pendukung Islam yang kemudian melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang luar biasa! “.

Moran (33 tahun) dari negara bagian Virginia, yang merupakan seorang peneliti menegaskan bahwa 20 ribu orang Amerika masuk Islam setiap tahunnya setelah peristiwa 11 September.
“Seiring berjalannya waktu, kunjungan warga AS semakin meningkat ke masjid, dan tidak terbatas pada masjid, tetapi mereka juga mengunjungi Islamic Center yang ada di Washington, Virginia, Minnesota dan tempat lainnya,” kata pimpinan Darul Huda AS.
Masyarakat barat adalah masyarakat yang sudah terbiasa dengan sikap pencarian, penelitian, dan pengkajian. Mereka tidak mudah menerima isu, sehingga terlihat imbauan pendeta Tery Jones untuk membakar kitab suci Al Quran hanya dilakukan oleh segelintir kelompok yang fanatik dan ternyata sikap itu mendapat balasan daripada Allah taala. Lebih hebat lagi, imbauan membakar al Quran tersebut menimbulkan sipa pencarian apa itu al Quran, pengkajian al Quran sehingga membuat sekian banyak masyarakat barat yang tertarik dengan al Quran, sehingga mereka mendapatkan cahaya al Quran untuk menerangi kehidupan mereka. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Sunday, August 29, 2010

CARA RASULULAH MENYAMBUT HARI RAYA

CARA RASULULAH MENYAMBUT HARI RAYA

“ Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan puasa ramadhan , kemudian bertakbir mengagungkan Allah “ ( QS. AlBaqarah : 185 )

Biasanya menjelang hari raya Idul Fitrie , masyarakat kita membuat sekian banyak persiapan. Ada yang sibuk membeli baju baru, sepatu baru, celana baru, dan segala perlengkapan diri lainnya. Ada lagi yang sibuk mengganti perabot rumah dari kursi sampai tempat tidur yang baru, dan ada yang sibuk mengecat rumah. Ada lagi kelompok yang sibuk dengan membuat kue , dan membeli segala persiapan makanan dan minuman yang beraneka ragam dengan alasan menghadapi lebaran. Tanpa disadari kesibukan itu semua kadang-kadang menganggu kekhusyukan suasana bulan ramadhan. Sepatutnya di hari-hari terakhir bulan ramadhan kita lebih bergiat dalam beribadah, bertadarus, beri’tikaf, dan lain sebagainya; ternyata di saat akhir itulah kita bergiat dalam berbelanja dan menghabiskan uang yang kadang-kadang terkesan mubazir.

Puasa sepatutnya membentuk kita menjadi manusia yang sederhana, ternyata di akhir puasa kita bersiap-siap menjadi manusia yang mempamerkan kekayaan melalui pakaian, perabot rumah tangga dan lain sebagainya. Dengan puasa kita dibentuk menjadi manusia pemurah, manusia pemberi, bukan manusia yang rakus, yang hanya memikirkan perut dan diri sendiri. Ternyata suasana hari raya sering membuat kita lupa diri, sehingga kita hanya sibuk membeli makanan dan minuman dan segala sesuatu hanya untuk diri sendiri, sementara disana masih sekian banyak orang yang memerlukan bantuan. Kita beranggapan sudah ada yang mengurus keperluan hidup mereka , dan kita beranggapan bahwa mereka itu sudah cukup diberi zakat fitrah yang hanya berjumlah lima ringgit, sementara kita dapat menghabiskan uang sebanyak lima puluh atau seratus ringgit dalam sekejap mata. Inikah sikap manusia ramadhan..?

Tanpa terasa persiapan menghadapi hari raya yang seharusnya lebih banyak bersifat ibadah, ternyata telah berubah menjadi budaya dan tradisi yang bersifat foya-foya, pamer kekayaan materi, dan hanya memikirkan diri sendiri. Dalam sebuah hadis , rasulullah menganjurkan kita agar mempersiapkan diri pada waktu hari raya dengan mendekatkan diri kepada Allah dengan sabda beliau : “ Zayyinu A’yaadakum bittakbiir “, hiasilah hari rayamu dengan mengagungkan nama Allah “. Dalam hadis lain beliau juga menyatakan : “ Layyinu al I’daini bittahlil, wattaqdis, wattahmid, wattakbir “, Lunakkanlah dua hari raya idul fitri dan idul Adha dengan banyak membaca ucapan tahlil , tahmid ( memuji Allah ) dan taqdis ( mensucikan nama Allah )”. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan diri menjelang hari raya :

1. Memperbanyak takbir di malam hari raya. Setelah terbenam matahari di akhir bulan ramadhan, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengucapkan takbir “ Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar....Laa ilaaha illallah wallahu Akbar ..Allahu Akbar walillahilhamd “, dengan penuh penghayatan akan makna yang terkandung di dalamnya. Sepatutnya setiap individu pada malam hari raya tersebut selalu mengumandangkan ucapan takbir ini, baik di rumah, di atas kenderaan, di masjid, dan dimana saja . Takbir ini dibaca dengan penuh perasaan mengangungkan nama Allah, bukan asal teriak memakai pengeras suara. Ucapan takbir tersebut juga tidak boleh dikotori oleh perbuatan yang tidak baik, seperti sambil duduk-duduk lepak, tetapi harus dilakukan dengan penuh ketenangan dan kesyahduan. Sehingga yang membaca dan yang mendengar benar-benar merasakan kebesaran Allah subhana wataala. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa yang menghidupkan malam yang lima maka wajiblah baginya surga : Malam tarwih ( malam 8 Dzulhijjah ), malam hari Arafah ( malam 9 Dzulhijjah ), malam Hari Qurban ( malam 10 Dzul hijjah ) , malam hari raya Idul Fitri, dan malam nisfu sya’ban. ( Hadis riwayat Asfahani / kitab Targhib wa t tarhib , jilid 2 , ms 152 ).

2. Pada malam hari raya diharapkan kita semua dapat menjaga diri agar kita semua tidak terjebak oleh bisikan dan rayuan syetan yang akan menyuruh kita berbelanja tanpa mengenal batas, atau membeli sesuatu yang kurang bermanfaat seperti lilin, mercon, dan lain sebagainya. Ini semua bukan tradisi Islam. Tradisi Islam adalah kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah, seperti melakukan shalat tasbih, shalat tahajjud , berdoa, membaca Al Quran, bertakbir, bertahmid, membaca tahlil dan lain sebagainya. Jika di zaman dahulu, masyarakat kita selalu berkumpul di masjid untuk bertakbir atau shalat tasbih di malam hari raya, ternyata saat sekarang kita lihat lebih banyak masyarakat kita berkumpul di plaza, di pasar, di shoping centre daripada di masjid. Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa melaksnakan qiyamullail ( beribadah ) di malam hari raya idul fitri dan idul adha denghan penuh muhasabah diri, maka hatinya tidak akan mati di saat hati semua orang akan mati “ ( hadis riwayat Ibnu Majah ).

3. Di mulai dari malam hari sampai pagi hari raya kita dianjurkan bersegera untuk mengeluarkan zakat fitrah, sebagai simbol agar kita peduli dengan nasib orang lain , para faqir miskin yang ada di samping kita. Rasulullah saw bersabda : “ Diwajibkan zakat fitrah sebagai pembersihan bagi yang berpuasa, daripada sikap sia-sia ( lagha ) dan perkataan yang tidak berguna ( faras ), dan merupakan pemberian kepada faqir miskin, maka barangsiapa yang melaksanakannya sebelum menunaikan shalat idul fitri maka dia menjadi zakat yang akan diterima, tetapi jika dikeluarkan setelah shalat maka dia menjadi sedekah biasa “ ( riwayat Abu daud , Ibnu Majah, dan Hakim ). “ Satu sha’ daripada biji-bijian dan gandum wajib bagi setiap orang yang kecil, besar, merdeka, hamba sahaya, lelaki , perempuan, kaya dan miskin, jika kamu kaya maka Allah akan membersihkan kamu, dan jika kamu faqir maka Allah akan mengembalikan kepadamu lebih daripada apa yang kamu berikan “ ( riwayat Ahmad dan Abu daud ). “ Puasa ramadhan yang tidak dilanjutkan dengan membayar zakat fitrah maka puasanya tidak akan diangkat ke langit, tergantung antara bumi dan langit “ ( riwayat Abu hafas ).

Alhamdulillah kita telah menunaikan kewajiban zakat fitrah tersebut tetapi kadang-kadang sangat disayangkan jika hati kita belum tersentuh untuk peduli dengan nasib mereka. Hal ini terbukti dimana kita masih dengan seenaknya berbelanja sepuas hati , membeli pakaian yang mahal tanpa memikirkan disana masih ada orang yang tidak punya pakaian, kita masih dapat menikmati makanan yang mahal dan lezat di restoran dan café tanpa memikirkan bahwa disana masih ada orang yang sedang kelaparan. Memang kita telah menunaikan zakat fitrah, tapi sayangnya hati kita belum juga tersentuh.

Bandingkan dengan sikap nabi muhammad saw dipagi hari raya, di saat keluar dari rumahnya, beliau melihat ada seorang anak yang menangis , maka beliau segera bertanya kepada anak tersebut: “ Mengapa engkau menagis..?”. Dia menjawab : “ saya menangis sebab semua kawannya berbaju baru sedangkan dia tidak mempunyai apapun “? Setelah diselidik ternyata dia itu adalah seorang anak yatim. Nabi berkata : “ Maukah kamu jika Muhammad menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu.? Nabi segera membawa anak itu ke rumah, di mandikan, diberi pakaian dan diberi makanan, sehingga hati si anak terhibur karena mendapatkan perhatian dari Nabi Muhammad. Dari kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa yang utama di pagi hari raya adalah adanya perhatian dari mereka yang memiliki kaya kepada mereka yang miskin, perhatian dari atasan kepada bawahan, perhatian dari pihak yang berkuasa kepada rakyat biasa, bukan sebaliknya.

4. Di pagi hari raya, sebaiknya kita bersiap-siap untuk menunaikan shalat hari raya dengan penuh khidmat. Disunatkan memakai pakaian yang baik, memakai wangi-wangian. Ini sebagai pendidikan agar kita selalu menghormati ibadah shalat, menghormati masjid . Kalau memang mempunyai pakaian yang baru, maka pakailah pertama kali untuk pakaian shalat. Sangat disayangkan kadang-kadang masih ada dalam masyarakat muslim yang tidak pernah peduli dengan pakaian shalat. Sewaktu shalat hari raya dia memakai pakaian yang biasa saja, tetapi setelah pulang shalat mulailah segala pakaian kebesaran dipakai. Sepatutnya waktu shalat itulah dia disunatkan untuk memakai pakaian yang baik.

Rasulullah saw bersabda : “ Pada pagi hari Idul Fitri, malaikat akan berdiri di setiap jalan-jalan dan menyerui : Wahai kaum muslimin, segeralah kamu keluar dari rumahmu menuju kepada Tuhanmu yang akan memberikan kepadamu nikmat sebanyak-banyaknya dan memberikan pahala kepadamu sekalian. Kamu telah diperintahkan untuk qiyamullail, dan kamu telah mengerjakannya. Kamu diarahkan untuk berpuasa di siang hari, dan kamu telah melaksanakannya, dan kamu telah mentaati tuhanmu maka kamu berhak untuk mendapat hadiah”. Apabila umat muslimin tersebut berdiri melaksanakan shalat idul fitri, maka berserulah malaikat tersebut : “ Ketahuilah bahwa sesungguhnya Tuhan kamu relah memberikan ampunanNya kepada kamu sekalian, maka kembalilah kamu dengan penuh petunjuk dariKu ke rumah-rumah kamu karena hari ini adalah hari pemberian hadiah, dan pada hari raya Idul Fitri bagi penduduk langit disebut dengan hari pemberian hadiah “ ( riwayat Thabrani ).

5. Setelah selesai melaksanakan shalat , kita juga dianjurkan untuk mendengarkan khutbah hari raya, sehingga kita dapat menilai bagaimanakah hasil pelaksanaan puasa selama bulan ramadhan yang baru saja berlalu. Kemudian dengan khutbah tersebut diharapkan kita dapat mempunyai semangat baru untuk memulai hidup sebelas bulan mendatang. Dengan khutbah tersebut diharapkan kita dapat merenungkan diri kita, apakah saya telah lulus dengan keputusan yang memuaskan dari ujian bulan ramadhan..? Atau hanya lulus dengan keputusan cukup, sedang atau kurang. Hanya diri kita sendiri yang dapat menilai hasil dari puasa kita sendiri.




6. Selesai proses pelaksanaan shalat dan khutah, kita segera bersalam-salaman. Dengan berpuasa kita berharap agar dosa kita kepada Allah telah diampuni, tetapi bagaimana dengan dosa dan kesalahan kita dengan sesama manuisa..? Maka untuk menjadi manusia yang suci, lahir dan bathin, kita harus bersegera saling bermaaf-maafan., Dalam hadis disebutkan bahwa “ Setiap anak Adam mempunyai kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat , memohon ampun dan memohon maaf “ Budaya saling kunjung-mengunjungi antar keluarga, antar tetangga, antar kawan sekerja, antar jamaah, perlu ditingkatkan lagi. Budaya ini telah hampir punah dan telah berganti dengan mengunjungi tempat hiburan, mengunjungi plaza, shoping center, mengunjungi objek wisata dan tempat rekreasi. Dahulu, kita selalu mengenang dan melihat baik anak-anak kecil maupun orang dewasa semuanya berlomba untuk saling mengunjungi, dan malu rasanya kalau ada rumah yang belum terkunjungi di saat hariraya seperti ini.

7. Dalam bulan syawal nanti, kita juga disunatkan untuk berpuasa enam hari di antara hari-hari bulan syawal. Orang yang sukses dalam berpuasa adalah mereka yang dapat melaksanakan nilai-nilai puasa dalam bulan-bulan setelah ramadhan. Jangan sampai dengan berlalunya ramadhan kita segera melupakan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Agar kita tidak lupa , maka dalam bulan syawal tersebut kita disunatkan untuk melaksanakan puasa sunat syawal selama enam hari. Dalam hadis disebutkan bahwa barangsiapa berpuasa ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari dalam bulan syawal, maka pahalanya bagaikan berpuasa selama satu tahun penuh.

Dengan berakhirnya bulan ramadhan bukanlah berarti telah berakhir pula tradisi ramadhan , tetapi diharapkan kita dapat meneruskannya tradisi ramadhan dalam sepanjang tahun. Tradisi tarawih dalam ramadhan kita lanjutkan dengan tradisi shalat jamaah setiap waktu. Tradisi tadarus al quran dilanjutkan dengan tradisi membaca Al Qur an setiap hari. Tradisi bangun sahur diteruskan dengan tradisi bangun sebelum subuh, untuk melakukan shalat malam, shalat tahajjud dan qiamullail atau membaca Al Quran dan beristighfar. Tradisi puasa di siang hari, kita teruskan dengan tradisi menjaga diri dari segala hawa nafsu dan memelihara diri dari berbuat dosa. Tradisi-tradisi ramadhan tersebut perlu kita budayakan sepanjang tahun, sehingga di siang hari, kita beraktifitas dan bekerja dengan penuh kesucian diri, terhindar dari noda dan dosa; dan di malam hari kita selalu bermunajat kepada-Nya.

Dengan tradisi ramadhan kita berharap di siang hari menjadi pemimpin , menjadi khalifah Allah; dan di malam hari menjadi ahli ibadat, hamba yang selalu bermunajat kepada-Nya. Inilah profil seorang muslim sebagaimana digambarkan dalam ucapan Rasulullah sawmenerangkan cara hidup yang dilakukan oleh beliau dan sahabatnya “ Nahnu Asadan finnahari wa ruhbaanan fillail “, kami ini laksana singa padang pasir ( panglima perang ) di siang hari, dan menjadi rahib yang selalu beribadat di malam hari “. Semoga pendidikan ramadhan memberi kesan dalam kehidupan kita, sehingga kita menjadi manusia yang kembali kepada fitrah yang suci, fitrah sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.


8. Wasapada terhadap gangguan syetan setelah berakhirnya puasa ramadhan. Wahab bin Munabbih menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadis pernah bersabda : “ Jika tiba hari raya Idul fitri maka Iblis, si raja jin akan berteriak memanggil seluruh pasukan dan anakbuahnya. Seluruh anak buah dan pasukan Iblis bertanya : Wahai pemimpin kami, apakah yan telah terjadi..sehingga engkau memanggil kami semua berkumpul disini..? Iblis berkata : “ Aku kumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting. Ketahuilah bahwa pada hari ini , hari raya Idul Fitri, Allah Taala telah memberikan ampunan-Nya kepada umat Muhammad. Maka sekarang tugas kalian semua adalah menggoda mereka semua sehingga mereka kembali sibuk dengan kehidupan yang berfoya-foya, berpesta pora dengan segala kesenangan dunia, sehingga mereka tenggelam dalam nafsu birahi serta minuman yang memabukkan sehingga akhirnya Allah Taala kembali marah terhadap keadaan mereka yang sedemikian rupa”.

Rasulullah saw bersabda : “ Jika datang kepadamu hari raya Idul fitri, maka bersungguh-sungguhlah kamu pada hari itu untuk memberikan sedekah , dan melakukan perbuatan yang baik, seperti mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, membaca tasbih, membaca tahlil, karena pada hari itu Allah akan memberikan ampunan-Nya atas dosa-dosamu , dan menerima setiap doa – doa kamu, serta melihat kamu sekalian dengan pandangan penuh rahmat “.

Itulah sebabnya seorang sahabat Nabi bernama Anas bin Malik berkata bahwa ada lima Hari Raya bagi seorang muslim : Hari Raya pertama jika seseorang itu dapat melalui hari-harinya tanpa melakukan suatu dosa. Maka hari yang suci itu menjadi hari raya baginya. Hari Raya kedua jika seseorang itu meninggalkan dunia dengan keimanan dan mati syahid, serta terlepas dari godaan syetan. Maka hari itu menjadi hari raya kedua baginya. Hari Raya ketiga jika seseorang itu nanti di hari akhirat dapat melintas di atas shirat atau jembatan di akhirat dengan selamat dari api neraka dan terhindar dari siksaan kiamat. Itu merupakan hari raya ketiga baginya. Hari raya ke-empat adalah hari dia akan masuk ke dalam syurga. Sedangkan hari raya ke-lima adalah hari dia dapat melihat Tuhannya Allah subhana wataala di hari akhirat kelak.

Semoga setelah ramadhan berlalu kita dapat menghadapi kehidupan di masa mendatang dengan pribadi taqwa dan suci, pribadi yang mengamalkan Islam dalam seluruh dimensi, sehingga kita menjadi pribadi yang suci , pribadi Minal Aidin..( pribadi yang kembali kepada fitrah yang suci ) sehingga kita menjadi pribadi “ Faizin “ pribadi yang dapat meraih kemenangan di masa-masa mendatang. Amien Amien Ya rabbal Alamin.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus
Selamat Hari Raya Idul Fitri….Mohon Maaf lahir dan Batin..
Taqabalallahu minnaa wa minkum….Minal Aidin wal Faizin

IJAZAH RAMADHAN

IJAZAH RAMADHAN
" Puasa adalah milikKU dan AKU akan membalasnya " ( Hadis riwayat Bukhari )

Ka'ab bin Ujzah menceritakan bahwa pada suatu hari nabi Muhammad saw memerintahkan seluruh sahabat untuk hadir ke masjid, dan tak lama kemudian nabi naik ke atas mimbar. Pada waktu nabi Muhammad saw naik satu anak tangga, maka beliau berhenti sejenak dan berkata " Amien ", setelah itu beliau naik ke anak angga kedua dan berhenti sejenak sambil berkata "Amien "; dan selanjutnya beliau naik ke anak tangga ketiga dan berhenti sejenak mengucapkan kalimat "Amien". Setelah nabi selesai berkhutbah, dan turun dari mimbar, maka sahabat datang bertanya : Ya rasulullah, tadi kami mendengar engkau mengucapkan sesuatu yang kami tidak pernah dengar sebelumnya. Nabi Muhammad saw menjawab : Benar, sesungguhnya tadi telah datang malaikat Jibril dan berkata kepadaku : Celakalah orang yang mendapat kesempatan bulan ramadhan tetapi tidak mendapat ampunan Tuhan, maka aku mengatakan : Amien. Sewaktu naik ke anak tangga kedua, malaikat Jibril berkata lagi : Celakalah orang yang menyebut namamu ( nama nabi Muhammad ) tetapi tidak menyambung ucapannya dengan shalawat kepadamu. Aku menjawab : Amien. Sewaktu aku naik ke atas tangga ketiga, Jibril berkata lagi : Celakalah orang yang mempunyai kedua orangtua yang telah renta atau mempunyai salah seorang dari kedua orangtuanya, tetapi kesempatan itu tidak dapat membuat dia masuk ke dalam surga. Aku menjawab : Amien. Demikianlah tiga hal yang dinyatakan oleh Jibril kepada nabi, dan nabi mengucapkan Amien , artinya nabi setuju dengan ketiga hal tersebut. Hadis ini diriwayatkan oleh Al hakim, dan merupakan hadis sahih.

Dari tiga hal tersebut, pertama nabi nyatakan bahwa celaka orang yang mendapatkan kesempatan berada dalam bulan ramadhan tetapi tidak mendapatkan ampunan Allah. Mengapa demikian? Sebab bulan ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan, yang Allah berikan sejak pada awal puasa sampai akhir ramadhan. Allah memberikan kesempatan untuk mendapatkan ampunanNya bagi siapa saja yang berpuasa dngan penuh iman dan perhitungan di bulan ramadhan; tetapi orang itu sebab tidak dapat menjaga puasanya maka ampunan tersebut tidak didapatkan. Seperti orang yang sedang lewat di pasar yang sedang jual murah dengan potongan harga yang besar, tetapi orang itu tidak membeli barang yang diinginkannya di pasar yang ada potongan tetapi malah mencari ke pasar lain yang tidak menjualnya au membeli barang yang diinginkan dengan harga yang tingi di pasar yang lain; maka orang itu adalah orang yang rugi dan bodoh. Rugi karena sepatutnya dia dapat harga murah tetapi dia tidak pergunakan kesempatan itu. Demikianlah juga dengan kesempatan ramadhan yang begitu mulia tetapi disia-siakan, padahal kesempatan tu tidak datang kecuali setahun mendatang. Di akhir ramadhan ini marilah kita lihat diri kita, apakah kita layak mendapat ampunan Allah dengan ramadhan yang kita jalani, atau malah kita menjadi orang yang rugi, sebab ramadhan telah rusak dan ampunan Allah luput dan terlepas.

Banyak orang sebelum masuk ramadhan bersiap untuk ramadhan , sehingga pada malam satu ramadhan setiap masjid penuh; tetapi sangat kita sayangkan di akhir ramadhan kita banyak yang lengah dan lalai. Seperti orang yang sedang mengikuti lomba lari, pada waktu mulai berlomba, di garis "start ", siap menghadapi lawan, berlari dengan kencang, tetapi sewaktu di tengah dan di akhir, malah bukan berlari kencang, tetapi berjalan santai, tengok sana, tengok sini, terlena oleh pemandangan, sehingga sewaktu orang sudah masuk garis" finish ", dia masih tengok sana sini. Demikian juga pada waktu awal ramadhan, semangat beribadah begitu tinggi; tetapi di akhir ramadhan yang seharusnya lebih tinggi lagi sebab ada bonus "lailatul qadar ", dan ada suasana "itikaf :, tetapi banyak umat islam malahan terlena oleh persiapan harui raya, sibuk berbelanja ke shoping complek, sehingga suasana ibadah berubah menjadi suasana belanja; dan hari raya yang seharusnya merupakan suasana ibadah, manjadi suasana pesta , hariraya adalah hari silaturahmi saling memaafkan menjadi suasana pamer kemewahan dan riya.

Dalam sebuah hadis dari Abi Umamah menyebutkan bahwa nabi Muhammad saw bersabda : Barangsiapa yang mendirikan malam hari raya dengan penuh perhitungan maka hatinya tidak akanmati pada hari dimana hati-hati manusia akan mati ". Haddis riwayat Ibnu Majah. Dalam hadis lain yang diceritakan oleh Muadz bin Jabal disebutkan : " Barangsiapa yang menghidupkan malam yang lima yaitu malam "tarwiyah " (malam ke dkedelapan dari bulan Dzulhijjah), malam arafah ( malam kesembilan Dzul Hijjah ), malam idul adha, malam idul fitri, dan malam nisfu syaban (malam lima belas sya'ban ), maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga . Hadis riwayat Isfahan. Dalam hadis lain yang disampaikan oleh Ubadah bin samith disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda : "Barangsiapa yang menghidupkan malam idul fitri dan malam idul adha, maka hatinya tidak akan mati dimana hati manusia akan mati ".

Dari hadis tersebut dapat kita simpulkan bahwa malam idul fitri adalah malam untuk bermuhasabah, menilai diri bagaimana menghadapi tahun yang akan datang. Malam idul fitri juga malam untuk bertasbih, bertakbir dan berzikir, sebagai kesiapan diri memasuki hari-hari mendatangh dengan semangat zikir. Kita hadapi masa depan dengan semanat Allahu Akbar, merasakan keagungan Allah dalam menghadapi apa saja, sehingga kita tidak pernah takut terhadap situasi apapun. Dengan semangat takbir, kita masuki hari dan malam dengan kalimat " La ilaaha illallah ", Tiada Tuhan selain Allah. Berarti kita berjalan di bawah kalimat syahadat, kita bekerja, berniaga, berkarier, berkeluarga, bertetangga, bernegara, semuanya kita lakukan dengan konsep syahadat, dengan mengikuti peraturan dan nilai-nilai yang telah Allah tetapkan. Kita hadapi hari-hari mendatang dengan aucapan " Wa lillahilhamd ", berarti kita mengakui bahwa semua nikmat yang kita dapatkan semuanya daripada Allah dan harus kita pergunakan sesuai dengan perintah Allah, sehingga kita akan mendapat nikmat yang lebih banyak lagi. Takbir, tahlil dan tahmid inilah yang menjadi falsafah hidup seorang yang suci , seorang yang fitri untuk menghadapi segala tantangan kehidupan di hari-hari mendtaang. Inilah makna takbir yang kita kumandangkan adi akhir ramadhan. Kita lepaskan ramadhan dengan sambutan takbir, tahlil dan tahmid, bukan dengan sambutan pesta, mercon, petasan, kembang api, dan hiburan yang hanya mengikuti selera nafsu dan materi. Dalam ramadhan kita dilatih menjadi manusia yang dapat mengekang nafsu dan emosi, sehingga jika kita lulus, maka pasti di akhir ramadhan kita menjadi manusia suci, yang dimanifestasikan dalam ucapan takbir di malam lebaran.

Di pagi lebaran, kita bersiap untuk menghadap Tuhan, bersimpuh, bersyukur, bersujud, siap menerima ijazah ramadhan sebagaimana dalam sebuah hadis : " Maka apabila datanglah malam hari raya itulah malam mendapat hadiah, sebab di pagi hari raya Allah mengutus malaikat ke seluruh negei, turun ke bumi, berdiri disetiap simpang jalan sambil berteriak dengan suara yang keras yang didengar oleh semua makhluk keciuali jin dan manusia, mereka malaikat itu berkata : " Wahai umat Muhammad, segeralah kamu keluar ke tempat shalat hari raya, sebab Allah akan memebrimu pemberian yang banyak, mengampunkan dosa=dosamu; maka apabila mereka telah sampai ke tempat shalat mereka, Allah bertanya kepada malaikat : Wahai malaikatku, apakah ganjaran seseorang yang ekerja? Malaikat menjawab : Tuha kami, ganjaran bagi mereka adalah Engkau sempurnakan pahala bagi mereka. Tuhan kemudian berfirman : Sesungguhnya AKU bersaksi kepadamu sekalian bahwa AKU telah berikan pahala dan balasan atas puasa mereka, shalat tarawih dan qiyamul lail mereka dengan keridhaanKu dan ampunanKU …..". Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan juga diriwayatkan oleh Baihaqi.

Dengan hadis diatas dapat disimpulkan egembiraan seorang muslim di hari saya idul fitri, bukan ebab berakhirnay puasa ramadhan, tetapi disebabkan akan mendapat ijazah dari Tuhan yaitu Ijazah Ramadhan berupa balasan pahala, ampunan dan keridhaan yang telah dijanjikan bagi mereka yang menjalanai puasa ramadhan.. Mendapatkan ijazah ramadhan merupakan suatu kemenangan, tetapi mempertahankan ijazah ramadhan dengan tetap menjadi manusia fitrah sepanjang hari-hari mendatang dengan semangat takbir, tahlil dan tahmid, merupakan suatu ujian. Selamat berhari raya semoga Allah menerima semua amalan kita, selamat mendapat Ijazah dan menjadi sarjana ramadhan. Fa'tabiru ya Ulil albaab.

LAILATUL QADAR

LEBIH BAIK DARIPADA SERIBU BULAN
“ Sesungguhnya kami turunkan Al Quran pada malam yang penuh keberkatan “ ( Dukhan : 1-3 ).

Setiap mendengar bulan ramadhan, pasti dalam pikiran kita teringat sebuah malam yang istimewa yang dikenal dengan malam Lailatul Qadar. Sebuah malam yang sangat istimewa, malam yang penuh dengan keberkatan, malam kemuliaan, malam yang lebih baik daripada seribu bulan, malam yang penuh dengan kesejahteraan sampai kepada terbit fajar, malam dimana turun malaikat dengan izin daripada-Nya, dan juga merupakan malam diturunkannya Kitab suci Al Quranil Karim dari Lauh Mahfudz di langit ke tujuh kepada Baitul Izza di langit pertama. Untuk mengekalkan kemuliaan malam tersebut, maka Allah Taala menerangkan tentang malam tersebut dalam kitab Suci Al Quran : “ Sesungguhnya telah Kami turunkan Al Quran pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apa itu malam Lailatul Qadar. Itulah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu malaikat turun dengan izin Allah untuk mengatur segala urrusan. Pada malam itu adalah malam yang penuh dengan kesejahteraan sampai kepada terbit fajar “ ( Surah Al qadar : 1 – 5 ). Dalam ayat yang lain juga disebutkan : “ Ha..Mim, dan Kitab yang nyata, Sesungguhnya Kami turunkan Al Quran pada malam yang penuh keberkatan “ ( Surah al Dukhan : 1-3 ). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa kitab yang diturunkan itu adalah kitab suci Al Quran yang diturunkan pada malam Lailatul Qadar dari Lauh Mahfudz ke Baitul Izza di langit yang pertama. Dari petikan ayat tersebut dapat kita lihat bahwasanya malam Lailatiu Qadar itu adalah suatu malam yang di dalamnya diturunkan kitab suci Al Quran secara keseluruhan. Kejadian ini terjadi hanya sekali, dan malam lailatul qadar yang terjadi setiap ramadhan adalah merupakan hari peringatan yang memiliki keistimewaan luar biasa. Malam lailatul qadar juga merupakan suatu malam di dalam malam-malam ramadhan dimana mempunyai keistimewaan sampai terbit fajar dan nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Mengenai kapan terjadinya malam lailatu Qadar itu, ada berbagai pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadar itu terjadi pada malam duapuluh tujuh ramadhan dengan landasan sebuah hadis : “ Siapapaun yang mengintainya, maka hendaklah mengintainya pada malam ke dua puluh tujuh “ ( hadis riwayat Ahmad dari Ibnu Umar ). Perintah Rasul untuk mengintai malam mulai tersebut pada malam duapuluh tukuh bukan suatu kepastian tetapi merupakan suatu kemungkinan. Sebab dalam hadis lain disebutkan bahwa Ubadah bin Samith berkata bahwa rasulullah telah memberitakan kepadaku tentang lailatul Qadar. Rasulullah bersabda : “ Lailatul qadar terjadi pada bulan ramadhan, dalam sepuluh malam terakhir. Malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dua puluh sembilan dan malam yang terakhir “ ( hadis riwayat Ahmad ).

Malam lailatul Qadar itu mempunyai banyak keistimewaan yaitu : (1) malam diturunkannya kitab suci Al Quranul Karim (2) malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga menurut pendapat ulama nilai ibadah pada malam itu lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan (3) Pada malam itu malaikat jibril turun untuk mengatur segala urusan (4) Malam yang penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Disebabkan keistimewaan yang begitu hebatlah maka setiap muslim diberi Allah kesempatan untuk merebut peluang menjadi millioner pahala, dengan berjaga-jaga pada sepuluh akhir bulan ramadhan. Malam itu diisi dengan amal ibadah kepada Allah baik itu shalat, membaca Al Quran, berzikir, berdoa dan lain sbagainya.

Siti Aisyah pernah bertanya kepada nabi tentang doa apa yang baik dibaca pada malam tersebut.: wahai rasulullah bagaimana jika aku mengetahui bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar.? Rasulullah saw menjawab : ‘ Bacalah doa : Allahumma innaka afuwwun kariimun tuhibbul afwa fa’fu anni , ya Allah sesungguhnya Engkau ini Maha pemberi maaf dan Maha pemurah senang untuk memberikan maaf, maka maafkanlah dan ampunkanlah dosa-dosaku “. ( hadis riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan disahihkan oleh Tirmidzi ). Doa ini boleh dibaca, dan juga boleh ditambah dengan doa-doa yang lain yang sekiranya lebih sesuai dengan keperluan kita. Selain berdoa, kita boleh mengisi malam lailatul qadar dengan ibadah lain, baik itu shalat – shalat sunat seperti shalat tahajjud, shalat tasbih, shalat hajat, dan juga dengan berzikir membaca istighfar, astaghfirullahal adzim..memohon ampun atas segala dosa, membaca tasbih, subhanallah.., membaca tahmid, alhamdulillah, dan zikir-zikir lain sebagainya. Juga boleh diisi dengan membaca al quran secara tilawah, atau membaca Al Quran dengan tadabbur yaitu membaca ayat dengan arti dan makna yang terkandung di dalamnya , atau dengan mengadakan diskusi tentang makna yang terkandung di dalamnya. Paling tidak kita melakukan I’tikaf, mengadakan muhasabah diri.


Hal yang sangat penting adalah jangan sampai malam lailatul qadar lewat di depan kita sedangkan kita tidak melakukan apa –apa, ini sama dengan seseorang yang mendapat peluang menjadi millioner, tetapi dia tidak mau mengambil hadiah tersebut, maka orang ini adalah orang yang sangat rugi sebab tidak dapat mengambil kesempatan yang diberikan kepadanya. Agar malam Lailatul qadar itu tidak terlewat begitu saja, maka sudah sepatutnya kita berjaga-jaga sejak dari malam duapuluh satu sampai akhir ramadhan. Itulah sebabnya Rasulullah saw sendiri selalu berjaga-jaga dalam malam sepuluh akhir ramadhan. Dalam sebuah hadis juga disebutkan bahwa : “ barangsiapa yang beribadat pada malam Lailatul qadar dengan penuh iman dan mengharapkan keridhaan Allah maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya “ ( hadis riwayat Bukhari Muslim ).

Dalam menghadapi malam Lailatul Qadar, rasulullah bukan saja bangun berjaga-jaga dengan melakukan ibadah tetapi juga membangunkan keluarganya , isteri dan anak-anaknya agar sama-sama berjaga-jaga untuk mendapatkan keistimewaan malam tersebut. Dalam sebuah hadis disebutkan ; “ Ketika telah masuk malam sepuluh ramadhan terakhir, maka nabi Muhammad saw menghidupkan malam tersebut dengan membangunkan keluarganya serta mengencangkan sarungnya “ ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ). Hadis yang lain juga sama menyebutkan ; ‘ rasulullah membangunkan keluarganya dan menyingsingkan sarungnya “ ( hadis riwayat Tirmidzi dan Ali bin Abi Thalib ). Yang dimaksdu dengan menyingsingkan sarungnya, atau mengencangkan sarungnya adalah rasulullah saw selama malam terakhir tersebut sibuk beribadah, sehingga beliau tidak menggauli isterinya , walaupun pada malam hari. Barrti selama malam sepuluh tersebut, baik nabi maupu isterinya semua sibuk beribadah kepada Allah.

Dari keterangan diatas dapat juga kita ambil pelajaran bahwa pada malam sepuluh terakhir, baik itusuami , isteri, anak-anak, sepatutnya disibukkan dengan ibadah seperti shalat, zikir, membaca al quran dan lain sebagainya. Janga sampai terjadi seperti budaya sekarang ini, dimana pada malam sepuluh ramadhan, apalagi malam-malam akhir ramadhan, suami isteri dan anak-anak bukan diajak beribadah, tetapi diajak shoping untuk membeli keperluan hari raya. Ada lagi sekelompok orang kalau malam sepuluh akhir, ayah sibuk urus kartu lebaran, isteri sibuk urus kue lebaran, dan anak-anak sibuk urus mercon, petasan, kembang api dan beli lilin. Padahal nabi Muhammad pada malam sepuluh terakhir, bergaul dengan isteri saja sudah tidak sempat lagi, apalagi yang lain. Tapi kita sekarang, sibuk yang lain, sibuk shoping, sibuk ini dan itu sampai ibadah pun tak sempat lagi, kecuali yang wajib-wajib saja, apalagi untuk itikaf dan muhasabah.

Ada beberapa tanda yang terjadi pada malam lailatul qadar. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa “ Matahari pada pagi harinya terbit berwarna putih, tidak bercahaya “ ( hadis riwayat muslim ). Dari hadis ini dapat kita simpulkan bahwa jika malam itu adalah malam Lailatul qadar, maka matahari yang terbit pada keesokan harinya akan terbit dengan warna yang pudar, tidak bercahaya. Dalam hadis yang lain juga disebutkan ; “ Terang dan lapang, tidak panas dan tidak sejuk, matahari terbit pada pagi harinya tanpa cahaya “ . Tanda-tanda ini sembagaimana tersebut dalam hadis adalah tanda setelah terjadinya Lailatul Qadar, bukan sebelumnya. Tanda tersebut juga membuktikan bahwa lailatul qadar bukanlah suatu dongengan belaka, teapi sesuatu yang telah terjadi. Oleh sebab itu tanda yang ada adalah tandasetelah terjadinya malam lailatul qadar, bukan sebelumnya. Sehingga dengan demikian kita akan berjaga-jaga setiap malam, karena kita tidak tahu apakah besok hari matahari akan terbit sebagaimana yang dinyatakan dalam tanda tersebut.

Malam lailatul qadar itu juga merupakan sebuah motivasi, sebab dengan adanya malam Lailatul Qadar, umat islam bertambah akhir ke ujung ramadhan akan bertambah giat melakukan ibadah , sebab sebagai muslim hari ini harus lebih baik daripada hari yang lalu. Jika tidak ada malam lailatul qadar, boleh jadi kita hanya semangat puasa dan tarawih di malam-malam pertama saja, dan tambah akhir tambah malas, sebab tidak ada yang dicari dan direbut. Bagaikan orang yang lomba lari, maka piala biasanya disediakan di garis finish, demikian juga ramadhan, piala ramadhan berupa lailatul qadar disediakan di garis finish, sehingga kita tambah lama tambah berpacu dengan ibadah. Lailatul Qadar di hadapan kita, siapa yang cepat dan taqwa dia yang akan dapat..mari berpacu merebut piala Lailatul qadar, yang bernilai lebih baik daripada seribu bulan. Belum tentu kesempatan ini kita dapatkan di tahun mendatang.. mari berlomba merebut pahala..dan lailatul qadar di malam ramadhan..Fastabiqul khairaat..!

KHUTBAH RASULULLAH S.A.W DALAM MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

KHUTBAH RASULULLAH SAW
DALAM MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Wahai Manusia…!

Sungguh bulan Allah ( ramadhan ) telah datang kepada kamu sekalian dengan membawa keberkatan, rahmat dan ampunan. Bulan itu adalah bulan yang paling mulia di sisi Allah. Siang harinya adalah hari yang paling utama. Malamnya adalah malam yang paling utama. Menit dan jam demi jamnya adalah masa yang paling utama. Pada bulan inilah kamu menjadi tetamu Allah dan kamu dimuliakan oleh-Nya.
Pada bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal perbuatanmu akan diterima dan doa-doamu dikabulkan. Bermohonlah kepada Allah Rabb-mu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah Taala membimbingmu dalam melakukan puasa ( shiyam ) dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah di bulan yang agung ini.
Dengan rasa lapar dan haus dalam ramadhan dimaksudkan agar engkau dapat membayangkan kelaparan dan kehausan di hari kiamat kelak.
Bersedekahlah kepada kaum faqir dan miskin. Muliakanlah orangtuamu, sayangilah orang yang lebih muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan matamu dari pada melihat sesuatu yang tidak halal bagi kamu untuk memandangnya. Kasihilah anak yatim niscaya manusia akan mengasihi anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tanganmu untuk berdoa pada waktu – waktu shalat karena itu adalah saat – saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba Nya dengan penuh kasih sayang.

DIA akan menjawab permintaan hamba-Nya di saat mereka berdoa kepada-Nya. DIA juga akan menyambut seruan ketika mereka memanggil-Nya dan DIA akan mengabulkan permintaan mereka di waktu mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai Manusia..!

Sesungguhnya dirimu tergadai karena amal perbuatanmu, maka bebaskanlah dirimu itu dengan istighfaar. Punggung-punggungmu berat menanggung beban dosamu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah..!
Allah Taala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa DIA tidak akan menyiksa orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul Alamin.

Wahai Manusia..! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang mukmin yang sedang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah, pemberian itu nilainya sama dengan membebaskan seorang hamba dan orang tersebut akan diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu. Sahabat-sahabat bertanya : Ya Rasulullah….! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian “. Rasululullah s.a.w. meneruskan ucapannya : “ Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air “.
Wahai Manusia…! Siapa yang menghias dirinya dengan akhlak yang baik selama di bulan ini, maka ia akan berhasil melewati shirat ( jembatan ) pada hari kiamat, dimana kaki-kaki akan tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan tangan kanannya (maksudnya pegawai atau pembantunya ) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekennya di bulan yang mulia ini, maka Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa dapat menyambung tali persaudaraan ( silaturrahim ) di bulan ini, maka Allah Taala akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya kelak.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya ganjaran pahala seperti melakukan tujuh puluh kali shalat fardhu di bulan yang lain.

Barangsiapa memperbanyak bacaan shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan sedang menjadi ringan.

Barangsiapa membaca satu ayat Al Quran di bulan ini, maka ganjaran pahalanya sama dengan mengkhatam Al Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia..! Sesungguhnya pintu-pintu surga telah dibukakan bagimu , maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya kembali untukmu.

Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonlah kepada Rabb-mu untuk pintu tersebut tidak pernah dibukakan untukmu.

Syetan-syetan terbelenggu, maka mintalah agar dia tidak dapat lagi menguasaimu.

Amirul mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaaahu wajhahuu ( semoga dimuliakan Allah akan wajahnya ) telah berkata :

“ Aku berdiri dan bertanya kepada Rasul : Ya Rasulullah..! Amal apakah yang paling utama di bulan ini..?

Nabi menjawab : “ Wahai Abal Hasan ( panggilan untuk Sayyidina Ali ) ketahuilah bahwa amal yang paling utama adalah menjaga diri dari sesuatu yang diharamkan Allah “.

Alhamdulillaahi rabbil aalamin.
Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam.

MENYAMBUT RAMADHAN

MENYAMBUT RAMADHAN
“ Bulan ramadhan , bulan diturunkan padanya kitab suci Al Quran “
( QS. Albaqarah : 185 )

Sahabat nabi Ibnu Abbas bercerita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya sebelum datang bulan ramadhan maka surga akan dihias dengan berbagai macam hiasan sebagai persiapan mneyambut kedatangan bulan ramadhan. Jika datang malam pertama ramadhan, maka bertiuplah angin yang bernama ”al Musirah ” datang dari bahwa Arsy berhembus ke surga sehingga mengerak-gerakkan daun-daun pohon yang ada di dalam surga. Tak lama kemduian akan terdengar suara yang sangat merdu, sehingga berdatanganlah bidadari-bidadari surga berdiri di pelataran-pelataran surga dan mereka mendengar suara berkata : Adakah ada orang yang datang meminang, maka segeralah Allah akan menikahkan mereka “. Melihat itu semua, maka bidadari surga berkata : Wahai malaikat ridhwan penjaga surga, apakah yang terjadi pada malam ini, dan mereka segera melantunkan talbiyah (sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira ). Malaikat ridwan menjawab : Ini adalah malam awal ramadhan, dimana pintu-pintu syurga akan dibuka bagi mereka yang berpuasa daripada kalangan umat Muhammad saw. Allah Taala segera berfirman : Wahai ridwan (malaikat penjaga surga) , bukakanlah segera pintu-pintu surga, dan wahai malik (malaikat penjaga neraka ), tutuplah segera pintu-pintu neraka daripada umat Muhammad yang berpuasa. Wahai Jibril segeralah engkau turun ke bumi, dan ikatlah syetan-syetan, rantai mereka, kemudian lemparkan mereka ke bawah laut sehingga mereka tidak dapat merusak puasa umat Muhammad.

Rasulullah melanjutkan: “ Setiap malam ramadhan Allah menyuruh pemanggil untuk menyerukan seruan sebanyak tiga kali : “ Apakah disana ada yang neminta sesuatu, maka Aku akan memenuhi permintaannya. Apakah disana ada yang ingin bertobat, maka Aku akan memberikan tobat kepadanya. Apakah disana ada yang meminta ampun, maka Aku akan memberikan ampunan kepadanya. Apakah disana ada yang akan memberikan pinjaman kepada Dzat ( Tuhan ) Yang Penuh tidak pernah habis segala kekayaannya ( dengan bersedekah ), dan kepada Dzat Yang Tidak pernah mendzalimi ( akan mengantikan pinjaman dengan berlipat ganda ) ”.

Rasulullah kembalimelanjutkan : ” Setiap hari di bulan ramadhan , pada waktu orang yang berpuasa sedang berbuka, maka Allah akan memerdekakan sejuta orang yang namanya telah terdaftar dalam api neraka dari siksaan neraka, dan pada akhir ramadhan, Allah akan memberikan kemerdekaan kepada bilangan dihitung dari malam pertama sampai akhir ramadhan.

Pada malam Lailatul Qadar, Allah menyuruh malaikat Jibril turun beserta rombongan malaikat yang lain, dengan membawa bendera-bendera hijau yang mereka pasangkan di atas ka’bah. Malaikat Jibril turun dengan seratus sayapnya, dengan dua sayap yang tidak pernah berkembang kecuali paba malam itu ( malam lailatul qadar ). Jibril mengembangkan sayapnya pada malam itu sehingga menutupi timur dan barat. Jibril menyuruh seluruh malaikat untuk memberikan salam kepada setiap yang duduk dan berdiri, mereka yang sedang shalat atau berzikir. Malaikat menyalami orang-orang tersebut, dan meng-amin-kan doa-doa mereka sampai terbit fajar. Setelah terbit fajar dihari Lailatul Qadar malaikat Jibril menyeru kepada semua malaikat : ” Berangkatlah kamu, berangkatlah kamu sekalian ! ”. Malaikat bertanya kepada Jibril : Wahai Jibril apakah gerangan yang terjadi dengan umat Muhammad ? Jibril menjawab : ” Allah Taala melihat kepada umat Muhammad pada malam hari tadi ( malam Lailatul Qadar ), dan memberikan maaf dan ampunan kepada mereka kecuali empat golongan yaitu mereka yang masih meminum arak, mereka yang masih durhaka kepada kedua orangtua, mereka yang memutuskan silaturahim, dan mereka yang masih bertengkar”.

Malam hari raya dinmakan juga dengan malau anugerah, sebab pada pagi hariraya Allah Taala akan mengutus malaikat pada setiap sudut bumi, mereka (malaikat ) berdiri di ujung-ujung jalan dan gang ( menunggu umat Islam yang akan keluar melakukan shalat Idul Fitri ), dan berteriak dengan suara yang keras sehingga didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia, dimana mereka berkata : ” Wahai umat Muhammad, segeralah kamu semua keluar dari rumahmu menuju kepada Tuhan Yang Mulia sebab Dia akan segera memberikan balasan dan ganjaran, memaafkan meraka yang dzalim ”. Setelah mereka sedang berangkat keluar menuju tempat shalat maka Allah berfirman kepada malaikat : ” Apakah balasan bagi orang yang telah selesai melaksankan seuatu pekerjaan dengan baik ? ”. Malaikat segera menjawab : ” Wahai Tuhan kami, balasan orang itu adalah dengan memenuhi segala yang telah dijanjikan kepada mereka ”. Maka Allah Taala berfirman : ” Sesungguhnya Aku bersaksi kepada kamu sekalian wahai malaikatKu, sesungguhnya Aku telah memberikan balasan pahala bagi semua puasa mereka sepanjang ramadhan, dan juga qiyam ( mendirikan malam ramadan ) mereka dengan keridhaanKu dan ampunanKu ”. Allah segera berfirman lagi : ” Wahai hamba-hambaKu, mintalah sesuatu kepadaKU, maka dengan kemuliaanKU, tidak ada sesuatu apapun yang engkau pinta hari ini melainkan Aku akan segera mengabulkannya, dan Aku akan peduli dengan kehidupan dunia kamu sekalian. Demi kemuliaanKu, maka Aku akan menutup aibmu, selama engkau semuamuraqabah ( berhati-hati dan waspada dengan larangan Tuhan ) dengan Aku. Demi kemuliaanKU, pasti Aku tidak akan menghunakan kamu sekalian, juga tidak akan membuka kesalahanmu ( kepada orang lain ) di depan hari pengadilan, dan segeralah kamu kembali ( dari mengerjakan shalat ) dengan membawa ampunan yang menjadikan kamu seklain ridha dan Aku juga ridha kepadamu. (Mendengar itu ) gembiralah para malaikat mendengar segala berita kegembiraaan yang dijanjikan kepada mereka yang berbuka daripada berpuasa selama sebulan di bulan ramadhan ”. Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan juga oleh Baihaqy dan menurut catatan tidak ada satu orangpun dari sanad hadis ini yang termasuk perawi dhaif, sehingga hadis ini bukan hadis Dhaif, tetapi hadis yang dapat diterima oleh perawi hadis. ( Kitab Targhib wat Tarhib, jilid 2, halaman 99-101n).

Begitulah penulis tuliskan satu hadis yang sangat panjang berkenaan dengan kemuliaan bulan ramadhan, dari awal ramadhan sampai akhir ramadhan, termasuk janji yang Allah berikan kepada mereka yang berpuasa di malam Lailatul Qadar dan Hari raya Idul Fitrie. Dalam hadis tersebut yang perlu mendapat perhatian bahwa segala pahala seperti ampunandan keridhaan Allah pada malam Lailatul Qadar tidak akan diberikan kepada mereka yang masih meminum minuman keras, atau mereka yang masih durhaka kepada kedua orangtua, atau mereka yang memutuskan tali silaturahim,atau kepada mereka yang bertengkar. Oleh sebab itu sebelum memasuki bulan ramadhan, kita harus waspada jangan sampai kita termasuk kelompok tersebut, sebab jika itu kita lakukan, kita memang telah menjalankan kewajiban ramadhan, tetapi tidak mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah.

Bulan ramadhan, biasanya juga merupakan bulan pertengkaran antara umat Islam, antar kelompok dan golongan. Pertengkaran hanya disebabkan oleh masalah-masalah khilafiyah dalam mezhab, seperti masalah anak bulan apakah ditetapkan dengan ru’yatul hilal ( melihat anak bulan ) atau dengan hisab. Ada lagi pertengkaran masalah rakaat shalat taraweh apakah delapan, dua puluh, atau tidak berbilang. Ada lagi pertengkaran waktu menentukan hari raya apakah dengan hilal atau ru’yah. Ada lagi pertengkaran apakah boleh mealukan shalat tahajud di malam hari setelah melakukan shalat witir bersama shalat taraweh. Itu semua biasanya menjadi ajang perselisihan dan pertengkaran umat. Oleh sebab itu marilah kita renungi hadis diatas, sebab jika kita masih bertengkar dalam hal-hal kecil sehingga memutuskan silaturahim, maka kita tidak mendapat peluang ampunan dan keridhaan di dalam bulan ramadhan, walaupun kita telah menjalankan puasa selama satu bulan penuh. Semoga bulan ramadhan kali ini, bukan bulan pertengkaran, bukan bulan ego kelompok dengan pendapat masing-masing, tetapi bulan ukhuwah dann rahmah sehingga kita semua mendapat maghfirah dan ridha Allah. Selamat datang wahai ramadhan..Selamat menyambut ramadhan.