Pages

Friday, May 11, 2007

KEGEMBIRAAN SEORANG MUSLIM



“ katakanlah : Dengan karunia dan rahmat Allah, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Hal itulah yang lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan “ ( Surah Yunus : 58 ).

Perasaan gembira dan senang itu adalah fitrah manusia atau sifat yang dijadikan Allah dalam diri manusia, sebagaimana fitrah yang lain seperti sedih, marah, dan lain sebagainya. Hanya saja fitrah tersebut hendaklah dipakai sesuai dengan petunjuk Allah, dimana kita boleh bergembira dan dimana bergembira itu tidak boleh dipakai. Dalam Al Quran disebutkan : “ hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penawar bagi apa yang terdapat dalam hatimu, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. Katakanlah (Hai Muhammad) : dengan karunia dan rahmat Allah, hendaklah mereka bergembira. Hal itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan “ ( Surah Yunus : 57-58).

Sahabat nabi, Ibnu Abbas, Qatadah, Mujahid, dan tabiin ( pengikut sahabat ) Hasan al Basri menyatakan bahwa yang dimaksud dengan karunia Allah dalam ayat ini adalah agama Islam; sedangkan yang dimaksud dengan rahmat-Nya dalam ayat ini adalah kitab suci Al Quran. Menurut sahabat nabi yang lain, Abu Said al Khudri menyatakan bahwa maksud dari karunia Allah dalam ayat tersebut adalah Al Quran, dan maksud dari rahmatNya adalah “ menjadi ahli Quran, orang yang memahami Al Quiran “. Oleh sebab itu karunia Allah itu lebih umum daripada rahmat Allah. Karunia Allah diberikan kepada semua orang islam, sedangkan rahmat Allah hanya diberikan kepada sebagian orang islam yang dapat mendalami dan memahami Al Quran. Allah Taala menjadikan seseorang itu menjadi pemeluk agama islam dengan karuniaNya dan memberikan pemahaman terhadap Al Quran merupakan rahmatNya sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran : “ dan kamu tidak pernah mengharapkan Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia diturunkan karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu “ ( Surah al Qashash : 86).

Menurut Ibnu Qayim al jauzi dalam kitab Madarijus Salikin, gembira adalah kelezatan yang dirasakan oleh hati karena mendapatkan apa yang dicintai dan diinginkan dan kesedihan adalah kehilangan sesuatu yang dicintai. Dalam Al Quran ada kegembiraan yang dicela dan ada kegembiraan yang dipuji. Kegembiraan yang dicela dinyatakan dalam Al Quran adalah kegembiraan dengan harta kekayaan sebagaimana dinyatakan :“ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah anugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh orang yang kuat-kuat, ketika kaumnya berkata kepadanya : “ janganlah kamu bergembira (bangga ) , karena Allah tidak menyukai orang yang terlalu bergembira -karena berbangga dengan harta “ ( Surah al Qashah : 76 ).Dalam ayat lain Allah juga melarang kita untuk bergembira dengan kesenangan dunia : “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami akan membuka semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka,Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka diam dan berputus asa ‘ ( Surah Al An’am : 44 ).

Dari kedua ayat diatas dapat dilihat bahwa Al Quran mencela kegembiraan yang disebabkan oleh harta kekayaan dan pintu-pintu kesenangan dunia. Sebab bagi seorang mukmin, kesenangan dunia bukan menjadi penyebab kegembiraan, sebab kesenangan tersebut merupakan ujian apakah kita dapat bersyukur dengan nikmat tersebut atau kita menjadi kufur (tidak bersyukur dengan mempergunakan harta sesuaid engan perintah Tuhan). Hal ini dicontohkan oleh sikap nabi Sulaiman sewaktu beliau mendapat nikmat : “ maka tatkala Sulaiman melihat singasana (singasana ratu balqis dapat dipindahkan ke istana sulaiman dalam sekejap mata ) terletak di hadapannya, maka sulaiman berkata : Ini karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau aku menjadi kufur “ ( Surah an naml/27 : 40 ). Oleh sebab itu jika kita mendapat kesenangan dunia maka seorang mukmin tidak boleh bergembira, tetapi bersyukur, dan berusaha agar kenikmatan tersebut dapat dipakai dengan sesuatu yang bermanfaat, dan tidak menjadi penyebab siksa neraka. Inilah yang disimbolkan dengan doa : Allahumma bariklana fima razaqtana wa qina azaabannar..Ya Allah berkatilah apa yang engkau rezekikan kepadaku dan lepaskan aku daripada siksa neraka “.

Adapun kegembiran yang dipuji dalam Al quran adalah jika seorang mukmin bertambah iman, bertambah ilmu, dan bertambah amal, sebagaimana dalam Al Quran : “ Dan, apabila diturunkan suatu surah, maka diantara orang munafik ada yang berkata : Siapakah diantara kalian yang bertambah imannya dengan turunnya surah ini ? Adapun orang yang beriman maka surah itu akan menambah imannya, dan mereka merasa gembira “ ( Surah at taubah : 124 ).

Dari ayat diatas dapat dilihat bahwa kegembiraan seorang mukmin adalah apabila dia mendapatkan ayat-ayat Al Quran, dengan ayat itu dapat menambah imannya kepada Allah taala. Oleh sebab itu ulama berpendapat bahwa kesenangan dan kegembiraan yang dipuji oleh Alah adalah kegembiraan yang dikaitkan dengan mengenal Allah, mengenal rasuNya, mendengar dan memahami Al Quran dan sunah Rasul, mendapat ilmu pengetahuan, dan sesuatu yang dapat menguatkan keimanan, dan kegembiraan dapat menjalankan perintah Allah dan dapat menjauhkan diri darpadai laranganNya. Kegembiraan dengan iman inilah yang akan menjamin kegembiraan di akhirat : “ Adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira “ ( Surah al Insyiqaq: 7-9) “ Maka Tuhan memelihara mereka daripada kesusahan hari itu dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah dan kegembiraan hati “ ( Surah Al Insan : 11 ).

Sedangkan kegembiraan atas kesenangan dan kenikmatan dunia sehinggadapat melupakan nilai-nilai keimanan akan berakibat kepada kesengsaraan di akhirat “ Adapun yang diberi kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak : Celakalah aku. Dan dia akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya ini diakibatkan karena dia dahulu (di dunia ) bergembira ( dengan nikmat dunia ) bersama-sama dengan keluarganya/kaumnya” (Surah Insyiqaq : 10-13).




Ibnu qayim membagi kegembiraan seorang mukmin menjadi tiga macam :

1. Kegembiraan perasaan dengan menghubungkan diri kepada Allah, dengan mendapat ilmu pengetahuan, dengan merasakan kebersamaan denganNya. Menghubungkan diri dengan allah, dengan melakukan ssegala aktiviti dibawah jalan-jalan dan hukum yang diperintahkanNya, dan menghindarkan diri daripada larangan-laranganNya, sebagaimana kegembiraan dengan melakukan shalat, puasa, zakat, haji, mendapatkan harta kekayaan dengan cara yang halal, menjalankan kekuasaan sesuai dengan keadilan yang diperintahkannya, bersilaturahmi, menolong orang faqir miskin, dan kegembiraan berjuang di jalan Allah. Juga kegembiraan dengan mendapatkan ilmu pengetahuan, memahami Al Quran, mempelajari hadis-hadis nabi, sejarah hidup rasulullah, hukum-hukum agama, dan lain sebagainya. Perasaaan gembira bersama Allah juga dapat dilakukan dengan selalu berdoa, bermunajat, berzikir, dan menghubungkan diri kepadaNya.

2. Kegembiraan amal sebagai bukti penghambaan seorang hamba kepada Tuhan. Maksudnya segala amal ibadah, sikap dan perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan bukan hanya sekedar untuk menjalankan kewajiban tetapi merupakan sikap penghambaan kepada Allah, sehingga dengan segala kegembiraan akan menjalankan perintah dan berusaha mendapatkan keridhaanNya. Kegembiraan mukmin jika dirinya dapat selalu hidup dalam kecintaan dan penghambaan kepada Tuhan dan dia merasa sedih kesedihan jika berda dalam keadaan yang dimurkai Allah, atau tidak diridhaiNya. Gembira jika dapat mempergunakan segala waktu, segala kekayaan, segala kekuasaan, dan kedudukan hanya untuk menjalankan perintahNya, menghambakan diri kepadaNya, dan seorang mukmin merasa sedih jika masih ada kosong dan terluang tanpa mengingat Allah, masih ada kekayaan yang belum dipergunakan untuk berjihad di jalan Allah, masih ada tenaga yang hanya dipakai untuk memuaskan nafsu. Kegembiraan inilah yang digambarkan oleh Abubakar shiddiq sewaktu beliau memberikan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan islam.

3.Kegembiraan ruh dengan memenuhi segala hajat keimanan selama hidupnya sehingga ruh dapat keluar daribada dengan senyum kegembiraan. Ibnu Abbas berkata : “ kegembiraan akhirat adalah kegembiraan seorang manusia di saat nyawanya keluar naik dan berjumpa dengan Allah Taala”. Usaha agar ruh dapat kembali dan keluar dari jasad dalam keadaan tenang dan gembira merupakan perintah Allah sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci Al Quran : “ Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh keridhaan sehingga engkau juga mendapatkan keridhaan daripadaNya “ ( Surah al Fajr/89 : 27-28).Kegembiraan ruh ini dapat tercapai jika seorang muslim telah merasakan kegembiraan berhubungan dengan Allah, kegembiraan menjalankan kehidupan dengan penuh keimanan, dan kegembiraan dapat menjadikan seluruh perbuatannya sebagai bukti bagi penghambaan kepada Allah. Inilah kegembiraan seorang mukmin yang berbeda dengan kegembiraan seorang kafir, dimana mereka bergembitra jika mereka mendapat kesenangan dunia atau dapat memuaskan nafsu mereka. Fa’tabiru ya Ulil albaab.

Friday, May 4, 2007

ISLAM ITU ASING

“Islam itu bermula asing dan akan kembali menjadi asing “
( hadis rasulullah riwayat Ahmad )

Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Ahmad, rasulullah saw bersabda :“ Islam itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing, seperti permulaannya,maka berbahagialah orang yang asing “. Sahabat bertanya : ya rasulullah : Siapakah orang asing itu ? Rasulullah menjawab : Itulah orang yang berbuat baik di waktu manuisa berbuat kerusakan “. Dari hadis ini dapat dilihat bahwa menjadi orang yang baik disaat semua orang rusak merupakan suatu kebahagian, bukan kehinaan. Disaat semua orang berbuat korupsi, kita menjadi orang yang jujur adalah asing, aneh, tetapi itu merupakan kebahagiaan.

Dalam hadis yang lain juga disebutkan : “ Berbahagialah orang yang asing dan aneh ”. Sahabat bertanya : “ Siapakah orang yang asing ya Rasulullah? Rasul menjawab : “ Orang asing itu adalah orang yang bertambah imannya sewaktu manuisa berkurang imannya “. ( riwayat Ahmad ). Dari hadis ini dapat dilihat bahwa orang yang mencari ilmu, mencari iman, mencari kebenaran adalah merupakan orang yang bahagia pada saat orang semua tidak mengetahui kebenaran, pada saat orang tidak lagi mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, pada saat orang tidak mengetahui lagi mana islam yang benar, mana islam yang benar. Pada saat sekarang ini kita bingung ingin mencari islam yang benar, sebab banyaknya ajaran sesat, pemikiran sesat, seperti islam liberal dan lain sebagainya, maka yang berbahagia adalah orang yang mencari islam dengan ilmu, bukan ikut-ikutan, sehingga mengetahui hakikat islam sebenarnya, bukan asal ikut-ikutan.

Dalam hadis yang lain juga disebutkan : “ Berbahagialah orang yang asing”. Sahabat bertanya : “ Siapakah orang yang asing ? “. Rasululah saw menjawab : “ Orang yang saleh pada waktu ramai manusia berbuat maksiat. Orang yang mendurhakai mereka (orang saleh) lebih banyak daripada orang yang mengikut dan taat kepada mereka “ . dari hadis ini dilihat bahwa pada waktu budaya manusia telah rusak sehingga budaya liberal, budaya maksiat , budaya kafir, budaya syirik ada dimana-mana, maka orang yang berbuat baik adalah orang yang aneh, dan asing. Orang inilah orang yang bahagia, walaupun tidak dilihat orang, walaupun tidak terkenal, sebab yang dikenal bukan orang yang baik, tetapi orang yang rusak. Orang yang baik sebab tidak terkenal, maka ucapannya tidak di dengar, sedangkan orang yang jahat, sebab kekuasaannya, sebab poloperitasnya, maka pendapatnya didengar dan dipercaya.

Rasulullah juga bersabda pada hadis yang lain : “ Sesungguhnya orang yang paling disukai oleh Allah adalah orang yang asing”. Sahabat bertanya : “ Siapakah orang yang asing? “. Rasulullah saw menjawab : “ Orang yang asing itu adalah orang yang lari sambil membawa agamanya. Mereka berkumpul bersama Isa bin Maryam pada hari kiamat nanti “. Dalam hadis ini dilihat bahwa pada saat orang dalam kesesatan, maka orang yang baik adalah orang yang tetap dalam keimanan, lebih baik seorang diri dalam kesendirian daripada sesat; dia lebih senang lari dengan agamanya, dengan imannya, daripada bercampur dengan kemaksiatan, kekafiran dan kemunafikan.

Wednesday, April 4, 2007

SUNNATULLAH KALAH DAN MENANG


‘ dan janganlah kamu bertengkar, kamu akan menjadi gentar dan kekuatanmu akan hilang”( Surah al Anfal : 46 )

Khabbab bin Aris menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah memanjangkan shalatnya, sehingga setelah selesai shalat, sahabat bertanya : “ Ya Rasulullah, engkau telah melakukan shalat begitu lama tidak seperti shalat yang lain. Rasulullah saw menjawab : Benar, dan dalam shalat itu aku mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dan sesuatu yang menyedihkan, karena sesungguhnya aku dalam shalat tadi telah meminta kepada Allah tiga perkara, maka Allah mengabulkan dua dari permintaanku, dan menolak satu permintaanku. Aku meminta kepada Allah agar umatku tidak akan pernah dibinasakan dengan penyakit, maka Allah mengabulkannya; kemudian aku meminta kepada Allah agar umatku tidak akan pernah dikalahkan oleh musuhnya, dan Allah mengabulkan permintaan tersebut; dan pada waktu aku meminta agar umatku tidak menyakiti satu dengan yang lain, maka Allah tidak mengabulkan permintaan tersebut. ( hadis sahih riwayat Tirmidzi )

Dari hadis diatas dapat dilihat bahwasanya Allah telah mengabulkan doa rasulullah agar umatnya tidak hancur dengan penyakit, dan tidak dapat dikalahkan oleh musuh-musuh Islam, dan kedua doa tersebut dikabulkan oleh Allah; tetapi sewaktu nabi meminta agar umatnya tidak saling berperang, saling menyakiti, maka Allah tidak mengabulkannya. Mengapa Allah tidak mengabulkan permintaan yang ketiga? Sebab telah menjadi hukum dan sunatullah dalam kehidupan bahwa jika suatu kaum itu bersatu, maka kaum itu akan menang, tidak kira apakah kaum itu kafir atau beriman. Sebaliknya jika suatu kaum itu perpecah belah sesame mereka, berperang sesame mereka, menyakiti sesame mereka, maka pastilah kaum itu akan kalah, walaupun kaum itu beriman kepada Allah subhana wataala. Hal ini sesuai engan ayat Al Quran yang menyatakan akan sunatullah tersebut : “ Dan taatlah kepada Allah dan rasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu akan menjadi gentar dan kekuatanmu akan hilang ( Surah al Anfal : 46 ). “ dan berpeganglah kamu kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai “ ( Surah Ali Imran : 103 ).

Dari ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa jika suatu kaum itu berpecah belah, bertikai, dan saling berperang sesame mereka, maka kaum itu akan kalah, tetapi jika suatu kaum itu bersatu , maka kaum itu akan menang. Itulah sebabnya dalam sebuah hadis disebutkan : “ Tangan Allah bersama jamaah” ( hadis riwayat Tirmidzi ) ulama menafsirkan makna “ tangan Allah “ dalam hadis tersebut adalah kekuatan, kemenangan, hanya akan dicapai dengan bersatu dan berjamaah. Bukti bahwa umat islam akan kalah jika berpecah atau berselisih paham adalah kekalahan dalam perang Uhud. Sejak perang yang pertama dalam Islam, seperti perang Badar, walaupun kekuatan umat Islam sedikit, dengan persenjataan yang minim, tetapi sebab umat islam bersatu menghadapi musih dan tidak berselisih paham, maka umat islam pasti –menurut sunatullah-menang; tetapi sewaktu umat Islam berselisih paham dalam perang uhud, dimana pasukan diatas bukit yang diperintahkan untuk berjaga-jaga walau dalam keadaan apapun juga berselisih sesame mereka karena mereka melihat pasukan Islam yang berada di abwah telah mendapatkan harta peninggalan perang, sehingga sebagian mereka meninggalkan pos diatas bukit, dan sewaktu pasukan musuh melihat bahwa bukit telah kosong dari pasukan islam, maka mereka segera naik ketasa bukit menghujani pasukan muslim di bawah dngan anak panah, sehingga pasukan muslim kucar-kacir. Ini merupakan bukti sejarah bahwa walaupun dalam pasukan tersebut ada Rasulullah, ada sahabat yang beriman, tetapi disebabkan karena pasukan telah berselisih paham, maka pasukan islam mengalami kekalahan.

Jika pasukan musuh bersatu mereka pasti kuat, dan jika pasukan islam berpecah maka sunatullah akan memberikan kemenangan kepada pasukan musuh., disebabkan pasukan musuh bersatu, dan kekalahan terjadi disebabkan oleh pasukan islam berpecah. Tetapi jika pasukan musuh bersatu, dan umat islam juga bersatu, maka kemenangan da di pihak umat islam, sebagaimana doa nabi Muhammad yang kedua : “ Ya Allah, jangan engkau kalahkan umatku dengan musuh-musuhnya”. Doa ini dikabulkan Allah dengan syarat umat islam mengikuti sunatulllah dalam kemenangan. Sunatullah dalam mencapai kemenangan adalah tidak berpecah belah, tidak berkelahi, tidak bertikai, walaupun berbeda paham dan pendangan.

Sejarah telah mencatat bahwa Islam kuat sewaktu mereka bersatu seperti umat islam jaman Rasulullah, umat Islam zaman Khalifah rasyidun, umat islam zaman keemasan di Baghdad, umat islam zaman kejayaan di Spanyol, dan umat islam di akhir dinasti Usmaniyah. Tetapi sejarah juiga mencatat bahwa kehancuran islam tidak pernah terjadi karena kekuatan musuh, tetapi semuanya terjadi sebab perpecahan antar umat islam sendiri. Jatuhnya kekhalifahan ketangan dinasti umayyah, juga karena perpecahan. Hancurnya Dinasti Abbasiyah, dengan jatuhnya Baghdad ketangan bangsa Mongolia juga karena perpecahan, sehingga sebagian umat islam berkonspirasi dengan musuh untuk menjatuhkan khilafah. Kehancuran islam di Spanyol juga bukan karena kehebatan musuh, tetapi karena perpecahan yang terjadi dianatar umat Islam sehingga diantara mereka ada yang bersekongkol dengan negara musuh yang beraganma nasrani untuk menghancurkan Granada. Kehancuran Turki usmaniyah dan kejatuhan kekhalifahan juga bukan karena kekuatan musuh barat, tetapi karena kelompok Mustafa kemal Attarurk berkonspirasi dengan Inggeris sehingga menjatuhkan khalifah. Sewaktu negeri Afghanistan diserang oleh pasukan komunis Rusia, dan seluruh rakyat Afghanistan bersatu melawan musuh walaupun mereka berbagi dalam kelompok-kelompok mujahidin, tetapi tidak ada satupun yang berkompromi dan berkonspirasi dengan musuh, terbukti pasukan mujahidin yang tidak mempunyai perlengkapan senjata dapat mengalahkan pasukan rusnia yang bersenjata lengkap, karena dengan persatuan mereka kemenangan pasti bersama mereka, sebab dengan jamaah dan tidak berpecah, tangan Allah bersama mereka. Tetapi sewaktu umat islam Afghanistan diserang oleh Amerika, dan umat Islam berpecah, sebagian mendukung mujahidin, sebagian masuk kelompok Taliban, dan sebagian lagi ikut berkonspirasi dengan Amerika, maka sunnatullah menyatakan bahwa mereka akan kalah. Musuh tidak dapat mengalahkan umat islam, tetapi perpecahan yang akan melemahkan mereka dan membuat musuh menjadui menang.

Itulah sebabnya rasululullah sangat mengharapkan agar umat islam selalu berjamaah walau dalam keadaan apapun juga, walau dalam menghadapi siapapun juga. Walau umat Islam berkelompok, sewaktu menghadapi musuh, jangan hiraukankepentingan kelompok, sebabkepentingan umat lebih besar daripada kepentingan kelompok. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar menceritakan bahwa pada suatu hari Khalifah Umar bin Khattab berkata diatas mimbar : Wahai manusia, aku sekarang berdiri ini untuk menyampaikan pesan Rasuilullah : “ Aku wasiatkan kamu dengan sahabatku, kemudian dengan orang yang mengikuti mereka (tabiin), kemudian akan berkembanglah sikap berdusta, sehingga seorang itu akan bersumpah, padahal dia tidak diminta untuk bersumpah, dan akan datang orang yang bersedia menjadi saksi, padahal dia tidak diminta untuk menjadi saksi, dan tidaklah seorang lelaki akan berdua-duaan dengan seorang perempuan, melainkan syetan akan berada bersama mereka, maka atas kamu sekalian hendaklah berjamaah, dan jauhilah berpecah-belah, sebab sesunguhnya syetan itu akan bersama kelompok yang berpecah sedangkan dengan kelompok yang berjamaah dia akan menjauh, dan barangsiapa yang mengharapkan untuk mendapat wangian surga hendaklah dia berjamaah, dan barangsiapa yang bergembira dengan kebaikannya, dan berduka dengan kejahatannya, itulah tanda seorang yang beriman. ( hadis riwayat Tirmidzi ). Dari hadis diatas dapat dilihat bahwa umat Islam diwajibkan untuk berjamaah, dan menghindari setiap perpecahan.

Dari tuilisan diatas, maka sudah sewajarnya umat islam berpikir bahwa sebenarnya musuh itu tidak kuat walaupun mereka mempunyai teknologi yang canggih, sebab kekuatan mereka jika berhadapan dengan kekuatan umat islam , maka kemenangan dipihak umat islam. Kunci kelemahan umat Islam adalah perpecahan antar kelompok, dan mazhab. Sudah waktunya umat islam bersatu, walaupun berbeda kelompok dan mazhab, setiap negara islam saling mendukung program negara islam yang lain, bukan berkonspirasi dengan musuh islam untuk menjatuhkan dan menyerang nmegara islam yang lain. Fa’tabiru Ya ulil albab. ( Muhammad arifin ismail, kuala lumpur, 4 april 2007)